Please Stay With Me [Chapter 2]

please-stay-with-me-3

 

|| Title: Please Stay With Me || Author: Phiyun || Genre: Romance | Sad | Hurt | Angst | Family | Sogfic || Cast: Park Jiyeon | Kim Jongin a.k.a Kai | Krystal || Thema song : Song Jieun – Don’t Look At Me

 

Poster Credit: Kryzelnut @ Art Zone  (Thank’s ^^)

 

Privew: Chapter 1 ||

 

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

 

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Tak bisakah kita bersama?

~~~ooo~~~

~Pov Jongin~

Kakiku seketika lemas saat masuk ke dalam rumah gadis yang aku cintai sudah kosong. Kedua mataku menatap kesetiap sudut bilik-bilik ruangan yang ada di dalam rumah tersebut namun tak ada satu pun tanda keberadaan orang satu pun di sana. Aku berusaha mencari suatu pesan yang dia tinggalkan untukku, namun tak ada satu pun secarik kertas yang dia tinggalkan di sini.

Aku semakin bingung dan putus asa. Aku tak ingin dia pergi dari dalam hidupku. Aku ingin dia tetap berada di sisiku. Aku ingin menghabiskan sisa hidup bersama dirinya karena aku yakin kalau dia adalah gadis yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk bersanding denganku begitu pun diriku sebaliknya.

~~~ooo~~~

Jongin pun kemudian melangkahkan kedua kakinya dengan langkah yang berat. Kedua matanya terlihat kosong. Saat Jongin sudah berdiri di depan pintu keluar rumah Jiyeon tampa sengaja dia melihat sekelebat kertas putih yang tertempel di hordeng yang tertiup angin yang tepat di sampingnya.

Dengan cepat kedua mata Jongin langsung menuju ke arah hordeng yang sedang tertiup angin itu. Setelah itu Jongin langsung mengambil secarik kertas yang tertempel di sana. Dia membaca tulisan di dalam secarik kertas itu dengan seksama.

Tak berapa lama kemudian wajah Jongin langsung berubah 180 derajat. Wajahnya sekarang terlihat senang bahkan dia menyematkan senyuman lebarnya sambil tetap kedua matanya membaca isi di dalam pesan tersebut.

