Stay in My Heart [Chapter 3]

STAY IN MY HEARTPrevious: 1 | 2

Main Cast:

Choi Sulli | Choi Minho | Choi Sooyoung | Kim Junmyeon

Other Cast:

Find out by yourselves

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Angst

Rating: PG – 13

Length: Multichapter

Enjoy my fanfiction

Sorry for typos, Leave Comment/ like/ vote please…

Sulli jatuh pingsan setelah merasakan sakit kepala yang hebat. Minho berlari menghampiri Sulli, ia sangat mengkhawatirkan yeojachingunya.

“Sulli-a, ireona, jebal….” Minho berusaha membangunkan Sulli yang terduduk tak sadarkan diri di bawah tiang listrik di pinggir jalan. Sulli tetap tak sadarkan diri.

Dari kejauhan, Sooyoung dan Baekhyun juga melihat Sulli pingsan. Sooyoung sangat mencemaskan yeodongsaengnya. Hari ini dia berniat untuk menemui Sulli dan Minho, tapi kejadian ini sudah mendahului rencananya. Sooyoung hendak berlari menuju tempat Sulli pingsan, namun Baekhyun menahan lengannya. Namja itu menggelengkan kepalanya pelan.

“Lihat itu!” lirih Baekhyun.

Sooyoung menoleh ke arah Sulli dan Minho, sebuah mobil menghampiri mereka. Sooyoung terkejut melihat mobil itu, ya, mobil milik namja yang ia cintai, siapa lagi kalau bukan Junmyeon.

“Lebih baik kita menunggu kabar dari Minho, setelah itu barulah kita ke rumah sakit untuk melihat keadaan Sulli,” saran Baekhyun pada Sooyoung. Sooyoung menurut. Mereka berdua berjalan menuju tempat Choiir.

Junmyeon yang baru saja belanja dari supermarket yang terletak hanya 200 meter dari kantor Minho, melihat Sulli dan Minho di tepi jalan. Sulli dalam keadaan pingsan, lalu secepat kilat, Junmyeon menepikan mobilnya tepat di depan Minho yang tengah menghadap ke jalan raya. Junmyeon keluar dari mobilnya kemudian langsung meminta Minho mengangkat tubuh Sulli masuk ke dalam mobil. Ia harus segera mendapat pertolongan. Tanpa pikir panjang, Minho pun menuruti permintaan Junmyeon. Ia segera membawa tubuh Sulli ke dalam mobil. Minho dan Sulli berada di belakang, sedangkan Junmyeon konsentrasi menjalankan mobilnya dengan hati-hati.

Pada saat itu jalan raya sedang ramai-ramainya. Jam pulang sekolah untuk anak-anak SD dan taman kanak-kanak, jam istirahat untuk para pekerja terutama karyawan kantor. Junmyeon mengalami kesulitan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, akibatnya, ia hampir keluar pembatas jalan. Pikirannya kalut, ia terus saja terbayang keadaan Sulli yang menurutnya sanga kritis dan harus segera mendapat pertolongan dokter hingga akhirnya konsentrasinya terganggu. Junmyeon tidak melihat lampu merah menyala di depannya, ia menerobos begitu saja. Akibatnya, sebuah mobil dari arah kanannya menabrak bagian tengah mobil Junmyeon. Mobil Junmyeon terpental ke sisi seberang jalan. Junmyeon kehilangan keseimbangan untuk mengendalikan mobilnya, mobil Junmyeon menabrak tiang rambu lalu lintas sekeras-kerasnya, mengakibatkan bagian depan mobilnya hancur 90%, Minho dan Sulli yang berada di belakang tidak sadarkan diri, kepala mereka berdua terkena pecahan kaca mobil akibat tabrakan sebuah mobil pada bagian tengah mobil Junmyeon tadi apalagi Sulli dalam posisi berbaring di pangkuan Minho tidak memakai sabuk pengaman. Sedangkan Junmyeon, kepalanya terbentur setir mobil sekeras-kerasnya, kepalanya juga mendapat luka dari pecahan kaca mobilnya yang sudah tak berbentuk lagi. Mobil Junmyeon hancur 85%. Hanya bagian bagasi dan sebelah kiri yang masih utuh. Semua penumpang, Minho dan Sulli tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari kepala mereka berdua. Tak berbeda dengan Junmyeon. Kakinya terjepit dasbor mobil, kepalanya membentur setir mobil ditambah pecahan kaca yang sebagian menancap di kepalanya.

