Forever In Love (Chapter I)

Forever In Love (Chapter I)

Forever In Love

Author : Vera Riantiwi
Tittle : Forever In Love
Length : Three shoot
Cast : – Im Yoona Girls Generation
– Lee Donghae Super Junior
– Kim Heechul
Other Cast : All Member Super Junior & All Member SNSD
Genree : Romance, Sad, Tragedy

Author Note : Annyeong !! Chingu…. Im Come back….. adakah yang merindukan aku!!!! Kekekeke….. aku hadir dengan cerita baru… selamat membaca…. Semoga kalian suka…

Author No Comment deh,,,,, ^^
Happy Reading dan yang terpenting ‘Maafkan atas banyaknya Typo’

Disclaimer : ini hanya sebatas ff. Jadi mereka yg disini hanya pinjam. Terinspirasi oleh pemikiran sendiri, so DON’T COPAS!!!

ALLOWED!!
Yoona POV :

“Gee… Gee… Gee…”
“Yoboseo.” Yoona menjawab panggilan di handphonenya.
“Aku baik-baik, Oppa. Aniyo. Mianhae, aku tak bisa menemui Oppa. Aku ada pekerjaan.”
Yuri hanya tersenyum mendengar pembicaraan Yoona dan orang di seberang telepon, sambil meletakkan kompres di kening Yoona. Yoona demam tinggi sejak siang tadi. Sepulang pemotretan, Yoona ambruk di kasur. Wajahnya pucat. Dari hidungnya mengalir darah segar yang langsung membercak di bantal. Yuri panik. Tapi, usahanya membawa Yoona ke rumah sakit gagal total. Yoona menolak dan memilih beristirahat di dorm. Sejak itu, Yuri tidak jauh-jauh dari Yoona.
“Pasti Chuli oppa,” tebak Yuri, setelah Yoona menyelesaikan obrolannya di telepon.
“Nae.” Jawab Yoona tidak semangat.
“Waeyo? Kau sepertinya tak bersemangat.”
“Aku inginnya Hae Oppa yang telepon.” Gumam Yoona pelan.
Yuri mengacak rambut Yoona. Teringat dulu, setiap kali Yoona sakit, Donghae selalu menelepon dan mengajak Yoona bercanda. Hanya perlu beberapa jam setelah itu, Yoona pulih pasti akan segera pulih. Seolah ada ikatan hati yang sangat kuat antara mereka. Yuri juga heran kenapa hubungan mereka bisa berakhir dan Yoona bisa dengan Heechul Oppa.
“Kamu mau Eonni menelepon Donghae Oppa?” tawar Yuri.
Yoona menggeleng. “Aku bukan siapa-siapa lagi buat dia, Eonni.”
Yuri tersenyum lagi, lalu menggenggam tangan Yoona. “Tidurlah. Biar kamu cepat sembuh ne.”
“Eonni juga tidur ya.”
“Nae.”
Yuri mengangkat handuk kecil yang sudah kering dari kening Yoona, kemudian menggantinya dengan yang masih lembab. Setelah merapatkan selimut Yoona, Yuri kembali ke kasurnya. Masih pukul delapan malam. Masih terdengar suara heboh teman-temannya di living room. Yuri akan berlatih yoga dulu sebentar, namun dia sudah berniat akan menjaga Yoona semalaman. Dia tidak tega melihat keadaan Yoona yang seperti ini. Wajah yang biasanya ceria berubah menjadi pucat pasih dan tidak ada keinginan hidup lagi.
“Eonni,” panggil Yoona.
“Nae… Waeyo, Yoong? Kau haus?” jawab Yuri.
“Anniyo Eonni. Eonni tidur di sini saja ne.” Yoona menepuk bagian kasur yang kosong di sebelahnya.
Tatapan Yoona yang begitu memelas membuat Yuri langsung mengangguk. Dia yakin, Yoona tak akan mungkin bergerak ekstrim dengan kondisinya yang seperti itu. Berada di dekat Yoona membuat Yuri bisa memantau suhu tubuh Yoona yang sedari tadi belum juga turun. Setelah mematikan lampu, Yuri masuk ke dalam selimut Yoona.
“Eonni” panggil Yoona, lirih. Kepalanya disembunyikan di dekat leher Yuri.
“Waeyo, Yoong. Istirahatlah semoga besok kamu sudah sehat kembali.” Ucap Yuri pelan sambil mengusap puncak kepala Yoona.
“A… aku… aku… takut…. Eonni” Ucap Yoona lirih.
“Mau Eonni nyalakan lagi lampunya, ya?”
Yoona menggeleng pelan. “Bukan itu Eonni…. A… aku takut….”
“Tenanglah Yoong. Eonni ada disamping kamu ne. Eonni tidak akan meninggalkan kamu. Jadi kamu jangan takut lagi, nde. Kamu juga akan segera pulih. Sekarang, tidurlah.”
Yoona memeluk Yuri erat, sehingga Yuri bisa merasakan suhu tubuh Yoona yang masih sangat tinggi. Yuri membalas pelukan Yoona, lalu mengusap rambutnya. Dia sangat khawatir melihat Yoona seperti itu.
Jadwalnya dan Yoona saat ini tidak terlalu padat. Hanya ada beberapa pemotretan dan wawancara. Yoona juga selalu olahraga bersamanya dan rajin minum vitamin. Saat syuting drama beberapa waktu lalu, Yoona tetap segar bugar meski kelelahan.
Yoong, apa yang mengganggu pikiranmu? Donghae? Heechul?
“Yuri Eonni… Tolong aku… Aku takut….” Gumam Yoona lagi
“Iya, Yoong. Eonni di sini.”
“Aku takut….”
Dia merasa heran kenapa Yoona selalu mengucap kata takut , dan akhirnya Yuri menyalakan lampu kamarnya. Mata Yoona masih terpejam. Namun, mulutnya masih saja berucap ketakutan. Yuri mengerutkan kening, mencoba menghubungkan antara igauan Yoona dan keanehannya akhir-akhir ini.
Ya, Yoona jadi aneh. Paling tidak, menurut Yuri. Yoona tidak mau lagi diajak jalan-jalan sepulang pemotretan atau wawancara. Sekadar duduk di taman pun dia enggan. Yoona juga seperti kehilangan keceriaannya jika berada di luar. Baru saat di dorm Yoona kembali menjadi dirinya yang Yuri kenal.
“Yuri Eonni… T… tolong… aku… Takut.”
“Yoong, Waeyo? Irrona. Ceritakan pada Eonni. Jangan begini, Yoong…. Eonni khawatir.” Ucap Yuri cemas.
“Yuri Eonni….”
Yuri mengangkat Yoona, lalu memeluknya. Sungguh, dia tak tega melihat Yoona seperti itu. Seolah ada yang mengganggu dan mengancamnya. Yoona tidak bicara lagi. Yuri mengusap lembut rambutnya. Tiba-tiba, dia merasakan pundaknya basah oleh cairan yang hangat. Darah.
“Yoong, Yoona, Irrona! Irrona, Yoong. Ppali… Bangunlah.” Ucap Yuri sambil mengguncang-guncang tubuh Yoona. Namun mata Yoona tetap terpejam. Tak ada reaksi sama sekali dari Yoona. Hanya hidungnya saja yang masih terus mengeluarkan darah. Kekhawatiran Yuri sudah sampai puncaknya.
“Yoong… Ayo bangun…. Ini tidak lucu. Jebbal irrona Yoong…” Ucap Yuri cemas dan tetap tak ada reaksi.
“TAEYEON EEOOONNNIII…Palliwa…!!!” pekik Yuri dari dalam kamar.
Mendengar teriakan Yuri Taeyeon dan member lain segera berlari kemar Yoona dan Yuri.
“Waeyo, Yul?” tanya Hyeoyeon.
“Yoona….”
“Ada apa dengan Yoona? kenapa hidungnya mengeluarkan darah?” tanya Tiffany.
“Molla Eonni. Palli kita bawa Yoona kerumah sakit sekarang. Aku takut terjadi apa-apa pada Yoona.” ucap Yuri cemas melihat keadaan Yoona yang seperti ini. Akhirnya Taeyeon menghubungi manager mereka untuk mengabarkan keadaan Yoona. sedangkan Sunny berusaha menghubungi ampulans untuk menjemput mereka semua. Akhirnya ambulans yang mereka tunggu datang dan dengan cepat membawa Yoona ke Rumah sakit Seoul untuk di rawat.
*****
@ Dirumah Sakit
Ruang tunggu rumah sakit masih ramai. Yuri tepekur, duduk diam sambil menunduk. Sesekali dia menyeka air matanya. Taeyeon, yang duduk di sebelah Yuri, juga diam. Seohyun masih sesengukan dalam pelukan Hyoyeon. Dia sangat shock saat tadi paramedis berlarian sambil berteriak saat menangani Yoona. Tiffany meremas tangannya, gelisah. Sooyoung terus bolak- balik di ruangan itu, hingga Sunny harus memeganginya. Semua menunggu hasil pemeriksaan dengan cemas. Mereka benar-benar khawatir dengan keadaan Yoona sekarang, karena yang mereka tahu Yoona selalu menjaga pola hidup dan makannya. Dia juga selalu meminum vitamin untuk daya tahan tubuh, jadi bila melihat Yoona yang drop seperti ini menjadi sangat khawatir.
“Gee…Gee…Gee…“
Yuri menatap iPhone-nya yang bernada dering sama dengan handphone Yoona. Untuk beberapa saat dia tertegun membaca nama pemanggil di layar. Donghae. Seseorang yang sangat Yoona nantikan, yang hampir setahun ini menghilang dari kehidupan pribadinya dan Yoona. Mereka hanya bertemu saat SMTown. Yuri menggeser tombol hijau di layar.
“Yo… yoboseo.”
“Hai Yul, maaf Oppa meneleponmu malam-malam begini.“
“Ah, tak apa, Oppa. Ada apa? Tumben Oppa menelepon malam-malam seperti ini.” Jawab Yuri dengan suara yang parau berusaha menutupi kesedihannya.
“Ng… Yul, perasaan Oppa tidak enak. Apa ada yang terjadi sama Yoona?“
“Ah, a… aniyo. Yoona baik-baik saja Oppa .”
“Katakan saja, Yul. Oppa sungguh cemas. Dan Oppa tahu kamu sedang berbohong Yul?“
“Ng… Yoo… Yoona sakit, Oppa. Aku dan member lain masih di rumah sakit.”
“Baiklah, Oppa akan ke sana.“
Percakapan diputus oleh Donghae. Yuri kembali dibuat terbengong-bengong. Dia bahkan belum memberi tahu nama rumah sakit tempat Yoona berada. Tapi, Yuri sangat yakin Donghae bisa menemukan Yoona. Tidak lama dari itu akhirnya dokter yang menangani Yoona pun akhirnya keluar dari ruang ICU.
“Keluarga pasien Im Yoona?” Seorang dokter menghampiri mereka.
“Ne. Saya dokter. Bagaimana keadaan dongsaeng kami? Apa dia baik-baik saja dok, tidak parahkan sakitnya?” Taeyeon dengan sigap berdiri dan bertanya tentang keadaan Yoona.
Dokter setengah baya itu menatap Taeyeon, sebentar. “Ah, ya, ya. Kau pasti Taeyeon-ssi, leader So Nyuh Shi Dae. Bisa ikut ke ruanganku? Saya akan menjelaskan tentang keadaan Adik kalian diruangan saya. Mari keruangan saya sebentar saja?”
“Aku juga ikut!” Member-member lain bergegas bangun dari duduknya.
“Maaf, mungkin hanya dua orang saja.”
“Yul, temani aku,” ajak Taeyeon.
Yuri mengangguk. Dia merasa harus mendengar langsung keterangan dokter tentang keadaan seseorang yang selama ini sudah dia anggap sebagai kembaran. Apapun itu. Baik, atau buruk. Yuri berusaha menguatkan hatinya untuk mendengar semua penjelasan dokter.
Donghae POV :
“Yaakk Hyung, kau mau ke mana? Ini sudah malam?” tanya Kyuhyun, tanpa melepas tatapannya dari PS. Dia sempat melihat sekilas Donghae memakai jaket dan bersiap pergi.
“Ke rumah sakit,” jawab Donghae, singkat.
“Memangnya siapa yang sakit?” tanya Kyuhyun lagi.
“Kau tak perlu tahu.” Jawab Donghae singkat.
“Aiiisshh menyebalkan..” gerutu Kyuhyun.
“Hae-ah.” Yesung keluar dari kamarnya sambil membawa kotak Ddangkoma. “Bisa titip makanan Ddangko?”
“Aku tidak sempat, hyung.”
Donghae berlari keluar dorm. Dia sempat melihat Heechul yang asyik menonton televisi. Donghae tak bisa menyalahkan Heechul yang tenang-tenang saja, padahal Yoona sedang terbaring di rumah sakit. Dia cukup kenal Yoona. Yoona tak akan mengizinkan teman-temannya untuk memberi tahu siapa pun tentang keadaannya. Tapi, Donghae bukanlah Heechul yang butuh pemberitahuan. Dia seolah bisa merasakan apa yang Yoona rasakan saat itu.
