Forever In Love (Chapter 2)

Forever In Love (Chapter 2)

Forever In Love

Author : Vera Riantiwi
Tittle : Forever In Love
Length : Three shoot
Cast : – Im Yoona Girls Generation
– Lee Donghae Super Junior
– Kim Heechul
Other Cast : All Member Super Junior & All Member SNSD
Genree : Romance, Sad, Tragedy

Author No Comment deh,,,,, ^^
Happy Reading dan yang terpenting ‘Maafkan atas banyaknya Typo’

Disclaimer : ini hanya sebatas ff. Jadi mereka yg disini hanya pinjam. Terinspirasi oleh pemikiran sendiri, so DON’T COPAS!!!

ALLOWED!!

Di sebuah Apartement
Yoona menggigit bibirnya menahan perih di telapak tangan kanannya. Kalau saja bisa, dia ingin berteriak sekeras-kerasnya, dan melawan. Namun tenaganya telah terkuras habis, dan kini dia hanya bisa duduk diam, pasrah. Tubuhnya bersandar di tembok putih apartemen, menggelosor tanpa daya. Seorang namja masih asyik bermain di telapak tangan Yoona dengan pisau.
Darah segar mengalir, mengotori lantai putih pualam. Entah apa yang namja itu perbuat, Yoona tak ingin tahu. Yang dia tahu hanyalah rasa sakit sebab goresan pisau namja itu.Kepalanya masih pusing karena tadi namja itu berkali-kali membenturkannya ke tembok dengan penuh emosi. Kaus biru muda yang dia kenakan juga penuh darah, tetesan dari pelipisnya yang terluka akibat benturan. Yoona menarik napas, berat. Tak ada yang lebih dia inginkan saat ini selain pingsan.
“Kalau saja kamu dengar perkataan Oppa, Yoong, mungkin Oppa tak akan menyiksamu seperti ini.”
“Mi… Mianhae, Oppa,” ucap Yoona, lemah.
“Baiklah. Aku maafkan. Namun jangan salahkan aku jika mulai besok kau tak lagi bisa bertemu namja yang kau cintai itu.”
Yoona meringis merasakan tajamnya pisau yang kembali bermain di telapak tangannya. “A… argh… aniyo…. Jangan lakukan ap… apa-apa padanya.”
“Huh, kau ini bodoh atau apa?! Mau-maunya mengorbankan dirimu demi namja itu. Kau masih mencintainya, kan?!”
Yoona menggeleng pelan. Ini sudah kesekian kali namja itu menanyakan hal yang sama sejak tadi mereka bertemu. Ingin rasanya Yoona menjawab dengan lantang kalau hatinya masih dimiliki Donghae. Namun, dia tidak mungkin melakukannya. Yoona tak ingin Donghae mendapat masalah besar.
Namja itu melepaskan tangan Yoona yang sudah berlumur darah. Dia menatap Yoona, sesaat. Tatapan tajamnya membuat Yoona gemetar. Namja itu lalu beranjak ke dapur, mengambil sebotol air mineral dan meneguknya hingga tak bersisa. Tak ada siapa pun lagi di apartemen itu. Hanya dia dan Yoona. Tak akan ada yang tahu apa yang sudah dia lakukan pada Yoona. Ini apartemen pribadinya. Dia bebas melalukan apapun yang dia inginkan.
Yoona menatap punggung namja itu, pedih. Dia masih sulit percaya namja itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada lagi perlakuan lembut atau kejutan-kejutan manis. Kencan mereka yang seharusnya indah menjadi sangat menyeramkan bagi Yoona.
Oppa, aku baru saja memulai belajar mencintaimu, dan merasakan kehadiranmu di sisiku lebih dari sekadar teman. Tapi, kau malah menghancurkannya.
Airmata Yoona mengalir tanpa sanggup dia cegah. Namja tadi tak hanya menggores telapak Yoona dengan pisau, namun juga telah membuat luka yang sangat dalam di hati Yoona dengan perlakuannya. Bukan sekali dua kali namja itu mengancam dan menerornya dengan sedemikian hebat. Semua itu membuatnya sangat ketakutan dan terluka. Jangankan untuk berada bersama di apartemen seperti ini, saat latihan pun Yoona lebih memilih menghindar.
Namun, Yoona benar-benar tak bisa mengelak saat tadi namja itu membawanya ke apartemen. Donghae-lah taruhannya. Jika Yoona berani menolak ajakan namja itu, Donghae tak akan selamat. Namja itu bisa berbuat apa saja untuk memisahkan Yoona dan Donghae selamanya, dan membuat Yoona menderita seumur hidupnya.
Oppa, cinta memang telah datang padaku. Tapi hanya sesaat. Aku tak mungkin mencintai namja yang senang melihatku tersiksa. Bagaimana bisa kau membahagiakan aku selamanya, seperti yang sering kau katakan, jika keberadaanmu selalu membuatku takut? Aku takut, Oppa. Aku tersiksa dengan semua perlakuanmu. Lebih baik kita putus. Aku sungguh tak kuat.
Yoona melipat kakinya, kemudian menelungkupkan wajahnya ke lutut. Kenangan indah bersama namja itu mendesak keluar dari kotak ingatannya. Yoona tak akan pernah bisa lupa pada makan malam pertama mereka di apartemen itu. Dengan penuh cinta, namja lembut dan baik hati itu mempersembahkan sebuah candle light dinner yang sangat romantis sebagai peringatan hari jadi mereka yang pertama. Malam itu juga, Yoona memutuskan untuk membuka hati bagi namja itu, dan mulai mengikis sedikit-sedikit cintanya pada Donghae.
Namja itu bukanlah orang asing bagi Yoona. Mereka sudah berteman dekat sejak sama-sama masih training. Yoona selalu merasa nyaman di dekat namja yang sering memperlakukannya selayak putri raja itu. Namun, kenyamanan itu tak lantas membuat Yoona memberikan cintanya pada namja itu. Adalah Donghae, seorang namja tampan dengan rambut yang hampir menyentuh bahu, yang membuat Yoona tergila-gila. Dia mencintai Donghae dengan segenap hati, jiwa, dan raganya.
Cinta Yoona berbuah manis karena Donghae juga memiliki perasaan yang sama. Tanpa diketahui siapa pun selain Yuri, Yoona dan Donghae mulai menjalin ikatan hati. SM melarang artis-artisnya berpacaran, terlebih lagi dengan yang masih bernaung di bawah satu manajemen. Karena itu, Yoona dan Donghae memilih merahasiakan hubungan mereka dan tetap bersikap biasa.
Sikap Yoona pada namja itu juga tidak berubah. Masih tetap dekat dan bersahabat. Hingga akhirnya Yoona tahu kalau namja itu menyimpan cinta untuknya. Sebuah pilihan berat. Bagi Yoona atau pun Donghae. Mereka sama-sama tahu sifat ambisius yang dimiliki namja itu. Yoona dan Donghae memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka. Hanya status hubungan mereka yang berubah. Tidak dengan hati yang terlanjur terikat.
Namja itu… dia sangat baik. Teramat sangat baik. Kalau sebelumnya Yoona sering iri dengan perhatian dan cinta Siwon untuk Yuri, kini dia mendapatkan semuanya. Hampir tiap SMTown Concert mereka membuat moment, seolah ingin memberitahu kedekatan mereka pada dunia. Yoona sangat menikmatinya, meski tanpa cinta.
Namun semuanya berubah sejak namja itu memergoki Yoona sedang menatap Donghae pada SMTown Concert di Beijing, Juli lalu. Mulai hari itu, apartemen mewah ini terasa neraka. Namja lembut dan penuh perhatian berubah menjadi namja yang menyeramkan. Berkali-kali Yoona harus merasakan pisau tajam namja itu bermain di tubuhnya.
Yoona sering mencoba mengelak saat namja itu mengajak ke apartemennya. Tapi, dia tak pernah berhasil. Namja itu tak segan-segan menggunakan cara apa pun demi membawa Yoona. Mengancam, menculik, atau pun membius Yoona, semua pernah dia lakukan. Hanya saat berada di dorm Yoona merasa aman dan bisa menolak ajakan namja itu, meski keesokan harinya dia disiksa.
“Kau menangis? Im Yoona menangis? Hapus air matamu itu Yoong! Oppa tak suka. Im Yoona adalah gadis yang kuat.” Namja itu mencengkeram pergelangan tangan Yoona lagi.
“Aku tak tahan lagi, Oppa! Kita putus saja ne!” ucap Yoona, di sela isaknya.
“Putus katamu? Huh, tak akan semudah itu! Aku bersusah payah mendapatkanmu.”
“Oppa, apakah ini yang kau sebut cinta?” ucap Yoona dengan isak tangis yang sudah tidak dapat dia tahan lagi.
“Kau milikku! Jangan pernah katakan hal itu lagi, atau aku akan memisahkanmu dengan namja yang kau cintai itu, selamanya.”
“Oppa… aku mohon…. Jika kau memang mencintaiku dan ingin bersamaku, hentikan siksaan ini.” Pinta Yoona pada Heechul dengan wajah yang memelas.
“Jadi, kau memilih aku menyiksanya?” ancam Heechul pada Yoona.
Yoona menggeleng cepat. “Hentikan menyiksa kami, Oppa. Bukankah kau sudah mendapatkan semua dariku?”
“Tidak dengan hatimu, Im Yoona. Kau masih mencintai Donghae.” Namja itu mendekatkan pisaunya ke wajah Yoona, membuat Yoona gemetar. “Aku ingin semuanya. Semua yang ada di dirimu. Hatimu, jiwamu, ragamu.”

