Stay in My Heart [Chapter 1]

STAY IN MY HEART

Main Cast:

Choi Sulli | Choi Minho | Choi Sooyoung | Kim Junmyeon

Other Cast:

Find out by yourselves

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Angst

Rating: PG – 13

Length: Multichapter

Enjoy my fanfiction

Sorry for typos, Leave Comment/ like/ vote please…

Brukk!

Seorang yeoja melempar tasnya begitu saja tanpa peduli tasnya akan baik-baik saja atau tidak. Dengan menggenggam ponsel yang menempel di teling kirinya, yeoja itu terus saja berceloteh.

“Ah, ne oppa. Aku dan Sooyoung eonni akan segera ke sana setelah menyelesaikan urusan ini. Annyeong…” Sulli menutup telponnya lalu mencari eonni-nya yang pergi entah kemana. “Eonni! Neo eodiseo? Yaak, Sooyoung eonni! Jangan kemana-mana dulu. Ada yang ingin aku sampaikan.” Sulli mencari Sooyoung di seluruh penjuru rumah. Hasilnya nihil. “Kemana Sooyoung eonni? Apa mungkin ada yang menculiknya? Tapi siapa juga yang mau menculiknya?” Sulli berbicara sendiri sambil menyiapkan tas ranselnya.

“Yaak Sulli-a!” panggil Sooyoung yang sudah berdiri di samping Sulli.

“Omo! Eonni, kau selalu mengagetkanku. Aku bisa jantungan. Oh ya eonni, dari tadi aku tidak melihat appa.”

“Appa di ruang kerjanya. Kau mau ke mana?”

“Nega? Busan.” Sulli tersenyum senang. “Eonni, kau juga harus ikut.”

“Mwo?”

“Aku telah berjanji pada Junmyeon oppa kalau kita akan ke sana. Jadi cepatlah bersiap-siap, eonni.”

“Mworago? Yaak, kau menjengkelkan sekali. Memangnya mau ke sana naik apa? Kita kan tidak bisa nyetir mobil.”

“Ah, iya. Itu semua karena appa yang tidak membiarkan kita.belajar menyetir. Aish menyebalkan sekali. Zaman sekarang tidak bisa menyetir, ah, benar-benar memalukan.” Sulli sedang berpikir keras. “Ah, aku punya ide. Naik bus, Eonni.”

Akhirnya Sulli dan Sooyoung pergi ke Busan naik bus. Mereka berdua tidak pernah diizinkan belajar menyetir. Meskipun memiliki banyak mobil, bagi Sulli dan Sooyoung sama saja tidak punya mobil. Alhasil, angkutan umumlah yang selalu mengantar kemana pun mereka pergi.

“Appa menyebalkan sekali.” Sooyoung menyeleksi barang-barangnya yang akan dibawa ke Busan.

“Eonni, mungkin appa tidak ingin kita celaka.” Sulli baru saja memasukkan berbagai macam barangnya ke dalam koper kecil miliknya.

“Tapi bukan seperti itu caranya, bukan dengan tidak mengizinkan kita belajar mengendarai mobil. Kalau begini kita sendiri yang repot.”

“Kau benar, Eonni.” Sulli manggut-manggut membenarkan ucapan eonni-nya.

“Ah, kau ini selalu loading lama.”

“Berapa jam perjalanannya, Eonni?”

“Nan mollaseoyo… Sudahlah, ayo cepat. Kau lelet sekali, Sulli-a.”

“Bukankah aku sudah selesai berkemas dari tadi… Ah eonni selalu saja mengerjaiku,” gerutu Sulli.

Sooyoung dan Sulli tiba di terminal Seoul, menunggu bus yang akan membawa mereka ke Busan. Sulli adalah tipe orang yang tidak sabaran apalagi harus menunggu lama. Sudah 30 menit mereka duduk manis di ruang tunggu namun bus nya belum waktunya berangkat.

“Aiish, aku sudah jamuran di sini, eonni.” Sulli berkeluh.

“Jika saja aku ini pohon, aku malah sudah tumbuh, berdaun lebat dan berbuah, sangking lamanya,” sahut Sooyoung.

10 menit kemudian mereka berdua berangkat dengan bus yang lama ditunggu di terminal. Cukup banyak penumpang di dalam bus itu. Kebanyakan dari mereka adalah yeoja paruh baya yang mungkin ingin menguunjungi sanak keluarga di Busan.

Sampai di Busan.

Sulli dan Sooyoung merasa agak sangsi. Apa benar mereka sudah sampai di Busan? Apa ternyata kota Busan memang seperti itu? Akhirnya Sulli memutuskan untuk menghubungi Junmyeon dan memintanya untuk menjemput di terminal. Tak memakan waktu lama, bus yang mereka tumpangi tiba di terminal. Sulli dan Sooyoung sempat bingung kemana mereka harus melangkah, karena jujur saja, ini kali pertamanya mereka menginjakkan kaki di kota Busan.

Setelah berjalan kesana kemari, akhirnya kakak beradik itu menemukan ruang tunggu yang terlihat ramai. Sulli mencari tempat duduk. Sedangkan Sooyoung membawa barang bawaan mereka berdua.