Seharian tadi dia gelisah. Bahkan, saat latihan, dia kehilangan konsentrasinya. Semakin malam, gelisahnya makin menjadi-jadi, dan bertambah dengan kekhawatiran. Tanpa pikir panjang, dia langsung menelepon Yuri, orang yang selalu bersama Yoona. Dan kabar itu datang. Sampai di depan mobilnya, Donghae termangu.
Ah, paboya! Aku lupa menanyakan nama rumah sakitnya. Tapi, aku yakin bisa menemukan Yoona.
Akhirnya, Donghae mengandari mobilnya menuju rumah sakit Seoul. Dia berharap Yoona ada disana, kalaupun tidak ada dia rela mengunjungi seluruh rumah sakit untuk mencari Yoona dirawat dimana.
*****
@ Rumah Sakit
Yuri, Taeyeon, dan member lain duduk melingkar di lantai ruang tunggu. Mereka hanya bertujuh. karena Jessica tidak ikut, sebab tadi dia sudah tertidur. Orang-orang yang melihat mereka dan tahu siapa mereka, keheranan. Yuri dan Taeyeon dihujani tatapan penasaran dari Sooyoung, Seohyun, Sunny, Tiffany, dan Hyoyeon. Mereka ingin tahu keadaan Yoona.
“Taeng, jangan hanya diam begitu. Beritahu kami, bagaimana keadaan Yoona? apa yang terjadi?” pinta Tiffany.
“Kau juga, Yul! Bilang! Jangan diam saja!” Sooyoung menyikut Yuri, yang duduk di sebelahnya.
“Kata dokter, Yoona terkena psikosomatis,” ucap Taeyeon, pelan.
“Psikosomatis? Apa itu?” tanya Sunny.
Taeyeon mengedikkan pundaknya. “Entahlah. Aku juga tidak tahu.”
“Yul?”
“Aku juga tidak tahu,” jawab Yuri, pelan.
“Jadi, kalian tadi tidak minta penjelasan di dalam?” tanya Hyoyeon.
“Ani…. Kami panik, dan takut mendengar hal buruk.” Ucap Taeyeon pelan.
“Eonni, psikosomatis itu sakit karena permasalahan psikis. Mungkin Yoona-eonni sedang memikirkan sesuatu yang berat atau tertekan dengan sesuatu,” jelas Seohyun.
“Jadi, bisa dibilang, Yoona-eonni tidak memiliki penyakit apapun. Jika masalahnya selesai, maka penyakitnya juga akan hilang.” Jelas Seohyun.
“Darimana kamu tahu soal itu, Hyunie?” ucap Hyeyeon.
“Aku pernah membaca buku tentang penyakit itu Eonni.” Jawab Seohyun.
Tertekan dengan sesuatu? Yuri terdiam. Pasti. Pasti karena sesuatu yang membuatnya ketakutan. Tapi, apa? Apa yang membuat Yoona ketakutan seperti ini?
“Yul, kau tahu sesuatu?” tanya Sooyoung.
Yuri menggeleng. “Tadi, Yoona ketakutan. Tapi, aku tak tahu apa yang membuatnya takut. Yoona belum cerita apapun.”
“Bukankah, biasanya apapun yang terjadi Yoona selalu menceritakannya sama kamu, Yul?” tanya Sunny.
“Yoona, belum cerita apapun Eonni.” Ucap Yuri.
“Yuri-ya!” seseorang muncul di pintu ruang tunggu. Napasnya terengah-engah.
“Donghae-oppa?”
“Di mana Yoona?”
Di mana? Yuri memukul kepalanya. Dia lupa menanyakan di mana ruangan Yoona. Apakah masih berada di emergency room, atau sudah dipindahkan ke tempat lain. Member lain pun tak ada yang bisa memberikan jawaban.
“Sudahlah, aku tahu.”
Donghae berlari di ruang tunggu. Yuri mengikutinya. Orang-orang lain yang berada di ruang tunggu terheran-heran melihat adegan Donghae dikejar Yuri di rumah sakit. Pemandangan yang sungguh langka bagi mereka. Namun, Yuri dan Donghae tidak mempedulikan tatapan keheranan orang-orang. Yuri terus berlari mengikuti Donghae yang mencari Yoona dengan perasaannya.
“Apa benar ini Im Yoona ada di sini?” tanya Donghae pada dua perawat di depan ruang perawatan VVIP.
“Betul,” jawab seorang perawat sambil tak lepas memandang wajah Donghae.
“Saya Donghae, personil Super Junior, kakak Yoona. Tolong izinkan saya masuk.”
Perawat itu membukakan pintu untuk Donghae dan Yuri. Yuri sempat bingung bagaimana bisa dokter dan perawat itu memasukkan Yoona ke ruangan ini tanpa memberitahunya atau member lain. VVIP. Pasti itu standar Lee Soo Man Ahjushi untuk “anak-anaknya”, dan sudah diketahui oleh semua rumah sakit.
“Dia belum sadar,” pesan seorang perawat, lalu menutup pintu ruang perawatan.
Donghae dan Yuri mendekati Yoona yang tergeletak dengan selang oksigen di hidung, dan infus di tangan kanannya. Yuri meraba dahi Yoona. Sudah tidak sepanas tadi. Donghae menggenggam jemari Yoona, sebentar, lalu mengecup keningnya.
“Cepat sembuh, Yoong. Jeongmal, mianhae.” Kata Donghae lembut.
Yuri hanya memperhatikan adegan itu, tak ingin mengganggu Donghae dan Yoona. Sebab, hal inilah yang sangat Yoona inginkan, bisa bersama Donghae. Yuri masih bisa merasakan ikatan yang kuat antara Yoona dan Donghae. Sungguh, jauh di dalam hati, Yuri berharap keduanya bisa kembali sebagai pasangan. Tapi, Yoona sudah memiliki Heechul. Dan tentang hubungan keduanya yang berakhir pun menjadi tanda tanya besar buat Yuri.
“Oppa pamit dulu, Yul. Tolong jaga Yoona.” ucap Donghae.
“Kenapa terburu-buru Oppa?”
“Oppa takut member lain yang di dorm mencurigaiku. Ng… khususnya Heechul Hyung.”
“Baiklah. Hati-hati, Oppa.”
Setelah Donghae keluar dari ruangan Yoona, Yuri kembali mendekati Yoona. Dia masih penasaran, apa yang membuat Yoona sangat ketakutan hingga stress dan sakit. Antis? Yoona memang memiliki banyak antifans karena dia cantik dan sangat baik. Beberapa waktu lalu ada seorang antifans yang meng-upload foto Yoona yang sudah diedit menjadi menyeramkan. Tapi, Yoona cuek dan masa bodoh dengan hal itu. Lalu, apa? Fanboy? Jumlah fanboy Yoona memang sebanding dengan jumlah antifansnya. Namun, sejauh ini, mereka bukan sasaeng fans, dan tetap menjaga privacy Yoona. Belum pernah ada fanboy yang membuat Yoona tak nyaman. Kalau bukan itu apa yang membuat Yoona seperti ini?
“Yul Eonni….” gumam Yoona, lirih.
“Yoong! Kamu sudah sadar” Yuri buru-buru mendekati Yoona. Mata Yoona sudah terbuka, meski masih terlihat sayu. Yuri tersenyum sambil menggenggam jemari Yoona.
“Eonni panggilkan dokter dulu, ya.”
“Tak perlu, Eonni.” Yoona menahan tangan Yuri. “Apa tadi Donghae oppa datang kesini, Eonni?” tanya Yoona pelan.
“Ne, Kau tahu. Yoonh?”
“Aku merasa hangat, Eonni.”
Yuri lagi-lagi tersenyum. Hari ini dia betul-betul membuktikan kekuatan cinta Yoona dan Donghae. Ah, Yuri masih tak habis pikir apa yang membuat pasangan itu memutuskan berpisah. Ditambah lagi, wajah Yoona yang terlihat biasa saja saat memberitahu Yuri kalau dirinya sudah putus dengan Donghae. Tak mungkin cinta Yoona pada Donghae lenyap semudah itu. Apalagi hubungan mereka sudah lumayan lama terjalin.
Genggaman tangan Yoona di tangan Yuri melemah. Matanya hampir tertutup lagi. Buru-buru Yuri membangunkannya. Dia sungguh khawatir Yoona kembali kehilangan kesadaran. Tak ada satu kata pun yang bisa menggambarkan kepanikan dan kekhawatiran Yuri pada seorang sahabat terbaiknya.
“Ah, Eonni. Kau takut, ya?”
“Yoong,” Yuri mengusap air matanya yang jatuh perlahan. Tak tega rasanya melihat Yoona yang biasa ceria terbaring lemah. Kalau saja bisa, dia ingin menggantikan Yoona merasakan sakit itu.
“Eonni Uljima. Nan gweachana.”
“Yoong, beritahu eonni, apa yang membuat kamu ketakutan seperti ini?” tanya Yuri.
Yoona tersenyum tipis. Meski begitu, senyumnya tetap manis. Andai saja Yuri seorang namja, mungkin dia sudah menjadikan Yoona yeojachingunya. Tapi, Yuri tidak menyesali dirinya yang terlahir sebagai yeoja. Sebab, dia dan Yoona bisa bersahabat dan saling melindungi. Tapi, kini, Yuri benar-benar merasa gagal melindungi Yoona. Yoona seolah sangat ketakutan pada sesuatu yang Yuri tidak tahu.
“Tak ada yang aku takutkan. Eonni tak perlu khawatir,” jawab Yoona, lemah, tanpa kehilangan senyumnya. “Aku justru mengkhawatirkan eonni.”
“Aku? Aku baik-baik saja.”
“Tapi, Eonni belum makan sejak tadi kan? Makanlah dulu.”
Yuri menggeleng kuat-kuat. “Eonni tak lapar. Sungguh.”
“YYaakk, Eonni pikir aku tak tahu kondisi perutmu? Makanlah. Aku tak mau kita gantian sakit.”
“Tidak akan, sampai kamu bangun dan menemaniku makan sushi di restoran kesukaan kita.”
“Eonni membuatku khawatir. Makanlah. Makanlah demi aku.” Ucap Yoona memelas dia sangat khawatir dengan kondisi kesehatan Yuri. Dia tidak mau hanya karena dirinya Yuri sakit.
Yuri menatap Yoona, dalam. Sangat jelas gurat kekhawatiran di wajah Yoona. Sejak pulang pemotretan tadi, Yuri memang belum makan apa-apa. Dia terlalu khawatir dengan keadaan Yoona, hingga dia tak keluar kamar selain untuk mengambil air untuk kompres.
Tapi, Yuri tak ingin keluar kamar dan meninggalkan Yoona sendirian. Beruntung Yuri melihat beberapa butir apel di atas meja, lengkap dengan pisau untuk mengupas. Dia mengambilnya, dan kembali ke sebelah Yoona.
“AWAS, EONN!” Yoona merebut pisau dari tangan Yuri, lalu melemparkannya ke tembok. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. “Yuri Eonni….”
“Gwenchana, Yoong. Tadi cuma pisau buah. Tak akan berbahaya.”
“A… aku ta… kut…. Ta… kut….” Ucap Yoona ketakutan.
“Yoong, kau kenapa? Ceritakan padaku!” Yuri menarik Yoona ke pelukannya. Air mata Yuri juga mengalir deras, melihat Yoona dihantui ketakutan.
“Yuri Eonni… aku ta… kut…. Temani aku….”
“Iya, Yoong. Eonni di sini. Eonni tak akan jauh-jauh darimu.”
Pintu ruangan terbuka. Teman-teman mereka masuk satu persatu. Melihat Yuri yang berpelukan dengan Yoona sambil menangis, mereka segera menghampiri. Sambil berharap tidak ada hal buruk yang akan mereka dengar dari keduanya.
“Ada apa, Yul? Apa yang terjadi?” tanya Sooyoung, cemas.
Yuri cuma bisa menggeleng tanpa suara. Pelukannya pada Yoona masih erat. Sungguh, dia khawatir akan kondisi fisik dan psikis Yoona. Yoona masih terlihat sangat ketakutan. Yuri bisa merasakan debaran jantung Yoona yang sangat cepat. Tubuh Yoona juga masih gemetar. “Aigo…. Badanmu sangat panas, Yoong. Sebentar, aku panggilkan dokter.” Hyoyeon bergegas keluar ruangan. Yuri tidak dapat melarangnya. Sebab, dia juga merasakan suhu tubuh Yoona yang semakin meninggi. Yuri juga merasakan kausnya basah. Basah oleh air mata Yoona dan cairan hangat. Pasti hidung Yoona berdarah lagi. Tapi, Yuri belum mau melepaskan pelukannya.
Taeyeon menatap Yoona dan Yuri, prihatin. Biar pun mereka sangat jahil di dorm, melihat keduanya seperti ini, Taeyeon sangat sedih. Taeyeon sudah ikhlas dijahili Yoonyul, dan dia berjanji tak akan marah, asalkan jangan melihat keduanya frustasi.