*****

“Mrs. Choi, bangunlah….” bisik Siwon di telinga Yuri. “Choi Yuri…. My Baby Boo….”
Yuri mengerjapkan mata, kemudian mengedarkan pandangan ke luar kaca mobil. Lamat-lamat, dia melihat mobilnya yang bersebelahan dengan VW putih imut milik Yoona. Dua buah van terparkir persis di sebelah mobil Siwon, tempat Yuri berada saat ini. Yuri segera sadar kalau dia sudah berada di parkiran dormnya.
“Ah, sudah sampai. Khamsahamnida, Mr. Choi. Kau baik sekali. Hari ini aku sangat merepotkanmu.”
“Pst….” Siwon meletakkan jarinya di depan bibir Yuri. “Itu sudah kewajibanku sebagai nampyeon, Baby.”
“Ya! Kau!” Yuri memukul pelan lengan Siwon. Wajahnya bersemu. Dia tak habis pikir, di tengah malam setelah lelah seharian, bisa-bisanya Siwon masih semangat menggodanya.
Hari ini sangat melelahkan buat mereka. Setelah seharian disibukkan dengan kegiatan masing-masing, malam tadi mereka juga sibuk mencari Yoona. Empat pusat perbelanjaan sudah mereka jelajahi. Kafe, restoran, taman-taman kota, hingga klub malam juga mereka masuki. Tak ada Yoona di sana. Kalau saja Taeyeon tak menelepon, menyuruh Yuri pulang, mungkin mereka masih menyusuri sudut-sudut kota.
Suasana mobil yang nyaman, dan dekapan hangat namja yang penuh cinta, mampu membuat Yuri melupakan kepanikannya karena Yoona belum ditemukan. Sepanjang perjalanan menuju dorm, Yuri tertidur. Tangan kirinya berpaut dengan tangan kanan Siwon, memberikan efek rileks dalam tubuhnya. Wajah Yuri yang tenang dan polos membuat Siwon ragu membangunkan Yuri.
“Baby, kau masih mengantuk? Tidurlah di sini.”
“Aniyo Oppa. Taeng eonni pasti masih menungguku. Gomawo, Yeobo….”
“Kalau begitu, tunggulah.”
Siwon mengecup bibir Yuri sekilas, lalu keluar dari mobilnya. Dia membuka pintu mobil di sisi Yuri, dan menggendong gadis yang masih mengantuk itu. Kaki kanannya menutup pintu mobil dengan sekali tendang.
“Ya! Apa-apaan Oppa ini? Turunkan aku!”
“Kau sudah sangat letih, Baby…. Bisa-bisa kau tertidur sebelum sampai di pintu dorm.” Siwon terkekeh. “Lagipula, besok-besok aku pasti sulit menemuimu. Belum tentu aku mendapat waktu luang seperti tadi.”
“Siwon Oppa… kau membuatku sedih. I’ll miss you….”
“I’ll miss you too… Baby, aku harap kau jangan pedulikan apa pun yang kau dengar tentang aku, pernyataan-pernyataanku di media, adegan dalam drama, atau hal-hal yang aku lakukan di lingkungan drama. Aku milikmu. Hanya milikmu. I’m yours, Baby….” Siwon bersenandung pelan, menyanyikan lagu Jason Mraz, musisi Amerika favorit Yuri. Dia sangat berharap Yuri meyakini ucapannya. Meski Yuri sudah memberinya izin, tapi Siwon tahu Yuri pasti sangat terganggu dengan adegan-adegan dalam drama dan pernyataan-pernyataannya di media. Kalau boleh memilih, Siwon ingin Yuri yang menjadi pemeran utama wanita di dramanya. Pasti sangat nyaman beradegan mesra dengan kekasih sendiri.
“Kau memikirkan apa, Siwon Oppa?” tanya Yuri pada Siwon.
“Memikirkan istriku.”
“Ya! Kau! Masih saja menggodaku.” Yuri memukul pelan lengan Siwon, lalu menarik napas berat. Hufh… pasti sepi tanpa Siwon Oppa. Aku harus bisa! Aku tak mau menjadi penghambat kariernya. Ah, sudahlah. Lebih baik aku fokus menyelesaikan masalah Yoona. Eh, Yoona?
“Baby, ada apa? Apa yang kau pikirkan?”
“Yoona,” jawab Yuri, lirih.
“Semoga saat kau masuk kamar nanti, dia sudah ada di balik selimut.”
“Ne. Aku harap juga begitu.”
Siwon menatap Yuri, intens, merekam baik-baik semua yang dia lihat, dalam benaknya. Senyumnya mengembang saat menyadari pipi Yuri semakin berisi. Kalau saja dia tidak sedang menggendong Yuri, sudah pasti tangannya akan leluasa mencubit pipi chubby itu.
“Yeobo, kelak, aku ingin menggendongmu seperti ini, dan membawamu ke tempat yang indah.”
“Ke mana?”
“Yang jelas bukan ke sini.” Siwon menurunkan Yuri di depan pintu dorm SNSD, kemudian mengelus pipi Yuri, lembut.
Malam sudah sangat larut. Dorm SNSD juga sudah sepi. Tak terdengar lagi teriakan atau tawa penghuninya dari balik pintu. Yuri mendorong gagang pintu. Namun, terkunci. Dia kemudian beralih ke papan tombol di sebelah kanan pintu. Cukup lama dia terdiam, tanpa menekan satu tombol pun.
“Pasti kau lupa passwordnya.”
“Ne. Aku betul-betul tak dapat mengingatnya.”
“Coba ketik ‘Siwon tampan’ atau ‘Siwon love Yuri’.”
“Ya! Kau menggodaku lagi!” gerutu Yuri, pura-pura, sambil mengetuk pintu. Dia yakin, Taeyeon masih bangun.
“Kalau bukan kamu, siapa lagi yang harus aku goda?”
Dengan sekali gerak, Siwon mendorong Yuri ke tembok. Tatapan lembutnya menghujam, persis di manik mata Yuri. Wajahnya mendekat, hingga tak ada lagi jarak antara mereka. Detik berikutnya, bibir Siwon mendarat mulus di bibir Yuri, lalu menguncinya. Pintu dorm terbuka. Taeyeon terkesiap melihat adegan di depannya.
“Kau sud….” Ucapan Taeyeon terhenti mendadak. “Mianhae.”
Yuri buru-buru melepaskan bibirnya dari Siwon, lalu menggeser tubuh namja itu. Dia tersenyum malu-malu pada Taeyeon yang masih berdiri di depan pintu sambil menutup matanya dengan telapak tangan. Meski bukan pertama kalinya kepergok, Yuri tetap saja masih merasa canggung. Apalagi di depan leadernya.