“Eonni, kita tunggu oppa di sini.”

Sooyoung hanya menuruti yeodongsaengnya. Ia memang tipe orang pendiam dan cuek. Berbeda dengan Sulli yang sedikit lebih cerewet. Tapi pada dasarnya mereka sama-sama pendiam. Menurut Sulli, jika mereka sedang bersama maka salah satu harus aktif bicara. Kalau tidak, pasti akan saling diam seperti sedang gencatan senjata.

Satu jam lebih mereka menunggu. Sulli tertidur di bangkunya. Sedangkan Sooyoung lebih memilih ber-sns dengan teman-temannya. Senyum-senyum sendiri, ngomong sendiri, dan meluapkan ekspresi lainnya hingga banyak yang menatap aneh padanya.

“Sooyoung-a!” panggil seseorang.

Merasa namanya dipanggil, Sooyoung langsung menoleh ke arah kanannya. Ternyata Junmyeon sudah datang.

“Eoh, oppa. Kau sudah datang.”

“Ah, ne. Mian lama menunggu. Mobilku tadi mengalami sedikit kecelakaan saat menuju kemari.”

“Neo gwaenchana?” tanya Sooyoung yang terus memperhatikan Junmyeon.

“Gwaenchanayo. Yang terluka bukanlah aku, tapi mobilku.” Junmyeon tersenyum karena telah berhasil membuat yeoja yang berdiri di depannya tersenyum. “Dimana Sulli?”

“Dia tidur.” Sooyoung menunjuk ke arah Sulli yang sedang tidur di bangkunya.

“Aish, dasar tukang tidur!” seru Junmyeon yang sengaja mengeraskan suaranya agar Sulli bangun. Namun hasilnya nihil.

“Biar aku saja yang membangunkan.”Sooyoung mendekatkan wajahnya ke wajah Sulli.

“Sulli-a, jika kau tidur terus, akan ada orang psikopat yang membawamu.”

Spontan Sulli bangun dari tidurnya. Wajahnya benar-benar lucu saat bangun. Hal itu menbuat Junmyeon tertawa terbahak-bahak.

“Junmyeon oppa, kau sudah di sini?”

“Eoh. Wae? Keunde, kenapa hanya Sooyoung yang bisa membangunkanmu, Sulli-a?”

“Molaseoyo..” Sulli merapikan rambut panjangnya.

“Jika Sooyoung tidak membangunkanmu, pasti sudah ada psikopat yang akan membawamu.”

“Aish, menyebalkan! Eonni, kau pintar sekali selalu berhasil membangunkanku.”

“Yaak, sudah berapa tahun kau jadi adikku, eoh? Pabo…”

“Hehe eonni, kalau kau marah nanti cepat tua.”

Tak berapa lama kemudian Sulli, Sooyoung dan Junmyeon meluncur ke apartemen Junmyeon dan saudaranya, Tiffany Hwang.

Sementara itu di tempat lain, seorang namja muda tengah disibukkan dengan kegiatan meeting yang sudah menjadi kegiatannya sehari-hari. Namja itu merupakan putra tunggal seorang chaebol di Busan. Namja keturunan Korea tulen itu kadang terlihat menyedihkan karena merasa kesepian. Kesehariannya hanya disibukkan dengan lembaran kertas dan uang. Berpikir dan hanya berpikir.

“Eoh, Minho hyung, neo eodikka?” tanya Baekhyun yang baru saja tiba di kantor Minho, tapi Minho malah ingin meninggalkan kantor. “Bukankah saat ini tidak ada meeting?” Namja yang diajak bicara tak menghiraukan. Akhirnya Baekhyun mengikuti kemana Minho pergi.

“Oppa, kenapa kau ngebut sekali?” tanya Sulli yang takut terjadi apa-apa jika Junmyeon nengendarai mobilnya terlalu cepat.

“Oppa, sebaiknya kurangi kecepatanmu,” timpal Sooyoung yang sama takutnya dengan Sulli.

“Yaak, oppa, aku belum memiliki namjachingu, kalau terjadi apa-apa pada kita bagaimana?” Sulli terus saja mengoceh.

“Kalian tenang saja. Duduk dan diam lebih baik. Tidak akan terjadi…” Junmyeon belum selesai bicara tiba-tiba ia dikagetkan dengan keberadaan mobil yang melaju santai tepat di depannya.

“Oppaaaaa!!” teriak Sulli dan Sooyoung bersamaan.

Junmyeon mengerem dengan sangat hati-hati agar mobilnya tidak terbalik. Bagian depannya berhasil menggores mobil mewah yang ditabraknya.

“Aigoo, siapa yang berani menjalankan mobilnya sebegitu cepatnya di daerah ini?” Baekhyun kesal karena dia dan Minho hampir ditabrak mobil yang melaju cukup kencang. “Hyung, aku lihat mobilmu dulu.”

Minho hanya diam saja. Baginya mobil yang tergores bagian depannya tidak masalah karena mobilnya yang lain masih banyak.

Junmyeon turun dari mobil, diikuti Sulli dan Sooyoung yang masih gemetaran karena takut kecelakaan.