Sunny membawa Seohyun ke sofa. Melihat kedua eonnie-nya seperti itu, dia juga ikut terisak. Tiffany dan Sooyoung ikut membantu Sunny menenangkan Seohyun, meski sebenarnya mereka juga gelisah. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang lebih buruk pada Yoona daripada sekadar psikosomatis.
Pintu terbuka untuk kedua kalinya. Hyoyeon masuk bersama seorang dokter dan dua orang perawat. Seorang perawat menutup tirai di sekeliling ranjang Yoona. Yuri masih di situ, masih memeluk Yoona. Hingga dokter mengusirnya.
“Eonni, Kajima… di sini saja.” Yoona menarik Yuri, lagi.
“Hanya sebentar, Yoong. Ne? Eonni tak jauh. Hanya di balik tirai itu.” Yuri menyeka airmatanya yang tak mau berhenti juga.
“Di sini, Eonni…. Aku takut….”
“Tak akan apa-apa, Yoong. Eonni di dekatmu. Di luar tirai. Ya?”
Tanpa meminta persetujuan Yoona lagi, Taeyeon segera menarik Yuri, keluar dari tirai. Dokter dan perawat itu sudah menampakkan wajah tidak sabar. Kalau tak dipaksa begitu, mungkin dokter itu baru bisa memeriksa Yoona tengah malam nanti, saat Yuri dan Yoona sudah terlelap kelelahan. Yuri menatap Taeyeon, tanpa ekspresi.
“Yul, sebenarnya ada apa?” tanya Taeyeon.
Yuri menggeleng, pelan. Dia masih mendengar ucapan lirih Yoona mencarinya, dan isakan ketakutan Yoona. Yuri ikut terisak di luar. Taeyeon tahu, tak mungkin menanyai Yuri saat kondisinya seperti itu.
“AAA…!!!”
Terdengar jeritan keras Yoona. Yuri makin terisak. Sooyoung menghampiri Yuri, lalu memeluknya. Sooyoung tahu, Yuri sangat tertekan dan butuh sandaran. Tak mungkin mengandalkan Taeyeon yang bertubuh lebih kecil.
*****
Bug!
Donghae mundur beberapa langkah, saat pukulan keras itu menghantam pipinya. Dia baru saja membuka pintu dorm, namun sudah mendapat hadiah seperti itu. Heechul berdiri tegak di hadapannya dengan wajah perang.
“Sudah kubilang jangan mendekatinya!”
“Maksud Hyung?” Donghae memberanikan diri menatap Heechul.
“Jangan dekati Yoona! Kau tahu dia milikku, kan?!” pekik Heechul.
“Aku tak mendekatinya!” jawab Donghae santai
“Jangan pura-pura! Aku tahu, kau pasti baru menjenguk Yoona.”
“Hyung kata siapa?”
“Hei, kau bermaksud menyembunyikan kabar ini agar kau bebas menjenguknya, kan?”
“Ah, anii. Apa urusanku menyembunyikannya dari Hyung? Silakan Hyung menjenguk Yoona. Siapa tahu dia makin membaik.”
Heechul menarik kerah kaus Donghae. “Katakan, siapa yang memberitahumu!”
“Tak ada yang memberitahuku!”
“Jangan berbohong pada hyungmu!” pekik Heechul lagi.
“Aku tidak berbohong! Aku hanya mengikuti perasaanku. Dan itu benar.”
Bug!
Satu lagi hantaman keras mendarat di pipi Donghae. Donghae terlempar ke belakang. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Donghae menyekanya dengan kasar, lalu berdiri. Meski tak ingin membalas perlakuan Heechul, Donghae tak ingin terlihat kalah.
“Jadi begini, sikap namja yang berjanji akan selalu membuat Im Yoona bahagia? Yang akan selalu menjaganya, bersamanya hingga akhir usia.” Donghae menatap Heechul, tajam.
“Kau!”
“Pukul saja, Hyung! Janjimu cuma sekadar janji. Kau bahkan tak bisa merasakan kalau Yoona sedang sakit. Mana ikatan batin yang selalu kau gembar-gemborkan?”
“Kalian rupanya!” Yesung keluar dari kamarnya, sambil menggendong Dkkomah. “Berhentilah berkelahi. Ini sudah malam. Dkkomah tak bisa tidur karena kalian. Kita bicarakan masalah ini besok, dengan Leeteuk Hyung.”
Heechul sempat melirik Donghae, kasar, kemudian masuk ke kamarnya. Yesung masih berdiri, memperhatikan Donghae. Sedetik kemudian, Yesung menaruh Dkkomah di kamar, kemudian mengambil obat dan batu es untuk mengobati lebam Donghae.
“Betul kau baru menjenguk Yoona?” tanya Yesung lembut sambil mengobati Donghae yang terbaring di sofa.
“Dari mana kalian tahu Yoona sakit?”
“Manajer yang memberitahu kami, tak berapa lama setelah kau pergi. Kau tahu kan, kalau Yoona yeojachingu Heechul?”
“Sebelum bersamanya, Yoona adalah yeojachinguku, Hyung.”
“Hah?! Jinjja?” pekik Yesung.
Donghae mengangguk. “Karena itulah, aku masih merasa memiliki ikatan batin dengannya.”
“Heechul tahu?”
“Aku tidak tahu apakah dia mengetahuinya dari orang lain. Yang jelas, aku tak pernah memberitahunya.”
“Baiklah, biar aku atau Leeteuk Hyung saja yang bicara padanya. Dan kau, kalau kau masih mencintainya dan dia juga mencintaimu, kau harus perjuangkan itu!”
Donghae terdiam. Dia memang masih sangat mencintai Yoona. Namun, dia tak tahu apakah Yoona juga memiliki rasa yang sama. Dia dan Yoona sepakat untuk saling menjauh sejak mereka putus. Penyebabnya, siapa lagi kalau bukan Kim Heechul. Yoona pernah bilang pada Donghae akan selalu berusaha menjaga perasaan Heechul.
Namun, Donghae sangat tahu kalau dua bulan ini Heechul sangat gencar mendekati Jessica, tanpa diketahui Yoona. Setiap melihat Heechul dan Jessica, Donghae ingin menghajarnya. Tapi, keburu Heechul yang menghajarnya, barusan.
Keesok harinya
Sebagian member Suju datang untuk menjenguk Yoona. Karena setelah mendapatkan kabar bahwa Yoona dirawat di rumah sakit dan ditambah perkelahian antara Donghae dan Heechul semalam membuat para member mencurigai sesuatu.
“Khamsahamnida, Oppadeul….” Yuri menunduk 90 derajat saat mengantar personil Suju ke pintu.
Ruang perawatan Yoona kembali sepi. Lagi-lagi, hanya tinggal Yoona dan Yuri. Personil lainnya sedang syuting CF. Barusan, seluruh personil Suju datang menjenguk, dan menjadikan ruangan itu ramai. Yoona juga terlihat gembira.
“Yul Eonni, kenapa dia tidak datang ya?” tanya Yoona, sambil memakan apelnya. Sudah tiga hari dia dirawat, dan kini sudah jauh membaik. Yoona tak lagi berteriak ketakutan.
“Maksudmu Haeppa?” Yuri melompat ke atas tempat tidur Yoona, lalu duduk di sebelahnya.
“Ne. Kenapa ya?” Tanya Yoona heran.
“Karena ada Chulli Oppa, Yoong. Kan kamu juga yang bilang mau jaga jarak dengan Haeppa.”
Yoona tersenyum kecut mendengar jawaban dari Yuri. “Iya sih…. Tapi…. Ah, sudahlah!”
“Annyeong….”
Seorang namja muncul dari balik pintu. Tinggi, tampan, bermata besar. Di tangannya ada kotak bekal. Dia langsung menghampiri Yoona dan Yuri sambil bergaya lucu, membuat Yoona dan Yuri tertawa-tawa.
“Hai, Yoong. Merasa lebih baik hari ini?”
“Yup. Seperti yang Oppa lihat.”
“Dan kau, Chagi?” tanyanya, sambil mengecup pipi Yuri.
“Aku baik-baik saja, Chagi.”
“Huh… Kau lebih sering mengunjungiku dari pada Chullippa, Siwon Oppa.”
“Kata siapa aku menjengukmu? Aku hanya mengantarkan makanan untuk istriku yang tak mau keluar dari kamarmu.”
“Kau ini!” Yuri memukul pelan lengan Siwon.
“Anii, Yoong. Oppa kemari juga untuk menjengukmu. Istriku ini adalah kembaranmu. Jadi, kau adalah saudaraku juga.”
“Siwon Oppa! Kalau ada orang lain yang mendengar, bisa-bisa mereka mengira kita sudah menikah.”
“Tak apa. Santai sajalah, Chagiya….” Siwon menaruh kotak bekal yang dia bawa di atas meja, kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Yuri.
“Huh, Chulli Oppa payah!”
“Memang Heechul Hyung belum menjengukmu?” Tanya Siwon.
“Sudah. Tapi baru sekali. Itu pun bersama memper Super Junior lainnya.”
“Mungkin dia sedang sibuk, Yoong.”
Yoona bangkit dari kasurnya. Tiga hari di situ membuatnya kebosanan. Memang, teman-temannya rajin datang dan bercerita hal-hal lucu. Tapi, itu tidak dapat mengurangi rasa jenuh. Dia merasa dirinya sudah sembuh total, fisik dan mental. Sebab, dia bukan hanya ditangani oleh dokter, tapi juga psikolog.
Pada psikolog itu, Yoona bercerita tentang hal-hal yang membuatnya takut, lewat tulisan. Ya, lewat tulisan. Sebab, Yuri eonni selalu ada di balik tirai saat psikolog itu mengunjungi Yoona. Yoona tak ingin Yuri eonni mendengar semua masalahnya. Dia tak mau membuat Yuri Eonni dan member lainnya mengkhawatirkannya.
“Mau ke mana, Yoong?”
“Ke luar. Aku bosan di sini. Apa di luar ada taman?” Yoona wara-wiri di dalam ruangan. Tiang beroda tempat menaruh botol infus dia jadikan skuter.
“Tapi, kamu kan belum boleh keluar. Yoong” cegah Yuri.
“Eonni… aku bosan. Sungguh. Jebbal eonni.” Pinta Yoona.
“Baiklah. Tunggu sebentar. Eonni akan pinjamkan kursi roda untuk kamu,n e.”
“Heh, Eonni pikir aku selemah itu? Aku kan sudah bisa main skuter di sini. Hanya saja, ruangan ini sempit.”
Siwon mendekati Yoona. Kalau saja itu Yuri, Siwon pasti sudah mengacak rambutnya. Tapi, itu Yoona. Biar pun lebih tua dari Seohyun dan lebih kekanakan dari Seohyun, Yoona adalah dongsaeng yang disayangi Siwon selain Sooyung.
“Di luar banyak fansmu, Yoong. Kau yakin?”
“Tak apa Oppa. Aku bosan di kamar ini terus”
“Kalau mereka minta tanda tanganmu bagaimana? Tanganmu kan masih ditusuk begitu. Pasti akan sakit.”
“Ayolah, Siwon Oppa…. Aku bosan.”
“Baiklah. Baiklah.” Mendengar persetujuan Siwon, Yoona tersenyum gembira. Dia mendorong “skuternya” ke pintu. Saat Siwon membukakan pintu untuknya, dia langsung melaju, meninggalkan Yuri dan Siwon yang geleng-geleng kepala. Pasangan itu lalu mengejar Yoona sambil bergandengan.
“Yul, lihatlah.” Siwon menunjuk Yoona yang asyik main “skuter” di taman. Semua bangku taman terisi penuh, sehingga dia dan Yuri terpaksa berdiri di samping gedung.
Yoona terlihat begitu gembira. Langit siang ini cerah, namun tidak panas. Semilir angin memainkan rambut Yoona saat dia mengitari taman dengan kecepatan tinggi. Sepertinya Yoona betul-betul balas dendam karena terkurung dua hari penuh. Sesekali, Yoona berhenti, mengambil bunga dengan tangan kirinya, kemudian melaju lagi. Pengunjung dan pasien tampaknya tak ada yang terganggu. Dan, sepertinya juga, mereka tak yakin kalau sosok berpiyama pink itu Yoona.
“Sepertinya dia sudah pulih. Aku akan bertanya pada dokter Lee kapan dia boleh pulang.” Ucap Yuri.
“Bukan itu.” Jawab Siwon singkat
“Lalu?” Yuri menatap Siwon, penasaran.
“Kita seperti orang tua yang mengawasi anaknya bermain.” Jawab Siwon dan kontan membuat wajah Yuri memerah. Dia meninju lengan Siwon, pelan. Dasar Siwon, suka membayangkan yang tidak-tidak. Yuri memang ingin bersama Siwon, membangun keluarga seperti yang sering mereka khayalkan. Tapi, tidak untuk saat ini. Kakek Soo Man bisa murka.

