[Two Shoot] Long Time No See (2nd)

long time

Long Time No See

|| Title: Long Time No See || Author: Axyrus || Genre: Romance || Rating: G ||  Cast: Irene (Bae Joo Hyun) & Kim Myung Soo (L)

.

1st | 2nd | Epilogue


10 Years Later.

2015.

 

Ratusan penggemar menyerbu gedung tempat diselenggarakannya acara ‘Meet & Greet’ dengan seorang penulis muda berbakat.

Kini, sesi tanda tangan sedang berlangsung. Para penggemar dengan semangat berusaha meminta tanda tangan sang penulis dan menjabat tangannya.

Tampak sesekali penulis muda itu menyibak rambut panjang cokelatnya yang tergerai. Ia terlihat sangat cantik, ditambah dengan matanya yang bening berkilau.

‘Irene’ nama sang penulis muda itu. Ia beberapa tahun ini menetap di London dan merilis buku pertamanya di sana. Karya penulis keturunan Korea tersebut mendapat best seller dan diterjemahkan ke berbagai Negara, termasuk Korea.

Dan kini, ia berkunjung ke Negara asalnya untuk merilis novel terbarunya.

.

.

“Mengapa terlihat ramai sekali?” ucap seorang pria berjas kepada beberapa teman yang tengah bersamanya.

“Manager Kim, apakah anda tidak tahu? Hari ini, diadakan ‘Meet & Greet’ bersama penulis terkenal dari London.” Ucap salah satu temannya.

Rupanya, itu adalah Kim Myung Soo yang kini telah menjadi manager dokter di bidang pembedahan. Ia bersama beberapa orang dari rumah sakit lain berkunjung ke hotel tersebut untuk menghadiri sebuah acara seminar.

“Penulis?” tanya Myung Soo.

“Ya, namanya Irene, ia benar-benar berbakat.” Jawab salah seorang dokter perempuan.

“Irene” gumamnya. Namanya Irene, bukan Bae Joo Hyun, seseorang yang ia kenal sebelumnya. Setiap mendengar kata penulis, ia selalu berharap orang itu adalah Bae Joo Hyun. Namun, hingga saat ini, ia belum pernah menemukannya.

.

.

Myung Soo berjalan di koridor Hotel. Ponselnya bergetar. Ia meraih ponsel dari sakunya dan membaca isi pesan yang baru saja masuk. Ia tak melihat seseorang dari arah berlawanan.

Buk.

“Maaf, aku tidak melihatmu.” ucap Myung Soo pada seseorang yang ia tabrak. Buku wanita itu berserakan di lantai. Myung Soo membantunya.

“Saya juga minta maaf. Terima kasih.” Ucap wanita itu, dan segera berlalu. Sebelumnya, Myung Soo melihat saat si wanita menyibak rambutnya. Terlihat cantik. Ia merasa familiar dengan paras cantik wanita itu.

Myung Soo melihat selembar notes kecil terjatuh. Ia mengambilnya dan membaca tulisan yang tertulis dalam kertas.

“Aku penggemarmu, Irene. Teruslah berkarya, aku selalu mendukungmu.”

Wanita itu, Irene.

.

.

Myung Soo dan teman-teman sesama dokter yang tadi mengadakan seminar tengah berkumpul untuk makan bersama.

Myung Soo masih memikirkan wanita yang ditabraknya tadi. ‘Irene’ gumamnya berkali-kali. Ia merasa pernah mengenal wajah wanita itu sebelumnya. Sangat mengenalnya.

‘Bae Joo Hyun’ gumamnya kemudian.

.

Myung Soo benar-benar mabuk. Dia terlalu banyak minum tadi. Ia berjalan sempoyongan menuju tempat parkir mobilnya. Tanpa disadari, ia kembali menabrak seseorang.

“Mian.” ucapnya dengan bahasa tidak formal. Myung Soo yang tadinya terduduk berusaha kembali berdiri. Tetapi, ia kembali terjatuh karena mabuk.

Myung Soo menoleh kea rah orang yang ditabraknya. Orang itu belum pergi. Orang itu justru kini memandangnya.

“Bae Joo Hyun.” panggil Myung Soo. Ia merengkuh wanita yang tak sengaja ditabraknya tadi.

.

.

Myung Soo terbangun di kamar yang tak dikenalinya. Ia heran mengapa ia bisa ada di sana. Myung Soo tak mengingat apapun tentang bagaimana dirinya bisa ada di sana.

Ia bangkit dan terduduk, masih di atas tempat tidur. Terdapat secarik kertas di atas meja kaca. Myung Soo membacanya.