“Waah, oppa, ini benar-benar mobil mewah,” ungkap Sulli yang masih.menatap mobil Lamborghini di depannya.

“Eoh,” jawab Junmyeon singkat.

“Yaak, siapa yang menyetir mobil itu!” teriak Baekhyun yang menunjuk mobil Hyundai milik Junmyeon.

“Tamatlah riwayat kita…” lirih Sooyoung.

Sulli menggigit bibir bawahnya. “Oppa…”

“Tenanglah…” lirih Junmyeon.

Baekhyun melihat goresan parah bekas tabrakan tadi. “Yaak, ige mwoya?! Kalian, apa kalian tidak tau kalau ini mobil mahal, eoh?” Baekhyun pun mengelus bagian mobil Minho yang tergores itu.

Sulli merasa tersinggung atas ucapan namja yang berpakaian resmi dengan setelan jasnya itu. Dengan nada yang tidak kalah tinggi, Sulli berseru, “Ahjussi! Kau tidak perlu berteriak seperti itu! Mata kami masih normal. Jadi tidak perlu kau tunjukkan kalau tlitu mobil mewah!” Baekhyun malah melotot karena dipanggil ‘ahjussi’ oleh Sulli yang umurnya tidak jauh lebih muda darinya.

“Ahjussi?” Baekhyun tambah kesal.

“Yaak, Sulli-a, keumanhae.” Sooyoung menyenggol lengan Sulli untuk menyuruhnya berhenti bicara. Sooyoung harap-harap cemas

“Mianhamnida,” ucap Junmyeon lirih dengan gerakan membungkuk.

“Mian? Hanya itu?” Baekhyun semakin marah.

Melihat pemandangan beberapa orang yang berdiri di depan mobilnya membuat Minho akhirnya keluar dari mobil.

“Baekhyun-a, keumanhae.” Minho menepuk pundak Baekhyun dan menyuruhnya kembali ke mobil. Ketika Minho hendak menatap Junmyeon, tiba-tiba matanya bertemu pandang dengan Sulli. “Maafkan perkataan temanku tadi. Kau tidak usah mengganti apapun. Aku tidak apa-apa,” kata Minho dengan datar.

“Hyung!”

“Baekhyun-a, kajja!” Minho kembali ke mobilnya begitu juga Baekhyun. Kemudian mobil itu menjauh dari ketiga orang yang masih terpaku di pinggir jalan.

“Ige…” Sulli berdecak kesal.

“Kenapa yang marah malah temannya? Sedangkan pemilik mobil hanya diam saja.”

“Kalian tahu siapa mereka?” tanya Junmyeon datar.

“Anhi,” jawab Sulli.

Pemilik mobil itu adalah putra dari chaebol terkaya di Busan.

“Nde??” seru Sulli dan Sooyoung bersamaan.

“Omo…

Sesampainya di apartemen Junmyeon, mereka disambut oleh Tiffany, saudara Junmyeon. Sulli memuji apartemen itu karena barang-barangnya sederhana tapi tertata dengan sangat rapi. Pada sore harinya, Sulli, Sooyoung, Junmyeon dan juga Tiffany menikmati makan malam di ruang makan. Tiffany yang memasaknya. Lagi-lagi Sulli memuji sesuatu. Ia menyukai masakan Tiffany. Lain kali, mereka harus makan masakan Sulli karena Sulli hobi memasak.
Keesokan harinya, Sulli ikut Tiffany membeli kebutuhan dapur di pasar tradisional. Sulli yang belum pernah ke pasar heran melihat para pedagang yang berjualan di sana banyak sekali.
“Waah, daebak! Ternyata pasar tradisional seperti ini. Aku baru tahu.” Sulli tak henti-hentinya mengamati sekelilingnya. “Eonni, kau mau belanja apa saja?”

“Kau ingin tahu? Lihat saja nanti.” Tiffany meminta Sulli terus mengikutinya, kalau tidak, yeoja itu pasti akan tersesat.
Setelah berbelanja dengan Tiffany, Sulli dan Sooyoung membantunya menyiapkan makan siang. Mereka jarang membeli makanan di luar karena memang untuk berhemat, mengingat Junmyeon dan Tiffany tidak mempunyai keluarga lagi. Saat makan malam, Sulli banyak bercerita tentang kuliahnya dan ternyata mendapat perhatian dari Tiffany dan Junmyeon. Hal itu membuat Sooyoung merasa risih karena sebenarnya Sooyoung suka sama Junmyeon namun tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan Junmyeon tidak menyadari hal itu.

Suatu malam, saat semua berkumpul menonton tv, Sulli dan Junmyeon bermain kartu. Mereka terlihat asyik dengan kegiatan itu. Lagi-lagi Sooyoung merasa sakit di hatinya. Ia berusaha menghibur diri dengan menonton acara reality show bersama Tiffany.

