[Twoshot] House For Sale 2nd shot-end

house for sale

House for sale 

written by. Darkchanie

Maincast

•Kim Jongin

•Choi Sulli

•Park Chanyeol

Genre

Romance

Sad/hurt/comfort

Length

Twoshot

Rated

PG

.

.

Untuk sesaat Sulli terpaku dalam kebingungan. Dia melihat suaminya bersikap normal dan cenderung akrab dengan Chanyeol. Sementara Chanyeol terlihat seperti sedang mempermainkan perasaan Sulli.

Sulli tidak berkutik, bahkan dengan semua makanan yang terhidang di hadapannya dia seperti sedang menghadapi racun yang siap membunuhnya.  Apa yang sedang Chanyeol rencanakan dengan mengajak Sulli dan Jongin makan malam bersama.

“Maaf, aku harus ke toilet sebentar.”  Sulli minta ijin pada Jongin untuk ke toilet.

Dia melangkah sedikit linglung menuju toilet yang terletak sedikit jauh dari posisi duduk mereka. Mungkin dengan membasuh muka akan sedikit meredakan gelisahnya. Sulli masih belum melupakan semua yang telah dilakukan Chanyeol padanya tadi malam. Laki-laki itu sungguh menguasainya. Dia sangat luar biasa. Bukan. Bukan Sulli memujanya tapi terus terang ada semacam perasaan nostalgia dalam hatinya mengenai masa lalunya.

Dulu Sulli memang menyukainya, namun hanya karena Chanyeol miskin maka dia tidak sudi menjalin hubungan dengannya. Namun sekarang Chanyeol sungguh berbeda, dia bahkan sangat berani dan agresif. Dia tidak banyak membuang waktu dan langsung membuat Sulli tak berkutik dengan sikapnya.

Masalahanya sekarang adalah Sulli sudah mempunyai Jongin.

Dia duduk kembali di meja makan. Namun sepertinya mereka masih terlihat akrab dan Sulli semakin merasa berdosa pada suaminya.

Jongin sungguh terlihat lugu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki yang saat ini bersikap baik padanya sudah meniduri istrinya. Oh Tuhan, kenapa dia begitu polos. Sulli memperhatikan Jongin. Menatapnya. Dia sangat mempesona. Dia selalu mempesona. Itu sebabnya Sulli jatuh cinta padanya. Dia adalah laki.laki yang baik, lembut dan pengertian. Juga ayah yang baik. Pernikahan mereka sudah berjalan hampir enam tahun. Dan mereka sangat bahagia.

Dan Chanyeol. Dia yang sesekali melirik ke arah Sulli, tersenyum dengan munafik. Bahkan kakinya berusaha untuk mencandai Sulli di bawah meja. Sulli hanya bisa berdehem untuk menormalkan suasana.

Akhirnya makan malam berakhir.

Jongin merasa senang karena dia bisa berdekatan dengan atasannya. Dia berharap banyak karinya akan menjadi baik setelah makan malam ini.

“Kau banyak diam. Apa kau lelah?” tanya Jongin saat dia membuka pintu rumah. Sepertinya He Sun sudah tidur. Pengasuhnya duduk di sofa menonton teve. Dia berdiri ketika Sulli dan Jongin masuk.

“Apakah He Sun rewel ?”  tanya Sulli kemudian pada ahjuma yang terlihat sabar itu.

“Hanya menanyakan kenapa Appa dan Eomanya belum pulang.” jawabnya

“Baiklah. Ahjuma, kau beristirahatlah jika lelah. Kasihan sudah menjaga He Sun sejak pagi.”  Jongin melanjutkan.

Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Dia melangkah ke kamarnya.

Jongin memperhatikan Sulli yang sedang mengindari tatapannya. Ada sedikit perasaan aneh dengan tingkah istrinya itu.

“Apakah kau mengenal Chanyeol sebelumnya ?” tanya Jongin tiba-tiba. Sulli yang sedang melangkah ke kamar terhenti seketika.’Dia menoleh dan melihat suaminya berdiri dengan tatapan penuh tanya.

“Dia salah satu clientku. Dia berinvestasi besar pada perusahaanku.”  Sulli melanjutkan langkahnya setenang mungkin. Dia tidak mau Jongin menjadi curiga.

“Aku dengar kekayaannya dia peroleh ketika dia bermain saham di luar negri”  Jongin mengejar hingga ke dalam kamar.

“Aku tidak tahu.” jawab Sulli.

“Dia juga masih seumuran dengan kita. Sayangnya dia masih lajang dan juga tampan.”