“Mianhae. Aku tidak dapat mengantarmu, jadi aku memesankanmu kamar hotel ini. Irene.”

“Irene? Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?” gumamnya heran. Dengan segera ia bangkit dari tempat tidur dan bergegas meninggalkan hotel itu.

Tepat ketika ia baru saja keluar dari kamar hotel, penghuni kamar di depannya juga keluar hendak meninggalkan tempat. Keduanya tidak menyadari.

Sejenak Irene terdiam. Ia ingat tadi malam ia mengantar Myung Soo yang mabuk ke kamar 303 yang tepat berada di depan pintu kamarnya. Irene mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Ia berpikir Myung Soo sudah pergi.

“Dasar! Setelah sekian lama, kau masih sama saja! Tidak sopan!” gumamnya.

.

.

Irene berkunjung ke tempat ibunya di Gwangju. Ya, 10 tahun yang lalu, Irene yang masih bernama Joo Hyun bersama ibunya pindah ke Gwangju, kampong halaman neneknya. Joo Hyun remaja kala itu dengan giat menulis dan mengirimkannya ke berbagai penerbit. Sampai suatu hari ia mendapat beasiswa untuk menuntut ilmu sastra di London dan menjadi seorang penulis populer seperti yang orang-orang ketahui.

“Joo Hyun-ah! Oh, ibu begitu merindukanmu!” sambut ibunya sembari memeluk dirinya.

“Aku juga merindukan ibu. Aku baik-baik saja. Bagaimana dengamu ibu?”

“Ibu baik-baik saja. Ayo masuk, ibu sudah memasak!”

Irene makan bersama ibunya setelah sekian lama ia tidak melakukannya.

“Ibu, aku rindu rasa masakan ibu! Di sana, tidak ada masakan seperti ini!” ujar Irene bertingkah manis pada ibunya. Ibu hanya tersenyum sambil membelai rambut panjang putrinya itu.

“Ibu, aku ingin kita membeli lagi rumah lama di Seoul.” Ucap Irene. Ibu menatap ke arahnya, memasang wajah bertanya-tanya.

“Kemarin, aku datang ke lingkungan rumah lama, dan pemiliknya berencana menjual rumah itu. Bagaimana menurut ibu?” sambung Irene.

“Terserah padamu. Tetapi, ibu senang di sini.” Jawab ibu sambil tersenyum.

“Ya, Ibu benar juga. Seoul jauh lebih padat. Namun, kita telah meninggalkan banyak kenangan selama di rumah itu. Aku merindukannya, eomma.” Rengek Irene, berusaha membuat ibunya mengatakan setuju dengan keinginannya.

“Iya, ibu setuju jika kau benar-benar menginginkannya.” Setuju ibu akhirnya, membuat putrinya itu tersenyum lebar dengan mata berbinar.

“Terima kasih, eomma.”

“Joo Hyun-ah, apakah kau bertemu Myung Soo sejak 10 tahun lalu?” tanya ibu yang tiba-tiba menanyakan perihal Myung Soo. Irene menghentikan makannya dan terdiam beberapa detik.

“Tidak.” Kata Irene singkat. Ia berbohong pada ibunya bahwa tadi malam ia bertemu Myung Soo. Mungkin ia tidak inginibunya menanyakan banyak hal.

“Ia sama saja.”

.

.

“Irene-sshi, bisakah aku bertemu denganmu?” Myung Soo mengirim pesan singkat kepada Irene yang menuliskan nomor ponselnya dalam secarik catatan yang ia temukan tadi pagi.

Irene menerima pesan singkat di ponselnya. Dari nomor tak dikenal. Ia ragu untuk membukanya, namun tetap dibukanya pesan sms itu.

“Irene-sshi, bisakah aku bertemu denganmu?”

Bunyi pesan itu. Irene mengernyitkan dahi.

“Maaf, siapa ini?” balasnya.

Angin sepoi-sepoi di malam hari masuk melalui celah-celah jendela kamar hotelnya. Wanita berkulit putih itu berjalan pelan dan hendak menutup tirai kain putih yang tadinya terbuka di antara jendela kamarnya.

Drt.drt.

Ponselnya bergetar. Ia membukanya. Pesan singkat dari nomor yang sama.

“Maaf, namaku Kim Myung Soo. Seseorang yang mabuk tadi malam. Maafkan aku sudah merepotkanmu.”

Irene tertegun membacanya. Kim Myung Soo. Orang yang ia kenal bertahun lamanya.

“Bisakah aku bertemu denganmu di taman halaman hotel sekarang?” Pesan baru diterimanya lagi. Belum sempat Irene membalas pesan sebelumnya.