Dua mobil polisi menuju TKP. Beberapa saksi mata memberikan keterangan kepada polisi di TKP. Sebagian lagi dibawa ke kantor polisi. Untuk saat ini, jalur itu ditutup satu arah untuk proses penyelidikan. Sulli, Minho, dan Junmyeon segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan medis. Terutama Junmyeon yang mengalami perdarahan di bagian kepalanya, tulang kakinya diperkirakan mengalami patah tulang sehingga tim medis tidak meluruskan kakinya. Mereka mengangkat tubuh Junmyeon sangat hati-hati, apalagi kepalanya terus mengalirkan cairan merah segar.

Sooyoung dan Baekhyun masih berada di dalam mobil Baekhyun yang terChoiir rapi di tempat Choiir kantor Minho. Ponsel Baekhyun berdering.

“Yeoboseo…”

“Ye, nan Byun Baekhyun. Waegurae? Mworago? Eodiseo?” Baekhyun tampak tegang. Ekspresi wajahnya berubah 180°. “Gamsahamnida.”

“Wae?” tanya Sooyoung yang khawatir karena wajah Baekhyun terlihat sangat serius, tegang, dan berkeringat.

“Sulli, Minho, dan Junmyeon mengalami kecelakaan. Ketiganya tidak sadarkan diri. Bahkan mendapat luka akibat kecelakaan itu. Junmyeon mendapat luka yang paling parah. Sekrang mereka di rumah sakit.” Baekhyun menyalakan mesin mobilnya dan segera meluncur ke rumah sakit.

Sooyoung tak dapat menahan airmata yang menyeruak keluar dari ujung kedua matanya. Orang-orang yang ia sayangi sedang dalam bahaya. Keadaan mereka kritis. Sungguh ia tidak kuat menghadapi masalah yang sebegitu beratnya. Sooyoung meremas kerah bajunya. Dadanya terasa sesak, ia seperti mengalami kesulitan bernapas. Bibirnya bergetar menahan tangis. Sakit, sangat sakit di hatinya. Kenapa Tuhan menggariskan takdir yang rumit untuknya dan orang-orang yang ia sayangi.

Sooyoung mengeluarkan ponselnya. Mencari kontak yang bertuliskan ‘Appa’. Sooyoung menutup mulutnya dengan telapak tangan kiri. Tangan kanannya memegang ponsel yang kini sudah tersambung dengan nomer ponsel appanya.

“Yeoboseo… Sooyoung-a…” Terdengar suara berat namja yang dipanggil appa oleh Sooyoung.

Sooyoung masih belum bisa membuka mulutnya, ia masih belum sanggup mengataan kabar buruk pada appanya. “Ap, appa…” ucapnya terbata-bata, lirih.

“Eoh, waeyo, Sooyoung-a?”

Sooyoung memejamkan matanya, menarik napas panjang, tangisnya pecah. Baekhyun menoleh ke arahnya, tak terasa airmata namja itu pun mengalir pelan membasahi pipinya. Baru kali ini Baekhyun menangis setelah belasan tahun tidak mengeluarkan airmatanya. Ia kembali konsentrasi menyetir.

“Appa, appa…” lirih Sooyoung. Ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk bicara lebih keras. “Appa, Sullii. Uri Sullii, Appa…” Tangan kirinya kembali meramas kerah bajunya yang agak panjang.

“Sulli? Kau bertemu dengannya? Bagaimana kabarnya, Sooyoung-a?”