Hari ini Junmyeon tidak pergi bekerja, ia mendapat jatah libur satu hari dari perusahaan. Hal ini membuat Sooyoung merasa senang karena dia dapat menikmati waktu bersama Junmyeon.
“Mumpung  masih di sini, aku ingin jalan-jalan sepuasnya. Oppa, ayo kita jalan-jalan,” ajak Sulli yang mendapat respon positif dari Junmyeon. Apapun yang Sulli minta, Junmyeon segera memenuhinya. “Eonni, ayo, kau harus ikut,” ajak Sulli pada Sooyoung yang asyik menonton acara tv.

Sore itu Sulli, Junmyeon, dan Sooyoung pergi ke taman kota untuk mencari udara segar dan mencuci mata dengan pemandangan yang indah. Tidak hanya menonton tv di rumah. Mereka bertiga berfoto selca bersama, makan es krim, makan teokbokki dan bersenda gurau.
Andai saja hanya Sooyoung dan Junmyeon yang melakukan kegiatan asyik itu, pikir Sooyoung. Saat berjalan di pinggir taman, tiba-tiba kaki Sulli terkilir. Hal itu menyebabkan ia harus berjalan dengan tertatih-tatih. Karena hari sudah malam, akhirnya Junmyeon berinisiatif menggendong Sulli di punggungnya. Mereka berdua bercanda dan tertawa bersama, seakan lupa bahwa di sana maish ada Sooyoung. Sooyoung yang berjalan di belakang, melihat mereka berdua dengan sedih. Hatinya pilu. Hingga tak terasa airmata bergulir keluar dari mata indahnya.
“Eonni, kenapa jarakmu jauh sekali? Palli palli, eonni!” teriak Sulli yang menoleh ke belakang melihat eonni-nya. Secara tak sengaja, ia melihat Sooyoung menangis. Ada apa dengan eonni? tanya Sulli dalam hati. “Oppa, kita istirahat sebentar di sini ya. Kau pasti lelah karena menggendongku. Oppa, maukah kau membelikan kopi untuk eonni? Kasihan eonni kedinginan.”

“Araseo. Kalian tunggu di sini.” Junmyeon berjalan menuju mini market terdekat dari tempat itu. Ia berjalan semakin menjauh untuk membeli pesanan Sulli.
Sulli mendekati Sooyoung. Dia bingung, kenapa eonni-nya tiba-tiba terlihat muram? “Eonni, apa kau sakit? Kenapa wajahmu terlihat musam? Kau kedinginan?” tanya Sulli.
Sooyoung mendongakkan kepalanya. Sulli syok melihat eonni-nya.

“Eonni, waegurae?”

Sooyoung mendongakkan kepalanya. Kini tampak jelas airmatanya mengalir semakin deras. Sulli kaget melihat eonni-nya menangis.

“Eonni, waegurae? Apa yang terjadi?” tanya Sulli yang hampir ikut menangis.

Sooyoung belum menjawab. Dia menatap tajam pada Sulli yang berdiri di depannya.

“Neo… Nappun yeoja!” cela Sooyoung pada Sulli.

Deg.

Sulli bingung dengan situasi ini. Apa yang telah diperbuatnya sehingga Sooyoung mengatakan hal itu padanya.

“Kenapa kau melakukan itu, eoh? Kenapa kau dekat dengan Junmyeon? Kenapa dia lebih memilih dekat denganmu daripada aku? Apa kau ingin balas dendam?” tanya Sooyoung dalam tangisnya.

Jantung Sulli berdetak semakin cepat. Apa yang terjadi pada eonni-nya?

“Eonni, apa maksudmu? Balas dendam apa?”

“Choi Sulli, apa kau ingin balas dendam padaku karena appa lebih sayang padaku? Apa ini yang kau gunakan untuk balas dendam? Kau mendekati namja yang aku cintai. Apa sekarang kau sudah puas, eoh?”

“Eonni, apa maksudmu namja itu Junmyeon oppa?” Sulli kaget mendengar pengakuan Sooyoung. Jujur, sebenarnya ia pun mencintai Junmyeon yang sangat baik padanya. “Eonni, aku tidak pernah ingin balas dendam padamu. Meskipun appa lebih sayang padamu, menyekolahkanmu hingga ke luar negri, memberikan fasilitas padamu yang tidak aku punya, aku tetap menyayangimu sebagai eonni-ku. Tak peduli seberapa sayangnya appa dan eomma padamu dan juga padaku, aku tetap menyayangi keluargaku meski aku… Meski aku mungkin tidak kalian harapkan di keluarga kita…” Sulli menangis. Hatinya pun terluka mengingat perlakuan orangtuanya yang pilih kasih. “Jika kau mencintai Junmyeon oppa, ambillah eonni. Ambillah jika itu yang kau inginkan. Ambillah semua orang yang aku sayangi dariku, eonni. Asalkan kau tidak membenciku.” Sulli mengusap airmatanya lalu pergi menjauh dengan tertatih-tatih.