Kali ini ponsel Irene bordering. Melihat nomor yang tertera, ia sempat ragu. Namun, akhirnya, ia tetap menjawabnya.

“Irene-sshi, apa kau sibuk?” tanya seseorang di sambungan seberang.

“Tidak. Ya, aku akan segera ke sana.” Jawab Irene.

Beberapa saat panggilan tersebut seakan tak bersuara. Orang diseberang tidak segera mengatakan apapun. Irene hampir menutup panggilan.

“Tunggu.” ucap orang itu. Myung Soo.

“Waeyo?”

“Apakah kau adalah seseorang yang kukenal?”

Mendengarnya, Irene terdiam. Ia kecewa Myung Soo tidak mengenalinya, bahkan mungkin ia lupa siapa dan bagaimana wajah Irene yang membantunya tadi malam. Padahal, Myung Soo sempat memanggilnya ‘Bae Joo Hyun’. “Aku tidak tahu.” Ucapnya lirih.

“Maaf. Terima kasih jika kau bersedia datang.” Kalimat Myung Soo tersebut menjadi penutup percakapan panjang pertama Myung Soo dan Irene sejak 10 tahun lalu.

Irene terduduk dan termenung sebentar.

Ponselnya kembali bordering.

“Jong Hyun-ah, wae?” tanya Irene.

“Apa kau sudah makan malam?” tanya orang di sambungan seberang yang bernama Jong Hyun.

“Mian. Aku sudah makan bersama teman lamaku, tadi.” Jawab Irene berbohong. Ia terlanjur ingin bertemu Myung Soo.

“Oh, begitukah? Baiklah lain kali saja. Kupikir kau lelah. Selamat beristirahat.” Tutup Jong Hyun.

Irene sedikit merasa tidak enak pada Jong Hyun. Selama ia menjalani karirnya sebagai penulis, ia bersama Jong Hyun yang selalu membantunya. Jong Hyun adalah pria yang baik. Bahkan Jong Hyun menyukai wanita itu.

.

Irene sampai di taman di mana Myung Soo memintanya datang. Tak ada siapapun. Ia duduk di salah satu bangku. Dia hendak menghubungi Myung Soo, namun diurungkan niatnya.

“Aish, Myung Soo-ya, kau selalu terlambat padahal kau yang membuat janji padaku, bahkan 10 tahun sudah berlalu.” gumam Irene sendiri.

“Benar, itu kau.” Ucap seseorang dari arah belakangnya. Irene mengenal suara itu. Irene terdiam.

“Ah, Irene-ah. Kau tampak berbeda sekarang.” Ucap Myung Soo, duduk di sebelah Irene.

“Kau juga.” Balas Irene yang menoleh, menampakkan paras cantiknya pada Myung Soo.

“Ah, iya. Aku belum mengucapkan ucapan atas reuni kita ini. Terdengar aneh, kurasa.” Ujar Myung Soo disertai senyum lebar di wajahnya.

“Selamat bertemu lagi, Joo Hyun-ah. Ah, Irene-ah.”

Irene tersenyum. “Selamat bertemu lagi juga, Myung Soo-ya.”

“Myung Soo-ya, kau menjadi kepala manager unit bedah rumah sakit Seoul, kan? Chukkae, kau terlihat hebat.” Ujar Irene.

“Dari mana kau tahu?” tanya Myung Soo.

“Aku menemukan kartu namamu yang terjatuh kemarin.” Jawab Irene seraya menunjukkan secarik kertas kartu nama Myung Soo.

“Ah, kau juga hebat. Penulis terkenal dari London. Wah, itu benar-benar keren. Bisakah kau memberiku bukumu yang bertanda tangan secara gratis?” canda Myung Soo.

“Aniya. Kau harus membayar untuk mendapatkannya.” Balas Irene. Keduanya sama-sama tertawa. Kikuk.

“Ini aneh, tetapi, kurasa, sekarang berbeda. Sungguh, aku merasa kikuk setelah lama tak bertemu denganmu, Myung Soo.”

.

.

.

“Eomma, besok aku akan membersihkan rumah lama. Apakah ibu berniat berkunjung?” ucap Irene pada ibunya via telepon.

“Aku sudah merindukan rumah itu. Ya, ibu ingin ke sana lusa. Apa kau sibuk?”

“Lusa aku ada acara sebentar di pagi hari. Setelahnya, aku akan ke rumah.” Jawab Irene.

“Ibu, aku bertemu Myung Soo.” Sambung Irene dengan suara rendah.

.

.