“Jiyeon-ah… tunggulah aku sebentar di sana. Aku akan segera datang ke dalam pelukanmu. Saat itu terjadi aku tak akan melepaskanmu dari pelukanku. Aku berjanji kepadamu. Jadi tunggulah aku di sana Park Jiyeon-ah…” ucap Jongin sambil mengegam erat secarik kertas tersebut kemudian dia langsung pergi meninggalkan rumah ke diaman Jiyeon.

~~~ooo~~~

~1 jam kemudian~

“Tok…tok…tok…”

Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar rumah dan tak beberapa lama kemudian keluarlah seorang laki-laki paruh baya membuka pintu tersebut.

“Pak Lee apakah ada Jiyeon di sini?” tanya pemuda itu.

“Ya, Nona Jiyeon ada di dalam Tuan muda Jongin. Silakan masuk Tuan muda.” balas laki-laki tua itu sambil mempersilakankan Jongin masuk ke dalam kediamannya.

“Syukurlah dia ada di sini, terimakasih Pak Lee. Seandainya tak ada Pak Lee, aku tak tahu harus mencari Jiyeon kemana lagi. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak.” kata Jongin sambil membungkukan tubuhnya kepada laki-laki tua itu namun laki-laki tua itu langsung mengangkat tubuh Jongin untuk berdiri tegap.

“Tuan muda Jongin tak usah berkata seperti itu. Karena aku sudah mengangap Nona Jiyeon seperti anak kandungku sendiri. Mari saya antarkan tuan untuk bertemu dengan Nona Jiyeon.” tawarnya.

Ne… Kamsahamnida.

Lalu masuklah Jongin ke dalam rumah tersebut dan Jongin di bawa oleh laki-laki paruh baya itu menuju ruang tamu di sana dia melihat ada seorang yeoja sedang duduk tepat di depan perapian sambil menatap dengan tatapan kosong api yang ada di dalam tungku tersebut.

Tampa yeoja itu sadari kedua pelupuk matanya sudah basah dengan airmata. Dia mulai meneteskan airmata tubuhnya pun mulai bergetar karena dia berusaha menahan airmata yang dia bendung namun itu semua sia-sia karena semakin dia menahannya semakin deras tetesan air matanya yang jatuh dikedua pipinya tampa bisa dia hentikan.

Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk tubuhnya dari belakang dengan lembut. Yeoja itu sempat kaget dia pun langsung menghapus airmatanya namun itu percuma karena airmatanya tetap saja menetes begitu saja dari sudut kedua matanya.

“Jiyeon-ah… maafkan aku karena aku terlambat datang…” ucap Jongin dengan lembut di sebelah telinga Jiyeon.

Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya untuk bisa melihat siapa yang sudah memeluk dirinya barusan saja. Kedua matanya pun melebar karena kaget saat dia melihat sosok Jongin yang sudah ada di hadapannya.

“Jongin-ah… bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?” tanya Jiyeon dengan wajah yang tidak percaya.

“Sudahlah, kau tak usah bertanya darimana aku tahu kau ada di sini yang terpenting aku sudah ada di depanmu sekarang.” balas Jongin sambil memeluk Jiyeon kembali ke dalam dekapannya.

Gomawoyo, Jongin-ah… karena kau sudah mau datang ke sini untuk menemuiku.” ucap Jiyeon sambil mempererat pelukannya dari kekasihnya sambil menitikan air mata.

Melihat gadis yang dicintainya itu menangis di dalam pelukannya, hati Jongin semakin miris dan perih karena dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa  dan dia pun tak punya daya untuk bisa memutar waktu untuk memperbaiki semua yang sudah terjadi dalam kehidupan gadis yang amat dia cintai ini.

“Jiyeon-ah… jaganlah kau menangis lagi… aku akan selalu berada di sini di sisimu untuk selamanya. jadi kau jangan menagis lagi ya, Jiyeon-aah…” sambil kedua tangannya menghapus lembut airmata yang menetes di kedua pipi Jiyeon.

Jeongmal gomawoyo, Jongin-ah…” kata Jiyeon dengan kedua mata yang berkaca- kaca.

Saranghae, Jiyeon-ah…” ucap Jongin pelan sambil tersenyum lembut kepada Jiyeon.

Nado… nado saranghae, Jongin-ssi...” balas Jiyeon

Setelah mendengar ucapan Jiyeon dia pun lalu mengecup lembut atas kening gadis yang amat dia cintai ini dan kemudian dia memeluk Jiyeon ke dalam dekapannya.

~~~ooo~~~

“Jiyeon-ah… maukah kau menikah denganku?” kata Jongin sambil tetap memeluk Jiyeon.

Mendengar itu gadis itu langsung  melepaskan dirinya dari pelukan Jongin.

“Apa yang barusan kau katakan barusan padaku? Saat ini aku sedang tidak ingin bercanda denganmu.” tanya Jiyeon dengan wajah yang serius.

“Kata siapa aku sedang bercanda sekarang? Aku serius mengatakan itu padamu. Aku ingin kau menjadi penggantin wanitaku diatas pelaminan kelak.” sambil menggengam erat kedua tangan Jiyeon.

“Apakah itu serius???” kata Jiyeon lagi dengan wajah yang masih terlihat tak percaya.

“Ya… aku serius… aku tak pernah main-main dengan ucapan yang sudah aku katakan. Jadi apakah kau mau menikah denganku?” ucap Jongin sekali lagi kepada Jiyeon. Namun Jiyeon hanya diam membisu sambil menundukan wajahnya.

Tak berapa lama kemudian Jongin lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berwarna merah dari dalam saku jaketnya dan kemudian pria itu lalu berlutut di hadapan Jiyeon sambil memberikan dan membuka isi kotak kecil itu.

“Jiyeon-ah… Would you marry me??” kata Jongin sambil menatap lekat-lekat kedua mata lawan bicaranya ini.

Namun Jiyeon hanya diam membisu dan tak bergeming sedikit pun… tapi tak berapa lama kemudian Jiyeon menganguk-anggukkan kepalanya di hadapan Jongin. Melihat itu Jongin sangat senang dia pun langsung menyematkan cincin yang ada di dalam kotak kecil itu di jari manis Jiyeon.

