[Freelance] 당신과 함께 충실 (Setia Bersamamu)

dangsinkwa

Title: 당신과 함께 충실 (Setia Bersamamu)

Author: cOCHIlatte

Casts: Kim Jongin EXO as Kai and Moon Gayoung

Genre: Romance, Fluff

Length: Vignette (1695 words)

Type: Songfict –Inspired by Vierra –Bersamamu—

Rating: General [G]

Poster art by: periwinkeul by https://cafeposterart.wordpress.com

Disclaimer: the song is owned by Vierra and Kim Jongin or Kai and Moon Gayoung is owned by himself and his parent. But, the idea and plot is owned by me.

Storyline Started

Gayoung POV

Memandang wajahmu cerah, membuatku tersenyum senang, indah dunia

Aku memandang wajah Kai yang sedang berpakaian dari tempat tidurku, ralat –tempat tidur kami-. Wajahnya sangat menarik, cerah. Matanya yang berkilauan dan bibirnya yang errr… seksi. Kami baru saja pindah ke rumah baru kami, setelah kami mendapat izin dari orang tua kami. Aku tersenyum melihat wajahnya, rasanya aku seperti penonton pertama dan eksklusif yang melihat wajah indahnya. Dunia rasanya indah ketika hanya ada kami berdua. Tentram. Damai. Dua kata yang menggambarkan suasana hatiku. Aku sendiri telah memakai pakaian yang bergaya casual namun cocok untuk pergi ke acara dinner date kami. Kulihat warna baju kami serasi sebagai pasangan. Rasanya melihat bagian atas Kai yang polos ingin membuatku membantunya memakai pakaian. Namun kuurungkan niatku, cukup sudah jatah untuk tadi siang, jangan sampai kami yang sudah rapi kembali menjadi ‘berantakan’.

Tentu saja kita pernah mengalami perbedaan, kita lalui

Aku teringat selama kami menjalani hubungan, kami mendapati begitu banyak perbedaan. Mulai dari pilihan jurusan bahkan universitas yang kami pilih pun berbeda. Aku gadis Korea keturunan Jerman, tapi aku memegang teguh adat Korea yang berlaku. Aku yang termasuk gadis sopan dan disiplin yang sangat membenci segala macam pemberontakan yang sifatnya negatif. Aku yang religius dan seringkali membaca Alkitab. Aku yang gampang berbaur dengan orang di sekitarku bahkan mereka berbeda jurusan denganku.

Namun ketika aku melihat Kim Jongin pertama kali di tempat les khusus ujian masuk universitas, dia seperti aku di dunia paralel. Walaupun orang Korea asli dan orang tuanya memegang teguh adat istiadat Korea, dia ternyata suka memberontak dan hidup kebarat-baratan. Aku pernah melihat dia menyukai sebuah film yadong, membuatku menjerit ketika menangkap basah dirinya di pojokan menonton film itu. Dia suka kebut-kebutan, bahkan berkumpul dengan para sunbae yang gagal ujian universitas tahun sebelumnya dan ingin mengulang lagi. Nilai minusnya, dia tidak gampang berbaur dengan orang lain, membuat dia dicap sebagai orang sombong.

Tapi, semua pandangan burukku hilang sejak dia menjadi temanku, menjadi sahabatku, dan akhirnya menjadi pacarku. Bagaimana bisa?

Aku pernah menembak seorang namja yang aku sukai sepenuh hati. Namanya Kris Wu. Namun, dia menolakku mentah-mentah. Bunga mawar setangkai yang kuberikan dia buang entah kemana setelah dia pijak. Setelah dia pergi, aku menangis. Aku tahu Kris tidak menyukaiku, tapi setidaknya hargailah usahaku. Kemudian, ada sepasang tangan yang memelukku, sebuah bibir yang mengeluarkan barisan kalimat untuk menghiburku. Dan dia berkata, “Maaf.”

Maafkan aku, karena aku lancang memelukmu. Maafkan aku karena aku sembarangan berada di sisimu, tapi jangan menangis. Kuangkat kepalaku, dan ternyata suara Kai. Aku hendak kabur, tapi kuurungkan niatku. Aku tidak lagi berpikir macam-macam bahwa ia akan memerkosaku. Aku aman di pelukannya. Dan, aku tidak mencegahnya untuk mencium puncak kepalaku. Suraiku dibelai olehnya lembut. Rasa benciku, stereotipku, semuanya sudah hilang berganti dengan rasa kasihku padanya

Sejak saat itu, kami menjadi akrab, menjadi teman, hingga akhirnya menjadi pacar. Tidak ada lagi perbedaan, karena kami berhasil melaluinya. Dan dia berhasil mengubah sifatnya.

Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam cintamu

Aku jatuh cinta pada Kim Jongin. Rasanya aku telah jatuh terlalu dalam. Kepada cintanya, sikapnya, dan segalanya yang dia miliki.

“Gayoung-a!” Panggilannya dengan suara serak menyadarkan lamunanku. Kini dia dengan pakaiannya yang rapi mulai duduk di tepi tempat tidurku. “Bersiaplah. Bukankah kita akan pergi makan malam?”