Sulli mendesah berat. Dia semakin terbebani dengan perkataan Jongin.

“Kenapa?” tanya Jongin ketika melihat istrinya begitu lesu dan pucat.

“Jangan membicarakan masalah itu lagi. ” ujar Sulli memohon.

Jongin tersenyum dan mendekati Sulli. Dia meneliti wajah istrinya yang lelah.

“Baiklah. Apa kau sangat lelah hingga minta di pijat ?”  Jongin mulai terlihat genit. Dia memberikan pelukannya dan sentuhannya pada Sulli dan membuat Sulli bergerak ke sana ke mari karena geli.

“Oppa, hentikan !”‘ teriak Sulli manja.

“Tidak akan!”  balas Jongin.

***

Pesan itu menyembul ketika Sulli sibuk membuat laporan di meja kerjanya. Dia membaca pengirimnya dan menjadi cemas seketika. Chanyeol mengharapkan pertemuan kembali.

Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dia sengaja tidak membalas pesan itu dan mendiamkannya. Namun beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi. Dipejamkannya matanya.

Bagaimana caranya bisa terlepas dari Chanyeol.

“Aku sedang sibuk, Oppa!”  ujar Sulli lirih

“Aku menunggumu.” ujar Chanyeol datar.

“Aku tidak bisa.” jawab Sulli

“Aku akan memberikan alamat apartementku yang baru. Kita akan makan malam. Aku tidak suka dengan penolakan.” Chanyeol menutup ponselnya.

Apa – apaan ini ?  Sulli memperhatikan ponselnya dengan penuh kegalauan. Apa yang sudah Chanyeol lakukan padanya? Kenapa dia bisa sesuka hatinya mengatur hidup Sulli.

Sebuah pesan baru. Alamat Chanyeol. Haruskah ?

Sulli memperhatikan photo suami dan putrinya yang dia pajang di atas mejanya. Dia mengusapnya. Adakah hal yang lebih berharga dari sebuah keluarga? Dia hanya menghela nafas berat.

***

Sepulang jam kerja, Sulli sama sekali tidak mengindahkan pesan dari Chanyeol. Dia melajukan mobilnya menuju rumahnya. Namun beberapa meter mendekati rumahnya, ponselnya berbunyi.

Chanyeol.

Sulli berhenti sebentar di pinggir jalan. Dia menimang-nimang sebentar ponselnya sebelum memutuskan untuk menjawabnya.

“Sulli, kau membuatku kesal!”  ujar Chanyeol. Dia terdengar geram.

“Oppa, apa yang kau inginkan dariku ? Aku sudah berkeluarga?”  jawab Sulli sedih

“Kau tahu apa yang kuinginkan, jadi tidak usah pura-pura tidak tahu, Sulli!”

“Aku tidak bisa, Oppa!”

“Aku akan membuat karir suamimu hancur jika kau tidak melakukan apa yang kuinginkan !”  kenapa terdengar seperti sebuah ancaman.

Sulli melihat ke sisi kanannya. Jalanan di belakangnya terlihat lengang. Masih ada dalam pikirannya untuk segera kembali ke rumah dan menemani He Sun bermain. Tapi jika hal itu dia lakukan, apa yang akan terjadi pada Jongin. Apakah Chanyeol bersungguh-sungguh dengan ancamannya.

Sedikit agak lama sebelum akhirnya Sulli memutar kembali mobilnya dan melaju ke alamat yang Chanyeol kirimkan.

Sebuah apartement di lantai sepuluh, di kawasan elite. Ini sangat membuatnya gugub. Berada di dalam lift dan jantungnya bergemuruh. Entah apa yang akan dilakukan Chanyeol padanya. Apakah kejadian seperti kemarin malam akan terjadi lagi. Sulli memijat keningnya .

Ting

Pintu lift terbuka dengan lebar. Dia melangkahkan kakinya keluar dan menoleh ke kanan kirinya. Sangat sepi.

Dia hanya perlu mencari nomer 10WL. Menekan bel pintunya, masuk sebentar dan berbicara atau sedikit memberi sebuah tamparan, lalu pergi.

Pintunya terbuka tanpa di tekan bel pintunya. Chanyeol berdiri dengan semua pesonanya yang membuat Sulli tercekat.

“Sulli, welcome !”  Chanyeol menarik tangan Sulli dan membawanya ke dalam pelukannya.

“Oppa, jangan seperti ini Aku harus segera pulang.”  Sulli masih berusaha untuk menolak Chanyeol, namun itu sama sekali tidak berarti.

“Kau harus minum dulu. Aku sudah memesan makan malam untuk kita berdua.”