Setelah cincin itu sudah melingkar di jari manisnya. Jiyeon tak kuasa menahan air matanya. Gadis itu akhirnya menangis namun kali ini bukanlah tangisan kesedihan namun ini adalah tangisan kebahagiaan.

~~~ooo~~~

“Jongin-ah… apakah kau tak menyesal sudah memilih diriku untuk berada di sisimu untuk selamanya?” kata Jiyeon dengan suara yang parau.

“Tentu aku tak akan pernah menyesal, tapi apakah kau menyesal karena sudah berada di sisiku?” tanya Jongin sambil menatap tajam ke arah lawan bicaranya.

A-aaniya… aku tak pernah terbesit sedikit pun pikiran seperti itu… aku malah sangat beruntung sudah menjadi orang yang sangat spesial di dalam hidupmu bahkan sebentar lagi aku akan menjadi pendamping dirimu untuk selamanya. Kau juga yang sudah membuat hidupku penuh warna.”

“Kau salah Jiyeon-ah, bukan aku yang membuat hidupmu penuh warna. Kaulah yang membuat hidupku penuh warna bahkan kau membuatku untuk tetap semangat menjalanin hidupku yang membosankan ini. Terimakasih kau sudah datang di dalam hidupku…” sambil menyunggingkan senyuman.

“Ta-tapi… Eomonim tidak setuju dengan hubugan kita?” ucap Jiyeon kembali.

“Memang benar Eomma belum bisa merestui hubungan kita tapi akan aku buktikan kalau ketulusan cinta kita berdua bisa meluluhkan hati beliau.”

“Ta-tapi… aku tak sanggup bila aku akan menyakiti hatinya bahkan membuatmu dibenci oleh Eomonim. Lebih baik kita akhiri saja di sini…” lirih Jiyeon sambil melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya kemudian Jiyeon mengembalikan cincin tersebut kepada Jongin.

“Apakah kau tahu apa yang paling membuatku sakit?” ucap Jongin sambil mengenggam kembali pergelangan tangan jiyeon yang akan meninggalkan dirinya.

“Lepaskan! Aku tak mau mendengarkannya lagi… sudah hentikan semua ini!”

“Tidak… aku tidak bisa berhenti sekarang! Apabila aku melepaskan gengaman tanganku saat ini mungkin tak ada waktu lagi untukku!” bentak Jongin

Seketika Jiyeon terdiam saat melihat ekspresi Jongin yang terlihat sangat serius terhadap dirinya… baru kali ini Jongin membentak dirinya.

“Apa maksud ucapanmu… apa maksud perkataanmu tadi? Memangnya kau mau kemana?“ tanya Jiyeon namun tak ada balasan dari Jongin. Dia malah melepaskan gengaman tangannya dari lengan milik Jiyeon dan kemudian dia berjalan mundur seperti  mencoba untuk menjauh darinya. Melihat itu Jiyeon semakin bingung dan penasaran apa yang sedang disembunyikan Jongin kepada dirinya.

“Kenapa sekarang kau menghindar dariku, Jongin-ah? Apa yang sedang kau sembunyikan dariku? Jawab aku?!” tanya Jiyeon lagi tapi Jongin tetap terdiam.

Melihat tingkah laku Jongin semakin aneh, Jiyeon pun mulai berjalan mendekatinya namun tiba –tiba Jongin mengerang kesakitan dibagian kepala sambil sebelah tangannya menyentuh keningnya.

Gwenchana??” tanya Jiyeon.

Nenan gwenchana.” balas Jongin dengan wajah yang pucat dan banyak peluh yang mengalir keluar dari tubuhnya.

Geojitmal… Tak mungkin kau baik-baik saja sekarang, lihat wajahmu terlihat sangat pucat. Mari aku antar kau beristirahat. Masalah ini biar nanti saja kita teruskan.” kata Jiyeon sambil tangannya merangkul lengan Jongin tapi pemuda itu langsung menepis tangan Jiyeon dengan kasar.

“Sudah aku bilang aku baik-baik saja. Kita harus menyelesaikan masalah ini saat ini juga. Kita sudah tidak punya waktu banyak lagi!!!”

“Kata siapa kita tidak punya waktu banyak lagi? Kita masih bisa membicarakannya esok hari harinya bahkan lusa.” tambah Jiyeon.

“Benar ucapanmu tapi hanya kau saja yang mempunyai waktu itu, bukan aku!”

“Apa maksudmu? Aku semakin tak mengerti maksud perkataanmu?”

Tiba-tiba keluarlah tetesan darah dari kedua hidung Jongin tampa dia sadari. Melihat itu Jiyeon langsung berlari kearah kekasihnya itu.

“Jongin-ah… ada apa denganmu?” tanya Jiyeon dengan wajah yang panik.

Pandangan Jongin pun tiba-tiba samar dan kedua kakinya terasa lemas tak selang beberapa lama jatuhlah tubuh Jongin tepat di hadapan Jiyeon. Jiyeon semakin panik, gadis itu mulai berteriak meminta bantuan dan beberapa saat kemudian datanglah Pak Lee supir pribadinya untuk membantu Jiyeon menggangkat tubuh Jongin ke dalam kamar untuk direbahkan di sana.