Myung Soo kembali ke ruang kerjanya setelah mengecek keadaan pasien bersama beberapa dokter lainnya. Ia duduk di kursi empuk yang ditempatkan di belakang meja kerjanya. Hendak rehat sejenak dari aktivitas dan kesibukannya. Pria itu menyandarkan tengkuknya, lalu memejamkan mata, dengan jemari kedua tangannya bertautan di pangkuannya.

Sekelebat bayangan terbesit dalam pikirannya. Gadis itu, ia bertemu dengannya lagi. Tidak dapat ia pungkiri, hatinya benar-benar merindukan wanita yang kini bernama Irene itu. Entah mengapa, dada berdegup kencang ketika bertemu Irene kala itu. Karena lama tidak bertemu ataukah karena hal lain? Ia tak tahu.

Ponselnya berbunyi. Membuyarkan angan-angannya.

“Yeoboseo?” ucapnya mengangkat panggilan nomor tak dikenal di ponselnya.

“Myung Soo-ya!” suara ahjumma dari sambungan telepon hampir membuat Myung Soo tersentak kaget.

“Myung Soo-ya! Ini bibi Joo, Joo Hyun eomma.” Sambung ahjumma yang ternyata adalah ibu Joo Hyun.

“Ah, ibu, lama kita tidak bercakap-cakap. Bagaimana kabar ibu?”

“Aku baik-baik saja, Myung Soo. Kau juga baik-baik saja bukan? Joo Hyun bercerita tentangmu yang kini sudah menjadi dokter di rumah sakit Seoul. Tentu kau baik-baik saja kan sekarang?”

“Ya, aku baik-baik saja. Ibu, aku benar-benar ingin mengunjungimu di Gwangju. Di akhir pekan, bisakah aku ke sana?”

“Jika kau akan mengunjungiku, apakah kau hanya akan sendiri? Kau tidak mengajak Joo Hyun?”

Myung Soo terhenyak mendengar kalimat ibu. Ia hanya menjawab ragu. “Kurasa Joo Hyun sibuk.”

“Ah, aku hanya bercanda. Beberapa hari yang lalu Joo Hyun kemari. Lusa, aku yang akan ke Seoul. Apakah Joo Hyun tidak bercerita padamu bahwa ia membeli rumah lama?”

“Benarkah? Irene tidak memberitahuku.” Jawab Myung Soo. Entah mengapa, sekarang mulutnya seakan lebih mudah menyebut nama Irene daripada Joo Hyun.

“Besok, Joo Hyun akan membersihkan rumah. Dan lusa, bisakah kau bersam kami makan bersama? Aku rindu makan bersama anak-anakku seperti dulu.” Harap ibu.

“Kurasa aku tidak sibuk lusa, ya, aku akan ke sana.”

“Baiklah, sampai jumpa Myung Soo-ya.”

“Ne, eommoni.”

Myung Soo menurunkan ponsel yang tadi melekat di telinga kanannya. Ia kembali menyandarkan tengkuknya di kursi. Dia kembali teringat Irene. ‘Ia membeli rumah lamanya di Seoul. Apakah itu berarti ia menetap di Seoul?’ pikirnya.

Jemari tangannya dengan lincah membuka program pengirim pesan dan menuliskan sesuatu.

“Irene-ah, apa kau membeli rumah la—“ belum selesai ia menulis kalimat, ia tampak ragu. Dihapusnya pesan tersebut kemudian ditaruhnya ponsel itu di atas meja kerja.

.

.

Seperti yang sudah direncanakan, Irene membersihkan rumah lamanya di Seoul. Ia kini tengah mengangkat beberapa kardus berisi barang-barangnya satu persatu untuk ditata.

“Sini, aku bantu.” ucap Jong Hyun ketika mendapati Irene yang kewalahan mengangkat salah satu kardus besar nan berat.

“Gomawo Jong Hyun-ah.” Ucap Irene.

Mereka membersihkan dan membereskan rumah itu bersama-sama, berhubung mereka adalah teman dekat sejak bertemu di London. Jong Hyun juga adalah penulis berketurunan Korea.

Di waktu yang sama, Myung Soo dengan mengendarai mobilnya hendak mendatangi rumah lama Irene begitu mendengar dari ibu bahwa hari ini ia akan membershkan rumah itu. Masih dari kejauhan, ia melihat sebuah mobil di depan gerbang dan satu mobil pick up dengan beberapa kardus diatasnya. Hal itu cukup menengaskan bahwa Irene memang benar sedang berada di dalam rumah.

