FOREVER IN LOVE (CHAPTER 3 – END)

FOREVER IN LOVE (CHAPTER 3END)

Forever In Love New

Author                        :  Vera Riantiwi

Tittle                           : Forever In Love

Length                        : Three shoot

Cast                            : –  Im Yoona Girls Generation

–  Lee Donghae Super Junior

– Kim Heechul

Other Cast                 : All Member Super Junior & All Member SNSD

Genree                        : Romance, Sad, Tragedy

Author Note   : Annyeong !! Chingu…. Im Come back….. adakah yang merindukan aku!!!! Kekekeke….. aku hadir dengan cerita baru… selamat membaca…. Semoga kalian suka…

Author No Comment deh,,,,, ^^

Happy Reading dan yang terpenting ‘Maafkan atas banyaknya Typo’

Disclaimer : ini hanya sebatas ff. Jadi mereka yg disini hanya pinjam. Terinspirasi oleh pemikiran sendiri, so

DON’T COPAS!!!

Ke Esokkan Harinya

Yoona POV :

 

Dinginnya lantai pualam dan penyejuk ruangan yang terpasang maksimal membuat Yoona tersadar. Lamat-lamat, dia membuka matanya, dan mulai beradaptasi dengan cahaya remang di ruangan itu. Denting piano dan nyanyian lembut seorang namja memenuhi pendengarannya.

“Hayan dressreul ibeun geudae tuxedoreul ibeun naui moseup. Balguhreumeul matchumyuh guhdneun woori juh dalnimgwa byuhre.”

Tempat ini! Sungguh, dia tak ingin lagi berada di tempat itu untuk alasan apa pun. Tak ingin mendengar dentingan piano, yang dulu selalu bisa membuatnya luluh. Tidak! Bahkan untuk sekadar memberikan pelukan hangat pada namja yang sedang bernyanyi itu, dia tidak mau.

Yoona meremas kencang rambutnya saat ribuan paku terasa menghujam kepalanya. Matanya terpejam. Jika saja dia bisa berteriak pada namja yang sedang bernyanyi sambil memainkan piano itu, pasti dia sudah melakukannya. Namun, dia tak dapat berbuat apa-apa. Seluruh tubuhnya juga merasakan sakit yang sama. Yoona hanya bisa meringis sambil menahan napasnya.

Argh… appoyo… Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Yaa Tuhan…. I… ini… sangat sakit…. Sakit sekali. Apa dia menyiksaku lagi? Argh… Kapan dia membawaku ke sini? Seingatku….

Dengan kepala yang masih didera sakit yang sangat hebat, Yoona berusaha mencoba mengingat hal-hal yang dia alami seharian tadi. Bangun tidur, sarapan, bermain bersama Yuri, latihan, Sooyoung yang kelaparan, dan….

Tubuh Yoona bergetar mengingat kejadian di pantry. Harusnya siang tadi indah, karena tanpa disengaja, Donghae juga bertugas mengambil makanan, dan mereka bertemu di pantry. Hanya dalam hitungan detik senyumnya berganti raut kepanikan dan ketakutan. Donghae terjatuh, persis di hadapannya. Seorang namja berdiri tegak sambil memegang pisau berlumuran darah. Belum sempat Yoona berbuat apa-apa, namja itu menutup hidung Yoona dengan sapu tangan berbau menyengat. Setelah itu, dia tak tahu apa-apa lagi.

“Hae… Donghae oppa! Apakah Oppa selamat? Yuri Eonni? Pasti Yuri Eonni mencariku. Mianhae Yul Eonni. Aku merepotkanmu lagi, Eonni. Tuhan, selamatkanlah Donghae oppa. Aku bersedia membayar dengan apa pun, termasuk nyawaku, asal dia selamat. Oh ya, tolong jaga Yuri Eonni dan member lainnya. Aku tak mau mereka bersedih karenaku.“Yoona terisak pelan.

“Kau sudah sadar, Im Yoona?” Namja itu menghentikan permainan pianonya, dan menghampiri Yoona yang tergeletak di lantai.

“A… apa yang sudah k… kau lakukan pada Donghae oppa?” Yoona mencoba duduk, meski tak ada tenaga tersisa dalam tubuhnya.

Namja itu mengusap rambut Yoona, pelan. “Aku hanya mengamankan cintaku. Kau.”

“Kenapa Oppa begitu jahat? Sadarlah Oppa, dia adalah teman satu grupmu.”

“Kau tahu kan, aku tidak suka main-main? Aku membuktikan ucapanku. Andai saja kau mau menurutiku, pasti tak akan ada kejadian seperti ini. Aku tahu apa yang kalian lakukan kemarin.”

“Aku juga tahu yang Oppa dan Sica eonnie lakukan.”

Namja itu menggenggam lembut jemari Yoona, lalu mengecupnya. “Aku hanya mencintaimu, Deer.”

Yoona bergidik ngeri. Perutnya serasa diaduk-aduk. Matanya terpejam, tak sanggup melihat tangannya digenggam oleh tangan yang telah mencelakakan Donghae. Bagaimana pun, cintanya pada namja ini telah hilang tak bersisa. Hanya ada kebencian yang makin memuncak.

“Buka matamu, Chagiya.” Kecupan namja itu mendarat di kelopak mata Yoona.

“Lepaskan aku, Oppa.” Berontak Yoona.

“Tidak akan pernah. Aku sudah mendapatkanmu. Tidak akan aku biarkan kau lepas lagi. Tetaplah di sini. Aku tak mau kehilanganmu lagi, Nyonya Kim.”

Namja itu melingkarkan tangannya ke tubuh Yoona. Matanya menelusuri setiap senti wajah Yoona yang semakin memucat. Wajah itu bukanlah Yoona yang dia kenal. Bukan alligatornya. Baru sekali ini dia melihat Yoona sepucat itu. Rasa sesal muncul dalam hatinya, mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Yoona, tadi. Emosinya yang sudah sampai batas tertinggi membuatnya kehilangan kesabaran, hingga membanting Yoona berkali-kali ke lantai. Kebersamaan Yoona dan Donghae di depan matanya, kemarin, tak termaafkan.

“Mianhae Yoong, aku sudah menyakitimu.” Namja itu merengkuh Yoona ke dalam pelukannya. “Saranghae, Im Yoona. Ah, aniyo. Kim Yoona. Marry me?”

“Oppa… hiks! Ba… bagaimana bisa aku hidup denganmu? Aku lelah menerima siksaanmu. Lepaskan aku.” Dengan sisa-sisa tenaga, Yoona berusaha melepaskan diri dari pelukan namja itu.

“Kau membuatku marah, Kim Yoona!”

“Stop Oppa… Stop memanggil ku Kim Yoona. Nama ku Im Yoona bukan Kim Yoona.” Yoona masih berusaha untuk melepaskan diri dari laki-laki pysco ini.

Namja itu melepaskan Yoona dari pelukannya. Tangan kanannya mendorong Yoona dengan sangat kuat, hingga membentur tembok. Tangan kirinya menggapai-gapai laci meja. Yoona memejamkan matanya lagi. Nyeri di belakang kepalanya terasa sangat menusuk. Tengkuknya terasa hangat oleh cairan kental yang mengalir perlahan. Dia bisa merasakan saat namja itu mengikat kaki dan tangannya. Namun, tak ada lagi kekuatan tersisa untuk berontak.

“Baiklah, jangan salahkan jika aku berbuat kasar padamu.”

“Perbuatlah semaumu, Oppa. Jika Donghae oppa tak selamat, buatlah aku secepatnya bertemu dengannya. Argh…” Ucap Yoona dalam hati sambil menahan sakit diseluruh tubuhnya.

Airmata Yoona kembali menetes, seiring darah yang mengalir dari tangan kirinya. Pisau tajam namja itu kembali bermain di sana. Yoona menggigit bibirnya, kuat-kuat. Napasnya terhenti. Sebisa mungkin dia berusaha menahan sakit yang mendera. Kesadarannya perlahan-lahan lenyap.

*****

Yuri POV :

 

“Yuri-ya, makan ya?” Tiffany mendekatkan sesendok sereal ke mulut Yuri.

Yuri menggeleng pelan, sambil menjauhkan sendok yang dijulurkan Tiffany dari mulutnya. Rasa laparnya hilang, meski dia belum makan sejak kemarin. Yang ada hanya kekhawatiran akan keselamatan seorang yang sudah seperti kembarannya sejak duabelas tahun lalu.

Bersama member SNSD lain, dia sudah menjelajah seluruh ruangan di kantor SM. Juga ke tempat-tempat yang Yuri tandai di bookmark iPadnya sebagai tempat yang pernah dikunjungi Yoonhae. Terakhir, mereka ke dorm Suju. Namun, hasilnya nihil. Yoona seolah lenyap ditelan bumi.

Siang tadi, pihak SM memanggil mereka berdelapan. Mereka disidang, seolah mereka adalah terdakwa. Meski mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka masih bisa bersikap tenang. Namun, kemarahan dan sakit hati mereka tak terbendung saat pihak SM menuduh Yoona sebagai pelaku penusukan Donghae. Taeyeon menggebrak meja, Tiffany memaki dengan bahasa Inggris, Sooyoung mencengkeram kerah ahjussi itu, dan menyarangkan bogem mentah ke wajahnya. Tak ada bukti Yoona pelakunya, meski dia hilang saat Donghae ditemukan.

“Yoong, sudah malam. Apa kau sudah makan serealmu?” Yuri memeluk erat boneka Rilakkuma milik Yoona, yang sudah basah oleh airmatanya.

“Yul… kalau kau mau makan, all my snack is for you,” bujuk Sooyoung. Untuk kali ini, dia berucap itu sepenuh hati. Apa pun akan dia lakukan untuk membuat Yuri kembali ceria, termasuk memberikan seluruh harta karunnya.

“Kau boleh main game di laptopku,” tambah Sunny.

“Eonnie, kau bisa sakit kalau begini terus. Manusia perlu makan sebagai sumber energi. Tanpa itu….”

“Pst, Seobaby.” Hyoyeon menarik tangan Seohyun. “Bukan waktunya membahas teori.”

“Kalian istirahatlah. Pasti lelah setelah mencari Yoona dan disidang SM. Mianhae, Yoona merepotkan kalian.”Ucap Yuri dengan lirih.

“Apa yang kau katakan, Yuri-ya? Yoona dongsaeng kami. Kekhawatiran kami sama sepertimu.” Sunny menggenggam jemari Yuri, erat. “Kau harus semangat, ya. Untuk Yoona.”

Mata Yuri berkaca-kaca. Dia menatap temannya satu persatu, yang malam ini berkumpul di sekeliling tempat tidurnya. Tae, Fany, Youngie, Hyunnie, Sunny Bunny, dan Hyoyeon. Tak ada Sica. Saat mereka mencari Yoona, Jessica hanya ikut sebentar, kemudian tidur di practice room. Yuri yakin, Jessica tahu keberadaan Yoona.

“Yul.” Taeyeon duduk di kasur Yuri, membelai lembut rambut membernya yang superjahil itu. Biasanya, malam begini, Yoonyul selalu berbuat kejahilan. Tapi, kini mereka terpisah dengan cara yang sangat menyakitkan.

Taeyeon menghela napas, berat. Airmatanya hampir jatuh. Namun, dia tak mau menunjukkan kesedihannya di depan Yuri, dan membuat Yuri semakin lemah. Baginya, masih jauh lebih baik menunggu si kembar kencan hingga lewat tengah malam, atau mendamaikan peperangan antara Yoonyul dan Tiffany, dibanding harus melihat Yuri seperti itu, tanpa Yoona. Perasaannya saat ini persis seperti saat dia mendengar Yoona berteriak ketakutan di rumah sakit, dan Yuri yang menangis di balik gorden.

“Waeyo, Taeng eonni?” tanya Yuri, lemah.

“Apa kau tahu sesuatu? Apa ada yang mencurigakan dari Yoona sebelum kejadian itu?”

Yuri menunduk dalam. Semuanya sudah terjawab. Ketakutan hebat Yoona akan pisau, psikosomatis, cerita Donghae di rumah sakit, ancaman yang diterima Yuri pada malam hari, igauan Yoona, luka di telapak tangan kanan Yoona, namja penjahat, pesan Yoona pada Donghae, semua mengarah pada satu kesimpulan.

“Yul, kemarin kau langsung mencari Yoona, padahal Donghae oppa di hadapanmu.” Ucap Sunny.

“Yoo… Yoona sudah mempunyai firasat, Taeng Eonni. Malam harinya, di… dia…. hiks! Hiks!”

Sooyoung melarikan Yuri ke pelukannya. Ucapan Yuri barusan membuatnya bergetar. Bermacam pikiran buruk melintas di kepalanya. Sooyoung yakin, pikiran seperti itu juga yang mengganggu Yuri.

“Minum dulu, Eonnie.” Seohyun menyodorkan segelas air pada Yuri. “Aku tahu, masalah ini sangat berat untukmu. Berbagilah dengan kami.”

“Seobaby, gomawo.” Yuri meminum sedikit air yang diberikan Seohyun, kemudian menarik napas dalam-dalam. “Baiklah. Aku akan menceritakannya.”

Sooyoung, Tiffany, Hyoyeon, Seohyun, Sunny, dan Taeyeon duduk melingkar sambil saling bergenggaman. Tangan kanan Yuri digenggam Taeyeon, dan tangan kirinya di genggaman Sooyoung. Aliran energi terjalin begitu kuat di antara mereka. Meski hanya bertujuh, namun mereka bisa merasakan kehadiran Yoona di antara mereka.

“Kita bersembilan. Meski malam ini hanya bertujuh, kita akan selalu bersembilan. Apa pun yang terjadi, kita tetap bersembilan,” ucap Taeyeon. “Tuhan, kami mohon, lindungi Yoona di mana pun dia berada saat ini. Jagalah dia untuk kami. Juga, beri kekuatan pada Yuri. Kami tahu, ini tak mudah baginya. Izinkan kami tetap bersembilan.” Ucap Taeyeon yang masih menahan air matanya.

*****

 

Kyuhyun POV :

 

“Ottokhe?” tanya laki-laki itu

Ottokhe? Ayo, pikirkanlah, Oppa! Kau kan pintar!“ tanya balik yeoja itu.

“Nde. Nde. Besok aku akan menemuimu.”

Pikirkan sekarang! Bukan besok! Kalau kau tak berpikir, kita putus!

Percakapan diputus dari seberang. Kyuhyun menatap layar ponselnya, nanar. Nama “Lovely Shikshin” masih ada di daftar panggilan masuk. Bukan kata cinta atau ucapan manja yang Kyuhyun dengar barusan. Melainkan, sederet kecurigaan Yuri pada kasus penusukan Donghae dan hilangnya Yoona. Tak hanya itu, cintanya terancam kandas jika dia tak bisa menyelesaikan kasus itu, dan membawa kembali Yoona dengan selamat.

Youngie, pabo, kenapa harus aku yang kau suruh menyelesaikan kasus ini? Kenapa bukan Siwon hyung dan Yuri yang sudah curiga sejak awal? gerutu Kyuhyun dalam hati.

Sorry sorry sorry sorry. Naega naega naega meonjeo. Nege nege nege ppajyeo. Ppajyeo ppajyeo beoryeo, baby.

“Yeoboseyo, My Youngie.”

Berhenti mengataiku ‘pabo’, atau kita putus saat ini juga?! Kau tahu, Yuri depresi, dan Siwon Oppa  sibuk syuting. Tak mungkin aku serahkan kasus ini ke mereka. Lagipula, kau satu dorm dengan terduga kasus ini. Ayolah Oppa, sesekali berbuat baik tak akan mengurangi keevilanmu.

Kyuhyun tertegun beberapa detik. Dari mana dia tahu pikiranku?

Hei, jangan remehkan kemampuanku membaca logikamu, Oppa? Benar kan, kau berpikir seperti itu? Aku sudah memperhitungkannya.

“Baiklah, Sooyoungie, Chagiya.”

Nah, seperti itu. Annyeong jumuseyo, Oppa. Selamat berpikir.”

Kyuhyun menarik napas, dalam-dalam. Pelajaran logika berpikir yang pernah dia berikan pada Sooyoung, kini berbalik menyerangnya. Kyuhyun mengambil kertas dan pulpen, kemudian mencatat kecurigaan-kecurigaan Yuri yang disampaikan Sooyoung. Daftar kecurigaan itu menambah kuat dugaannya akan pelaku kasus ini. Kyuhyun hanya perlu waktu mengungkapkannya.

