Freelance – My Boyfriend is A Ghost [Chapter 3]

MBIAGPrevious :

Chap 1 | Chap2

Author & Cover by:

Milleny (@MillenyBFVIP07)

Cast :

Kim Jong In/Kai (EXO)

Jung Han Ra (You/OC)

Lee Tae Min (SHINee)

Kim Ki Bum/Key (SHINee)

Support cast :

Song Geum Heun (OC)

Mrs. Song (Geum Heun’s mother)

And other…

Genre :

Fantasy, Angst, Romance, School-life, Hurt, Sad, Tragedy (?)

Rating :

Teen

Length :

Chaptered (Chapter 02)

Disclaimer :

Semua cast punya Tuhan dan orangtua/orang-orang terkasih. Jung Han Ra dan FF punya saya seutuhnya. Plis jangan diplagiat. Ini udah ancur, plis jangan plagiat kacian tauk T_T #plak :v. FF ini terinspirasi dari drama 49 Days (maaf ini kemarin lupa dicantumin) dan film horor Indonesia kuntilanak :v.

Warning! : FF ini sebelumnya pernah di post di Note FB saya, tapi karena saya sudah punya blog pribadi dan ingin share juga di sini, saya akhirnya share kembali. Dan ini saya revisi kembali. Cerita seutuhnya masih sama seperti dulu, namun ada yang saya tambah+kurangi.

FF sudah dipost di akun pribadi : MILLENY 165

Terima kasih selamat membaca~

Seonbae!”

Han Ra membuat Tae Min menatapnya dengan kaget, “Ada apa?” tanyanya begitu sangat… sangat singkat.

“Apa yang sedang kaupikirkan?” tanya Han Ra penasaran.

“Bukan apa-apa,” jawab Tae Min datar. Tiba-tiba ia bangkit berdiri. “Hm.. aku mau buang air kecil dulu.”

Tae Min berlalu dari hadapan Han Ra. Han Ra hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya. Sebenarnya, Tae Min kenapa? Han Ra menjadi tidak enak. Apa ada sesuatu yang membuatnya begitu? Atau… Han Ra sendiri yang membuat Tae Min seperti itu?

Tae Min seonbae, sikapmu berubah semenjak kita sampai di hutan ini. Apa kau mengingat sebuah kenangan pahit? Atau masa lalumu yang menyedihkan disini? Aku mohon jangan bersikap seperti kau menjauhiku. Aku… setidaknya bisa membantu.

***

Kegiatan kemping ternyata benar-benar membosankan. Han Ra juga sangat bosan berada disini. Kegiatan disini benar-benar tidak seru. Masih seru tahun lalu. Tahun sekarang malah kegiatan olah raga dan bukannya area permainan. Kalau begitu ini turnamen olah raga bukannya kemping, kan?

Sudah dua hari semua siswa mengikuti kemping. Dan semua juga merasa bosan. Sangat bosan. Ah! Kalau begini caranya Han Ra bisa mati bosan disini. Manalagi Tae Min, satu-satunya orang yang menurut Han Ra tidaklah membosankan malah bersikap aneh seperti itu. itu menambah kesan membosankan. Menyebalkan. Lebih baik, ia jalan-jalan saja, mencari udara segar.

“Han Ra, mau kemana?” tanya An Na saat melihat Han Ra berjalan masuk ke hutan lebih dalam.

Han Ra melambai. “Mau jalan-jalan. Nanti aku segera kembali!”

Han Ra berjalan di tengah hutan yang diselimuti kegelapan malam dan udara di hutan yang sangat dingin. Han Ra hanya ditemani oleh jaket, syal, dan senter yang dipegangnya. Ia juga sempat merinding ketika mendengar suara jangkrik. Han Ra mengarahkan senternya kesegala arah. Lebih baik ia jalan-jalan di dalam hutan sendirian daripada harus berlomba seperti tarik tambang ataupun badminton. Itu namanya turnamen olahraga! Han Ra sempat bingung, apa panitia itu bodoh atau bagaimana sampai-sampai turnamen olahraga dan permainan saja tidak besa membedakan.

“Jung Han Ra…”

Han Ra membalikkan badan ketika mendengar namanya dipanggil.