“Annyeong, Taeng. Maaf, terlalu malam mengantarkan membermu,” ucap Siwon, mencairkan suasana. Dia menunduk sembilan puluh derajat di depan Taeyeon.
Taeyeon membuka matanya, pelan-pelan, memastikan tak ada adegan aneh lagi. Setelah yakin aman, Taeyeon tersenyum, seolah tak ada apa-apa barusan. “Ah, gwenchana, Siwon Oppa. Gomawo telah mengantarnya. Fyuh… untung aku yang membuka pintu, bukan Seohyun.”
“Mianhae, Taeng eonni….” ucap Yuri, lirih.
Siwon mengacak rambut Yuri, lalu memeluknya. “Istirahatlah, Mrs. Choi. Kabari aku. Arasso?”
“Ne. Annyeong jumuseyo, nae yeobo.”
Taeyeon menutup matanya lagi dengan tangan. Sebab, Siwon dan Yuri sudah menunjukkan gelagat mencurigakan. Dia baru membuka matanya saat mendengar ucapan pamit Siwon, dan tawa Yuri.
“Dari mana saja kau?” tanya Taeyeon, sambil mengikuti Yuri ke ruang makan.
“Ngg… Berkencan. Apa Yoona sudah pulang?” Yuri meminum segelas air mineral. Pandangannya terbentur pada angka yang ditunjukkan oleh jarum jam. Sudah pukul dua pagi.
“Baru sekitar tiga puluh menit lalu. Heechul oppa yang mengantar. Huh, kalian berdua sama saja. Kalau sudah berkencan, pasti lupa waktu.” Dumel Taeyeon.
“Kekeke… mianhae, Taeng-eonnie. Gomawo telah menungguku.”
“Tidurlah, Yul.” Taeyeon menguap, lalu beranjak ke kamarnya.
Kamar Yoonyul sudah gelap saat Yuri masuk. Namun, Yuri bisa melihat sosok Yoona yang tidur seperti bayi di balik selimutnya. Kekhawatirannya lenyap. Lewat pesan singkat, Yuri mengabarkan Siwon tentang keberadaan Yoona. Tak lupa, dia juga mengirim pesan pada Donghae. Donghae pasti tak bisa tidur menunggu kabar darinya.
“Yoong, sepertinya kau sangat lelah. Baru pulang tiga puluh menit saja sudah tidur pulas begini. Pasti kau belum makan sereal kan? Tak apa. Tidurlah yang nyenyak. Aku mandi dulu.”
Yoona membuka mata, begitu mendengar pintu kamarnya ditutup. Dia belum bisa tidur. Pusing dan nyeri masih sangat terasa. Yoona memiringkan tubuhnya ke kiri, menekan luka di pelipisnya. Dia tak mau Yuri melihat perban penutup lukanya dan menjadi khawatir. Tangannya, yang juga masih berbalut perban, tersembunyi nyaman di balik selimut. Besok, sebelum Yuri bangun, dia sudah harus membuka perban itu agar Yuri tak curiga.
Pintu kamar terbuka. Harum sabun cair Yuri meruap memenuhi ruangan. Yoona memejamkan matanya kembali, dan bersikap layaknya orang yang sudah tidur lelap. Perutnya lapar, karena dia belum makan sereal. Tapi, dia juga tidak berani keluar dari selimut.
“Deer.” Yuri membanting diri di kasurnya, lalu menyambar boneka Mickey Mouse kesayangannya. “Rasanya ada yang kurang kalau kita melewati malam tanpa bercerita. Semoga aku tidak mengganggumu.”
Yoona diam di balik selimutnya. Memang ada yang kurang jika dia dan Yuri tak saling bercerita sebelum tidur. Saat mereka berjauhan pun, mereka akan saling menelepon dan bertukar cerita. Sayang, Yoona tak punya cerita menarik untuk dibagi malam ini. Mengingatnya saja membuat Yoona ketakutan. Pun, dia tak punya ide mengarang cerita-cerita indah.
“Tadi, aku bertemu Donghae Oppa di sungai Han. Pipinya lebam. Dia bilang karena terkena samsack. Tapi, aku tak percaya. Pasti seseorang telah memukulnya. Oiya, dia juga menyuruh aku dan Siwon untuk mencarimu. Ternyata, kau sudah di sini.”
Donghae Oppa. Airmata Yoona mengalir pelan mendengar cerita Yuri tentang Donghae. Sekali lagi Yoona membuktikan kalau ikatan mereka sudah terjalin begitu kuat, hingga Donghae bisa merasakan hal buruk sedang terjadi pada Yoona.
Yoona menarik napas, dalam. Terasa ribuan pedang sedang mengoyak hatinya dan membuatnya sesak. Cintanya dan Donghae tak mungkin bersatu. Dan kini, Donghae juga terancam karenanya.
“Deer?” Yuri melompat ke kasur Yoona “Aigo… Pasti kau mimpi buruk lagi.”
Isakan Yoona begitu jelas di telinga Yuri. Terdengar sangat menyakitkan. Tangisan lirih itulah yang selalu membuat Yuri khawatir. Pengalaman Yoona sakit beberapa waktu lalu masih membekas dalam ingatannya. Yuri sangat takut hal itu terjadi lagi.
“Yoong, pasti mimpimu sangat buruk. Ceritakan padaku, Yoong. Bagi bebanmu padaku.” Ucap Yuri lembut.
Yuri eonni… jeongmal mianhae. Tapi, aku tak mau melibatkanmu dalam masalah ini. Ini… bahkan lebih buruk dari mimpi terburuk yang pernah aku alami. Ucap Yoona dalam hati.
Yuri mengusap kepala Yoona, berusaha membuat Yoona tenang. Terasa ribuan sembilu menyayat hatinya. Satu persatu airmatanya jatuh. Yoona sudah menjadi bagian hidupnya. Kesedihan Yoona adalah kesedihannya. Melihat Yoona menderita dan ketakutan seperti itu, Yuri tak dapat mengontrol emosinya. Dia jadi mudah menangis, marah, dan khawatir. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh perban di pelipis Yoona.
“Kau… kau kenapa, Yoong? Apakah ini sakit? Adakah seseorang yang berbuat jahat padamu?” tanya Yuri tapi tidak ada jawaban dari Yoona.