“Aku sungguh harus pulang, Oppa !”

“Nanti saja. Apa kau tidak kasihan padaku ? Aku sudah memesan semua ini, apa kau akan membiarkan aku makan malam sendiri?”

“Oppa, kita batalkan saja perjanjian mengenai investasi itu. Aku harus segera keluar dari semua ini sebelum Jongin Oppa mengetahuinya.”

Chanyeol tersenyum lebar. Dia sama sekali tidak mendengarkan perkataan Sulli. Dia menuangkan anggur ke dalam gelas, lalu menyerahkannya pada Sulli.

“Hanya beberapa gelas anggur saja.”  ujarnya sambil memaksa Sulli meminumnya.

Laki-laki itu itu tersenyum lagi.

“Tidak masalah aku berinvestasi, aku sudah menjanjikannya pada Tn. Oh.”  ujarnya sambil memperhatikan Sulli yang yang ketakutan.

“Kenapa sekarang kau takut padaku ?” Chanyeol mulai mendekat, namun Sulli berjalan mundur.

“Oppa, aku peringatkan padamu!”

“Sulli, apa aku kurang menarik ? Kurang tampan ? Lihatlah padaku!”  suaranya mulai terdengar tidak menyenangkan. Matanya terlihat liar.

“Oppa, aku sudah menikah.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak bisa merelakanmu menikahi Jongin. Siapa dia ? Teman kuliahmu atau laki-laki yang dijodohkan orang tuamu? Apa dia sekaya diriku ?”

“Dia laki-laki yang kucintai.”  jawaban Sulli membuat Chanyeol gusar. Dia melemparkan gelas yang dipegangnya.

Dia menatap Sulli dengan sorot yang tajam bahkan siap membunuh. Namun kemudian berangsur teduh ketika Sulli mulai gemetar.

“Sulli, apa aku membuatmu takut ?”  Chanyeol meraih bahu Sulli dan memeluknya.

“Oppa, tolong jangan seperti ini !”

“Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau sudah menikah Sulli. Aku hanya memikirkanmu selama ini.”  Chanyeol memeluk dengan begitu erat.

“Kau mengancamku, mengancam kehidupanku. Apakah kau akan menghancurkan keluargaku ?”

Chanyeol terdiam. Dia masih memeluk Sulli.

“Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu. ”  ujar Chanyeol lirih. Suaranya sedikit serak.

“Benarkah, Oppa?”

“Aku tidak tahu. Aku sangat cemburu saat mengetahui kenyataan bahwa kau sudah menikah. Aku sanagt cemburu pada Jongin.”

“Tolong jangan hancurkan karirnya. Dia sangat mencintai pekerjaannya. Terlebih dia melakukannya demi aku, demi He Sun. Oppa, tolong jangan seperti ini.”

Sulli berurai air mata. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Sekalipun harus mengemis, dia pasti akan lakukan seandainya Chanyeol bersedia melepaskannya.

Tatapan laki.laki itu menjadi sangat iba melihat pada gadis yang dicintainya menangis. Dikecupnya kening Sulli dengan lembut.

“Sulli maafkan aku. ”  ujarnya.

“Oppa, aku tidak pernah bermaksud untuk menolakmu. Mungkin saat itu aku memang belum bisa memastikan hatiku. Aku masih labil dan banyak hal yang aku pikirkan.”

“Apakah kau menyukaiku ?”

Sulli terdiam. Dia menatap tatapan Chanyeol yang tepat ke arahnya. Saat itu Sulli memang jatuh cinta. Tapi haruskah dia mengatakannya. Lalu apakah akan ada perbedaannya?

Tiba-tiba Chanyeol mengecup bibur Sulli. Hanya sekilas lalu tersenyum.

“Kau tidak mengatakannya berarti kau memang mencintaiku .”

“A..a..aaku..aku …”  Sulli terbata-bata. Hal itu dimanfaatkan Chanyeol untuk mengambil bibirnya lagi dan memberikan ciumannya. Kali ini lebih dalam. Sulli tersentak namun terlambat untuk menghindar.

Cengkraman Chanyeol lebih kuat. Dia bersikap semakin berani dan erotis. Sepertinya Sulli tidak bisa melakukan penolakannya kali ini. Kuasa Chanyeol sungguh kuat. Tubuhnya yang tinggi dan besar membuat Sulli tak berdaya.

Beberapa saat kemudian, Sulli hanya mampu terdiam di sisi Chanyeol. Dia terpekur di atas ranjang dengan posisi setengah telanjang. Chanyeol telah memperdayainya lagi. Mulutnya sungguh manis.

