Stay in My Heart [Chapter – 4 Final]

STAY IN MY HEART

Previous: 1 | 2 | 3

Main Cast:

Choi Sulli | Choi Minho | Choi Sooyoung | Kim Junmyeon

Other Cast:

Find out by yourselves

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Angst

Rating: PG – 13

Length: Multichapter

Enjoy my fanfiction

Sorry for typos, Leave Comment/ like/ vote please…

Baekhyun dan Sooyoung terkejut mengetahui bahwa Sulli tidak mengingat Baekhyun sama sekali. Itu artinya Sulli juga tidak mengingat namja bernama Minho, apalagi mengingat tentang hubungannya dengan Minho. Baekhyun berjalan kembali ke kamar Minho dengan langkah gontai. Ia tidak tahu harus berbuat apa atau apa yang harus ia katakan pada Minho. Baekhyun tidak ingin membuat Minho sedih namun di sisi lain, ia tidak dapat menyimpan rahasia dari Minho. Minho selalu tahu apa yang terjadi pada Baekhyun, apa yang dirasakan Baekhyun, semua tentang Baekhyun. Begitu pula sebaliknya. Baekhyun tahu segalanya tentang Minho.
“Baekhyun-a, kau sudah kembali?” tanya Minho yang baru saja bangun tidur. Namja itu duduk bersandar pada bantal yang sengaja diposisikan sedemikian rupa untuk.menyangga punggungnya.
Baekhyun tidak menyangka kalau Minho sudah bangun dari tidurnya. “Eoh. Hyung, kenapa kau sudah bangun?”
“Memangnya kenapa kalau aku sudah bangun? Baekhyun-a, apa tadi kau membohongiku?”
“Anhi. Aku berkata jujur. Wae?”
“Aku tahu kau bohong. Sudahlah, bilang saja kalau aku buta. Aku bisa menerimanya. Mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan karena dulu aku tidak mempertemukan Sulli dengan keluarganya.”
Baekhyun hanya diam mendengarkan kata-kata Minho meskipun hatinya miris mendengarnya. “Hyung, kau tenang saja. Aku akan membantumu mencari donor mata. Kau pasti bisa melihat lagi.”
“Eoh. Gomawo. Aku percaya padamu. Kau hanya berbohong padaku satu kali. Jadi aku sangat mempercayaimu, Baekhyun-a. Oh ya, bagaimana keadaan Sulli dan Junmyeon?”
Lagi-lagi Baekhyun hanya diam. Ia bingung, bagaimana harus menyusun kata-kata untuk disampaikan pada Minho. Kalimat yang bagaimana yang tepat untuk disampaikan.
“Yaak, Baekhyun-a, kenapa kau diam? Kau masih di sini kan?”
“Eoh. Hyung, sebelumnya aku minta maaf padamu.”
“Maaf untuk apa? Apa kau mencuri uang perusahaan?”
Baekhyun terperangah. Dia begitu serius tapi Minho malah bercanda. “Hyung, aku serius. Kenapa kau malah bercanda?”
“Eoh, araseo. Bicaralah. Apa terjadi sesuatu pada mereka?”
“Sulli… Yeoja itu telah dinyatakan sembuh dari amnesia. Kondisinya juga baik dan hanya mengalami luka goresan saja. Kau berhasil melindunginya.”
Minho manggut-manggut. “Lalu Junmyeon?”
“Junmyeon-ssi… Ummm, dia… Dia telah tiada. Junmyeon-ssi meninggal setelah menjalani operasi. Sebagian besar organnya mengalami banyak kerusakan. Aku sungguh menyesal mengatakan ini padamu.”
Minho terkejut mendengar kabar tentang Junmyeon. Dia berusaha mengatur nafasnya. Matanya yang menatap kosong pada dinding di depannya terlihat memerah. Siap memuntahkan airmatanya.
“Jenazah Junmyeon-ssi segera dikremasi.”
“Apakah keluarga Choi juga ada di sini?” tanya Minho.
“Eoh. Mereka ada di sini. Tuan dan nyonya Choi, juga ada Sooyoung-ssi. Mereka ada di sini semua. Oh iya, Tiffany Hwang, saudara sepupu Junmyeon-ssi juga ada di sini.”
Minho menghela nafas dalam-dalam. Apa yang terjadi pada mereka memang sulit diterima.
Tok tok tok…
Baekhyun dan Minho menoleh ke arah pintu. Meskipun kedua matanya buta, Minho masih bisa mendengar dengan sangat jelas.  Baekhyun melihat knop pintu diputar dari luar. Dua orang yeoja masuk ke dalam kamar perawatan Minho. Salah seorang diantara mereka menggunakan kursi roda dan di lengan kirinya tertancap jarum infus.
Baekhyun tersentak kaget melihat siapa yang datang.
“Annyeong…” sapa Sooyoung.
Sulli mengerutkan keningnya. Kenapa Sooyoung membawanya ke ruang perawatan seorang namja? Siapa dia?
“Annyeong. Sooyoung-ssi, senang kau mau mengunjungi kami.” Baekhyun berbasa basi. Dalam hatinya, ia mengutuk Sooyoung karena membawa Sulli ke hadapan Minho di saat kondisi keduanya sedang tidak memungkinkan untuk bertemu.
“Kami baru saja dari ruang radiologi dan sengaja mampir ke sini untuk melihat keadaan Minho-ssi.”
“Kau yang tadi pagi mengunjungiku kan?” tanya Sulli pada Baekhyun.
Baekhyun seperti disengat listrik mendengar Sulli yang membuka suara. Minho akan tahu kalau Sulli ada di sana. Namja itu akan shock karena sekarang Sulli tidak mengingatnya sama sekali. Inilah yang membuat Baekhyun geram pada Sooyoung. Apakah yeoja itu ingin balas dendan pada Minho?
Minho yang baru saja mendengar suara Sulli, merasa lega karena yeoja yang ia cintai selamat dari kecelakaan kemarin. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Sulli tidak menyapanya? Bukankah mereka sepasang kekasih…
Baekhyun bingung. Sooyoung bahkan tidak memikirkan hal yang sama dengan Baekhyun. Yeoja itu tampak memaksakan senyumnya di depan Sulli dan Baekhyun. Ia pasti sedih kehilangan Junmyeon.
“Sooyoung-ssi, bagaimana dengan jenazah Junmyeon? Apakah akan segera dikremasi?” tanya Baekhyun pada Sooyoung. Dia takut salah memilih topik yang telah ditanyakan.
“Besok akan dikremasi. Tidak menunggu waktu lama karena tidak ada saudara yang lain selain Tiffany.”
“Mian, mungkin pertanyaanku menyinggung perasaanmu, Sooyoung-ssi.”
“Gwaenchana.”
Sulli dan Minho terdiam. Sulli merasa seperti telah mengenal namja yang duduk di atas ranjang di depannya itu. Namun ia masih kesulitan mengingatnya. Siapa gerangan namja itu?