“Song… Song Geum Heun? Apa yang kaulakukan disini?” Han Ra merasa tidak nyaman ketika melihat tatapan dan senyum miring yang begitu mengerikan yang diperlihatkan oleh Song Geum Heun.

Seolah akan ada hal buruk yang menimpa dirinya saat itu juga.

***

Ya, Song Geum Heun, mau kemana?” tanya Seo Won, teman satu kelompoknya, anak kelas 12, teman dekat Tae Min.

Geum Heun tersenyum tenang, seolah tidak ada apa-apa. Tapi, diam-diam Seo Won mencurigai senyum itu. Geum Heun orang yang sangat dingin, sombong, dan angkuh. Ia tidak pernah tersenyum manis begitu. Pasti ada sesuatu yang disebunyikannya. Pasti.

“Aku mau buang air kecil. Nanti aku akan segera kembali.” Geum Heun berucap dengan sangat bohong.

Seo Won begitu yakin kalau Geum Heun bohong. Seo Won juga tahu kalau Han Ra adalah adik tiri Geum Heun, dan Geum Heun sangat tidak menyukainya. Makanya Seo Won curiga. Seo Won tadi juga melihat Han Ra berjalan dengan senter ditangannya ke arah dalam hutan. Dan setelah itu, Geum Heun juga bilang akan buang air kecil. Benar-benar mencurigakan.

Seo Won mengangguk, Geum Heun lalu melambai dan masuk ke dalam hutan. Tapi diam-diam, Seo Won mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh.

Seo Won melihat Geum Heun menghampiri seorang gadis. Mereka berdua membelakangi Seo Won. Saat, Geum Heun memanggil nama gadis itu, gadis itu membalikkan badan. Benar. Gadis itu adalah Jung Han Ra.

Seo Won membelalakan matanya begitu melihat Han Ra mundur dan mundur, selangkah demi selangkah. Dan hingga Han Ra menyadari bahwa di belakangnya ada sebuah jurang yang sangat dalam.

Han Ra, awas! Jerit Seo Won dalam hati.

Han Ra dan Geum Heun saling bercakap-cakap. Tapi sayangnya, Seo Won tidak begitu mendengarnya karena suara jangkrik hutan yang terdengar cukup nyaring. Seo Won hanya bisa diam di balik pohon besar dan melihat apa yang terjadi setelah ini.

Beberapa saat kemudain…

Seo Won membelalakan mata. Salah satu tangannya menutup mulutnya. Geum Heun mendorong Han Ra! Tiba-tiba saja, Seo Won menitikkan air mata. Geum Heun benar-benar orang jahat! Nappeun yeoja!

Seo Won segera membalik dan berlari ke arah perkemahan. Mengambil langkah. Ia masih sangat syok. Tapi, sebuah suara menghentikannya.

***

Geum Heun mendekati Han Ra. Han Ra mundur selangkah demi selangkah mengikuti gerakan Geum Heun yang semakin mendekatinya. Han Ra memekik saat kaki kanannya mengawang saat ia mundur selangkah lagi. Han Ra menoleh dan melihat sebuah jurang yang terlihat begitu curam. Kenapa ia tidak mengetahui kalau ada jurang? Ini gawat. Ini bahaya.

Seseorang tolong aku! Jerit Han Ra dalam hati. Keringat dingin telah turun perlahan melalui pelipis dan terjatuh ke pipinya. Tangan Han Ra gemetaran, kakinya pun gemetaran. Ia benar-benar ketakutan sekarang.

“Jung Han Ra, apa kau tidak tahu kalau sebenarnya selama ini aku sangat iri kepadamu?”

Apa sih maksud nenek sihir ini!! Suaranya bahkan lebih mengerikan dari suara jangkrik-jangkrik itu.

“Apa maksudmu?” Han Ra berkata dengan tegas. Sebenarnya ia takut, tapi, tidak. Ia tidak boleh terlihat takut. Ia harus bisa menaklukan Geum Heun dan ibunya. Bagaimanapun caranya.

“Kau sudah merebut Tae Min dariku… dan… agar Tae Min melupakanmu…” Geum Heun menatap tajam Han Ra dan berjalan semakin mendekatinya. “Aku harus membunuhmu.”

Me-membunuhku? Tuhan, tolong aku dari iblis ini! Aku mohon, Tae Min seonbae!!

