[Twoshot] JUNE-1st shot

JUNE5

JUNE

by. Darkchanie

Park Chanyeol and Sulli

Romance/Angst

Twoshot

PG

.

Ini adalah Juni yang sempurna untuk mengingatmu. Atau pada musim hujan yang kian menjadi. Atau pada kelebat tirai yang tidak sudi bersikap patuh pada kesan angin yang selalu mengejeknya .

Lalu menjatuhkan perasaan sepi ini begitu saja pada sepotong kertas putih, yang kulipat menjadi segitiga dan kupandangi lagi untuk kesekian kali.  Dia tetap kertas meski menjadi bentuk segitiga.

Sayangnya aku belum menuangkan apapun di dalamnya.

Aku mungkin akan bersikap sama, jika pada suatu pertemuan yang pernah menjadi kisah yang indah, kini harus berangsur sunyi. Aku sungguh menikmati senja ini, meski hujan sudah begitu deras membasahi bumi.

Katakan aku kurang menyukai hujan. Jika aku berlama-lama menikmati waktu, aku lebih memilih untuk diam di tempat yang sejuk, nyaris tanpa kebisingan. Senja dan kesejukan, tanpa hujan itu lebih baik.

Berikut aku ceritakan sesuatu yang belum sempat kutuangkan dalam kertas yang kulipat menjadi segitiga tadi.

Chanyeol. Aku merasa dia sudah tidak mungkin setia padaku.

Kenapa aku mengatakan begitu. Entahlah. Aku hanya merasakannya saja. Biasanya ikatan batin akan terjalin jika diantara dua manusia sedang dijangkiti virus cupid yang kronis. Akupun demikian.

Aku sedang mencintainya. Cinta yang kemungkinan akan semakin bertumbuh seiring kebersamaan yang tercipta diantara kita. Aku dan dia, Chanyeol.

Namun sepertinya Chanyeol akan semakin jarang untuk bersamaku, kebersamaan ini mungkin hanya akan menjadi kisah yang samar-samar. Ada sesuatu diantara kita.

Ya, sesuatu.

Aku masih belum bisa memastikannya.

Apakah aku akan begitu saja menerima kenyataan bahwa dia akan semakin menjauh dariku. Aku masih mencintainya…

.

.

.

.

Flashback

.

Sulli berlari di sepanjang trotoar demi mengalahkan waktu. Saat ini hampir jam delapan, gerbang sekolah sebentar lagi tertutup. Dia harus lebih cepat berlari.

Seandainya dia mempunyai kemampuan menghentikan waktu.

“Tolong ajussi, hanya satu menit saya terlambat !”  Sulli merengek di depan gerbang. Seorang ajussi dengan seragam coklat hitam terlihat berpikir. Dia meoleh ke arah gedung bertingkat tiga di belakangnya. Ada jam besar di menara gedung utama. Jam delapan lebih lima menit .

“Aku mengenalmu, Sulli !” ujarnya

“Tolonglah Ajussi !”

“Hhh….!”  ajussi itu menghela nafasnya tak berdaya. Dia tidak tega dengan keringat yang menetes di sekujur murid yang setiap hari selalu datang terlambat ini.

Dibuka gerbang itu tanpa menimbulkan suara.

“Kuharap besok kau jangan merepotkan aku lagi. ” Ujarnya. Namun Sulli segera melesat secepat angin menuju ke gedung utama sekolah menengah atas yang tinggal setengah tahun ini akan dilewatinya.

Koridor yang seakan panjang. Juga suara langkahnya yang dicoba untuk diredamnya. Ini seperti mengendap-endap. Sulli berjalan ke arah kelasnya yang berada di lantai tiga. Semoga saja, dia tidak mendapatkan teguran hebat lagi dari gurunya.

Sulli berdiri tepat di depan pintunya. Dia mengintip ke dalam melewati kaca kecil berbentuk persegi di dekat handle pintunya. Dia tidak melihat guru di dalam kelasnya . Apakah kebetulan atau keberuntungan.

Gadis itu tersenyum.

