Love Disease

love-disease-seobabywook

Author: seobabywook

Rate: PG 13+

Length: vignette

Genre: sad, romance, angst

Poster by: hajinbacon @ hsg

Cast:

-Seo JooHyun (Seohyun)

-Kim Ryeowook (Ryeowook)

-Tiffany Hwang (Tiffany)

 

Other cast:

-Choi Sooyoung (Sooyoung)

-Happy Reading-

 

Apakah kau tidak bisa memandangku?

Apakah kau tidak bisa peka terhadap perasaanku?

Apakah kau tidak sadar apa yang kulakukan karena aku mencintaimu?

Bisakah kau memperhatikanku sekali saja?

Apakah harus kau memperjuangkan cintamu pada gadis yang sama sekali tidak mencintaimu tetapi kau sendiri tidak memperhatikan gadis yang sangat tulus mencintaimu seperti aku?

Kim Ryeowook, bisakah aku mendapatkan cintamu?

 

Tangan itu berhenti menulis. Tangan gadis itu berhenti menulis setelah menulis sebuah kalimat terakhir yang membuat hatinya cukup sesak. Gadis tersebut menutup buku diary nya. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya. Ia mengusap pelan air matanya. Terkadang ia merasa menyesal mengapa dirinya harus mencintai pria yang bernama Kim Ryeowook itu. Pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan padanya. Pria yang selalu mengejar cinta seorang gadis bernama Tiffany Hwang. Pria yang tidak pernah meliriknya sebagai seorang gadis yang dicintai. Hubungan dirinya dengan pria itu hanya sebatas sahabat, tidak lebih dari itu.

 

Seo Joohyun, itulah nama gadis tersebut. Gadis itu biasa dipanggil Seohyun karena ia lebih menyukai nama ‘Seohyun’ ketimbang ‘Joohyun’. Di universitas ini, Seohyun memilih jurusan musik. Alasannya, selain karena Ryeowook juga mengambil jurusan yang sama, ia sendiri juga mencintai musik terutama piano. Dan ia pun sadar bahwa Ryeowook juga unggul dalam memainkan piano. Kesukaan mereka hampir seluruhnya sama, namun mengapa cinta mereka bertepuk sebelah tangan?

 

Kim Ryeowook, bisakah aku mendapatkan cintamu?

 

Kalimat itu selalu terlintas di benaknya. Berulang kali ia mencoba membuang perasaannya jauh-jauh. Namun apa daya? Perasaan itu tetap ada dan tak dapat hilang dari lubuk hatinya yang paling dalam. Disitu ia sadar bahwa dirinya telah mencintai Ryeowook dengan tulus. Ah tidak! Bahkan sangat-sangat tulus. Yang selalu membuatnya bersedih, mengapa Ryeowook bisa mencintai gadis yang sama sekali tidak mencintainya ketimbang dirinya yang selalu berada di samping Ryeowook dan tulus mencintai pria itu.

 

Seohyun melirik arlojinya. Kelas musik akan segera dimulai. Ia pun memasukkan buku diary kecil itu ke dalam tasnya dan bergegas menuju ruang musik. Di depan pintu, tak sengaja ia berpapasan dengan Ryeowook saat masuk.

 

Ini belum waktunya aku melihat wajah itu. Batin Seohyun.

 

Baru saja Ryeowook hendak menyapa sahabat perempuannya itu, namun keningnya mengerut ketika melihat gadis itu menghindarinya. Apa ia memiliki masalah denganku? Mengapa Seohyun menghindariku? Umpatnya dalam hati.

 

***

 

“Seohyun-ah.”

 

Merasa namanya dipanggil, gadis itu menghentikan langkahnya. Lalu ia pun membalikkan badannya ke arah pria yang memanggilnya.

 

“Ada apa?” Ujarnya.

“Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu? Mengapa seharian ini kau menghindariku?”

“Eum.. Itu.. Tidak ada masalah apapun. Mengapa?”

“Ck! Janganlah berbohong. Aku ini sahabatmu.”

 

Seohyun memainkan kukunya. Ryeowook terus-terusan menganggapnya hanya sebatas sahabat. Yang ia inginkan, pria itu menganggapnya sebagai seorang gadis, bukan hanya sebagai seorang sahabat.

 

“Itu.. Ah, aku sedang flu hari ini. Aku tidak ingin menularkannya pada siapapun.” Seohyun mencari alasan. Lalu dengan sengaja ia pun mengusap-usap hidungnya dengan bersin yang dibuat-buat olehnya. Sementara itu, Ryeowook menatapnya dengan aneh.

“Kalau begitu, semoga cepat sembuh. Sampai jumpa besok.” Ucapnya datar. Lalu dengan langkah seribu, Ryeowook pun beranjak pergi dari tempat itu.

 

Seohyun menghela nafas sejenak. Ia pun berjalan keluar dari area universitas itu dan menghampiri supirnya yang telah menunggunya.

 

***

 

Keesokan harinya..

