Please Stay With Me [Chapter 1]

please-stay-with-me-3

 

|| Title: Please Stay With Me || Author: Phiyun || Genre: Romance | Sad | Hurt | Angst | Family | Songfic || Cast: Park Jiyeon | Kim Jongin a.k.a Kai | Krystal || Member Suport : Exo | T-ara || Thema song : Song Jieun – Don’t Look At Me

 

Poster Credit:  Kryzelnut @ Art Zone (Thank’s ^^)

 

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

 

Cerita kali ini aku fokuskan di POV Jiyeon ya ^^

 

*** Happy  Reading ***

 

~Summary~

Tak bisakah kita bersama?

~~~ooo~~~

Terlihat ada seorang laki – laki paruh baya sedang berlari menghampiri diriku dengan nafas yang terengah – engah. Wajahnya sangat  terlihat terkejut bercampur dengan sedih saat dia menatap kedua mataku. Jantungkupun berdegup kencang saat laki – laki paruh baya itu mulai memberi suatu kabar ku.

“Nona… ada kabar yang buruk menimpa kedua orangtua nona Jiyeon.”

“Apa?! Apa yang terjadi dengan mereka berdua?”

“Tuan dan Nyonya mengalami kecelakaan mobil dan mobil yang dikemudikan oleh tuan jatuh kejurang.”

“Hah!!! A-ani..! A-ani-ya! Maldo andwae!! Tidak mungkin hal buruk itu terjadi dan menimpa kedua orangtua ku!! Pasti ajusshi sedang berbohong kepada ku! Benarkan ajusshi?” Kataku sambil tersenyum masam dihadapannya.

“Maafkan aku nona Jiyeon. Tapi memang keadaan sebenarnya seperti itu. Aku sangat menyesal.” Balasnya dengan wajah yang bersalah kepada diriku sambil membungkukan tubuhnya.

Mendengar itu semua kedua kakiku terasa lemas tak berdaya. Kakiku seperti mati rasa dan disaat itu juga kepalaku terasa kosong aku masih belum bisa menerima kabar buruk yang disampaikan oleh supir keluargaku kepada diriku.

A-ajusshi… tolong antarkan aku ke sana. Aku ingin melihat dengan kedua mataku.” Pintaku dengan kedua mata yang berkaca – kaca.

“Baiklah, nona akan saya antarkan.”

Lalu laki – laki paruh baya itu membantuku berdiri dan membawaku menuju tempat kejadian yang dimana mobil yang dikendarai oleh kedua orangtua ku ke jurang. Disana aku melihat sudah ada tim regu penolong membawa mesin berat untuk membantu menaikan mobil orangtuaku  yang terperosot kedalam jurang. Namun itu tidaklah mudah untuk mengankatnya karena pada saat itu juga cuaca tidak bersahabat. Saat hendak akan mengangkat mobil kedua orangtuaku yang terperosok disana tiba – tiba turunlah hujan. Hujan itu terus menerus turun sehingga evakuasipun dihentikan sampai hujan itu reda. Namun setelah hujan sudah agak reda ada lagi rintangan untuk mengangkat mobil kedua orangtuaku. Jalan yang harus dilewati oleh regu penyelamat agar bisa menuju kesana sangatlah licin dan berbahaya karena sudah basah oleh air hujan yang barusaja turun.

Setiap menit bahkan setiap tetesan airmataku aku selalu berdoa kepada Tuhan semoga kedua orangtuaku bisa selamat dari musibah itu. Aku tak bisa menahan semua kesedihanku, aku sangat takut. Aku takut kalau hal yang terburuk menimpa kedua orangtuaku aku tak bisa bayangkan kalau seandainya mereka meninggalkan ku sendiri didunia ini.

“Tuhan tolong selamatkan kedua orangtuaku, aku mohon kepadamu Tuhan. Aku belum siap kalau mereka pergi kembali kepangkuanmu, Tuhan. Aku belum siap… Sungguh  aku benar –benar belum siap.”

Akupun mulai menangis terisak – isak sambil menatap kosong kedalam lubang jurang yang sangat gelap dimana kedua orangtuaku terperosok didalamnya.

~~~ooo~~~

“Jiyeon -ah… Park Jiyeon…”

Terdengar suara yang lembut memanggil namaku dari belakang punggung ku dan saat aku berbalik tubuhku sudah ada didalam dekapannya.

“Jiyeon -ah… mianhae… aku telat datang kesini.” Ucap laki – laki itu sambil tangannya membelai lembut puncak kepalaku.

Gomawoyo, Jongin-ah.” Balasku sambil memeluk dirinya dengan erat.