Hampir saja Myung Soo sampai di depan gerbang rumah dan menghentikan mobilnya di sana, namun ia justru menghentikan mobilnya agak jauh.

Irene dan Jong Hyun keluar dari dalam gerbang rumah. Merekan tampak akrab satu sama lain. Bahkan Irene tengah menautkan jarinya di lengan pria itu. Keduanya menuju mobil untuk mengambil beberapa barang yang tersisa.

Myung Soo melihatnya. Keinginannya untuk membantu Irene dan mulai kembali menjadi teman akrab seperti dulu pupuslah sudah baginya. Ia menjalankan mobilnya, meninggalkan tempat itu. Myung Soo sempat melewati tempat di mana Irene berdiri, namun dengan sengaja ia tak melihat ke arahnya.

Irene tertegun begitu melihat sekelebat bayangan seseorang pengendara mobil yang baru saja lewat di sebelahnya.

.

“Selamat atas rumah barumu.” Irene membaca pesan singkat yang masuk di ponselnya. Setidaknya, begitulah bunyi kalimat itu. Otot-otot di wajahnya seakan dengan otomatis bergerak hingga membentuk sebuah senyum manis menghiasi wajah cantiknya.

“Siapa?” tanya Jong Hyun menghampiri Irene di sofa.

“Teman lama.” Jawab Irene singkat. Jarinya sibuk mengetik pesan berniat membalas pesan tadi.

“Apa itu adalah ‘dia’?” tanya Jong Hyun lagi. Kali ini membuat wanita cantik itu terdiam.

Irene tidak dapat menyangkal, bahwa pengirim pesan itu adalah ‘dia’. Kim Myung Soo, teman lamanya.

.

.

.

“Ibu benar-benar merindukan saat-saat seperti ini. Ini sungguh seperti mimpi, kita dapat kembali makan di satu meja bersama ketika kalian berdua sudah saling sukses dengan pekerjaan masing-masing.” Ucap ibu dengan kalimatnya yang panjang lebar. Kedua pemuda-pemudi yang telah ia anggap sebagai anaknya itu tersenyum.

“Aku juga benar-benar merindukan makan bersama dengan kalian seperti ini.” Celetuk Myung Soo membalas celotehan ibu.

Irene hanya tersenyum sembari melanjutkan makannya. Ia menoleh ke arah Myung Soo dan mendapati orang itu tengah memandangnya kini. Kelopak matanya kian berat untuk mencoba berkedip. Ia berkaca-kaca. Jujur saja, ia sendiri sangat merindukan hal seperti itu, seperti mereka, bahkan bisa jadi lebih.

“Irene-ah, maksudku Joo Hyun-ah, apa kau akan kembali menetap di Seoul?” tanya Myung Soo membuyarkan pikiran Irene. Myung Soo hanya berharap makan bersama itu tak menjadi canggung olehnya dan Irene.

“Iya, benar. Apa kau akan menetap di sini?” lanjut ibu menyambung pertanyaan Myung Soo yang belum dijawab Irene.

“Tidak. Aku akan pulang ke Korea 1-2 kali dalam satu tahun. Aku akan di sini satu bulan kedepan. Setelah itu, aku akan kembali ke London.” Jawab Irene membuat ibu dan Myung Soo sedikit terkejut.

“Benarkah? Wah, itu benar-benar sebentar Joo Hyun-ah. Tetapi, sepertinya kau memang sibuk di sana.” Ucap ibu agak kecewa.

“Semangatlah, kau akan benar-benar sukses!” ucap Myung Soo dengan senyum lebar, walau dalam hatinya benar-benar kecewa.

.

.

.

Irene POV.

Kurasa Korea sekarang sepi bagiku ketimbang Korea 10 tahun yang lalu. Tidak ada yang dapat menjadi seseorang seperti dulu, lagi. Tidak ada teman konyol yang membuatku berdebar ketika bersamanya. Jujur saja, aku sungguh kecewa.

Hari demi hari di musim panas telah aku lewati selama hampir satu bulan di negeri tempat asalku ini. Sungguh, yang kuharapkan tidaklah seperti kenyataannya. Seseorang yang kutunggu sekian tahun jauh di luar ekspektasiku.

Beberapa kali, memang benar aku bertemu dengannya dan mengobrol beberapa saat. Entah mengapa, kami benar-benar canggung. Yang tidak berbeda dari 10 tahun yang lalu adalah, jantungku masih berdebar kencang ketika bersamanya.

.

.

Kim Myung Soo POV.