“Kau mencari siapa ?”  tanya sebuah suara di belakangnya. Pundaknya sempat di tepuk oleh lintingan kertas. Dia menoleh, dan langsung terjengkang ke belakang untuk mengimbagi berdirinya yang tak seimbang

Seorang namja menatapnya sambil menggelengkan kepala.

“Kau terlambat lagi ?” tanyanya.

Sulli mengangguk dengan senyuman pahit. Dia tidak menyangka akan dipergoki oleh gurunya seperti ini.Apalagi oleh gurunya yang tampan yang selalu dipujanya belakangan ini.

“Maaf,  Pak !”  wajah ditekuk dengan tubuh lesu.

“Kau berdiri di sini hingga jam pelajaranku selesai.”  ujarnya mendikte. Terdengar kejam, tapi sangat sebanding dengan keterlambatannya yang kronis.

O My God !  Sulli menepuk keningnya lirih. Padahal dia sudah berjuang keras untuk tiba lebih awal.

Baiklah, tidak apa-apa. Asalkan guru tampan itu yang menyuruhnya.

.

.

.

Menunggu hingga waktu berjalan hampir satu jam. Suli merasa lelah, terlebih dikakinya terdapat luka goresan akibat terjatuh di tikungan jalan dekat dengan toko alat-alat sekolah yang masih belum terlihat sibuk.

Sebuah tepukan menyapa pundaknya. Sulli menoleh dan mendapati wajah guru tampannya menyeruak dengan sangar.

“Aku menyuruhmu berdiri, kenapa kau jongkok ?”

Sulli langsung berdiri.

“Maaf, Pak!”

“Apa hanya itu yang bisa kau katakan ?”

“Pak, saya capek. Tadi saya berlari dari rumah hingga sampai ke sini.”

“Siapa yang menyuruhmu berlari ?”  Matanya sibuk dengan kegugupan Sulli.

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa kau berlari?”

“Saya berusaha untuk datang lebih cepat.”

“Maksudku kenapa kau tidak naik kendaraan ?”

“Saya tidak punya.”

Guru tampan itu mendengus. Dia melihat sesuatu di kaki Sulli. Ada luka bekas jatuh yang sedang berusaha ditutup-tutupi gadis itu. Ada rasa iba yag membayang di wajahnya.

“Ikut aku !”

Sulli tidak mengerti kenapa dia harus mengikuti gurunya berjalan. Sesekali guru tampannya itu menoleh untuk memastikan Sulli mengikutinya.

Sulli merasa sedikit resah, karena pelajaran selanjutnya akan segera dimulai.

“Kita akan ke mana ,Pak ?”

“Ke ruang kesehatan.”

“Untuk apa ?”

“Aku tidak tahu.”

Sulli tersenyum. dia suka teka-teki. Apalagi jika melakukannya dengan guru tampannya. Ya. Nama guru laki-laki itu, Park Chanyeol. Dan dia ibarat dewa matahari dalam hidupnya. Menerangi hari-harinya.

Dalam dunianya, tentu saja tidak ada malam, karena bersama Park Chanyeol di sisinya, Sulli merasa selalu ada matahari yang selalu menghangatkannya. Namun terkadang, Sullipun merasa terbakar, lalu hangus .’

Hhh…

“Kau berbaringlah di atas kasur.” ujarnya memberi peintah. Tangannya menunjuk pada ranjang di sebelah kanannya dekat dngan lemari berisi obat-obatan dan alat kesehatan.

“Baik, Pak !”  Sulli menurut. Dia hanya memperhatikan guru tampannya itu dengan jantung berdebar. Saat ini mereka berada di ruangan tertutup, hanya berdua.

Aigoo…wajah Sulli mungkin memerah. Namun dia menunduk, sehingga ketika Chanyeol datang bersama kotak obat, dia tidak melihat raut wajahnya yang aneh.

“Luruskan kakimu !” perintahnya lagi tanpa menatap Sulli.

“Baik,Pak!”