Terdengar suara pintu dorm terbuka. Kyuhyun buru-buru menyembunyikan kertas dan pulpennya di saku celana, dan kembali mengambil PSP. Wajahnya disetel serius, sebagaimana biasanya dia saat bermain Starcraft. Tak usah melirik lagi ke pintu, Kyuhyun tahu siapa yang baru pulang.

“Belum tidur, Kyunnie?” Heechul menjatuhkan tubuhnya di sebelah Kyuhyun, tanpa melepas jaketnya.

“Sebentar lagi. Kalau aku menang, aku akan tidur.”

“Kalau kau kalah?”

“Aku tidur juga.”

Heechul menepuk jidatnya. “Apa bedanya?”

“Jelas beda. Kalau menang, aku tidur dengan nyenyak. Kalau kalah, aku tidur sambil mengatur strategi.” Kyuhyun mengalihkan pandangannya sejenak dari PSP. “Aku heran padamu, Hyung. Yoona hilang, tapi kau tenang-tenang saja. Kalau Youngie yang hilang, pasti aku sudah jungkir balik mencarinya.”

“Maksudmu?” Heechul menegakkan badannya.

“Aku yakin, kau pasti tahu di mana Yoona.”

“Kalau aku tahu, aku pasti sudah menemukannya. Dia gadisku.”

“Yoona bersama Hyung, kan?” Kyuhyun menatap Heechul, dalam-dalam. Huh, namja ini! Mukanya terlalu cantik untuk aku curigai. Tapi, aku tak bisa untuk tak curiga.

“Hei, apa maksud perkataanmu?”

“Yoona bersama Hyung, kan?” ulang Kyuhyun. “Dari kemarin kau bersamanya, kan?”

“Huh! Dasar kau evil pabo!” Jitakan Heechul mendarat di kepala Kyuhyun. “Mana bisa begitu? Kemarin aku mencari Yoona, lalu menjenguk Hae-ah.”

“Keadaannya buruk.”

Heechul mengangguk. “Sangat buruk. Kalau pun dia sadar, mungkin juga tak akan ikut SMTown Seoul.”

“Kalau begitu, kau harus bisa mengembalikan Yoona pada teman-temannya, Hyung. Kasihan mereka. Mereka kan harus latihan. Cukup Donghae Hyung dan Siwon Hyung saja yang tidak ikut.” Ucap Kyuhyun masih memancing agar Heechul mau mengaku.

“Ya! Kau! Kenapa ucapanmu terkesan aku yang menculik Yoona? Kau juga mau bilang aku yang menusuk Donghae?”

Eh? Apa katanya barusan? Menculik? Aku kan tidak menyebut kata-kata itu. Aku cuma memintanya mengembalikan Yoona. Bisa saja kan, Yoona yang meminta perlindungan pada Hyung karena takut pada orang yang sudah menusuk Donghae Hyung. Ckckck….

“Kau terlalu mengada-ada, Kyu!” kata Heechul sinis.

“Ya! Apa memang namja menjadi seemosional ini, kalau yeojanya menghilang? Huh, Youngie, awas saja kalau kau berani menghilang. Kau hanya boleh menghilang bersama namja tertampanmu ini.” Kyuhyun mengacak rambutnya, sambil melirik Heechul dengan ekor matanya.

“Apa aku bilang? Dia gelisah. Tapi, di mana dia menyembunyikan Yoona?”ucap Kyuhyun dalam hati.

“Huh! Evil narsis!” Heechul melengos, menyembunyikan wajahnya dari Kyuhyun.

“Semalam kau tidur di mana, Hyung?” tanya Kyuhyun lagi sebelum Heechul pergi dari kamarnya.

“Aku menemani Donghae hingga pagi.” Jawab Heechul singkat.

“Mwo? Kemarin pagi aku ke sana tapi tidak bertemu Hyung.” Kata Kyuhyun lagi.

“Ketahuan kau hyung. Kau sedang berbohong aku tahu saat ini kau sedang mencari alasan untuk menjawab pertanyaanku.”gumam Kyuhyun dalam hati sambil melihat gerak gerik Heechul yang mencurigakan.

“A… aku pasti sudah pulang. Aku pulang pagi-pagi sekali, karena harus mencari Yoona.” jawab Heechul dengan gugup.

“Huft… kasihan sekali Donghae Hyung malam ini tak ada yang menemani. Baiklah, biar aku yang menemaninya. Kalau dia sadar, pasti dia butuh seseorang untuk membantunya.” Ucap Kyuhyun pelan.

“Kau mau ke rumah sakit?” tanya Heechul pada Kyuhyun.

“Ne. Hyung mau ikut ke Rumah sakit juga?” kata Kyuhyun.

“Aniyo. Aku lelah.” Jawab Heechul singkat.

Kyuhyun menyambar kunci mobilnya di atas rak. Dia menyembunyikan senyum evilnya dari pandangan Heechul. Tekadnya sudah bulat untuk menjadi evil baik hati. Semua demi cinta dan sahabatnya.

Kau pikir aku percaya kau semalaman menjaga Donghae Hyung? Kalau pun benar, pasti kau hanya ingin memastikan kalau Donghae Hyung sudah tiada. Donghae Hyung tidak selemah itu, Hyung. Aku akan buktikan kalau kau semalam berada di suatu tempat yang aku tak tahu, bersama Yoona. Maafkan aku, Hyung. Aku tidak membencimu. Hanya tak suka dengan caramu yang seperti ini. Dan aku tidak ingin melihat Sooyoung sedih dan melihat Yoona tersaki Hyung. Karena Yoona sudah aku anggap Dongsaeng ku.

*****

Taeyeon Pov :

Taeyeon menjatuhkan tubuh mungilnya ke atas kasur Yoona. Otaknya penat setelah memberikan keterangan pada pihak SM. Bukan karena pertanyaan yang susah dan menjebak, Taeyeon cukup pintar dalam mengatasi itu. Tapi karena yang menanyai bukan orang yang terbiasa menangani kasus. SM menutup rapat-rapat kasus ini, hingga tak ada satu pun media dan polisi yang tahu.

Menjelang sore, dorm sangat sepi. Hanya ada Yuri dan Sooyoung. Seohyun sedang menggantikan Yoona fashion show, sedangkan Tiffany menggantikan Yuri menjadi MC di acara amal. Hyoyeon dan Sunny syuting Invincible Youth 2, dan Jessica sedang ada interview untuk majalah. Meski hari ini adalah hari libur mereka, namun mereka tetap punya kegiatan masing-masing.

“Bagaimana, Taeng Eonni? Apa kau sudah menjelaskannya?” tanya Sooyoung, sambil menyuapi Yuri makan.

“Ne. Agak sulit meyakinkan mereka kalau Yoona tak terlibat. Posisinya memang sulit. Tak ada alibi. Huh, lebih baik aku menjelaskan pada polisi sungguhan.”

“Khamsahamnida, Taeng Eonni. Tidak apa-apa kok.” ucap Yuri, lirih. Matanya masih sembab. Setiap teringat Yoona, dia pasti menangis. Hari ke tiga Yoona menghilang, Yuri bahkan tak sanggup lagi untuk bangkit dari tempat tidurnya.

“Ya! Yuri-ya! Kenapa sungkan begitu? Kau pikir aku tak peduli pada Yoona? Kau pikir hanya kau yang khawatir padanya?” Taeyeon membuang pandangannya ke langit-langit kamar. Setetes air mengalir dari sudut matanya. Hatinya sakit tiap mengingat tuduhan pihak SM pada Yoona. Begitu juga setiap kali dia melihat Yuri. Namun, dia harus terlihat lebih kuat dibanding member lainnya. Dia tahu, Yuri membutuhkannya.

Senyum Taeyeon mengembang saat melihat foto Donghae tertempel di langit-langit kamar, persis di atas tempat tidur Yoona. Buru-buru dia mengalihkan pandangan ke atas tempat tidur Yuri. Perkiraannya tepat. Foto Siwon juga terpajang di situ.

Kembar yang aneh. Pantas Yuri sangat tertekan. Huft, untung bukan dia yang tadi menghadap detektif-wanna-be SM. Tapi, kasus ini betul-betul membuatku penasaran. Oke, Yoona diculik Heechul oppa. Tapi, diculik ke mana? Jangan-jangan, Heechul oppa malah membawanya menghadap pendeta. Pikir Taeyeon.

“Waeyo, Taeng Eonni?” tanya Sooyoung heran melihat ekspresi Taeyeon

“Mendongaklah.” Ucap Taeyeon.

Sooyoung mendongakkan kepalanya. “Ya! Ada Choi Siwon Oppa! Hahaha…. Pasti kau selalu memandanginya sebelum tidur. Ya kan, Yul? Hahaha…. Ke mana dia ya? Kenapa dia tak perhatian lagi pada anaenya?” ledek Sooyoung.

“Hua….” Tangisan Yuri makin pecah mendengar perkataan Sooyoung.

“Ya! Choi Sooyoung! Apa yang kau katakan?!” Taeyeon melompat ke kasur Yuri, dan langsung memeluk gadis itu.

“Eh, a… aku… Mianhae, Yul. Aku tak bermaksud apa-apa. Aku tahu Siwon Oppa sibuk syuting. Pasti dia juga khawatir padamu.” Ucap Sooyoung berusaha menenangkan Yuri.

“Sudah, sana! Biarkan aku menenangkannya dulu.” Usir Taeyeon pada Sooyoung.

Sooyoung melangkah ke kasur Yoona dengan perasaan bersalah. Sungguh, dia tak berniat menyakiti Yuri. Ucapannya keluar begitu saja. Sooyoung mengambil boneka Rilakkuma terkecil, yang ada di dekat bantal Yoona. Keningnya berkerut.

“Eh?”

“Kenapa, Youngie?” tanya Taeyeon.

“Aniyo. Aku kira ini boneka. Ternyata buku.” Jawab Sooyoung.

“Apa?”

“Hiks! I… tu buku harian Yoona,” sahut Yuri, masih sesengukan. “Ta… tapi, aku tak pernah membukanya.”

“Kalau begitu, ayo kita buka. Aku bacakan untukmu, Yul.” Sooyoung menghampiri Yuri, lalu duduk di sebelah Taeyeon. Dia membaca setiap halaman dengan hati-hati.

0422
Ternyata Heechul oppa baik juga. Aish, kenapa harus selama ini aku menyadarinya? Haruskah aku mulai mencintainya? Tapi, hatiku hanya untuk Donghae oppa. Tak mungkin terbagi.

0424
First Anniversary Yoonchul. Chukkae. Selamat untukku yang berhasil melalui setahun hubungan tanpa cinta. Kekeke… Aku tak yakin dengan kata-kataku barusan. Kejutan indah di apartemennya berhasil membuatku… hm… deg-degan. Aish, cintanya begitu besar dan membuatku mabuk. Ya, ya, ya. Mulai hari ini, aku akan membuka hati untuknya.

“0424?” Yuri mengerutkan kening.

“Waeyo?”

“Itu… bentuk goresan di telapak tangan kanan Yoona.”

“Sepertinya analisismu kemarin tepat, Yul. Kyuppa juga bilang padaku kalau malam setelah kejadian, Heechul Oppa tidak pulang ke dorm.”

“Di mana dia?” tanya Taeyeon, penasaran.

“Aniyo. Dia bilang menjaga Donghae Oppa. Tapi, kata Kyuppa, malam itu tak ada satu pun member yang berjaga. Perawat ruangan Donghae Oppa yang bilang begitu.”

“Hm… kasus ini makin jelas. Tapi, di mana Yoona?” Taeyeon menggaruk-garuk kepalanya. “Youngie, coba baca lagi. Pastikan ada kata-kata ‘apartemen’ di situ!”

Sooyoung membaca lagi tulisan di diary Yoona dengan hati-hati. Jemarinya menelusuri setiap kata di diary itu, agar tak ada yang terlewat. Tak lama kemudian, dia mengangguk mantap.

“Pasti. Aku hitung, ada sekitar lima belas kali penyebutan. Mungkin sekarang Yoona di sana. Tapi, apartemen mana? Kyuppa tak pernah bilang ada hyungnya yang punya apartemen.”

“Tsk! Yoongie, pabo! Kau betul-betul main api! Aku tahu kau baik pada siapa pun. Tapi, ini sudah keterlaluan!”

“Pst… Taeng!”

Dengan isyarat matanya, Sooyoung menyuruh Taeyeon diam. Yuri menutup wajahnya dengan boneka Rilakkuma. Namun, Sooyoung dan Taeyeon tahu, Yuri sedang mencoba menahan isakannya. Perlahan, Taeyeon mengusap rambut Yuri, seraya menyingkirkan boneka Rilakkuma dari wajah Yuri.

“Mianhae Yul, aku sudah berpikiran buruk pada Yoona.” Ucap Taeyeon menyesal.

Yuri semakin terisak. Bukan ucapan Taeyeon yang melukai hatinya. Namun, membayangkan Yoona bersama namja yang pernah menyakitinya, sangat membuat Yuri khawatir. Tiga hari Yoona menghilang. Apa pun bisa terjadi.

“Tuhan, aku mohon, jagalah Yoona. Situasi ini terlalu buruk, bahkan untuk aku bayangkan. Aku sangat berharap bisa segera menemukannya dalam keadaan selamat. Bantu aku, Tuhan. Yoona sangat berharga untukku. Dan aku belum siap untuk kehilangannya Ya Tuhan.” Doa Yuri dalam hati.

*****

 

Yoona POV :

 

“Jeongmal saranghae, Kim Yoona.” Namja itu memeluk Yoona, dari belakang. “Kau milikku seutuhnya.”

Yoona menggerakkan sedikit tubuhnya yang masih meringkuk di atas tempat tidur king size. Dia tak suka dengan perlakuan namja itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, meski tangan dan kakinya tak lagi terikat.

“Aaa….” ucap Yoona, parau.

“Ada apa, Chagiya? Kau haus?” Namja itu membalik tubuh Yoona, sehingga berhadapan dengannya.

Yoona mengangguk lemah. Sejak namja itu menculiknya, tak sedikit pun namja itu memberikannya makan dan minum. Tubuhnya sangat lemas. Bahkan, untuk membuka matanya dengan sempurna, dia sudah tidak mampu. Hampir sekujur tubuhnya penuh luka goresan. Seprai putih yang menutupi kasur itu juga bebercak darah.

“Kau tahu Deer, seperti itulah yang aku rasakan saat bersamamu. Aku kehausan cintamu. Sayangnya, kau tak pernah mau memberikannya sedikit pun padaku.”

“Oppah… hhh… kau… ja… hat,” desis Yoona, dengan sisa-sisa tenaga. Tenggorokannya terasa makin kering dan panas.

“Kau lebih jahat dariku. Selama setahun berpura-pura mencintaiku. Padahal? Huh!” ucap laki-laki itu dingin.

“A… ku… pernah… mencintaimu.” Jawab Yoona pelan.

“Pernah? Pernah, katamu? Hanya sebatas ‘pernah’? Aku mencintaimu tanpa batas!” ucapnya sinis.

“Apa… yang begini… yang kau sebut cinta, Oppa….”

“Berhenti menanyakan hal itu! Kau milikku! MILIKKU! Aku bebas melakukan apa saja semauku.”

“Lepaskan aku….”

“Huh! Kau ini benar-benar pembangkang! Sudah berapa kali aku katakan, aku tak akan melepaskanmu! Selamanya kau ada di sini!”

“A… ku….”

“Huh! Sepertinya pelajaran dariku belum cukup!” Namja itu kembali membalik tubuh Yoona, hingga membelakanginya. “Jangan salahkan aku. Kau yang meminta.”

Yoona menggeliat lemah saat pisau tajam namja itu menggores punggungnya. Airmatanya menetes satu persatu, menandakan rasa sakit yang mendera. Tangannya mencengkeram seprai, kuat-kuat. Lamat-lamat, pandangannya semakin gelap. Sakitnya berangsur hilang. Yoona merasa tubuhnya seringan kapas.

“Yuri Eonni, jangan mencariku lagi. Lanjutkan saja hidupmu. Kau saudara terbaik yang pernah aku miliki. Terima kasih untuk semuanya. Maafkan aku”. Mata Yoona terkatup rapat.

Yuri POV :

“Andewe Yoong, jebbal jangan tinggalka Eonni, kembali lah Yoong. Kajima…..” isak Yuri dalam tidurnya.