“Kamu tak usah khawatir karena aku akan selalu menemanimu, gwenchanayo.”

Nae Jeongmal gomawoyo,Jongin-ssi. Terimakasih karena kamu sudah datang kesini untuk menemaniku.” Ucapku sambil menatap lekat – lekat kedua matanya.

Cheonmaneyo, Jiyeon-ah. Ini memang kewajibanku untuk selalu berada disampingmu dikala kamu sedih maupun senang karena kamu adalah orang yang sangat berharga didalam hidupku.” Balasnya sambil tersenyum lembut kepadaku setelah itu diapun memelukku kembali kedalam pelukannya.

~~~ooo~~~

Akhirnya setengah jam kemudian mobil kedua orangtuakupun berhasil ditarik keatas oleh regu penyelamat. Akupun langsung berlari kearah mobil kedua orangtuaku namun saat aku tiba didepannya aku harus menelan pil pahit dan akhirnya apa yang aku takuti sedari tadi sudah terjadi saat ini.

Kedua orangtuaku sudah ditemukan tak bernyawa dengan luka yang cukup parah dibagian kepala mereka. Tubuh mereka berduapun penuh dengan luka lebab dan darah yang sudah mulai mengering disekujur tubuh mereka berdua. Melihat itu kakiku lemas seperti tak mempunyai tulang penyanggah di telapak kakiku dan saat itu juga kesadaraan akupun hilang.

~~~ooo~~~

Kesadaraankupun mulai berangsur membaik dan aku mulai membuka kedua mataku dengan perlahan –lahan. Saat kedua mataku sudah terbuka aku sudah terbaring diatas ranjang dan sebelah tanganku sudah menempel jarum infus. Aku berusaha untuk bangkit namun kepalaku masih terasa berat sehingga tubuhkupun langsung roboh saat aku hendak bangun. Tiba – tiba datanglah Jongin dihadapanku.

“Jiyeon -ssi… kamu tak usah bangun dulu, istirahatlah sebentar.”

“Tapi, Jongin-ssi. Aku harus melihat keadaan kedua orangtuaku. Mereka pasti sekarang sedang menungguku jadi aku harus bertemu dengan mereka sekarang.” Balasku lagi dan aku mencoba bangun kembali.

“Jiyeon -ah… kedua orangtuamu sudah meninggal. Kamu harus bisa menerimanya”

A-aniya… kamu pasti sedang berbohong didepanku? Iyakan Jongin-ssi??” Balasku dengan suara yang parau dan dengan kedua mata yang berkaca – kaca.

“Tidak, Jiyeon-ssi. Ini kenyataannya sayang. Kedua orangtuamu sudah tiada dan sekarang jasad kedua orangtuamu akan segera dikremasi.”

A-ani… a-aniya !!! kamu pasti sedang berbohong kepadaku sekarang!!! kedua orangtuaku tak mungkin meninggal! Tidak mungkin!!!” Teriakku dengan histeris sambil mencabut jarum infus yang tertempel di lenganku.

“Hentikan Jiyeon-ah… tolong hentikan semua itu. Aku tahu ini berat untukmu tapi kamu juga harus bisa menerima kenyataan ini Jiyeon-ah.” Ucap Jongin sambil memelukku dengan erat.

“Lepaskan! Lepaskan aku!! Kamu pasti sudah berbohong kepadaku!!! ” Aku mulai meronta – ronta sambil meneteskan airmata di pelukannya namun usaha ku untuk lepas darinya itu semuanya  sia – sia karena Jongin memelukku sangat erat didalam dekapannya.

Aku sebenarnya mengetahui kalau kedua orang tuaku sudah tiada lagi didunia ini saat mobil kedua orangtuaku berhasil diangkat. Akupun juga sudah melihat jasad kedua orangtuaku dengan tubuh bersimbah darah tapi aku masih tetap memungkirinya. Aku belum siap untuk menerima kenyataan ini. Aku belum siap ditinggalkan oleh kedua orangtuaku untuk selamanya. Aku belum siap, sungguh aku belum siap untuk hidup sebatang kara didunia ini. Karena hanya merekalah keluarga yang aku punya didunia ini.

~~~ooo~~~

OoO

When the lights start to turn off, I quietly go to meet you

A flower blooms in the world that’s only filled with thorns

OoO

~~~ooo~~~

~1 jam kemudian~

“Jiyeon-ssi ayo kita bersiap – siap untuk acara kremasi kedua orangtuamu.”

“Sepertinya aku tak sanggup Jongin-ah. Aku tak bisa melakukan itu.” Balas ku dengan bibir yang bergetar.