*****
Pagi ini, seperti biasa, dimulai dengan keriuhan di ruang makan. Sooyoung dan Yoona terus berteriak kelaparan sambil memukul-mukul piring mereka dengan garpu. Yoona sangat kelaparan karena semalam dia tidur tanpa makan sereal.
“Cepatlah, Taeng Eonni, Hyo Eonni!!!” pekik Sooyoung dan Yoona
“Sabarlah, Youngie….” ucap Sunny, sambil mengeluarkan aegyonya. Dia tahu bagaimana kerepotan Taeyeon dan Hyoyeon menyiapkan makanan untuk mereka bersembilan.
“Aegyomu tak membuat aku kenyang, Sunkyu! Aku kelaparan! Hei, kalian mau membunuhku?!” pekik Sooyounh lagi.
“Youngie! Diam!” pekik Jessica. Sooyoung seketika membeku. Ucapan dan tatapan Jessica sedingin es Kutub Selatan. Kalau Sooyoung berani membantah, jiwa beruang kutub Jessica yang akan muncul. Masih pagi. Sooyoung pilih cari selamat.
Taeyeon dan Hyoyeon membawa hasil masakan mereka ke ruang makan. Harumnya menyebar ke seluruh ruangan, membuat semua yang ada di situ merasa lapar. Sooyoung dan Yoona mengambil lebih banyak dari yang lain. Mereka makan sambil ngobrol ringan. Tak ada yang memperhatikan kalau Sooyoung sudah berkali-kali menambah makanannya.
“Hari ini aku yang tugas ya, Eonnie?” tanya Yoona, sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.
“Ne,” sahut Tiffany, sambil tersenyum manis. “Mari aku bantu.”
“Ah, tak usah, Fany Eonnie. Aku bisa mengerjakannya sendiri.” Tolak Yoona.
“Apa kau yakin, Yoong? Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat dan seperti menahan sakit.” Tanya Tiffany pada Yoona yang melihat wajah pucat Yoona seperti menahan kesakitan.
“Aniyo. Aku tak apa-apa. Semalam aku terbentur, jadi ada sedikit luka di pelipisku. Tapi tak mengganggu.” Elak Yoona berusaha menenangkan member lainnya.
Tiffany menyibak rambut yang menutupi pelipis Yoona. Ada bagian kulit yang terkoyak, dikelilingi lebam keunguan. Tiffany mendesis ngeri, membayangkan bagaimana luka itu bisa terbentuk.
“Yoong… i… ini… pasti sakit.” Ucap Tiffany
“Ya! Yoong! Kenapa dengan keningmu?” tanya Sooyoung.
“Eonnie.” Seohyun mendekat, dan mencoba menyentuh luka Yoona.
“Jangan sentuh, Hyunnie! Kemari, Yoong! Biar aku obati lukamu.” Hyoyeon segera menyiapkan kotak obat.
“Aku tak apa-apa, Eonnie.” Yoona masih berusaha mengelak.
“Bagaimana kau bilang tak apa-apa? Lukamu menyeramkan begitu. Kau mau lukamu infeksi?” Taeyeon menatap Yoona dengan tatapan ikuti-Hyoyeon-atau-aku-bunuh.
“Eonnie, semalam aku sudah bertemu dokter. Dia bilang tak ada yang perlu dikhawatirkan, dan lebih baik kalau lukanya dibuka agar cepat mengering.” Jelas Yoona dengan gugup
“Apa Heechul Oppa tahu tentang ini?” tanya Yuri. Pertanyaannya hanyalah basa-basi. Yuri sangat yakin Heechul tahu. Dia hanya ingin melihat reaksi Yoona dan Jessica.
“Ah, Ne. Tentu saja dia tahu. Baiklah, waktunya aku bertugas!” Yoona beranjak dari bangkunya. Piring-piring bekas sarapan sudah diletakkan Sooyoung di tempat cuci piring. Yuri merapikan ruang makan. Member lain kembali ke kamar, membereskan kamar masing-masing, dan bersiap untuk berangkat latihan.
“AUW! Argh….” Pekik Yoona sambil menanhan sakit yang ada di telapak tangannya.
Piring yang dipegang Yoona terlepas. Meluncur jatuh di atas piring-piring lainnya. Beberapa piring dan gelas terbelah, menimbulkan bunyi yang sangat keras. Yuri melompat, mendekati Yoona, dengan wajah khawatir.
“Yoong! Kenapa? Ada yang luka?” ucap Yuri dengan khawatir.
Yoona menggeleng pelan. Matanya terpejam, berusaha menahan perih yang mendera dari telapak tangannya, dan pusing yang dari semalam tak juga hilang. Beberapa saat dia tak bernapas. Wajahnya makin memucat.
Yuri menarik tangan Yoona yang masih penuh sabun, kemudian mencucinya di bawah kucuran air, pelan-pelan. Memang, saat Yuri menghampirinya, dia tidak melihat pecahan piring di tangan Yoona. Namun, tetap saja dia takut ada sisa pecahan yang mengenai tangan roommatenya itu. Napas Yuri seketika terhenti saat mendapati goresan di telapak tangan kanan Yoona yang masih memerah dan sedikit terbuka. Yuri mengerutkan kening.
Lukanya aneh. Tak mungkin kena pecahan piring. Kalau iya, pasti sudah banyak darah di sini. Tapi, sepertinya ini luka baru. Aigo! Apa ini? Yuri mendekatkan telapak tangan Yoona ke wajahnya, berusaha melihat jelas luka Yoona. “0424? Yoong?”
Tanpa suara, Yoona menghambur, memeluk Yuri. Punggungnya bergetar menahan tangis. Yuri balas memeluk Yoona, erat. Sungguh menyakitkan melihat Yoona seperti itu. Airmatanya ikut meleleh. Yuri yakin, seseorang telah menyakiti Yoona.