Irene. Mengapa nama itu lebih mudah kusebut daripada Joo Hyun? Apa mungkin karena aku menganggap mereka berbeda? Benar, kami sudah bukanlah sepasang sahabat dimasa remaja seperti halnya dulu. Entah ini karena Irene, kami berdua, atau justru aku sendiri. Aku tidak tahu.

Jujur saja, aku ingin menjadi seseorang yang dekat dengannya dan selalu ada bersamnya seperti dulu. Namun kurasa, Irene, penulis berbakat itu sudah menjadi milik orang lain. Kupikir ia mencintai orang lain, pria yang kulihat sering bersamanya.

Sungguh, aku ingin mengatakan sebuah hal padanya sebelum ia kembali ke London. Namun kurasa, itu mustahil.

.

.

.

Irene dan Myung Soo berjalan bersama mengelilingi beberapa tempat rekreasi di Seoul. Bagaimana mereka bisa berdua seperti itu? Itu karena Myung Soo yang bersedia menemani Irene jalan-jalan sebelum ia kembali ke London 3 hari lagi.

Keduanya berjalan berdampingan. Tentu saja dengan kikuk. Beberapa kali jemari mereka bersentuhan, tetapi langsung sama-sama ditepis keduanya. Hangatnya sinar matahari musim panas di minggu pagi hari itu seakan mengisyaratkan mereka untuk saling menata dan bergandengan tangan seperti halnya pasangan lain yang sedari tadi mereka temui.

Ralat. Untuk mereka kali ini, mungkin saling bersuara saja sudah cukup.

Keduanya kini hendak melewati jembatan batu yang tertata menuju tepi lain dari sungai buatan nan bersih tempat mereka berjalan-jalan sedari tadi. Sebelumnya, mereka sama-sama berhenti.

“Kau duluan.” Ucap Myung Soo sedikit membuat percakapan di antara mereka sembari mengulurkan tangannya dan menggambar sebuah senyuman kikuk di wajahnya.

“Baiklah.” Jawab Irene. Ia mulai melangkah.

Keduanya berjalan depan belakang selama melewati jembatan dari satu batu ke batu yang lain. Tanpa percakapan berarti. Hanya celotehan Myung Soo yang acap kali menemati waktu mereka selama itu.

Irene akhirnya mulai membuka suara. “Myung Soo-ya.” Panggilnya. Bersamaan dengan itu, ia berbalik ke arah Myung Soo. Ia hampir saja kehilangan keseimbangan dan terjatuh apabila Myung Soo tak memeganginya.

Seakan sama-sama merasa de javu, keduanya saling bertatapan. Cukup lama. Kejadian yang sama, di tempat berbeda 10 tahun lalu, kembali lagi.

“Sial, aku mencintainya.” – Kim Myung Soo

.

.

“Kita sudah beranjak dewasa. Kita bukanlah sepasang sahabat di masa remaja seperti dulu lagi. Kita sudha hidup menjadi semakin dewasa setiap harinya dengan segala lika-liku kehidupan yang selalu menanti tdanpa kita tahu apa yang akan menjadi akhirnya.” – Myung Soo

“Kau benar. Tetapi, tidak bisakah kita menjadi pasangan teman yang selalu bersama lagi? Kupikir, tidak ada salahnya sepasang orang dewasa saling berteman. Atau, lebih.” – Irene

.

.

.

Hari terakhir Irene di Korea akhirnya datang juga. Besok pukul 10.00 KST ia sudah lepas landas menuju London bersama Jong Hyun. Kini ia tengah melakukan jadwal terakhirnya selama di Korea. Menjadi bintang tamu di salah satu saluran radio.

“Selamat Pagi semuanya, kita berjumpa lagi di segmen ‘Talk With Our Talented Writer’. Kali ini, kita bersama penulis muda cantik nan berbakat. Siapakah dia? Ya, Irene. Penulis keturunan Korea yang beberapa tahun ini menetap di London.” Sapa sang pembawa acara radio dengan suara khas dan bersemangat seperti halnya para penyiar.

Setelah dipersilahkan, Irene gentian menyapa pendengar dan memperkenalkan dirinya.

Di sisi lain, kala itu, di waktu yang sama, Kim Myung Soo sedang mengendarai mobilnya. Ia hendak menuju tempat acara amal yang diselenggarakan oleh yayasan kesehatan. Myung Soo tampak bosan, terlebih lagi, ia tahu Irene esok hari akan meninggalkan Korea. Ia menekan tombol untuk menghidupkan radio.

Saluran K-POP, ia tidak menyukainya dan mengganti ke saluran yang lain. Begitu selanjutnya terus-menerus, sampai akhirnya, ia menemukan segmen berbincang yang menyita perhatiannya.