“Kamu pasti bisa Jiyeon-ah.” Kata Jongin sambil menghampiriku dan lalu dia mulai memelukku.

“Ta-tapi… aku takut… aku takut, aku tak bisa merelakan mereka berdua pergi meninggalkan ku! Hanya mereka keluarga ya aku punya! Aku tidak punya siapa – siapa lagi, Jongin-ah…”

“Kata siapa kamu tak punya siapa – siapa lagi. Kamu masih punya aku dan kita juga sebentar lagi akan menjadi satu keluarga. Aku akan meminta kepada eomonim untuk mempercepat hari pertunangan kita bahkan hari inipun aku siap menikahimu.

“Jongin-ah… apakah kamu serius dengan ucapanmu barusan? Aku tak  mau kamu melakukan itu semua karena merasa kasihan kepadaku.” Kataku sambil menatap kedua matanya.

“Aku sangat serius dengan ucapanku barusan. Apa yang aku lakukan selama ini terhadap dirimu bukanlah rasa kasihan tapi rasa cinta. Aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu saat pertemuan bisnis kedua orangtua kita waktu itu dan apakah kamu tahu kalau aku sangatlah beruntung saat eomonim memberi tahukan kepadaku kalau kamu itu akan menjadi calon istriku kelak. Jadi kamu jangan pernah berkata seperti itu lagi ya mulai dari sekarang.”

Saat mendengar perkataan Jongin aku sama sekali tidak bisa berkata apa – apa lagi. perasanku saat ini bercampur aduk antara kaget, senang, terharu dan sedih. Semuanya bercampur menjadi satu dan sulit aku ungkapkan dengan kata – kata.

Gomawoyo, Jongin-ah… terimakasih kamu sudah mau tetap bersama diriku.”

Cheonmaneyo, Jiyeon-ah. Sudah seharusnya aku melakukan itu terhadapmu.”

Jongin sepanjang hari selalu berada disamping diriku yang saat ini sedang terpuruk. Dia tak pernah lelah untuk selalu memberikan semangat terhadap diriku.  Hatiku yang awalnya sangat terpukul dan takutpun berangsur membaik. Hatikupun merasakan sedikit terobati dengan keberadaan Jongin yang saat ini berada disisiku.

~~~ooo~~~

Tubuhku mulai lunglai tak berdaya saat aku harus melihat kedua jasad kedua orangtuaku di kremasi. Aku berusaha tegar pada saat itu tapi tetesan airmataku yang mengalir di kedua pipiku, tak bisa berbohong. Akhirnya airmata yang aku bendungpun jatuh begitu saja tampa bisa aku hentikan. Namun pada saat yang bersamaan Jongin setia menemaniku. Dia juga memelukku kedalam dekapannya. Pelukannyapun memberikan ku semangat kalau aku harus tetap kuat dan tegar menghadapi semua ini. Karena saat ini aku tidaklah sendiri didunia ini  masih ada seseorang yang tetap ada disisiku yang mau menemani diriku dikala susah dan senang.

Setelah selesai acara kremasi kedua orangtuaku. Akupun diberikan dua buah guci yang berisikan abu dari jasad kedua orangtuaku dari pihak rumah duka. Kedua tanganku mulai bergetar hebat saat itu dan hampir saja kedua guci yang berisi abu jenazah orangtua ku jatuh dari gengamanku. Tapi Jonging dengan sigap langsung mengambil kedua guci itu dari kedua gengamanku.

“Nona, ini abu kedua orangtua anda. Semoga amal dan kebaikan kedua orangtua nona diterima disisinya dan dosa kedua orangtua nona diampuni semua oleh Tuhan.” Kata salah satu pihak rumah duka kepadaku.

Ne, kamsahamnida.” Balasku sambil membungkuk pelan dihadapan mereka. Setelah itu aku dan Jongin pergi ke tempat rumah duka yang lainnya untuk menaruh kedua abu guci kedua orangtuaku.

~~~ooo~~~

Setibanya disana akupun dan Jongin langsung menaruh kedua abu guci milik kedua orang tuaku kedalam etalase kaca yang sudah kami pesan beberapa waktu yang lalu. Akupun tak lupa menaruh secarik foto diriku bersama kedua orangtuaku saat aku wisuda.

Foto itu terlihat seperti keluarga yang bahagia. Disana aku tersenyum sangat senang dan gembira sambil melingkarkan kedua tanganku di lengan appa dan eomma.

“Apakah aku bisa tersenyum seperti itu lagi setelah ini?” Kataku sambil memandang kosong foto yang terpajang didalam etalase kaca tersebut.