~~~ooo~~~

~1 jam kemudian~

Jiyeon dengan setianya duduk di samping Jongin yang sedang tak sadarkan diri. Sesekali Jiyeon menghapus keringat yang menetes di sela-sela rambut Jongin. Jiyeon tak pernah sedetik pun meninggalkan Jongin sendiri dia selalu berada di sisinya sambil menggengam erat tangan kekasih tercintanya.

“Jongin-ah… cepatlah kau siuman sayang… ada apa dengan dirimu sekarang? Kenapa kau terlihat seperti orang yang sedang sekarat Jongin-ah. Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan dariku?” ucap Jiyeon sambil mengangkat tangan Jongin dari genggamannya dan kemudian tangan Jongin ditempelkannya di sebelah pipinya sambil meneteskan airmata.

Tak berapa lama kemudian Jongin pun siuman, melihat itu Jiyeon sangat senang dan ia langsung memeluk Jongin yang baru saja membuka kedua matanya.

“Syukurlah kau sudah siuman Jongin-Ah… Aku takut kalau kau tak akan bangun lagi… maafkan aku sudah berkata kasar padamu saat tadi…” kata Jiyeon dengan suara yang bergetar.

“Jiyeon-ah… kau tak perlu berkata seperti itu, kau sama sekali tidak salah. Kau juga tak usah meminta maaf padaku adanya aku yang minta maaf padamu karena aku sudah membuatmu mengkhawatirkan aku.” balas Jongin sambil membelai rambut Jiyeon dengan lembut.

Sesaat kemudian Jiyeon melepaskan pelukannya dari tubuh Jongin lalu dia mulai bertanya beberapa pertanya yang sama pada waktu itu kepada Jongin.

“Jongin-ah… apa yang kau sembunyikan dariku? Apakah kau sakit? Kalau kau sakit apa sakitmu? Kenapa tadi hidungmu mengeluarkan darah? Apakah kau tahu betapa takutnya diriku saat kau jatuh tak sadarkan diri dihadapanku?” seru Jiyeon dengan bibir yang bergetar karena dia berusaha menahan airmatanya.

Nan Gwenchana… aku hanya sedikit lelah saja… maaf membuatmu menjadi khawatir.” balas Jongin sambil menghapus tetesan airmata Jiyeon yang mengalir di kedua pipinya.

“Benarkah kau baik-baik saja?” tanya Jiyeon lagi.

“Heemmm…. aku baik-baik saja.” tambah Jongin sambil mengangukkan kepala sambil menyungingkan senyuman manisnya pada Jiyeon.

“Jiyeon-aah mari kita menikah esok pagi?”

Mendengar itu betapa kagetnya Jiyeon kedua matanya pun membulat lebar menandakan kalau dia begitu terkejut.

“A-apakah kau serius???”

“Iya… aku serius. Aku ingin secepatnya menyunting dirimu menjadi istriku. Apakah kau bersedia?”

“Ta-tapi bagaimana dengan Eomonim? Dia sama sekali tidak menyetujui hubungan kita?”

