ONE MILLIONS LOVE ( CHAPTER 4)

ONE MILLIONS LOVE ( CHAPTER 4)

a one million of love new

Author : Vera Riantiwi
Tittle : One Millions Love
Length : Chapter
Cast : – Im Yoona Girls Generation
– Lee Donghae Super Junior
Other Cast : Cho Kyuhyun, Seohyun, Jessica Jung, Kim Heechul, Choi Minho, Kwon Yuri,Choi Siwon, Etc

Genree : Romance, Sad, School lifeSinopsis

Annyeong, semua….. aku kembali dengan lanjutaan part 2nya…. sesuai dengan sarannya Seohyung di ganti sama Seohyun. Maaf kalau ada salah pengucapan dan kata-kata. Happy Reading!!!

Sinopsis : Tidak ingin terluka kembali Lee Donghae, namja yg dikenal playboy, memutuskan untuk mnutup hatinya untuk siapa pun. Tapi tanpa disadari namja ini malah jatuh hati pada, Choi Yoona, Yeoja kelas dua SMA, dan dia adik sahabat karibnya. Di lain pihak, choi Yoona ternyata baru saja berkencan dengan Lee Kyuhyun. Tapi gara-gara Lee Seohyun,dongsaeng perempua Lee Kyuhyun yang Brother complex, cinta Kyuhyun tidak bisa berjalan dengan mulus. Celah yang terbuka membuat Donghae memakin berusaha merebut perhatian Yoona. Akankah semua usaha Donghae akan berhasil membuat Yoona berpaling? Jadi siapa yang akan dipilih oleh Yoona, Donghae atau Kyuhyun?

Donghae pov :

Untuk kesekian kalinya Donghae menguap di kelas yang sama sekali tidak diminatinya. Yang dia harus bisa melewati kelas ini dengan selamat karena bernilai empat SKS.

‘Kelas sejarah pemikiran modern. Bagaimana bisa, cara berpikir dijadikan ilmu? Bukan tinggal berpikir dengan serius dana selesai? Kenapa mesti dijadikan ilmu yang begitu membosankan ini?’ Omel Donghae sambil membuat karikatur dosennya yang sedang menerangkan ciri-ciri orang yang berpikir secara modern untuk mengusir rasa bosan.

“Kedua, manusia modern selalu terjadwal. Dia memiliki urutan hal-hal yang akan dilakukan, selalu terencan dan teratur.” Semua penjelasan dari dosen Donghae hanya menyapa telinganya, tanpa sempat tinggal di memori.

“Sssttt, nanti aku pinjam catatannya, ne?” Donghae menarik kerah baju teman yang ada di depannyaa.

“Aiiiaassshh, jinja kamu tidak niat banget sih, untuk kuliah?” Keluh temannya sambil melengos, lalu kembali menulis, “Buat apa kalau kamu tidak serius begini?”

“Untuk mendapat selembar sertifikat dengan tulisan lulus,” jawab Donghae ketus, yang langsung mendapat dengusan dari temanya.

“Untuk saat ini, saya rasa cukup sekian penjelasannya. Bulan depan saya harap kalian sudah melengkapi tugaas akhir kaliana. Gomawo.” Mata Dosen terus mengamati Donghae, yang dia kira ketika di kelasnya mampu berkonsentrasi, tanpa dia tahu konsentrasi Donghae terfokus pada karikatur konyol buatannya.

Sebenarnya Donghae ingin ke perpustakaan, menikmati kumpulan gambar dari Gustave Moreu, Raphael, atau Monet. Tapi demi masa singkat kuliahnya, dia rela menepis semua keinginan bolosnya.

“Gomawo,” Donghae merebut catatan temannya, lalu berjalan keluar kelas.

“YAkk” teman sekelas Donghae itu terkejut dengan tindakan Donghae yang tak terduga olehnya, tapi tak banyak yang bisa dilakukannya. Dia hanya bisa duduk di bangkunya sembari merengut.

“Besok aku kembalikan! Arra?” Donghae dengan cuek terus berjalan. Baru saja dia keluar gedung kampus, matanya sudah menangkap sosok Minho yang sedang duduk sambil membaca koran.

“Annyeong Hyung! Hyung tidak ada panggilan tugas?” Dia bertanya sambil menghampiri Minho.

“Anniyo. Ngomong-ngomong, aku sudah dapat ijin dari Eomma. Malam ini juga kamu bisa menginap. Wae?” Minho mengamati Donghae sambil mengembalikan koran yang di pinjam.

“Hyung bawa mobil?” Donghae mengawasi sekelilingnya, takut kalau Jessica ada disekitar sana.

“Aniyo, tadi hyung naik bus karena mobil hyung mogok. Wae?” Jawab Minho.

“Subarrashii (bagus), Kajja !” Donghae menarik tangan Minho sambi menceritakan kejadian yang menimpanya tadi pagi.

“Tabak hyung, siapa yang aku lihat tadi pagi di apartemenku?!” Tanya Donghae pada Minho.

“Hah?!” Minho masih bingung dengan sikap aneh Donghae.

“Jessica Jung. Sepertinya dia nekat mengikutiku. Aku jadi agak phobia ….” Donghae berjalan dengan bergegas.

“Apa dia segila itu?” Donghae mengedikkan bahunya, menjawab pertanyaan Minho.

“Molla, Yang jelas aku stres, hyung! Memangnya aku punya berapa banyak uang lagi?! Apa aku harus menjual apartemenku lagi?! Dimana lagi aku mesti tinggal?”

“Kamu masih punya keluarga kan?” Kata Minho.

“Aniyo, aku malas bertemu dengan Kyuhyun.” Jawab Donghae.

“YAk, dia kan Dongsaengmu?” Donghae terdiam, tidak menjawab pertanyaan Minho.

“Molla”

“Masih merasa cemburu karena tidak mendapatkan kasih sayang haraboji, nih?”

“Sudah! Tidak usah diungkit masalah itu!” Donghae memelototi Minho. Tapi dalam hatinya dia mengakui, dia iri. Sangat iri. Kenapa dia yang begitu keras berusaha membuat Harabojinya bangga, sama sekali tidak dihiraukan. Sedangkan Kyuhyun? Yang perlu dia lakukan hanya tersenyun dan dunia akan membalas senyumannya.

Rasanya bukan salah Donghae kalau dia memiliki semua wajah appanya yang sangat Jepang. Dan hanya karena alasan itu, Haraboji Donghae membencinya. Tidak hanya Harabojinya, tapi semua Keluarga Kim Jaejong. Kecuali Kim Heecul, adik Eomma Donghae, yang bisa bersikap netral dalam keluarga.

“Sudah lama lho, Donghae-ah. Apa kamu akan seperti ini terus? Sampai kapan?” Tanya Minho.

Donghae mengedikkan bahunya. “Sampai aku menemukan masa depanku.”

“Bukannya memang sudah ada di depan?”

“Errgh…. Berhenti menggunakan kata-kata sama itu lagi!”Donghae memelototi Minho.

“Kau tinggal maju ke depan dan berhenti menatap belakang.” Minho melemparkan cengiran pada Donghae, yang sebenarnya setuju dengan pendapat Minho.

Yoona Pov :

Yoona yang sama sekali tidak menyangka kalau hari ini akan pulang dengan Kyuhyun, dengan canggung duduk di samping Kyuhyun. Lalu, melemparkan senyum basa-basi.

“Yoona, apa ada yang salah?”Tanya Kyuhyun.

“Anniyo… Hehehe…,” kilah Yoona sambil menyembunyikan gugupnya dengan tersenyum.

“Hari ini kamu aneh,memangnya ada apa?”Tanya Kyuhyun yang segera disambut Yoona dengan gelengan kepala.

“Bener, tidak apa-apa?”

‘Bagaimana aku mau bilang, apa aku harus mengaatakan ke Oppa, untuk berhenti bersikap baik padaku dan konsentrasi pada yeojachingu oppa?’ Keluh Yoona sambil mengeluarkan uang saat kondektur menghampiri mereka berdua.

“Dulu kita juga satu bus kan?”Cetus Kyuhyun, berusaha untuk mencairkan suasana.

“Ooh…oppa masih ingat?” Yoona diam-diam tersenyum senang karena Kyuhyun masih mengingat pertemuan mereka yang pertama.

“Tentu. Kamu yang waktu itu menatapku dengan tajam. Lalu setelah aku memberikan bangkuku, kamu tersenyum konyol. Aku tahu kalau kamu mengamatiku dengan aneh. Tapi yah, kamu memang yeoja aneh kan?”