“Pasti kamu bisa Jiyeon-ah. Aku berjanji didepan kedua orang tuamu sekarang. kalau aku akan bisa membuatmu lebih bahagia lagi dan akan membuatmu tersenyum lebih senang dibandingkan senyumanmu saat di dalam foto itu.”

Gomawoyo, Jongin-ah. Aku sudah cukup bahagia karena kamu sudah ada disisiku sekarang.”

Lalu kedua jari jemariku digengamnya dengan lembut sambil kedua matanya menatap lembut terhadap diriku.

“Aku akan selalu ada disisimu untuk sekarang bahkan untuk selamanya. Karena aku sangat mencintaimu, saranghae Jiyeon-ah.” Katanya sambil tersenyum kepadaku lalu Jongin mencium lembut puncak kepalaku setelah itu tubuhku dipeluknya.

Nado… saranghaeyo Jongin-ah.” Ucapku sambil membalas pelukannya.

~~~ooo~~~

Tak terasa haripun mulai malam. Jiyeon lalu diantarkan pulang oleh kekasihnya Jongin. Saat di perjalanan pulang mengantarkan Jiyeon, mobil yang dikendarai Jonginpun berhenti secara mendadak. Itu sempat membuat Jiyeon kaget.

Wae geurae, Jongin-ah?” Kata Jiyeon dengan tatapan mata yang khawatir.

“Bagaimana kalau malam ini kita bertemu dengan eomonim ku. Ada hal penting yang mau aku katakan kepadanya.”

“Memangnya apa yang ingin kau katakan pada eomonim? Apakah lebih baik kita membicarakannya esok hari? Apakah sepenting itu?”

Andwae!! Ini sangat penting Jiyeon-ah. Aku ingin segera kau bertemu langsung dengan eomonim untuk membicarakan tentang hubungan kita. Aku ingin segera menikahimu. Apakah kamu tak ingin menikah dengan ku?”

“Mana mungkin aku tak ingin menikah dengan mu Jongin-ah tapi ini sudah pukul 10 malam, tak enak bila mengangu eomonim  yang sedang beristirahat.” Balas Jiyeon sambil menatap kedua mata Jongin yang tajam.

“Sudahlah, kamu ikuti saja rencanaku. Sekarang ayo kita pergi kerumah ku.” Balas Jongin sambil menlajukan kendaraanya kembali dengan tersenyum simpul.

“Baiklah, bila itu keinginan mu aku akan ikuti.” Ucap Jiyeon dengan wajah pasrah.

~~~ooo~~~

Akhirnya tibalah Jiyeon di depan kediaman Jongin. Jonginpun lalu menggengam erat tangan Jiyeon untuk masuk kedalam rumah bersama dirinya. Saat Jonging hendak membuka pintu rumahnya tiba – tiba ada beberapa orang yang berpakaian rapi dengan tubuh yang tegap memisahkan gengaman tangan mereka.

Jiyeonpun lalu didorong untuk menjauh dari Jongin oleh orang – orang berstelan baju hitam tersebut. Tak berapa lama kemudian keluarlah seorang wanita paruh baya dari dalam rumah tersebut.

“Kau sudah pulang, Jongin-ssi?”

Eomma, apa yang sedang kau lakukan kepada kami berdua?” Tanya Jongin sambil tetap berusaha melepaskan tubuhnya dari cengkraman dua orang laki – laki suruhan ibunya.

“Aku tidak melakukan apa – apa kepadamu sayang. Aku hanya memberi pelajaran kepada mantan tunanganmu ini, benarkan Jiyeon-ssi.” Balas ibunya jongin dengan wajah yang datar.

“Apa maksud ucapanmu itu eomonim? Mantan tunangan?” Tanya Jongin lagi kepada ibunya.

“Iya manatan tunangan. Karena sekarang kau bukan lagi tunangannya. Pertunangan ini aku putuskan.”

A-ani…. Aniya… Eomma. Aku sangat mencintainya. Tak mungkin akau melepaskan Jiyeon!! Aku tak setuju!!!” Teriak Jongin.

“Tapi sayangnya semua keputusan ini tidak bisa digangu gugat Jongin ku sayang. Kamu harus menuruti perintah Eomma mu ini suka maupun tidak suka.

“Aku tidak akan membatalkan pertunangan ini. tidak akan pernah eomonim! Lepaskan aku!!!” Sambil meronta – ronta.

“Sudahlah, Eomma tak ingin bertengkar denganmu. Bawa dia masuk sekarang.” Perintah ibunya pada anak buahnya.