“Aku sungguh tidak bisa menguasai diriku jika berhadapan denganmu, Sulli.”  Chanyeol meraih lengan Sulli, namun Sulli menepiskannya.

“Sampai kapan kita akan seperti ini? Kapan kau akan melepaskan aku ?”

“Aku tidak tahu.”

“Apakah kau akan menghancurkan Jongin ?”

Chanyeol tersenyum.

“Tergantung dirimu. Jika kau bersikap manis padaku maka aku akan bersikap sama pada suamimu.”

Sulli memejamkan matanya.

***

Akhirnya untuk pertemuan berikutnya Sulli tidak berani untuk berkata tidak. Dengan ancaman bahwa Chanyeol akan menghancurkan karir Jongin, maka Sulli tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Chanyeol.

Untuk satu bulan lamanya Sulli terkadang terlambat pulang hingga larut malam. Membuat Jongin menjadi curiga, terlebih Sulli selalu mengatakan lelah jika dia menginginkan Sulli bersamanya.

“Sulli, apa ada yang ingin kau ceritakan padaku, mengenai pekerjaanmu?”

Jongin mengusap kepala Sulli yangmterlihat begitu lelah terbaring di sisinya.

“Oppa, kita bicara besok saja ya. Aku capek, aku hanya ingin tidur malam ini.”  Sulli menarik selimut dan tidur membelakangi Jongin.

“Tapi besok, kondisimu akan selalu seperti ini juga.”

“Besok, Oppa.”  Sulli memejamkan matanya.

Dan keesokkan harinya, Sulli terbangun dengan tubuh yang sangat tidak nyaman. Dia mendadak sangat pusing dan mual. Keadaan ini dia sembunyikan dari Jongin. Suaminya mulai curiga. Tentu saja. Dan sekarang di tambah dengan gejala-gejala aneh yang terjadi pada dirinya, pasti akan membuat suaminya itu semakin penasaran.

Sulli mengunci diri di dalam kamar mandi.

Dia merasa pusing, dan lemas. Gejala semacam ini sudah pasti dia ketahui. Apakah sekarang dia hamil lagi.  Di redamnya perasaan ngilu dalam hatinya. dia sangat ingin menghancurkan sesuatu di dalam perutnya hingga larut bersama kotoran. Tapi…

“Sulli-ya!”  panggil Jongin dari luar kamar mandi. Sulli buru-buru mengambil air untuk menyeka wajahnya. Bergegas dia membuka pintu.

“Kau kenapa? Apa kau sakit? Wajahmu pucat .”  Jongin membimbing Sulli untuk merebahkan diri di ranjang

“Aku hanya ingin beritirahat, Oppa!”

“Kau pasti terlalu lelah. Aku akan menghubungi atasanmu untuk meminta ijin.”

Sulli terdiam. Dia hanya memejamkan matanya dan mencoba untuk rileks dari pikiran-pikiran yang membuatnya tegang.

“Sulli, kenapa di ponselmu ada begitu bayak pesan dari Chanyeol.” Jongin duduk di sisi Sulli.

Sulli langsung membuka matanya dan tersadar. Dia belum menghapus pesan-pesan itu tadi malam. Chanyeol terlalu banyak mengiriminya pesan dengan mengumbar kata-kata manis.

Ketika Sulli menatap suaminya, tatapan itu sudah berubah pekat dan dingin. Jongin membeku dengan rahang yang mengeras. Wajahnya sangat menakutkan. Nafasnya berat seperti sedang menahan berjuta emosi.

Ponsel dalam genggaman tangannya seperti ingin diremasnya.

“Apa kau dan Chanyeol…?”

“Oppa..”

“JAWAAAAAB !”

Sulli menjadi gemetar. Tubuhnya menggigil di bawah selimut. Dia ketakutan setengah mati dan langsung menghambur , bersimpuh di kaki Jongin.

“Oppa, aku terpaksa melakukan hal itu.”

“Melakukan apa ? AAPAAAAA!!”  Jongin masih berusaha untuk tenang. Di luar He Sun sedang sarapan bersama pengasuhnya.

“Oppa…!”  Sulli menangis. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa.

Jongin berdiri dan menyingkirkan tubuh Sulli dari kakinya. Membanting ponsel itu dan berjalan keluar kamar.

Sulli tergugu di lantai dengan derai air mata.  Dia tidak menyangka akan secepat ini terdeteksi oleh suaminya.

Kemudian di dengarnya suara mobil meninggalkan garasi.

