[Oneshoot] Life: This Feeling

this feelingCast:
Suho, Irene, Seohyun
Other cast:
Yoo In Na, Amber
Genre:
Romance, Hurt/comfort, School Life
Length: Oneshoot
Rating: PG – 15

RCL If you want
DON’ BASH!
DON’T PLAGIAT!

Feel free my feeling for you – Irene

Bel pulang sekolah telah berdering nyaring sekali, lebih nyaring daripada bunyi sirine pemadam kebakaran yang berlalu di jalan raya kota Seoul. Baru saja bel berdering, para siswa sudah berhamburan di lorong-lorong kelas dan memenuhi anak tangga menuju lantai dasar.

Guru Yoo menggelengkan kepalanya melihat perilaku para siswa yang kelewat riang jika bel pulang sudah berdering melalui ruang dengar mereka. Senyum tipis pun menghias wajah cantik guru  bahasa Inggris yang cerdas itu.

“Eonni!”
Suara seorang gadis memudarkan senyum Yoo In Na.
“Irene?” In Na mengerutkan dahinya. “Ayo pulang!”

Irene menurut. Mereka berdua berjalan santai menuju halte bus yang terletak tepat di depan sekolah.

Jarak kediaman keluarga Yoo dengan sekolah hanya sekitar 5 km yang dapat ditempuh dengan naik bus selama 6 menit dan berjalan kaki selama 10 menit. Akses jalan menuju sekolah yang sangat mudah itu, membuat Irene dan In Na merasa lega karena mereka bisa berangkat dan pulang dari sekolah dengan bersantai ria tanpa harus tergesa-gesa seperti siswa atau guru yang lainnya.

“Ada apa lagi, eoh?” tanya Yoo In Na pada saudara sepupunya, Irene Bae yang sekaligus menjadi murid didiknya. “Ceritakan apa saja yang sedang kau pikirkan, Irene-a!” pinta In Na pelan.

Irene tertunduk lesu dan terdiam, tak ada hasrat untuk menjawab pertanyaan dari kakak sepupunya itu. Mulutnya terkunci rapat dan tak ingin mengatakan sepatah kata pun meski In Na membujuknya untuk bicara.

“Kau akan tetap seperti ini? Apakah hal ini  disebabkan oleh pemuda bernama Suho itu?” tebak In Na asal. Dia tahu kalau Irene selalu memiliki masalah dengan perasaannya pada seorang pemuda berama Kim Junmyeon yang sering dipanggil dengan nama Suho.

Irene belum menjawab namun ekspresi wajahnya sudah cukup memberikan penjelasan pada In Na. In Na mendesah kasar dan merangkul bahu Irene. “Irene-a, aku tahu kalau perasaanmu itu tulus. Aku tahu kalau kau juga tak memaksakan perasaanmu itu pada Suho. Jangan bebani pikiranmu dengan masalah seperti itu! Haruskah eonni carikan pria lain yang lebih segalanya dari Suho?”

“Eonni, kau pernah merasakannya? Kau tahu betapa sakitnya memiliki perasaan yang harus dipendam dalam-dalam entah sampai kapan hal itu harus terjadi? Aku tidak menyalahkan siapapun atas  perasaan ini. Tapi yang aku sesali adalah… kenapa aku harus mencintai orang yang sudah memiliki pasangan?” Irene tak bermaksud menyesali perasaannya. Ia hanya merasa bodoh karena telah mencintai Suho yang notabennya adalah kekasih Seohyun. Mungkin saja mereka berdua bahkan sudah lebih dekat dari yang diketahui oleh orang lain.