Tangis Sooyoung semakin dalam. Sakit hatinya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. “Sullii, dia ada di rumah sakit. Dia – dua tahun dia mengalami amnesia, ta – tapi kini ia ada di rumah sakit. Sulli baru saja mengalami kecelakaan, appa. Dia mengalami kecelakaan bersama Junmyeon oppa.” Sooyoung tidak kuat lagi, pandangannya semakin kabur. Akhirnya yeoja itu pingsan. Baekhyun terkejut melihat Sooyoung pingsan. Sebentar lagi mereka sampai di rumah sakit. Baekhyun menambah kecepatan mobilnya agar ia dapat membangunkan Sooyoung dan segera melihat keadaan ketiga orang yang mereka sayangi.

Baekhyun memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Kemudian dia membangunkan Sooyoung yang pingsan karena tidak kuat menahan kesedihan, dadanya masih terasa sesak.

“Sooyoung-ssi, ireona. Kita sudah sampai di rumah sakit.”

Perlahan-lahan Sooyoung membuka kedua matanya. Cahaya yang masuk, menyebabkan matanya menyipit untuk menyesuaikan dengan cahaya di luar.

“Gwaenchanayo?” tanya Baekhyun.

“Sulli-a, oppa…” Sooyoung melepas sabuk pengamannya, membuka pintu mobil lalu berlari menuju resepsionis untuk menanyakan letak ruang perawatan tiga korban kecelakaan. Baekhyun mengikutinya dari belakang. Ia belum menghubungi keluarga Choi karena ia harus memastikan dulu bagaimana kondisi Minho.

Setelah mendapatkan informasi dari resepsionis, Baekhyun dan Sooyoung berlari menuju ruang UGD. Di dalam sana, Sulli dan Minho yang sedang mendapat pertolongan medis. Sedangkan Junmyeon masih berada di ruang operasi. Sulli dan Minho diberikan ventilator untuk memberikan oksigen yang cukup dan memudahkan paru-parunya bekerja senormla mungkin setelah syok yang mereka alami. Dokter menjelaskan keadaan Sulli. Yeoja itu mengalami benturan cukup keras di kepalanya karena ia dalam keadaan tidak sadar dan tidak memakai sabuk pengaman saat terjadi kecelakaan. Tim dokter belum bisa memprediksi apakah amniesia Sulli akan segera sembuh atau bahkan ia akan lupa selamanya. Keadaan sebelum terjadi benturan juga sangat menentukan nasib amnesianya. Sedangkan keadaan Minho, dokter menjelaskan bahwa namja itu akan mengalami kebutaan karena serpihan kaca masuk ke dalam matanya.

Sooyoung semakin terpuruk setelah mendengar penjelasan dari dokter. Bagaimana bila Sulli akan melupakannya selamanya? Bagaimana pula nasib Junmyeon? Sooyoung terduduk lemas di ruang tunggu, depan UGD. Wajahnya pucat. Penampilannya yang rapi dan elegan kini berubah kacau. Sedangkan Baekhyun, menunduk sedih melihat keadaan Minho apalagi namja itu akan buta setelah kecelakaan ini. Kenapa Tuhan begitu kejam pada Minho? Apa salah dan dosa namja itu? Baekhyun meratapi nasib Minho, seseorang yang selalu baik padanya sejak mereka masih kecil dulu. Tak lama kemudian, dia memberikan kabar buruk tentang Minho kepada orangtua Minho yang masih berada di Jepang.

“Sooyoung-a!” Seseorang memanggil Sooyoung. Baekhyun dan Sooyoung menoleh ke arah sumber suara. Seorang namja dan yeoja paruh baya, datang menghampiri mereka. Sooyoung berhambur memeluk eommanya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan eomma tercinta. Tuan dan nyonya Choi melihat putri bungsunya yang terbaring lemah di dalam ruang UGD dengan sebuah ventilator menghiasi hidungnya. Mata indah itu tertutup rapat, mulut mungilnya yang selalu bicara ceplas ceplos kini terutup rapat. Pucat. Itulah keadaan fisik Sulli saat ini. Keadaan fisik Minho sama dengan Sulli, yang berbeda adalah mata Minho ditutup perban karena baru saja selesai dioperasi untuk mengambil serpihan kaca yang masuk ke dalam matanya. Menurut penjelasan doker, Minho bisa melihat lagi jika ada donor mata yang cocok dengannya. Namun yang menjadi masalah adalah siapa yang bersedia mendonokan matanya? Jika uang yang diminta, tentu keluarga Choi tidak keberatan. Appa Minho adalah salah satu orang terkaya di Korea dan Jepang. Bagi mereka, uang tidak ada artinya jika dibanding keselamatan dan kesehatan putera tunggal mereka.