@SMEnt Ruang Practice Room

“Five, six, seven, eight!”
Musik mengalun kencang di practice room. Empat orang namja dan empat yeoja bergerak lincah seiring musik yang menghentak. Mr. Kim, pelatih dance mereka, terus menghitung dengan suara keras. Tarian yang sempurna dan sangat berenergi. Tak ada kesalahan sedikit pun.
“Saya harap kalian sebagus ini saat di perform,” kata Mr. Kim, saat musik sudah berhenti.
“Ne, kami pasti menampilkan yang terbaik,” ucap Hyoyeon, yakin. “Kau tahu kan, kami di sini karena kami penari terbaik di grup.”
“Bukan hanya di grup. Tapi di SMEnt,” ralat Eunhyuk.
“Aku tahu. Aku yakin kalian tak akan mengecewakan.” Mr. Kim tersenyum senang. “Oh ya, kau, Yuri-ya. Aku perhatikan kau tidak bersemangat dalam dance battle ini.”
“Mianhamnida, Mr. Kim,” kata Yuri, sambil mengusap peluh di dahinya.
“Couple visual-nya tak ada. Jadi dia seperti itu,” ledek Yoona, sambil meleletkan lidahnya pada Yuri.
“Couple Visual?”
“Couple Visual dan di kehidupan nyata,” tambah Hyoyeon.
“Hyungku,” tegas Minho. Tangannya sibuk mengipasi tubuhnya yang kegerahan.
“Tenang saja ada Oppa, Yul. Oppa bisa menjadi couple-mu.” Kata Yunho.
“Ya! Yunho hyung! Jangan coba-coba memisahkan mereka!”
“Anak kecil tahu apa tentang cinta.”
“Hei, aku tahu! Kalau kau berani memisahkan mereka, aku jamin hidupmu tak akan tenang!”
“Minho-ah, sudahlah. Lebih baik kita segera berkemas, lalu pulang. Kau pasti sudah sangat lelah.” Yuri tersenyum melihat kelakuan Minho. Wajar saja Minho bersikap begitu. Minho memang sangat dekat dengan Siwon. Siwon menyayangi Minho seperti adiknya sendiri, dan dibalas oleh Minho dengan selalu berusaha melindungi milik hyungnya, apa pun itu.
“Apa hyungku menjemputmu malam ini, Noona?” tanya Minho pada Yuri.
“Ne. Tadi dia bilang begitu. Kau mau ikut?”
“Aniyo. Aku tidak akan mengganggu kalian.” Minho mendekati Yuri, lalu berbisik.
“Ngg… Noona, sebaiknya kau berhati-hati dengan Yunho hyung. Aku tahu dia menyukaimu dari dulu.”
“Siwon hyungmu adalah hadiah terindah dari Tuhan, Minho. Dia yang terbaik untukku. Tak mungkin aku berpaling.” Kata Yuri yakin.
“Aish…. Kau itu!” Yoona mendaratkan jitakannya di kepala Yuri. “Ayo cepat turun! Jangan buat nampyeonmu menunggu lama.”
Yuri, Yoona, Hyoyeon, Taemin, Minho,Victoria, Eunhyuk, Tao, dan Yunho keluar dari practice room mereka. Practice room lain masih terang benderang. Terdengar Taetiseo baru selesai berlatih lagu DJ Got Us Falling In Love bersama EXO. Menjelang SMTour, latihan mereka memang difokuskan untuk penampilan personal, bukan grup.
Siwon sudah menunggu di lobby saat Yuri dan kawan-kawannya keluar dari lift. Minho terlihat sangat gembira. Dia melirik Yunho dengan lirikan yang seolah berkata matilah-kau-hyung. Siwon langsung memeluk Yuri, seolah tahu maksud Minho.
“Jeongmal bogoshipo, Yeobo.”
“Nado bogoshipoyo….”
“Ya! Lagi-lagi YulWon!” seru Taeyeon, yang baru keluar lift.
“Kalian itu. Baru seminggu lebih tak bertemu, tapi sudah seperti itu,” gerutu Tiffany, sambil menutup mata Seobaby dengan tangannya, kemudian menariknya keluar gedung.
“Ayo kita pulang, Yoong,” ajak Hyoyeon.
Yoona menggeleng. “Kau duluan saja.”
“Kim Yoona! Choi Yuri! Jangan pulang terlalu malam, atau kalian tidur di luar!” teriak Taeyeon dari luar gedung.
Yoona, Yuri, dan Siwon hanya tertawa kecil mendengar ocehan Taeyeon. Wajah Yuri memerah, mengingat bagaimana Taeyeon memergokinya dan Siwon sedang saling mengunci di depan dorm. Siwon mengusap rambut Yuri begitu menyadari gadis itu sedang tersipu.
“Aku… Mianhae. Bolehkah aku ganggu kalian?” tanya Yoona, pelan.
“Kau ingin ikut dengan kami?” tanya Siwon.
Yoona mengangguk. “Mianhae mengganggu kalian.”
“Tak apa, Yoong. Kau tahu, akhir-akhir ini istriku selalu mencemaskanmu saat kami kencan.”
Yuri menyikut rusuk Siwon. “Ya! Bisa-bisa orang menyangka kita betul-betul sudah menikah.”
“Tak apa. Apa kau tak ingin menikah denganku, Choi Yuri?”
“Siwon Oppa …. Kenapa menanyakan hal itu di sini?”
Yoona terkekeh melihat pasangan itu. Perfect couple, begitu Yoona menyebutnya. Siwon, meski sibuk dengan pekerjaannya atau dramanya dia mampu membagi waktu untuk bertemu dengan Yuri. Begitupun sebaliknya.
Mianhae, Siwon Oppa … Yuri Eonni. Aku hanya ingin tahu cinta yang sebenarnya.
“Yuri-ya! Aku pikir kau sudah di parkiran.” Donghae menghampiri mereka, terengah-engah.
“Aniyo. Aku baru saja mau pulang. Ada apa, Oppa?” Yuri melirik Siwon. Namja itu terlihat tak senang ada orang lain yang mencari Yuri.
“Ada yang perlu aku bicarakan.”
“Kalau begitu, ikutlah sekalian. Kita bisa mencari tempat nyaman untuk berbincang,” usul Siwon. Huh, lebih baik kencan berempat daripada membiarkan anaeku bersamanya.
“A… ku pulang saja.” pamit Yoona dengan ragu.
“Yoong!” Yuri buru-buru menarik tangan Yoona. “Kau mau membuat Eonni cemas? Teman-teman kita sudah pulang semua.”
“Tapi Eonni.” Yoona menunduk dalam, tak berani menatap wajah Donghae. Jantungnya berdebar lebih cepat. Donghae. Namja yang sangat dia rindukan sekaligus ingin dia hindari.
“Ayolah, Yoong. Bukankah double date lebih seru?”
“Aku….” Yoona mengedarkan pandangan ke sekitarnya. ““Baiklah, aku ikut.”
Siwon menggandeng Yuri, erat, ke parkiran. Yoona dan Donghae mengikuti di belakang mereka. Donghae sangat senang karena bisa bertemu Yoona, dan yakin Yoona baik-baik saja. Sementara Yoona terus menunduk. Bukan, bukan karena cintanya pada Donghae telah hilang. Yoona ketakutan. Hal buruk mungkin saja akan terjadi pada dirinya dan Donghae karena ketidaksengajaan ini.
Sepasang mata memperhatikan mereka, tajam. Terasa ada yang begitu menderu di hatinya. Dia hanya telat tak lebih dari lima menit. Namun, yeoja yang ingin dia temui sudah berjarak belasan meter di depannya, berjalan berdampingan dengan seorang namja
Im Yoona, rupanya kau betul-betul tak mendengarkanku. Tunggulah saatnya!