“Ah! Kok malah mengatai orang?” Yoona memonyongkan mulutnya.

“Hehehehehe…”Kyuhyun melemparkan senyuman pada Yoona.

Akhirnya mereka tiba di halte dekat Rumah Yoona.

“Sudah sampai .” Yoona tersenyum.

“Ohh,ne arra”. Kyuhyun memberi jalan pada Yoona agar dia bisa berjalan.

“Sampai besok ne?”

“Ne” Yoona menganggukkan kepalanya, lalu turun dari bus sambil melambai pada Kyuhyun. Tanpa sadar, dia kembali hanyut dalam pesona Kyuhyun. Sambil berjalan menuju rumah, Yoona merutuki kebodohannya yang bisa dengan mudah terjebak oleh Kyuhyun.

“Siiaaaannggg!!” Seru Yoona ketika membuka pintu rumahnya. Donghae yang mendengar suara Yoona, spontan bangkit dari duduknya dan menghampiri Yoona yang saat itu sedang membelakanginya. Yeoja itu sedang melepaskan sepatu dan kaus kakinya.

“Okaeri (selamat datang).” Sambil menyeringai, Donghae berdiri di belakang Yoona.

Mendengar suara yang tak dikenal, Yoona segera bangkit dan berbalik.

“Ka..kamu!!Kenapa ada disini?!!!”Pekik Yoona.

“Hehehehhe….” Cengiran Donghae sambil melebar.

« *** »

Seharian itu Yoona memelototi Donghae, mulai dari ruang keluarga sampai ketika mereka dan Minho sedang menonton TV. Membuat Donghae jadi risih. Ketika Minho meninggalkan mereka berdua, dia mengambil kesempatan itu untuk menginterogasi Yoona.

“Kamu ini kenapa?salah obat?obat pengendali otot matamu habis?” Tanya Donghae ketika mereka sedang di ruang keluarga. Dia lelah karena yeoja itu terus-menerus mengikuti sambil memelototinya.

“Anniyo,” Yoona melirik Donghae dengan tajam, lalu mendesis.

“Dasar, Ahjushi mesum.”

“Apa katamu?!” Tukas Donghae.

“Ahjushi ME-S-U-M! Playboy!” Ulang Yoona sambil bangkit di tempatnya duduk, lalu ngomel untuk menghilangkan rasa jengkelnya pada Kyuhyun dan Seohyun.

“Tidak bisa melihat yeoja cantik. Biar itu daun muda, tidak peduli kalau itu yeoja sudah punya namjachingu… Kamu pasti bakalan ngambat. Dasar, byeonte tidak Laku.”

‘Byeonte tidak laku,heh? Jadi itu yang kamu pikir tentang aku?’ Dengan senyuman liciknyaa, Donghae bergumam dalam hati. ‘Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?!!”

Dengan perlahan, Donghae mengikuti Yoona yang mengambil minum di kulkas dekat kamarnya. Ketika dia berbalik, Donghae sudah ada di depannya.

“Ma….mau apa kamu?!!” Perlahan tapi pasti, Donghae berjalan mendekati Yoona, membuatnya ketakutan dan berjalan mundur ke belakang.

“YAa…YAkk..!!”

“Ya, aku memang playboy…” Donghae menatap Yoona dengan lembut dan intens.

“Suka sama daun muda, apalagi seumuran kamu…”

Brukk!!

Yoona sudah terpojok, dia sudah tidak bisa ke mana-mana. Donghae menghimpitnya, sampai dia merapat ke tembok. Seharusnya dia memanggil Eommanya, tapi tidak bisa. Mulut Yoona jadi kaku karena ketakutan.

“Kamu….memang masih muda. Kulitmu…juga halus sekali Yoong…” Donghae membelai pipi Yoona.

“Bibir kamu … Seperti apa rasanya ya?” Donghae mendekatkan wajahnya pada Yoona, sambil terus menatap dengan intens bibir Yoona yang menggoda. Membuat yeoja berponi itu jadi berkeringat dingin.

“Ya..ya.. Ka..kamu ini kenapa?!” Ucap Yoona dengan bergemetar menahan bahu Donghae.

“Yoona… Choi Yoona” dengan suara yang rendah dan parau, Donghae menyebut nama Yoona, membuat Yoona semakin ketakutan, memejamkaan mata, dan menundukkan kepalanya. Donghae lalu melengos.

“Baka na onna(yeoja bodoh)!!!” Donghae mendengus dengan meninggalkan Yoona yang masih gemetaran.

“Yak…Yak…!!! Ka….kamu… Apa yang kamu katakan tadi?” Masih dengan gemetaran, Yoona bertanya. Donghae menuruni tangga dengan kalem, tanpa peduli dengan Yoona.

“Dasar!!! Namja Seonggasin!! Mesum!!!”

“Choi Yoona!!! Kamu kenapa sih teriaka-teriak seperti itu. Memang ini dihutan apa? Mengganggu saja? ” Teriak Eomma Yoona yang sedang menelpon teman-teman arisannya merasa terganggu dengan suara lengkingan Yoona.

« **** »

Keesokkan harinya…

Yoona pov :

Yoona yang masih ketakutan dengan sikap Donghae kemarin, dengan perlahan turun dari kamarnya. Dia memilih untuk berangkat lebih pagi, demi menghindari pertemuannya dengan Donghae. Sayangnya….

“Yoong, changi. Kamu sudah bangun? Hm… Minho dan Donghae sudah ada dimeja makan. Baru saja Eomma mau naik ke atas untuk membangunkan kamu, changi.” Eomma Yoona berkata sambil melepaskan celemek dari pinggangnya.

“Hmmmm….” Sambil melengos, Yoona berjalan menuju ruang makan. ‘Ngapain asih, namja byeotae itu bangun pagi juga!’

“Yoong, hari ini Oppa tidak bisa mengantar kamu ke sekolah. Jadi kamu bareng saja dengan Donghae. Ne? Oppa mau mengurus sesuatu,” kata Minho yang membuat adiknya itu semakin sebal.

Yoona melihat Donghae dari poninya yang tergerai di dahia. Tapi Donghae biasa-biasa saja, seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa antara dia dan Yoona.

‘Pasti dia sudah berpengalaman,’ gumam Yoona dalam hati.

“Kenapa Oppa tidak bisa mengantarkan aku?” Tanya Yoona.

“Mesti kerja dong! Selama dua minggu nanti aku akan kembali kerja,” jelas Minho. “Menggantikan temanku.”

“Tidak bisa apa…. Oppa mencari pekerjaan yang normal?” Gumam Yoona.

“Sudah, jangan mengomel saja, Palli sarapan. Dan berangkat. Aku tidak mau menunggu kamu yang lelet ini,” potong Donghae yang sebal melihat sikap manja Yoona pada Minho.

Dengan kesal Yoona memakan roti isi selai kacangnya dan bangkit dari duduk, setelah meminum habis susu hangat yang sudah disiapkan Eommanya.

Sepertinya hari ini bukanlah hari keberuntungan Yoona. Perjalanan menuju sekolahnya jadi semakin mendebarkan ketika Donghae memutuskan untuk menjemput Seohyun. Membuat Yoona benar-benar tidak berkutik di dalam mobil. Dia hanya bisa diam sambil menatap keluar kaca jendela. Ketika jam istirahat pun, Yoona mesti berlari lebih jauh lagi ke kantin depan, demi menghindari Kyuhyun yang sepertinya jadi semakin sering lewat di depan kelasnya. Bahkan, akhir-akhir ini dia sering bolos dari klub ketika jam pulang dan malah mengikuti Yuri sampai di lapangan volly karena tidak tahu mesti ngapain lagi.

“Waeyo, Yoong?” Tanya Yuri yang melihat Yoon duduk di tepi lapangan voli.

“Anniyo, aku cuma mau melihat kamu latihan saja,Yul?” Kilah Yoona sambil membuang pandangannya ke arah Seohyun yang sedang berbicara dengan pelatihnya.

“Ada masalah sama Kyuhyun sunbae?” Tanya Yuri. Yoona hanya tersenyum konyol menanggapinya.

“Asal kamu tidak bikin ulah, kamu boleh disini,” kata Yuri mengalah sambil berbalik. Yoona mendengus ketika Seohyun memasuki lapangan volly. Dan ketika Yoona melihat siapa yang datang setelah Seohyun, dia terkejut bukan main.