“Jangan putus asa. Mungkin saja kau bisa mendapatkan hati Suho. Ah, Irene-a, maksudku bukan berarti kau harus merebut Suho dari Seohyun. Menurutku, kau harus berusaha tetap mencintai Suho dengan tulus. Apapun hasil dari ketulusanmu itu, aku yakin bahwa itulah yang terbaik untukmu.” In Na merangkul bahu Irene untuk membantu membesarkan hati adik sepupunya itu. “Sekarang istirahatlah! Jangan pikirkan sesuatu yang hanya bisa menyita waktu. Ingat! Waktu sangat berharga.”

Irene tersenyum mendengar kata-kata motivasi dan penenang dari Yoo In Na. Gadis berusia 17 tahun itu menganggap In na tak hanya sebagai kakak sepupu melainkan sebagai pengganti ibu dan ayahnya yang selalu sibuk dengan bisnis mereka. Meskipun tak begitu mendapat kasih sayang dari orangtuanya, Irene tetap bahagia bersama In Na. Entah apa yang akan terjadi padanya jika Yoo In Na tidak ada di sisinya.

Keesokan harinya, kembali ke sekolah.
“Irene-a!”
Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, Irene menghentikan langkah kaki yang terlanjur terayun menuju ruang kelasnya. Ia membalikkan badan untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya dari jarak yang lumayan jauh.

Dengan mata melotot, Irene melihat seseorang yang meneriakkan namanya. Ya, Suho lah yang memanggil Irene. Dia berlari ke arahnya.
“Irene-a, boleh kah aku minta bantuanmu?” tanya Suho dengan nafas terengah-engah.

Irene menatap lekat pada sosok Suho yang mengambil posisi membungkuk di depannya. “Boleh. Bantuan apa?” tanya Irene balik. Kalimat itu spontan keluar dari mulutnya.

Suho membenahi posisinya menjadi berdiri tegak menghadap Irene. “Hmm, sebenarnya aku agak ragu meminta bantuan padamu. Tapi karena aku lihat kau adalah orang yang cerdas dan bertanggung jawab, aku… memintamu menjadi sekretaris OSIS untuk menggantikan Seohyun.”

Deg!
Menggantikan Seohyun? Irene tak percaya bahwa Suho memintanya menjadi sekretaris organisasi sekolah OSIS. Ini semua di luar perkiraannya. “K, kenapa Seohyun diganti? Ah, maksudku, ada apa dengan Seohyun?”

“Kami ada masalah yang rumit. Dia mengundurkan diri dari jabatan sekretaris karena ada masalah denganku,” jawab Suho dengan ekspresi penyesalan. “Kau bisa membantuku, kan? Pekerjaan sekretaris tidak sesulit yang dibatangkan mayoritas siswa. Kau pasti bisa melakukannya,” bujuk Suho dengan sangat meyakinkan.

Irene merasa iba pada Suho.

“Jebal, Irene-a. Hanya kau yang aku kenal baik,” bujuk Suho agar Irene bersedia menggantikan posisi Seohyun.

“Baiklah, aku bersedia menjadi sekretaris OSIS. Tapi bagaimana kalau Seohyun tidak terima dengab hal itu?”

“Dia tidak berhak melakukan hal itu. Aku kesal pada Seohyun yang akhir-akhir ini selalu bertindak semaunya sendiri. Dia…”

“Oppa!”

Seseorang memanggil nama Suho dengan lantang. Ya, Seohyun berdiri di belakang Irene dan memasang ekspresi kesal. “Apa yang kau lakukan, eoh? Kau merayu kekasihku?” Seohyun mendekati Irene dan menatapnya tajam.

Suho dan Irene tercengang melihat sikap Seohyun yang keterlaluan itu. Sungguh sikap yaag lain dari  hari-hari biasam**o

“Tidak ada yang mencoba merayuku. Sikapmu itu terlalu berlebihan, Seohyun-a.” Suho berusaha menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. “Aku yang menghampirinya, bukan dia yang menghampiriku. Aku memintanya untuk menggantikan posisimu sebagai sekretaris OSIS. Apa ada yang salah dengan keputusanku itu?”