Tidak pernah dbayangkan sebelumnya bahwa hari ini kakinya yang berharga itu akan mendapat sentuhan lembut dari kedua tangan Chanyeol. Dia merasa sekujur tubuhnya membeku. Dalam perasaannya seperti ada sebuah alunan lagu yang indah yang membuatnya selalu tersenyum.

“Apakah sakit ?”  tanyanya.  Namun Sulli masih terjebak dalam imaginasinya yang konyol.

Ctak

Sentilan tangan di keningnya membuatnya terjaga. Mendadak Sulli terkesiap. Dia menampilkan wajah bodoh di hadapan gurunya.

“Apa ?”

“Apakah sakit ?” ujarnya megulang pertanyaan.

“Sedikit.”  Sulli menjawab malu.

“Sudah. Kau tidak harus berlari unthk sampai ke sekolah. Jika kau berangkat lebih pagi, maka kau bisa sampai tanpa harus terlambat, Sulli.”  Chanyeol merapikan kembali obat-obatan itu ke dalam boxnya.

“Saya bekerja dulu mengantar susu. Saya suda berusaha secepat mungkin untuk menyelesaikannya supaya saya bisa berangkat ke sekolah, Pak.”

Chanyeol tergugu di depan Sulli. Dia tidak bisa mengatakan apa.apa. Dia hanya merasa Sulli adalah gadis yang sungguh mandiri.

“Hari ini kau tidak mengikuti ulangan. Aku akan memberikannya nanti sepulang sekolah. “

Mereka saling menatap untuk beberapa saat lamanya tanpa satu katapun. Chanyeol menghela nafasnya . Sejenak dia menghilang bersama tatapan Sulli yang cukup mengguncang nurani lelakinya. Kalau saja Sulli bisa mendengar jantungnya bertambur aneh. Laki-laki itu kemudian berpaling.

“Aku harus kembali mengajar. “

Chanyeol beranjak dari hadapan Sulli. Gadis itu menunduk dengan mata nanar menghantam lantai. Dia merasakan Chanyeol telah mengambil seluruh energynya.

“Jangan lupa nanti siang. Aku menunggumu di kantorku.”

Sulli menoleh dan melihat punggung guru tampannya itu menghilang di balik pintu.

.

.

.

Tepat jam tiga sore, Sulli sudah merapikan seluruh bukunya ke dalam tas. Dia berdiri dan menoleh ke sekelilingnya. Seluruh temannya sudah sebagian menghilang dari kelas.

Sore ini, langit terlihat redup. Ada sedikit mendung di atas sana. Namun gadis berwajah cantik itu belum bisa memastikan apakah hujan akan segera hadir, untuk menemani aktivitas sorenya bersama Chanyeol.

Maksudnya untuk mengikuti ulangan susulan.

Kakinya berjalan ragu menuju kantor guru di ujung lorong dekat dengan tangga. Apa yang akan dikatakan guru lainnya jika melihat situasi ini. Sulli mengintip ke dalam, melihat ke dalam ruangan yang masih dipenuhi para guru yang sedang bersenda gurau.

“Apa yang kau lakukan di sini ?”  suara itu…. Sulli menoleh. Dan senyumnya menjalar mengangkat tulang pipinya.

“Saya mencari Anda!”  jawab Sulli pada guru tampannya itu.

“Masuklah !”  Chanyeol memasuki ruangan.

Sulli mengekorinya hingga tiba di sudut ruangan. Mejanya terlihat berantakan. Ada begitu banyak tumpukan kertas yang belum dirapikannya, juga buku-buku yang tergeletak di sana-sini.

“Duduklah di situ!”  ujarnya sambil merapikan mejanya.

“Apakah saya merepotkan ?”  tanya Sulli canggung

“Hh, ya!  kau sangat merepotkan sekali.”  Gadis itu menekuk wajahnya.

“Lain kali aku tidak akan memberikan ulangan susulan jika kau masih terlambat datang ke sekolah.”

“Baik, Pak!  Saya akan berusaha.”