Baekhyun merasa sangat iba pada Minho. Sampai kapanpun, namja itu akan menemani Minho, selalu menjadi sahabat dan keluarga baginya. Orangtua Minho tidak bisa datang ke rumah sakit. Jarak mereka terlalu jauh dari puteranya. Mungkin mereka akan kembali ke Korea jika Minho sudah keluar dari rumah sakit. Jadi, selama Minho dirawat di rumah sakit. Dia lah yang akan menangani segala urusan kantor, menggantikan Minho. Baekhyun jugalah yang akan menyelesaikan biaya dan administrasi pengobatan Minho sampai namja itu sembuh. Tugas Baekhyun saat ini adalah mencari donor mata secepatnya sebelum Minho menyadari kalau matanya tidak berfungsi lagi. Tapi bagaimana caranya? Baekhyun tidak habis pikir. Kenapa Minho bisa mengalami hal yang begitu menyedihkan seperti ini.

Keesokan harinya, ketiga pasien belum sadarkan diri. Baekhyun dan keluarga Choi menunggu di ruang tunggu sejak kemarin. Suasana sepi, tidak ada suara tangis seperti kemarin. Semuanya hanya bisa pasrah dan berharap ketiganya segera sadar.

Seorang yeoja seumuran Sooyoung mendatangi mereka. Menanyakan dimana Junmyeon berada. Sooyoung langsung memeluk yeoja itu. Tiffany belum mengetahui bahwa saudara laki-lakinya kini masih kritis. Junmyeon mengalami banyak kerusakan organ. Operasi yang ia jalani kemarin berjalan lebih dari 10 jam.

“Junmyeon… eodiseo?” tanya Tiffany. Sooyoung masih terdiam. Dia belum siap mengatakan hal buruk yang terjadi pada Junmyeon. “Apa dia baik-baik saja?”

Sooyoung menghela nafas panjang. “Kondisinya belum dapat dipastikan karena Junmyeon oppa mengalami luka yang paling parah. Saat ini baik Junmyeon, Sulli ataupun Minho belum sadarkan diri. Mungkin sebentar lagi Sulli atau Minho akan segera membuka mata, tapi Junmyeon oppa kami belum dapat mengetahuinya.”

Tiffany shock. Kedua kakinya tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya lebih lama. Baekhyun segera menuntunnya untuk duduk di bangku ruang tunggu.

“Bersabarlah, semua yang di sini sedang berduka,” kata Baekhyun lirih.

Tuan Choi berdiri untuk meluruskan kakinya agar tidak terasa pegal-pegal jika ia duduk dalam waktu lama. “Sulli-a, segeralah sadar, nak. Appa yakin kau mampu membuktikan ucapan doktermu salah. Kau adalah putri appa yang bisa bertahan.”

Sooyoung menatap appanya penuh tanda tanya. Apa maksud kata-kata appanya barusan? Kenapa appanya bicara seperti itu seakan Sulli sudah divonis tidak selamat. “Appa, apa maksud ucapan appa? Apa yang terjadi pada Sulli?”

Tuan Choi menoleh ke arah puterinya. Kemudian ia mulai bercerita.

Flashback

Tanggal 7 Juni 1993, nyonya Choi melahirkan seorang putri cantik dengan mata bulat, hidung mancung dan kulit yang putih bersih seperti susu. Puterinya ia beri nama Choi Sulli. Namun sayang, menurut pengamatan para dokter, Sulli nantinya akan mengidap beberapa penyakit tingkat akut.