 

“Aku mencintaimu, Tiffany-ya.”

 

Sebuah kalimat pernyataan keluar begitu saja dari bibir tipis Ryeowook. Secara refleks, kalimat tersebut membuat gadis yang dipanggil Tiffany itu terdiam sejenak. Sudah beberapa kali, gadis itu mendengar Ryeowook mengatakan bahwa ia mencintai dirinya. Dan sudah beberapa kali juga, Tiffany mengatakan sebuah kata, yaitu maaf.

 

“Maaf, tetapi aku tidak mencintaimu, Ryeowook-ssi.”

 

Ryeowook menghela nafas. Ia berharap gadis itu mengganti jawabannya. Setiap ia menyatakan perasaannya, Tiffany selalu berkata maaf, maaf dan maaf.

 

“Apakah aku tidak bisa menjadi salah satu pria di hatimu?”

“Maaf Ryeowook-ssi. Aku mencintai orang lain. Aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai teman kuliah biasa, tidak lebih.”

 

Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan Ryeowook dan Tiffany. Mata itu tampak berkaca-kaca. Seperti menggambarkan rasa pedih ketika memperhatikan mereka.

 

***

 

Gadis berambut coklat itu menangis lagi. Kali ini ia ditemani oleh sahabat perempuannya.

 

“Seohyun-ah, sudahlah.”

“Hiks.. Aku tidak tahan lagi, Sooyoung-ah. Aku mencintainya, aku cinta Kim Ryeowook.”

“Aku mengerti, Seohyun-ah. Cintailah pria yang juga mencintaimu. Jika kau mencintai pria yang sama sekali tidak mencintaimu, apalagi pria itu mencintai gadis lain, hal itu sama saja menyiksa dirimu.”

 

Seohyun menarik nafas panjang.

 

“Aku tidak bisa, Sooyoung-ah. Aku terlanjur mencintainya. Aku sudah terlanjur mencintainya dengan tulus.”

 

Sooyoung menyeka air mata di pipi Seohyun, lalu ia pun berkata, “Sekarang, berhentilah menangis. Lupakan semua yang kau lihat tadi.”

 

Seohyun pun menghentikan tangisnya. Perlahan, ia memeluk Sooyoung dengan erat.

 

“Aku yakin, suatu saat ia akan sadar jika cintamu begitu besar untuknya.” Bisik Sooyoung.

 

***

 

Apakah salah aku mencintaimu?

Apakah aku dilarang untuk mencintaimu?

Apakah Tuhan tidak mengizinkanku untuk memilikimu?

Tak pernahkah kau sadar akan perasaanku padamu?

Tak pernahkah kau merasakan itu?

Aku dan kau adalah sahabat. Sahabat sejak SMA. Tapi mengapa kau seperti tidak pernah menganggapku ketika kau jatuh cinta pada gadis itu? Gadis yang sama sekali tidak mencintaimu. Gadis yang bahkan berkali-kali menolakmu.

Tak tahukah setiap hari aku menunggumu? Menunggumu untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata untukku. Menunggu saat-saat seperti dahulu kembali lagi. Aku merindukan kau yang dulu. Kau yang perhatian, baik, tidak pernah mengacuhkanku. Sekarang, kau sering melupakanku. Entah mengapa. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah. Mungkinkah karena gadis itu?

 

Gadis itu meletakkan pulpennya di atas meja. Kemudian buku mini yang bernama buku diary itu disimpannya di dalam tas. Di bagian yang paling tidak tampak tentunya. Sesekali ia melirik ke arah seorang lelaki. Lelaki yang telah membuatnya jatuh hati selama ini.

 

Seohyun tersenyum tipis saat memperhatikan pria itu. Matanya seakan-akan tak ingin berpindah. Seluruh perhatiannya terfokuskan pada pria yang bernama Kim Ryeowook itu. Fikirannya melayang-layang membayangkan seandainya dirinya bisa memiliki Ryeowook. Bahkan, Dosen yang kini tengah menegurnya pun tak dihiraukan olehnya.

 

“Seo Joohyun.”

“…”

“Seo Joohyun.”

“…”

“SEOHYUN!”

 

Seohyun tersadar dari lamunannya ketika seluruh teman sekelasnya ikut menegurnya. Ya, kali ini ia sadar jika pantas untuk dimarahi oleh sang Dosen.

 

“Seohyun-ssi, bisa kamu jelaskan ulang apa yang telah saya terangkan tadi?” Ujar sang Dosen. Seohyun menggeleng pelan.

“Kalau begitu, tolong perhatikan! Fokuskan dirimu ke pelajaran ini.”

 

***

 

“Ryeowook-ah.”

 

Akhirnya nama itu pun tersebut oleh bibir Seohyun. Merasa namanya dipanggil, lelaki yang bernama Kim Ryeowook itu pun menoleh. Saat itu, keadaan kelas kosong karena pelajaran telah usai dan waktunya pulang. Hanya mereka berdua yang masih setia berada di ruangan itu.