Minho yang sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, mampir sejenak di taman kota. Ia ingin refreshing sebentar karena seharian bergelut dengan dokumen di kantor. Saat ingin mencari tempat Choiir untuk mobil mewahnya, ia melihat seorang yeoja yang sednag berjalan tertatih-tatih. Setelah menemukan tempat Choiir, Minho segera menghampiri yeoja itu yang kini berhenti sejenak untuk beristirahat. Yeoja itu tidak lain adalah Sulli yang tengah dirundung kegalauan karena secara tidak sadar ia telah menyakiti eonni yang sangat ia sayangi. Minho mendekati Sulli yang meneteskan airmata. Bukankah yeoja itu yang pernah beradu mulut dengan Baekhyun? Kenapa dia sendirian di sini? Kenapa dia menangis?

Sulli bangkit untuk melanjutkan perjalanannya kembali ke apartemen. Ia sengaja memisahkan diri dari Junmyeon dan Sooyoung. Hatinya telah sakit karena ucapan Sooyoung tadi. Saat hendak berjalan tiba-tiba kakinya terasa kaku. Akhirnya Sulli menghentikan langkahnya dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Bagaimana ia bisa sampai ke halte jika kakinya sakit seperti ini. Sulli terduduk lemas, ia memijat kakinya yang terkilir.

“Jeogi, kau kenapa?” tanya Minho memberanikan diri menyapa Sulli.

Sulli mendongakkan kepalanya. Ia merasa tidak asing melihat seorang namja yang berdiri di depannya itu. Ketika dia ingat bahwa namja itu pemilik mobil mewah yang pernah ditabrak Junmyeon, ia terpana.

“A, anhiya. Nan gwaenchana.”

“Kakimu kenapa?”

“Tadi terkilir saat menuruni trotoar di pinggir taman. Bukankah kau pemilik mobil mewah yang kemarin?” tanya Sulli dengan polos.

“Ah, ne. Kebetulan saat aku memarkirkan mobilku, aku melihatmu berjalan tertatih-tatih. Kau mau kemana?”

“Aku mau pulang.”

“Dengan keadaan seperti ini?” tanya Minho.

Sulli  mengangguk. Mau bagaimana lagi, apakah dia harus menginap di taman, kan tidak mungkin.

Minho mengantar Sulli sampai di halte. Sebenarnya Minho menawarkan diri mengantar Sulli sampai apartemen, tapi Sulli menolaknya.

Keesokan malamnya, Sulli bersiap keluar untuk mencari udara segar dan menenangkan pikirannya.

“Kau mau kemana dengan dandanan seperti itu?” tanya Tiffany.

“Eoh, eonni, aku ingin jalan-jalan sebentar. Mataku ini cepat bosan.”

“Mau aku temani?” tawar Junmyeon yang baru selesai mandi.

“Anhiya. Aku bisa keluar sendiri.” Sulli melirik Sooyoung yang terpaku di depan layar tv. Sulli memakai sepatunya kemudian ia berbalik. “Ada yang mau nitip sesuatu?” tanyanya pada ketiga orang di dalam apartemen itu.

“Belikan teokbokki untukku,” seru Sooyoung. Akhirnya dia mau buka suara.

Sulli berjalan menyusuri jalanan kota Busan. Langkahnya dituntun menuju minimarket terdekat. Dia membeli beberapa kaleng cola dan tak lupa membeli biskuit. Kemudian pergi ke halte naik bis ke taman kota. Sampai di taman kota, Sulli membeli beberapa cangkir kopi dan masuk ke dalam taman.

Tak terasa airmatanya jatuh membasahi wajah cantik itu. Sulli yang duduk di bangku taman sendirian, mengingat peristiwa semalam. Meski hubungannya dengan Sooyoung menjadi renggang, ia tak ingin membenci eonni-nya.

“Eonni…” Hatinya terasa sangat sakit. Orang-orang yang ia sayangi kini telah diambil eonni-nya sendiri. “Saranghae eonni. Saranghae Sooyoung eonni….” Sulli makin larut dalam tangisnya. Setelah menghabiskan beberapa kaleng cola dan beberapa kopi, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke apartemen. Namun sebelum itu, ia ingin membeli teokbokki pesanan Sooyoung.

Semakin malam, jalan raya semakin sepi. Banyak pengendara yang mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Saat hendak menyeberang ke warung pinggir jalan yang menjual teokbokki, tiba-tiba Sulli dikagetkan oleh teriakan seorang yeoja yang hampir ditabrak sepeda motor. Beruntung Sulli dapat menarik yeoja itu ke pinggir jalan. Namun naas, saat hendal kembali menyeberang, Sulli tertabrak sebuah mobil box yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya terpental 10 meter dari lokasi kejadian. Orang-orang yang berjalan di sekitar TKP berteriak histeris melihat tubuh Sulli yang terkapar dengan darah mengalir deras dari tubuh yeoja cantik itu.

Minho yang sedang dalam perjalanan pulang, dikagetkan oleh kerumunan orang di tengah jalan. Dengan terpaksa ia turun dari mobil untuk meminta orang-orang itu menyingkir. Saat berjalan ke arah kerumunan, ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Sebuah ponsel yang sudah hancur. Lalu pandagannya dialihkan ke pusat kerumunan dan perlahan mendekati orang-orang itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia melihat yeoja yang dicarinya kini tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah.