“Huwaaa!! Mau apa tuh namja byeontae disini?” Yoona mengamati Donghae.

“Mau apa yeoja babo disini?” Donghae melirik Yoona yang sedang duduk.

“Oppa, waeyo?” Tanya Seohyun menghampiri Donghae. Donghae mengangkat alis kirinya sambil terus menatap Yoona dan berjalan ke arah Yoona.

“Chakaman ne”.

Yoona semakin salah tingkah ketika Donghae menghampirinya. Sesekali matanya melirik Seohyun yang malah dengan santai main voli, tidak mempedulikan Donghae yang sedang mendekati Yoona.

“Annyeong, Tako! Sedang apa?” Tanya Donghae sambil tersenyum jahil. Entah sejak kapan, Donghae bisa merasakan kalau Yoona adalah yeoja polos yang palng mudah untuk di goda dan dia mulai menikmatinya.

“Uh..anniyo,,tidak ada urusannya sama kamu kan?” Yoona mulai siaga dengan sikap Donghae yang mulai intens seperti kemarin. Tapi dia hanya duduk di sebelah Yoona sambil meluruskan kakinya, tidak melakukan apa-apa.

“Ya, memang tidak ada sih. Tapi kenapa kamu memelototi aku?! Apa karena masalah ketika kita pertama kali bertemu?kamu sedendam itu sama aku?”Tanya Donghae.

“Bukan cuma itu… Yak! Jangan dekat-dekat, nanti yeojachingumu cemburu! Dia sedang melotot ke arahku!!!” Desis Yoona sambil melirik Seohyun,yang memang sedang mengamati Yoona dan Donghae sambil mengangkat alisnya.

Donghae langsung mengamati sekitar lapangan volli dan mencari sosok Jessica Jung. Matanya terus awas, tapi akhirnya dia sadar, tidak ada Jessica disini.

“Kamu lihat yeojachinguku eodi? Memangnya kamu kenal dia?”

Yoona melotot.

“Kamu tuh ya, kalau jadi playboy jangan keterlaluan gitu!! Dia kan ada di lapangan volly !! Dasar!!” Yoona mendengus kesal.

Donghae menyapukan pandangan ke lapangan volly, menemukan sosok Seohyun yang sedang mengamati mereka berdua. Dia berteriak memanggil Seohyun, lalu melambaikan tangan padanya, tanpa mempedulikan pelototan pelatih volly Seohyun.

“Dia maksudmu?”

“ERRRGGHHHH!!!” Yoona mendesis dengan kesal, mati-matinya dia berusaha menahan emosinya.

“Mau siapa lagi?! Jangan-jangan kamu punya pacar lain?!”

“Dia dongsaeng ku,” jawab Donghae dengan enteng sambil mendengus geli.

“HEH?!!” Yoona tanpa sadar memekik.

“D..dongsaaeng?”

“Ne, dongsaeng. Waeyo?” Donghae mengamati Yoona dengan matanya yang tajam, membuat Yoona gugup.

“Ani…aniyo… Mian, ke…kemarin…aku…kasar…aku kira dia yeojachingumu…”Yoona tersipu malu.

“Oh…jadi si Tako salah paham? Yah, nan gweachana. Asal…nih.” Donghae menunjuk pipinya. Spontan, Yoona mendorong tubuh Donghae.

“Yaa, aku cuma bercanda…”

“Kamu itu punya mata yang tidak bisa membuat orang menganggap enteng kamu. Mata kamu…tajam…,” kata Yoona sambil membuang muka agar Donghae tidak bisa melihat wajah Yoona yang tersipu.

“Lagian,Tako itu apa sih?!”

“Uhm…Tako…Tako itu…”Donghae memasang senyum menggoda.

“Tako itu kamu! Ah, sudah ya, Tako! Aku mau pergi dulu,ya!” Donghae menepuk kepala yoona lembut. Hari ini Donghae membuat tekadnya untuk majua, merubah segala kesalahannya di masa lalu. Dia berencana untuk menjual kembali apartemen yang baru ditempatinya dan tinggal di rumah. Melupakan segala obsesinya pada Kakeknya yang sejak dulu tidak menyukainya.

“Yak… Hm… Nanti kamu masih menginap di rumahku?”Tanya Yoona.

“Yeah…sayangnya begitu.” Donghae tersenyum, lalu meninggalkan Yoona. Dia membuka Hp-nya dan menelepon agen iklan sebuah surat kabar untuk mengiklankan apartemennya sambil berjalan keluar lapangan.

Ketika Yoona kembali menonton latihan Yuri, dia menangkap sosok lain yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Dengan tergesa, Yoona bangkit dan menyeberangi lapangan volly tanpa mempedulikan apa pun. Dia tidak mau bertemu dengan Kyuhyun yang sudah memiliki imej buruk di kepalanya. Sekali lagi, Yoona menyimpulkan seasuatu tanpa bertanya apa pun pada siapa pun.

“YOONA, AWAS !!!” Teriak Kyuhyun ketika sebuah bola volly yang baru saja dipukul oleh salah satu tim inti regu Volly putra melesat dengan cepat ke arah Yoona.

“AKH !!!” Teriak semua orang yang ada di lapangan.

DUAKKK!!!

Dalam hitungan detik, Yoona ambruk oleh hantaman bola volly yang tepat mengenai kepalanya. Jatuh di lantai lapangan volly yang terbuat dari kayu.

« **** »

Ruang Kesehatan SMA Inha.

Kyuhyun pov :

Gelap. Tak ada yang bisa dilihat oleh Yoona. Kecuali kegelapan. YoonA bangkit dengan tangan yang terulur ke segala arah.

“Argh!”

Kyuhyun yang ada di sana spontan meraih tangan Yoona dan menggenggamnya erat. “Hei…tenang,tenang saja. Kamu mungkin masih sedikit pusing, pelan-pelan… Jangan terlalu tergesa-gesa kalau bangun.” Suara Kyuhyun menenangkan Yoona.

“Go…gomawo…” Yoona berbicara dengan terbata.

“Waeyo Yoong? Akhir-akhir ini aku perhatikan kamu bertingkah aneh.”Kyuhyun masih duduk di sebelah ranjang Yoona, menggenggam erat tangannya.

“Jebbal, jangan membuat aku khawatir sama kamu dong,Yoong?”

“Anniyo, nan gweachana, Sunbae!” Yoona berusaha melepas genggaman tangan Kyuhyun.

“Sejak kapan kamu memanggil aku, ‘Sunbae’? Bukannya kamu selalu memanggil dengan sebutan Oppa? Yoong, apa yang sudah terjadi?” Kyuhyun makin penasaran.

“Aku… Sudah membaca novelnya..sampai habis…sampai halaman terakhir,” bisik Yoona perlahan sambil menundukkan kepala.

Ketika Yoona mengatakan ‘halaman terakhir’, tenggorokan Kyuhyun tercekat. Dia memang menunggu saat ini, menunggu halaman terakhir dari novel itu dibuka oleh Yoona. Tapi ini tidak ada dalam rencananya. Tidak ada bola volly yang masuk ke dalam perhitungan Kyuhyun atau ruang kesehatan dan bau obatnya yang menyengat.

“Mianhae, aku tidak bisa.” Yoona menundukkan kepalanya.

Reflek, kepala Kyuhyun terangkat. Dengan pandangan matanya, dia menuntut Yoona untuk memberi penjelasan alasanya dia menolak.

“Su…sunbae… Sudah memiliki yeojachingu ne? Apa… Sunbae tega seingkuh seperti ini ke aku dan yeojachingu Sunbae? Padahal, Sunbae bilangkan… Kalau Sunbae sayang sama aku? Apa tega! Melukaiku dengan cinta egois Sunbae? Ini…ini bukan cinta namanya.” Yoona berusaha memjelaskan alasannya menolak Kyuhyun.

“Mwo?maksud kamu apa?” Kyuhyun terkejut.

“Ne, Yeojachingu Sunbae… Seohyun…,”jelas Yoona.

“Mwo?!Nugu?!” Kyuhyun hampir tersedak ketika Yoona menyebut nama Seohyun.

“Kenapa Sunbae tega begini?! Sama yeojachingu sendiri lupa! Apa Sunbae tipe yang seperti ini?!” Yoona kemudian merasa kejadian ini agak mirip dengan kejadiannya dengan Donghae tadi.

“Aku tidak akan perlah lupa, pada siapa aku memberikan rasa cintaku. Tapi sepanjang ingatanku, Seohyun adalah Dongsaeng ku, kamu tau sendiri kami sama-sama bermarga Lee aku Lee Kyuhyun dan di Lee Seohyun.” Jelas Kyuhyun.