“Masalah itu biarkan saja nanti kita fikirkan sekarang ini yang terpenting aku bisa bersama dengan dirimu dan aku akan melindungimu dengan segenap jiwaku. Jadi apakah kau bersedia untuk hidup bersamaku dikala suka dan duka?” kata Jongin sambil menantap dalam kedua mata Jiyeon dengan kedua matanya yang tajam.

Jiyeon pun tak dapat mengucapkan kata – kata lagi dia hanya bisa tersenyum sambil memberi isyarat setuju kepada Jongin dengan anggukan kepalanya.

OoO

Don’t look at me like that

We’re just in love, that’s all

OoO

~Esok paginya~

“Tok..tok..tok…” terdengar suara ketukan Pintu dari arah luar sebuah kamar.

“Nona… apakah anda sudah siap?” tanya seseorang dari luar pintu.

Tak berapa lama kemudian keluarlah seorang yeoja dari dalam kamar tersebut dengan mengenakan pakaian gaun putih yang sederhana namun terlihat sangat anggun saat dia mengenakannya.

“Saya sudah siap Pak Lee.” balas Jiyeon sambil tersenyum manis didepan laki-laki paruh baya itu yang sudah dia anggap sebaigai pengganti kedua orang tuanya.

“Apakah anda Nona Jiyeon?” tanya laki-laki paru baya itu dengan pandangan yang takjub.

Ne… ini aku Park Jiyeon… Apakah aku terlihat buruk menggunakan pakaian ini? Lebih baik aku mengganti pakaianku.”

Saat Jiyeon hendak masuk ke dalam kamarnya lagi, laki-laki itu menahan Jiyeon dengan menarik lengan Jiyeon.

“Nona tak usah mengganti pakaian, Anda terlihat sangan cantik. Saya sampai pangling melihat anda, Nona.” kata laki-laki paru baya itu.

“Pak Lee bisa saja memuji aku tak secanti itu.” balas Jiyeon dengan wajah yang merona merah.

“Aku serius Nona, anda terlihat seperti bidadari yang turun dari langit. Seandainya kedua orang tua Nona melihat anda sekarang mungkin mereka berdua akan mengatakan hal yang sama seperti diriku.”

Tiba-tiba wajah Jiyeon berubah menjadi muram. Laki-laki tua itu sadar kalau dia baru saja berkata yang membuat nonanya merasa sedih. Dia pun langsung buru-buru meminta maaf pada Jiyeon.

“Maafkan saya Nona Jiyeon, saya tak bermaksud membuatmu sedih. Sekali lagi aku meminta maaf.” ucap laki-laki paruh baya tu sambil membungkukan tubuhnya.

“Pak Lee, tak usah melakukan hal seperti itu. Anda tidak salah.” sambil membatu laki-laki paru baya itu berdiri.

“Ta-tapi nona Jiyeon, saya sudah berkata lancang didepan anda.”

“Tidak, Pak Lee… malah anda melakukan hal yang sebaliknya kepadaku.” balas Jiyeon.

“Maksud Nona?”

“Adanya aku yang berkata terimakasih kepada anda, karena sudah mengijinkan aku untuk tinggal bersama bapak disini. Betapa beruntungnya aku bertemu dengan orang sebaik anda. Tapi apakah aku boleh meminta sesuatu kepada anda untuk yang terakhir kali ini.” tanya Jiyeon pelan.

“Apa itu Nona? Dengan senang hati akan saya lakukan untuk anda.” balasnya.

Mendengar itu Jiyeon pun terlihat  sangat senang.