“Menurut pengamatan kami selaku tim dokter yang membantu proses persalinan isteri anda, putri bungsu anda tidak dapat bertahan hidup lebih dari 20 tahun. Kondisi jantung dan paru-parunya lemah. Kemungkinan besar, pada usianya menjelang 20 tahun, putri anda akan menderita penyakit jantung. Kami sangat menyesal tidak dapat melakukan apapun untuk hal ini. Antibodinya juga di bawah rata-rata. Jadi, puteri anda akan mudah menderita penyakit sebelum usia 20 tahun. Inilah yang dapat kami simpulkan dari pengamatan kami, Choi ahjussi.”

Tuan Choi lemas tak berdaya setelah mendengar penjelasan dari dokter. “Namun segalanya belum bisa dipastikan seperti ucapan dokter tadi, kan?”

Dokter mengangguk. “Ne, Choi ahjussi. Takdirnya ada di tangan Tuhan, bukan di tangan kami.”

Flashback end.

Sooyoung semakin menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Sulli. Baekhyun dan tuan Choi berusaha menenangkannya. Sulli tidak mungkin dan tidak akan menyalahkan Sooyoung atas hal ini. Sooyoung kembali meneteskan airmatanya.

“Keluarga Choi!” panggil seorang perawat dari ruang perawatan Sulli di UGD.

Keluarga Choi kompak menjawab panggilan perawat itu.

“Sulli agassi sudah menunjukkan respon yang positif. Kami akan memindahkannya ke kamar perawatan. Silahkan selesaikan administrasinya, kami akan menempatkannya sesuai dengan biaya administrasi. Mari ikuti saya.”

Tuan Choi bergegas mengurus administrasi perawatan putri bungsunya. Sooyoung masuk ke dalam ruangan untuk melihat dongsaeng tercintanya. Wajah pucat Sulli terpampang bebas di depan matanya. Lagi-lagi Sooyoung meneteskan airmatanya. Ia meraih tangan dingin Sulli.

“Sulli-a, ireona, jebal… Mianhae Sulli-a. Eonni benar-benar minta maaf padamu. Ini semua salah eonni. Ireona, Sulli-a. Mari kita lihat keadaan Junmyeon oppa dan Minho di ruangannya. Kau harus melihat mereka. Bangunkan mereka, Sulli-a. Ireona…” Sooyoung meletakkan telapak tangan kiri Sulli yang tertancap jarum infus di pipi kanannya. Ia ingin merasakan kehangatan tangan Sulli namun tangan dongsaengnya itu sedingin es. Tak sehangat tangannya sendiri.

Minho sudah sadar. Ia bertanya-tanya kenapa hanya gelap yang ia lihat? Apakah ini masih malam dan sedang pemadaman listrik? Baekhyun menahan sedihnya. Dia mengiyakan saja kata-kata Minho agar namja itu tidak shock.

“Baekhyun-a, dimana Sulli?” tanya Minho.

“Dia ada di ruangannya, hyung. Kau tahu kan kalau di rumah sakit setiap pasien berada di ruangannya masing-masing, ya, meskipun mereka yang berada di kelas 3 harus satu ruang dengan beberapa yang lainnya.”

Minho manggut-manggut, mengerti atas penjelasan Baekhyun. Baekhyun bingung dan cemas. Mau tidak mau, dia harus bisa mendapat pendonor mata yang cocok utnuk Minho.

“Hyung, karena kau sudah sadar, aku ingin pergi sebentar. Dari kemarin aku tidak mandi. Kasihan kau nanti.”

“Eoh, pergilah. Kau sudah mandi saja masih bau apalagi kalau belum mandi. Palli palli!”

