[Fiction] Bad Day – Drabble Series

image

[Fiction] Bad Day – Drabble

Story by Desy M.

Alena Yin | Park Chanyeol

School Life | Romance | Mystery

Teen

AN : Please be a good readers without Copy Paste.

Kesan yang memalukan. Itulah yang merutuki diriku sedari tadi. Bertinggal di tempat yang baru, memasuki sekolah yang baru, dan bertemu orang-orang yang baru.

Sebenarnya, tidak mudah bagiku untuk beradaptasi di lingkungan yang masih terkesan asing bagiku. Sehingga, aku hanya mampu tersenyum agar terlihat lebih menghargai mereka.

Aku, Alena. Lebih lengkapnya adalah Alena Yin. Aku adalah gadis berdarah Cina yang telah bertempat di beberapa provinsi dan negara. Bertemu dengan hal-hal yang baru membuatku lebih banyak diam. Tidak ada kesan waktu yang lama saat aku berpindah-pindah tempat. Sudah ku katakan bukan? Aku sulit untuk beradaptasi. Dalam 1 tahun pun aku belum tentu takluk terhadap mereka. Aku lebih menyukai duniaku sendiri daripada berkumpul dengan mereka semua.

Dan sekarang, di sinilah aku. Menginjakkan kaki di tanah Ginseng, Seoul, Korea Selatan. Beruntungnya kedatangan ku di sini bertepatan dengan musim dingin. Perlu kalian tahu, aku sangat membenci musim panas. Alasannya simpel, kulitku akan memerah jika tersengat sinar matahari yang berlebihan. Dan itu membuatku harus memakai baju lengan panjang dengan masker yang menutupi sebagian wajahku. Sayangnya, itu bukanlah modelku.

Hari ini, aku berpikir aku akan menjalani hari-hari seperti biasa. Dimana aku hanya akan duduk diam di dalam kelas di temani dengan novel-novel fantasy kesukaanku.

Aku tidak pernah ingat kapan terakhir kali hari sial datang kepadaku. Rasanya tidak pernah. Toh, aku lebih sering diam tanpa mempunyai masalah dengan siapapun. Dan sialnya! Itu semua menimpaku. Tepat di hari pertama aku menginjakkan kakiku di sekolah. Kesalahan yang tidak aku sengaja. Hanya sebuah kesalahan kecil namun bisa membawaku ke dalam hukuman yang besar.

Damn! Aku membenci laki-laki itu!

~

Byuurr!!

1cup Vanillaku terjatuh di lantai. Pagi ini moodku begitu buruk sampai membuatku menghempaskan nafasku dengan kasar.

Aku yang ingin marah. Tapi, ketika melihat sosok pria di depanku, dengan kaos V neck putih yang telah basah dan berubah warna menjadi agak menua. Di tambah dengan tetesan air Vanilla yang mengalir di setiap lekuk wajahnya.

Apa ini termasuk kesalahanku?

“Kau.. Tidak apa-apa?” Tanyaku hati-hati. Lelaki itu memejamkan matanya sejenak, lalu terbuka dan melayangkan tatapan tajam pada diriku. Baiklah, kurasa ini adalah kesalahan yang tidak ku sengaja.

Aku merasa mati kutu. Berdiam diri dengan perasaan yang kikuk. Aku yakin lelaki di depanku ini pasti jengkel, atau lebih tepatnya dengan emosi yang meluap? Habislah kau Lena-ya..

“Kau tidak meminta maaf?”

Lelaki itu akhirnya membuka suara. Aku yang masih merasa mati kutu hanya tersenyum kecut. Aku membungkukkan badanku sembari mengucapkan permohonan maaf padanya.

“Maaf. Maafkan aku.” Ujarku dengan nada yang bergetar. Takut? Ya, aku memang takut. Ini adalah pertama kali dalam hidupku melakukan suatu kesalahan yang tidak ku sadari.

“Segampang itu kau meminta maaf?”

Apa dia bilang? Perkataannya membuatku mengernyitkan dahi. Apalagi maunya? Bukankah dia yang menyuruhku untuk meminta maaf?

“Di jaman sekarang, perkataan maaf tidaklah cukup Nona.”

Aku cukup geram mendengar nada angkuhnya. Bahkan aku semakin muak ketika ia langsung melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengintimidasi diriku dengan tatapan tajamnya. Hey! Aku tidak melakukan kesalahan yang cukup besar.

“Apa perlu aku membelikan baju yang sama sepertimu, Tuan?”

Well, sekarang aku tidak peduli jika ia semakin marah ataupun jengkel padaku. Aku juga tidak terima sisi perlakuannya terhadapku yang semena-mena. Ku lihat ia melakukan hal yang sama seperti diriku tadi, menghempaskan nafasnya ke udara dengan kasar. Tapi, matanya seolah-olah tidak pernah teralih untuk tidak melihatku.

“Jika kau tidak ingin kesialan mengikutimu setiap hari. Kau hanya perlu datang ke danau yang ada di belakang sekolah, tepat pada pukul 5 sore.”

Mungkin, aku harus mengalah. Ya, aku harus mengalah untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku padanya. Meskipun, aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku besok.

~

Apa yang kalian pikirkan untuk kejadian besok? Oh, jangan sampai kalian menduga bahwa pria itu akan menjadikanku kekasihnya seperti di film-film.

Apa ia akan memukulku?? Kalian tahu, aku sering mendengar bahwa pria tidak pantas memukul seorang gadis. Jika ia sampai memukulnya, maka ia bukanlah seorang pria sejati. Ah, lupakan saja. Aku tidak mengerti bagaimana aku mendapatkan teori itu yang hanya beredar dari mulut ke mulut.

Tapi, rasanya juga tidak wajar jika ia harus memukulku hanya karena insiden siang tadi. Faktanya aku tidak melakukan kesalahan fatal, dan seharusnya ia bisa memaafkanku. Namun,… Hah! Sudahlah.

Memikirkan kejadian tadi membuat kepalaku sedikit pening. Aku merebahkan sekaligus merenggangkan otot-ototku di atas kasur. Aku menatap langit kamar, rasanya aku seperti sedang menghadapi ujian yang besar. Jantungku berdebar-berdebar untuk menyambut senja esok.

Aku hanya bisa berpikir positif dan berharap jika esok semuanya akan menjadi lebih baik.

To Be Continue…

Advertisements

One thought on “[Fiction] Bad Day – Drabble Series

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s