 

“Ya?” Sahutnya.

“Bolehkah kau mengantarku pulang? Hari ini Ayahku ada meeting. Tidak ada yang bisa menjemputku pulang.”

“Dengan senang hati. Boleh.”

 

Percakapan canggung itu pun berakhir. Di dalam mobil Ryeowook, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Keduanya sibuk dengan dunia masing-masing. Tidak ada candaan. Tidak ada bahan pembicaraan. Semuanya telah berubah. Entah mengapa, keduanya juga tidak mengerti mengapa hubungan mereka menjadi seperti ini. Seperti ada jarak yang memisahkan mereka.

 

“Seohyun-ah.”

 

Lelaki yang sibuk mengemudikan mobilnya itu pun memecahkan keheningan. Gadis yang duduk di belakangnya itu pun menyahut.

 

“Hm?”

 

Ryeowook mendesah pelan. Ia tidak pernah menginginkan adanya hubungan canggung dengan Seohyun seperti sekarang ini.

 

“Apa yang membuatmu menjauhiku?” Ucapnya pelan. Namun tak ada jawaban dari bibir gadis yang diajaknya berbicara itu,

“Apa yang membuatmu menghindariku? Mengapa hubungan kita tidak sedekat dahulu? Apakah aku pernah berbuat salah?”

 

Seohyun masih terpaku. Ia tidak tahu mesti menjawab pertanyaan Ryeowook dengan jawaban yang bagaimana. Bisa saja ia jujur mengapa ia selalu menghindar dari Ryeowook. Tetapi itu sama saja membuka rahasia besar yang selama ini disimpannya.

 

“Seohyun-ah, jawab aku. Aku ini sahabatmu.”

“Itu karena aku mencintaimu, Ryeowook-ah.”

 

Seohyun meremas roknya. Walau bagaimanapun hanya itu jawaban yang masuk akal. Setidaknya beban di hatinya berkurang setelah mengucapkan kalimat pernyataan itu.

 

Di sisi lain, Ryeowook terpaku mendengar ucapan Seohyun. Bagaimana bisa gadis yang selama ini menjadi sahabatnya bisa mencintainya?

 

“A..apa?”

“Aku mencintaimu.”

“Lalu, apa maksudmu menghindariku?”

 

Sebutir kristal air mata pun jatuh membasahi pipi Seohyun. Terbayang di kepalanya saat Ryeowook menyatakan perasaan pada Tiffany.

 

“Karena kau mencintai Tiffany. Aku menghindarimu karena itu. Aku tidak ingin rasa cintaku ini semakin besar, karena mencintai tetapi tidak dicintai itu menyakitkan. Hiks.. Kau merasakannya, bukan?” Tutur Seohyun sambil menahan isak tangis.

 

Nafas Ryeowook mendadak tertahan. Ia tak menyangka bahwa Seohyun merasakan Apa yang dirasakannya. Mencintai tetapi tidak dicintai itu menyakitkan. Benar-benar menyakitkan.

 

“Seohyun-ah, maafkan aku. Aku tidak tahu. Cinta yang tak berbalas memang menyakitkan. Apakah aku boleh belajar untuk mencintaimu?” Ucap Ryeowook setengah berbisik.

“Tidak usah mencoba untuk mencintaiku jika perasaanmu masih berpihak pada Tiffany. Aku tidak apa-apa. Jika cintamu itu layak di perjaungkan, tetaplah perjuangkan cintamu padanya. Jangan fikirkan aku.”

 

Ryeowook menepikan mobilnya. Ia tidak mau berakhir di UGD karena saat ini konsenterasinya terganggu. Ryeowook menoleh ke belakang. Kemudian ia berpindah ke kursi belakang itu dimana Seohyun berada.

 

“Ryeowook-ah?”

 

Grep!

 

Lelaki itu memeluk erat tubuh Seohyun. Dengan ragu, Seohyun pun membalas pelukan itu. Sudah sangat lama dirinya tidak lagi seperti ini dengan pria itu. Ia sangat merindukan saat-saat seperti ini.

 

“Izinkan aku mencintaimu.”

“Ryeowook-ah, tapi..”

“Lebih baik aku belajar mencintaimu daripada aku harus mencintai orang lain yang tidak pernah mencintaiku. Seperti yang kau katakan, mencintai tetapi tidak dicintai itu menyakitkan.”

 

Ryeowook melepaskan pelukannya. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Seohyun. Seohyun memejamkan matanya. Tak sampai 5 detik kemudian, bibir pria itu pun menempel di bibir Seohyun. Ciuman itu berlangsung sekitar 2 menit. Setelah itu, Seohyun pun melepaskannya.

 

“Aku mencintaimu, Ryeowook-ah.”

“Nado.”

 

-END-

 

Happy anniversary uri SeoWook couple! Gue berharap di tanggan 7 Juni ini elu berdua makin romantis, makin kode-kode. Ya gitudeh :v moga cepet confirm deh :v

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s