“Memangnya kedekatanku dengan Seohyun tidak terlihat seperti Oppa dan Dongsaeng apa?

“Mwo, Dongsaeng?” Yoona berusaha mengerti semuanya.

‘Arra, Donghae mengatakan kalau Seohyun adalah Dongsaengnya. Kyuhyun juga mengatakan hal yang sama, apa mereka…’

“Jadi, Oppa saudaranya Donghae Oppa?” Mata Yoona melotot. Dia sangat terkejut.

“Kamu kenal sama Hyung-ku?”

‘Ya Tuhan!!! Lingkaran macam apa ini?! Kenapa duniaku sekecil ini?! Kenapa aku dikelilingi tiga blasteran Jepang, tanpa sadar kalau mereka sebenarnya adalah saudara?!’ Ini kan hal yang paling gampang untuk disimpulkan.

“Jadi, sikap anehmu selama ini karena kamu mengira kalau Seohyun adalah Yeojachinguku?” Tanya Kyuhyun.

“Ne..,” jawab Yoona dengan suara yang hampir-hampir tertelan. Dia malu dengan sikapnya yang suka tergesa-gesa.

“Jadi…kamu tidak akan mengembalikan novel itu, kan?”Sebentuk senyuman hangat menghias bibir Kyuhyun.

“Ngggg…” Yoona menundukkan wajahnya.

“Hai,” Kyuhyun mengangkat wajah Yoona dengan kedua tangannya di pipi Yoona.

“Aku sangat suka pada Yoona yang pemalu dan polos ini. Apa kamu juga mau menyukai Kyuhyun yang punya cinta egois ini?”

Yoona yang pandangannya tak bisa beralih dari Kyuhyun makin malu. Pipinya makin bersemu merah ketika kepalanya mengangguk.

“Gomawo chagi… Jongmal Gomawo… Saranghae…” Kyuhyun memeluk Yoona erat.

Dalam pelukan Kyuhyun itu, “ne, oppa .. Nado Saranghae…” Yoona berbicara dalam bisik dan bisa didengar oleh Kyuhyun dan kyuhyun pun makin memeluknya erat. Setalah selesai Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk membantu Yoona turun dari tempat tidur ruang kesehatan yang meninggalkan bau seperti dirumah sakit ke tubuh Yoona. Tapi segera setelah ini, bau itu akan hilang seiring dekapan Kyuhyun yang lembut di bahi Yoona yang semakin erat.

« *** »

Sejak dari rumah Yoona sampai di rumahnya sendiri, Kyuhyun terus-menerus menyungging senyuman tanpa tahu apa yang akan menimpanya. Sesaat dia melupakan Seohyun dengan sikap ekstrimnya yang brother-complex.

“Kyuhyun Oppa, doushite kaeru no okuretan desu ka?” Seohyun sudah berdiri di depan Kyuhyun yang sedang melepas sepatunya.

“Mengantar yeojachingu ku pulang,” jawab Kyuhyun dengan enteng sambil masuk ke dalam. Pusing memikirkan tanggapan Seohyun, dia memutuskan untuk mengatakan apa adanya.

“Aku pulang!!” Teriak Kyuhyun ketika masuk rumah.

“Mwo?!! Yeojachingu?!!!!” Pekik Seohyun sambil mengikuti Kyuhyun.

“Ne, yeojachingu orang yang sangat aku sayangi.” Jawab Kyuhyun tegas.

“Argh!!!! Sial!!!” Kali ini mereka beruntung. Kedua orang tua mereka sedang pergi ke Busan, menghandiri undangan pameran lukisan. Jadi tidak akan mendengar teriakan putri semata wayang mereka.

“Hyunie, tidak selamanya oppa akan ada disisimu. Tidak selamanya kamu akan sayang sama oppa. Pasti akan ada namja lain yang akan kamu sayang. Namja lain yang lebih sayang ke kamu. Sedangkan oppa, oppa punya kehidupan oppa sendiri, tapi oppa akan selalu menyayangimu karena kamu dongsaeng tersayang oppa.”

“Setelah ini, dia akan mengambil semua perhatian Oppa dari aku! Dan semua kata-kata Oppa itu cuma omong kosong!!”Ucap Seohyun

“Ne, molla…” Kyuhyun menatap lembut Seohyun.

“Hyunie , kamu sudah enam belas tahun. Jangan selalu bergantung pada oppa.”

“Mulai saat ini, aku tidak akan bergantung lagi pada Kyuhyun Oppa, tidak usah khawatir, arra !!!” Seohyun langsung naik ke kamarnya.

Kyuhyun hanya bisa menghela napas melihat kelakuan Dongsaenya yang semakin lama semakin manja. Hal ini karena Seohyun adalah satu-satunya cucu yeoja di keluarga eomma mereka. Dia terlalu dimanja oleh haraboji.

« *** »

“Donghae-ah!” Minho mencari sosok Donghae di dalam apartemen yang minim perabotan itu.

“Aku dikamarku hyung,” jawab Donghae.

“Uwaaahh, enaknya hidup sendiri!” Tanpa di sangka Donghae, Yoona muncul di berlakang Minho.

“Tako… Kamu sedang apa di sini?” Tanya Donghae, tidak menyangka kalau Yoona akan ikut.

“Lagi nganngur,” Yoona terus memperhatikan apartemen Donghae. “Kenapa kamu mesti hidup di apartemen? Sendirian lagi, kayak anak yatim aja.” Tanya Yoona sambil menelusuri apartemen Donghae.

Ingatan Donghae melayang pada ulang tahunnya yang ke-20. Appanya bertanya tentang keinginan Donghae. Spontan dia menjawab ‘apartemen’ agar dia bisa hidup dengan bebas dan dia bisa bersama Jessica dua puluh empat jam. Tapi sekarang, dia tak bisa membiarkan Jessica menginap di apartemennya barang sedetik pun. Yeoja itu bukan lagi miliknya.

“Yak… Anak kecil tahu apa?” Donghae menyeringai sambil membereskan semua pakaiannya.

“Sisanya othoke?” Tanya Minho.

“Anniyo, cuma makanan sama bir. Kalau kamu mau, bawa aja.” Donghae mengedikkan kepalanya ke arah kulkas.

“Ya… Aku mesti sadar selama nyetir, pabo.” Minho menanggapi perkataan Donghae dengan cengiran, sementara Yoona sudah memelototi mereka berdua.

“Aiissshh Jinjja…” Desis Yoona sembari melangkah keluar dari apartemen Donghae.

« *** »

SMA Inha, Seusai pulang Sekolah

“Aiiisshhh, gillaa ternyata Seoul bisa sepanas ini ya?” Keluh beberapa siswa SMA Inha yang sudah keluar dari pelataran parkir yang paling rindang dan enak buat nongkrong.

“Tahu kayak gini aku mendingan bawa mobil saja, Daripada naik bus,” sahut yang lainnya.

“Emang umur kamu berapa, aghasi?” Celetuk gadis lain.

Diantara mereka, Yoona dan Kyuhyun berjalan perlahan, seolah panasnya Seoul bukan masalah besar.

“Kyuhyun oppa, pernah merasakan cuaca yang lebih panas dari Seoul?” Tanya Yoona.

“Hm…rasanya sama saja chagi. Cuma waktu itu lebih lembab, jadi lebih enak ke pantai terus.” Jawab Kyuhyun sambil mengingat kembali suasana Okinawa.

“Waktu itu? Kapan oppa?!” Yoona menatap Kyuhyun dengan rasa ingin tahu. Sejak mereka kencan, Yoona selalu ingin tahu bagaimana Jepang.

“Okinawa, liburan semester kemarin,” jawab Kyuhyun sambil mengenakan topinya pada Yoona. “Nanti kamu pusing, chagi kalau oppa menjelaskannya.”

“Arigatou,” Yoona nyengir.

“Dou itashimashite, chagi” Kyuhyun terkejut ketika Yoona berbicara bahasa Jepang. Tapi ketika dia melirik ke tangan kiri Yoona yang sengaja disembunyikan, matanya menangkap sebuah buku. Bahasa Jepang untuk Pemula. ‘Yeoja yang benar-benar tidak terduga.’

Mereka terus bermesraan tanpa menyadari kalau Seohyun memperhatikannya.

‘Beneran ya?! Oppa suka sama Yeoja babo itu?!’ Mata Seohyun terus mengikuti bayangan Kyuhyun dan Yoona.