Bruk!

“AW!!!” jerit Yoona.
Yuri dan Siwon segera berlari ke arah Yoona. Baru saja mereka lengah, Yoona sudah terjatuh. Eh, tunggu. Yoona memang jatuh. Tapi, dia menabrak seseorang. Ya, seorang namja sedang berjongkok di sebelah Yoona.
“Donghae-ah?” pekik Siwon
“Eh, kau, Siwon hyung. Sedang di sini juga?” sapa Donghae ramah.
“Ya, sedang menemani….” ucapan Siwon terhenti, saat melihat tatapan tajam Yuri.
“Ngg… kembaran Yoona.”
“Kau tak apa-apa, Yoong?” tanya Yuri, khawatir, sambil memeriksa Yoona. Dia melihat lutut Yoona terluka. Jarum infus di pergelangan tangan kanan Yoona juga lepas, membuat darah terus mengalir.
“Sakit, Eonni….” keluh Yoona. Tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanan. Matanya terpejam.
“Mi… mianhae, Yoong, Oppa tidak sengaja.” ucap Donghae penuh penyesalan.
Yoona hanya mengangguk pelan. Matanya masih terpejam. Melihat itu, Donghae segera menggendong Yoona, dan membawanya kembali ke kamar. Yuri dan Siwon mengikuti dari belakang. Keduanya sama-sama terdiam. Yuri diam karena mengkhawatirkan Yoona. Sedangkan, Siwon tak mau mengganggu Yuri. Siwon merasa bersalah karena dialah yang mengizinkan Yoona keluar.
“Donghae-ah” panggil Siwon. Dia dan Donghae duduk berhadapan di sofa. Sementara, Yuri sedang menemani Yoona yang sedang ditangani paramedis.
“Ada apa?” Donghae menatap Siwon tanpa semangat.
“Kau memang sengaja kemari untuk menjenguk Uri Yoona?”
Donghae mengangguk tanpa suara. Ekspresi kesakitan Yoona masih terbayang jelas di pikirannya. Donghae sangat merasa bersalah karena telah sengaja menghalangi laju “skuter” Yoona, bermaksud memberikan kejutan. Sayang, Yoona mengendarai “skuternya” dengan kecepatan maksimal dan tidak sempat mengerem.
“Kau tadi langsung ke taman atau kemari dulu?”
“Aku langsung ke taman. Hyung.”
“Dari mana kau tahu Yoona di taman?” tanya Siwon lagi.
“Entahlah, Hyung. Aku hanya mengikuti langkah kakiku.”
Siwon mengerenyitkan kening. Persis seperti dirinya dan Yuri. Apakah ada ikatan antara Donghae dan Yoona? Ah, tapi itu tak mungkin. Yoona adalah milik Heechul Hyung. Video moment mereka di SMTown Concert juga tak kalah heboh dibanding videonya dan Yuri. Lalu, ada apa dengan Donghae? Apakah Yoona menduakan Heechul Hyung? Yuri tak pernah menceritakan tentang itu padanya.
“Siwon Oppa,” panggil Yuri. Kepalanya muncul di tirai.
“Nae, Yeobo. Waeyo?” Jawab Siwon.
“Aish, kau ini. Aku malu dilihat Donghae oppa.”
“Tak apa. Tak usah malu. Kalian itu sudah jadi rahasia umum,” kata Donghae, sambil tersenyum lebar.
“Ya! Donghae oppa, jangan ikut-ikutan Siwon Oppa. Lebih baik kau di sini, menemani Yoona.” kata Yuri kesal.
“Apa boleh?” tanya Donghae pada Yuri.
“Tentu saja.” jawab Yuri
“Baiklah.”
Donghae segera menghampiri Yuri, dan masuk ke dalam tirai. Luka di kaki Yoona sedang dibersihkan, dan itu membuatnya meringis. Donghae mengecup kening Yoona, lembut, memberinya kekuatan. Kecupan itu berbalas senyum termanis Yoona.
“Wae, Yeobo?” tanya Siwon. Tangannya merangkul Yuri, erat.
“Yoona perlu Donghae oppa.” Kata Yuri pelan melihat apa yang dilakukan Donghae pada Yoona.
“Maksudmu? Yoona menduakan Heechul hyung?” tanya Siwon.
Yuri menggeleng. “Aku belum pernah cerita padamu? Donghae oppa dan Yoona pernah berpacaran.”
“Pernah? Lalu, sekarang?” jawab Siwon tak percaya.
“Sekarang Yoona pacar Heechul Oppa. Tapi, entahlah, aku melihat Yoona lebih mencintai Donghae oppa.” Jawab Yuri pelan.
“Chagi….” Siwon mengeratkan pelukannya.
“Kau jangan begitu, ya. Cintai aku saja, jangan yang lain.”
“Nae, Yeobo. Kau juga, ya.”
“Of course, Baby. I’m yours and always yours. I’ll always love you. Ehm… bisa kau ulang panggilan tadi, Yeobo?”
“Ngg…” Yuri menunduk. Wajahnya bersemu. “Memangnya tadi aku memanggilmu apa?”
“Ah, kau ini. Pura-pura lupa. Ayolah….”
“Ngg… Nae, Yeob….” Ucapan Yuri terhenti, saat ekor matanya menangkap benda pipih panjang berkilat di bawah piring. Yuri segera mengambil benda itu dan menaruhnya di laci. Pisau. Sekali pun hanya pisau buah, tapi Yoona masih takut melihatnya. Setiap melihat pisau, tubuh Yoona gemetar.
Itulah yang membuat Yuri penasaran. Yoona tak pernah setakut itu pada pisau. Di dorm, berkali-kali jari Yoona teriris saat membantu Hyoyeon memasak atau mengupas buah. Tapi, itu tidak membuatnya takut. Sejak masuk rumah sakit, Yoona seolah paranoid dengan pisau.
Apa ada hubungannya dengan ketakutan ekstrim Yoona? Seperti… ada yang membuntutinya dan mengancamnya dengan pisau. Tapi, siapa? Kapan? Bagaimana aku bisa tidak tahu?
“Yul, kenapa?”
Yuri menggeleng pelan, lalu menelusupkan kepalanya di dada Siwon.
“Aku gagal jadi sahabat dan Eonni yang baik buat uri Yoona. Dia terancam dan aku diam saja.” ucap Yuri pelan
“Siapa yang mengancamnya?” tanya Siwon.
“Yuri Eonni….” Kepala Yoona muncul dari balik tirai.
“Waeyeo Yoong??” tanya Yuri.
“Mereka bilang, kalau seharian ini suhu tubuhku stabil, aku bisa kembali ke dorm.” Jawab Yoona.
“Jinjja? Kalau begitu, kau harus beristirahat agar suhu tubuhmu stabil.” Pekik Yuri senang.
“Dan jangan main skuter lagi, Yoong,” tambah Siwon.
“Ya! Kau, Mr. dan Mrs. Choi. Berhenti meledekku. Sebaiknya kalian bicara dengan dokter Lee.”
“Baik, Mrs. Lee,” balas Yuri. Dia lalu menarik Siwon mengikuti dokter Lee dan rombongan paramedis ke luar ruangan.
“Mrs. Lee? Itu Sooyoung eonnie, Yuri-ya. Istri-istrian Mr. Lee Sunny. Hahaha….” Alligator Yoong beraksi. Beruntung hanya dia seorang pasien di ruangan itu. Kalau ada seorang lagi saja, mungkin Yoona sudah dicekik karena tawanya itu.
Aish… Kau itu, Yoong. Lihatlah sebelahmu. Lee Donghae di sini. Apa kau sungguh tak mau menjadi Mrs. Lee? gerutu Donghae dalam hati.
Mianhae, Oppa. Aku bukannya tak tahu maksud Yuri. Andai saja bisa, aku sangat ingin menjadi Mrs. Lee. Tapi, itu mustahil. Aku harus memendam dalam-dalam impian itu. Yoona menatap wajah Donghae, penuh sesal. Oppa, aku ingin seperti Siwon dan Yuri yang berbahagia dengan cinta mereka. Aku ingin bahagia denganmu. Berikan aku mesin waktu agar semua ini tak pernah terjadi.gumam Yoona dalam hati
“Ada apa, Yoong?” Donghae mengusap rambut Yoona.
“Oppa, ngg… kenapa Oppa datang kemari?” tanya, Yoona, pelan. Kedatangan Donghae sungguh membuatnya senang. Seolah, Donghae tahu kalau Yoona sangat menginginkan kedatangannya, dan membuktikan betapa kuatnya cinta di antara mereka. Tapi, hal itu juga membuatnya takut. Teramat sangat takut.
“Oppa ingin memastikan kau sudah sembuh, My Alligator. Selama kau di sini, Oppa tak pernah tidur nyenyak.”
“Jinjja? Apa… Oppa masih menyayangiku?” tanya Yoona
“Seterusnya. Seterusnya, selamanya, seumur hidup Oppa, Oppa selalu menyayangi dan mencintai Im Yoona.” jawab Donghae dengan tegas
Yoona menunduk, merasakan perih yang sangat di hatinya. “Apa Oppa mau melakukan satu hal untukku? Satu hal saja.” tanya Yoona lagi
“Jangankan satu, seribu, sejuta hal akan Oppa lakukan untuk Yoong.” Jawab Donghae dengan mantap
“Oppa, bisakah Oppa memeluk aku,” ucap Yoona, lirih.
Tanpa disuruh dua kali, Donghae merengkuh Yoona ke pelukannya. Ada rasa yang berbeda saat kembali memeluk seseorang yang sangat dia cintai. Hatinya terasa hangat. Namun, dia merasakan ada yang tak beres pada Yoona. Cara Yoona memeluknya sungguh berbeda. Seperti… seorang yang butuh perlindungan.
Aku merindukanmu, Yoong. Sangat merindukanmu.
Yoona mengeratkan pelukannya pada Donghae. Dia merasa aman berada dalam pelukan namja yang setahun ini tak pernah dia temui. Andai saja bisa seperti itu selamanya, Yoona ikhlas menukarnya dengan apa pun yang dia miliki. Donghae adalah separuh hidupnya. Yoona tak pernah membenci Donghae karena telah memutuskan hubungan mereka.
“Oppa.” Yoona melepaskan pelukannya. Wajahnya tertunduk, tak berani menatap Donghae. “Mianhae, ternyata aku masih punya permintaan lagi.” Ucap Yoona.
Donghae mengelus rambut Yoona, penuh cinta. “Katakan saja, Chagiya…. Apa pun, akan Oppa kabulkan.”
Chagiya. Panggilan itu. Donghae tak menyadari Yoona semakin bergetar. Hatinya semakin sakit, seolah ribuan pisau telah menguliti hatinya, kemudian menyiramkannya dengan air garam. Sangat perih. Air mata Yoona mengalir deras.
“Yoong, ada apa?” tanya Donghae khawatir melihat Yoona yang menangis.
“Op… Oppa….” Yoona menguatkan hatinya. Sungguh, kata-kata yang akan dia ucapkan bukanlah hal yang dia inginkan.
“Jangan pernah temui aku lagi, Oppa. Aku mohon…. Lupakan kalau kita pernah bersama.” Ucap Yoona sambil bergetar.
“Tapi, Yoong? Kenapa? Oppa sayang kamu, Yoong. Selamanya. Apa perasaan kamu ke Oppa sudah berubah? Ya, Oppa tahu, kamu sekarang milik Heechul Hyung.” Kata Donghae sambil menahan sakit dihatinya mendengar perkataan Yoona.
“Oppa, tak perlu menanyakan tentang hatiku. Aku yakin Oppa bisa merasakannya. Aku mohon, Oppa. Pergilah! Lupakan aku!” ucap Yoona pelan.
“Kenapa, Yoong? Jelaskan!”