****

Sudah dua hari Sulli tidak menemukan senyum Jongin. Dan sepertinya warna cat dinding di rumah ini kehilangan makna. Jongin mendiamkannya. Rasanya seperti sudah dua tahun Sulli menjalani hukuman dari suaminya.

“Apa kau ingin aku pergi ?” tanya Jongin

“Oppa, aku…”

“Aku akan membuatmu merasa lega.”

“Jangan seperti ini !” ujar Sulli dengan bening yang hampir menetes dari matanya.

“Kim He Sun akan ikut denganku!”  Ujarnya lagi. Sulli menggeleng, menunduk sedih. Berdiri pada pembatas tangga.

Jongin melepaskan dasinya. Duduk disofa menatap Sulli sedih, hampa dan tak percaya. Bibirnya bergetar dengan nafas yang tersendat.

“Aku mencintaimu !” ujarnya dalam sesak nafasnya. Sulli duduk lemas pada anak tangga ke lima. Air matanya menetes. Ya, akupun mencintaimu, Jongin Oppa. Namun suaranya tak sanggub keluar.

“Akan aku persiapkan suratnya. “

“Jangan secepat ini !”  bisik Sulli lirih.

“Kenapa ?”  tanyanya dengan kepala menunduk. Dan Sulli menggeleng.

“Maafkan aku !”  ujar Sulli tak mengerti. Dia sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi. Semua seperti mimpi.

“Seharusnya kau berpikir seribu kali sebelum melakukan hal itu!”

“Aku tahu!”

“Tidak! Kau tidak tau !”  serunya dengan tekanan. Dia berdiri dan berjalan ke kamar tamu. Sudah dua hari ini dia tidak tidur bersama Sulli.

“Tidurlah !”  ujarnya menyuruh Sulli untuk segera tidur.

Sulli hanya menatap punggung suaminya yang sepi dari buram matanya. matanya

” Maafkan aku Oppa ! ”  Bisiknya dalam hati.

Seandainya Jongin mengetahui alasan apa yang membuat Sulli berbuat hal itu.

****

“Oppa, aku hamil.”  Ujar Sulli ketika Chanyeol duduk di hadapannya. Chanyeol tercengang.

“Secepat itu kau hamil.”

Sulli lebih terkejut melihat reaksi Chanyeol yang sepertinya tidak ambil pusing dengan kondisinya.

“Apa maksudmu mengatakan hal itu, Oppa?”

“Sulli, wajar jika kau hamil. Kau adalah wanita yang mempunyai suami. Kenapa kau harus pusing?”

Sulli gemetar mendengar hal itu. Emsoinya membuat tubuhnya dengan hebat bergetar. Segelas air dingin di genggaman tangannya spontan di arahkan ke wajah Chanyeol.  Laki-laki itu tersentak .

“Sulli !”  hardiknya keras.

Suasana caffe terlihat lengang. Wajah Sulli sudah penuh dengan air mata. Dia menunduk dan menutupnya dengan kedua tangannya.

“Jika kau menginginkan kehancuranku, maka kau sudah berhasil Oppa. Aku sudah hancur. Selamat! Aku sepertinya akan memberikan piala itu untukmu.” Sulli berdiri. Dia tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Dia meninggalkan Chanyeol begitu saja.

“Sulli !”  Chanyeol sepertinya mengejar langkah Sulli, namun Sulli sudah masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kencang di jalan raya.

Wajah Chanyeol berubah was-was. Seharusnya dia tidak mengatakan hal bodoh tadi. Seharusnya dia merasa senang dengan berita itu. Bukankah dengan begitu dia bisa menikahi Sulli. Tapi kenapa justru kalimat bodoh itu yang keluar dari mulutnya.

****

Sudah satu Minggu Jongin dan He Sun tidak berada lagi di rumah ini. Sulli merasa benar-benar dicekam rasa sepi yang hampir membunuhnya. Gejala kehamilannya bahkan tidak diketahui oleh suaminya. Jongin belum tahu jika dia hamil. Dan Xhanyeol adalah Ayah dari anak yang sednag dikandungnya.

Kenapa Chanyeol berkata seperti itu. Apakah dia tidak menginginkan anak ini ?

Sulli menangis di dalam kamarnya yang terlihat hampa. Semua sudut membuatnya seperti di dalam neraka. Dia tidak bisa lagi melihat Jongin di sekitarnya bahkan senyum He Sun dan celotehnya ketika manja.

Jongin serius dengan keputusannya ingin menceraikan Sulli. Tapi ini tidak adil. Sulli mengutuki dirinya berkali-kali.

Tetapi Sulli telah hamil. Apa yang harus diperbuatnya. Chanyeol tidak perduli dan suaminya pergi.