“Aku sudah rapi, oppa.” Aku menjawab singkat pertanyaannya sambil bangun dan berjalan menuju meja rias yang terdapat di seberang tempat tidur. Kemudian kurias wajahku secantik mungkin. “Oppa, apakah kau akan menyiapkan kejutan untukku?” Aku bertanya sambil menunjukkan senyumku geer.

“Just wait, Gayoung-a. Sekarang ayo kita pergi.” Dia mengajak sambil menggelayut tanganku, dan aku berjalan keluar apartemen kami menuju mobil Lamborghini milik Kai yang terparkir di ujung basement.

Dia gentle sekali. Dia membukakan pintu mobil untukku dan aku pun masuk. Kemudian mobil kami berpacu di lintasan jalan raya. Aku akui, Kai memang suka kebut-kebutan di jalan, tapi karena dia membawaku, dia mengendarai mobilnya dengan pelan-pelan.

Ah, aku semakin bahagia, semakin jatuh ke dalam pesona miliknya. Terima kasih Tuhan, kau memberikanku seorang namja yang kuyakini adalah pasangan hidupku.

Saat bersamamu kasih, ku merasa bahagia dalam pelukmu

Kami tiba di tempat tujuan kami. Sebuah taman milik restoran yang cukup romantis untuk diajak dinner bersama orang terkasih. Kulihat di mejaku, peralatan makan dan bunga mawar merah sudah ditata dengan rapi di sana. Pasti Kai sudah memesan tempat ini, begitu pikirku.

“Gayoung, duduklah.” Kai menarik kursi, menyuruhku duduk di kursi itu. Kemudian dia duduk di seberangku. Kami pun memesan makanan.

Sebotol wine merah diantarkan kepada kami oleh seorang pelayan restoran. Dia menuangkan wine itu di gelasku, kemudian di gelas Kai.

Oppa, hug me.” Pintaku manja kepadanya. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung berdiri dan mendekatiku, kemudian memelukku erat. Kubalas pelukannya tak kalah erat. “Nan neomu haengbokhae. Dangsineun hamkke.

Jujur, aku merasa bahagia dalam momen ini, apalagi ketika dia memelukku. Kai, bagaimana bisa kau berubah jadi si cuek yang gemar kebut-kebutan dan yadong menjadi sangat romantis? Pipiku merasa panas, mungkin kalau aku berkaca pipiku sudah memerah.

Gomapta, Gayoung-a. Ayo, kita minum dahulu wine ini.” Kemudian dia melepaskan pelukannya, dan menyodorkan gelas padaku. “Cheers!” ucapnya sambil mengetuk kedua gelas kami. Aku meminumnya pelan, namun ketika aku hendak menghabiskannya, kurasakan ada sebuah benda meluncur ke bibirku.

Kucoba mengambil benda itu, dan ternyata sebuah cincin permata. Omo! Kai akan melamarku?

Ku tak akan berubah, ku tak ingin kau pergi s’lamanya

Kai POV

Kulihat mata berbinar-binar Gayoung ketika melihat cincin itu. Dia cantik sekali dengan mata terbuka lebar. Dan bibirnya, err… hal yang selalu menggodaku untuk kucium. Gadis yang sejak SMA tingkat akhir sudah memengaruhi hatiku. Kami berkenalan di tempat les khusus untuk ujian masuk universitas, karena kami tidak satu sekolah. Gadis yang akrab berbicara kepada teman-temannya baik yang sekelas maupun yang bukan sekelas sekalipun, bahkan aku lihat dia sangat akrab dengan gurunya. Namun dia tidak berani berbicara kepadaku, namja yang dulunya berkumpul dengan para kakak kelas yang mengulang ujian. Aku ingat, aku dulu termasuk anak yang bengal, berkumpul dengan kakak kelas yang merupakan orang yang suka memberontak kepada orangtuanya, namanya Baekhyun dan Kyungsoo. Aku tahu seorang Gayoung menaruh harapan dan perhatian padaku, dan ternyata benar. Ketika seorang namja dewasa mencampakkannya, akulah yang pertama datang dan mencoba menghiburnya. Akulah yang memeluknya ketika dia menangis, bahkan aku berani mencium puncak kepalanya untuk menenangkannya. Sejak saat itu, hubungan kami sudah akrab, aku bahkan mengubah sifatku untuk menjadi lebih baik. Walau empat tahun terpisah karena kuliah, akhirnya kami bertemu kembali. Lihat, bahkan kami sudah tinggal serumah!

Oppa, kau akan melamarku?” Pertanyaan Gayoung menyadarkan lamunan kilas balikku tentangnya. Kemudian aku ambil lembut cincin itu dari tangannya, dan berlutut dihadapannya yang sedang duduk.

“Gayoung-a, karena apa aku yang awalnya anak liar berubah menjadi anak baik di hadapanmu?” Kutunggu jawabannya, namun dia langsung menutup mulutnya. Dia mungkin saja merasa malu.