“Irene-sshi, novel-novelmu termasuk novel yang mendapat gelar best seller mayoritas bergenre romance bukan?” tanya sang penyiar radio.

“Ya. Apakah anda selalu membaca karya saya sampai mengetahuinya?” canda Irene disambut tawa keduanya.

Myung Soo tertegun mendengar nama bintang tamu dalam siaran radio itu. Hampir saja ia mematikan radio apabila sang penyiar tidak melontarkan pertanyaan pada sang bintang tamu.

“Apakah kau pernah mengalami kisah cinta? Dapatkah kamu menceritakannya pada kami?” tanya sang penyiar.

“Ya, pernah. Baiklah, aku akan menceritakan sedikit perihal kisahku.” Ucap Irene menyetujui permintaan sang penyiar radio.

“Aku mengenal seseorang semenjak kecil. Kami berteman baik, sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Awalnya kami hanya teman yang seperti biasanya. Terlebih, anak lelaki itu benar-benar menjengkelkan karena ia terlalu baik dan selalu bersemangat. Dan, entah apa sebabnya, di saat kami berada di jenjang SMA, aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku menyukainya.” ujar Irene. Ia berhenti bercerita sejenak.

“Wah, itu seperti kisah cinta lama yang menarik. Apa kau sudah mengatakan padanya? Lalu, apa kau berharap pria itu kini sedang mendengar ceritamu?” tanya sang penyiar.

Irene tertawa kecil sebentar. “Kami selalu melewati waktu bersama setiap harinya. Hingga, terakhir adalah ketika hari kelulusan SMA tiba. Aku harus pindah rumah bersama ibuku dan ia harus meraih impiannya di luar negeri. Aku belum sempat mengatakan padanya, lebih tepatnya aku tidak punya keberanian. Dan, untuk itu, aku berharap ia sedang mendengar cerita ini sekarang.”

“Apa maksudmu, kau masih berharap padanya? Apa kau bertemu dengannya lagi?”

Irene tersenyum. “Ya, hampir tepatnya 1 bulan lalu, aku bertemu dengan pria itu. Kini ia berprofesi sebagai dokter, seperti halnya mimpinya yang ia ceritakan padaku dulu. Kami dulu saling mengatakan akan langsung saling mengenali dan tetap menjadi teman seperti dulu satu sama lain. Tetapi, sekarang itu benar-benar berbeda.” Mata wanita itu hampir tidak sanggup menahan matanya yang berkaca-kaca.

“Ah, aku jadi merasa terharu. Hei! Mengapa suasananya menjadi melankolis seperti ini?” ucap sang penyiar mencoba kembali mengembalikan atmosfer ceria seperti sebelumnya.

Myung Soo yang masih dalam perjalanannya, merasakan perasaan berkecamuk. Ia tidak percaya dengan apa yang Irene katakan dalam siaran itu. Apakah ia benar-benar Bae Joo Hyun yang ia kenal?

“Jika kau diberi kesempatan untuk mengatakan semua hal sesuai keinginanmu padanya sebelum kembali ke London, apa yang akan kau katakan?” tanya sang penyiar, lagi.

“Aku ingin mengatakan ‘Aku mencintaimu, Tuan Kim.’” ucap Irene yakin.

Myung Soo yang mendengarnya terhenyak. Ia bahkan hampir tidak fokus dengan kemudinya.

.

“Apakah yang kau katakan itu benar? Apa kau benar-benar Bae Joo Hyun yang aku kenal?”

.

.

.

.

Hari dimana Irene meninggalkan Korea datang. Kini, ia sudah dalam perjalanan menuju bandara Incheon bersama Jong Hyun. Selama perjalanan Irene tampak merenung dan terdiam.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jong Hyun mencoba memastikan keadaan Irene.

“Ya.” Jawab Irene singkat. Tangannya tergerak menekan tombol untuk mengjidupkan radio.

“Apa mungkin kau ragu?” tanya Jong Hyun. Irene menoleh ke arahnya, tetapi tanpa menjawab pertanyaan pria itu.

Suara dari siaran radio membuat Irene mengalihkan pandangannya dari Jong Hyun.

“Saatnya ke surat berikutnya. Oh, dari Mr. Kim. Bagaimanakah ceritanya? Mari kita simak bersama.” Ujar sang penyiar.

.

“Sebenarnya aku tidak pandai menulis surat, apalagi untuk hal seperti ini. Aku hanya ingin mengatakan hal singkat pada seorang wanita yang ku cintai.

Dia teman lamaku.

Kemarin kami bertemu lagi. Ia tampak berubah, bahkan namanya pun berubah. Ia juga semakin cantik.