Geum Heun mengangkat tangannya. Sebelum ia mendorong Han Ra agar jatuh ke jurang, Geum Hen mengucapkan, “Selamat tinggal, Jung Han Ra. Appa dan eomma mu sudah menunggu.”

Seperti angin lalu. Geum Heun mendorong Han Ra hingga Han Ra kehilangan kendali dan akhrinya terjun ke jurang. Han Ra memekik. Geum Heun hanya dapat melihatnya dengan hati yang sangat puas dari atas.

Geum Heun berlalu meninggalkan Han Ra. “Selamat tinggal…”

SRET! GREB!!

Sebuah bayangan putih menabrak tubuh Han Ra. Sesaat, Han Ra merasa melayang-layang di langit. Tapi, sebuah kabut hitam mendekatinya. Semakin dekat, semakin dekat, sangat dekat, dan sampai Han Ra sudah kehilangan kesadaran.

***

Han Ra mengerjapkan matanya berulang kali saat sebuah cahaya yang menyilaukan masuk melalui celah-celah matanya. Saat terbangun, ia melihat seorang lelaki berbaju putih berjongkok membelakanginya. Sepertinya lelaki itu sedang membakar sesuatu.

Nuguseyo?”

Laki-laki itu membalikkan badan. Tangannya memegang sebuah ranting yang ujungnya menancap pada sebuah singkong yang sepertinya sedang ia bakar. Ada yang janggal. Bukan, bukan singkongnya. Tapi, laki-laki ini. Han Ra merasa pernah melihat lelaki ini. Tapi… dimana? Siapa?

Kedua alis Han Ra bertaut menjadi satu.

Han Ra melihat suatu cahaya putih. Cahaya itu mendekat dan semakin mendekat. Hingga tergantikan oleh kabut hitam. Semua menjadi gelap gulita. Bahkan, Han Ra tadi masih bisa mendengarkan suara teriakan Tae Min yang memanggili namanya.

Han Ra tersadar. Kedua matanya terbuka lebar. Pelan-plean ia mengambil langkah. Dimana ini? Mengapa seperti asing sekali di mata Han Ra? Bukan. Ini jelas bukan rumahnya ataupun sekolahnya. Disini terlalu banyak pohon-pohon liar dan suara jangkrik yang menemani Han Ra melangkahkan kakinya untuk menjelajahi dunia ini.

Apa ia bermimpi? Baru saja ia mendengar suara Tae Min. Tapi sekarang sudah tergantikan oleh suara jangkrik.

Tiba-tiba Han Ra menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju pada seorang laki-laki tinggi yang sedang berdiri membelakanginya. Bajunya putih, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, rambutnya sedikit berantakan, dandia tidak memakai alas kaki.

Laki-laki itu berbalik…

“Tae Min?” tanya Han Ra pada dirinya sendiri. Han Ra juga ragu. Tae Min tidak setinggi itu. Tapi, kenapa wajahnya begitu mirip?

Laki-laki itu mendekati Han Ra. Bibirnya menarik sebuah senyum. Sangat manis. Han Ra sempat terpesona oleh seulah senyum yang sebenarnya siapasajabisamelakukannya-itu.

Laki-laki itu menundukkan tubuh sopan. Annyeong haseyo, Kai imnida. Aku adalah hantu.”

Terkejut. Han Ra memekik dan melebarkan matanya. “Han-hantu?!”

Tubuh Han Ra gemetaran. Apa orang didepannya ini benar-benar hantu? Tapi kenapa berbeda sekali seperti hantu-hantu yang ada di film horror yang sering ditontonnya? Kenapa, hantu bisa seganteng dan sekeren ini? Apa lelaki ini berbohong?

“Tenang saja. Aku bukan hantu jahat, kok,” ujar Kai menenangkan Han Ra yang sepertinya sangat ketakutan.

Han Ra memberanikan diri menyentuk wajah Kai. “Kau bukan sadako?”

Tangan hangat Kai menggenggam tangan mungil Han Ra yang saat itu masih bertengger manis dipipinya. Kai perlahan menjauhkan tangan Han Ra dari wajahnya. Kai sangat mengerti perasaan Han Ra. Ternyata semua manusia sama saja. Menganggap hantu adalah hal paling mengerikan di dunia ini. Padahal sebenarnya bukan begitu juga.