“Sulli !”  panggil sebuah suara dari pintu. Sulli hanya mendengarny sesekali.

Lalu suara hentakan kaki yang kian keras menendang-nendang. Suaranya terdengar sayub-sayub.

“Sulli…!”  Dan wajah itu menyeruak di hadapannya. Samar-samar.  Chanyeol dan Jongin bergantian. Tidak… entahlah.  Lalu Sulli merasa dunianya gelap.

****

Matanya terbuka. Ada wangi yang begitu menenangkan hatinya, juga suasana sepi dan hangat.  Apakah Sulli sudah berada di surga. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan tidak bisa digerakkan.

“Oppa !” panggil Sulli.

Bayangan yang tampak pertama adalah Chanyeol.  Wajahnya terlihat sangat tampan. Dia mengusap wajah Sulli dengan hidungnya yang mancung. Sulli memejamkan matanya lagi. Kemudian perlahan membukanya. Dan sekarang yang terlihat adalah Jongin. Dia mendekat dengan kekhawatiran. Semuanya terlihat samar.

Sulli memperhatikan setiap sudut ruangan. Tidak ada siapapun. Di mana Chanyeol. Kemana perginya laki-laki itu.

“Sulli!”  suara itu. Jongin sedang mengusap pipinya dengan lembut. ” Sulli, maafkan aku !”  ujar Jongin.

Namun keadaan Sulli masih lemah. Dia masih bisa mengingat bahwa dia berencana mati dengan menyayat kedua nadinya. Kesadarannya masih belum pulih karena kehabisan banyak darah.

Lalu dia terpejam lagi.

Suara bening kicau burung samar-samar terdengar di kejauhan. Sulli menerima cahaya yang datangnya dari jendela. Perlahan dia membuka matanya. Udara segar memasuki ruangan dengan leluasa.

Mengerjabkan matanya dan mencoba untuk memulihkan daya ingatnya.

Saat ini masih di dalam ruangan yang putih dengan tirai pink muda yang menenangkan. Ada harum bunga-bunga yang terasa sangat segar. Mawar, Lily, anyelir, Crisantinum. Sulli melirik pada meja di sisinya. Mereka cantik sekali. Sulli tertegun.

Tiba-tiba suara pintu terbuka itu membuatnya menoleh.

“Sulli-ya! kau sudah bangun ?”  Jongin tersenyum padanya. Laki-laki itu mendekat dengan gerakan yang sangat cepat.

Sulli tanpa sadar meneteskan air mata. Dia sangat merindukan suaminya. Ingin rasanya dia segera memeluk Jongin dan menangis di dadanya.

Jongin mendekat dan melihat Sulli menangis membuatnya iba.

“Sulli, maafkan aku !”  bisik Jongin ketika dia memeluk Istrinya. Mengusap rambutnya dan membelainya dengan kasih.

“Oppa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan hal itu.” Sulli terisak di dalam pelukan Jongin.

“Aku sudah tahu, Sulli. Dia menceritakan padaku. Aku sudah menghabisinya. Kau tahu, aku sudah membuatnya jera. Dia tidak akan melakukan hal ini lagi padamu.”

“Oppa, bagaimana dengan pekerjaanmu ?”

“Aku sudah mengundurkan diri, kita akan pindah. Kita akan menjauh dari semua ini. Aku akan membawamu ke tempat lain. Kita mulai lagi kehidupan kita dari awal.”

Sulli memegang perutnya.

“Oppa, aku hamil.”  Sulli masih merasa khawatir dengan kehamilannya. Namun sepertinya Jongin tidak mempersoalkannya.

“Kau adalah wanita bersuami. Wajar jika sekarang kau hamil. Kita akan merawat dan membesarkannya.”

Sulli tertegun tak percaya. Dia membiarkan angannya berjalan sendiri untuk memastikan ucapan Jongin. Anak yang dikandungnya ini bukan benih suaminya, namun dia mengatakan akan merawatnya bersama. Apakah Sulli tidak salah dengar.

****

Tinggal beberapa lagi yang harus di kemas. Sulli berjalan tergopoh-gopoh dengan sebuahnampan berisi orange juice untuk He Sun. Gadis kecil itu tersenyum. Dan senyumannya terlihat sempuran di mata Sulli.

“Eomma, aku bisa mengikat kerdusnya. Lihat!”  Ujarnya dengan bangga. Dia mengikat sendiri kerdus berisi boneanya dengan sempurna.