Ia hendak pergi sekarang, setelah beberapa waktu lalu ia mengatakan sesuatu yang ia tujukan padaku. Aku sedikit merasa kecewa, tetapi, aku selalu mendukungnya.

Sungguh, aku ingin bersamanya lagi bila memiliki sebuah kesempatan.

Untuk nona Bae Joo Hyun, aku mencintaimu. Aku akan menunggumu. – Tuan Kim”

.

Irene buru-buru mematikan radio begitu selesai mendengar salah satu surat kiriman pendengar. Ia tidak menyangka hal itu terjadi. Tanpa sadar, bulir air matanya lolos karena ia tak sanggup membendungnya.

.

.

Irene’s Home

“Ibu, apakah ibu pindah kemari?” tanya Myung Soo yang sedang makan bersama ibu. Mereka berdua mankan bersama tanpa Irene.

“Tidak. Beberapa hari lagi, ibu akan pulang ke Gwangju. Tapi, ibu akan sering ke mari.” Jawab ibu.

“Ibu, apa kau tahu? Irene, maksudku Joo Hyun, mengatakan sesuatu yang ia tujukan padaku. Tetapi mengapa ia tidak mengucapkan kata perpisahan. Aish, dia benar-benar membuat hatiku tidak dapat kukendalikan.” ujar Myung Soo sibuk dengan lauk makannya.

“Kau menyukai Joo Hyun?” tanya ibu, membuat Myung Soo terhenyak.

“Ya.”

.

.

Incheon.

“10 menit lagi, pesawat akan segera lepas landas. Kepada para penumpang, diharap segera mempersiapkan diri di dalam pesawat.” ujar resepsionis melalui speaker bandara.

Sementara, Irene dan Jong Hyun masih terduduk di kursi tunggu. Irene termenung.

“Irene-ah, apa yang kau pikirkan? Aku tidak tahu mengapa mengatakan hal ini, tetapi, pikirkan baik-baik. Lakukan jika kau benar-benar yakin. Jika kau ingin bertemu dengannya dan tidak sanggup melepasnya lagi, kembalilah padanya. Ia juga sedang menunggumu. Percayalah dengan hatimu.” Ujar Jong Hyun. Ia ingin Irene menuruti kata hatinya sendiri. Ia tahu Irene mencintai orang lain, dan ia menginginkan Irene bahagia bersama orang yang di cintai.

Irene bangkit dari duduknya dan berlari ke luar bandara. Ia memilih kembali. Ia merindukan Myung Soo.

Jong Hyun tersenyum, hatinya memang sakit. Namun, ia memilih dirinya yang sakit daripada orang lain. Ia memandangi wanita itu yang lama-kelamaan mulai hilang dari jangkauan pandangnya.

.

.

.

Myung Soo keluar dari gerbang rumah Irene. Ia hendak menutup pintu gerbang berwarna cokelat kayu itu.

“Myung Soo-ya!” panggil seseorang dari belakangnya. Ia mengenalinya.

“Irene.” Ucapnya sembari berbalik menghadap asal suara.

“Aku Bae Joo Hyun.” Ujar Irene. Tersenyum.

Keduanya saling melempar senyum. Irene mendekat ke arah Myung Soo, lalu memeluk pria di depannya itu dan disambut hangat olehnya.

“Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. Myung Soo-ya.” Ucap Irene.

“Bae Joo Hyun. Aku juga. Sangat merindukanmu dan juga, aku mencintaimu.”

.

.

“Sejak kembali bertemu denganmu, aku selalu berharap mendapat sebuah keberanian untuk berlari memelukmu dan mengatakan ‘aku merindukanmu’, ‘aku mencintaimu’. Tetapi aku tak kunjung menemukan keberanian itu.

Sekarang, aku yakin, aku dapat melakukannya. Dan benar, hatiku benar.

‘Aku merindukanmu’ dan ‘Aku mencintaimu’. Temanku, mari kita memulai dari awal, menjadi lebih dari teman.”

.

.

.

END

AXyrus.

Epilogue will update soon.

Advertisements

5 thoughts on “[Two Shoot] Long Time No See (2nd)

    • 🙂 iya, soalnya kalau dibikin sad ending takutnya nganu/?
      Padahal kan sebenernya myung soo udah sama author/XD 😀
      Btw, terima kasih sudah membaca^^

      Like

  1. ya ampun kak bener-bener haru aku bacanya hehehe ahh iya kak kapan nih lanjutannya epilogue? aku tunggu ne secepatnya ^^ good night sister 🙂

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s