Jenazah Junmyeon sudah dikremasi. Sooyoung dan Tiffany tampak sedih mengingat kenangan-kenangan mereka bersama namja yang telah tiada.
Sulli pov.
“Eonni, bersabarlah. Aku juga merasa kehilangan Junmyeon oppa. Percayalah eonni. Junmyeon oppa di sana pasti akan bahagia melihatmu di sini jika kau bisa tersenyum lagi.”Aku memegang kedua tangan Sooyoung eonni yang sedingin es. Kedua matanya berair. Aku tahu dia pasti sangat sedih karena itulah yang juga aku rasakan sekarang ini.
Setelah kecelakaan dua tahun lalu, aku mengalami amnesia. Kata Sooyoung eonni, dia baru bisa bertemu denganku akhir-akhir ini. Aku bahkan hanya sekali atau dua kali bertemu dengan Junmyeon oppa. Kenapa saat ingatanku pulih, Junmyeon oppa malah meninggalkanku?
“Sooyoung-a…” panggil appa pada eonni yang duduk di sampingku. Aku dan eonni menoleh ke arah appa. “Kim Junmyeon telah membuat surat pernyataan bahwa dia mendonorkan organ-organ tubuhnya yang masih berfungsi kepada orang-orang yang membutuhkan.”
Aku dan Sooyoung eonni terlonjak kaget.
“Kapan Junmyeon oppa menandatangani surat pernyataan itu?” tanyaku pada appa. Kenapa Junmyeon oppa melakukannya?
“Setahun yang lalu,” jawab appa singkat.
“Appa, apakah kornea mata Junmyeon oppa bisa didonorkan pada Minho?” tanya Sooyoung eonni. Hatiku berdesir mendengar nama yang baru saja eonni ucapkan.
“Dokter sudah memeriksanya. Hasilnya nihil. Kornea mata Junmyeon tidak cocok dengan milik Minho. Jadi dia tidak bisa menerima donor mata dari Junmyeon.”
Appa beranjak dari tempatnya, meninggalkan aku dan Sooyoung eonni.
“Eonni, orang yang bernama Minho itu siapa? Apakah dia namja yang kemarin?”
“Eoh. Minho adalah…” Eonni memutuskan kalimatnya. Membuatku semakin penasaran.
“Nugu?” tanyaku.
“Sooyoung-a, seseorang sedang menunggumu di teras depan.” Eomma tiba-tiba datang dan memberitahu eonni bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya.
Eomma datang di saat yang tidak tepat. Seharusnya eonni segera menjawab pertanyaanku. Apa boleh buat, aku harus mencari tahu siapa namja bernama Minho. Kenapa eonni terlihat dekat dengannya, apalagi namja bernama Baekhyun. Dia kan pernah memaki kami waktu di Busan. Sekarang malah akrab dengannya. Aneh.
Ommo… Aku ingat sesuatu. Namja bernama Minho itu sepertinya aku ingat. Apakah dia itu namja yang bersama Baekhyun saat tabrakan di Busan dulu ya? Sepertinya memang benar dia orangnya. Keurom, bagaimana eonni bisa mengenalnya? Ini aneh. Benar-benar aneh.
Sulli pov end.