“Aku bukan hantu-hantu jenis itu. Mereka hantu jenis jahat. Aku hantu jenis baik,” Kai menjelaskan dengan padat dan singkat.

Han Ra mengerutkan alis. “Aku tidak mengerti maksudmu.” Han Ra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Kai menarik tangan Han Ra. “Kalau begitu, kajja! Aku tunjukkan tempat yang sangat cocok untuk kita bicarakan.”

Kai membawa Han Ra menuju sebuah sungai yang banyak terdapat bebatuan. Air sungai ini sangat jernih. Han Ra mendekati sungai itu lalu duduk di salah satu batu yang besar yang bisa ia duduki. Dari situ ia bisa melihat ikan-ikan berenang-renang. Saat Han Ra menyentuh permukaan air, ikan-ikan itu berenang begitu cepat menjauhi tempat itu, seolah ikan itu takut pada Han Ra.

“Selamat datang di dunia hantu,” ucap Kai mendekati Han Ra dan ikut duduk di sebuah batu tepat di depan Han Ra.

Han Ra menatap Kai. “Dunia hantu? Apa ini dunia hantu? Aku benar-benar tidak mengerti.”

Kai menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Bukan begitu maksudku. Selamat datang di duniaku. Ini duniaku. Bagaimanapun, aku juga bersyukur meninggal di tempat ini, disini terlalu sepi. Aku hanya hantu satu-satunya disini.”

“Meninggal?”

Kai mengangguk. “Bukankah wajar saja orang yang meninggal menjadi hantu?

“Bukan begitu maksudku. Kau meninggal… di sini? Kecelakaan?”

Kai mengangkat sebelah bahunya. “Mungkin.”

“Mungkin? Apa kau tidak bisa mengingatnya?”

Kai menggeleng, matanya menatap sungai, tapi sepertinya ia tidak fokus menatap atau lebih tepatnya melamun.

Gwaenchana?” tanya Han Ra ketika Kai hanya menutup mulutnya rapat-rapat.

Kai mengabaikan perkataan Han Ra, dan mulai menjelaskan, “Setiap orang yang meninggal, ingatan orang itu akan hilang,” Kai menatap lurus ke arah bola mata milik Han Ra, “Apa kau tidak pernah mendengar cerita itu?”

Han Ra menggeleng, “Ani. Tapi, aku dengar dari orang-orang, arwah penasaran manusia yang meninggal masih bergentayangan, itu berarti orang itu belum beristirahat dengan tenang atau mungkin tugasnya di dunia ini masih belum terselesaikan.”

Kai mengernyit.Museun soriya?”

“Itu artinya, kau belum bisa tidur dengan tenang, Kai.”

Kai menunjuk dirinya sendiri.Choyo?”

Han Ra mengangguk, “Apa kau tahu kau meninggal dimana? Dan apa kau bisa mengingat apa hal yang ingin kau lakukan, tapi sudah terlambat, kau sudah terlanjur meninggal.”

Kai menggeleng.Mollayo.

Han Ra mengangguk-angguk. “Itu dia. Kau harus bisa menemukan jasadmu, lalu kau minta orang lain untuk menguburmu dan mendoakanmu. Maka dari itu kau bisa pergi dari sini. dan tidak perlu melanjutkan tugasmu yang sudah selesai.”

“Pergi kemana?”

“Surga. Aku yakin kau dulu orang yang baik. Dapat terlihat dari wajahmu.”

Han Ra mulai bisa mengingat siapa orang itu. Orang itu adalah hantu yang menemaninya saat pingsan dulu. Ternyata, hutan yang dijadikan sekolahnya sebagai tempat kemping ini adalah tempat yang ada di dalam mimpi Han Ra sewaktu dia pingsan dulu.

Mulut Han Ra membuka, “Kai…?”

Laki-laki di depannya tersenyum. Sangat menawan. “Apa kabar… Jung Han Ra?”

To Be Continue…

Yehet Kai udah muncul… wkwkwk walau di ending xD #gamparane

Maap ya Key belum muncul. Tunggu di chapter berikutnya^^

-Milleny-

Advertisements

One thought on “Freelance – My Boyfriend is A Ghost [Chapter 3]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s