Seohyun semakin geram karena mengetahui bahwa Irene telah menggantikan jabatannya di OSIS. “Kau keterlaluan, Oppa.”

“Kau yang keterlaluan! Kau menggunakan alasan pribadi untuk melalaikan tugasmu dan akhirnya kau melepaskan tanggung jawabmu karena masalah pribadi kita berdua.” Suho membela diri mati-matian.

Airmata mulai menetes di kedua ujung mata indah Seohyun. Dia tak menyangka bahwa kekasihnya akan bicara sekeras itu padanya.

“Seohyun-ssi… aku tidak…”

“Lepaskan tanganmu! Aku tahu kalau kau memiliki perasaan spesial pada Suho oppa. Kau juga menyukainya, kan? Kau ingin merebutnya dariku!” Seohyun menampik tangan Irene yang ingin menenangkannya.

Deg!
Irene merasa lunglai, kedua kakinya terasa lemas dan seakan tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Sedangkan tubuhnya sedikit bergetar. Seohyun telah membeberkan rahasia tentang perasaannya pada Suho. Gadis yang menjadi kakak kelasnya itu pasti mengetahui rahasianya dari Amber yang merupakan sahabat karibnya sendiri.

“Dari mana kau tahu? Pasti Amber yang bicara, kan?” sentak Irene yang tak kalah emosi dari Seohyun. Dia baru menyadari kalau ternyata sahabatnya sendiri berkhianat.

Seohyun tersenyum sinis, senyum kemenangan karena telah berhasil mempermalukan Irene di depan Suho.

“Hentikan! Seohyun-a, kau tidak berhak menghakimi Irene seperti itu. Lihatlah dirimu sendiri. Kau berubah terlali banyak sejak kita menjalin hubungan.”

“Oppa! Kau menyalahkanku? Setiap orang pasti berubah. Aku dan dirimu juga seperti itu. Jangan hanya menyalahkan diriku jika hubungan kita mengalami perubahan. Aku egois dan kau juga egois.”

Irene sudah muak menyaksikan pertengkaran sepasang kekasih itu. Ia berpikir apakah semua yang dikatakan oleh Seohyun tentang Suho itu benar adanya? Saat dua orang yang berdiri di depannya diam sejenak, Irene memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua dan kembali ke kelas.

“Gwaenchanayo?” tanya Amber pada Irene yang menggeletakkan kepalanya di atas meja.

Irene tak berniat menjawab pertanyaan Amber. Dia bahkan berpura-pura tidak melihat wajah Amber padahal sahabatnya itu ikut menggeletakkan kepalanya di atas meja, menatap Irene yang terlihat sedang murung.

“Irene-a…” lirih Amber.

“Jangan memanggil namaku!” ketus Irene dengan nada rendah.

“Ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya.”

Irene menegakkan tubuhnya kemudian menatap Amber nanar. “Berhentilah berpura-pura! Aku sudah tahu semuanya.”

Amber bingung. “Tahu tentang apa?”

Irene hanya melirik Amber. Dia ingin menahan emosinya. Jangan sampai dia marah-marah pada Amber saat ada banyak siswa di dalam kelas. Dia tidak ingin mempermalukan sahabatnya itu.

“Apa yang kau katakan pada Seohyun?” tanya Irene dengan suara berbisik dan sengaja mendekatkan wajahnya pada Amber agar gadis tomboy itu dapat mendengar suaranya.

Amber nampak panik. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Irene akan mengetahui semuanya. “Apa yang kau ketahui dari Seohyun?” tanya Amber balik.

“Kau malah bertanya padaku? Tanyakan saja pada Seohyun.” Irene mengangkat tubuhnya dan ingin segera pergi dari hadapan Amber. Dia sungguh telah dikecewakan oleh sahabatnya sendiri.

Sementara Irene keluar kelas, Amber duduk termenung di atas bangkunya. “Mungkin aku harus minta maaf padanya,” lirihnya. “Aku akan menyusulnya.”