“Yoong… Im Yoona Kajima… Andewe kau tak boleh pergi jauh dari Eonni. YOONNAA Kembalilah…”Pekik Yuri.

Mendengar teriakan tragis Yuri Sooyoung langsung berlari lagi masuk kekamar Yuri. Disana dia melihat Yuri yang teriak memanggil nama Yoona.

“Yul, irrona… jebbal irrona jangan membuat aku takut..” ucap Sooyoung bergetar sambil terus berusaha membangunkan Yuri.

“Kwon Yuri IRRONNA….” Teriak Sooyoung baru setelah itu Yuri terbangun dan dia mencari Yoona.

“Soo, Yoona Eodi? Cegah dia jangan biarkan dia pergi meninggalkan kita. Ayo kita cegah Yoona, Soo.” Rancau Yuri.

“Yoona eonni tidak ada disini Yul Eonni… hikkss…” ucap Seohyun yang tidak tega melihat keadaan Yuri saat ini dan dia memikirkan Yoona karena Yoona adalah Eonni yang paling menyayanginya. Karena teriakan Sooyoung Seohyun yang memang baru kembali dari jadwalnya sedang berada di ruang tamu untuk istirahat terkejut mendengar pekikkan Sooyoung.

“Hikk…. Soo. Othoke… sebenarnya Yoona dimana? Perasaan ku tidak enak saat ini.” Rancau Yuri lagi.

“Tenang, Yul. Semua sedang mencari Yoona. kita berdoa semoga Yoona baik-baik saja ne.” ucap Taeyeon lembut sambil memeluk Yuri erat untuk menenangkannya.

Siwon menerobos masuk begitu Seohyun membukakan pintu dorm untuknya. Pikirannya tak tenang setelah menerima telepon dari Taeyeon saat syuting tadi. Meski tanpa izin dari directornya, Siwon tetap pergi dari lokasi. Dia tak peduli tatapan kecewa dari yeoja-yeoja lawan mainnya. Yang ada di pikirannya hanya Yuri.

“Baby!” seru Siwon, sambil membuka pintu kamar Yoonyul.

“Pst….” Seohyun meletakkan telunjuknya di depan bibir, menyuruh Siwon tenang.

Siwon mengangguk pelan, meski hatinya tetap tak tenang. Dia belum bertemu Yuri. Namun, suasana di ruangan itu sangat membuatnya khawatir. Di atas tempat tidur Yoona, ada Sooyoung yang masih sesengukan di pelukan Sunny. Tiffany terisak di pojok kamar. Taeyeon dan Hyoyeon duduk di dekat Yuri, yang terbaring di balik selimut tebal. Mata keduanya sembab. Siwon mendekati Yuri, lalu mengecup kening gadis itu dengan penuh cinta.

Baby, mianhae…. Harusnya aku menemuimu lebih awal. Harusnya aku bersamamu sejak kejadian itu. Harusnya aku….

Setetes air jatuh dari sudut mata Siwon. Rasa bersalah memenuhi hatinya. Dia sudah mendengar dari teman di grupnya kalau Yoona hilang dan Donghae menjadi korban penusukan orang tak dikenal. Kalau saja bisa, dia ingin berada di sisi Yuri, seketika itu juga. Kemudian memberikan gadis itu pelukan terhangat untuk menenangkannya dan memberikan kekuatan, sambil bertukar analisis. Namun, dia tak bisa mendapatkan izin syuting, bahkan untuk sekadar menemani Yuri beberapa menit. Puncaknya tadi, saat Taeyeon mengucap maaf berkali-kali padanya, dan memberitahu kondisi Yuri menurun. Kekhawatiran Siwon menjadi kenyataan. Perlahan, Siwon menggenggam jemari Yuri, lalu mengecupnya.

Panasnya sangat tinggi. Kau pasti sangat tertekan. Mianhae… Jeongmal mianhae… Bangunlah, Mrs. Choi. Aku tak mau melihatmu begini. Biarkan aku ikut merasakan sakitmu.

“Apa kau tahu Yoona hilang?” tanya Hyoyeon, sambil mengganti kompres di kening Yuri.

“Ne. Kyuhyun yang memberitahuku. Mianhae, Hyo. Aku baru bisa kesini karena belum mendapat izin” ucap Siwon dengan penuh penyesalan.

“Kami yang harusnya minta maaf karena sudah mengganggu syutingmu Oppa, dan tak bisa menjaga Yuri,” tambah Taeyeon.

“Gwenchana, Taeng. Aku sangat berterima kasih karena kalian telah merawat Yuri dengan sangat baik. Pasti hal ini sangat berat untuknya.”

“Ne. Mereka memang sudah seperti saudara kembar.” Taeyeon mengacak rambut Yuri, lembut. “Kemarin Yuri masih bisa makan meski sedikit, dan masih bisa bercerita. Dari semalam, suhu tubuhnya terus naik, dan dia berkali-kali mengigau. Kami sangat khawatir.” Jelas Taeyeon pada Siwon tentang kondisi Yuri saat ini.

“Apa dia sudah minum obat?” tanya Siwon.

“Semalam dokter memberinya obat. Tapi, panasnya hanya turun sebentar, lalu naik lagi.”

Siwon menatap Yuri yang masih lelap. Guratan di wajah Yuri menandakan kesedihannya yang sangat mendalam. Dengan lembut, Siwon mengusap setitik air yang jatuh dari sudut mata Yuri.

“Yoong… jangan pergi, Yoong. Aku mohon….”

“Hentikan igauanmu, Yuri-ya! Yoona baik-baik saja! Iya, kan?! Yoona baik-baik saja!” teriak Sooyoung, dengan suara bergetar. Tangisnya pecah di pelukan Sunny.

“Baby, ada apa? Bangunlah…. Apa yang kau khawatirkan?” Siwon berusaha membangunkan Yuri dari igauannya.

Airmata Yuri jatuh makin deras, meski matanya tak juga terbuka. Tubuhnya bergetar hebat. Siwon mengangkat sedikit tubuh Yuri, lalu memeluknya, erat. Sungguh dia tak tega melihat orang yang dicintainya menderita seperti itu.

“Ye… Yeobo?” ucap Yuri, pelan.

“Ne, Baby Boo. Ini aku. Mianhae.”

Yuri balas memeluk Siwon erat, dan menumpahkan tangisnya di pundak Siwon. Sejenak, dia merasakan kenyamanan yang selama ini dia rindukan dari seseorang yang selalu memberinya kekuatan menghadapi masalah apapun yang menderanya.

“Antarkan aku, Yeobo,” bisik Yuri, setelah tangisnya mereda.

“Akan aku antar ke mana saja yang kau mau Baby, asalkan kau sudah sembuh.”

“Sekarang. Antarkan aku menemui Donghae oppa.”

“Tak akan. Suhu tubuhmu masih sangat tinggi. Kau harus istirahat.”

“Ppali….”

Siwon menggeleng. “Istirahatlah. Kalau kau sudah lebih sehat, kita jenguk Donghae.”

“Ya sudah, kalau kau tak mau mengantar.” Yuri melepaskan pelukannya. “Aku bisa pergi sendiri.”

“Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi, kau harus tidur di mobil, atau aku serahkan dokter untuk merawatmu.”

Yuri mengangguk pelan. Dia tak peduli syarat apa pun yang diberikan Siwon. Yang terpenting, dia bisa menemui Donghae dalam keadaan sadar. Sebab, saat Tiffany dan Taeyeon menjenguknya kemarin, Donghae masih koma.

“Apa ini ada hubungannya dengan Yoona?” tanya Siwon pada Yuri.

Sekali lagi, Yuri mengangguk pelan. Pikirannya sangat tak tenang. Yoona. Yuri masih ingat betul ekspresi Yoona yang menemuinya antara kondisi sadar dan tidak. Wajah Yoona begitu pucat. Kesedihan dan keputusasaan tergambar jelas di wajahnya.

Yoong, maafkan aku tak menepati janji padamu. Aku akan mencarimu, tak peduli kondisi tubuhku. Kalau pun nanti aku harus terbaring sakit, aku tak akan menyesalinya. Tak seberapa dibanding aku harus kehilanganmu. Aku mohon, bertahanlah, Yoong. Untuk aku. Untuk Donghae. Untuk teman-teman.  Harap Yuri dalam hatinya.

Siwon mengangkat tubuh lemas Yuri dari kasur, lalu menggendongnya. Yuri tak protes. Dia sadar betul tenaganya tak cukup, bahkan untuk sekadar berjalan ke mobil Siwon. Tatapannya sempat bertemu dengan tatapan Siwon. Hanya sesaat. Kemudian matanya terpejam lagi. Dia masih bisa merasakan bibir lembut Siwon mengecup keningnya. Setelah itu, dia tak tahu apa-apa.

“Apa dia tertidur?” tanya Taeyeon.

Siwon mengangguk. “Izinkan aku tetap membawanya. Jika terjadi sesuatu padanya, aku janji akan bertanggungjawab.”

“Ne. Bawalah. Aku juga merasa seperti ada kontak batin yang kuat antara dia dan Yoona. Entahlah. Aku rasa….” Hyoyeon berhenti mengemasi selimut Yuri, lalu menatap Siwon. “Yoona menemuinya.”

“Aku ikut, Siwon Oppa!” seru Taeyeon, sambil melompat dari kasur Yuri. “Aku bawa mobil. Kalian ingin ikut?”

Tiffany, Sooyoung, Sunny, dan Seohyun mengangguk mantap. Tanpa kata-kata, mereka mengikuti Taeyeon keluar kamar Yoonyul. Hyoyeon berjalan di belakang Siwon dengan wajah cemas. Igauan Yuri barusan membuat dugaan-dugaan buruk tentang Yoona bermain di pikiran mereka, dan membuat gelisah. Harapan mereka cuma satu: menemukan Yoona dalam kondisi selamat.

*****

Donghae mengerjapkan mata, melihat ke sekeliling tempatnya berpijak. Sungguh, dia baru menemukan tempat seindah ini. Hamparan rumput yang luas, tanaman perdu berbunga, juga air terjun kecil yang bergemericik. Pandangannya terhenti pada sosok yeoja berambut cokelat ikal yang terduduk di bawah pohon rindang, sambil menatap aliran sungai yang tenang. Donghae segera menghampirinya.

“Yoong? Ke… kenapa Yoona bisa di sini?”

Donghae menatap yeoja itu, lekat, dari ujung gaun putih panjangnya hingga ujung kepala. Tak salah lagi. Inilah yeoja yang sangat dia cinta. Namun, napas Donghae nyaris terhenti saat menyadari wajah yeoja itu begitu pucat. Seolah tak ada aliran darah di sana. Matanya menatap Donghae, penuh keputusasaan. Donghae menjulurkan tangannya, bermaksud meraih pundak yeoja itu. Tapi, yeoja itu menghindar.

“Deer, apa kita….” Ucapan Donghae terputus.

“Apa Oppa masih mencintaiku?” tanya yeoja itu, lirih.

“Selalu, Deer. Selamanya Oppa akan terus mencintai Deer Yoong.” Ucap Donghae dengan yakin.

“Mianhamnida, Oppa. Jeongmal mianhamnida. Jangan mengharapkan aku lagi. Aku tak mungkin bisa bersamamu.” Ucap Yoona lirih.

“Deer, Oppa janji, Oppa akan mengambil Deer kembali dari Heechul hyung.” Kata Donghae.

Yeoja itu menggeleng, lalu menelungkupkan wajahnya ke telapak tangan. “Aku mohon, Oppa. Hapus rasa cintamu.”

“Jangan meminta Oppa melakukannya. Demi apapun, Oppa tak akan sanggup.” Kata Donghae frustasi mendengar ucapan Yoona.

“Kalau saja aku punya waktu….” Ucap Yoona terhenti.

“Ap… apa yang terjadi padamu?” tanya Donghae pada Yoona.

“Oppa, mungkin ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu. Khamsahamnida untuk semuanya. Saranghaeyo. Yeongwonhi.” Ucap Yoona pelan.

“Deer….” Ucapan Donghae terhenti di tenggorokan. Airmatanya menetes ke atas rerumputan hijau. Sekali lagi dia menjulurkan tangannya, bermaksud menyentuh yeoja itu. Tapi, lagi-lagi yeoja itu menghindar.

“Oppa, jangan menangis. Mianhae…. Jangan membuatku semakin sulit meninggalkan Oppa.” Ucap Yoona sambil menahan tangisannya.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Deer? Ke mana Heechul hyung?” tanya Donghae lagi.

“Di… dia mengurungku di apartemennya.” Yeoja itu menengadahkan kepalanya ke langit. “Persis sejajar dengan practice room-ku.” Jelas Yoona mencoba memberitahu posisi tubuhnya saat ini.

“Oppa akan menolongmu! Tunggu Oppa!” Ucap Donghae.

Yeoja itu menggeleng lagi. “Waktuku tak akan cukup, Oppa. Mianhae…. Jeongmal saranghaeyo.”

Tubuh Donghae terasa membeku, saat sosok yeoja yang sangat dia cintai perlahan-lahan menghilang. Donghae ingin berteriak memohon, namun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Airmatanya mengalir deras, bersamaan dengan lenyapnya yeoja itu dari hadapannya.

Tuhan, jika Kau berikan kami kesempatan untuk bersama lagi, aku berjanji, tak akan membiarkan seorang pun mengambilnya dari sisiku. Aku akan membahagiakannya, hingga penghujung usiaku. Tuhan, izinkan aku mengucap janji untuknya di altar.

*****

“Oppa…. Bangunlah. Beritahu aku di mana Yoona,” pinta Yuri, lirih. Pandangannya tak lepas dari mata Donghae yang tertutup rapat.

“Baby, kita pulang saja, ya? Nanti kita ke sini lagi setelah Donghae sadar. Kyuhyun sudah berjanji akan memberitahu kita. Ya kan, Kyu?” bujuk Siwon, sambil membelai lembut rambut Yuri.

Kyuhyun mengangguk, meski dia tak berani memastikan kapan Donghae akan sadar. Kondisi Donghae tidak bisa dikatakan ringan. Tusukan di punggungnya menyerempet hingga ke paru-paru, hingga membuat Donghae sangat bergantung pada ventilator. Melihat Yuri yang terus memohon agar Donghae sadar, dan Siwon yang membujuk Yuri dengan penuh kesabaran, hatinya serasa digores benda tajam. Mereka seolah berhadapan dengan harapan kosong.

Suara putus-putus mesin EKG memenuhi ruang perawatan. Kyuhyun menatap wajah polos Donghae yang begitu tenang. Hanya suara itulah yang menandakan Donghae masih bersamanya. Sungguh, dia tak siap jika suara itu berubah. Detik terasa begitu lambat. Penantian empat hari terasa lebih dari ribuan tahun. Terlebih, Yoona masih belum ditemukan, dan dia betul-betul kehilangan petunjuk untuk menemukan gadis itu.

“Yoong….”

Suara lemah itu mengagetkan Kyuhyun, Siwon, dan Yuri. Mereka memandang Donghae, memastikan pendengaran mereka. Kelegaan terpancar dari wajah mereka saat mata Donghae terbuka sedikit demi sedikit, lalu menatap mereka bergantian.

“Yu… Ri… to… long….” ucap Donghae, lemah. “Yoona….”

“Di mana Yoona, Oppa? Cepat katakan!” Mendengar nama Yoona, Yuri tak bisa menahan air matanya agar tidak jatuh lagi. Dia sangat berharap Yoona memberitahu keberadaannya lewat Donghae, meski dia tahu harapannya nyaris tak berdasar.

“Apartemen…. Practice room ka… kalian….” ucap Donghae, terbata. “Waktunya ha… hanya sedikit.”

“Mwo?!” Yuri membelalakkan matanya. “Palli, Yeobo!”

Yuri berlari keluar ruang perawatan Donghae sambil menarik tangan Siwon. Mendengar ucapan Donghae, tenaganya seolah pulih kembali dan sakitnya lenyap. Teman-temannya yang sedari tadi menunggu di luar ruang perawatan juga ikut berlari. Mereka yakin, Yuri mengetahui sesuatu. Kyuhyun mengikuti di belakang mereka.

