(not) ENVY (anymore)

not envy anymore

dyzhetta

Kibum, Taeyeon and Sulli | Ficlet | Fluff | PG-15

inspired by this

Tepukan di bahu membuatku tersadar dengan lamunanku. Aku segera menoleh kepada orang yang menepukku.

“Kau sedang memikirkan apa?” Tanya Sulli sunbae.

“Ah tidak.” Aku tertawa canggung dan langsung menyadari tatapan heran lelaki berkacamata di depanku.

“Aku sudah memanggilmu dari tadi, Taeyeon.” Kibum sunbae melipat tangannya.

“Ah, maaf.” Aku mengusap tengkukku malu.

“Apa dia sering begitu, Kibum?”

Kibum sunbae hanya tertawa kecil kemudian menepuk kepalaku. “Anak ini kalau sedang fokus dengan sesuatu maka perhatiannya tidak akan teralih.”

Aku hanya tersenyum tipis mendengar perkataannya yang entah merendahkanku atau bukan.

“Fokuslah pada permainan pianoku, Taeyeon.” Gumam Kibum sunbae.

Jari-jari Kibum sunbae pun menari lincah lagi di atas tuts-tuts piano menghasilkan nada-nada indah yang membuat orang lain terkagum-kagum. Termasuk aku tentunya. Tapi tetap saja tidak bisa mengalihkan perhatianku dari gadis yang sedari tadi membuatku terkagum-kagum. Sulli sunbae.

Matanya yang besar seperti permen. Eye candy, orang sering menyebutnya begitu. Wajahnya yang bercahaya ketika tersenyum apalagi ketika tertawa. Bibir merahnya yang terlihat sangat segar. Rambut kecoklatannya yang bergelombang dibiarkan tergerai jatuh lemas melewati bahunya. Poni lurusnya yang tertata rapi. Juga tulang pipinya yang tinggi, tanpa tertawa pun sudah terlihat. Benar-benar mengagumkan. Cara bicaranya, segala ucapan yang dia keluarkan, sangat terlihat dewasa dan terpelajar. Aku benar-benar tidak ada apa-apanya di hadapannya.

Mataku tak sengaja menangkap bayangan gadis berkepang dua dengan poni lurus yang berantakan, kacamata melorot dan juga terlihat menyedihkan pada sisi piano yang hitam mengkilat. Bila dibandingkan Sulli sunbae bayangan itu -aku- sangat tidak sebanding.

Apalagi saat Kibum sunbae berbicara dengannya, wajah tampan Kibum sunbae terlihat sangat bahagia. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Apa, apa yang mereka bicarakan? Sepertinya aku terlihat hanya sebagai pengganggu disini.

“Lee Taeyeon, apa lagi yang kau lamunkan?”

Aku segera tergagap ketika tangan besar Kibum sunbae menepuk kepalaku. “Ah, tidak. Kau sudah selesai memainkan piano?” aku segera mengalihkan pembicaraan agar tidak terlihat seperti orang bodoh di hadapan mereka berdua.

“Sudah. Bagaimana permainanku tadi?” tanya sunbae berambut pirang itu cepat.

“Bagus, sangat bagus. Kau memang ahlinya.” Aku mengacungkan dua jempol pada Kibum sunbae.

“Anak pintar.” Lagi, dia menepuk-nepuk kepalaku. Aku hanya bisa memamerkan cengiran kecil.

“Terima kasih Kibum. Besok mainkan piano untukku lagi ya. Aku masih ingin belajar.” Sulli sunbae membereskan buku-bukunya.

“Sama-sama.”

Wajah Kibum sunbae terlihat sangat cerah ketika berbicara dengan Sulli sunbae. Padahal dia hanya mengucapkan terima kasih. Kenapa bisa Kibum sunbae berwajah secerah itu?

“Aku duluan, Kibum, Taeyeon.”

“Ya.” Jawabku dan Kibum sunbae bersamaan.

Bye.” Sulli sunbae melambaikan tangan kemudian berbalik pergi. Tatapan kagumku masih mengikutinya sampai dia hilang di balik pintu.