Irene berjalan cepat menuju atap sekolah. Dia ingin segera menenangkan diri di tempat sepi seperti itu.

Brukk!
“Auw!” seru Irene yang tak sengaja menabrak seseorang yang tiba-tiba menyembul dari tikungan lorong kelas.

“Gwaenchana?”

Suara itu. Ya, Irene merasa tidak asing dengan suara itu. “Gwaenchana,” ucap Irene bangun dari posisi terjatuh lalu membersihkan baju seragamnya yang kotor terkena debu.

“Irene?”

Deg!
Benar, dia orangnya. Irene menundukkan kepalanga karena enggan melihat wajah seseorang yang berdiri di depannya.

“Kau benar-benar tidak apa-apa?” tanya Suho yang mulai perhatian pada Irene setelah mengetahui perasaan Irene padanya.

“Eoh. Gomawo dan… mian. Aku tidak sengaja. Bolehkan aku pergi?”

“Eoh, tentu saja. Silahkan!” Suho memberikan jalan pada Irene yang langsung menjejakkan kaki di sepanjag lorong menuju atap sekolah.

Amber heran melihat sikap Irene. Biasanya gadis itu berteriak histeris saat melihat wajah Suho, beda dengan yang baru saja terjadi.

“Irene-a!” panggil Amber namun tak digubris oleh Irene.

Amber berlari menyusul Irene namun saat dia hendak menaiki anak tangga, tiba-tiba seseorang berdiri di depannya dan mencegah dia menyusul Irene di atap sekolah.

“Ada apa?” tanya Suho.

Amber terdiam untuk mencari kata-kata yang pas menjadi sebuah rangkaian penjelasan yang akan dikatakan pada Suho. “Aku telah melakukan sesuatu yang salah. Aakh! Semua ini salahmu! Kenapa kau muncul di hadapan kami?”

“Ada apa?” Suho terus menerus bertanya. Dia bingung karena Amber menyalahkan keberadaannya. “Apa salahku?”

Amber mengepalkan telapak tangannya. Dia harus mengatakan yang sejujurnya pada Suho. “Irene marah padaku karena aku telah menceritakan semua perasaannya untukmu.” Plong! Begitu leganya setelah Amber mengatakan kejujuran.

Suho mengernyitkan dahinya hingga membuat kedua alisnya saling bertautan. “Kau bercanda, kan?” tanya Suho yang meragukan penjelasan Amber.

“Sunbae, Irene telah lama mencintaimu tetapi….”

“Tetapi apa?”

Amber menatap Suho sekilas lalu tertunduk. Diambilnya nafas dalam-dalam. “Dia mencintaimu, Sunbae. Tetapi kau telah memiliki kekasih,” jawab Amber dengan nada suara yang semakin lemah di bagia akhir kalimatnya.

Tanpa meminta penjelasan lebih lengkap dari Amber, Suho langsung bergegas menaiki anak tangga yang ada di hadapannya untuk menyusul Irene.

Tap tap tap!
Braaakk!
Suho berhasil membuka pintu lantai teratas yang terbuat dari besi.

Suara gebrakan pintu besi tadi ternyataa mampu membangunkan Irene dari lamunannya.

“Irene-a…” panggil Suho lirih.

Irene tersentak kaget, sangat kaget. Dia segera mengusap airmata yang membasahi wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan. Mata indah miliknya kentara sembab sekali. Hal itu menunjukkan lebih jelas bahwa dirinya baru saja menangis atau bahkan sedang menangis.

“O, op, oppa… Suho oppa….” Irene tidak menyangkan kalau orang yang dicintainya berada di atas atap bersama dengannya.

Suho mendekati Irene yang perlahan bangkit dari duduknya. Seberkas sinar matahari dari arah yang berlawanan dengan Suho, membuat pandangannya menjadi silau dan dengan terpaksa, ia harus menyipitkan kedua matanya agar dapat melihat Irene dengan jelas.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Suho yang kini telah memendekkan jaraknya dengan Irene.