“Ini, kau hanya mempunyai waktu setengah jam.”  Chanyeol menyerahkan kertas di hadapan Sulli. Soal matematika itu sedikit membuatnya pening. Gadis itu tidak yakin akan menjawab semua soal itu dengan benar.

“Kalau kau sudah selesai, taruh saja di situ. Aku mau ke toilet dulu !’  ujarnya sambil berlalu. Sulli meliriknya sebentar. Guru tampan itu melewatinya juga melewati seorang guru wanita yang sejak tadi memperhatikannya. Song Areum. Guru yang mengajar Science di kelas 10. Chanyeol menyapanya dengan menyentuh lembut  bahunya. Apakah dia memiliki hubungan khusus dengan Nona Song.

Sulli menunduk. Sepertinya dia malas untuk menjawab semua soal matematika di hadapannya. Ada sesuatu yang tidak jelas di dalam hatinya. Cemburu?  Sakit hati ?

Semua karena tepukan tangan Chanyeol pada bahu Nona Song. Ya, pasti karena hal itu.

.

.

.

Gerimis sedang meluncur ke arah bumi. Dia siap menemani Sulli yang tengah bercengkrama dengan emosi guru tampannya.

Chanyeol sedang menghadapi murid bermasalahnya yang selama ini dibelanya setengah mati.

Kenapa ?

Matanya sedikit memerah karena menahan emosi. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Sulli tidak melakukan apa yang diperintahkannya padanya.

“Kenapa ?”  suara guru tampan itu teredam dalam suara yang dalam. Sulli menghela nafasnya. Dia sungguh menjadi muak karena perkataan itu. Tapi kenapa?

Kemarin sore Sulli melihat guru tampannya itu menggandeng Nona Song sepulang sekolah. Apakah hatinya menjadi hancur karena pemandangan tak mengenakkan itu. Sulli pun ingin bertanya ‘kenapa’ pada laki-laki di hadapannya. Namun tentu saja itu diluar jangkauannya. Apalah artinya seorang Sulli.

“Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa padamu, Sulli !”  Chanyeol menggeram kesal.

“Anda tidak harus melakukan apa-apa, Pak !”

Damn you !”  Chanyeol menutup mulutnya. Dia menggeram sambil menoleh ke kanan kirinya. Tidak ada siapapun di atas atap ini selain mereka.

Sulli menggigit bibirnya dengan air mata tertahan. Dia tidak menyangka Chanyeol akan mengatakan kalimat aneh seperti itu. Apakah laki-laki ini sangat membencinya saat ini.

“Aku sudah memberimu kesempatan untuk mengikuti ulangan susulan, berharap kau bisa mendongkrak nilamu yang buruk karena kau sering terlambat dan jarang masuk. Tapi kenapa kau justru menyia-nyiakannya.”

“Saya tidak bisa mengerjakannya.”  Sulli bukannya tidak bisa, Dia sudah terlanjur merasa sakit hati. Namun seharusnya dia tidak melakukan hal yang bisa membuatnya rugi.

“Aku tidak bisa menerima alasanmu!”  Balas Chanyeol.

“Maafkan saya Pak!”

“Aku tidak tahu kenapa kau harus minta maaf padaku. “

Sulli semakin tenggelam dalam penyesalan. Bagaimana Sulli bisa menghadapi Chanyeol di masa nanti.

Laki-laki itu meninggalkan Sulli berdiri dalam kebisuan. Bisu yang mencekam hingga menggigit-gigit perasaannya yang hancur.

Dia telah melukai hati Chanyeol dengan membuat hati namja tampannya itu kecewa. Sulli sudah merusak kepercayaan yang telah diberikan Chanyeol padanya. Menagispun tak berguna.

.

.

.

Chanyeol sedang duduk di pinggir jendela, sambil melihat ke arah luar. Halaman sekolah yang luas dengan sekelumit pepohonan rindang yang menghias sekitarnya Siang ini guru tampan itu merenung dengan berbagai macam pikiran d kepalanya.

Sulli sudah tiga hari tidak masuk. Dia membolos tanpa keterangan. Bahkan di masa-masa ujian terakhir seperti ini gadis itu masih saja bisa bersikap seenaknya.