“Karenamu. Kenapa aku rela tidak menjadi playboy bahkan membuang semua koleksi yadong milikku?” Kini, aku menunggu jawabannya lagi. Karena dia tak kunjung menjawab, langsung aku teruskan saja.

“Karenamu, Gayoung-a. You have changed my life.” Aku berdiri dan kuulurkan tanganku, mengisyaratkan gadisku untuk berdiri. Kemudian kami berjalan menuju sebuah kolam yang tersedia di ujung restoran.

“Gayoung-a.” Kupeluk erat tubuhnya dari belakang, tercium wangi parfumnya yang beraroma mawar. Pikiranku terbang entah kemana, memikirkan Gayoung di masa lalu. Coba kalau aku ini masih bocah yadong, pasti dia langsung memberontak di pelukanku. Tapi kali ini beda. Dia menerima pelukanku, tidak ada pemberontakan, yang ada hanyalah matanya yang terpejam. Mungkin ini isyarat bahwa aku harus tetap mengobrolnya dan dia siap mendengarkan semua ucapanku.

“Aku berjanji tidak akan lagi berubah menjadi diriku yang dulu. Karena itu, jangan pergi Gayoung-a. Selamanya jangan pergi dari sisiku,” ucapku lembut di telinganya.

Ne, oppa. Arrayo.” Gayoung menjawabnya sambil menganggukkan kepalanya. Kulihat senyum di bibirnya terukir sangat lebar. Gayoung cantik dengan rambut panjang dan bibir seksinya.

Ku kan setia menjagamu bersama dirimu

Sampai nanti akan slalu bersama dirimu.

“Gayoung-ah. Aku bersumpah.” Kulepas pelukannya dan kembali aku berlutut di hadapannya. Dan di saat inilah, aku Kim Jongin, atau Kai akan mengucapkan sumpahku di depan wanita yang aku cintai.

“Aku akan setia bersamamu dan menjagamu sampai nanti. Dangsineun hamkke chungsil.” ucapku pelan tapi pasti di hadapannya. Dan reaksinya hanya satu: terdiam mematung. Ah, apa aku kurang romantis?, batinku kesal. Tapi kulihat lagi ekspresinya, akhirnya dia menunjukkan ekspresi yang sangat aku suka. Terperangah. Ya, bagiku dia kelihatan polos kalau seperti itu.

“Gayoung-ah. Menikahlah denganku.” Perkataanku barusan kuucapkan dengan mantap. “Aku rasa kita sudah cukup saling mengenal selama ini.”

Kulihat gadisku menatap cincin yang kupegang, dan kemudian tatapannya berbalik ke arahku. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum yang sangat aku suka.

Nde, Kai-oppa. Aku mau menikah denganmu.” Dan setelah mengatakan itu, kusematkan cincin itu di jari manisnya. Kemudian aku berdiri, memeluk gadis itu kembali dan membisikkan kalimat yang indah untuknya.

“Berjanjilah kita akan selalu ada untuk satu sama lain, kita saling menjaga diri kita dan saling memeluk setiap saat, baik itu saat gembira maupun saat sedih.”

“Memeluk dengan cinta kita?” tanyanya polos sambil membalas pelukanku.

“Ya, dengan cinta kita.” balasku sambil mengecup puncak kepalanya. Bagi Gayoung, gadisku, ketika puncak kepalanya kucium itu menandakan bahwa aku melindunginya. Hal itulah yang sangat dia sukai dariku. Dia tidak menyukai ciuman di bibir yang terlalu bernafsu, tetapi menyukai ciuman di puncak kepalanya.

“Aku juga berjanji kepada Kai-oppa untuk tetap setia bersamamu, sampai nanti akan selalu bersama dirimu.” ucapnya pelan, dan kubalas dengan sentilan ringan di hidungnya. “Aw, wae?” tanyanya sambil menunjukkan pout andalannya.

“Itu kalimatku, chagiya.” jelasku sambil meniru ekspresinya.

“Tapi bukankah di setiap pertunangan dan pernikahan kedua belah pihak mengikrarkan janji yang sama?” tanyanya dengan mata berbinar-binar, berharap dia menang dalam argumen ini.

Nde, kau benar gadisku.” jawabku sambil menggandeng tangannya kembali ke meja makan yang merupakan tujuan kami. Dan kami duduk di sana, menyantap makan malam yang sudah disajikan di atas meja kami tak lama.

Gamsahabnida, Gayoung-ah. Kau membuat hidupku menjadi lebih baik, dan kini aku bisa memilikimu. Kau adalah anugrah terindah dari Tuhan buatku.” ujarku dalam hati sambil melihatnya dengan wajah polosnya.

-END-

A/N: pertama, terima kasih sudah mau membaca FF ini. Jujur ini ff dirasa hancur banget ya? Maklumlah buatnya sebelum hiatus, tapi stuck di tengah, dan pas mau melanjutkan lagi, malah feel itu hilang bagai tertiup angin. Maafkan kalau hancur dan kurang puas dengan ff ini. Akhir kata, sekali lagi terima kasih telah membaca.

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s