*****

Yuri, Siwon, Kyuhyun, Sooyoung, Taeyeon, Tiffany, Seohyun, Sunny, dan Hyoyeon berdiri di membelakangi gedung SM dengan penyamaran yang sempurna. Di seberang mereka, sebuah gedung apartemen mewah berdiri dengan kokoh. Itulah apartemen yang dimaksud Donghae. Yoona di sana. Sayangnya, tak ada petunjuk lebih detil yang mereka pegang. Donghae tak menyebutkan nomor ruangan atau pun lantainya, hingga membuat mereka sibuk menebak-nebak.

“Hm… practice room kami kira-kira berada di situ.” Taeyeon menunjuk satu sisi tanpa jendela di gedung SM, kemudian beralih ke gedung di depannya. “Berarti Yoona di sana? Itu ruangan nomor berapa? Lantai berapa?”

“Kalau sejajar dengan practice room kita, berarti lantai delapan. Huh, dari sisi mana mereka mulai memberi nomor pada ruangannya?” keluh Sooyoung sambil memijat keningnya.

“Tapi, petunjuknya hanya ‘apartemen’ dan ‘practice room kalian’. Semua ruangan di sisi ini bisa melihat practice room kita,” sanggah Tiffany.

“Aish! Jadi, Yoona di mana?” Kyuhyun meremas rambutnya, gemas.

“Cepatlah…. Yoona tak punya banyak waktu,” ucap Yuri, lirih. Perkataan Donghae terngiang lagi, membuat kekhawatirannya memuncak.

Siwon mengusap rambut Yuri, lembut, lalu membenamkan Yuri dalam pelukannya. “Sabar, Baby. Yakinlah, semua yang ada di sini menyayangi Yoona dan menginginkan dia ditemukan dengan selamat.”

“Yeobo….” Yuri memeluk Siwon, erat. Airmatanya tumpah lagi.

“Oppa, bagaimana kalau kita coba masuk saja? Ngg… maksudku, kita masuk tanpa penyamaran. Orang-orang mengenali kita, dan mungkin saja mereka akan memberi petunjuk,” usul Seohyun.

“Baiklah, tak ada salahnya kita coba,” putus Kyuhyun.

Mereka berjalan lekas ke apartemen bercat putih gading. Tak ada satu pun dari mereka yang menyangka Heechul bisa memiliki apartemen semewah itu. Terlebih, apartemen itu digunakan untuk menyekap Yoona. Tak ada petunjuk lain yang bisa mereka lebih percayai dibanding petunjuk dari Donghae, meski terdengar seperti khayalan dalam masa komanya. Mereka juga sudah menyiapkan diri jika ternyata ucapan Donghae berbeda dengan kenyataan. Di lobby, mereka membuka masker dan topi. Siwon merangkul Yuri, erat, memberi kekuatan.

“Annyeong haseo. Whua, Kyuhyun-sshi, Siwon-sshi, So Nyeo Shi Dae,” sapa resepsionis apartemen, sambil membungkuk sembilan puluh derajat. “Adakah yang bisa kami bantu?”

“Oh, nae. Kami ingin mengunjungi Heechul hyung dan memberi kejutan padanya. Kau tahu kan, ini hari apa? Apakah kau bisa menunjukkan nomor apartemennya?” Kyuhyun mencoba bersikap seolah-olah mereka sedang bergembira.

“Tentu saja.” Resepsionis itu tersenyum, sambil terus memandangi Kyuhyun. “Apartemen Heechul-sshi di lantai di lantai delapan, ruang 826. Silakan gunakan lift yang di sisi kanan. Ruangannya tak jauh dari lift. Selamat bersenang-senang.”

“Khamsahamnida. Apa kau sudah punya fotoku yang terbaru? Ah, ingatkan aku untuk memberikannya padamu, nanti.”

“Narsis!” rutuk Sooyoung, sambil menyikut perut Kyuhyun.

“Khamsahamnida, Kyuhyun-sshi. Khamsahamnida.” Resepsionis itu membungkuk berkali-kali pada Kyuhyun.

Kyuhyun membalas penghormatan itu, sesaat, kemudian menggiring teman-temannya ke lift. Semangat mereka kembali menyala-nyala, dengan harapan yang membuncah. Mereka hanya perlu menemukan ruang apartemen Heechul, lalu menemukan Yoona.

“Annyeong haseo, Siwon oppa.” Seorang yeoja menunduk hormat di depan Siwon, sambil tersenyum. “Aku ELF. Apa kau bisa memberikan tanda tanganmu di bajuku?”

“Oh, tentu saja.” Siwon mengambil spidol, dan membubuhkan tanda tangannya di kaos yang digunakan yeoja itu. Tangan kirinya tetap merangkul Yuri, erat. Dalam hati, dia menggerutu dengan kemunculan fans pada saat yang tidak tepat ini.

“Khamsahamnida, Oppa. Oh ya, apa dia yeojachingumu?” Yeoja itu menunjuk Yuri.

“Anaeku. Permisi, kami sedang buru-buru.”

Dengan sigap, Siwon menggendong Yuri, kemudian berlari saat melihat pintu lift hampir tertutup. Kyuhyun, di dalam, mencoba menahan pintu itu dengan kakinya, sedangkan Hyoyeon terus menekan tombol agar pintu tetap terbuka. Siwon melompat masuk. Pintu lift tertutup, meninggalkan Shawol yang masih terbengong-bengong di luar.

“Yeobo, turunkan aku,” bisik Yuri.

“Tak akan. Tubuhmu sudah terlalu lelah, Mrs. Choi.”

“Aku baik-baik saja.”

Siwon mengecup bibir Yuri, sekilas. “Suhu tubuhmu naik lagi. Kau tak mau kan, Yoona khawatir karena melihatmu kelelahan?”

“Ya! Siwon Oppa! Kalau mau beradegan romantis, lihat dulu siapa di dekatmu!” teriak Taeyeon.

“Aku sudah terbiasa, Eonni,” bela Seohyun. “Tanganku akan reflek menutupi mata jika ada adegan seperti tadi.”

“Bagus, uri maknae.”

“Oppa, memangnya ini hari apa?” tanya Sooyoung.

Kyuhyun tersenyum, ingat ucapannya pada resepsionis tadi. “Ini hari Rabu.”

“Tak ada maksud lain?”

“Aniyo.”

“Dasar kau evil!”

“Yang penting kita bisa menemukan Yoona dengan segera.”

Pintu lift terbuka di lantai delapan. Mereka menghambur keluar, dan mencari pintu bernomor 826. Tak susah menemukannya, karena ruangan itu hanya berjarak tak lebih dari lima puluh meter dari lift. Yuri turun dari gendongan Siwon, dan menatap pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat. Keyakinannya menguat. Yoona memang ada di dalam.

“Ah, shit! Password!” maki Kyuhyun. Dia tertegun di depan papan tombol yang menempel di tembok. Tak sedikit pun terlintas dalam benaknya kombinasi-kombinasi angka yang mungkin digunakan Heechul sebagai password.

“0424,” kata Yuri, lirih.

“Mwo?”

“0424. Cobalah. Aku yakin benar.”

Kyuhyun mengetikkan empat angka yang disebutkan Yuri. Jantung berdebar, berharap angka tersebut benar. Hanya ada tiga kali kesempatan mencoba. Jika salah untuk yang ke tiga kalinya, maka pintu hanya bisa dibuka dengan kartu pass yang hanya dimiliki penghuni apartemen. Butuh waktu yang lebih lama, sedangkan Yoona tak bisa menunggu. Heechul pun tak akan mengaku jika dia memiliki apartemen di situ.

Klik!

“Berhasil!” seru Kyuhyun, sambil mendorong pintu di hadapannya. “Ayo, cepat!”

“Tunggu! Kau yakin ini apartemennya?” Taeyeon mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen. “Ini terlalu mewah.”

“Aku yakin,” sergah Yuri. “Yoona pernah bercerita padaku kalau Heechul oppa pernah mengajaknya makan malam di bawah lampu kristal, kemudian Heechul oppa bermain piano untuknya.”

Kyuhyun, Siwon, dan member SNSD lain mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling ruangan. Benar kata Yuri. Ada meja makan kecil berwarna cokelat kayu yang mewah, persis di bawah lampu kristal. Tak jauh dari situ, sebuah grand piano terduduk dengan manis.

Mereka berpencar, menjelajah seisi ruangan sambil meneriakkan nama Yoona. Sooyoung menahan napasnya saat menemukan bercak darah yang sudah mengering di lantai dan tembok dekat sofa. Dari bercaknya, Sooyoung tahu kalau beberapa hari yang lalu Yoona mengalami penyiksaan di situ. Dia tak berani mengatakannya pada Yuri. Sooyoung memilih bersikap seolah tak menemukan apa-apa, lalu meneruskan pencariannya.

“Tak ada Yoona di mana pun,” keluh Sunny, lemas.

“Aku bahkan sudah mencarinya hingga rak dapur,” sambung Hyoyeon, sambil membanting tubuhnya di sofa, di sebelah Sunny.

“Jadi, bagaimana? Apa kita pulang saja?” tanya Kyuhyun.

“Yeobo, aku yakin Yoona di kamar itu,” bisik Yuri.

“Kamarnya terkunci, Baby.” Ucap Siwon.

“Kau kan kuat.” Kata Yuri singkat.

“Baiklah.” Siwon mengecup kening Yuri yang makin terasa panas. “Kyu, ayo bantu aku!”

Siwon dan Kyuhyun berkeliling ruangan lagi, mencari benda-benda yang bisa membantu mereka membuka pintu kamar. Apartemen itu terlalu mewah, hingga mereka tak dapat menemukan perkakas pertukangan apapun. Siwon berdiri di depan pintu, memasang kuda-kuda. Dengan sekali tendangan kuat, pintu itu terbuka. Yuri, Tiffany, Taeyeon, Sooyoung, Sunny, dan Hyoyeon bergegas menyerbu ke dalam kamar.

“Y… Yoong….”

Yuri tak dapat menahan airmatanya saat melihat Yoona tergeletak tak berdaya di kasur. Tubuh Yoona penuh bercak dan luka goresan yang menganga. Kulit pualamnya berubah menjadi abu-abu. Tiffany histeris di pelukan Taeyeon. Sooyoung kaku di tempatnya berdiri. Sedangkan, Seohyun langsung menghambur, memeriksa Yoona, merasakan tanda-tanda kehidupan di tubuh Yoona.

“Cepat bawa dia ke rumah sakit, Oppa! Cepaaat! Waktunya benar-benar sempit!”

“Mwo?!”

“Aku hampir tak bisa merasakan nadinya. Napasnya juga tak ada.”

Dengan cepat, Hyoyeon membungkus tubuh Yoona dengan selimut tebal milik Yuri yang masih dia bawa. Tak mungkin membawa Yoona ke rumah sakit dalam keadaannya seperti tadi. Siwon lalu menggendong Yoona dan berlari ke mobilnya yang masih terparkir di gedung SM. Yuri dan Hyoyeon mengikuti di belakang Siwon. Hyoyeon mengambil alih kemudi, karena Siwon masih menggendong Yoona. Dengan kecepatan maksimal, mobil mereka melaju ke rumah sakit.

*****

“Yeobo… hiks! Hiks! Hiks!” Yuri tersedu di pelukan Siwon. “Ap… apa yang sudah Heechul oppa lakukan pada Yoona?”

“Molla. Tapi, semoga tak ada sesuatu yang parah.” Jawab Siwon berusaha menenangkan Yuri yang terisak.

Siwon mengusap lembut rambut Yuri, kemudian mengecup keningnya. Berada selekat itu dengan Yuri membuat Siwon bisa merasakan suhu tubuh Yuri yang makin meninggi. Beberapa keluarga pasien lain melirik ke arah mereka dan Hyoyeon, mengenali mereka sebagai artis SM. Namun tak ada yang berani mendekat.

“Heechul Oppa, hiks! Pas… pasti sudah, hiks! Sudah memiliki Yoona, hiks! Seutuhnya. Hiks! Hiks! Huhuhu…. He… Heechul Oppa juga pasti, hiks! Menyiksa uri Yoona dengan keji. Hiks! Hiks! Hiks!”

“Tenanglah, Yul.” Hyoyeon ikut mencoba menenangkan Yuri, meski dia juga masih shock.

“Uri Yoona sangat kuat. Yoona pasti sanggup bertahan. Dia sudah ditangani dokter-dokter ahli. Kau minum susu, ya? Seharian ini belum ada apapun yang masuk ke perutmu.” Ucap Hyohyeon.

Yuri menggeleng pelan. Nafsu makannya betul-betul hilang. Yang ada di pikirannya hanya Yoona. Yoona yang menjadi abu-abu karena dehidrasi yang parah. Yoona yang sekujur tubuhnya penuh bercak dan luka. Yoona yang kehilangan napas dan hampir meninggalkannya. Yuri terisak makin keras di pelukan Siwon. Perlahan, tubuhnya melemas. Kesadarannya hilang.

“Baby! Baby, waeyo?!”

Suara ketukan terdengar nyaring di koridor apartemen yang hening. Sepasang sepatu dengan hak tinggi bergantian menghujam lantai, melangkah mantap menuju satu ruangan dari deretan apartemen itu. Seorang yeoja cantik melingkarkan tangannya di lengan seorang namja yang berjalan gagah di sisinya.

“Sica….” Namja itu merangkul mesra pinggang yeoja di sebelahnya.

“Oppa… kau sudah tidak sabar, ne?” Jessica mengerling manja pada Heechul.

“Ne, Sica.” Heechul mendekatkan mulutnya ke telinga Jessica, “Be mine now.”

“Hm… bukankah kau sudah mendapatkan semuanya dari Yoona?” kata Jessica

“Kau dan Yoona tentu saja berbeda. Denganmu, aku tak perlu memaksa, kan?” jelas Heechul.

“Oppa….”

Heechul tersenyum penuh arti. Jantungnya berdebar kencang menatap pintu apartemennya yang hanya tinggal beberapa langkah. Sekali lagi dia menatap Jessica. Desiran darahnya terasa lebih cepat melihat tubuh mungil Jessica yang hanya tertutupi tanktop merah berkerah rendah dan hot pants denim. Heechul menelan ludahnya. Dengan cepat, dia menekan tombol angka di pintu apartemennya, lalu menggendong Jessica ala bridal style. Bibirnya menyentuh lembut bibir Jessica, sembari kakinya menendang pintu apartemen. Heechul tak sabar ingin segera menghabiskan waktu dengan yeoja itu.

“Hai, Hyung.” Sapa Kyuhyun.

Heechul membeku. Napasnya seolah terhenti, sesaat setelah dia melangkah masuk ke apartemennya. Hampir saja dia menghempaskan Jessica ke lantai, beruntung dia segera berhasil menguasai diri, dan menurunkan Jessica dengan lembut. Ketenangan yang ditampakkan Jessica membuat Heechul kembali bersikap sewajarnya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Kyu? Kenapa ada banyak yeoja bersamamu?” tanya Heechul, sambil menghampiri Kyuhyun yang duduk santai di sofa, bersama Sooyoung.

“Menurutmu apa yang aku lakukan?” Kyuhyun balik bertanya.

Heechul mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang dapat dia jangkau. Tak terlihat sesuatu yang berbeda. Hanya ada Kyuhyun yang sedang bermanja-manja dengan Sooyoung di sofa, Seohyun yang asyik memainkan grand piano, Tiffany dan Sunny yang sibuk membolak-balik majalah, dan Taeyeon yang…. Heechul kembali menahan napasnya saat menyadari leader SNSD itu berjalan mendekatinya dan Jessica dengan wajah tenang. Namun, Heechul dapat menangkap kilatan amarah dari mata Taeyeon.

“Sica, ada yang harus kita bicarakan.” Kata Taeyeon dingin.

Jessica mengangguk patuh. Dengan isyarat mata, dia meminta izin pada Heechul untuk ikut pulang bersama Taeyeon. Heechul hanya mengangguk. Rencana yang sudah dia susun di kepalanya sedari tadi lenyap tak berbekas, termasuk juga letupan-letupan di hatinya pada Jessica. Dia tahu, apa maksud Kyuhyun dan member SNSD datang ke situ.

Seohyun menghentikan permainan jari lentiknya di tuts grand piano. Dia menghampiri Taeyeon tanpa suara. Wajah polosnya menyiratkan kemarahan saat tatapannya bertemu dengan tatapan Heechul. Tiffany segera merapikan majalah yang dia baca, dan ikut Seohyun menghampiri Taeyeon. Hanya Sooyoung dan Sunny yang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Tanpa bicara apa-apa lagi, empat member SNSD itu keluar dari apartemen Heechul.