Tanpa diminta, Minho segera mengangkat tubuh Sulli dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

Tiba di rumah sakit, Sulli langsung dibawa ke ruang operasi. Minho yang tampak sangat cemas menunggu di depan ruang operasi tak menghiraukan kemejanya yang kotor berlumuran darah Sulli. Operasi sudah berjalan satu jam tapi belum juga selesai.

Minho pov

Oh Tuhan… Tolong selamatkan dia, jagalah dia, kasihanilah dia. Ambillah sesuatu dariku untuk menyelamatkan dia.

Hatiku terasa ngilu melihat yeoja itu tak sadarkan diri dengan berlumuran darah. Pelaku yang menabraknya harus segera ditangkap dan dihukum sebagaimana mestinya. Langsung kuraih ponselku di saku celana. Kutekan nomor pengacaraku. Aku memintanya untuk segera menangani kasus kecelakaan ini. Setelah itu aku melaporkannya ke polisi dengan membawa beberapa orang saksi dan bukti yang ku dapat dari seseorang yang bersedia menolongku.

Aku masih berdiri di depan ruang operasi. Semua urusan tadi kuselesaikan dengan bantuan beberapa orang.

Operasi belum selesai. Kenapa lama sekali? Apa lukanya sangat parah?  Ah, aku tidak sanggup mengingat kronologi kejadian dari seorang yeoja yang bersedia menjadi saksi. Katanya sebelum kecelakaan itu, gadis yang kini sekarat telah menolongnya yang hampir tertabrak sepeda motor. Kini malah dirinya yang ditabrak oleh entah siapa pelakunya.

Minho pov end.

Di apartemen.

Kenapa Sulli belum pulang? Batin Sooyoung yang mondar mandir di dalam kamar.

“Sooyoung-a, apa ini dompet Sulli?” tanya Tiffany yang baru saja memberesi sofa depan tv.

Sooyoung keluar, ia melihat dompet Sulli utuhh. Hanya uangnya yang berkurang beberapa lembar. Ia tahu berapa uang yang dimiliki Sulli karena memang dialah yang memberikan uang pada dongsaengnya itu.

“Kenapa Sulli tidak membawa dompetnya?” tanya Tiffany.

“Dia terbiasa dengan membawa uang di sakunya, eonni. Dompetnya sering ditinggal. Keunde, kenapa dia belum kembali. Ini sudah larut malam. Apa dia lupa jalan pulang…” Sooyoung meremas dompet Sulli karena terlalu cemas pada dongsaengnya.

“Sudah terlalu larut malam. Ponselnya tidak aktif. Aku merasa tidak enak…” Junmyeon berusaha berpikir kira-kira dimana Sulli berada.

Sooyoung merasa bersalah. Apa mungkin Sulli sengaja tidak kembali karena ia mengira banyak yang tidak menginginkan keberadaannya. Oh Tuhan, selamatkan Sulli-ku, pintanya pada Tuhan, dalam hati.

Sementara itu, di rumah sakit, Minho diserang kantuk yang amat berat. Tubuhnya lemah karena terlalu lelah bekerja dari pagi sampai malam. Ia terduduk lemas menunggu dokter keluar dari ruang operasi. 3 jam ia menunggu hasil operasi akhirnya para dokter keluar.

“Dokter, bagaimana hasil operasinya?”

“Syukurlah operasinya berjan lancar. Kami sangat salut pada pasien. Tubuhnya memang lemah, tapi tekadnya untuk hidup cukup tinggi. Dia mengalami beberapa patah tulang. 2 tulang rusuknya patah, tulang pahanya nyaris patah, lalu tulang selangka mengalami keretakan parah. Hingga saat ini kondisinya masih koma. Jika dalam 2×24 jam ia sadarkan diri, berarti harapannya untuk hidup sangat besar. Namun saat ini kemungkinan hidupnya hanya 30% mengingat luka lain yang diderita pasien. Kami harap anda dapat bersabar. Semoga pasien segera sadar.”

“Gamsahamnida, dokter.”

….

Junmyeon dan Sooyoung mencari Sulli kemana-mana. Sudah berjam-jam mereka mencari Sulli. Sooyoung tak berhenti meneteskan airmata.

“Tenanglah, Sooyoung-a.”

“Oppa, apa yang aka kau lakukan jika di posisiku? Jika Sulli tidak kembali, akulah penyebabnya. Perasaanku tidak enak. Jika dia hanya pergi ke suatu tempat, mungkin aku bisa membujuknya kembali. Tapi jika terjadi sesuatu padanya, apa yang harus aku lakukan?” Sooyoung terduduk lemas di depan warung teokbokki.

Junmyeon berusaha menanyai beberapa orang di sana. Tiba-tiba penjual teokbokki mengatakan bahwa tadi sekitar jam 9 malam terjadi kecelakaan, sebuah mobil box yang menabrak seorang yeoja cantik yang hendak menyeberang.

Sooyoung lemas. Dia tidak sanggup lagi berdiri. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Sulli pada penjual teokbokki itu. Penjual itu membenarkan bahwa yeoja itulah yang tertabrak mobil box.

Bagai disambar petir, Junmyeon dan Sooyoung sangat terpukul. Sooyoung mengeluarkan airmatanya yang makin deras.