*****
Alunan instrumen Jepang klasik memenuhi seisi ruangan. Terdengar sangat lembut dan menenangkan, membuat Yuri berkali-kali menguap. Siwon merangkulnya erat, agar Yuri bisa tertidur di pundaknya. Di hadapan mereka, Yoona dan Donghae yang duduk tanpa saling tatap.
“Kau mau pesan apa, Hae-ah?” tanya Siwon, sambil membolak-balik daftar menu.
Donghae terlihat tidak berkonsentrasi pada buku menu di hadapannya. Sesekali dia melirik Yoona, yang juga sedang menekuri menu. Asalkan bisa bersama Yoona dan melihatnya dalam kondisi baik, Donghae pasrah Siwon memesankan makanan apa pun untuknya. Tak makan juga tak apa.
“Donghae? Yoona?”
“Aku sushi, Siwon oppa,” jawab Yoona.
“Aku Sushi, juga Oppa” sambar Yuri.
“Pst… nanti kita ketahuan.” Yoona meletakkan telunjuk di bibirnya. Matanya terbuka lebar. Donghae menelan ludah melihat ekspresi itu. Yoona sangat menggemaskan.
“Donghae-ah, jadinya kau pesan apa?”
“Eh, ngg… aku… samakan saja dengannya.” Donghae menunjuk Yoona.
“Yeobo, bolehkah aku pesan sake?”
“Tentu saja. Tapi jangan terlalu banyak meminumnya.”
Siwon menuliskan pesanan mereka pada selembar kertas, kemudian memberikannya pada pelayan. Yuri yang merekomendasikan makan di situ. Sebab, saat Yoona sakit, Yuri pernah berjanji akan mengajak Yoona makan sushi jika sudah sembuh.
Restoran Jepang ini bukanlah berada di pusat kota. Ukurannya juga tidak besar. Namun, benar-benar menjanjikan suasana yang nyaman dan hidangan lezat. Mereka berempat sengaja mengambil tempat agak di sudut agar tak terlalu mencolok. Gemericik air terjun kecil menambah nyaman suasana malam itu.
“Jadi, masalah kalian apa?” tanya Siwon.
“Ya! Kau banyak gaya, Siwon hyung. Masalahku ini tak seringan yang hyung bayangkan,” kata Donghae.
“Jangan meremehkanku, Lee Donghae. Kau tahu, mendapatkannya adalah hal tersulit dalam hidupku.” Siwon mengeratkan rangkulannya pada Yuri. “Karena itu, aku tak akan melepaskannya.”
Yoona terkekeh mendengar penuturan Siwon. Dia sangat tahu perjuangan Siwon mendapatkan Yuri. Yoona juga yang membuat Yuri sadar kalau dia juga mencintai Siwon. Kisah dua anak manusia yang sangat indah bagi Yoona. Sayang, kisahnya tak seindah itu. Bahkan, saat masih bersama Donghae, tak banyak moment indah yang mereka ciptakan, karena ingin menyembunyikan hubungan mereka.
“Jadi, Mr. Lee dan Miss Im, apa masalah kalian? Hm… Kalian masih saling mencintai. Bukan begitu?” tanya Siwon pada Yoona dan Donghae.
“Ne,” jawab Donghae, pelan.
“Aniyo…. Aku tidak lagi mencintai Donghae oppa,” tukas Yoona, sambil menyembunyikan tatapannya dari Donghae, Yuri, dan Siwon.
“Kau yakin, Yoong? Coba tanyakan lagi pada hatimu.” Tanya Yuri tidak yakin.
“Ne. Aku yakin, Yuri-eonni. Kau kan tahu, aku sekarang milik Heechul oppa.”
Dua orang pelayan datang, mengantarkan pesanan mereka. Yoona menghembuskan napas lega, sambil berharap interogasi tadi tak berlanjut. Yoona ingin berkata kalau dia masih sangat mencintai Donghae, dan ingin meneruskan cerita cinta mereka yang sempat kandas. Namun, dia tak punya keberanian. Bahkan untuk sekadar berharap.
Please baby, baby, baby.
Yuri dan Yoona sama-sama mengaduk tas mereka, mencari sumber ringtone tadi. Bukan pertama kalinya mereka seperti ini. Ringtone handphone mereka sama, dan tidak ada yang mau mengalah, mengganti dengan lagu lain.
“Baby… iPhone-mu di sini.” Siwon menunjuk sebatang iPhone dengan casing Mickey Mouse di atas meja. Senyumnya mengembang melihat wajah panik Yuri.
“Kekeke… mianhae, Chagiya.”
Lagu Baby Baby masih mengalun dari Samsung Galaxy SIII di tangan Yoona. Yoona sengaja menutup layarnya dengan telapak tangan, agar tak ada yang bisa membaca nama penelepon. Dia ragu untuk menjawab panggilan itu.
“Berikan padaku.” Yuri mengambil handphone di tangan Yoona, lalu menggeser gambar telepon berwarna hijau ke kanan.
“Yeoboseo. Ani. Aku Yuri.”
“Yuri? Ke mana Yoona?”
“Dia sedang mandi. Ada apa, Oppa?”
“Kalian di mana?”
“Tentu saja di dorm. Waeyo?”
“Aniyo. Sampaikan saja salamku untuknya.” Panggilan diputus dari seberang.
Tiga pasang mata menatap Yuri tanpa suara. Semua dengan pikiran masing-masing. Terlebih, setelah Yuri menyebut nama Heechul sebagai penelepon barusan. Yuri hanya tebar senyum, lalu mengembalikan handphone Yoona.
Anaeku cerdas! Tapi, awas saja kalau berani membohongiku seperti itu.
Ada apa sebenarnya? Donghae mengusap dagunya. Kenapa Yuri harus berbohong? Kenapa Yoona ragu menjawab telepon dari Heechul Hyung? Apa yang mereka sembunyikan? Tanya Donghae dalam pikirannya.
Yuri Eonni, apa kau sudah tahu?tanya Yoona dalam hati.
“Mianhae aku membohonginya, Yoong.” Ucap Yuri merasa bersalah pada Yoona.
“Ah, gwenchana. Aku lupa hari ini punya janji dengannya. Pasti dia menungguku.” Kata Yoona berusaha mencairkan suasana.
“Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu menemuinya,” tawar Siwon.
Yoona menggeleng kuat-kuat. “Aku ingin di sini saja.”
Siwon hanya tersenyum. Wajar,kalau Yoona lebih memilih di situ dari pada bersama Heechul. Yuri sudah menceritakan semua kecurigaannya. Termasuk goresan 0424 di telapak tangan kanan Yoona, yang ditemukan Yuri pagi hari setelah malamnya Yoona bertemu Heechul. Hanya saja, Siwon masih tak mengerti alasan di balik semua itu.