“Wuah Oppa, kau punya apartemen keren tapi tak pernah mengundang kami ke sini,” protes Sooyoung. “Kau punya makanan? Aku lapar.”

“Lihatlah di kulkas, Youngie. Ambil saja apa yang kau mau.” Ucap Heechul berusaha bersikap tenang.

“Gomawo, Heechul Oppa.”

Sooyoung berlari ke dapur. Sedari tadi dia kelaparan, namun tak punya cukup keberanian untuk membuka kulkas dan memakan isinya. Sooyoung memilih beberapa makanan, kemudian membawa makanan itu ke sofa. Heechul dan Sunny sudah duduk bersama Kyuhyun.

“Kau sudah lama punya apartemen ini, Hyung?” tanya Kyuhyun pada Heechul.

“Apa maksud pertanyaanmu, Kyunnie?”

“Aku heran saja kenapa kau tak pernah mengundang kami ke sini. Padahal, apartemenmu sangat mewah. Atau… ada sesuatu yang kau sembunyikan?” tanya Kyuhyun dengan curiga.

“Yeoja cantik, mungkin,” timpal Sooyoung dengan mulut penuh keripik kentang.

“Atau yeojachingumu,” tambah Sunny.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Heechul. Sekuat tenaga dia berusaha menyembunyikan ketakutannya.

“Ah, Yoona sangat beruntung bisa tinggal di apartemen ini. Pasti setiap hari dia mengganggumu dengan bermain piano asal-asalan.”ucap Sooyoung lagi.

“Yoona?”

“Hei, apa kau amnesia mendadak? Yoona. Im Yoona. Member SNSD. Yeojachingumu.” Ucap Sooyoung.

“Ne ne, aku ingat siapa Yoona, Youngie. Tapi, apa hubungannya apartemen ini dengannya?” tanya Heechul berusaha masih menutupi kegugupannya.

“Yoona itu jahat, Oppa. Dia menghilang ke apartemenmu tanpa memberi kabar sama sekali.” Ucap Sooyoung yang dibuat-buat marah.

“Yoona tak pernah ke sini!” kata Heechul masih berusaha berbohong.

“Yang tidur di kamarmu siapa?” tanya Sunny.

Heechul segera berlari menuju kamarnya. Pintu kayu yang terlihat kokoh itu jatuh begitu Heechul menyentuhnya. Tak ada helaan berat napas seorang yeoja seperti yang biasa dia temui. Kasurnya kosong, hanya ada seprai penuh bercak darah yang sudah mengering, dan sisa permainannya. Tak ada Yoona di sana.

“Apa yang sudah kau lakukan pada Yoona, Hyung?” tanya Kyuhyun lagi dengan nada bicara menuduh.

“Aku tak pernah melakukan apapun! Yoona tak pernah sekali pun masuk apartemen ini!” ucap Heechul masih berbohong.

“Lantas, ini kaus siapa?” tanya Sunny, sambil memperlihatkan kaus biru dengan bekas genangan darah di bagian pundak belakang.

“Kausku!” jawab Heechul, asal.

“Sejak kapan kau suka kaus bergambar Strawberry Shortcake?” ucap Sunny dingin.

“Hyung, mengakulah. Kita bisa menyelesaikan masalah ini sebagai saudara, kan? Aku janji tak akan melaporkanmu pada Soo Man atau aparat hukum, asalkan kau mau bekerjasama denganku. Bagaimana?” ucap Kyuhyun dengan bijak.

“Aku tak pernah melakukan apapun!” Heechul masih tidak mau mengaku juga.

“Ya sudah kalau kau tak mau mengaku. Kajja kita pergi, Youngie, Sunny.” Ucap Kyuhyun.

“Ne. Kajja,” sahut Sunny, sambil mengangkat sebuah kantung kertas. “Ingatkan aku untuk membawa bukti-bukti ini pada Ahjushiku, Oppa.”

“Bagaimana kalau kita langsung menjenguk Yoona? Sedari tadi Yuri, Siwon, atau Hyoyeon belum ada yang memberi kabar,” usul Sooyoung. Di tangannya ada semangkuk puding cokelat.

“Usul yang bagus. Semoga Yoona sudah bangun, jadi kita bisa menanyakannya. Kajja.” Kyuhyun menggiring Sunny dan Sooyoung ke pintu.

“Tunggu!” tahan Heechul. “Jangan laporkan pada siapapun!”

“Kasus ini harus selesai, Hyung. Mungkin memang bukan kau pelakunya. Biar polisi saja yang menanganinya. Mereka lebih berpengalaman dan lebih berhak. Mianhae telah menuduhmu secara tak langsung.” Ucap Kyuhyun bijak.

“Kyuhyunnie….” Heechul terduduk lemas di sofa. “Aku akan mengaku. Jangan laporkan aku pada polisi. Aku mohon. Aku masih ingin berkarier.”

“Jinjja?” pekik Kyuhyun.

“Ne. Aku mohon, Kyunnie….”

Kyuhyun, Sooyoung, dan Sunny kembali duduk di sofa. Persis di hadapan mereka, Heechul terduduk lemas dengan kepala yang hampir menyentuh lutut. Sesekali dia meremas rambutnya kuat-kuat. Kyuhyun mengeluarkan senyum setannya, lalu menggenggam jemari Sooyoung.

“Hyung, bagaimana kalau kita buat perjanjian? Aku berjanji tak akan melaporkan semua perbuatanmu pada siapapun, asalkan kau mau mengakui semua yang sudah kau lakukan. Dan… satu syarat lagi.”

“Apa?” tanya Heechul pada Kyuhyun.

“Kau harus mengembalikan Yoona pada Donghae Hyung.” Jawab Kyuhyun dengan tenang.

“MWO?!” Heechul mengangkat kepalanya. Matanya membelalak, menatap Kyuhyun.

“Ya sudah kalau kau tidak mau. Perjanjian kita yang tadi batal.” Kata Kyuhyun dingin.

“Ne… baiklah.” Akhirnya Heechul menyerah, dia lebih baik menuruti permintaan Kyuhyun dari pada dia masuk penjara.

*****

Semburan oksigen yang tepat masuk ke hidungnya membuat Yuri terbangun. Dia meraba atas bibirnya, dan mendapati sebuah selang kecil melintang di sana. Yuri melepaskan selang itu, lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu di mana dia berada saat ini.

Lamat-lamat, pendengarannya menangkap suara-suara ramai. Yuri mencoba bangun, namun tubuhnya terasa sangat lemas, seolah tak ada tenaga yang bisa menggerakkan tubuhnya. Yuri menoleh ke sudut kanan tempatnya berbaring. Sejumlah orang berpakaian putih berkerumun dan berlalu-lalang. Kesibukan mereka membuat Yuri merasa kepalanya pusing. Yuri kembali memejamkan matanya.

Emergency room…. Kenapa bisa ada di sini? Yang sakit itu Yoona, bukan aku. Eh, Yoong?

Yuri ingin berteriak sekeras-kerasnya memanggil Yoona. Ingatannya berputar lagi, kembali pada saat dia menemukan Yoona di apartemen Heechul. Yuri masih bisa mengingat dengan jelas kulit pualam Yoona yang berubah menjadi abu-abu dengan banyak luka menganga. Juga Seobaby yang mengatakan Yoona hanya mempunyai sedikit waktu. Airmata Yuri mengalir. Dia terisak pelan. Ucapan tim dokter di sudut ruangan itu kembali singgah di telinganya.

“Nona Im Yoona, 23 tahun.”

Yoong, apa yang terjadi denganmu? Yuri mencoba mencerna ucapan tim dokter itu dengan kesadarannya yang mulai kembali menurun.Multiorgan failure? Dehidrasi berat? Ginjal tak berfungsi? Seluruh organ penting tubuh keracunan? Hiks! Hiks! Bertahan, Yoong….

“Yuri Eonni ….”

Yuri membuka matanya, lekas. Suara itu sangat dia kenal. Benar, di hadapannya sudah berdiri tegak seorang gadis cantik berbaju putih. Rambutnya ikal kecokelatan. Wajahnya begitu melekat dalam ingatan Yuri. Yuri ingin segera bangun dan memeluk gadis itu. Namun, tubuhnya seolah terkunci, tak sanggup bergerak.

“Yoong….”

“Gomawo, Eonni. Uljima.” Gadis itu tersenyum.

Belum sempat Yuri menanyakan maksud ucapan terimakasihnya, gadis itu berbalik, membelakangi Yuri. Gaun putihnya seolah berkibar, meski tak ada angin bertiup di ruangan itu. Sekali lagi, gadis itu menoleh pada Yuri sambil tersenyum. Kemudian, sosok itu memudar, lenyap perlahan-lahan. Yuri tak sanggup menahan isaknya. Airmatanya mengalir deras.

“YOONAAA.”

*****

Living room dorm SNSD begitu hening. Taeyeon, Tiffany, Seohyun, dan Jessica tak ada yang membuka suara. Seohyun dan Tiffany hanya menatap Jessica yang duduk di hadapan mereka, seolah dia adalah seorang pesakitan. Jessica hanya menunduk, memainkan karpet tebal yang menjadi alas duduknya.

“Sica.”

“Ne, Taeng.”

“Tatap aku.”

Jessica mengangkat kepalanya perlahan, hingga tatapannya bertemu dengan Taeyeon. Sesekali, dia melirik Tiffany dan Seohyun yang menyembunyikan isak mereka. Sebenarnya Jessica ingin menanyakan keadaan Yoona pada mereka. Namun, dia tahu, Taetiseo sedang diliputi kegeraman pada dirinya.

“Wae, Sica?”

“Ini tak seperti yang kau duga, Taeng.”

“Kau sebenarnya tahu kan, Yoona ada di mana saat dia menghilang kemarin?”

“Ne.” Jessica mengangguk pelan.

“Kenapa kau diam saja? Di mana hatimu? Setega itu kau membiarkan Heechul Oppa menyekap dan menyiksa Yoona, dan membuat Yuri sakit karena kehilangan Yoona?” Tanya Tiffany penuh emosi.

“Mianhae….”

“Mianhae? Berdoalah semoga dokter berhasil menyelamatkan mereka, Sica. Menyelamatkan aegi dan nampyeonmu!”

Airmata Jessica menetes. Isakannya menggema di ruangan itu, bersama isakan Tiffany dan Seohyun yang makin keras. Dia memang belum bertemu Yoona. Bertemu Yuri pun kemarin, saat dia melongok ke kamar Yuri karena kepanikan teman-temannya. Namun, ucapan Taeyeon barusan seolah menyadarkannya kalau Si Kembar dalam kondisi mengkhawatirkan.

“Aku gagal jadi leader,” gumam Taeyeon.

“Taeng, aku mencintainya!”

“Nugu?”

“Heechul oppa. Aku mencintainya, Taeng.” Jessica menelungkupkan wajahnya pada kedua telapak tangan. Airmata mengalir dari sela-sela jarinya.

“Kau tahu kan, Heechul namjachingu Yoona?”

Jessica mengangguk pelan. “Aku juga ingin menyelamatkan Yoona dari namja itu.”

“Maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian bertiga?”

“Heechul oppa tidak mencintai Yoona, Taeng! Dia hanya terobsesi! Aku tahu itu! Awalnya aku berusaha mendekatinya dan mengalihkan perhatiannya dari Yoona. Tapi aku tak bisa mencegah hatiku jatuh padanya.”

“Dari mana kau tahu Heechul oppa hanya terobsesi?”

“Aku bisa melihat dari gerak-gerik dan ucapannya. Dia hanya menginginkan tubuh Yoona. Dia ingin memiliki Yoona hanya untuk….”

Jessica tak sanggup melanjutkan ucapannya. Punggungnya berguncang hebat karena isakan yang semakin keras. Taeyeon merengkuh Jessica dalam pelukannya, berusaha memberikan kekuatan. Masih banyak yang harus dia ketahui dari Jessica.

“Kenapa kau tak memberitahu kami tentang keberadaan Yoona?” tanya Taeyeon setelah isakan Jessica mereda. “Kau tahu kan Yoona di situ?”

Jessica mengangguk pelan. “Aku takut Heechul oppa tertimpa masalah.”

“Kalau kita bisa menemukan Yoong lebih awal, tentu keadaannya tak sampai sefatal ini. Heechul oppa tak akan terkena masalah apapun.”

“Taeng… kau belum tahu….”

“Jess, katakan semua yang kau tahu! Jangan lindungi dia jika dia memang jahat!” sergah Tiffany.

“Eonnie…. Tenanglah. Biarkan Sica eonnie menyelesaikan keterangannya.”

“Aku kesal, Seobaby! Harusnya Yoonyul tak berada dalam kondisi seperti ini jika dia memberitahu lebih awal!”

“Pst… Eonnie, sudahlah. Kajja kita jenguk mereka. Semoga ada kabar baik.”

Tiffany menatap Jessica, sinis, sebelum bangun dari duduknya. Dia tak menyangka seorang Jessica yang menurutnya sangat menyayangi Si Kembar YoonYul dapat berbuat seperti itu. Tiffany menyusut airmatanya, kasar, lalu mengambil kunci mobilnya yang tergantung di dinding bersama kunci mobil member lainnya. Tanpa kata-kata, dia menarik Seohyun keluar.

“Sekarang hanya ada aku dan kau. Ceritakan semua yang kau tahu. Tolong, kami sangat memerlukan informasi darimu,” ucap Taeyeon, lembut.

“Heechul oppa… dia… dia yang menusuk Donghae oppa.”

“Mwo?!” Taeyeon terlonjak dari duduknya. “Bagaimana bisa?”

“Heechul oppa tahu Yoona pernah menjadi yeojachingu Donghae oppa dan sampai sekarang Yoona masih mencintai namja itu.”

Taeyeon mengangguk-angguk. “Apakah sebegitu cemburunya Heechul oppa pada Donghae oppa? Yang aku tahu, selama satu tahun, Yoona dan Donghae oppa sepakat untuk tidak saling bertemu dan menyapa.”

“Ne. Itu sebelum Heechul oppa beberapa kali memergoki Yoona bersama Donghae oppa. Heechul oppa selalu tahu saat Yoona sedang bersama Donghae oppa, meski sedang bersamaku.”

“Sica, bagaimana jika Yoona juga mencintai Heechul? Apa kau mau melepaskannya untuk Yoona?” tanya Taeyeon.

Jessica terdiam. Dia tahu, Yoona lebih dulu hadir di kehidupan Heechul dibanding dirinya. Heechul juga pernah mengakui kalau dia mencintai Yoona. Namun, hatinya sudah terlanjur jatuh pada namja itu. Dia tak ingin melepaskan Heechul untuk yeoja lain, sekalipun itu Yoona.

“Sica?”

“Aku… aku tidak tahu.”

“Kalau benar Yoona juga mencintai Heechul, berarti kau sudah mencoba merebutnya, kan?”

Sekali lagi lidah Jessica terasa kelu. “Apa Yoona benar mencintai Heechul?”

“Aku menemukannya di diary Yoona.”

Handphone Taeyeon berdering. Getarannya membuat handphone itu perputar di antara dia dan Jessica. Wajah imut Seohyun muncul di layar. Jantung Taeyeon tiba-tiba berdebar lebih kencang. Kekhawatirannya memuncak. Dia takut akan mendengar kabar buruk dari Si Kembar. Lekas Taeyeon menjawab panggilan itu.

“Annyeong.”

Eonnie… hiks… hiks….

“Seobaby, waeyo?”

Tak ada jawaban dari seberang. Taeyeon hanya mendengarkan isakan Seohyun. Saat dia menajamkan pendengarannya, dia juga mendengar isakan Tiffany dan riuh orang. Taeyeon semakin gelisah. Dia segera memutus percakapan, lalu bangun.

“Kau mau ke mana?” tanya Jessica.

“Rumah sakit.”

“Aku ikut.”

Taeyeon menghela napas. “Kalau begitu, siapkan dirimu untuk kabar terburuk. Nampyeonmu atau aegimu, atau mereka berdua. Kau tahu, saat mencari Yoona tadi, kondisi Yuri sangat buruk.” Jelas Taeyeon.

Jessica mengangguk pelan. Sungguh, dia tak pernah siap jika terjadi sesuatu yang buruk pada dua member yang paling dekat dengannya. Merekalah yang pertama Jessica cari saat dia membutuhkan semangat. Rasa bersalah memenuhi hatinya dan membuatnya sesak. Dengan langkah gontai, dia mengikuti Taeyeon ke luar dorm.