Di teras depan, Baekhyun menunggu Sooyoung.
“Annyeong Baekhyun-ssi…” sapa Sooyoung.
Baekhyun tersenyum tipis. “Annyeong…”
“Ada perlu apa?”
“Aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu padamu, Sooyoung-ssi.”
“Mwoya?”
Baekhyun menarik nafas dalam-dalam. “Kau pasti sudah tahu tentang pendonoran organ Junmyeon. Kornea matanya ternyata tidak cocok dengan kornea Minho hyung. Jadi, orangtua Minho hyung ingin membawanya kembali ke Jepang. Di sana ada seseorang yang sekarat menunggu kematiannya dan bersedia mendonorkan kornea matanya untuk Minho hyung. Sangat sulit mencari donor mata. Minho hyung akan berangkat ke Jepang besok malam. Untuk itu, aku memintamu mempertemukan Sulli dengan Minho hyung besok pagi. Ini untuk yang terakhir kalinya.”
“Apakah Minho sudah tahu kalau Sulli tidak mengingatnya lagi?”
“Nde. Dia sudah tahu. Aku tidak tega melihatnya menderita. Maka dari itu, aku ingin dia dan Sulli bertemu lagi sebelum berangkat ke Jepang.”

Keesokan harinya, sesuai rencana, Sooyoung membawa Sulli berkunjung ke rumah Minho. Rumah megah itu hanya dihuni oleh dua orang namja. Baekhyun melakukan segalanya untuk merawat Minho meskipun Minho menolaknya dan lebih memilih menyewa perawat untuknya.
Minho tampak lebih kurus dari beberapa hari sebelumnya. Dia pasti memikirkan Sulli sepanjang waktu.
“Annyeong Minho-ssi,” sapa Sooyoung pada Minho yang duduk di atas kursi rodanya di taman belakang rumah.
“Annyeong Sooyoung-ssi. Kebetulan sekali kau datang. Oh ya, mana Baekhyun? Kenapa tidak ada suara Baekhyun?”
“Baekhyun-sii sedang membuatkan minuman untuk kami. Oh ya, ada seseorang yang aku bawa. Dia juga ingin menyapamu.”
“Annyeong Minho-ssi…”
Deg! Jantung Minho berdetak lebih kencang. Suara ini, yeoja ini. Yeoja yang amat dia rindukan.
“Oh iya, sebaiknya aku membantu Baekhyun-ssi di dapur.” Sooyoung meninggalkan Sulli berdua dengan Minho.