*****

“Yeay! Namja pabo! Uh uh uh… I hate you!”
Yoona terus saja menceracau, sejak tadi sepulang makan-makan. Sake pesanan Yuri untuk mereka berempat dihabiskan sendiri olehnya. Otaknya tak sanggup menahan efek minuman keras itu. Donghae sampai harus menggendongnya ke mobil, karena tubuh Yoona tak bisa tegak.
“Siapa yang dia maksud, Yul?” tanya Donghae.
“Oppa.” Jawab Yuri singkat.
“Aku? Kenapa aku?” tanya Donghae heran.
“Dengarkan saja, Lee Donghae.” Jawab Siwon tipis.
“Siwon Oppa…. Berhenti. Berhenti di sini. Stop!” suruh Yoona, saat mobil Siwon melintas di depan taman kota.
Siwon menghentikan laju mobilnya, kemudian mencari tempat yang nyaman untuk parkir sementara. Mobilnya berada di depan sebuah sedan hitam yang juga parkir di pinggir jalan. Yoona menoleh ke arah sedan itu.
“Hahaha… Lihat! Lihat, Yuri Eonni! Itu Sica eonnie! Namja di sebelahnya… tentu saja Heechul oppa.” Rancau Yoona dalam mabuknya.
Donghae, Yuri, dan Siwon menoleh ke mobil di belakang mereka. Lampu mobil itu padam. Namun, mereka masih bisa melihat jelas sepasang namja dan yeoja di kursi depan yang sedang…. Yuri lekas meminta Siwon untuk pergi dari tempat itu.
“Yoong, dari mana kau tahu Heechul hyung di situ? Donghae dan aku saja tak tahu itu mobil Heechul hyung,” tanya Siwon, penasaran. Matanya tetap memandang lekat jalan yang mulai lengang.
“Aku sudah sering masuk mobil itu, Siwon Oppa. Bahkan baunya pun aku hapal. Hahaha….” Jawab Yoona masih dalam keadaan mabuk.
“Apa kau juga melakukan hal seperti tadi?” tanya Donghae, hati-hati.
“Hahaha… dia tidak mencintaiku! Hanya terobsesi. Ya! Ter-ob-se-si. Kalian tak tahu kan?” jawab Yoona lagi.
“Maksudmu?” tanya Yuri.
“Tak seperti Eonni dan Siwon Oppa. Heechul oppa hanya ingin memilikiku, tapi tidak mencintaiku. Ter-ob-se-si. Huft! Jangan percaya dengan wajahnya yang sok baik di depan kalian. Dia namja penjahat!”
“Apa yang sudah dia lakukan padamu?” tanya Donghae.
“Aniyo. Hahaha…. Jaga dirimu baik-baik, Donghae Oppa.”
“Waeyo? Bagaimana denganmu?” tanya Donghae lagi.
“Jangan pikirkan aku. Jaga saja dirimu.” Jawab Yoona singkat.
“Apa maksudmu?”
Yoona tak menjawab. Kepalanya bersandar di kaca mobil. Bibirnya bersenandung pelan, meski tak jelas lagu yang dia nyanyikan. Siwon dan Yuri saling tatap, berbagi kecurigaan yang sama. Hanya Donghae yang tidak mengerti.
“Ada apa?” tanya Donghae.
“Sepertinya kau harus menggendongnya sampai dorm, Hae-ah. Kekeke….”

*****

Donghae tak bisa memejamkan matanya malam ini. Wajah Yoona masih terus bermain di alam pikirannya. Kotak kenangan yang dia simpan dengan sangat baik, terbuka lebar. Mimpi-mimpinya bersama Yoona bertebaran. Melihat Heechul bersama Jessica tadi, Donghae merasa peluangnya untuk bersama Yoona semakin terbuka.
Yoong, sebentar lagi mimpi kita bisa terwujud! Kita bisa bersama-sama. Aku yakin, kau masih mencintaiku.
Brak!
Pintu kamarnya dibuka dengan kasar. Heechul menarik kerah baju Donghae dan mengangkatnya dari kasur. Wajahnya menyiratkan peperangan. Donghae tak sempat menghindar saat sebuah pukulan menghantam pipinya.
“Berapa kali kukatakan?! Jauhi Yoona!”
Donghae mengusap ujung bibirnya yang berdarah, lalu mendekati Heechul. “Lepaskan saja dia.”
“Huh! Tak akan pernah terjadi. Bermimpilah!”
“Kau menduakannya dengan Sica. Dia juga berhak menduakanmu.”
Bugh!
Pukulan keras itu kembali mendarat di pipi Donghae. Heechul menatapnya dengan pandangan penuh bara api. Dia sangat meyakini, Donghae-lah orang yang bersama Yoona sepulang latihan.
Tanpa basa-basi, Donghae membalas pukulan Heechul. Hatinya panas setelah Heechul memukulnya dua kali. Juga atas perlakuan Heechul pada Yoona. Donghae sungguh tidak terima siapa pun menyakiti Yoona.
Duel yang panas. Donghae dan Heechul sama-sama saling menyerang. Keduanya tersulut emosi. Beberapa kali mereka tersungkur. Namun, kembali berdiri tegak dengan emosi yang makin berkobar. Kamar Donghae sudah tak berbentuk, berantakan seperti kapal pecah.
“Apa-apaan ini?!” Leeteuk menarik Heechul, secepatnya. “Kyu, bantu aku pegang kakinya!”
Kyuhyun segera bertindak. Bukan hanya memegangi kaki Heechul, tapi juga mengikatnya dengan tali plastik yang dia ambil dari dapur. Kyuhyun lalu membawa Heechul ke pilar yang memisahkan dapur dengan ruang makan, kemudian mengikat Heechul di sana.
“Kyuhyun-ah! Lepaskan aku! Apa-apaan kalian ini?!”
Kyuhyun tak menjawab. Dia malah membantu Sungmin dan Yesung mengikat Donghae di pilar yang sama, namun dari arah sebaliknya. Donghae mengamuk. Emosinya pada Heechul sudah sampai batas tertinggi.
“Kura-kuraku tak bisa tidur karena kalian. Sekarang mereka trauma!” ucap Yesung.
“Bagus teman-teman kita yang lain sudah tidur,” sungut Sungmin.
Leeteuk berjalan memutari Heechul dan Donghae. “Im Yoona. Pasti itu masalahnya.”
“Jangan sok tahu!”
“Aku mendengar kau menyebut namanya, Chuli. Huh! Hanya karena yeoja kalian bertengkar. Kalian persis seperti anak kecil yang belum punya otak.” Leeteuk berhenti, persis di antara Heechul dan Donghae. “Tidurlah di situ, dan jangan berisik. Annyeong jumuseyo.”
Leeteuk, Kyuhyun, Yesung, dan Sungmin masuk ke kamar masing-masing. Kyuhyun sempat meleletkan lidah pada hyungnya. Namun, Donghae dan Heechul tak dapat membalas. Mereka hanya bisa memaki, sambil berusaha melepaskan diri.
Im Yoona, aku janji akan mengembalikan kisah cinta kita, bagaimana pun caranya. Jeongmal saranghae. Yeongwonhi saranghae, ucap Donghae dalam hati.