*****

Siwon menggenggam jemari yeoja yang terbaring lemah d hadapannya. Sesekali, dia mencium jemari itu, lalu menatap wajah pucat Yuri. Berkali-kali handphonenya berdering nyaring. Namun, panggilan itu dia abaikan. Tak peduli itu dari produser dramanya atau dari SM. Siwon hanya ingin bersama yeojanya, yeoja yang belakangan ini jarang mendapat perhatiannya.

“Baby Boo… Ireona. Saranghae… cepatlah bangun, lalu kita menikah.”

“Mwo?” Yuri membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa sakit. Namun, kesadarannya mendadak utuh mendengar ucapan Siwon.

“Yuri? My Baby Boo? Kau sudah sadar? Thanks, God….” Siwon kembali menghujami jemari Yuri dengan kecupan.

“Kau bilang apa barusan?” tanya Yuri, lemah.

“Aku akan menikahimu.”

“Jinjja?”

“Jinjja. Kalau kau mau sekarang, aku akan mempersiapkannya.”

Sebaris senyum manis terulas di bibir pucat Yuri. “Gomawo, Ne Yeobo. Aku senang kita tak lagi terpisahkan.”

“Aku juga senang jika dapat memilikimu. Kau akan menjadi orang pertama yang aku lihat saat aku bangun, dan orang terakhir yang aku lihat sebelum tidur. Aku ingin memiliki anak-anak darimu.” Siwon mengecup bibir Yuri lembut.

“Yeoboh… aku bahagia. Kalau saja aku bisa memelukmu sekarang, pasti aku sudah memelukmu erat.”

“Gwenchana. Melihatmu sadar dan bisa tersenyum saja sudah membuatku lega. Kapan kau mau aku nikahi?”

“Kapanpun saat yang tepat menurutmu. Hm… Yeobo, berapa lama aku pingsan?”

Siwon melirik jam di pergelangan tangan kirinya. “Hampir enam jam.”

Yuri memejamkan matanya. Lintasan-lintasan kejadian hari ini bermain di pelupuk matanya. Setitik airmata mengalir, kemudian semakin deras. Yoona. Wajah pucat Yoona saat menemuinya di ranjang emergency room hadir lagi. Yuri meremas jemari Siwon, kuat-kuat.

“Baby, waeyo?”

“Yoona… apa yang terjadi padanya, Yeobo?”

“Gwenchana. Yoona baik-baik saja.”

“Jangan bohongi aku, hiks! Ta… tadi… tadi… di emergency room dia menghampiriku. Aku yakin itu bukan Yoona. Katakan! Bagaimana kondisinya? Apa… apa… Yoona sudah pergi?”

Siwon mengusap pelan rambut Yuri. Hatinya ikut terasa sakit melihat Yuri bersedih. Yuri dan Yoona memang sudah seperti kembar sungguhan. Ikatan batin mereka sangat kuat. Siwon dapat mengerti jika “Yoona” mendatangi Yuri, tadi. Dengan lembut, Siwon mengecup kening Yuri lagi.

“Tak ada yang perlu kau khawatirkan, Baby. Semuanya baik-baik saja. Dokter berhasil menyelamatkannya. Hanya saja, dia butuh waktu untuk kembali pulih.”

“Jinjja? Kau tak menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Ne. Aku berani bersumpah.” Siwon mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk angka dua.

“Kenapa dia tak dirawat di sini bersamaku?”

“Yoona masih rentan infeksi. Jadi, sekarang dia ada di ruangan khusus.”

“Aku ingin ke sana! Antarkan aku.” Yuri mencoba turun dari tempat tidurnya.

“Sabar, Baby. Kondisimu masih sangat lemah. Kau sedang sakit. Begitu juga Yoona. Melihatmu begini, dia bisa tambah sakit. Cepatlah sembuh agar kau bisa menjaganya.” Siwon mencium jemari Yuri lagi.

Sungguh, Siwon tak dapat melupakan kejadian tadi saat dokter memintanya masuk ke emergency room. Kondisi Yoona sangat kritis. Di tubuhnya terpasang berbagai alat elektronik kedokteran yang memantau organ-organ tubuhnya, dan juga peralatan penunjang kehidupan.

Ketika dokter sedang menjelaskan kondisi Yoona di dalam, tiba-tiba Yuri berteriak keras menyebut nama Yoona, lalu kehilangan napasnya. Pada saat yang bersamaan, perekam di tubuh Yoona menunjukkan garis lurus. Siwon kalut. Dia menatap Yoona dengan wajah pias, lalu berlari menghampiri Yuri yang berjarak tiga ranjang dari ranjang Yoona. Tim dokter segera bertindak cepat, mencoba menyelamatkan keduanya. Siwon hanya dapat melihat dari kejauhan sambil tak henti memohon pada Tuhan.

“Baby… terima kasih telah ada untukku, dan memberiku kesempatan lagi.” Siwon mendaratkan bibirnya di kening Yuri, lama.

“Mwo? Maksudmu?” tanya Yuri heran.

“Ya! Kalian! Persis!” Hyoyeon masuk ke dalam ruang perawatan Yuri, sambil menutup mata Seobaby.

“Eonnie… aku kan sudah biasa melihatnya,” rengek Seohyun.

Siwon mengecup pipi Yuri yang memerah, lalu tersenyum pada Hyoyeon dan Seohyun. “Persis seperti apa, Hyo?”

“Persis seorang nampyeon yang menunggui anaenya yang baru melahirkan.”

Yuri tersenyum malu. Wajah pucatnya kembali memerah. “Semoga tahun depan harapanmu itu terkabul.”

“Mwo? Jadi, kalian akan menikah?” tanya Hyoyeon.

Siwon mengangguk. “Dan kalian adalah orang yang pertama tahu.”

“Chukkae, Eonnie, Siwon Oppa.”

“Gomawo, Seobaby. Apa kau sudah menjenguk Yoona?”

“Sudah. Aku baru dari sana.”

“Bagaimana kondisinya?”

“Kata dokter dia sudah lebih stabil, Yul. Hanya memang butuh waktu untuk menunggunya sadar,” jawab Hyoyeon.

“Sekarang siapa yang menjaganya?”

“Ada TaeNy dan Sica.”

“Sica?” desis Yuri. Seketika raut wajahnya berubah ketakutan.

“Waeyo, Baby?” tanya Siwon.

“Sica… Jika memang Yoona sedang mencoba mencintai Heechul oppa, maka Sica akan menjadi penghalangnya.” Yuri memukul kepalanya. “Semoga Yoona tak terpikir untuk berpaling dari Donghae oppa, sebagaimana aku tak pernah berpikir untuk berpaling darimu.”

“Ya! Yuri-ya! Ternyata kondisi seperti ini tak menghalangimu untuk gombal, ya.” Hyoyeon menjitak kepala Yuri, gemas.

“Awww. Appo…. Donghae oppa apa kabar? Apa dia sudah lebih baik?”

“Nah, itu. Mollayo.”

*****

“Apa kau puas, Nona Jung?” tanya Taeyeon, yang berdiri di sebelah Jessica.

Jessica tak menjawab. Hanya isakannya yang terdengar di ruangan itu, berpadu dengan bunyi alat-alat penanda kehidupan Yoona. Seluruh kata-kata seolah hilang dari otaknya, melihat Yoona terbaring dengan sejumlah alat penunjang kehidupan melekat di tubuhnya. Rasa bersalah dan penyesalan yang sangat mendalam menyesakkan hatinya.

“Apakah karena cinta pada Heechul oppa membuatmu memilih menyelamatkannya daripada menyelamatkan Yoona? Kau tahu Sica, Yoona dehidrasi berat. Entahlah, mungkin selama disekap, Heechul oppa tak pernah memberinya makan dan minum. Kini, organ-organ tubuhnya penuh racun.”

“Yoona bahkan tadi sudah meninggalkan kita,” ucap Fany, di sela isaknya.

“Maksudmu?” tanya Taeyeon.

“Tadi, saat aku dan Seohyun tiba, Siwon keluar dari emergency room. Dia berkata Yoong sudah pergi, dan tim dokter sedang berusaha mempertahankan Yuri. Beberapa menit setelah itu, dokter keluar dan mengatakan kalau organ-organ vital di tubuh Yoong menunjukkan reaksi, dan dia selamat.” Jelas Tiffany di sela isak tangisnya.

“Yoong….” Jessica menghambur, memeluk tubuh Yoona yang diam. “Mianhae…. Jeongmal mianhae…. Jika kau memang mencintai Heechul oppa, aku akan merelakannya untukmu. Hiks! Bertahan, Yoong!”

Jessica mengguncang-guncang tubuh Yoona, berharap Yoona segera membuka matanya. Namun, nihil. Yoona tetap tak bergerak. Hanya suara mesin yang menunjukkan Yoona masih bersama mereka. Jessica mengalihkan pandangannya pada wajah Yoona. Wajah pucat nan tenang itu membuat rasa bersalahnya semakin besar. Sekali lagi dia mengguncangkan tubuh Yoona kuat-kuat.

“Ireona…. Bangun, Yoong!”

“Jess, sudah! Bukan begini caranya membangunkan Yoona.” Tiffany menarik Jessica menjauh. “Berdoalah untuknya, Jess!”

Cklek

Pintu ruang perawatan intensif terbuka. Taeyeon, Tiffany, dan Jessica menoleh bersamaan. Kepala seorang yeoja muncul. Matanya menatap kesal. Di mulutnya ada remah keripik kentang. Taeyeon ingin mengajaknya masuk, tapi Yoona hanya boleh dijenguk oleh tiga orang.

“Waeyo?” tanya Taeyeon.

“Kau pikir cuma kau yang saudaranya Yoona? Aku juga, meski margaku Choi. Keluarlah kalian, wahai dua Kim dan satu Jung!” teriak Sooyoung.

“Hei, siapa Kim satu lagi yang kau maksud?”

“Tentu saja kau, Kim Miyoung. Istri sah Kim Taeyeon. Ayolah, cepat keluar! Aku juga ingin menjenguk si tukang makan itu.”

“Yang tukang makan kan dirimu.” Omel Jessica.

“Ya! Jung Jessica! Apa kau tidak pernah melihat Yoona makan eoh? Katanya dia aegimu?”

Lewat isyarat mata, Taeyeon mengajak Jessica dan Tiffany ke luar. Suara Sooyoung terdengar memenuhi ruangan itu. Yoona bisa shock bila saat sadar nanti mendengar teriakan Sooyoung yang membahana dan bergema di dalam ruangan itu.

Di luar, mereka melepaskan baju steril yang mereka pakai selama menjenguk Yoona, juga penutup kepala. Seorang perawat jaga mensterilkan pakaian itu Sooyoung dan Sunny sebelum masuk menemui Yoona.

“Ya! Kau lucu, Bunny. Seperti koki rumah makan.”

“Kau yang lucu! Bajumu tidak ada yg cukup. Semuanya kebesaran, tapi kependekan. Dasar shiksin menjulang,” balas Sunny.

“Miyoung-ah, sebaiknya kau ikut masuk. Aku tak mau terjadi perang dunia di dalam,” suruh Taeyeon.

Tiffany mengangguk setuju. Dia memakai lagi baju khusus untuk ruangan itu, kemudian membiarkan perawat mensterilkan tubuh dan pakaiannya. Sooyoung dan Sunny adalah musuh yang romantis. Tiffany yakin, Taeyeon takut kebiasaan mereka di dorm terbawa hingga ruangan itu dan mengganggu Yoona. Karena itu Taeyeon menyuruhnya ikut masuk.

“Aku ke tempat Yuri, Miyoung.”

“Ne, Taetae.”

“TIFFANY CEPATLAH!!!”

“Nee.” Tiffany membuka pintu ruang perawatan Yoona, lalu menggiring Sooyoung dan Sunny masuk.

Taeyeon melirik Jessica yang berdiri diam di sebelahnya. Pandangan Jessica hanya menekuri lantai. Sesekali dia memainkan ujung kausnya. Taeyeon membuang napasnya keras sambil terus berjalan ke ruang perawatan Yuri yang masih ada di lantai yang sama. Kening Taeyeon berkerut. Sesuatu mengganggu pikirannya.

Apa yang Jessica katakan tadi? Heechul hanya terobsesi pada tubuh Yoona? Aneh. Kenapa tidak terobsesi pada Yuri yang lebih seksi?Taeyeon memukul kepalanya. Ah, dasar Byuntae. Sempat-sempatnya memikirkan hal seperti itu.

Langkah kaki Taeyeon terhenti dan dia membalikkan badannya kembali.

“Sica, apa kau tidak ingin melihat keadaan Yuri seperti apa?” tanya Taeyeon pada Jessica yang hanya berdiri dan menatap lantai.

“Aku takut Yuri membenciku.” Jawab Jessica pelan.

“Ya kalau itu terjadi kamu harus meminta maaf padanya mudahkan. Kenapa di persulit seperti itu sih.?” Ucap Taeyeon dengan santai.

“Tapi, kalau Yuri tidak mau memaafkan aku bagaimana?” gumam Jessica pelan.

“Tidak mungkin. Aku tahu sifat Yuri seperti apa. Sebencinya dia dengan seseorang dia tak akan pernah lama marah, dan dia akan memaafkan kamu. Itupun kalau Yoona juga memaafkan kamu, Sica.” Kata Taeyeon dan berlalu pergi meninggalkan Jessica yang masih diam.

Ketika Taeyeon akan berjalan menuju kamar rawat Yuri, tiba-tiba saja Taeyeon melihat Donghae berjalan ke arahnya.

“Taeng, Bagaimana Kondisi, Yoona?” Tanya Donghae dengan cemas dan khawatir.

“Yoona, belum sadarkan diri Oppa. Tadi dia hampir saja pergi meninggalkan kita semua di sini. Tapi Tuhan masih sayang dengannya, akhirnya dia bisa diselamatkan.” Jelas Taeyeon.

“Syukurlah kalau seperti itu. Yoona di rawat diruang mana, Taeng-ah?” Tanya Donghae.

“Yoona ada di ruangan itu.” Jawab Teayeon sambil menunjuk kea rah ruangan Yoona.

“Baiklah. Kalau seperti itu, Oppa kesana dulu ne.” pamit Donghae pada Taeyeon dan pergi melangkah menuju arah ruang Yoona dirawat. Dia terkejut melihat Jessica yang diam termenung di depan pintu rawat kamar Yoona.

“Sica, sedang apa kau disini, apa kau belum puas menyakiti Yoona?” Tanya Donghae dingin.

“Donghae Oppa, a… ak..aku… disini menjenguk Yoona. Apa maksud perkataan Oppa?” kata Jessica gugup.

“Jangan sok polos kau itu. Kamu pasti mengerti apa yang aku maksud Jessica Jung. Aku sudah melihat semuanya, melihat kebersamaan dan kemesraan kamu dengan Heechul Hyung. Sebenarya apa yang kalian inginkan dari Yoona. Apa kamu memang ingin melihat Yoona menderita, kalau memang itu yang kamu inginkan selamat kamu berhasil Jessica-shi. Kamu berhasil membuat Yoona menderita dan hampir membuat Yoona pergi selamanya. Aku tidak mengira kalau kamu bisa melakukan seperti itu.” Kata Donghae sinis dan tajam.

“Aku tidak seperti itu Oppa.”gumam Jessica pelan.

“Terserah, aku tidak peduli. Pokoknya kamu jangan pernah mendekati Yoona lagi.” Ancam Donghae.

“Bukan aku yang melakukan ini semua. Ini semua Heechul Oppa yang melakukannya. Aku tidak pernah tahu rencana Heechul Oppa seperti apa. Dan aku tidak tahu perlakuan Heechul Oppa sudah kelewatan batas. Sungguh Oppa aku tidak tahu ini semua dan aku tidak terlibat dalam hal ini. Mana mungkin aku mencelakai Yoona, dia sudah seperti dongsaeng ku. Jadi tidak mungkin aku melukai dia. Hikkss…” kata Jessica sambil menahan sakit atas tuduhan Donghae.

“Tidak menyakiti Yoona? kalian pergi bersama malam-malam dan Yoona melihat itu semua?” pekik Donghae keras pada Jessica.