“Aigoo, He Sun pintar sekali.”  puji Suli. Saat itulah dia melihat Jongin sedang melambai ke arahnya dari luar rumah. Sulli berdiri dan berjalan mendekati suaminya.

“Oppa ?”

“Sulli, lihatlah !”  Sulli memperhatikan surat yang di bawa suaminya.

“Apa ini ?” tanyanya kemudian

“Entahlah, tapi lihat siapa pengirimnya?”  Jongin menunjukkan nama pengirimnya.

“Chanyeol Oppa.”

Sulli menatap Jongin penuh tanya. Dia masih belum mengerti.

“Bukalah ?” ujar Jongin kemudian. Dia menyuruh Sulli membukanya. Sulli merasa sedikit takut dengan apa yang akan diketahuinya. Jantungnya berdegub kencang.

Perlahan dia menarik selembar kertas yang berada di dalam amplop coklat berukuran folio itu. Lalu membacanya dan terperanjat tak percaya.

“Oppa!”  ujarnya.

Jongin menerima lembaran itu dan membacanya.

“Apa dia sudh gila ?” ujar Jongin kemudian. Mereka saling menatap dan tak bisa mengatakan apapun selain merenung.

Chanyeol memutuskan untuk meninggalkan Korea dan melimpahkan semua saham perusahaan yang sudah dibelinya pada Kim Jongin. Dia mengatakan bahwa semua itu untuk biaya hidup anaknya yang berada dalam kandungan Sulli.

Sulli menutup matanya. Dia merasa seperti sedang berada di dalam dunia yang hilang.  Chanyeol semakin membuatnya merasa berdosa dengan semua harta yang dia limpahkan untuk anak dalam kandungan Sulli. Walau bagaimanapun semua ini akan tetap membuat Jongin merasa tak berguna, direndahkan dan dilecehkan sebagai laki-laki, terlebih sebagai suami.

Sulli berjalan lesu memasuki rumahnya yang sebentar lagi akan ditinggalkannya.

“Oppa, apa yang harus kulakukan ?”

“Aku akan mengembalikannya. Aku tidak memerlukan ini. Dia pikir dia itu siapa?”  Jongin mendengus dalam emosi, namun dia masih bisa menahannya.

“Biar aku saja yang mengembalikannya.”  Sulli merebut surat itu dan mengambil munci mobil. Dia berjalan keluar tanpa menoleh lagi ke arah suaminya.

****

Mobilnya terparkir di halaman parkir apartemen Chanyeol. Dia mendongak ke atas sebelum akhirnya melangkah masuk. Saat ini hatinya sudah tenang. Dia bisa mengatur emosinya untuk bicara.

“Oppa..!”  Kalimat Sulli terhenti. Dia melihat Chanyeol yang muram dan tak bergairah. Sulli seperti berhadapan dengan mahluk yang dia kenal sebagai Chanyeol selaa ini.

Laki-laki itu menatap sendu.

“Aku tidak akan mengganggumu lagi.”  ujarnya kemudian sambil bersandar pada sofa dan menatap Sulli lesu.

“Aku ingin mengembalikan ini. Aku tidak butuh semua pemberianmu. Kami akan pergi.”

“Aku yang akan pergi. Kau tetaplah di sini bersama Jongin. Dia memiliki semua sahamku di perusahaan yang aku kelola. Lagi pula itu bukan untukmu atau Jongin, tapi untuk anakku. ”  Chanyeol memusatkan pandangannya ke arah perut Sulli.

“Kenapa sekarang kau begitu menyebalkan, bahkan di saat-saat terpojok seperti ini kau masih saja membuatku kesal.”

“Aku mencintaimu.” ujar Chanyeol tanpa ekspresi. Wajahnya masih terlihat sedih.

Sulli terdiam. Bahkan ketika Chanyeol berdiri dan menghampirinya, dia masih terdiam. Dia tidak tega mendengar hal itu dari Chanyeol. Kenapa Chanyeol harus mengatakan kalimat sakral itu. Apa hakikat sebuah cinta yang dia miliki. Kenapa serancu ini.

“Aku ingin membawamu pergi.” bisik Chanyeol kemudian.

“Tidak. Hal itu tidak akan pernah terjadi.”

Chanyeol menatap dengan tatapan yang begitu dalam. Dia menarik nafas berat dan menghempaskannya.

“Kalau begitu jangan menolak semua yang kuberikan. ” ujarnya dengan keyakinan penuh.

“Kau membuat harga diri suamiku jatuh serendah-rendahnya.”

“Kalau begitu simpanlah! Dia tidak perlu tahu.”