Yoona memeluk Donghae, erat, membiarkan tangisnya tumpah di situ. Hanya untuk sementara. Untuk terakhir kalinya. Setelah itu mereka kembali menjadi seseorang yang tak saling kenal seperti setahun kemarin. Untuk selamanya. Yoona mengecup bibir Donghae sekilas, kemudian melepaskan pelukannya.
“Pergilah, Oppa. Aku mohon.”
Donghae mendaratkan kecupannya di jidat Yoona. Air matanya juga mengalir tak kalah deras. Terasa sangat berat mengabulkan permintaan Yoona. Setahun kemarin saja sudah membuatnya menderita.
“Izinkan Oppa menemanimu sampai Yuri dan Siwon kembali.” Jawab Donghae.
“Tidak perlu Oppa. Oppa pergi saja. Aku yakin, aku akan baik-baik saja.” ucap Yoona.
“Yoong, apa sedang terjadi sesuatu antara kau dan Heechul Hyung?” tanya Donghae yang curiga dengan sikap Yoona.
“Tidak ada apa-apa. Aku pastikan aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Carilah gadis lain yang lebih pantas untuk Oppa cintai.” Yoona menyusut air matanya, mencoba bersikap sewajarnya.
“Yoong, Oppa janji, hal itu takkan pernah terjadi.”
“Jangan siksa dirimu, Oppa. Aku tak mungkin bisa bersama Oppa. Aku mohon. Sekarang, pergilah. Terima kasih, Oppa sudah meluangkan waktu buatku.”
“Baiklah Yoong, kalau itu yang kau inginkan. Oppa akan pergi. Tapi, selamanya, Oppa takkan melupakan Yoong, dan akan selalu mencintai Yoong.” Donghae menggenggam tangan Yoona. “Cepat sembuh, Deer.”
Air mata Yoona jatuh makin deras. Ingin rasanya menahan Donghae pergi. Tapi, hal itu takkan mungkin. Semuanya demi Donghae. Ya, demi Donghae. Sesakit apa pun, akan dia lakukan. Meski untuk itu dia harus mengorbankan hati dan mimpi-mimpinya.
Donghae berjalan gontai di koridor rumah sakit. Pikirannya kosong. Sungguh, dia tak pernah tega melihat Yoona menangis. Namun, dia lebih tak tega melihat Yoona seperti tadi. Donghae bisa merasakan sakitnya hati Yoona. Di antara tawa lepas Alligator Yoong, Donghae melihat ketakutan dan keputusasaan di mata Yoona. Yoona begitu tertekan.
Parkiran kendaraan hanya beberapa puluh meter lagi. Donghae merogoh kantong jeansnya, memastikan kunci mobilnya tidak tertinggal. Tiba-tiba, pandangannya terbentur pada satu sosok wanita berkacamata hitam yang berjalan anggun di dekat taman.
“Sica?” desis Donghae. “Apa mungkin ada Heechul Hyung?”
*****
Siwon dan Yuri sengaja tak langsung kembali ke kamar Yoona usai menemui dokter Lee. Mereka ingin memberikan waktu agar Yoona dan Donghae bisa berdua dan bicara dari hati ke hati. Siwon menggandeng Yuri, berjalan-jalan menyusuri rumah sakit sambil tertawa-tawa. Mereka lalu duduk di bangku depan klinik, tanpa peduli dengan orang-orang di sekitar mereka.
“Heechul oppa!” panggil Yuri, saat melihat Heechul berjalan di dekat mereka.
“Eh, Yuri. Siwon. Apa yang kalian lakukan DI SINI?” tanya Heechul, heran. Dia sengaja menekankan kata “di sini”, setelah melihat orang-orang yang ada di situ.
Siwon mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sadarlah dia di mana dia dan Yuri berada saat ini. Sudah terlanjur. Mereka ada di situ tanpa sengaja, dan, sialnya, malah bertemu Heechul. Pertanyaan Heechul terasa sangat masuk akal.
“Ah, Hyung seperti tak tahu saja. Kami sedang mengecek bayi kami,” jawab Siwon, sambil mengusap perut Yuri.
“Siwon Oppa!” bentak Yuri. Dia juga baru sadar di mana dia berada. Ya, persis di depan klinik spesialis kandungan yang dipenuhi wanita-wanita hamil.
“Aigo…. Tak apa, Yul. Oppa akan simpan rahasia ini. Chukkae buat kalian.” Ucap Heechul
“Khamsahamnida, Hyung. Oh ya, kenapa Hyung ada di sini? Kamar Yoona kan di gedung sebelah.”
“Oh? Hahaha… Aku keliru. Sebab aku tadi ke sini bersama sebagian member yang lain, jadi tidak memperhatikan jalan. Baiklah. Aku mau menjenguk Yoona dulu. Sekali lagi, chukkae. Yul, kau jangan terlalu lelah, ya. Banyak makan.”
Yuri cuma mengangguk sambil merutuk dalam hati. Dasar Siwon!
Please baby, baby, baby….
Belum sempat Yuri menjawab panggilan dari Donghae itu, Siwon keburu merebut iPhone-nya, dan menjawab panggilan itu dengan sangat bersahaja. Siwon tak pernah suka Yuri mendapat telepon dari namja mana pun.
“Nae, Hae-ah. Kami akan ke sana,” ucap Siwon di telepon sambil menarik tangan Yuri dan menatapnya dengan tatapan sudah-ikut-saja.
“Siwon Oppa! Ada apa?” tanya Yuri penasaran.
“Ini tentang Uri Yoona, kajja.” Jawab Siwon.
“Yoona? kenapa dengan Yoona Oppa?”
Donghae mengaduk-aduk jus mix fruitnya tanpa semangat. Isi gelas itu belum berkurang sedikit pun. Padahal, punya Yuri dan Siwon sudah habis, dan mereka sudah memesan gelas kedua. Hari menjelang petang. Kafe di depan rumah sakit tidak terlalu ramai. Mereka juga memilih tempat di sudut, agar tidak menarik perhatian.
“Yul, apa Yoona bercerita padamu tentang Heechul hyung?”
Yuri menggeleng pelan, sambil berusaha menyusun rangkaian cerita Donghae dengan keanehan Yoona. Yuri sudah tahu kalau Yoona sedang di ambang frustasi. Tapi, dia tidak pernah menemukan Yoona seperti yang Donghae ceritakan.
“Oppa, maaf kalau aku bertanya tentang masa lalu kalian.” Ucap Yuri.
“Tak apa. Tanyakan saja, Yul.” Kata Donghae
“Siapa yang meminta putus? Kau atau Yoona?” tanya Yuri.
“Aku. Harusnya aku tak pernah melakukan hal itu.” Jawab Donghae dengan menyesal.
“Oppa tahu, saat menceritakan kalian sudah putus, tak ada ekspresi apa pun di wajah Yoona. Yoona sangat kuat, Oppa.” Jelas Yuri.
“Nae. Nae. Aku tahu. Karena itu, aku yakin ada sesuatu yang sedang terjadi padanya.” Ucap Donghae.
“Ancaman,” gumam Yuri.
“Ancaman? Siapa yang mengancam?” tanya Siwon pada Yuri.
Yuri mengedikkan bahu. “Sejak Yoona sakit, perilakunya berubah. Dia sering ketakutan dan… sepertinya memiliki trauma pada pisau.”
Donghae menghela napas, berat. “Yoong…. jeongmal mianhae. Oppa tak bisa menjagamu.”
“Sudahlah, Hae-ah. Bukan salahmu.” Siwon menepuk-nepuk bahu Donghae. Dia memang tidak pernah merasakan apa yang Donghae rasakan. Namun, dia berjanji untuk tidak akan pernah membawa dirinya dan Yuri dalam masalah seperti itu.
“Oppa, maafkan aku membuka masa lalumu lagi. Kalau kau masih mencintai Yoong, kenapa kau malah melepaskannya?” tanya Yuri lagi pada Donghae.
“Heechul hyung menyukai Uri Yoona. Dia mengatakannya padaku.” Jawab Donghae
“Kenapa kau tak bilang kalau Yoona pacarmu, Hae-ah?” tanya Siwon
“Aku mengenal Heechul hyung cukup lama. Ya… dia sangat ambisius. Apa yang dia inginkan, akan dia dapatkan dengan cara apa pun. Aku tak ingin Yoona tersakiti dengan caranya. Karena itulah, aku memilih mengakhiri hubungan kami.” Jelas Donghae.
“Apa Yoona tahu alasan Oppa?”
“Nae. Dia juga berpesan untuk menjaga jarak jika dia sudah jadian dengan Heechul hyung.” Donghae membuang napasnya, keras, berharap kegalauannya ikut terbuang.
Yuri meminum lagi jusnya, hingga hanya tersisa seperempat gelas. Sungguh, ini bukan masalah yang mudah. Seperti menyatukan kepingan puzzle sebesar Jeju Island. Yuri bertekad dalam hati untuk mencari tahu dan menyelesaikan masalah ini.
“Sebaiknya aku pulang dulu. Terima kasih kalian sudah menjaga Yoona. Khamsahamnida.” Pamit Donghae.
“Yoona itu segalanya buat aku, Oppa. Karena itu, aku akan melakukan apa pun untuknya.” Jawab Yuri.
“Lalu? Aku?” Siwon memajukan bibirnya.
“Kau seseorang yang diturunkan Tuhan untukku. Lebih dari apa pun.” Jawab Yuri setelah itu Siwon merangkul Yuri, erat. Dia juga merasakan hal yang sama. Tuhan telah menetapkan takdirnya untuk bertemu Yuri, dan memberi cinta di antara mereka. Sekali lagi Siwon bersumpah dalam hati, atas nama Tuhan, akan selalu membahagiakan Yuri.
“Andai aku dan Yoona bisa seperti kalian.” Gumam Donghae pelan tapi dapat didengar oleh Yuri.
“Tak ada yang tak mungkin.” Yuri tersenyum meyakinkan Donghae. Dan aku janji akan menyatukan kalian lagi.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Tolong jangan katakan apa yang aku bicarakan pada Yoona.”
“Donghae Oppa tidak ingin menunggu Heechul oppa?” tanya Yuri.
“Ada Heechul hyung?” Mata Donghae membelalak.
Yuri dan Siwon mengangguk berbarengan. Namun, mereka sama-sama tutup mulut, tak ingin menceritakan di mana mereka bertemu Donghae. Bisa-bisa mereka kembali mendapat pertanyaan yang sama.
Brak!
Donghae memukul meja dengan keras, hingga pengunjung lainnya menoleh. Gelasnya terguling, menumpahkan jus yang belum sempat diminum. Siwon dan Yuri sama-sama terkejut saat menangkap kilatan amarah dan kecewa di mata Donghae.
“Sudah kuduga, Sica tak mungkin sendirian ke sini,” gumam Donghae.
“M… maksudmu? Sica Eonni ke sini bersama Heechul oppa?” tanya Yuri ragu.
“Cepat ke kamar Yoona! Pergoki mereka!” perintah Donghae padaYuri dan Siwon.
Mereka dengan cepat kembali kekamar Yoona dan mendapati Yoona hanya sendiri dikamar yang sedang tertidur. Mungkin karena lelah seharian bermain.
“Syukurlah, tidak terjadi apa-apa dengan Yoona.” ucap Yuri sambil menghela napas lega. Dia tidak ingin hal buruk menimpa Yoona lagi.