Lalu tubuh Jonginpun di seret secara paksa dari sana  untuk masuk kedalam. Jiyeon yang melihat itu semua tidak bisa berbuat apa – apa. Karena diapun juga tak jauh beda dengan apa yang sedang dialami oleh kekasihnya Jongin.

“Jiyeon-ah, aku akan menemuimu kembali. Aku janji akan bertemu denganmu.” Ucap Jongin sambil dipaksa masuk kedalam rumah dan setelah itu pintupun ditutup.

“Jongin-ah… Aku akan menunggumu.” Balas Jiyeon dengan suara yang parau.

“Jiyeon-ssi nampaknya penantianmu akan usai pada malam hari ini. Karena aku melarangmu bertemu lagi dengan anakku Jongin.”

“Tapi Eomonim. Kita saling mencintai. Tak bisakah kita terus bersama?”

“Hah?! Bersama?! Apa kau sudah gila? Tak mungkin aku mau menikahkan anak semata wayangku pada dirimu yang tidak mempunyai apa – apa sekarang. Bahkan kau sudah membuat perusahaanku bangkrut.”

“Apa maksudmu Eomonim? Bukannya perusahaan appaku sangat sukses?”

“Ucapan mu itu benar sekali. Perusahaan ayahmu sangat sukses tapi itu dulu sebelum dia meninggal. Sekarang kamu tak punya apa – apa. Apakah kamu tahu kedua orangtuamu sudah membawa semua saham yang aku tanam di perusahaanmu itu? Sekarang kembalikan semua saham yang saya tanam disana. Kembalikan modal saya sebesar 5 milyar won.”

“Ta-tapi eomonim,  aku tak punya uang sebanyak itu.” Balas ku dengan suara yang pelan.

“Baiklah, kita buat ini secara sederhana saja. Saya akan merelakan semua modal yang sudah saya tanam di perusahaan ayahmu tapi kamu harus menghilang dari kehidupan anak ku Jongin mulai saay ini bahkan untuk selamanya. bagaimana? Mudah bukan?”

“Ta-tapi eomonim, aku sangat mencintai Jongin. Aku tak bisa melepaskannya begitu saja.”

“Kamu itu tak melepaskannya begitu saja sayangku, Jiyeon. Kamu melakukan ini semua demi menutupi hutang kedua orangtuamu. Aku tahu kamu tak bisa membayar semua hutang unu bhakan jika kamu menjual tubuhmu saja, kamu belum bisa membayarnya. Apakah kamu mengerti?”

“A-aku…” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku  perkataanku sudah dipotong oleh eomma Jongin

“Sudahlah, saya tak mau membahasnya lagi. sekarang lebih baik kamu pergi sekarang dari sini!!! Aku sudah muak dengan wajuh mu apalagi dengan kedua orangtuamu. Pergi sana!!! Enyahlah kau dari hadapanku!!!” Teriaknya sambil menyuruh anak buahnya menarik kedua tanganku untuk pergi menuju pintu gerbang.

Eomonim, tolong ijinkan aku bertemu dengan Jongin untuk terakhir kalinya! JebalEomonim…

“Sayangnya itu adalah pertemuan terakhirmu dengan anak ku Jongin, jadi janagan harap kamu bisa bertemu dengan dirinya lagi. Karena Jongin sudah aku tunangkan dengan wanita yang lebih baik darimu dan dia akan menikah minggu depan dengan Jongin.”

“Anda tak bisa melakukan itu semua kepada kita berdua, Eomonim! Kami berdua saling mencintai, anda tak bisa melakukan itu!!!”

“Kata siapa aku tak bisa melakukannya? Kita lihat saja.” Sambil tersenyum sinis padaku.

Yak!!! Bawa gadis ini keluar sekarang dari rumahku. Aku tak mau dia menginjakkan kakinya lagi disini . cepat usir dia!!!” sambil berjalan masuk kedalam rumah.