Irene berdiri tegak dan mematung. Ia tak bisa menggerakkan anggota badannga meski hanya sedikit. Tatapan matanya tak lepas dari sosok Suho yang berdiri di depannya dan semakin mendekat ke arahnya.

“Opso. Lalu apa yang oppa lakukan di sini?” tanya Irene balik.

Suho menarik sudut bibirnya sebelah kiri, membentuk senyuman tipis di wajah kalemnya. “Menemanimu,” jawabnya singkat.

“Mwo?”

Jawaban dari Suho mampu membuat Irene penasaran dengan penjelasan di balik kata ‘menemanimu’.

Suho menghentikan langkahnya. Jarak antara diringa dengan Irene hanya sekitar 30 sentimeter. Jarak yang cukup dekat bagi dua orang yang merasa berdebar di dadanya.

Irene berusaha mengatur detak jantung dan pernafasannya. Dia gugup sekali berdiri di depan Suho dalam jarak dekat seperti itu. “Oppa….”

Tap!
Sret!
Suho memegang lengan Irene dan menariknya hingga gadis berambut hitam itu jatuh ke dalam dekapannya.

Detak jantung keduanya semakin tak beraturan.

“Kau bisa mendengar betapa tak beraturan detak jantungku?” Suara Suho terdengar sangat dekat oleh Irene.

Irene tak menjawab dengan kata-kata. DIa hanya mengangguk kecil di dalam dekapan Suho. “Oppa, lepaskan aku. Tidak seharusnya kita melakukan ini.”

“Wae?”

“Karena kau adalah kekasih Krystal.”

“Jika aku sudah tidak bersama dengan gadis itu, apakah kau ingin bersamaku?”

Deg!
Irene mendongakkan kepalanya, menatap Suho dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia ingin menanyakan banyak hal yang tersimpan di dalam otaknya namun hal itu telah terlupakan begitu saja saat tatapan matanya bertemu dengan mata sipit milik Suho.

“Aku hanya….”

Chu~
Suho tidak ingin menunggu terlalu lama untuk mendengar jawaban dari Irene. Seketika itu, dia langsung menempelkan bibirnya pada bibir tipis Irene dan melumatnya kecil.

Irene menikmati serangan bibir yang dilakukan oleh Suho. Keduanya memejamkan mata dan merasakan betapa nikmat lumatan bibir keduanya.

Adegan kiss yang dilakukan oleh Suho dan Irene rupanya disaksikan olehAmber dan Seohyun. Seohyun meneteskan airmata, tak kuasa melihat pemandangan yang membuatnya sakit hati.

“Aku menyesal… aku menyesal telah melepasnya.” Seohyun semakin terisak dalam tangisnya.

Amber menepuk bahu Seohyun dengan lembut. “Jangan kau sesali. Mungkin dia memang bukan jodohmu, Eonni. Mari kita pergi dari tempat ini.”

Seohyun pun menuruti Amber yang mengajaknya meninggalkan tempat di mana mereka bisa menyaksikan adegan ciuman antara Suho dan Irene dengan leluasa.

“Oppa….”

“Biar aku jelaskan. Aku telah memutuskan hubungan dengan Seohyun sejak minggu lalu. Itulah alasan Seohyun meninggalkan OSIS. Mian, aku baru menyadari betapa tulusnya perasaanmu padaku. Mulai hari ini, maukah kau menjadi kekasihku?”

Wajah Irene merona merah, tersipu malu. Dia menganggukkan kepalanya.

Suho dan Irene tersenyum bahagia. Akhirnya mereka dapat bersatu dan menjalin hubungan percintaan layaknya Romeo dan Juliet.

Finish

Advertisements

One thought on “[Oneshoot] Life: This Feeling

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s