“Sulli-a” lirihnya.

Penjual itu pun mengatakan bahwa ada seorang namja yang segera membawa Sulli ke rumah sakit. Mungkin ia membawanya ke rumah sakit terdekat. Junmyeon segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat tapi hasilnya nihil. Pasien itu sudah dirujuk ke rumah sakit besar karena mengalami luka yang sangat parah.

Sulli dibawa ke rumah sakit terbaik di Korea yang terletak di kota Seoul. Malam itu juga para tim medis dan Minho mendampingi Sulli menuju Seoul. Minho tampak kacau. Seorang tenaga medis memberikannya satu stel pakaian karena pakaian Minho kotor terkena darah. Penampilannya pun acak -acakan.

2 tahun kemudian.

Sulli yang baru saja bisa berjalan lagi, kini sedang menikmati pemandangan sungai Han dengan seorang namja yang tidak lain adalah Minho. Mereka terlihat bahagia meski Sulli masih kehilangan ingatannya.

Karena Sulli merasa bosan di rumah sendirian setiap hari, akhirnya Minho pun mengizinkan Sulli untuk bekerja sebagai asistennya. Agar ia tak jauh dari Minho dan Minho pun dapat menjaga Sulli sepanjang hari. Orangtua Minho tidak keberatan menampung Sulli yang masih hilang ingatan itu untuk tinggal di rumahnya. Mereka malah merasa senang karena merasa memiliki anak perempuan.

“Oppa, kenapa acara meeting dengan Choi Corporation dibatalkan?” tanya Sulli yang masih memeriksa berkas laporan yang baru saja ia kerjakan.

“Awanya meeting itu diadakan untuk.membahas bisnis kosmetik, tapi Choi Corporation menariknya dan mengganti dengan bisnis apartemen. Au rasa mereka perlu memikirkan hal ini dengan matang sebelum meeting dengan perusahaan kita. Apa laporannya sudah selesai?” Minho meminta laporan dari Sulli. “Sulli-a, kenapa kau mau menyelesaikan laporan ini?” tanya Minho.

“Aku senang melakukannya, oppa. Kau memberikan kemudahan bekerja padaku. Jadi aku juga harus membantu memudahkan pekerjaanmu.” Sulli mengeluarkan senyum termanisnya yang berhasil membuat Minho semakin terpikat.

Hari ini Sulli dan Minho kembali ke Busan untuk menghadiri pernikahan sepupu Minho. Setelah acara itu selesai, mereka ingin berkeliling kota Busan karena beberapa bulan terakhir mereka disibukkan dengan kegiatan kantor.

“Oppa, tempat ini…” tiba-tiba Sulli memegang kepalanya. Bayang-bayang saat ia menangis sendirian di taman itu muncul perlahan yang membuat lepalanya terasa sangat sakit.

Minho yangmelihat Sulli memegang kepalanya dan kesakitan sangat khawatir.

“Sulli-a, gwaenchana?”

“Ah, appo…”

“Jangan kau paksakan, Sulli-a. Jangan kau paksakan untuk mengingatnya jika terasa sangat sakit.” Minho memeluk Sulli yang masih memegang kepalanya.

Di tempat lain, Sooyoung sibuk mengurus bisnis kerja samanya dengan perusahaan China di bidang kosmetik. Setelah menarik bisnis ini dari XLH Corporation, ia yakin bahwa bekerja sama dengan perusahaan China itu lebih menguntungkan. Sedangkan kerjasamanya dengan XLH Corporation telah diganti dengan bisnis di bidang apartemen meskipun masih pending.

“Sooyoung-a, istirahatlah.” Junmyeon meminta Sooyoung untuk segera istirahat.

“Gwaenchana, oppa.”

Sooyoung belum menyatakan perasaannya. Ia tak berani menyatakannya sebelum Sulli benar-benar kembali. Karena rasa egoisnya, Sulli hilang sampai sekarang.

“Oppa, Minho oppa! Neo eodiseo?” Sulli mencari Minho karena ingin mengajaknya jalan-jalan lagi sebelum kembali ke Seoul.

“Kau mencariku?” Terdengar suara Minho dari kejauhan.

Sulli terkejut melihat penampilan Minho yang sangat sangat tampan dan keren.

“Waaah daebak! Minho oppa tampan sekali.”

“Annyeoooong…” Baekhyun datang dengan pakaian yang sama kerennya dengan Minho.

“Yaak, Baeki oppa, neo eodikka?”

“Rahasia.” Baekhyun memasang senyum lebar hingga barisan giginya kelihatan.

Sulli merasa curiga pada kedua namja itu.

“Yaak yaak, ada apa dengan ekspresi itu?” seru Baekhyun yang telah sadar bahwa Sulli menatapnya tajam.

“Apa kalian mau pergi kencan?” tanya Sulli polos.

“Nde? Kencan? Dengan Baekhyun?” Minho membelalakkan matanya.

“Anhi… Yaak, Sulli-a, kau jangan salah mengira gitu. Aish, aku masih normal. Mana mungkin aku kencan dengan namja.” Baekhyun berlagak merapikan bajunya.