Eomonim… tolong dengarkan aku dulu. Eomonim… Eomonim… Eomonim!!!” Tapi panggilanku tak digubrisnya dan alhasil tubuhkupun diseret secara paksa menuju depan pintu gerbang.

~~~ooo~~~

Saat aku sudah tiba di depan pintu gerbang tubuhkupun langsung dihempaskan oleh dua orang laki – laki yang bertubuh besar yang sedari tadi memegangi kedua tanganku ke atas jalan yang beraspal dan alhasil sikut dan dengkul kakikupun luka saat terjatuh tadi.

“Pergilah kau sekarang dari sini!!! Jangan pernah kau kembali lagi kesini!!!” Teriak salah satu dari mereka.

Ajusshi, jebal… ijinkan aku bertemu dengan Jongin satu kali saja, aku mohon.” Pintaku sambil memegang sebelah kakinya.

Andwae!!! Na-ga! ga!! Sekarang lebih baik kau pergi!!!”

Dengan kasarnya dia mendorong tubuhku kembali ke jalan yang beraspal. Kemudian orang – orang itu pergi meninggalkan ku sendiri. Aku bingung apa yang akan aku lakukan sekarang. Dalam satu  hari aku sudah kehilangan begitu banyak orang yang aku sayangngi.

“Kenapa kita tak bisa bersama apakah aku begitu tak pantas mendapatkan dirinya atau memang dia bukanlah takdirku?” Ucapku pelan sambil menghela nafas yang panjang kemudian aku bangkit dari jatuhku dan aku mulai berjalan kaki kembali menuju pulang ke rumahku.

~~~ooo~~~

OoO

Why? Why not?

They whisper and go against us

Why? Why not?

We’re so in love

OoO

~~~ooo~~~

Setibanya Jiyeon didepan rumahnya. Jiyeon sangat kaget saat dia melihat sudah ada papan palang didepan halaman rumahnya yang tertulis rumah disita. Melihat itu Jiyeon langsung berlari masuk kedalam rumahnya dan teryata apa yang dia fikirkan saat diluar tadi menjadi kenyataan. Didalam rumahnya sudah kosong tidak ada satupun perabotan atau apapun didalam rumahnya. Seketika kedua kaki Jiyeonpun tak mampu menompak tubuhnya dan akhirnya Jiyeon jatuh terduduk dengan kedua mata yang menatatap kosong.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa semuanya harus begini? Apa lagi yang ingin kau ambil dari ku Tuhan. Apakah kau tak puas sudah mengambil kedua orangtuaku.”Kata Jiyeon dengan kedua mata yang berkaca – kaca dan tak berapa lama kemudian airmatanyanyapun tumpah dan sekarang airmata itu mengalir begitu saja di kedua pipinya.

Tiba – tiba dari seseorang yang menepuk lembut pundak Jiyeon dari belakang. Kemudian Jiyeon menolehkan wajahnya keasal bunyi suara tersebut.

“Nona Jiyeon, maukah kamu ikut dengan ku?”

Ajusshi, Bagaimana ajusshi masih ada disini?” Tanya Jiyeon kepada supir pribadinya itu.

“Aku sedang menunggu nona Jiyeon untuk pergi bersama dengan ku.”

“Tapi ajusshi aku tak ingin membebanimu. Ajusshi bisa pergi meninggalkan aku sendiri sekarang. terima kasih sudah mau menungguku.”

Lalu laki – laki paru baya itu mengengam kedua tangan Jiyeon dengan lembut.

“Saya sudah terlalu banyak berhutang budi pada kedua orang tua nona, jadi saat ini lah waktu yang tepat untuk ku bisa membalas semua kebaikan tuan dan nyonya Park. Tolong nona, anggap saja ini permintaaan dari laki – laki tua yang memintamu untuk bisa menerima kebaikan hatinya.”

“Ta-tapi ajusshi. Aku takut kalau aku akan merepotkan dirimu nantinya.”

“Nona Jiyeon tidak akan merepotkan ku. Nona Jiyeon sudah aku anggap seperti anak ku sendiri.”

“Tapi bagaimana dengan anakmu dirumah bila kau mengajak ku bersama dengan dirimu?” Tanya Jiyeon lagi.

“Nona Jiyeon tak usah khawatir aku hanyalah laki – laki tua rentah yang tidak mempunyai sanak saudara lagi. Saya tinggal sendiri dan anakku sudah berkeluarga  kamipun hampir 20 tahun tidak bertemu dan istriku sudah pergi meninggalkanku duluan ke surga.” Balas laki – laki tua itu dengan suaranya yang parau.

“Maafkan aku ajusshi, sudah membuat kamu menjadi sedih.”

“Tidak apa – apa nona. Itu bukan kesalahan mu. Jadi maukan kamu memenuhi permintaan dari laki – laki tua yang rentah dan sebatang kara ini nona Jiyeon?” Dengan tatapan yang menaruh harapan.

“Baiklah, aku akan ikut dengan mu ajusshi. Jeogmal gomawoyo ajusshi.” Balas Jiyeon sambil tersenyum gembira padanya.

~~~ooo~~~

Di tempat yang lainnya di kediaman Jongin terlihat ada dua orang yang sedang adu argument di ruang tamu.

“Kamu tak boleh lagi bertemu dengan anak itu.”

Wae… waeyo eomma??”