“Aku tidak tahu kalau Yoona melihat itu. Awalnya aku hanya ingin menolong Yoona dari Heechul Oppa agar dia bisa kembali dengan Donghae Oppa lagi. Tapi lama kelamaan aku mencintai Heechul Oppa dan dia pun sebaliknya. Aku tahu kalau yang aku lakukan menyakitinya tapi aku tidak tahu kalau dia melihatnya juga.” Jelas Jessica.

“Sudahlah, aku ingin melihat Yoona. permisi.” Pamit Donghae dan langsung masuk ke ruang rawat Yoona. Di dalam masih ada Sooyoung, Sunny dan Tiffany, Sooyoung dan Sunny yang bertengkar dan Tiffany yang masih berusaha memisahkan sampai akhirnya mereka sadar akan kehadiran Donghae.

“Annyeong, Donghae Oppa.” Sapa mereka bersamaan.

“Annyeong, apa sudah ada perkembangan dari Yoona?” tanya Donghae pada mereka bertiga.

“Belum ada Oppa. Kita berdoa saja semoga keajaiban datang dengan cepat dan membuat Yoona kembali sadar dari komanya. Oi ya bagaimana ke adaan Donghae Oppa? Mianhae kami belum sempat menjenguk Oppa selama Oppa sakit. Tapi kami sudah diwakilkan oleh Sooyoung.” Kata Tiffany.

“Semoga saja Yoona cepat sadar dari komanya, ne. Oppa sudah sembuh kok Fany-ah. Makasih sudah peduli dengan Oppa. Lagipula aku tahu kalau kalian pasti sibuk apa lagi semenjak Yoona hilang dan Yuri juga jatuh sakit. Pasti jadwal kalian semua jadi berantakan da nada sebagian member harus menggantikan posisi Yoona dan Yuri sementarakan?” ucap Donghae dengan senyum yang lembut.

“Apa, Oppa ingin kami tinggalkan berdua dengan Yoona? siapa tahu orang yang ditunggu kehadirannya adalah Oppa. Dan bisa membuat Yoona sadar dari komanya.” Saran Sunny.

“Ne, itu ide yang baik. Bagaimana kita keluar sekarang dan biarkan mereka berdua bersama.” Ucap Sooyoung sambil mengedipkan matanya pada Donghae.

“Aiishh kalian ini.” desis Donghae yang melihat tingkah konyol Sooyoung. Setelah mereka keluar dari kamar rawat Yoona. Donghae berjalan perlahan untuk menuju ranjang Yoona. Hati Donghae teriris melihat banyak luka yang di dapat Yoona saat ini. Yeoja yang selama ini dia kenal selalu ceria dan tersenyum dan kuat kini yang ada dihadapannya adalah yeoja yang lemah dan kesakitan. Melihat itu membuat hati Donghae sakit, dia berjanji tidak akan pernah menyerahkan Yoona lagi pada orang lain, cukup ia menyiksa dirinya dan Yoona sekarang. Dan dia tidak ingin kehilangan Yoona lagi, cukup saat ini dia hampir kehilangan Yoona untuk selamanya dan tidak akan terjadi lagi untuk ke dua kalinya.

“Yoong, Irrona…” ucap Donghae pelan mungkin hampir seperti bisikan ditelinga Yoona.

“Apa kamu tidak merindukan Oppa… bogoshipo Yoong… Jongmal Bogoshipo…hikkss..” tangis Donghae sudah tidak dapat ditahan lagi akhirnya tangisan itu pecah.

“Mianhae…. Selama ini Oppa tidak tahu kalau Heechul Hyung menyiksa kamu seperti ini Yoong. Oppa kira kamu bahagia dengannya. Karena kamu selalu bercerita kamu mencintainya. Oppa sudah hampir menyerah mendapatkan kamu kalau kamu memang bahagia dengannya. Tapi setelah melihat dia bersama yeoja itu Oppa tidak terima. Oppa tidak ingin kamu disakiti oleh mereka, jadi Oppa memutuskan untuk merebut kamu lagi dari tangan Heechul Hyung. Tapi bukan hanya hatikamu yang sakit,hikks….hikks… oppa minta maaf Yoong. Oppa gagal menjaga dan melindungi kamu. Mianhae… Yoong…. Jebbal Irrona….hikksss….” tangis Donghae pecah dan di memegang tangan Yoona erat. Dia merindukan yeojanya yang dulu, dia ingin Yoona cepat sadar dan kembali sedia kala. Tanpa Donghae sadari tangan Yoona yang tidak dia genggam bergerak. Dan perlahan mata Yoona terbuka.

“O…O…op..pa..” ucap Yoona dengan pelan.

“Yoong, kamu sudah sadar? Jangan banyak bergerak ne. Oppa panggilkan Dokter dulu ne, untuk memeriksa kondisi kamu.” Ucap Donghae dan segera keluar dari kamar Yoona.

“Dok… Dokter… Yoona….” Ucap Donghae dengan cemas.

“Oppa, ada apa? Apa yang terjadi pada Yoona. Apa dia kembali kritis…” Tanya Tiffany yang melihat Donghae keluar dan mencari Dokter.

“Mwo. Apa maksud Fanny Eonni? Yoona kritis? Tidak mungkin Eonni” pekik Yuri.

“Tenanglah kalian. Yoona baik-baik saja, dia sudah sadar dari komanya. Dan sedang diperiksa oleh dokter.” Ucap Donghae akhirnya yang melihat Yuri histeris.

“Jinjjayo Oppa?” pekik Yuri senang.

“Ne, Yul. Dia sudah sadar dan sekarang dia sedang di periksa oleh dokter.” Ucap Donghae dengan senyum yang tak pernah pudar.

“Syukurlah…..” ucap member SNSD yang lain dengan wajah yang lega.

“Benarkan, orang yang ditunggu oleh Yoona adalah Donghae Oppa. Syukurlah Donghae Oppa datang dengan cepat.” Ucap Sunny.

“Ne, Eonni benar. Mereka berdua memang sudah ada ikatan batin. Saat Yoona sakit hanya dengan mendengar suara Donghae Oppa entah dari Telepon atau mendengar dari Donghae Oppa bernyanyi pasti Yoona langsung sembuh dan membaik. Kalian berdua itu benar-benar seperti soulmate, waktu Yoona sakit di rawat Donghae Oppa langsung merasakannya dan tanpa tahu Yoona di rawat di Rumah sakit mana Donghae Oppa sudah tahu karena ikatan batin mereka benar-benar kuat. Dan hari ini terbukti lagi, Yoona berhasil melewati masa kritisnya pun karena Donghae Oppa. Aku harap kalian berdua bersatu lagi, dan hidup bahagia. Aku tidak mau melihat Yoona sedih lagi.” Jelas Yuri.

Mendengar itu Donghae tertegun, dia tidak menyangka ikatan batin yang dia rasakan itu dirasakan pula dengan Yoona. Tidak berapa lama akhirnya Dokter keluar dari ruang rawat Yoona.

“Dok, bagaimana keadaan Dongsaeng kami.” Tanya Taeyeon pertama kali.

“Syukurlah, Nona Yoona berhasil melewati masa kritisnya dan dia sudah sadar. Ini benar-benar mukzijat dari Tuhan. Dan saat ini, Nona Im bisa dipindahkan ke ruangan biasa dan nanti kalian semua bisa mengunjunginya tapi jangan biarkan dia banyak istirahat karena kondisinya masih lemah.” Jelas Dokter tentang kondisi kesehatan Yoona.

Setelah Yoona di pindahkan dari Icu ke kamar inap, semua member SNSD berkumpul diruangan itu di tambah Siwon yang memang sengaja bolos dari syutingnya untuk mendampingin Yuri. Donghae duduk disamping ranjang Yoona, dia menyuapi Yoona buah apel yang sudah bersih dari kulitnya. Melihat Yoona yang sudah kembali ceria Yuri meresa bersyukur, dia bahagia karena dia masih bisa bersama dengan Yoona, menjaga Yoona. Dan dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Yoona lagi. Tidak lama setelah itu, Jessica masuk ke ruangan itu.

“Mau apa lagi kau datang kesini. Masih berani kau muncul dihadapan aku dan Yoona? Apa kamu kecewa karena saat ini Yoona selamat dan tidak jadi mati. Jadi kau gagal untuk memiliki Heechul Oppa.” Kata Yuri dingin.

“Chagi, sudah jangan marah-marah ingat kau juga harus banyak istirahat.” Ucap Siwon lembut pada Yuri.

“Aku, sudah baik-baik saja Oppa. Selama Yoona baik-baik saja aku tidak kenapa-kenapa” kata Yuri dengan manja. Yoona hanya diam mendengar ucapan Yuri barusan, dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi selama dirinya di sekap oleh Heechul.

“Yul, aku kesini hanya ingin minta maaf pada kalian berdua.?” Ucap Jessica ragu.

“Hahahha…. Minta maaf atas apa yang semua kalian berdua lakukan pada Yoona. Apa kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu bukan melindungi Yoona malah lebih memili Heechul Oppa. Yoona itu keluarga kita kenapa kamu tidak melindunginya. Hahh… Kamu egois Jessica Jung, kami kecewa dengan sikap kamu.” Pekik Sooyoung yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.

“Mianhae…. Mianhae… jongmal mianhaeyo…. Aku…. Hikksss…” ucap Jessica di sela isak tangis nya sambil berlutut di hadapan semua orang yang ada disana. Melihat itu Yoona menjadi Iba, dia berusaha untuk turun dari ranjangnya.

“Yoong, kamu mau apa?” ucap Donghae menahan tubuh Yoona.

“Oppa, aku mau kesana. Jebbal…” pinta Yoona pada Donghae. Melihat Yoona yang memelas Donghae akhirnya membopong tubuh Yoona.

“Oppa, apa yang Oppa lakukan.” Tanya Yoona yang sudah malu dengan perlakuan Donghae.

“Tidak ada penolakan. Kamu kan masih perlu banyak istirahat, arra. Kalau kamu tidak mau jangan harap kamu bisa turun dari ranjang ini. Taeng-ah, apa kamu bisa bantu Oppa membawa Infuse Yoona.” ancam Donghae pada Yoona. Setelah itu Donghae berjalan menuju ke arah Jessica sambil membopong tubuh Yoona.

“Eonni, berdirilah. Tak perlu seperti ini, aku sudah memaafkannya kok. Lagipula ini semua bukan kesalahan Eonni, jadi tak perlu ada yang harus dimaafkan. Aku mengerti bila Eonni juga mencintai Heechul Oppa. Kalau memang itu membuat Eonni dan Oppa bahagia aku tidak masalah. Karena yang aku inginkan hanya melihat Eonni bahagia.” Ucap Yoona dengan lembut.

“Yoong, gomawo… gomawo sudah memaafkan kesalahan Eonni. Jongmal Gomawoyo…” ucap Jessica senang sambil memeluk Yoona erat.

“Ahhh…” rintih Yoona seolah menahan sakit.

“Yoong, Gweachana…” ucap Donghae langsung dengan sikap mendengar Yoona mengeluh.

“Gweachana Oppa. Hanya saja tadi Sica Eonni memeluk ku terlalu erat. Tubuhku masih terasa sakit semua.” Ucap Yoona pelan.

“Mianhae Yoong. Eonni tidak sengaja.” Ucap Jessica merasa tidak enak pada Yoona.

“Gweachana Eonni… Donghae Oppa aku ingin kembali berbaring.” Pinta Yoona, dan dengan segera Donghae mengangkat tubuh Yoona dan menaruhnya ke tempat tidur dengan perlahan.

“Chagi, sebaiknya kamu kembali ke ruang rawat kamu dan istirahat arra. Karena Yoona juga pasti butuh istirahat dan sudah banyak yang menjaganya. Jadi tidak mungkin ada yang akan menyakitinya lagi.” Ucap Siwon pada Yuri.

“Tapi oppa. Aku masih ingin disini menemani Yoona.”rengek Yuri pada Siwon.

“Tidak bisa pokoknya kamu harus kembali ke kamar dan istirahat. Titik tidak ada penolakan.” Ucap Siwon dengan tegas.

“Eonni, benar kata Siwon Oppa. Sebaiknya Eonni juga istirahat, disini sudah ada Donghae Oppa yang akan menjaga ku. Jadi eonni tidak perlu khawatir lagi.” Kata Yoona akhirnya angkat bicara setelah mendengar perdebatan Yuri dan Siwon.

“Tapi Yoong….”

“Gweachana Eonni. Tidak akan ada yang menyakiti aku karena disini sudah ada security di depan yang menjaga. Eonni sakit pun gara-gara memikirkan aku, jangan buat aku merasa lebih bersalah lagi karena Eonni sakit karena aku juga.” Ucap Yoona berusaha meyakinkan Yuri.

“Ne, baiklah. Eonni kembali ke kamar dan istirahat, tapi kamu harus janji kamu akan baik-baik saja kan.” Ucap Yuri berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Ne, Eonni tenang saja. Aku janji aku akan baik-baik saja.” Ucap Yoona yakin.

Setelah kepergian Yuri dan Siwon, disana hanyalah tinggal Yoona dan Donghae berdua di dalam kamar itu. Rasa gugup menghampiri keduanya, tidak ada yang memulai percakapan diantara mereka berdua. Sampai akhirnya Donghae membuka percakapan.

“Yoong, bagaimana keadaan kamu saat ini? apa sudah membaik?” Tanya Donghae pada Yoona.

Yoona tersenyum mendengar pertanyaan Donghae, karena dia tahu bukan itu yang ingin dikatakan oleh Donghae, “Ne, Oppa aku sudah lebih baik dari tadi.”

“Yoong, apa Oppa boleh bertanya sesuatu padamu?” Tanya Donghae dengan pelan.

“Oppa ingin bertanya apa?”

“Apa kamu masih mencintai Oppa?” Tanya Donghae dengan ragu atas pertanyaannya pada Yoona, dia takut Yoona akan kembali menolaknya dan menghindarinya.

“Sesungguhnya….”

“Ne, Sesungguhnya apa Yoong?” Tanya Donghae yang tidak sabar mendengar jawaban dari Yoona.

“Sesungguhnya, dari dulu hingga saat ini aku masih sangat mencintai Oppa. Selama ini aku berbohong pada Oppa untuk melindungi Oppa dari Heechul Oppa. Awalnya aku kira Heechul Oppa benar-benar tulus mencintai aku, tapi ternyata dia hanya terobsesi padaku saja. Dan dia setiap hari mengancam bila aku masih berhubungan dengan Oppa dia akan menyakiti Oppa. Aku tidak ingin dia menyakiti Oppa. Tapi setiap aku menghindari Oppa, semakin sering kita bertemu dan semakin aku membenci Oppa itu malah membuat aku semakin mencintai Oppa. Aku bingung harus seperti apa? Tapi ketika aku melihat kebersamaan Yuri Eonni dan Siwon Oppa, Sooyoung Eonni dan Kyuhyun Oppa, aku mengerti bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang di dasari dengan hati bukan nafsu semata. Seperti Heechul Oppa yang hanya ingin mendapatkan aku dengan napsu bukan dengan hati.” Jelas Yoona.

“Lalu, apa kita bisa kembali bersama lagi?” Tanya Donghae pada Yoona dengan berharap Yoona akan menerima ajakan itu.

“Sebenarnya aku ingin kembali pada Oppa. Tapi…. Aku ragu” Jawab Yoona pelan.

“Ragu kenapa Yoong. Kamu ragu Oppa tidak dapat menjaga kamu. Apa kamu ragu Oppa akan menyerahkan kamu lagi pada orang lain. Oppa tidak akan pernah lagi menyerah Yoong. Oppa akan selalu menjaga kamu dan Oppa tidak akan seperti itu lagi.” Jawab Donghae dengan yakin.

“Bukan karena itu Oppa. Aku yakin Oppa mampu menjaga aku. Dan aku pun tidak ingin lagi kembali berpisah dengan Oppa. Karena itu sangat menyiksa batin dan hati aku bila seperti itu. Aku ragu kalau fans akan menerima hubungan kita dan Oppa tahu sendiri peraturan yang dibuat di Agency kita bahwa tidak boleh berkencan dengan sesama satu Agency.” Jelas Yoona.

“Apa kamu lupa Yoong. Banyak yang melakukan seperti itu. Bukan hanya kita berdua yang seperti itu contohnya Leeteuk hyung dan Taeyeon, Yuri dan Siwon, Kyuhyun dan Sooyoung, Hyehyeon dan Hyukjae, dan masih banyak lagi. Apa kamu tidak tahu setelah Yuri keluar dari rumah sakit Yuri dan Siwon akan mempersiapkan pernikahan dan yang kamu harus tahu Lee Sooman Ahjushi sudah merestui mereka yang memang sedang berkencan. Jadi mereka tidak akan bersembunyi-sembunyi dari Sooman Ahjushi.” Kata Donghae pada Yoona.