Chanyeol tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Namun pihak sekolah menyarankan agar Sulli segera diberi peringatan keras. Masa depan Sulli tidak hanya bergantung pada kebijaksanaan sekolah saja, melainkan pada kesadaran gadis itu sendiri untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Langkah kaki Chanyeol sedang ragu menyusuri jalan setapak menanjak di sebuah perkampungan kumuh di sebelah utara district Eunpyong . Namja dengan rambut ikal kecoklatan itu hanya merasa tidak yakin dengan semua yang dilakukannya. Apakah benar Sulli tinggal di daerah ini, dan apakah benar jika dia datang menghampiri gadis yang telah di marahinya itu beberapa hari yang lalu.

Di kejauhan dia sudah melihat Sulli sedang membantu seorang ajussi mendorong gerobak dengan susah payah. Gadis itu terlihat tangguh dan ceria melakukan kegiatannya. Entahlah siapa Ajusi itu, apakah dia Ayahnya?  Chanyeol berjalan semakin dekat ke arah mereka.

Wajah Sulli berkeringat. Dia terlihat lusuh dengn jaket belel, dan boot yang usang. Kaos tangannya pun terlihat begitu kotor. Apalagi rambut yang tertutup topi jaketnya. Dia terlihat berantakan.

“Sulli !”  panggil Chanyeol kemudian.

Dia memberanikan dirinya untuk menyapa gadis itu lebih dulu. Sulli menoleh.Namun senyumannya hilang lenyab di telan hawa dingin sisa hujan beberapa saat lalu. Gadis itu menatap kehadiran Chanyeol dengan perasaan berdebar.

“Pak Chanyeol!”  balasnya lirih.

“Kau tahu kenapa aku datang mencarimu ?”

Sulli hanya mengangguk.

Secangkir teh diletakkan Sulli dengan hati-hati di hadapan guru tampannya yang sudah berbaik hati mengunjunginya.

“Kau tinggal di sini ?”  Tentu bukan hal yang wajar untuk seorang gadis seperti Sulli tinggal di sebuah tempat yang sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai rumah. Ini hanya berupa gubuk dengan penghangat sederhana yang terbuat dari logam realing yang biasa di pakai untuk knalpot kendaraan.

“Saya tinggal bersama Eomma saya.”  jawab Sulli

“Ow begitukah ? Di mana dia? Aku ingin bicara dengannya.”

Sulli menunjuk sebuah guci tempat penyimpanan abu di sebuah lemari kecil.

“Di sana. “

Chanyeol tercekat dalam kebisuan. Dia memegangi dadanya yang mukai terasa sesak. Ibakah dia pada gadis d hadapannya ini.

“Apa ada yang ingin dibicarakan? Apakah mengenai sekolah?”  tanya Sulli sambil menyeka wajahnya dengan air hangat.

“Apakah kau tidak ingin kembali ke sekolah ? Sebentar lagi ujian akhir nasional. Kau bisa tiak lulus jika ketinggalan pelajaran. “

Sulli menunduk. Dia sebenarnya ingin bersekolah lagi, namum sepertinya waktunya habis untuk bekerja. Dia harus makan dan memenuhi kebutuhannya.

Nunna !”  seorang bocah namja kecil menyeruak masuk. Dia berusia sekitar enam tahun. Wajahnya sembab sepertinya habis menangis. Tubuhnya langsung dijatuhkan dalam pelukan Sulli.

“Ada apa, Kyungmin-ah ?”  Sulli megusap wajah bocah itu dengan tangannya.

“Jung ahjuma nakal. Dia memukulku karena aku tidak membantunya di toko buah.” ujarnya dengan wajah muram.

“Kyungmin-ah, beri salam pada paman!”  perintah Sulli kemudian.

Kyungmin menatap Chanyeol bingung.

Nunna, apakah dia pacarmu ?”   mulut Kyungmin langsung dibungkam Sulli seketika.

“Maaf, Pak !”  ujar Sulli kemudian.