‘Aku tidak akan membiarkan si Babo itu ‘terbang’ lebih tinggi lagi!!!’

« *** »

Tulililitttt…tulililitttt…

Ketika Yoona sedang keluar untuk membeli cemilan nonton DVD, Hp-nya berbunyi.

“Tuh anak, apa sepikun ini? Tidak membawa HP segala,” omel Minho sambil menyambar HP Yoona yang ada di atas meja.

“Anyeonghaseo?”

“Annyeong, mianhae ini HP-nya Yoona?” Suara seseorang gadis menyapa telinga Minho.

“Yoona lagi tidak ada, kayaknya dia juga lupa sama HP-nya. Mian, nuguseyo?” Tanya Minho.

“Yuri, nugu?” Tanya Yuri sambil berharap cemas kalau itu adalah Minho.

“Ah, Yuri?! Ini Minho, gimana kabarnya?” Minho tersenyum lebar begitu Yuri menyebutkan namanya.

“Baik, Op..oppa.. Gimana kabarnya?” Jawab Yuri gugup.

“Lumayan, cuma agak bosan. Yoona juga aneh. Biasanya dia gampang diajak keluar, tapi sekarang… Dia lebih suka dirumah. Bagaimana kalau kamu yang temanin oppa? Bentar lagi oppa mau balik ke sekolah penerbanganku nih.”

“Ah?! Itu… Bukannya tidak mau, tapi,… Aku akhir-akhir ini sibuk sama latihan Volly. Aku… Sekolahku akan mengikuti pertandingan antar SMA di Seoul.” Jawab Yuri yang terobsesi pada Volly.

“Oh, kalau gitu Oppa saja yang temenin kamu ne?” Usul Minho.

“Gweachana? Banyak anak SMA-nya lho. Nanti berasa tua sendiri, lho!”Jawab Yuri yang tidak yakin usul dari Minho.

“Ani, nan gweachana. Lagian Oppa juga pengin lihat yeoja-yeoja pakai seragam. Sudah lama tidak lihat.” Jawab Minho asal sambil tertawa.

Meskipun tahu kalau Minho sedang bercanda, tapi Yuri tetap saja merasa kesal. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan kecuali mendengus kesal.

“Ya sudah, terserah Oppa.”

“Arraseo, sudah tidak sabar deh, ingin ketemu sama kamu, Yul.”Ucap Minho tulus.

“Heh?” Yuri terkejut mendengarnya.

Klik.

Sambil menghela napas panjang, Minho tersenyum lalu mencatat no. Ponsel Yuri di HP-nya.

“Kamu habis ngapain, Oppa?” Tanya Yoona yang pulang dengan sebungkus cemilan di tangannya.

“Anni… Oh iya Yoong! Besok kamu perlu jemputan atau perlu Oppa antar ke Sekolah?” Tanya Minho.

“Anni, besok aku kan bareng sama Donghae Oppa,”jawab Yoona, tepat ketika Donghae keluar dari kamar mandi.

“Lagian Oppa kan kerja.”

“Kan bisa berangkat lebih pagi, Yoong. Kalau urusan menjemput itu gampang! Lagi pula besok Oppa cuma mengawasi junior-junior.” Ucap Minho.

“Nonton apa lagi kalian? Apa tidak bosan nonton DVD terus?” Tanya Donghae menghampiri Minho.

“Tentu saja tidak… Filmnya kan tidak sama,” jawab Yoona yang diikuti dengan anggukan kepala Minho.

“Bagaimana mau bosan?”

“Kalian ini ya… Benar-benar pasangan yang paling membosankan,” celetuk Donghae.

“Oppa Bawel.” Tukas Yoona.

Donghae tersenyum melihat Yoona yang memonyongkan mulutnya, lalu mengambil beberapa cemilan. Dia terus membandingkan Yoona dengan Jessica, yang sampai saat ini tidak dia temukan kesamaannya. Cara mereka bersikap, kesukaan mereka, dan kebiasaan mereka.

Donghae menatap Yoona dengan lekat sambil membiarkan angannya terbang melayang. Ditatapnya rambut hitam Yoona yang dibiarkan tergerai, lalu tawa Yoona yang sama sekali tidak dibuat-buat. Dia tersenyum kecil melihat kebiasaan Yoona.

“Ya, kenapa melamun? Pasti melamun yadong ya?” Yoona melirik usil pada Donghae yang duduk disebalahnya.

“Apa kalau aku melamunkan kamu, termaksud yadong?” Donghae bangkit dan berjalan masuk ke kamar Minho.

“YA…??!! Dasar tidak Sopan!!!” Yoona melemparkan bantal besar yang biasa dia duduki kalau sedang menonton TV ke arah Donghae.

“Ehehehhhheee…” Donghae nyengir, lalu melemparkan bantal itu kembali ke Yoona.

“AKH…” Hampir saja Yoona membalas Donghae kalau Minho tidak memelototinya.

“Ssstt,” Minho memberi isyarat pada Yoona untuk diam.

« *** »

“Waeyo kamu naik mobilku, hah?” Tanya Donghae sambil melirik kesal pada Yoona yang malah membalasnya dengan cengiran.

“Kan sama aja. Lagipula, Oppa akan menjemput Seohyun kan?” Yoona tersenyum manis pada Donghae sambil naik ke mobil sport Donghae.

“Huh, dasar. Oportunis.” Desis Donghae, menyalakan mesin mobilnya, dan meluncur ke rumah Donghae.

Ketika mereka sampai, bukan mendapat senyuman ramah, malah mendapatkan Seohyun yang emosi. Seohyun membuka tutup botol air minumnya. Tanpa banyak bicara, dia menarik tangan Yoona agat Yoona keluar dari mobil. Donghae yang sama sekali tidak berpikir apa-apa, hanya diam sambil mengerutkan dahinya.

SYUUURR!!!

“YA!!!” Donghae segera keluar dari mobilnya untuk menghampiri Seohyun yang sedang mengamuk tidak jelas. Tanpa sempat dihentikan, tangan Seohyun sudah mendarat di pipi kiri Yoona.

PLAK !!

Donghae spontan menarik tangan Seohyun, menjauhkannya dari Yoona yang termangu di samping mobil.

“Ya, apa yang kamu lakukan HaH!!? Kamu ini tidak pernah berubah. Mana kesopananmu?!” Maki Donghae pada Seohyun.

Seohyun tidak mempedulikan Donghae. Dia masih dengan sengit menatap Yoona yang termangu di sebelah mobil Donghae. Sambil mendengus, Seohyun menggumam.

“Benar-benar yeoja murahan!”

“Yak, jaga mulutmu!” Hardik Donghae pada adik bungsunya yang malah membanting botol air mineral sambil terus berjalan, tanpa menoleh lagi pada Donghae yang sudah merengut tidak karuan.

Donghae lalu kembali ke mobil. Disana Yoona masih berdiri dengan tenang. Dia tidak menangis atau marah. Dia masih bergulat dengan pikirannya, kenapa Seohyun bisa begitu membencinya. Padahal, Yoona tidak pernah melakukan satu kesalahan pun padanya.

Donghae mengamati Yoona yang sedang mengelus pipi kirinya. ‘Seandainya yang ada dihadapanku ini Jessica, pasti sudah terjadi keributan. Seperti tiga tahun yang lalu.’

Donghae juga merasa heran, kenapa Yoona sama sekali tidak terlihat marah atau sedih. Yeoja itu malah merengut tidak karuan. Dengan perlahan, dia berjalan menghampiri Yoona, melepaskan jaketnya, dan memakaikannya pada Yoona. Membangunkan yeoja itu dari lamunannya.

” Yoong, gweachana?”

Yoona hanya menjawab dengan menggeleng pelan kepalanya, tersenyum kecil, menghentikan elusan tangan di pipinya. Melihat sosok Yoona, ingin rasanya Donghae segera menarik tangan Yoona dan memeluknya erat. Entah kenapa dorongan itu bisa muncul. Begitu kuatnya sampai-sampai Donghae tidak bisa lagi menalarnya. Dengan kuat diredamnya perasaan itu, dan membalas senyuman damai yang ditawarkan oleh sosok polos yang ada di hadapannya.

“Mianhae ne,” kata Donghae tulus.

“Anniyo, gwaechana Oppa,” jawab Yoona, kembali tersenyum.

Donghae membalas senyuman Yoona dengan canggung, lalu mengedikkan kepala, memberi isyarat agar Yoona segera naik mobil.