Dengan tangan terlipat dan deathglare, Kibum sunbae menatapku ketika aku menoleh kepadanya, membuatku menegak ludah dan meremas kemejaku kalut.

“A… ada apa, sunbae?” Kataku takut.

Oppa. Harus kubilang berapa kali agar kau memanggilku ‘oppa‘?”

“Ba… baik, oppa.”

“Aku tahu tadi kau tidak mendengarkan permainan pianoku, ya kan?” dia menatapku tajam.

Aku mengangguk pelan.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan, hm?” sambil menutup piano dia menghela nafas panjang.

“Aku kagum dengan Sulli sunbae.” Kataku jujur.

Alis matanya tentu saja bertaut. Mata di balik bingkai kacamata cyan itu menatapku heran. “Bukan kepadaku?” dia terkekeh.

Aku mendengus sebal. “Tentu saja bukan. Kau selalu mengagumkan. Aku sudah bosan mengagumimu.” Kubereskan buku-bukuku yang berserakan di meja.

Kibum sunbae terkekeh kemudian mengacak poniku asal. “Lalu kenapa kau bisa mengagumi Sulli?”

“Dia sangat cantik dan terlihat dewasa. Dia mempunyai eye candy dan senyum yang bersinar.” Aku menghela nafas. “Aku…”

“Minder?” Tanya Kibum sunbae.

Aku mengangguk pelan. “Cemburu lebih tepatnya.” Gumamku pelan.

“Apa?”

Aku menggeleng cepat. “Entahlah. Mungkin aku iri.” Tanganku kembali memasukkan bukuku ke dalam tas.

“Hei.”

Aku menoleh ke arah Kibum sunbae. Baru kusadari bahwa jarakku dan dia sangat dekat. Nafasku tertahan sebentar ketika tangannya terjulur merapikan poniku yang tadi diacaknya. “Having eye candy and brigth smile doesn’t mean true beauty.” Dia tersenyum. “The true beauty comes from the deep heart. Just be yourself and you will have true beauty.”

Aku hanya memutar bola mata dan mendengus pelan. “Pasti kau mengucapkan kata-kata itu kepada semua wanita.” Cibirku.

Dia terkekeh. “No.”

Aku menegak ludah. “Apa?”

“Tidak semua wanita.”

“Ma… maksudmu?”

“Aku hanya mengatakan ini padamu.” Dia mengangkat bahu dan berbalik sambil memakai tasnya.

“Ke… kenapa?”

It’s because I love you.” Katanya setelah menghilang di balik pintu.

Aku membeku sesaat mendengar perkataannya. Rasanya aku benar-benar tidak bisa menggerakkan semua anggota badanku. Tadi itu apa?

Wajahnya kembali muncul dari balik pintu. “Hei, mau pulang tidak? Ayo pulang!”

Aku hanya mengangguk-angguk kemudian mengikutinya dari belakang.

“Kibum sun- oppa.”

“Ya?”

“Aku tidak mengerti.” Kataku sambil menunduk.

Tanpa kusadari dia menghentikan langkahnya sehingga membuatku terpaksa menabraknya.

“Tidak mengerti?”

“Eh?” Aku mendongak menatap punggung sunbae yang lebih tinggi sepuluh senti dariku.

Dengan gerakan cepat dia berbalik dan menarik daguku. Dapat kurasakan lembab bibirnya ketika menempel di bibirku. Aku menahan nafas sedemikian rupa.

Setelah beberapa saat dia melepaskan ciumannya. Kali ini aku benar-benar lemas dan hampir saja jatuh kalau saja Kibum sunbae tidak menahanku.

“Sekarang mengerti?” tanyanya dengan senyum mengembang.

Aku hanya mengangguk pelan dan menatapnya tak berkedip. Masih berusaha menetralkan gemuruh di dadaku.

“Nah, ayo pulang.” Dia merangkulku erat.

Kurasakan pipiku memanas. Namun mau tidak mau senyumku mengembang. Kalau sudah seperti ini rasanya aku tidak akan pernah lagi iri dengan Sulli sunbae.

 

FIN

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s