“Sulli-ssi, apa kabar?” tanya Minho yang ingin sekali memeluk Sulli.
“Aku baik. Bagaimana denganmu, Minho-ssi?

“Seperti yang kau lihat. Senang bertemu denganmu, Sulli-ssi.”

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Sulli.

“Nde. Pertemuan kita tidak berjalan dengan baik dan tidak terasa mengesankan. Tapi aku harap perpisahan kita tidak seperti itu.”

“Perpisahan? Apa maksudmu, Minho-ssi?”

“Nanti malam aku akan berangkat ke Jepang. Appaku memintaku kembali ke sana. Sebenarnya aku bukanlah orang Korea. Tapi karena beberapa alasan, aku harus menetap di sini. Sekarang appaku memintaku kembali ke Jepang karena di sini aku tidak punya sanak saudara yang akan merawatku. Aku juga kasihan pada Baekhyun yang selalu kerepotan mengurusku.”

“Apa kau akan kembali lagi ke Korea?”

“Entahlah. Aku belum memikirkan hal itu. Namun jika seseorang menanti kedatanganku, aku pasti akan kembali.”

“Seseorang?”

“Nde, seseorang yang sangat spesial bagiku. Orang itu benar-benar memiliki seluruh keindahan yang ada di dunia ini.” Minho tersenyum pada Sulli yang masih kesulitan mencerna kata-kata Minho tadi.

Malam ini, Minho dan beberapa orang pengawalnya terbang ke Jepang. Minho akan menerima donor kornea untuk matanya agar namja itu bisa melihat lagi. Sebenarnya terlalu berat bagi Minho untuk meninggalkan tanah Korea. Karena di Korea-lah, ia bertemu dengan yeoja spesial yang sampai saat ini masih sangat ia cintai. Namun sayang, saat ini yeoja itu sama sekali tidak ingat padanya. Hatinya sangat terluka namun Minho tidak akan pernah menunjukkan luka itu pada siapapun termasuk Baekhyun yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya.

Sepeninggal Minho, Baekhyun merasa kesepian. Meskipun akhir-akhir ini ia disibukkan dengan kegiatan tambahannya merawat Minho, namun Minho sudah merupakan bagian dari hidupnya. Jadi apapun yang ia lakukan untuk Minho adalah bentuk rasa sayangnya pada namja itu. Baekhyun diminta Minho untuk menempati rumahnya karena dua bangunan megah miliknya tidak memiliki penghuni. Tentu saja Baekhyun sangat senang karena dia memang tidak memiliki tempat tinggal.

Hari hari berlalu. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Hampir dua tahun Minho pergi meninggalkan Korea, meninggalkan Baekhyun, Sulli dan perusahaannya di Seoul. Dalam waktu itu juga, Sulli meningkatkan kemampuannya di bidang bisnis, membantu sang eonni tercinta. Ya, kini Sulli berkecimpung di dunia bisnis. Dunia keluarganya dimana appa, eomma dan eonni-nya merupakan ahli bisnis di Korea.

Sooyoung yang notabennya adalah putri tertua tuan Choi, memiliki jabatan penting di salah satu cabang perusahaan appanya. Namun jabatan untuk Sulli masih di bawah Sooyoung. Jika Sooyoung adalah salah sau direktur di perusahaannya, maka Sulli adalah salah satu sekretaris di perusahaan yang sama dengan Sooyoung. Sooyoung lebih percaya pada Sulli daripada sekretaris perusahaan yang lainnya. Maka dari itu, dia sering mengajak Sulli untuk menghadiri rapat atau meeting dengan perwakilan dari perusahaan-perusahaan lain. Dengan begini, Sulli akan dapat meningkatkan kemampuannya sedikit demi sedikit. Selain itu, Sooyoung juga ingin Sulli leih dikenal di perusahaan itu karena sebelumnya dongsaeng dari Choi Sooyoung itu sama sekali tidak terkenal seperti dirinya.