“Aku tidak mau pulang seperti ini,Oppa.” tolak Yoona. Dia masih berdiri di luar mobil.

“Oppa tidak akan mengajak kamu kemana-mana dengan pakaian basah seperti itu, kajja!” Donghae masuk ke dalam mobil, lalu berkata pada Yoona yang masih tidak mau masuk.

“Yoong, kajja masuk? apa kamu mau disini terus seharian?”

Akhirnya Yoona menyerah. Dia masuk ke dalam mobil sambil melirik Donghae.

“Jangan mikir macam-macam, tako!” Donghae menyalakan mesin mobil.

Dalam perjalanan, Donghae terdiam sambil melirik Yoona yang tenggelam dalam jaketnya.

“Wae?!” Yoona menatap Donghae yang langsung kembali berkonsentrasi dengan setirnya.

“Anniyo…. Oppa cuma mikir, kenapa tadi kamu diam aja, Yoong,” jawab Donghae.

“Karena aku terkejut oppa! Seandainya aku sigap, mungkin aku akan membalas tamparan Seohyun!!” Yoona mendengus kesal, membuat Donghae tertawa kecil.

“Tapi… Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin Seohyun berbuat tanpa alasan kan? Makanya, aku diam aja, tidak bisa marah. Aku mikir.. Apa yang sudah aku lakukan sampai-sampai Seohyun marah sama aku ya…Oppa?”

Donghae terdiam sembari terus mendengar penjelasan Yoona.

“Kalau tadi aku membalas, pasti bakal tambah ramai kan?! Bikin panjang masalah. Lagian, kalau kita mikir, yang pertama kali untuk disalahkan adalah diri kita. Masalah tidak akan panjang, dan kita akan cepat dewasa dengan terus memperbaiki diri.”

Donghae tertawa. Dia tidak menyangka, yeoja yang selama ini dinilainya kekanakan dan selebor ternyata punya pemikiran yang dewasa. Pemikiran yang tak pernah dia dapati dari semua yeoja yang dia kenal.

“Oppa, Kok malah tertawa sih?!” Yoona menatap Donghae sambil memajukan bibirnya dan mendengus kesal.

“Hhhmmmmpppp….” Donghae menggelengkan kepalanya.

“Anniyo Yoong,!”

Ketika mereka akan sampai di toko baju, Donghae melirik Yoona yang tiba-tiba terdiam. Yoona terlihat pusat pasi.

“Yoong, gweachana?” Tanya Donghae, khawatir kalau Yoona kenapa-napa gara-gara Seohyun.

“Nan gweachana Oppa!” Yoona menggeleng lemah sambil menutup HP-nya, setelah dua SMS masuk ke HP-nya hampir bersamaan. Dari Yuri dan Kyuhyun. Untuk menjawab Yuri, Yoona tidak menemui kesulitan. Tapi dia tidak bisa menjelaskan pada Kyuhyun tentang situasinya. Yoona tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Kyuhyun kalau dia mengatakan Seohyun menyiram dan menamparnya. Dia tidak ingin memperkeruh masalah. Akhirnya, dia memutuskan untuk menulis kalau dia sedang pilek.

“SMS?” Donghae melirik Yoona. Yeoja itu mengangguk lemah, melihat keadaan Yoona yang tidak secerah pagi tadi, Donghae dengan perlahan menggerakkan tangannya untuk menyentuh dahi Yoona sambil tetap fokus pada jalanan yang ada didepannya.

Yoona sempat terkejut, tapi badannya begitu lemah, sampai-sampai dia tidak bisa bergerak.

“Gawat, Yoong!!! Kamu demam?!” Donghae menambah laju kecepatan mobilnya. Dengan hati-hati dia mengemudikan Land Cruiser-nya agar Yoona tidak terganggu.

Yoona sendiri menatap Donghae yang ada disebelahnya, sosok Hyung pacarnya yang hari ini begitu lembut memperlakukannya, tidak lagi ada kata kasar atau godaan yang terlontar di antara mereka berdua. ‘Apa ini karena sikap kasar Seohyun tadi? Atau..? Donghae oppa sudah tahu kalau aku adalah pacar Kyuhyun oppa?!!! Apa Kyuhyun oppa yang memberitahu Donghae oppa?!!!’

Saking banyaknya lamunan yang muncul, Yoona sampai pusing dan tidak bisa menyatukan lamunannya yang terpencar.

Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. Donghae segera bergerak keluar, membukakan pintu untuk Yoona, sebelum dia sempat membuka pintu sendiri. Sambil menahan pusingnya, Yoona bergerak turun dari mobil. Dia baru tahu kalau Donghae bisa begitu lembut pada yeoja. Mereka berhenti disalah satu toko baju, Donghae sengaja pergi kesana untuk mencari baju untuk Yoona yang basah karena Seohyun. Donghae hanya tidak ingin Yoona demamnya semakin parah. Setelah masuk ke toko tersebut Donghae menyuruh Yoona untuk memilih baju yang cocok dengannya.

“Mau pilih sendiri?” Tanya Donghae ketika mereka masuk ke sebuah toko pakaian. Yoona menjawab dengan mengangguk pelan.

“Arra, palli, ” Donghae kemudian berjalan, menuju sofa yang ada didepan ruang ganti. Membiarkan Yoona bergerak di antara baju-baju, sementara dia tak henti-hentinya melirik Yoona karena khawatir.

Donghae bukan tipe yang bisa dengan begitu mudah memperhatikan orang dengan sedemikian detailnya. Tapi entah kenapa, dia begitu ingin memperhatikan sosok yeoja yang baru dikenalnya itu. Dia tau, kalau ini bukan rasa tertarik, tapi lebih pada rasa ingin menjaga dan melindungi. Tapi dari apa dan kenapa, Donghae tak tahu. Yang jelas, dia begitu ingin memeluk Yoona yang terlihat begitu lemah.

‘Apa mungkin aku jatuh cinta pada Yoona? Tapi bagaimana bisa?!’ Donghae berbisik pada dirinya sendiri. ‘Sejak kapan?! Kenapa aku tidak sadar?!’

Yoona yang sudah mencoba pakaian yang dia pilih, keluar dari ruang ganti masing dengan seragamnya.

“Waeyo?” Tanya Donghae, yang terbangun dari lamunannya.

“Pas dibadan sih Oppa, tapi tidak dikantong,” kata Yoona, ketika Donghae masih mengerutkan alisnya. Yoona kembali membuka mulutnya dan berkata dengan suara rendah, “Mahal sekali Oppa!”

Donghae menanggapi Yoona dengan senyuman, membuat Yoona jengkel. Lalu dia bangkit. “Kamu ganti aja bajumu, Yoong. Soal kantong Oppa yang mengurus tenang saja ne!.”

Donghae kemudian menyerahkan label harga pakaian yang dipilih Yoona sambil meraih sebuah jaket, lalu membayar semuanya.

“Dongsaengnya, aghashi?”Tanya pelayan toko. Donghae menggeleng sambil tersenyum simpul. “Yeojachingu?!”

Belum sempat Donghae menjawab, Yoona keluar dari ruang ganti. Dia menghampiri Yoona, mengambil jaket yang ada di tangan Yoona dan memberikan paper bag untuk seragam Yoona dan jaket yang baru dibelinya. Lalu mereka keluar dari toko setelah pamit pada pelayan toko.

Donghae membukakan pintu untuk Yoona sambil berkata,”sarapan dulu, ne Yoong?”

“Heh?!” Yoona terkejut menatap Donghae tidak percaya. Setelah membelikan baju, sekarang Donghae mau mentraktirnya makan?!

“Oppa Lapar sekali, Yoong!” Donghae mengelus perutnya, lalu berjalan menuju sisi mobil yang lain, dan menyalakan mesin.

“Kalau merasa tidak enak, kamu ikut makan saja sekalian, Yoong. Tidak enak kan, kalau Oppa makan sendirian?!”

Yoona terpana menatap Donghae.

« *** »

Ketika dalam perjalanan, kembali HP Yoona bergetar. Dia pun segera mengeluarkannya. Ternyata dari Kyuhyun. Dengan segera Yoona menjawab.

“Yeoboseo? Eh, ne… Aniyo, nan gweachana. Oppa bagaimana bisa menghubungi aku? Bukan ini masih jam pelajaran?” Tanya Yoona heran. Kyuhyun lalu menjawab.

” Oppa lagi ada di luar kelas, Yoong. Kamu tidak apa-apakan?”