“Karena kamu sudah eomma tunangankan dengan gadis lain dan kau akan menikah dengan dirinya minggu depan.”

“Apa?! Aku tidak mau!! Aku tak mau bertunangan dan menikah dengan orang yang tidak aku kenali!! Aku hanya akan menikah dengan Jiyeon seorang!”

“Yak!!! Kamu tak boleh membangkak kepadaku, mengerti!!! Sampai matipun aku tak akan merestuimu berdekatan lagi dengan dirinya bahkan menikahinya!”

“Lalu kenapa eomma dari awal usdah menjodohkan aku dengan Jiyeon? Bukannya eomma menyukainya??” Tanya Jongin dengan nada yang putus asa.

“Dulu aku memang menyukainya karena dia anak pengusaha yang sukses tapi saat aku kena tipu dengan kedua orangtuanya aku jadi membencinya. Pantasan saja kedua orangtuanya bunuh diri. Mereka memang sengaja tak mau mengembalikan keuntungan modal yang dia janjikan kepadaku. Dasar licik. Sifat mereka itu tak jauh beda tidak orangtuanya anaknyapun diajarkan sama.” Balas ibunya Jongin dengan nada yang mengejek.

Eomma, aku mohon hentikan ucapanmu itu. Jiyeon tidak seperti itu aku tahu itu dan mungkin saja kedua orangtua Jiyeon tidak seburuk yang eomma fikirkan. Mungkin saja semua ini salah paham.”

“Apa? Salah paham? Kamu kira aku ini anak kecil yang mudah dibohongi? Hah!! Sudah sekarang beristirahatlah karena besok kita akan bertemu dengan calon istrimu.”

“Aku tak akan pergi menemuinya. Aku tak mau menikah dengan gadis lain selain Jiyeon!!”

“Kamu harus menikahi dia! Tidak ada pengecualian! Camkan itu!!! Aku tak akan merestuimu bahkan sampai kau berlutut dihadapanku dan mati didepanku aku tak akan pernah merestuimu menikahi Jiyeon!!” Teriak ibunya dengan penuh amarah.

“Baiklah kalau itu maumu eomma, aku akan menikahi Jiyeon dengan restumu bahkan tampa restumu itu aku akan tetap menikahinya.”

Mwo?!! Apa kamu mau mati ditanganku! Hah!!” Bentaknya pada Jongin.

“Seandainya kau bisa melakukannya akan lebih baik bila aku mati sekarang tanganmu eomma, dari pada aku harus menikahi bahkan hidup bersama dengan wanita yang tidak aku cintai.” Balasnya dengan suara yang serak.

Setelah itu Jongin langsung pergi meninggalkan ibunya yang sedang terdiam terpaku setelah mendengar ucapan dari mulut anaknya yang dia sayangi. Didalam hatinya dia tidak ingin membuat anaknya sedih tapi disisi lain dia tak mau jiyeon tetap bersama jongin karena dia takut Jiyeon akan bersikap sama seperti kedua orangtuanya.

~~~ooo~~~

Jonginpun lalu langsung masuk kedalam kamarnya dengan wajah yang amat sedih. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang semuanya terlihat membingungkan disisi lain dia ingin sekali berbakti kepada orang tuanya namun disisi lainnya hatinya tidak bisa berbohong kalau dia tidak mungkin dan tidak akan pernah bisa mencintai gadis lain kecuali Jiyeon.

Tiba – tiba kepala Jongin terasa amat perih dan pandangan matanyapun mulai buram bhakan dia hampir terjatuh namun dia bisa langsung mempertahankan kedua kakinya yang hampir oleh tersebut dan saat Jongin sedang menundukkan kepalanya setelah merasakan pusing tiba – tiba ada sesuatu yang menetes dari hidungnya.

“Darah??”

Mengetahui itu Jongin langsung berlari cepat kedalam kamar mandi dan setelah itu dia berdiri didepan wastafel kamar mandinya sambil melihat cermin.

“Hahaha!!!” Tawanya dengan wajah yang frustasi sambil membersihkan darah yang ada di hidungnya.

“Kenapa akhir – akhir ini aku sering mimisan? Ini bukan waktu yang tepat.” Ucapnya sambil mengeleng – gelengkan kepalanya kemudian Jongin membuka lemari kecil yang tergantung di samping cemin kamar mandi. Lalu dia mengambil sesuatu dari dalam lemari itu.

“Apakah obat yang biasa aku minum ini sudah tidak bereaksi lagi didalam tubuhku?” Sambil mengengam erat botol kecil kaca yang berisi beberapa kapsul didalamnya.

“Kenapa aku jadi sedih sekarang? Aku sudah tahu dari satu tahun yang lalu kalau penyakitku ini tidak bisa diobati. Harusnya aku sudah tahu itu tapi aku menyangkalnya setelah mengenal Jiyeon. Aku ingin sembuh dan ingin bersama dirinya. Jadi apakah aku bisa bersama dengannya di sisa umur ku ini? Bisakah aku membahagiakannya? Apakah aku bisa Tuhan?” Lirihnya.

Lalu dia memandang bayangannya di depan cermin kemudian berkata.

“Kamu pasti bisa melakukannya Jongin-ah. Aku harus bisa membahagiakannya dan tetap berada disisinya karena kamu sudah berjanji didepan abu jenaza kedua orangtua Jiyeon dan dihadapan Jiyeon. Kamu harus melakukan itu semua. Sekarang aku bisa pergi dari sini pada malam ini juga untuk menjemput Jiyeon. Aku sudah tak peduli lagi dengan ancaman eomma. Aku harus segera melakukannya, kalau aku tak melakukannya sekarang maka waktuku akan terbuang sia – sia.” Katanya dengan lantang di hadapan cermin.