“Lalu, kalian mau kemana?” tanya Sulli lagi.

“Kami mendapat tugas dari appa untuk bertemu dengan partner dari Jepang. Selaku wakil direktur, aku harus mematuhi appa. Ini juga tanggungjawabku,” jelas Minho.

“Lalu kenapa kalian ekspresi kalian seperti itu?” tanya Sulli untuk kesekian kali.

“Yaak! Yeoja menyebalkan.”

Sulli mengerucutkan bibirnya.

“Oh ya, nanti sepupuku akan datang untuk menemanimu. Namanya Amber. Kau akan aman bersamanya.” Minho mengacak rambut Sulli dengan sayang. “Kami berangkat Sulli-a.”

“Ne, cosimi heaji, oppa.” Mau berangkat meeting saja seperti mau berangkat wamil, pikir Sulli.

Setelah mengunci pintu depan rumahnya, Sulli menyalakan tv dan mencari acara yang bisa membuatnya tertawa. Sejak kunjungannya ke taman yang pernah ia kunjungi sebelum kecelakaan itu, ingatan Sulli berangsur-angsur kembali namun masih sekitar 20%. Ia ingat bahwa nama marganya adalah Choi. Jadi namanya adalah Choi Sulli. Dalam ingatannya ada satu nama lagi, mungkin saudara kandungnya. Sulli tidak ingin memaksakan otaknya bekerja sangat keras memutar ingatan yang hilang.

Ting tong…

Bel pintu rumah berbunyi. Mungkin itu sepupu Minho oppa, pikirnya. Setelah membuka kunci, dan daun pintu bergeser, betapa terkejutnya Sulli. Seorang namja tak dikenal sedang bertamu di saat ia sendirian di rumah.

“Nu, nuguseo?” tanya Sulli dengan terbata-bata karena syoknya. Ia pikir itu Amber, ternyata orang yang tidak dikenal.

“Sulli-a,” panggil namja itu lirih. Namja tampan dan tinggi itu tidak laib adalah Junmyeon yang tidak sengaja melihat Minho dan Barkhyun keluar dari rumahnya dan melihat Sulli yang menutup pintunya dari dalam. “Kau benar-benar Sulli?” tanya Junmyeon yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia tak percaya bahwa kini Sulli berada di hadapannya.

Sulli hanya mengangguk. Ia tak berani mengeluarkan suara. Sulli melihat mata Junmyeon yang tiba-tiba berubah berkaca-kaca.

“Nuguya?” tanya Sulli lagi.

“Kau lupa padaku, Sulli-a?”

Sulli terlihat bingung. Meski ingatannya sudah 20% kembali, namun dalam bayangan ingatan itu tidak ada wajah Junmyeon.

“Mi, mian. Aku tidak mengingatnya.”

Spontan ekspresi wajah Junmyeon berubah kecewa. Kemudian dia mengeluarkan sebuah foto dan menunjukkannya pada Sulli.

“Aku tidak tahu bagaimana harus bertanya. Jika kau bukan Sulli yang aku cari, apakah kau pernah bertemu dengan yeoja ini?” Junmyeon menunjuk foto Sulli. “Lalu jika kau Sulli yang aku cari, apa kau juga tak mengingat yeoja ini?” Kali ini Junmyeon menunjuk gambar Sooyoung. Foto itu adalah foto selca Sulli dan Sooyoung yang diambil sebelum mereka pergi ke Busan.

Melihat gambar Sooyoung, benang-benang ingatannya mulai meluruskan diri. Keping-keping ingatan mulai menyatu membentuk suatu ingatan yang berhasil membuat kepala Sulli terasa amat sakit. Sulli memegang kepalanya. Ia masih dalam keadaan sadar. Terbayang wajah Sooyoung yang tersenyum padanya. Tiba-tiba Sooyoung menangis.

Jika itu yang eonni inginkan maka ambillah, eonni. Ambillah Junmyeon oppa. Agar kau tahu bahwa aku sangat meyayangimu dan tak ingin kehilanganmu…

Kata-kata itu terngiang dalam ingatannya.

Belikan aku teokbokki.

Itu kata terakhir dari eonni-nya.

Eonni… Eonni… Eonni waegurae?

Mata Sulli mengerjap-ngerjap, mengingat eonni-nya.

“Eonni…” gumamnya lirih namun masih dapat didengar oleh Junmyeon. Airmatanya menetes. “Eonni… Sooyoung eonni…” lirihnya dengan banjir airmata. Sulli mendongakkan kepalanya melihat Junmyeon. Ekspresi wajahnya berubah seketika.

Tbc

Advertisements

4 thoughts on “Stay in My Heart [Chapter 1]

  1. Kasian sulli kenapa orang tua sulli gak mengharapkan sulli dan gak sayang ma sulli apa sulli bukan anaknya. Ciye hubungan minsul romantis. Ayo chingu lanjut aku penasaran ma kelanjutannya gimana reaksinya sooyoung pasti bahagia

    Like

  2. Halloooooo saya new reader
    Ceritanya menarik, suka sama cerita ini
    Sedih karena kecelakaan yg di alami Sulli sampai lupa ingatan

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s