*****
Ke esok harinya

Hari ini Yoona sudah diijinkan untuk kembali ke dorm. Senyum diwajahnya tak pernah hilang dari wajahnya. Melihat itu Yuri sangat bahagia sekali. Dia mengerti bahwa Yoona sudah sangat bosan tinggal di rumah sakit. Yang hanya bisa bermain skuter di ruangannya dan tidak diijinkan keluar oleh Yuri beberapa hari ini.
Siang ini sangat cerah, secerah Yoona yang sedari tadi terus bercanda bersama Sooyoung dalam perjalanan kembali ke dorm. Sesekali mereka menggoda Sunny dan Taeyeon yang ikut menjemput Yoona. Yuri hanya tertawa-tawa melihat aksi keduanya dan wajah kesal SunTae.
Di dorm, Tiffany, Jessica, Seohyun, dan Hyoyeon sedang menyiapkan upacara penyambutan. Tiffany dan Seohyun mendekorasi ruangan, menempelkan balon-balon dan kertas warna-warni di tembok. Jessica merapikan meja makan, menaruh piring-piring untuk mereka bersembilan, dan menatanya ala restoran-restoran. Hyoyeon sudah menyelesaikan aktivitasnya di dapur.
“Annyeong…. Kami datang!” seru Sooyoung, sambil membuka pintu dorm.
“Whua…. Ini benar-benar keren, Eonnie, Saengie….” Yoona, yang berada di belakang Sooyoung membelalak takjub melihat balon besar berbentuk rusa tepat di depan pintu. Balon rusa itu terbuat dari beberapa balon kecil yang dirangkai. Pasti teman-temannya mengerjakan itu semalaman.
“Kenapa tulisannya ‘welcome home, Yoonyul’?” tanya Yuri, heran, saat membaca tulisan di tembok living room. “Yang sakit kan hanya uri Yoona.”
“Tapi kau juga ikutan tidak pulang-pulang, Yul. Dorm sepi tanpa kejahilan kalian.” Hyoyeon memeluk Yoona dan Yuri bergantian.
“Eonnie….” Seohyun mendekati Yoona, lalu memberikan kado yang sudah dia persiapkan sejak kemarin. “Aku senang Eonni sudah sembuh.”
“Wah, untukku? Terima kasih, Seobaby. Nanti kita nonton Keroro lagi, ya.” Ucap Yoona lembut pada Seohyun.
“Ne, Eonnie….”
“Yoong, jeongmal bogoshipo.” Tiffany menghambur, memeluk Yoona, erat. Airmatanya menetes, melihat Yoona sudah kembali sehat.
“Huh, bukannya lebih baik dia di rumah sakit, Fany-ah? Jadi tak ada yang membullymu.” Ucap Jessica dingin.
“No, Jessie. Aku justru merindukan kejahilan mereka.” Ucap Tiffany.
“Sica,” Yuri mendekatkan mulutnya ke telinga Jessica.
“Bukannya kau yang menginginkan Yoona lebih lama di rumah sakit agar kau bisa bersama Heechul oppa?” Ucap Yuri dingin. Yuri sudah tahu apa yang terjadi oleh Donghae, dia juga sudah mencurigai Jessica dan Heechul pasti ada hubungan special diantara mereka berdua.
Jessica melirik Yuri, dingin. “Aku tak seperti yang kau pikirkan, Yul.”
“Ya! Yulsic! Tak bisakah kalian menunda bermesraan sebentar?” teriak Sooyoung.
“Kau ini! Memangnya ada apa antara aku dan Sica?” tanya Yuri.
“Harusnya yang kau curigai itu aku, Youngie. Aku bersama Yuri Eonni hampir sepanjang waktu,” sela Yoona.
“Ah, aku bingung. Lebih baik kita makan.”
Sooyoung memimpin member lainnya ke ruang makan. Hyoyeon sudah menyiapkan makanan yang enak-enak. Meja makan mereka penuh makanan. Semua member sibuk memilih makanan yang akan mereka makan duluan. Namun, saat melihat Yoona makan dengan sangat lahap, semua menahan diri untuk mengambil makanan lagi. Termasuk juga Sooyoung. Shikshin Yoong sudah kembali.
“Kau sudah bisa ikut latihan besok, Yoong?” tanya Taeyeon.
“Tentu. Konser terdekat ke mana?” tanya Yoona.
“Di sini. Seoul.” Jawab Sunny.
“Baiklah, baiklah, baiklah.”
“Pasti Yuri dan Siwon akan membuat banyak moment lagi. Hahaha… kalian itu. Betul-betul tak bisa menahan diri, ya.” Ledek Hyeoyeon.
“Sepertinya kali ini tidak, Hyo. Siwon Oppa tak bisa datang karena harus syuting drama.”
“Oh… sedih sekali.” Sooyoung berpura-pura mengusap matanya.
“Hei, kau tahu, selama dirawat, setiap hari ada YulWon moment di depan mataku,” celetuk Yoona.
“Mwo?” semua member melongok.
“Kalian benar-benar!” gerutu Tiffany.
“Mumpung Siwon Oppa libur,” elak Yuri, sambil mencomot sepotong daging di piring Yoona.
“Ya! Kau, Yoong. Pasti akan membuat banyak Yoonchul moment juga,” kata Sunny. “Membuatku iri saja.”
“Eh, ngg… Ya! Pastinya. Aku dan Heechul oppa tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Yuri melirik ke arah Yoona, heran. Sepengetahuan Yuri, Yoona tidak tahu kedekatan Heechul dengan Jessica. Saat di rumah sakit, hanya Jessica yang menemui Yoona, meski Heechul juga ada di situ dan sempat bertemu dengan Yuri dan Siwon. Yuri dan Siwon juga sama-sama tak memberitahu Yoona kalau mereka bertemu Heechul.
Ada apa, Yoong? Apa yang kau sembunyikan?kata Yuri dalam hati.