~~~ooo~~~

Lalu Jongin langsung mengemasi pakaian yang akan dibawanya. Dia mulai memasuki satu persatu baju kedalam tas ranselnya dan saat jam sudah menjelang jam 2 pagi dia langsung diam  – diam keluar dari jendela kamarnya. Jongin lalu berjalan dengan hati – hti untuk melihat sekitanya sudah aman atau belum. Kebetulan saat itu tidak ada pengawal ibunya yang berjaga di depan halaman rumahnya bahkan di pintu gerbang rumahnya.

Jonginpun kemudian menuntun motor sportnya dengan perlahan – lahan keluar dari depan pintu gerbang rumahnya. Setelah cukup aman dan jauh dari kediamannya dia langsung naik keatas motornya kemudian menyalakan mesin motornya. Lalu diapun pergi menuju kediaman Jiyeon.

~~~ooo~~~

Setibanya didepan kediaman Jiyeon. Jongin sangat terkejut saat melihat ada palang yang tertancap didepan halaman rumah kekasihnya yang tertulis “rumah disita” Jonginpun langsung turun dari motornya dan mengetuk pintu rumah Jiyeon.

“Jiyeon-ah… Park Jiyeon… apakah kamu ada dirumah? Jiyeon-ssi!!” Panggil Jongin sambil mengetuk pintu depan rumah Jiyeon.

Namun tak ada yang keluar dari dalam rumah tersebut dan saat Jongin hendak membuka pintunya ternyata pintu tersebut tidak terkunci. Jongin lalu masuk kedalam dan saat dia masuk, Jongin sudah melihat isi dalam rumah Jiyeon sudah kosong.

“Kau ada dimana sekarang Jiyeon-ah? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Harusnya kamu menunggu diriku sedikit lebih lama untuk ku bisa membawamu pergi bersama dengan diriku. Sekarang aku harus mencarimu dimana lagi? ”

Jongin berusaha menghubungi Jiyeon melalui telefon tapi telefon yang dihubunginya tidaklah aktif sedari tadi. Ekspresi wajah Jonginpun berubah menjadi lebih frustasi dibandingkan saat tadi. Kedua mata Jonginpun hanya bisa menatap kosong saat melihat sepanjang lorong  rumah Jiyeon yang sepi dan sunyi.

~TBC~

 

~~~ooo~~~

 

Annyeonghaseo yeorobun ….

Ketemu lagi sama Phiyun disini (^-^)/ mudah-mudahan kalian gak bosen yah ketemu sama aku, hehehe ^^

Semoga  para readers  menyukainya ya. Kali ini, penulisnya lagi demen buat cerita yang rada galau nih, hihii, mian kalau ceritanya rada sedih dan rada gaje ya 😉

Penasaran sama lanjutan ceritanya ? ayo jangan lupa berikan  komennya ya biar secepatnya aku postingin lanjutannya ya. Komentar dari para readers adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam menulis cerita selanjutnya … 😀

 

Jangan lupa  RCL nya ya reader’s…

See you ….

Khamsahamida (^-^) v

 

Advertisements

18 thoughts on “Please Stay With Me [Chapter 1]

    • maaf yah buat kamu jadi nangis, chup…chup..chup… sama aku juga pas buat jadi pengen nangis juga, hiks…hiks (T.T)..
      udah ada kok chapter 2nya disini, btw makasih yah dak mampir kesini buat nyempetin baca n komennya ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s