Chanyeol tersenyum sekilas. Namun cukup membuat Sulli terpesona.

“Tidak apa-apa. Apakah dia adikmu ?”

Sulli mengangguk.

“Sebenarnya dia dititipkan pada Bibi saya, namun Kyungmin sering mengeluh dipukuli oleh bibi saya, jadi dia sering mendatangi saya seperti ini. “

“Apakah rumah bibimu jauh ?”

“Tidak. Rumahnya terlihat dari sini. Itu yang temboknya berwarna biru. ” tunjuk Sulli dengan jarinya ke arah luar. Rumah yang dia tunjuk merupakan rumah yang bentuknya lebih baik dari rumah-rumah di sekitar sini. Dia terlihat mencolok karena catnya berwarna biru tua diantara rumah-rumah lusuh berwarna abu-abu dan putih kusam.

“Sulli, aku tahu kau memang sibuk. Kau harus bekerja dan mengurus adikmu juga. Tapi tidak bisakah kau memikirkan sekolahmu ?  Kau harus bisa lulus dengan nilai yang paing tidak bisa membawamu ke arah yang lebih baik.”  ujar Chanyeol memberikan nasehat.

Sulli malu mendengar hal iu. Dia merasa dirinya memang sulit untuk menerima pendidikan formal ditengah-tengah kesibukkannya.

“Pak Chanyeol.”

“Panggil aku Oppa. Kita tidak sedang berada di sekolah.”

Sulli mendelik.

Benarkah ?

Dia sedikit tidak mempercayai perkataan Chanyeol padanya, begitupun dengan namja itu. Dia mungkin keceplosan. Namun terlambat untuk meralatnya.

“Saya akan mengusahakan untuk ke sekolah besok. Mungkin beberapa hari kemarin saya terlau sibuk karena ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan. Upahnya lumayan, Pak. Cukup untuk hidup selama dua minggu.”  jawab Sulli dengan sebuah senyuman.

Namun Chanyeol merasa terpukul sekali mendengarnya.

Dia berjalan lirih meninggalkan rumah Sulli yang pengap. Berbeda sekali dengan rumahnya yang mewah lengkap dengan segala fasilitas modern. Dia tidak perlu takut rumahnya akan bocor ketika hujan turun. Atau ambruk ketika hujan salju memenuhi atapnya.

Chanyeol berhenti sejenak untuk kembali menoleh pada keadaan Sulli, namun gadis itu sudah tertawa riang bersama Kyungmin tanpa beban di halaman rumahnya yang sempit penuh dengan tumpukkan kerdus dan barang bekas.

Bulan ini adalah bulan Juni di pertengahan.

.

.

.

Seperti yang sudah Sulli janjikan, hari ini gadis itu muncul di sekolah. Diapun tidak terlambat. Dan penampilannya sungguh rapi. Dia terlihat segar dan cantik dengan rambut terurai hingga melewati bahunya.

Chanyeol tersenyum melihat kehadirannya.

“Selamat pagi, Pak !”  sapa Sulli sambil lalu. Dia melewati guru tampannya itu dengan senyuman indahnya.

“Selamat pagi Sulli !”  balas Chanyeol ceria.

“Hari ini akan diadakan quis lagi. Aku harap kau sudah siap.”  ujar Chanyeol mengingatkan.

Sulli hanya menghela nafas sambil megangkat bahunya. Artinya dia tidak terlalu terbebani dengan ujian ataupun ulangan. Dia cukup senang bisa melihat guru tampannya itu tersenyum untuknya hari ini.

Lalu kejadian itu terjadi,……

Sepulang sekoah, Sulli melihat kecelakaan itu. Mobil yang sedang dikendarai Chanyeol di tabrak oleh sebuah truck container berukuran besar di jalan yang mengarah pada jalan bebas hambatan yang sedang ramai.

Sulli tidak bisa menerjemahkan rasa terkejut dan ketakutannya. Dia melihat sendiri Chanyeol terkulai lemah dengan kepala penuh darah di dalam mobilnya. Semua kaca mobilnya hancur, dan lumuran darah menetes deras pada gagang setirnya.