*****

Semua member masih berkumpul di living room. Tiffany, Taeyeon, dan Hyoyeon asyik menonton tayangan musik di televisi. Jessica membaca novel sambil rebahan di sofa dan sesekali tertidur. Sunny main game di tabletnya.
Yoona dan Seohyun bermain perang-perangan Keroro versus Rilakkuma. Keduanya sering menjerit marah karena Sooyoung mengganggu mereka dengan menebarkan remah-remah makanan ke tengah-tengah mereka. Yuri ikut-ikutan Sooyoung menjahili Yoona dan Seohyun bermain, sambil mengamati Yoona, diam-diam.
“KYAAA!!! PERGI KAU, SHIKSHIN!!!” jerit Yoona.
“Eonnie… jangan mengganggu kami,” ucap Seohyun memelas.
“Ayo semuanya istirahat! Besok kita latihan berat!” suruh Taeyeon, sambil mematikan televisi. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam.
“Aku masih mau main dulu. Iya kan, Seobaby?” Sooyoung menyikut Seohyun, yang masih memainkan Keroronya bersama Yoona.
“I… iya, Eonnie,” sahut Seohyun takut-takut.
“Seobaby, ayo masuk kamar. Istirahat.”
“Ne, Eonnie.” Seohyun segera masuk ke kamarnya. Dia tak berani membantah Hyoyeon. Sebab, itu sama saja dengan meminta dibiarkan tidur di luar tanpa selimut dan bantal.
“Kau, tidur! Aku tak mau membukakan pintu untukmu tengah malam nanti.” Sooyoung ikut masuk ke kamarnya. Tatapan Jessica sangat menyeramkan. Dingin, sedingin ucapannya. Sooyoung paling malas berurusan dengan roomatenya itu. Lebih baik dia masuk kamar, kemudian bermain iPad hingga mengantuk.
Dorm berangsur sepi. Hampir seluruh member sudah di kamar masing-masing. Yuri masuk ke kamarnya, membawa semangkuk sereal untuk Yoona dan segelas air. Yoona, yang sudah merebahkan diri, tersenyum gembira.
“Gomawo, Yul Eonni….”
Yuri mengusap rambut Yoona. “Sudah, kau tiduran saja. Biar aku yang menyuapi.”
“Yuri Eonni! Aku kan sudah sembuh.” Dumel Yoona.
“Tapi kau masih harus banyak istirahat.”
“Baiklah, kau memang kembaran yang sangat perhatian.”
Yoona bangun dan bersandar di kepala tempat tidurnya. Punggungnya diganjal bantal. Yuri menyuapinya sereal sambil bertukar cerita ringan dan sesekali tertawa kecil. Selama Yoona sakit, Yuri terbiasa melakukan hal itu setiap menjelang tidur. Dia tahu, Yoona tak akan bisa tidur sebelum makan semangkuk sereal. Meski dokter melarang Yoona makan makanan selain yang disediakan rumah sakit, Yuri tetap membuatkan sereal dan Yoona makan dengan lahap.
“Kau beruntung, Yul.” Kata Yoona.
“Ne. Aku sangat beruntung mendapatkan saudara sepertimu, Yoong.” Yuri menyeka ujung bibir Yoona yang belepotan susu dengan tisu basah.
“Bukan itu. Kau sangat beruntung bisa memiliki Siwon Oppa. Dia sangat perhatian padamu.”
“Memangnya? Kau dan Chullippa?”
“Dia sangat berbeda dengan Siwon Oppa.”
“Maksudmu?”
“Ah, sudahlah Yul, aku tak mau membicarakannya lagi.” Yoona meminum air di gelasnya hingga habis. Pembicaraan tentang Heechul selalu membuat tenggorokannya kering. Tak ada bedanya siapa pun yang memulai obrolan itu.
Yuri tersenyum, lalu membantu Yoona berbaring. “Tidurlah. Deer sangat letih hari ini.”
“Gomawo, Yuri Eonni.” Yoona menarik selimutnya, kemudian memejamkan mata.
Aku sebenarnya ingin bercerita padamu, Eonni. Tentang ketakutanku, yang aku yakin sudah membuatmu penasaran. Tapi, kenapa lidahku kaku saat memulainya? Semoga kau bisa menangkap maksudku.
Lampu kamar sudah gelap. Yoona tertidur dengan sangat nyenyak dengan gaya khasnya. Suasana dorm yang hangat membuat Yoona merasa sangat nyaman dan membuatnya bisa tertidur pulas. Napasnya terdengar teratur. Yuri masih membuka internet dari iPadnya. Sebuah artikel terbuka di layar. YoonChul fact. Artikel itu lengkap berisi foto dan video-video moment.
Hm… moment mereka sebanyak ini? Kenapa aku bisa tak memperhatikan? Hehe… pasti karena Siwon sudah mengalihkan perhatianku.
Yuri mengurutkan video moment YoonChul dari awal hingga yang terbaru, kemudian menontonnya satu persatu. Video terbanyak dari konser-konser SMTown. Ada juga beberapa video yang diunggah oleh akun anonim, yang sepertinya paparazzi, saat Yoonchul sedang bersama di luar acara.
Sepertinya Heechul Oppa betul-betul bangga memiliki Yoona dan ingin semua tahu kedekatan mereka. Tapi, kenapa Heechul Oppa sekarang malah mendekati Sica Eonni? Dan Yoona seperti….
“Please baby, baby, baby”
Yuri menyambar handphone di dekat bantalnya. Dia baru sadar yang ada di situ sedari tadi adalah handphone Yoona. Yuri senyum sendiri menyadari kebodohan mereka. Ya, meski lain merk, handphone mereka sering tertukar. Beberapa kali Yoona syuting membawa iPhone Yuri. Pernah juga mereka menyadari handphone mereka tertukar saat sudah berada di practice room.
Lagu Baby Baby masih mengalun dari Samsung Galaxy SIII milik Yoona. Layarnya hanya menampilkan nomor penelepon. Tak ada satu nama pun tertera. Yuri menatap layar LCD handphone Yoona, heran. Yang menelepon malam begitu pastilah orang-orang terdekat. Bukan kebiasaan Yoona juga membiarkan nomor telepon tergeletak begitu saja tanpa nama. Yuri segera menjawab panggilan itu.
“Yeoboseo. Mianhae, Yoo….”
“Aku tahu kau bertemu dengannya kemarin.” Ucapan di seberang telepon memutus perkataan Yuri.
“Apa kau masih belum jera juga? Kau betul-betul ingin aku yang memisahkan kalian dengan caraku? Turuti kehendakku Im Yoona, jika ingin dia selamat.” Ucap Seseorang dan panggilan diputus dari seberang. Yuri membeku di atas kasur, dengan handphone Yoona di tangannya. Percakapan yang tidak melampaui satu menit. Terlalu sebentar. Yuri bahkan belum bisa mencerna suara penelepon. Namun, ucapan si penelepon berhasil membuatnya gemetar.
Tak mungkin sasaeng fans atau fanboy gila. Mereka tak ada yang punya nomor kami. Tapi, siapa? Apa hubungannya dengan Yoona dan… orang yang bertemu Yoona kemarin?
Yuri memukul kepalanya. Sulit memahami siapa yang dimaksud orang-yang-kemarin-bertemu. Namun, Yuri memastikan, orang itu ada di antara semua member Suju yang kemarin menjenguk Yoona, termasuk juga Siwon, Jessica, dan juga dirinya.
“Aku mohon… pergilah…. Jauhi aku, Oppa. Ppali. Hiks! Hiks!”
“Yoong!” Yuri melompat bangun dari kasurnya dan mendekati Yoona. Lagi-lagi Yoona mengigau. Igauan yang sama dengan yang Yuri dengar kemarin malam. Yuri mengusap pipi Yoona. Basah. Bahkan dalam mimpi pun Yoona menangis ketakutan. Tanpa Yuri sadari, air matanya juga ikut jatuh.
Telepon tadi… igauan dan ketakutan Yoona…. Yuri bisa merasakan beratnya masalah yang menimpa Yoona. Selama Yoona sakit, Yuri hampir selalu terjaga sepanjang malam, menemani Yoona. Dia bahkan ikut-ikutan tidur di kasur pasien, sebab Yoona selalu meminta dipeluk sebelum tidur.
Yoong, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Sebelumnya, kau sangat ketakutan. Sekarang kau menyuruh orang menjauh. Eh, tunggu! Sepertinya aku mulai mengerti.
Yuri mengambil handphone Yoona, kemudian menghapus nomor yang barusan menelepon dari daftar panggilan. Yuri tak ingin Yoona tahu kalau pengancamnya telah menelepon dan Yuri berbicara dengannya. Malam ini menjadi sangat panjang bagi Yuri. Dia mencatat semua kecurigaannya di iPad, memberi tanda, juga memasukkan link-link video yang menurutnya aneh.
Tunggu, Yoong. Eonni akan mengungkap semua ini! Guma Yuri dalam hati sambil mengusap puncak kepala Yoona lembut.
*****