“Eonni, nanti malam kita masih ada meeting dengan perusahaan dari Jepang. Aku lupa namanya. Perusahaan itu bergerak di bidang kesehatan.” Sulli sibuk membolak balikkan buku agenda di tangannya.

“Araseo, sekretaris-nim.” Sooyoung tersenyum pada Sulli. “Kali ini kau masih harus menemaniku, Sekretaris Choi.”

Sulli melongo mendengar Sooyoung memanggilnya dengan sebutan Sekretaris Choi. “Araseo, Direktur Choi.” Sulli dan Sooyoung tertawa lepas. Keduanya tampak akrab sekali.

Beberapa orang dari perusahaan Medical Corporation, salah satu perusahaan Jepang yang bergerak di bidang kesehatan memasuki ruang meeting yang ukurannya tidak sempit. Chong, Sulli, dua orang direktur dan beberapa staf juga sudah menunggu kedatangan mereka. Karena yang ditunggu telah tiba, maka acara meeting segera dimulai. Namun perwakilan dari Jepang meminta sedikit waktu karena Presiden Direktur mereka belum datang.

“Waaow, meeting seperti ini saja sampai dihadiri oleh presdir mereka?”

“Tolong kecilkan suaramu, Kepala staf Bae.” Sooyoung menatap tajam Bae Suzy yang bicara memalukan.

“Itu artinya mereka menghargai kita, Kepala staf Bae,” tambah Sulli.

“Nah, presiden direktur kami sudah datang. Perkenalkan, Choi Minho, Presiden Direktur Medical Corporation.”

Semua mata tertuju pada namja yang dikenalkan sebagai presiden direktur. Semua yang ada di ruangan itu terkejut melihat namja muda yang sudah menjabat sebagai Presdir perusahaan terkemuka dari Jepang, tidak terkecuali Sulli dan Sooyoung.

“Minho-ssi…” gumam Sulli dan Sooyoung.

Minho memasang senyumnya agar semua yang ada di ruangan itu dapat melihatnya sebagai namja yang ramah.

“Baiklah, sekarang kita bisa memulai meeting malam ini.”

Selesai meeting, Sooyoung pamit lebih dulu karena ia harus mengambil berkas di rumah Direktur Yoon. Sulli pun terpaksa pulang sendirian. Ia lebih memilih naik taksi daripada harus menyetir mobil sendirian.

Tap! Tap! Suara sepatu Sulli membuat gaduh koridor yang dilewatinya. Ketika menikmati langkahnya menuju lobi kantor, Sulli melihat seorang namja sedang menunggu seseorang. Setelah dekat dengan namja itu, barulah Sulli tahu kalau ternyata dia adalah Minho. Luan terlihat sedang menunggu seseorang.

“Jeogi, Minho-ssi… apa kau sedang menunggu seseorang?” tanya Sulli.

Minho membalikkan badannya. Ia terperangah melihat Sulli yang berdiri tepat di depannya. Minho sama sekali tidak menyangka kalau ia bisa bertemu dengan yeoja itu secepat ini. Baru satu minggu Minho menginjakkan kaki di Korea. Appanya sengaja memilih Minho sebagai pengganti dirinya di perusahaan Medical Corp. untuk mengembalikan kepercayaan diri Minho setelah ia mengalami kebuataan hampir duan tahun yang lalu. Untungnya, para pemegang saham juga setuju kalau Minho menjadi Presdir Medical Corp.

“Nde. Aku sedang menunggu seseorang. Beruntungnya aku karena orang yang aku unggu sudah datang.”

Sulli membulatkan kedua bola matanya. “Jinjja? Nugu?” ia menoleh kanan-kiri mencari sosok lain selain mereka berdua. “Tidak ada siapa-siapa…”

“Kau. Kaulah yang aku tunggu, Sulli-ssi.”

“Nega? Jongmal?”

Minho mengangguk.

“Wae?”

Minho memegang tangan Sulli. yeoja itu merasakan sesuatu yang lain di dalam hatinya. Ada kerinduan yang tersimpan di sana. Rasa cinta yang terpendam jauh di lubuk hatinya. Sulli tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya masih berada di dalam genggaman tangan Minho. Terasa hangat dan sepertinya ia sudah terbiasa. Ada apa ini? batinnya. Sulli menatap Minho penuh tanda tanya. Namja itu melepaskan tangannya.