“Yang aku inginkan adalah…”

~~~ooo~~~

~Beberapa jam kemudian~

Terlihat seorang namja dengan berpakaian jas berwarna putih sedang berdiri diatas altar. Sesekali dia menggigit bawa bibirnya sambil melihat arlojinya setiap menitnya. Terlihat sangat jelas kalau dia sangatlah gugup. Kedua tatapan mata namja itu selalu tertuju kepada pintu yang sedari tadi masih tertutup sepertinya dia sangat gugup dan ketakutan saat dia menatap pintu yang tertutup rapat tersebut.

Tak berapa lama kemudian masuklah seorang yeoja yang memakai gaun putih dengan wajah yang tertutup dengan kain tudung putih transparan sambil mengegam sebuket bunga mawar berwarna putih yang diikat dengan pita berwarna merah untuk pemanisnya.

Saat yeoja itu hendak berjalan masuk untuk menghampiri namja yang sudah ada di atas altar tersebut. Datanglah seorang laki-laki paruh baya yang tiba-tiba berdiri di sebelah kiri yeoja tersebut.

“Apakah anda sudah siap?”

Ne… saya sudah siap.”

Lalu berjalanlah yeoja itu menuju altar yang ditemani oleh laki-laki paruh baya tersebut.

“Terimakasih banyak Pak Lee… sudah mau menggantikan posisi appa untuk mengantarkanku ke atas pelaminan.” ucap Jiyeon pelan dengan mata yang berkaca-kaca.

“Anda tak perlu mengucapkan terimakasih kepada saya nona Jiyeon. saya malah merasa sangat terhormat melakukan hal ini untuk anda. Seandainya Tuan Park yang menemani Nona Jiyeon pastinya dia sangat bangga saat melihat pasangan hidup anak kesayangannya bersanding dengan seorang laki-laki yang tampan dan gagah.”

“Ya… anda benar pak,,, eomma dan appa pastinya akan bangga dan lebih bahagia melebihi diriku saat ini apabila mereka berdua melihatnya.” sambil menyunggingkan seyumannya dan tampa Jiyeon sadari dia pun mulai meneteskan airmata yang sedari tadi dia bendung.

Akhirnya sampailah Jiyeon di atas pelaminan dan kemudian laki-laki paru baya itu memberikan sebelah tangan Jiyeon yang sedari tadi melingkar di lengannya kepada laki-laki yang sekarang tepat berada disebelah kanan Jiyeon.

“Saya titipkan Nona Jiyeon pada anda Tuan Jongin.”

“Ya… saya akan menjaga Jiyeon dengan segenap jiwa dan ragaku. Anda tak perlu khawatir Pak.”

“Ya, saya percayakan dia kepada anda Tuan.” sambil menepuk tangan Jongin ya sudah menggenggam tangan Jiyeon.

Setelah supir itu pergi tinggal Jongin dan Jiyeon yang ada di atas pelaminan dan ternyata tak berapa lama kemudian datanglah seorang pendeta yang akan menjadi saksi dan mengesahkan perkawinan mereka dihadapan Tuhan. Kemudian Pendeta itupun membuka  buku kecil yang dia bawa sedari tadi dan mulai mengikrarkan janji suci pernikahan yang diikuti oleh Jongin dan Jiyeon.

“Apakah kau bersedia meminang dan menerima suka dan duka dan setia menemani Jiyeon dikala sehat dan sakit untuk selamanya?” kata pendeta itu kepada Jongin.

“Iya, saya bersedia.” balas Jongin dengan mantap.

“Apakah kau bersedia, akan selalu setia menemani Jongin dikala suka dan duka dan juga di saat sehat maupun sakit. Apakah kamu bersedia menemaninya disepanjang hidupmu?” kata pendeta lagi kepada Jiyeon.

Ne… saya bersedia.” balas Jiyeon sambil mengangukan kepala.

“Baiklah sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri dan pernikahan kalian sudah direstui dan sudah diikat oleh Tuhan. Pengantin pria dipersilakankan membuka cadar dan mencium sang pengantin wanita.”

Jongin pun langsung membalikkan tubuhnya kehadapan Jiyeon dan kemudian berhadapanlah mereka berdua. Setelah itu Jongin membuka tudung yang menutupi wajah sang pemelai wanitanya. Wajah Jiyeon mulai bersemu merah karena tersipu malu saat Jongin menatap dirinya. Padahal bukan sekali dua kali dia diperhatikan namun entah kenapa perasaan Jiyeon menjadi salah tingkah.