Yul Eonni, pulang saja duluan. Aku jalan-jalan dulu. Maaf tak memberitahumu tadi.
“Dari siapa?” tanya Siwon. Tatapannya jelas menunjukkan ketidak sukaan. Petang ini, setelah syuting, dia sengaja menemui Yuri di gedung SM. Yuri baru saja keluar lift sambil menatap iPhonenya.
“Yoona. Katanya dia mau pergi jalan-jalan dulu. Mungkin bersama Heechul Oppa.” Yuri menyimpan iPhonenya di dalam tas, setelah membalas pesan singkat Yoona.
“Hai, YulWon! Huh! Kalian betul-betul tidak bisa menahan diri, ya?” tegur Tiffany, yang baru keluar lift.
“O-ow. Ada YulWon di sini. Hei, kau bilang sibuk syuting sampai tak bisa ikut performance?” tegur Taeyeon.
“Ne. Aku memang tak bisa ikut perform. Padahal aku sangat ingin,” jawab Siwon.
“Lalu, kenapa kau di sini? Harusnya kan syuting,” tanya Hyoyeon.
“Aku tadi meminta agar syuting hari ini cepat selesai. I miss My Baby Boo.” Siwon mengelus rambut Yuri, dan membuat wajah Yuri memerah.
“Ya! Kalian!” dengus Sooyoung. “Membuat aku lapar saja! Ayo cepat kembali ke dorm.”
“Aku… masih ada yang harus aku bicarakan dengan Siwon Oppa.”
“Hm… baiklah. Selamat berkencan. Kami tunggu kabar baiknya,” ucap Taeyeon, sambil beranjak dari hadapan Siwon dan Yuri. Sebentar kemudian, dia kembali lagi.
“Apa kau sudah menemukan Yoona?”
“Tadi dia kirim pesan, katanya mau jalan-jalan dulu, dan kalian disuruh pulang duluan.”
“Okelah. Annyeong.” Taeyeon menunduk 90 derajat, kemudian pergi lagi.
Siwon dan Yuri mengikuti di belakang rombongan SNSD. Sampai di parkiran, mereka berpisah. Taeyeon, Jessica, Sunny, dan Tiffany masuk ke van yang berada di depan. Van satunya diisi oleh Hyoyeon, Sooyoung, dan Seohyun. Yuri masuk ke mobil sport Siwon. Sedangkan Yoona….
Itulah yang membuat Yuri penasaran. Seusai latihan, Yoona langsung keluar ruangan dan menghilang. Yuri dan teman-teman mencarinya hingga atap, namun Yoona tetap tidak ditemukan. Semua staf SM, member-member girlband dan boyband lain yang juga berlatih, bahkan hingga petugas kebersihan, semuanya mereka tanyai. Tapi, tak ada yang bisa memberitahu keberadaan Yoona. Telepon ancaman dari orang misterius semalam membuat Yuri semakin khawatir.
“Tak apa, dia bersama Heechul hyung,” kata Siwon, berusaha menenangkan Yuri.
“Kalau dia bersama orang yang mengancamnya semalam, bagaimana?” ucap Yuri cemas.
Siwon mengusap rambut Yuri, sesaat, lalu kembali lagi berkonsentrasi pada kemudinya. “Baby, yakinlah dia baik-baik saja.”
“Kalau ternyata yang jahat itu Heechul Oppa, bagaimana?” ucap Yuri tiba-tiba.
“Apa aku pernah jahat padamu?”
Yuri menggeleng. “Apa hubungannya dengan kita?”
“Seseorang tak akan menyakiti orang yang dicintainya, Baby….” Siwon tersenyum, mencoba menenangkan Yuri.
Sepanjang perjalanan tadi, Yuri menceritakan kekhawatiran dan kecurigaannya. Siwon merangkai semua dugaan-dugaan Yuri di kepalanya. Tak ada dugaan Yuri yang tak beralasan, dan hampir semuanya mendekati kebenaran. Namun, Siwon memilih diam karena tak ingin membuat Yuri tambah khawatir.
Lalu lintas Seoul menjelang malam masih tetap lancar. Tak ada kendaraan yang saling berebut jalur. Siwon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali, dia melirik Yuri yang mulai terlelap di sebelahnya. Tempat yang mereka tuju tidak jauh lagi.
“Bangun, Baby Boo. Kita sudah sampai,” bisik Siwon, lalu mengecup kening Yuri lembut.
Yuri mengerjapkan matanya, lalu menggeliat. “Di mana kita, Papi Boo?”
“Sungai Han. Seperti keinginanmu.”
“Ah… terima kasih.”
“Panggil aku Yeobo.”
“Kau ini!” Yuri tersenyum kecil, lalu mengambil masker dan topinya di dashboard. Dua benda itu sangat dia butuhkan saat berjalan-jalan. Karena itu, Yuri sengaja menyimpannya di dashboard mobil Siwon.
Siwon juga melakukan hal yang sama. Dia memakai masker dan topinya. Meski hari sudah malam, mereka tetap harus menggunakan dua benda itu untuk menyamar. Terlalu berisiko jika ada yang memergoki seorang personil Super Junior sedang berdua bersama yeoja cantik personil So Nyeo Shi Dae di sungai Han. Siwon keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Yuri. Mereka berjalan bergandengan ke tepi sungai.
Malam yang indah. Langit berbintang sempurna. Sungai Han terlihat begitu tenang. Airnya memantulkan cahaya bulan yang keemasan. Sungguh malam yang sempurna untuk dihabiskan bersama seseorang tercinta. Siwon memeluk Yuri dari belakang, sambil menikmati aliran tenang sungai Han. Begitu tenang dan damai.
“Bukankah itu… Donghae oppa?” Yuri menunjuk seorang namja bertopi, yang sedang duduk sendiri.
“Ayo kita ke sana.” Siwon menggandeng Yuri mendekati orang-yang-mereka-duga-sebagai-Donghae. Satu dua orang memperhatikan mereka. Namun, setelah itu, mereka kembali cuek.
“Donghae oppa!” panggil Yuri.
“Eh, hai, Yul, Siwon hyung. Annyeong.” Donghae menganggukkan kepalanya, sedikit.
“Pipimu kenapa, Oppa?” Yuri mendekatkan wajahnya ke pipi Donghae. Dia tidak salah lihat. Pipi Donghae memang membiru di sebelah kiri.
“Ah, tidak apa-apa, Yul.”
“Oppa… pasti sakit. Lihatlah, lebam begini. Aigo… Apa kau sudah mengompresnya?”
“EHEMM!!”
“Hahaha… Suamimu marah, Yul.”
“Tak apa-apa, Hae-ah. Tenang saja. Yuri memang baik pada siapa pun,” ucap Siwon, sok kalem. Dia lalu duduk di sebelah Donghae. “Apa yang terjadi padamu?”
“Oh… ini terkena samsack sewaktu aku berlatih tinju kemarin.”
“Mwo? Tadi siang aku bertemu Oppa, dan belum ada lebam begini.”
“Mungkin kau tak memperhatikan.”
“Aku yakin, Oppa.”
Siwon menghujani Yuri dengan tatapannya. Bukan tatapan kecemburuan atau menghakimi. Ada suatu kecurigaan yang mengganggu pikiran Siwon, yang dia yakini Yuri juga merasakannya. Yuri balas menatap Siwon dengan tatapan yang sama, lalu mengangguk.
“Ada apa?” tanya Donghae.
“Ah, anii.” Yuri menggeleng. “Kami memang terbiasa bicara dari hati ke hati.”
“Hm… Kalian… tidak bersama Yoona?”
“Yoona sedang jalan-jalan. Mungkin bersama Heechul oppa.”
“Yul.” Donghae memegang pundak Yuri. “Temukan Yoona!”
“Ada apa? Bukankah dia sedang berkencan?” Yuri mencoba tetap tenang, meski sebenarnya sangat khawatir mendengar permintaan Donghae. Donghae seolah-olah diciptakan dengan sinyal yang bisa mengetahui hal buruk yang terjadi pada Yoona. Pasti ada yang tidak beres dengan kembarannya.
“Yuri, ppali. Temukan Yoona!”
“Tapi, di mana kami harus mencarinya, Hae-ah?”
Donghae menghela napas, membenarkan ucapan Siwon. Kota Seoul begitu luas. Menemukan seorang Im Yoona di antara banyaknya taman kota, klub-klub, tempat fitnes, tempat perbelanjaan, dan bioskop, bukan hal yang mudah.
“Sebentar.” Yuri mengambil iPhonenya dan mencoba menelepon Yoona. Namun, tak ada jawaban. Hanya nada sambung yang terdengar. Yuri mencoba menelepon lagi. Tapi malah tak ada suara apa pun.
“Kau di mana, Yoong?” gumam Yuri Khawatir.
“Tenanglah chagi, Oppa yakin Yoona akan baik-baik saja.” Ucap Siwon yang berusaha menenangkan hati Yuri.
“Oppa bagaimana aku bisa tenang. Setelah semalam aku menerima panggilan telpon ancaman seperti itu.” Kata Yuri sambil gelisah.
“Mwo, ancaman??”Tanya Donghae.
“Ne, Oppa semalam aku tidak sengaja mengangkat panggilan telpon Yoona dan mendengar orang itu berbicara seperti itu. Itu membuat aku yakin ketakutan yang Yoona rasakan karena ancaman itu Oppa. Pokoknya kita harus segera mencari Yoona. aku takut terjadi hal buruk pada Yoona, Oppa.Hiikks… “Isak tangis Yuri tidak dapat dibendung. Mendengar perkataan Yuri membuat Donghae menjadi lemas tidak ada tenaga. Pikirnnya kacau memikirkan keadaan Yoona saat ini.
“Yoong, Eodi….”

-TBC-
Kemana Yoona pergi? Dan siapa yang membawa Yoona pergi? Apa yang membuat Yoona ketakutan seperti itu? Tunggu kelanjutan ceritanya…
Maaf kalau ceritanya agak berantakan dan banyak typonya… hehehhehe….
Please Your Comment….

NB : Jangan lupa yaa kunjungi blog https://koreanfanbasefanfiction.wordpress.com/
krena di blog itu lagi memerlukan author yang berkreatif… castnya All fandom lho….
Gomawo…. ^-^

Advertisements

5 thoughts on “Forever In Love (Chapter I)

  1. ksian yoona eonni psti tertekan bget deh, curiga deh sm heecul oppa?? . hae oppa dpkul siapa tuh smpe lebam gtu.. mdah2an yoona eonni ga knapa2.. dtggu ya chap slnjutnya

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s