“Mwo, bagaimana mungkin bisa seperti itu? Sooman Ahjushi merestui kita semua?” Tanya Yoona terkejut dengan perkataan Donghae.

“Bisa saja. Karena Siwon dan Leeteuk hyung sudah memperjuangkan itu. Tidak ada yang tidak mungkin. Jadi tidak ada alasan untuk kamu menolak kan Yoong. Oppa masih sangat mencintai kamu, oppa tidak bisa hidup tanpa kamu Yoong. Dalam ruang sadar Oppa pun hanya kamu yang ingin oppa temui. Jebbal kembali lah, oppa janji akan menjaga kamu dan mencintai kamu selamanya. Kalau masalah fans cepat atau lambat pasti mereka semua akan mendukung kita berdua, dan oppa akan memohon pada Elf dan Fans Oppa untuk merestui hubungan kita berdua.” Ucap Donghae dengan yakin.

“Mianhae Oppa… Tapi aku tidak bisa….” Jawab Yoona pelan.

“Mwo, apa kamu sudah tidak mencintai Oppa lagi Yoong. Makanya kamu menolak Oppa?”Tanya Donghae pada Yoona.

“Oppa aku kan belum selesai bicara jadi jangan mengambil kesimpulan seperti itu.” Dumel Yoona pada Donghae.

“Mianhae…” ucap Donghae dengan menyesal.

“Mianhae Oppa… tapi aku tidak bisa menolak Oppa. Aku juga masih mencintai Oppa, hanya Oppa yang ada dihati dan pikiran aku. Aku juga akan meminta restu dari Sone semua, kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu mereka, ne Oppa.” Ucap Yoona dengan tersenyum lembut.

“Jinjja… jadi kita sekarang resmi bersatu lagi?” pekik Donghae senang.

“Aiisshhh, Oppa tidak perlu seperti itu. Malu kalau didengar orang lain.”Dumel Yoona yang kesal melihat sikap Donghae.

“Mianhae Yoong, Oppa hanya senang sekali.” Ucap Donghae dan langsung memeluk Yoona senang. “Saranghaeyo Yoong… Jongmal Saranghae… Yongwoni….” Ucap Donghae berkali-kali.

“Ne, Oppa. Nado ….” Ucap Yoona membalas pernyataan Donghae dan dia membalas pelukan Donghae dengan erat.

Tanpa mereka sadari diluar kamar rawat Yoona ada seseorang yang mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua di dalam.

“Hyung, mendengar sendiri kan. Mereka berdua saling mencintai dan tidak bisa di pisahkan. Jadi lebih baik hyung menyerah merebut Yoona dari Donghae hyung. Lagipula Hyung sudah mulai mencintai Jessica kan, jadi hyung tidak boleh egois. Kalau hyung melakukan itu banyak yang akan tersakiti. Bukan hanya Yoona dan Donghae hyung tapi juga Jessica dan diri Hyung sendiri.” Kata Kyuhyun pada Heechul.

“Kamu benar Kyu. Hyung memang hanya terobsesi dengan Yoona dan yang sebenarnya hyung cintai adalah Jessica. Hyung akan melepas Yoona untuk Donghae, hyung tidak ingin menjadi penghalang untuk mereka bersatu. Hyung banyak salah dengan mereka, apalagi dengan Yoona. hyung sudah banyak salah karena menyiksa Yoona sampai Yoona hampir saja kehilangan nyawanya dengan tragis. Hyung menyesal Kyu.” Ucap Heechul sambil menangis tersedu.

“Kalau hyung memang menyesal lebih baik hyung minta maaf dengan mereka berdua bukan dengan aku. Karena yang mereka yang sudah hyung sakiti bukan aku.” Ucap Kyuhyun datar.

“Apa mereka mau memaafkan hyung, kyu?” tanya Heechul pada Kyuhyun.

“Molla hyung. Mungkin saja mereka bisa memaafkan kesalahan hyung. Karena Yoona sudah memaafkan Jessica tadi. Kajja kita masuk sekarang, dan hyung minta maaf pada mereka.” Ajak Kyuhyun pada Heechul.

Tok…tok…

Mereka berdua masuk ke dalam dan ternyata Donghae dan Yoona masih berpelukan, sehingga membuat mereka berdua terkejut.

“Kyu… Heechul Hyung… ini bukan seperti yang kalian pikirkan.” Kata Donghae gugup.

Sedangkan Yoona ketika melihat Heechul ketakutan dan memegang erat tangan Donghae. Melihat sikap Yoona yang ketakutan membuat Donghae menyadari sesuatu.

“Yoong, gweachana?” tanya Donghae lembut.

“Oppa, aku takut.” Ucap Yoona lirih dan dengan ketakutan.

“Kamu tidak perlu takut,Yoong. Disini ada Oppa.” Ucap Donghae berusaha menenangkan Yoona.

“Anniya Oppa. Aku takut. Jebbal usir dia Oppa, aku takut…” pekik Yoona.

“Tenanglah Yoong. Disini ada Oppa.” Kata Donghae masih berusaha menenangkan Yoona.

“Mianhae Yoong. Oppa kesini hanya ingin minta maaf atas perlakuan Oppa selama ini. Oppa mengaku Oppa banyak salah sama kamu. Mianhae Yoong… jongmal mianhae….” Kata Heechul akhirnya mengerluarkan suara.

Mendengar perkataan Heechul barusan Yoona mulai tenang.

“Mwo, hyung kesini minta maaf?” kata Donghae tidak percaya.

“Ne, Hae. Hyung kesini hanya ingin minta maaf sama kamu dan Yoona. Hyung tahu, hyung banyak salah sama kalian berdua. Hyung sudah memisahkan hubungan kalian berdua, hyung juga sudah menyakiti kamu Hae dengan mencelakakan kamu Hae. Dan buat kamu Yoong, oppa minta maaf karena Oppa sudah melakukan kekerasan pada kamu sehingga membuat kamu menjadi trauma dengan pisau. Mianhae… jongmal mianhae… “ucap Heechul sambil berlutut di depan Yoona dan Donghae. Melihat itu Donghae tidak tega dan berjalan menuju Heechul membangunkan Heechul.

“Berdirilah Hyung. Tak perlu berlutut seperti ini. Pasti kami berdua memaafkan hyung. Kami bukan Tuhan yang tidak mungkin memaafkan seseorang. Benarkan Yoong.”

“N…Ne…”

“Gomawo, kalian berdua memang cocok sekali. Hyung mengalah. Hyung harap kalian berdua langgeng dan cepat menikah ne.”

“Kamsahamidah hyung. Kami berdua memang sedang merencanakan untuk itu hehehhehe.”

“Mwo, Yak Donghae Hyung kenapa kalian berdua duluan. Biarkan Leeteuk Ahjushi itu menikah dululah hyung.”ucap Kyuhyun.

“Yakk, kalau Leeteuk kau panggil Ahjushi aku kau panggil apa, HHAAAHHH?!!” pekik Heechul.

“Hahahhahaha…. Cepatlah menikah dengan Jessica Jung itu hyung. Kalian berdua memang cukup serasi. Apalagi kalian berdua hampir saja melakukan itu kan?” ucap Kyuhyun meledek Heechul.

“YYYAAKKK…..” pekik Heechul.

“Hahahhahahha…” mereka bertiga akhirnya tertawa. Dan suasana menjadi mencair dan tidak ada lagi ketegangan.

“Benar kata Kyuhyun Oppa. Kalian berdua sudah waktunya untuk menikah.” Kata Yoona dengan riang.

“Aiiishhh kalian ini.” Dumel Heechul.

****

Setelah beberapa hari Yoona dirawat akhirnya Yoona sudah di ijinkan untuk keluar dari Rumah Sakit. Wajah Yoona begitu senang sekali, tak ada henti-hentinya senyuman diwajah Yoona. Apalagi dua hari lagi Yuri dan Siwon akan menikah, itu point plus kebahagiaan Yoona.

“Sepertinya kamu senang sekali, Chagi.” Kata Donghae.

“Tentu saja Oppa. Aku akan keluar dari Ruang yang bau obat ini. Dan beberapa hari lagi Yuri Eonni dan Siwon oppa akan menikah. Aku sudah tidak sabar untuk hadir pasti akan ramai. Ditambah Siwon Oppa orang terkenal dan Yuri Eonni juga. Pasti banyak tamu yang akan datang dan pasti ramai sekali.” Ucap Yoona dengan senang.

“Kajja, kita pulang.” Ajak Donghae.

Ketika mereka keluar dari Rumah sakit mereka tidak menyangka bahwa sudah banyak Wartawan yang menunggu mereka keluar.

“Oppa kenapa banyak sekali wartawan disini?” bisik Yoona pada Donghae.

“Oppa juga tidak tahu. Sebentar ada telepon masuk, dari Kyuhyun.” Kata Donghae.

“YAAKk…. Apa-apaan kamu itu.” Pekik Donghae.

“Waeyo Oppa?” tanya Yoona bingung melihat Donghae yang kesal setelah menerima telepon dari Kyuhyun.

“Ini semua ulah Kyuhyun. Katanya ini semua ide dia. Karena hanya kita berdua saja yang belum mempublikan hubungan kita berdua. Bagaimana ini? Apa kamu siap menghadapi ini semua?” tanya Donghae pada Yoona.

“Ne, Oppa aku siap. Cepat atau lambat semua orang akan mengetahui hubungan ini.” Ucap Yoona dengan yakin.

“Yoona-shi… Donghae-shi.. apa kalian sekarang berkencan. Kenapa kalian bersama saat ini? Dimana member lain? Apa mereka sibuk untuk persiapan pernikahan Yuri dan Siwon? Apa kalian juga akan menyusul mereka untuk menikah?” tanya Wartawan yang tidak ada jedanya.

“Aku bingung mau menjawab apa? Kalian bertanya terlalu banyak, bisa tidak bertanyanya satu-satu saja?” ujar Donghae dengan sopan.

“Apa kalian berdua berkencan atau mempunyai hubungan khusus?” tanya salah satu wartawan yang ada.

“Ne, kami memang saat ini berkencan.” Jawab Donghae dengan yakin dan tenang.

“Sudah berapa lama?”

“Kurang lebih sudah tiga tahun kami berhubungan. Tapi satu setengah tahun ini kami memutuskan sendiri-sendiri. Dan sampai akhirnya karena kita berdua masih saling mencintai kami sepakat untuk melanjutkan hubungan ini.” Jawab Donghae yang berusaha menjelaskan pada para Wartawan.

“Jadi selama ini kalian menyembunyikan hubungan kalian selama itu? Apa fans tidak ada yang curiga dengan itu?”

“Kami sepakat untuk menyembunyikan itu karena salah satu resikonya. Karena kalian tahu sendiri SM Managament melarang artisnya berkencan sesame artis yang satu agency. Dan kami mau tidak mau harus merahasiakan hubungan kami berdua.” Jelas Donghae masih dengan tenang.

“Jadi sekarang Managanent kalian sudah mengijinkan kalian atau yang lain menyetujui hubungan kalian berdua?”

“Tentu saja. Management mengijinkan, kalau tidak mana mungkin Siwon dan Yuri menikah. Dan Leeteuk hyung dan Taeyeon juga akan segera menikah.” Ucap Donghae dengan tersenyum lebar.

“Apa kalian tidak takut dengan fans yang tidak menyetujui hubungan kalian?”

“Kami yakin tidak semua orang menerima hubungan kami berdua, pasti ada yang tidak suka dengan hubungan kita berdua. Tapi kami yakin cepat atau lambat mereka akan menyetujuinya.” Kali ini Yoona yang angkat bicara.

“Oke, apa yang ingin kalian sampaikan untuk para fans kalian.”

“Untuk Elf dan Sone khususnya Fishy dan Deer kami mohon maaf karena kami sudah mengecewakan kalian semua. Tapi kami mohon kalian merestui hubungan kami berdua. Walaupun kalian tidak merestui, kami tetap akan bersama dan tidak akan berpisah karena wanita yang sangat aku cintai hanya Im Yoona bukan yang lain.” Ucap Donghae dengan jelas dan tegas.

Setelah mengatakan itu Donghae dan Yoona pamit untuk pergi dari rumah sakit. Selama di perjalan menuju dorm SNSD Yoona bahagia sekali.

“Oppa, gomawo telah memilih aku dan mencintai aku selalu.” Ucap Yoona dengan lembut.

“Sama-sama, chagi. Kamu adalah yeoja pertama yang berhasil menaklukan hati oppa pada saat pertama kali kita bertemu. Semoga ini akan selamanya dan kita berdua tidak akan pernah berpisah lagi.” Kata Donghae dengan lembut. Setelah tidak lama perjalanan mereka sampai di dorm SNSD. Donghae menggandeng erat Yoona begitupun dengan Yoona. Ketika mereka berdua masuk Dorm ternyata semua member SNSD dan Super Junior dan artis SM lainnya menyambut kedatangan Yoona kembali ke dorm.

“Welcome to Deer… WE Love You….” Pekik mereka secara bersamaan.

“Gomawo… Oppadeul dan Eonniedul yang sudah datang menyambut aku.” Ucap Yoona dengan terharu.

Yuri berjalan mendekati Yoona dan memeluk erat Yoona.

“Welcome back Yoong… Bogoshipo chagi…” ucap Yuri pada Yoona.

“Gomawo Eonni. Mianhae aku tidak bisa membantu persiapan pernikahan kalian berdua.” Ucap Yoona.

“Tidak apa Yoong. Eonni juga tahu kamu masih tahap penyembuhan. Yang penting nanti di hari pernikahan Eonni kamu bisa hadir chagi. Ada lagi satu kejutan untuk kamu Yoong.” Ucap Yuri lembut.

“Mwo, masih ada lagi? Apa lagi Eonni.” Tanya Yoona pada Yuri.

“Kamu lihat saja.”

Tiba-tiba semua member Super Junior berkumpul dan menyanyikan lagu Reff lagu Marry u dan setelah lagu selesai Donghae datang sambil bersujut di depan Yoona sambil membawa cincin.

“Im Yoona, kita berdua sudah lama saling mengenal dan sudah lama saling mencintai. Setelah banyak rintangan yang kita lalu berdua, Oppa ingin menjadikan kamu milik Oppa selamanya. Oppa tidak ingin lagi berpisah dengan kamu. Apa kamu bersedia menjadi Istri ku, menjadi Eomma dari aegi-aegi kita nanti dan menjadi pendamping disaat sedih, sakit, suka,duka, bahagia?” ucap Donghae dengan sangat yakin.

“Oppa…. Apa Oppa sungguh-sungguh?”tanya Yoona yang terkejut mendapat kejutan seperti ini.

“Ne, tentu saja Oppa tidak main-main chagi. Oppa serius. Maukah kau menjadi pendamping ku.

Will You Married Me?” tanya Donghae lagi.

“Yes, I do Oppa.” Jawab Yoona dengan yakin dan saat itu pula Donghae memeluk erat Yoona. semua orang yang ada disana bahagia. Karena melihat kisah cinta mereka yang memang sangat tragis dan sekarang berlangsung bahagia.

“Wah, sepertinya dalam waktu dekat aka nada banyak pernikahan dalam member SNSD dan Suju setelah Siwon hyung dan Yuri.” Celetuk Kyuhyun tiba-tiba.

-End-

Gomawo yang sudah setia menunggu lanjutan fanfiction ini atau yang lain…. Semoga kalian suka sama certianya. Dan jangan lupa komentarnya…..

Jangan lupa yang mau menjadi Author boleh kok gabung dengan blog ini : https://koreanfanbasefanfiction.wordpress.com/.  Blog ini masih baru jadi masih butuh banyak author’s yang bisa meramaikan blog ini. Blog ini All Fandom jadi kalian bisa sepuasnya membuat Fanfiction dengan main cast siapa pun.

Happy reading and enjoy… please for coment…..

Advertisements

4 thoughts on “FOREVER IN LOVE (CHAPTER 3 – END)

  1. Akhirnya,,, ni ff muncul juga, aduh aku ampe nangis pas baca bagian yang sedihnya, dan untungnya ni cerita happy ending, makasih buat author yg sudah buat cerita sebagus ini

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s