“Aku harap kau menghilang selamanya. Jangan pernah muncul meski anak ini lahir sekalipun. Aku harap kau pergi dan menghilang !”

Chanyeol teesenyum pahit mendengar perkataan Sulli. Dia menarik nafasnya kembali dan melegakan paru-parunya.

“Aku tetap mencintaimu Sulli. Meskipun kau mengatakan hal buruk padaku, aku tetap mencintaimu.”  Ujar Chanyeol dengan sebuah desahan oanjang.

Sulli membalikkan badannya. Dia merasa bersalah dengan kata-katanya sendiri. Chanyeol benar-benar membuatnya merasa tak berdaya.

Lalu dia melangkah untuk meninggalkan Chanyeol.

****

Mobilnya melaju pada kecepatan normal. Dia sedang tidak mabuk atau depresi. Dia hanya sedikit memikirkan perkataan Chanyeol dan perkataannya sendiri. Namun terlebih dari itu dia sangat menghkawatirkan keadaan bayi dalam kandungannya.

Ciiiiiiiiiitttt…..BRAKH

Suara itu terdengar begitu keras dari arah sampingnya. Lalu semua terlihat gelap. Sulli merasa ada sebuah tangan yang menggapainya. Lalu semua berubah menjadi putih.

Perlahan-lahan dia berada di dalam rumahnya. Melangkah di setiap lorong dan kamar. Juga semua yang terasa begitu kosong dan sepi.

“Jongin Oppa!” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Suaranya bahkan tidak memantul di tiap dindingnya. Sulli berjalan lagi diantara ruangan kosong. Lalu duduk di dalam kamarnya.

Peristiwa itu sudah berlalu lima bulan yang lalu. Sulli tewas dalam sebuah kecelakaan kendaraan saat dia dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Sebuah truk menabraknya. Sulli tidak menyadari bahwa dia menerobos lampu merah. Saat itulah mobilnya di hantam oleh truk yang melaju kencang dari arah kanannya.

Jongin telah meninggalkan rumah yang mereka pernah tinggali. Dia meninggalkan semua kenangan pahit yang dia alami, berikut Sulli. Meskipun dia belum bisa sepenuhnya terlepas dari rasa sakit , juga luka yang dia derita di dalam hatinya, dia tetap bertahan untuk He Sun.

Kondisi rumah yang masih terawat itu terlihat nyaman dan tenang. Hanya saja di depan sana sudah tertera tanda bahwa rumah mereka sudah terjual. Seseorang telah membelinya. Seorang laki-laki tampan, dan tinggi. Tatapan matanya begitu indah.

Sulli tersenyum melihatnya. Dia memasuki rumah dengan langkah yang begitu pasti.

“Sulli !” panggilnya.

Dia melihat ke setiap sudut ruangan dengan tatapan sedih.

“Sulli, aku kembali. Apa kau di sini ?”  dia berkata seolah-olah Sulli masih ada di sana.

Memang masih ada. Dan Sulli hanya mengikuti langkah laki-laki tampan itu dengan sebuah senyuman.

“Nde, Oppa, selamat datang !”  jawab Sulli kemudian.

Laki-laki itu membalikkan badan lalu tersenyum. Mereka saling menatap, atau seolah-olah begitu.

“Jangan suruh aku untuk pergi dan menghilang lagi. Ini sangat tidak adil, karena akhirnya kau yang menghilang dari hidupku. Aku harap, kita bisa berada di sini selamanya.”

Sulli tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan tersenyum , membiarkan Chanyeol melakukan aktivitasnya. Dia akan berada di rumah ini selamanya.

fin

a/n

Aduh maaf, kenapa endingnya aneh lagi. Via berat ke Chanyeol Oppa, jadinya endingnya jadi begini. Apa daya, Via ga bisa membiarkan Chanyeol Oppa merana. Makasih ya udah membaca ff Via. Via seneng deh kalo ada yang komentar.

Advertisements

2 thoughts on “[Twoshot] House For Sale 2nd shot-end

  1. Viaaaaa!!!! Ending-nya manis banget, deh. Aduh, Chanyeol-nya bener-bener nyebelin. Sulli-nya juga nggak setia tuh! XD Kasian Kai deh. Udah sini, Kai sama aku aja oke? XD Btw, kamu fans-nya Sulli yah?? ChanLi Shipper?

    Liked by 1 person

    • Ga kok Kak, gak Chanli shiper, aq yg lagi ngefeel aja aq tulis. Aq bebas , multishiper. tapi kalo sama Chanyeol aq nge-heart banget. Nanti selanjutnya q mau bikin shipper lain. Btw makasih ya kak!

      Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s