Baekhyun pergi dengan tergesa-gesa. Ia harus segera menyelesaikan urusannya sekaligus mencari pendonor mata untuk Minho. Saat tiba di depan ruang UGD yang ternyata di sana masih ada Junmyeon, baekhyun mendengar tangis dua ornag yeoja, mereka berdua histeris. Baekhyun mencoba menengok di koridor sumber suara yeoja itu. Sooyoung-ssi? Baekhyun mendekati Sooyoung. Ia melihat Tiffany terduduk lemas di atas lantai. Baekhyun masih bingung, belum mengetahui apa yang telah terjadi. Ia juga melihat seorang dokter dengan ekspresi sedih. Baekhyun memberanikan diri bertanya pada dokter itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan mereka?” tanya Baekhyun.

“Anda siapa?”

“Saya kerabat mereka. Apa yang terjadi?” tanya Baekhyun lagi.

“Pasien bernama Kim Junmyeon baru saja menghembuskan napas terakhir. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sebagian organ vitalnya mengalami kerusakan parah, kami bisa saja melakukan transplantasi tapi kondisi pasien tidak memungkinkan untuk proses transplantasi. Proses transplantasi juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencari donor organ yang cocok.”

Bagai disambar petir, Baekhyun merasakan sesak di dadanya. Meskipun ia tidak mengenal Junmyeon, tapi hal dialami Junmyeon sangat menyayat hati, menyakitkan, terutama bagi kerabat yang ia tinggalkan. Tak terasa, mata Baekhyun memerah apalagi saat ia melihat Sooyoung dan Tiffany sedang menangisi kepergian namja itu. Bagaimana tidak? Tiffany adalah satu-satunya saudara Junmyeon, sedangkan Sooyoung adalah yeoja yang sangat mencintai Junmyeon. Bahkan hanya karena rasa cintanya pada Junmyeon, dongsaengnya harus mengalah padanya. Namun kini namja itu telah tiada. Namja yang selalu ada di dalam hatinya telah meninggalkan kehidupan di dunia.

Baekhyun baru saja kembali ke rumah sakit. Ia sudah berganti pakaian yang bersih dan rapi. Ia juga membawa beberapa makanan ringan dan nasi kotak untuk keluarga Choi. Ia mendengar kabar dari Sooyoung bahwa Sulli sudah sadar sepenuhnya. Ingatannya telah kembali. Baekhyun melangkah menuju ruang perawatan Sulli. Sesampainya di sana, ia hanya menemukan Sooyoung dan Sulli. Tuan dan nyonya Choi sedang membantu Tiffany mengurus jenazah Junmyeon. Sooyoung tampak pucat dan kacau. Baekhyun memberikan makanan yang ia bawa kepada yeoja itu. Sooyoung menerimanya dengan lesu.

“Sabarlah…” ucap Baekhyun lirih.

“Annyeong, Sulli-a…” sapa Baekhyun dengan senyum yang sudah ia paksakan semanis mungkin.

Sulli menoleh ke arahnya. Ia mengerutkan keningnya. “Nugu?”

Deg! Baekhyun dan Sooyoung terkejut mendengar satu kata yang keluar dari mulut Sulli. Keduanya saling pandang. Bingung.

“Kau tidak mengingatku?” tanya Baekhyun pelan.

Sulli tampak mengingat sesuatu. “Aah, aku tahu. Kau namja yang memaki kami saat di Busan. Geutji?”

Sooyoung membuka mulutnya, Baekhyun membulatkan kedua matanya. Ya, mereka terkejut lagi mendengar pengakuan Sulli. Sulli hanya mengingt Baekhyun seorang namja yang memakinya saat tabrakan di Busan dua tahun yang lalu.

Tbc

Advertisements

3 thoughts on “Stay in My Heart [Chapter 3]

  1. hahaha FF ini menyedihkan sekaligus Lucu banget… maaf niih mungkin di part sebelumnya aku belum bisa koment waktu itu aku cuma baca karena waktu itu koneksi gak bagus,,, buat koment aku sampe menghentikan semua aktifitas yang lainnya biar cepet tapi yaaah gitu deh

    tapi FF ini bagus kok dapet rating 5 deh 😀

    next buat lagi FF minsul ❤

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s