Yoona tersenyum. “Nan, gweachan. Kyu Oppa!”

“Arra,Oppa masuk kelas dulu ne,” kata Kyuhyun sambil mengakhiri pembicaraan. Donghae yang tadinya sempat geli melihat senyum konyol Yoona terkesiap begitu Yoona menyebut ‘Kyu’.

CKKKIIIIITTTT!!!!!

Baru saja Yoona akan memasukkan HP-nya ke saku, tiba-tiba Donghae menghentikan mobilnya mendadak. Membuat Yoona hampir terhempas ke depan.

Donghae menatap Yoona tajam. Mendengus kesal, mematikan mesin mobilnya, dan diam sambil memeluk setir mobil.

“Apa hubunganmu dengan Kyuhyun?!” Tanya Donghae sambil masih memeluk stirnya, dengan suara penuh amarah.

“Bagaimana kau bisa kenal dengan Kyuhyun, Yoong?!”

“EH?!” Yoona bingung dengan perubahan sikap Donghae saat ini.

“Katakan padaku, apa hubunganmu dengan Kyuhyun?!” Donghae bangkit dan menatap Yoona tajam.

“Hhhhh!!! Jangan katakan kalau kalian pacaran!!”

“A…”

Belum sempat Yoona mengatakan sesuatu, Donghae sudah memotong.

“Bagaimana bisa kamu pacaran dengan dia Yoong?! Sial!! Menggelikan….:hhhh…kenapa … Kenapa kamu suka sama Kyuhyun?! Kenapa Kyuhyun ?!!” Donghae meracau dalam emosinya, membuat Yoona tidak tahu harus berbuat apa selain melongo dan berusaha mencerna setiap emosi Donghae, yang tampak dari ekspresi marahnya.

“Donghae Oppa…” Yoona mengulurkan tangannya.

Plak!

Donghae menghempaskan tangan Yoona dengan kasar.

“Dunia ini memang tidak adil ya?! Ketika aku benar-benar ingin meraih masa depanku, dia malah berpaling. Kenapa Kyuhyun begitu beruntung?! Kenapa dia selalu mendapatkan apa yang selalu aku inginkan?!!” rancau Donghae

Yoona mengerutkan alisnya heran. “Apa maksud Oppa?”

Donghae menatap Yoona dengan sengit. Kesal karena Yoona tidak menangkap apa yang ingin dia utarakan. Donghae menghela napas panjang.

“…… OPPA SUKA SAMA KAMU YOONG!!! SARANGHAE JONGMAL SARANGHAEYO CHOI YOONA!!!” Kata Donghae dengan menekankan kata-katanya.

“Heh?!” Yoona tekejut dengan pengakuan Donghae itu.

“Ne, Oppa memang suka sama kamu Yoong!!!!” Donghae melayangkan tinju ke arah kaca jendela yang ada di belakang Yoona. Terdengar oleh Yoona suara napas Donghae yang berat.

“ARRRGGGGHHHHH !!!!”

TIIIIIIIIiIIInNNNnNNNN!!!

Donghae meringkuk di klakson mobil sambil berteriak. Membuat keributan di tepi jalan.

“Nanti… Bajunya, aku kembalikan..,ne Oppa,” kata Yoona lemah.

“YA, Babo! Apa kamu pikir baju itu akan berguna untuk Oppa? Apa kamu pikir Oppa akan memakainya untuk kostum Halloween?!!!” Bentak Donghae, membuat Yoona tersentak terkejut.

Krrrr….kkkrrrruuuuuccccuuuuukkkk…

Suara perut Yoona yang kelaparan menghentikan kata-kata kasar yang akan dilontarkan Donghae.

“Hhhhh…” Akhirnya Donghae hanya menghela napas panjang.

“Eodisoyo Oppa?” Tanya Yoona sambil merutuki perut yang tidak bisa memahami situasi yang dihadapinya.

“Memangnya mau ke mana lagi?! Ya makan!!” Donghae memacu mobilnya ke restorant yang jadi langganan keluarganya.

Ketika mereka sampai, dengan takut-takut Yoona turun dari mobil dan mengikuti Donghae yang tidak mempedulikannya, masuk ke dalam restoran. Rasanya tidak mungkin kalau Yoona langsung pulang. Dia sama sekali tidak mengenal daerah ini. Kalaupun naik taksi, rasanya akan mahal sekali.

“Saya pesan nasi dan sup rumput laut minumnya Hot lemon ne! Kamu mau apa, Yoong?” Tanya Donghae beralih pada Yoona yang kedinginan.

Yoona menggelengkan kepalanya.

“Ck..” Donghae bedecak.

“Aghasi, pesanan yang tadi jadi dua porsi saja ne! Gomawo.”Ucap Donghae singkat.

“Donghae-ah?” Saat sebuah suara memanggilnya, Donghae spontan menoleh. Di sana berdiri Kim Heechul dan Jessica Jung.

“Wah, sedang sarapan dengan yeojachingu mu ya? Bisa kita gabung?” Tanya Heechul ramah sambil melempar senyum pada Donghae.

Donghae melirik Yoona dan segera pindah ke sebelahnya. Donghae tidak ingin Yoona yang sedang sakit terlibat sesuatu dengan Jessica yang sedang menatap mereka dengan tajam.

“Sudah lama kenal?” Tanya Heechul ramah.

Yoona yang merasa pusing tidak bisa menjawab apa pun. Dia hanya diam sambil meminum teh hijau panasnya.

“Mianhae Heechul ahjushi, dia lagi sakit.” Jawab Donghae sambil melirik Yoona, yang menahan pusingnya.

“Jarak umur kalian.. Pasti jauh kan?” Celetuk Jessica.

“Yah, tapi kami tidak kencan, setidaknya belum.” Donghae lalu menatap dalam ke mata Jessica.

“Tapi aku rasa bagus juga. Kalau jaraknya agak jauhan, bisa saling mengontrol kan?” Balas Jessica. Heecul meremas tangan Jessica yang jengkel dengan jawaban Donghae.

“Yoong, gweachana? Manhi Appo?” Donghae beralih pada Yoona yang meletakkan kepalanya diatas meja, tidak kuat menhan pusing di kepalanya.

“Oppa, appo,” jawab Yoona pendek.

“Makan dulu ne,” dengan telaten Donghae langsung menyuapi Yoona begitu pesanan mereka datang. Dengan lembut, dia memperlakukan Yoona yang sedang sakit.

“Habis ini kamu minum obat ne. Oppa beli dulu ya. Agashi,titip sebentar ne!” Donghae bangkit dari duduknya dan keluar dari restoran,bergegas mencari obat di apotik terdekat. Dia begitu khawatir melihat Yoona yang terlihat begitu lemas.

“Mianhae,Jess. Oppa tinggal sebentar, ada telepon masuk dari kantor.” Heechul bangun dari duduknya, keluar dari restoran sembari membuka HP-nya.

Melihat ini adalah kesempatannya untuk mengorek info tentang Donghae, Jessica bertanya pada Yoona yang sedang tergeletak lemah di depannya. Dengan sinis, Jessica menatap Yoona.

“Sudah berapa lama kenal dengan Donghae Oppa?”Tanya Jessica setelah mengamati Yoona yang dia anggap sama sekali tidak sebanding dengannya.

“Huh?” Yoona bangun dari tidurnya, dan menatap Jessica yang mendengus melihatnya.

“Apa sih yang bisa Donghae Oppa lihat dari kamu?” Jessica semakin menjadi saat tahu Yoona sedang sakit, ditambah lagi hanya ada merka berdua.

“Cantik tidak, seksi tidak, pendek pula! Huh…”

Yoona hanya menatap Jessica sambil mengerutkan alisnya.

“Jangan-jangan kamu ditemukan sama Donghae Oppa di pinggir jalan. Yeoja yang bisa didapat murah dimana saja… Huh, kamu pikir bisa menggantikanku? Bisa memiliki hatinya?” Jessica menatap Yoona sinis.

“Dengar ya, Yeoja Pendek… Kamu tuh cuma debu di hati Donghae Oppa yang bisa kapan saja dihilangin.”

Yoona diam, tak tahu harus berbuat apa pada sosok yang tidak dikenalinya, sampai dia melihat bayangan seseorang di belakang Jessica.

“Donghae Oppa?”