*****
“Eonni” Yoona melompat ke kasur Yuri, sambil membawa boneka Rilakkumanya. “Perasaanku tak enak.”
“Waeyo? Pasti karena tadi kau mabuk.”
Yoona menggeleng pelan. “Entahlah, Eonni. Perasaanku sungguh tak enak. Aku… aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.”
“Yoong.” Yuri memeluk Yoona, erat. “Tidurlah di sini. Aku akan memelukmu hingga kau terbangun esok pagi.”
“Yuri-eonni….” Airmata Yoona mengalir deras. Punggungnya berguncang. Banyak yang ingin dia ceritakan pada Yuri, namun kata-katanya seolah hilang. Hanya dengan cara seperti itu Yoona bisa meluapkan beban hatinya.
“Deer, jangan takut. Aku akan selalu bersamamu.”
Yoona makin terisak dalam pelukan Yuri.

*****

“Seoul, put it back on!” Tiffany mengedipkan sebelah matanya.
“Ya! Kau terlalu centil, Miyoungie,” tegur Taeyeon. “Caramu berucap itu.”
“Kekeke… aku ingin menampilkan yang berbeda, Taetae. Kita sudah sangat sering tampil di Seoul.”
“Tak sekalian saja kau mengucapkannya sambil melompat ke penonton?” Taeyeon mencebikkan bibirnya.
“Nanti, kalau kita sudah menjadi girlband metal, aku akan melakukannya,” sahut Tiffany, lalu mengikuti teman-temannya yang lain bersandar di tembok practice room.
“Aku lapaaar! Apakah snack kita sudah disiapkan?” teriak Sooyoung.
“Ah ya, aku piket hari ini, kan? Tunggulah, Eonnie, aku akan ke pantry, mengambil jatah snack kita.” Yoona bangun, lalu beranjak ke luar.
“Aku temani, Deer.”
“Tak usah, Eonni. Istirahat saja.” Yoona menghilang di balik pintu.
“Hai, Youngie! Kapan kau tak lapar? Kau ini cacingan, ya?” Ledek Sunny pada Sooyoung.
“Masih lebih baik daripada kau. Cebol!” Ledek Sooyoung yang tidak mau kalah.
“Biar cebol tapi aku tak cacingan.” Jawab Sunny dengan emosi.
“Ya. Tapi kau cebol. Aku harus mengangkatmu agar terlihat oleh penonton.” Pekik Sooyoung lebih emosi lagi.
“Kalian berisik! Diamlah! Aku mau tidur!” pekik Jessica dan mereka berdua berhendi dalam berdebat.
Yuri mendekati Jessica, yang sudah merebahkan diri di lantai. “Dari mana kau semalam?”
“Tidak ke mana-mana.” Jawab Jessica singkat.
“Bukannya….” Yuri memelankan suaranya. “Di mobil Heechul oppa?”
“Ya! Apa yang kau katakan?!” Jessica bangun, lalu duduk, sambil menatap Yuri, tajam.
“Akui saja, Sica.” Tanya Yuri tajam.
“Kalau ya, kau mau apa?” kata Jessica dengan dingin dan tajam.
“Mau menyebutmu sebagai seorang yeoja perebut kekasih temannya.” Ucap Yuri ketus.
“Huh, asal kau tahu Yul, Heechul oppa tidak mencintai Yoona!” jawab Jessica dengan nada mengejek.
“Haha… lalu untuk apa Heechul oppa mengejarnya?” tanya Yuri lagi.
“Balas dendam, tentu saja.” jawab Jessica singkat.
“Maksudmu?”
“Yah… aku akui, dulu Heechul oppa memang mencintai Yoona. Tapi, cintanya tak berbalas. Aku tahu Yoona pacaran dengan Donghae oppa. Heechul oppa juga tahu. Ah, dasar Yoona pabo! Apa dia tak sadar kalau selama ini Heechul oppa hanya membalas sakit hatinya?” jawab Jessica.
“Apa yang sedang kalian bahas?” tanya Hyoyeon. “Kalian sangat serius, seolah besok perang dunia dimulai.”
“Argh! Yoonaaa!!! Kau ke pantry atau ke Amerika?! Kenapa lama sekali?! Aku lapaaar!!!” pekik Sooyoung yang membuat Yuri tersadar akan sesuatu.
“Eh? Deer?”
Tiba-tiba Yuri gemetar. Pantry dan practice room mereka hanya terpisah oleh practice room Suju. Tak butuh waktu bermenit-menit untuk mengambil makanan di sana. Sebab, masing-masing grup sudah punya tempat makanan sendiri. Bulu kuduk Yuri meremang. Teringat lagi ucapan Yoona semalam.
Aku… Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Yuri-ya, ada apa? Wajahmu tiba-tiba pucat,” tegur Taeyeon.
“Yoona!” Yuri bergegas ke pantry, berharap Yoona baik-baik saja. Sooyoung yang kelaparan dan Taeyeon yang penasaran mengikuti di belakang Yuri.
“KYAAA!!!” jerit Taeyeon, Yuri, dan Sooyoung bersamaan, saat pintu pantry terbuka.
Taeyeon menutup wajahnya dengan tangan. Sooyoung mendesis ngeri. Tak jauh dari pintu pantry, seorang namja tertelungkup dengan luka tusukan di punggungnya. Napasnya tersengal. Yuri mengumpulkan keberaniannya, mendekati namja berkaos abu-abu.
“DONGHAE OPPA! Ada apa? Siapa yang melakukan ini semua?” pekik Yuri.
“MWOO?!” Sooyoung membelalakkan matanya.
“Yoona!”

-TBC-

Kyyyaaaa…… TBC dulu ne… mianhae kalau ceritanya agak beribet…. Hehhehhehehee,… mau tahu apa yang terjadi. Siapa orang yang menusuk Donghae dengan Pisau? Dan kemana Yoona pergi? Apa Sebenarnya yang terjadi antara Yoona, Jessica, dan Heechul?
Please Coment … n Happy Readingg……

Jgn Lupa kunjungi blog aku yaa… https://koreanfanbasefanfiction.wordpress.com/

Advertisements

15 thoughts on “Forever In Love (Chapter 2)

  1. Udahhh lama bangett nunggu nihh FF kluar di SOY,, ehhh malah udah end malah di blog ini… Hehehe,, 😀 ketinggalan informasi nihh..

    Heechul oppa kok jahat banget sih,, klo nggak cinta ama yoong yahh lepasin aja napaa.. Hae oppa kenpaa??? Yoongg?? Heechul kok gitu banget ama Hae…

    Fightinggg eonnii. 🙂

    Liked by 1 person

    • hehehehhhe…. aq udh gk bkal update dsna…. cz aq udh bkn author dsna…. mungkiin klo mau updatein ff karya2 aq bisa lwt fb aq… biasanya aq update juga ke fb… fb nya riantiwivera(verariantiwi)…… nnti aq bsa kasihntau ff yoonhae lainnya… ehheheheh… atau via blog yg ada dibawah… itu bisa jga lho… hahhhaha…

      ff ini juga udh ada sequelnya…

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s