Bebrapa kali Sulli berteriak namun sepertinya tidak akan terlalu berarti. Suaranya tertelan oleh kebisingan ambulance yang akhirnya membawanya oergi.

Saat tu Chanyeol terbaring coma hampir satu minggu. Kondisinya kritis. Dia mengalami pendarahan hebat di otaknya. Berikut tulang rusuknya patah hingga melukai paru-parunya. Kondisinya sungguh mengenaskan.

Chanyeol nyaris tidak terselamatkan. Namun apa bedanya jika sekarang dia masih dalam kondisi coma. Seluruh hidupnya kini bergatung pada mesin, dan alat pacu jantung.

Sulli mengintip ke dalam ruang perawatan yang tertutup. Dia melihat Nona Song duduk di sisi Chanyeol dengan wajah sedihnya. Wanita itu sedang merasakan hal yang sama seperti yang Sulli rasakan. Namu bedanya, Nona Song bisa berada dekat dengan Chanyeol , bisa menyentuhnya, bahkan menemani tidurnya setiap malam di dalam sana, sedangkan Sulli hanya bisa menangis diam-diam di sudut yang sepi atau di tangga darurat gedung rumah sakit berlantai lima ini tanpa seorangpun tahu kenapa dia menangis.

.

.bersambung

 

Advertisements

8 thoughts on “[Twoshot] JUNE-1st shot

  1. Mian Mei , Ci lagi capek, maklum weekend, pengennya tidur seharian. Agh, ternyata nyesek banget ya ceritanya. T.T gimana ini, apa Sullinya akan selalu tegar apa bakalan jadi cengeng. Aduh Mei, Xi ga suka kalau peran ceweknya cengeng. Pengennya selalu tegar dan tangguh kayak Ci Lan. /gubrakh/
    Ya udah lah, segini aja. Bagus kok, bener kata Jeng Lay, udah bagus. Malah lebih rapi dari Ci nuilisnya.

    Liked by 1 person

  2. this fict is just.. TTT
    kalau berada di pihak Sulli, rasanya pasti nyes ya karena dia cuma bisa mencintai Chanyeol dalam diam.
    aku suka banget cara kamu nulis cerita ini.kata-katanya sederhana dan enggak begitu sulit untuk dimengerti.
    Dan nilai plus buat fict ini karena ini ChanLli xD Aku ChanLli shipper soalnya xD
    Ditunggu fict selanjutnya! ^^

    Liked by 1 person

    • Makasih banyak sudah membaca ff Via. Maafkan kalau emang bikin nyesek. Aq juga pas baca lagi sambil ngedit kok ikut nyesek. Aq sebenernya ga shipperin siapa-siapa. Hahha..iya multishipper, siapa aja yang lagi sreg aja. Tapi emang Chanli serasi banget . Sulli itu cantik, imut, lucu. Chanyeolnya ampun deh..ga bisa ngejelasin..dibilang tampan, kerena..lebih dari itu. Dia itu ..dewa deh! Aq mungkin akan update lagi dua hari ke depan. Mudah-mudahan ga ada halangan. Skali lagi makasih ya.

      Like

  3. haloo dear… aduh panggilannya p nih?
    kenalin ya, q laykim si owner yg jarang nongol krn sok sibuk *abaikan
    Aku suka deskripsimu. Tpi ada penggunaan kata yg blm tepat. Sorry klo review dkit.
    Ceritanya bgus, apalagi castnya. Q suka ada Sulli.
    Oh ya, kamu adeknya jeng Lana ya?

    Liked by 1 person

    • Makasih udah direview, iya, aku Via, Kak. Adeknya Ci Lan. Aq juga manggil apa ya, mbak apa jeng kayak Cici… Kehormatan udah direview nih! Biasanya kalo mau dipublish suka dibaca dulu sama Ci Lan, tapi dia lagi males. Hehe . Capek katanya, jadinya ya udahlah aq publish aja. Beneran Kak udah bagus. Hehe…jd semanget deh! Makasih ya…

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s