“Senang beremu denganmu lagi, Sulli-a…” Minho membisikkan kata-kata itu di telinga Sulli lalu ia meninggalkan Sulli sendirian di lobi kantor.

Sulli menatap punggung Minho. Tanpa terasa, matanya memerah dan siap meluncurkan cairan bening dari kedua sudut matanya. Dadanya terasa sesak. Ia tak tahu apa yang menyebabkan semua ini. kedua kakinya tidak sanggup menopang tubuh langsingnya lebih lama. Sulli berdiri bersandar pada dinding kantor. Ia sedikit ingat tentang namja yang memegang tangannya tadi.

“Saranghae, Oppa…” Sulli ingat kata-kata itu terlontar dari mulut manisnya. Ia ingat kalau dirinya pernah berbaring di atas rumput menghadap langit malam bersama seorang namja. Sulli berusaha mengingatnya lagi. Sulit. Tapi yeoja itu tidak menyerah. Tiba-tiba ia berpikir mungkin di ponselnya ada sesuatu yang dapat mengingatkannya dengan kejadian yang telah ia lupakan. Sulli tengah sibuk mengutak atik ponselnya. Belum ketemu. Dia semakin penasaran. Ketemu. Salah satu file di ponselnya yang ia beri nama ‘My Love’ mampu menarik perhatiannya. My Love? Kapan ia pernah pacaran? Sulli membukanya.

Deg! Sebuah catatan dengan background foto selcanya dengan Minho.. note itu bertuliskan:

Meskipun mungkin waktu berhenti, hatiku tak akan berhenti mencintaimu

Airmata mengalir deras membasahi kulit wajah Sulli yang mulus tanpa noda. Ya, dia ingat Minho. Dia ingat cintanya pada namja itu. Minho adalah namjachingunya selama dia amnesia. Sulli larut dalam tangisnya. Ternyata selam ini Minho lah yang menghantui hari-harinya. Minho lah yang membuatnya merasa khawatir, takut, rindu dan segala perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Sulli mengusap airmata yang membasahi pipinya. Ia berjalan menjauhi kantor utnuk mencari sosok Minho.

Minho enggan kembali ke rumahnya. Ia membelokkan mobilnya ke taman yang tidak jauh dari kantor perusahaan Choi Corp. Ia menikmati sapuan angin malam di wajahnya, menikmati dinginnya malam itu dengan kenangan-kenangan tentang Sulli yang terlintas di pikirannya. Minho membuka ponselnya. Dilihatnya pesan dari Sulli yang berisi kata-kata:

Meskipun mungkin waktu berhenti, hatiku tak akan berhenti mencintaimu

Minho menangis. Betapa berharganya waktu baginya. Ia ingin mengulang waktu agar bisa bersama Sulli lagi. Kini tidak ada keindahan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Meski hidupnya serba glamour, Minho merasa kesepian. Ia merasa hidup itu hambar, tak berarti apa-apa dan tidak ada kenangan yang dapat membuatnya bahagia. Hanya dengan mengingat saat-saat bersama Sulli-lah ia bisa tersenyum.

“Oppa…” Minho mendengar suara itu. Ia menoleh ke arah sumber suara. Benar, yeoja yang ia rindukan menanti kedatangannya.

“Sulli-a…” lirih Minho. Airmatanya semakin deras, begitu juga dengan Sulli.

“Oppa…” Sulli berhambur memeluk Minho. Ya, Sulli dan Minho kini bertemu lagi. Keduanya saling berpelukan erat seakan tak akan melepasnya. Betapa bahagianya Sulli dan Minho malam ini.

“Saranghae, Sulli-a…”

“Nado saranghae, oppa…”

End.

Advertisements

3 thoughts on “Stay in My Heart [Chapter – 4 Final]

  1. aku nangis baca ‘Meskipun mungkin waktu berhenti, hatiku tak akan berhenti mencintaimu’ huuuaaah 😥

    FF ini bagus buuaanget dehh
    tapi kurasa endingnya kurang srek dihati heheh kritik dikit 🙂
    tapi tetep gak menghilangkan kata bagus di FF ini

    🙂

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s