Kedua mata mereka saling bertatapan. Jiyeon tidak bisa menutupi rasa terharunya karena sudah dipersunting oleh pujaan hatinya yaitu Jongin. Laki-laki yang amat dia cintai. Melihat Jiyeon meneteskan airmata Jongin langsung menghapus airmata Jiyeon yang sekarang sedang menetes dikedua pipinya.

“Aku tak akan membuat dirimu menangis lagi Jiyeon-ah… Aku akan melindungimu dan di sisimu untuk selamanya.” ucap Jongin lembut dihadapan Jiyeon.

“Aku juga akan selalu berada disisimu sampai maut memisahkan kita” Balas Jiyeon dengan suara yang bergetar.

 Jiyeon tak mampu berkata apa-apa lagi dia hanya bisa mengangukkan kepalanya di hadapan Jongin. Kemudian Jongin mulai mendekatkan wajahnya di depan Jiyeon. Jiyeon pun kemudian menutup kedua matanya saat kedua wajah mereka hanya tinggal beberapa inci. Jiyeon dapat merasakan hembusan napas Jongin sebaliknya Jongin juga merasakan hal yang sama saat dia hendak menautkan bibirnya ke atas bibir Jiyeon. Belum sempat mereka berciuman tiba-tiba datanglah segerombolan orang menghampiri mereka kemudian orang-orang itu memisahkan Jongin dan Jiyeon.

“Yak!!! Apa yang Sedang  kalian lakukan!! Hah!!! Lepaskan!!!” teriak Jongin sambil meronta-ronta.

“Maaf Tuan muda, anda harus ikut dengan kami.” ucap seorang laki-laki berpakaian style jas hitam.

Jongin tak mau menggubris ucapan kedua orang yang yang sekarang sudah memegangi kedua tangannya. Dia malah semakin beringas saat Jiyeon diperlakukan kasar oleh orang-orang suruhan ibunya.

“Yak!!! Apa yang kau lakukan pada dirinya!!! Lepaskan tangan kotormu dari dia!!!” teriak Jongin lagi dan akhirnya berhasillah Jongin lepas dari kedua orang yang sedang memegangi dirinya.

Jongin lalu memukul orang-orang suruhan ibunya dengan membabi buta dan tak terkecuali orang yang sedang memegangi Jiyeon.

“Hentakan itu, Jongin-ah!!!” teriak seseorang wanita dari belakang punggung Jongin.

Eomma… bagaimana Eomma tahu aku di sini?” ungkap Jongin dengan wajah yang tak percaya.

“Kau tak usah tanya dari mana aku tahu keberadaanmu. Sekarang kau harus ikut dengan ku.” Balas ibunya dengan wajah yang datar.

A-ni…aniya… aku tak bisa meninggalkan Jiyeon sendiri disini. dia sekarang sudah menjadi istriku.”

“Jongin-ah… jangan buat aku melakukan hal kasar padamu bahkan Jiyeon, wanita yang kau cintai ini.”

“Sampai kapan pun aku tak akan meninggalkannya. Titik!!!” Teriak Jongin.

“Kau membuat ku marah Jongin-ssi jadi jangan salahkan eomma apabila berlaku kasar pada wanita yang kau cintai ini.” Sambil kedua matanya menatap Jiyeon dengan tatapan yang sinis.

Lalu Ada buah ibunya Jongin yang mulai memisahkan Jongin dan Jiyeon setelah itu salah satu orang suruhan ibunya menempelkan sebuah saputan ke hidung Jongin dan tak berapa lama kemudian Jonginpun pingsan dibuatnya. Nampaknya saputangan itu sudah diberikan obat bius. Lalu tubuh Jongin pun dibawa oleh anak buah ibunya masuk kedalam mobil.

Setelah melihat anaknya sudah dimasukka ke dalam mobil ibunya Jonginpun mulai mendekati Jiyeon yang kedua tangannya masih dipegangi oleh anak buahnya.

“Lepaskan dia. Kalian boleh menungguku diluar sekarang.” perintah ibu Jongin keada anak buahnya.

“Baik, Nyonya…” ucap mereka bersamaan.

Tinggallah mereka berdua didalam gereja… Jiyeonpun terlihat berantakan dengan gaun pengantinya yang robek di setiap sisinya saat dia hendak memberontak untuk membantu Jongin.

“Plak!!!”

Terdengar suara tamparan yang keras. Sebelah pipi Jiyeonpun terlihat memerah.

Eomeonim…” sambil menyentuh sebelah pipinya yang terkena tamparan.

“Jangan pernah kau mendekati anakku lagi. Aku tak sudi kalau anakku bergaul denganmu bahkan menikah denganmu!!!”

“Ta-tapi Eomeonim…aku dan Jongin sudah menikah…” dengan suara yang parau.

“Bagiku kalian belum menikah!!! Dan asal kau tahu anak ku Jongin akan aku bikahkan dengan wanita yang lebih baik darimu, mengerti!!!”

“Ta-tapi… Eomeonim…” kali ini Jiyeon mulai meneteskan airmata.

“Simpan airmata palsu mu itu! Aku tak akan pernah mengubah perkataanku meskipun kau bersujud padaku aku tak akan pernah merestui hubungan kalian berdua, camkan itu!!! Dan satu lagi aku tak sudih kau memanggilku dengan sebutan Eomeonim… kalau kau tidak mengindahkan ucapanku akan aku buat kau dan Jongin menderita, arraso!!”

Lalu Nyonya KIm pergi dari atas pelaminan meninggalkan Jiyeon namun belum jauh dia pergi dari sana, Jiyeon langsung menghentikan langkan kakinya dengan cara memeluk sebelah kaki ibu jongin sambil memohon.

Eomeonim…tolong jangan pisahkan kami berdua… kami saling mencintai. Aku tak bisa hidup tampa dirinya.” ucap Jiyeon sambil menitikan air mata.

Mwo?? Sarang?? Apakah kamu sudah gila? Meskipun kau melakukan semua ini kau tak akan bisa mengubah pendirianku, jadi Lepaskan aku!!!”

Andwae… aku tak akan melepaskan gengamanku!!! Tolong… restui lah kita berdua Eomeonim…

“Kau membuatku tak bisa memilih,  Jiyeon-ssi.”

Lalu tubuh Jiyeon didorongnya dengan kasar hingga tak sengaja kepala Jiyeon terantuk anak tangga dan tampa Jiyeon sadari kepalanya mengeluarkan cairan kental berwarna merah dari kepalanya. Setelah terlepas ibunya Jongin langsung pergi keluar dan masuk kedalam mobil namun Jiyeon tetap berusaha mengejarnya namun itu percuma karena mobil itu sudah tidak ada lagi disana.

OoO

Don’t hate on us, however you’re viewing us

We’re just a little different

Just leave us alone

OoO

~Pov Jiyeon~

Kenapa… semua harus berakhir seperti ini? Kenapa orangtua suamiku tak merestui hubungan ini? apa salahku kepada dirinya? Apakah kami tidak ditakdirkan untuk bersama? Kalau memang kita tak ditakdirkan untuk bersama kenapa Tuhan mempertemukan kita berdua senjak awal, seharusnya sedari awal kita tak perlu bertemu bahkan mengenal.

Ini sangat menyakitkan… lebih menyakitkan lagi saat kita tahu kalau dia adalah benar-benar takdir kita tapi kita tak bisa bersama dengan dirinya. Apa yang akan kau lakukan bila keadaan ini terjadi kepada kehidupan kalian? Apakah kalian akan melepaskannya begitu saja atau mempertahankannya hingga napas terakhir kalian?

~TBC~

~~~ooo~~~

 

Annyeonghaseo yeorobun ….

Ketemu lagi sama Phiyun disini (^-^)/

Maaf ya  kalau aku buat alur ceritanya gak greget padahal ini ff udah ada didalam lappy ku dua bulan lebih, dikarenakan bulan kemarin aku sedang berduka ditinggalkan oleh papaku tercinta, jadi saat aku buat ngelanjutin ff ini semua perasaanku campur aduk. Maaf ya kalau cerita kali ini aku buat kurang maksimal. Aku berharap kalian menyukainya.

Maaf juga kalau banyak Typon yang bertebaran, maklum author juga manusia biasa ^^

Penasaran sama lanjutan ceritanya ? ayo jangan lupa berikan  komennya ya biar secepatnya aku postingin lanjutannya ya. Komentar dari para readers adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam menulis cerita selanjutnya … 😀

Jangan lupa  RCL nya ya reader’s…

See you ….

Khamsahamida (^-^) v

 

Advertisements

12 thoughts on “Please Stay With Me [Chapter 2]

    • penyakit apa ya yang diderita jongin? Nanti dipart selanjutnya baru aku kasih tahu ya ^^
      makasih yah dah nyempetin mampir kesini buat baca n komennya 🙂

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s