Spontan Jessica berbalik sambil bangkit dari duduknya. Matanya membulat, melihat Donghae yang sedang menatapnya dingin. Tuntas semua perasaannya pada Jessica. Tak ada lagi yang tersisa, begitu dia melihat betapa kecil hati mantan kekasihnya itu, kalau dibandingkan dengan Yoona. Dengan segera, Donghae mengeluarkan uang untuk membayar makanan yang bahkan belum sempat dia sentuh. Dia menyeret Yoona yang baru saja bangun dari duduknya, keluar dari restorant.

“Donghae Oppa!” Panggil Jessica.

“Ini tidak seperti yang kamu duga. Aku sama sekali tidak…”

“Aku tidak menduga ahjuma.” Donghae berbalik, menatap Jessica dengan tajam sambil menggandeng tangan Yoona.

“Sayang sekali, Tapi aku melihatnya!”

“Donghae Oppa, aku….”

“Aku tidak peduli lagi sama Ahjuma, dan sebaiknya Ahjuma tidak usah peduli dengan aku.” Donghae meninggalkan Jessica sendiri menggenggam erat tangan Yoona.

“Donghae-ah” Heechul sempat melihat sosok Donghae dan Yoona yang keluar dari restorant. Tapi tanpa mempedulikan Ahjushinya, Donghae langsung masuk ke dalam mobilnya dan membawa Yoona jauh dari restorant yang tidak akan pernah lagi dikunjunginya.

« …. »

Empat meter dari klub Jurnalistik

Seohyun POV :

Seohyun berdiri ketakutan di balik tembok. Khawatir Yoona akan bercerita pada Kyuhyun tentang perbuatannya hari ini, sampai-sampai sama sekali tidak berani menemui Kyuhyun.

Ketika jam istirahat pun, dia sama sekali tidak datang ke ruang jurnalistik. Jangankan datang, lewat saja dia tidak berani. Apalagi hari ini sekolah meniadakan kegiatan belajar-mengajar karena ada persiapan untuk menyambut murid pertukaran pelajar. Seohyun tidak tahu harus ke mana dan gimana. Dia terus berdiri di luar klub jurnalistik sambil berharap Yoona tidak mengatakan apa-apa pada Kyuhyun.

‘Kalau Yoona cerita sama Kyuhyun Oppa, bisa-bisa aku mati…,’ bisik Seohyun dalam hati sambil berjalan perlahan menuju ruang jurnalistik.

Kyuhyun yang baru saja keluar dari ruangan membuat Seohyun terkejut. Kyuhyun langsung berbalik.

“Waeyeo Hyunie?”

Melihat ekspresi Kyuhyun yang tenang, Seohyun menghela napas lega. Dia bergelayut di lengan Kyuhyun sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.

Setelah memastikan Yoona beristirahat, Donghae membereskan semua pakaiannya dan pamit pada Eomma Yoona yang ada di depan TV.

“Mianhae Eomonim, aku pamit pulang dulu ne.”

“Lho?! Kok… Cepat sekali, Donghae-ah?!” Eomma Yoona bangkit dari duduknya dan menatap Donghae, yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.

“Tidak menunggu Minho Pulang dulu?”

“Tidak, Eomonim, ada urusan mendadak. Lagi pula… Apartemen aku tidak ada yang mengurus,” kilah Donghae. Sebenarnya dia pergi karena tidak ingin membuat hatinya semakin tersiksa, melihat Yoona yang begitu dekat dengannya, tapi tak bisa dia jangkau. Cinta yang pergi sebelum sempat mencintainya.

“Ooohh, begitu. Hati-hati di jalan ne! Kalau ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi, Eomonim atau Minho ne!” Kata Choi Seohyun Eomma Yoona.

“Nde Eommonim, permisi!” Donghae membungkukkan badannya, kemudian pergi. Kembali ke apartemennya yang batal dia jual. Tak hanya membatalkan penjualan apartemennya, Donghae juga membatalkan rencananya untuk pulang ke rumah. Dia tidak ingin bertemu dengan Kyuhyun lagi.

« ***** »

“Chagi, gwechana?” Tanya Eomma Yoona ketika melihat putrinya turun dari kamarnya. Yoona menggeleng lemah sambil berjalan menuju dapur.

Masih dia ingat dengan jelas setiap kata dari Donghae, rasa amarahnya, juga pembelaannya atas sikap yeoja yang belum di kenal sama sekali.

‘Kayaknya, dulu Donghae Oppa punya masa lalu sama dia….,’ gumam Yoona sambil menuangkan segelas jus wortel ke gelas dan meminumnya.

‘Duh!! Othoke kalau nanti aku ketemu Donghae Oppa lagi?!! Aku harus bersikap bagaimana?!’ Keluh Yoona.

“Oh ya, Minho-ah!” Suara Eomma Yoona terdengar.

“Donghae tadi pulang katanya ada urusan.”

Yoona terkesiap, dia berhenti meminum jus.

“Aiiissshhh!!! Padahal, aku pengen pergi reuni sama dia!!” Suara Minho semakin terdengar jelas di telinga Yoona.

“Waeyo Yoong?” Minho menatap adiknya yang sedang terdiam sambil menggenggam erat segelas jus. Yoona segera menggelengkan kepalanya.

“Ternyata dia pergi…. Apa dia pergi gara-gara aku?’

“Yoong,” Minho membuyarkan lamunan Yoona.

“Kira-kira Yuri mau tidak ya ikut ke reuni?”

“Reuni? Eh!? Aku kan yang jadi panitianya!!!” Yoona segera berlari menghampiri teleponnya untuk menelpon Kyuhyun, bertanya tentang susunan acara reuni yang seharusnya tadi dia susun bareng Kyuhyun.

“Yoong?!” Panggil Minho pada Yoona yang sedang naik tangga.

Yoona berbalik. “Oppa tanya sendiri saja. Emangnya aku Yuri?!!!” Jawab Yoona yang segera dibalas dengusan oleh Minho.

“Yoong, Yoong!!!” Sekali lagi langkah Yoona terhenti, kali ini karena Eommanya.

“Besok Eomma mau pergi ke Cina…” Belum selesai Eommanya berbicara, Yoona sudah memotongnya.

“Aiishh jinjja, Eomma! Yoongie tidak bisa mengantarkan ke bandara. Besok Yoongie mesti ada di sekolah. Soalnya Yoongie jadi panitia reuni.”

“Masa Eomma berangkat sendirian?” Eomma Yoona berkata lirih.

“Kan bisa sama Minho Oppa, Eomma,” kata Yoona.

“Ne, Eomma. Lagian satu arah kan eomma, bareng saja” Kata Minho berusaha menghibur Eommanya.

Akhirnya Eomma Yoona menyerah, “Arraseo”.

Yoona tersenyum pada eommanya, lalu kembali naik ke kamar untuk menelponn Kyuhyun. Bertanya soal apa yang mesti mereka lakukan di reuni nanti dan minta maaf karena dia tidak bisa menemani Kyuhyun mengurusnya tadi. Tentu saja, Yoona tidak menjelaskan alasan sebenarnya, dia tidak ingin membebani pikiran Kyuhyun.

« **** »

Keesokkan harinya.

“Kyuhyun Oppa!!” Yoona melambaikan tangannya pada Kyuhyun yang sedang membaca catatan kecil, rangkuman pelajaran fisika.

Kyuhyun menengadahkan kepalanya, lalu tersenyum menyambut Yoona. “Morning chagi”.

“Morning oppa,” sambut Yoona sambil bergelayut di tangan Kyuhyun. Hanya Yoona yang berani semanja ini pada Kyuhyun, tanpa takut pada Seohyun.

“Oppa sedang menghafal sesuatu ya?” Tanya Yoona manja.

“Uhhm, catatan kecil ini. Untuk persiapan Ujian, chagi.”Jawab Kyuhyun.

“Gweachana chagi?” Tanya Kyuhyun sambil menyentuh dahi Yoona dengan hati-hati.

“Nan, gweachana Oppa… Apalagi kalau Oppa terus perhatian seperti ini, aku pasti makin cepat sembuh,”kata Yoona sambil nyengir. Di dalam dirinya, Yoona kagum pada sosok Kyuhyun yang selalu bisa teratur dalam hidup.

“Ah, kalau begitu mulai besok oppa jemput kamu sekolah ne?!” Cetus Kyuhyun.

“Eh?! Anniyo Oppa!!” Yoona merasa tidak enak dengan Kyuhyun yang selalu protektif padanya.

“Kalau begitu…” Kyuhyun melepaskan jaket yang dia pakai dan memasangkan ke tubuh Yoona.

“Mulai hari ini kamu harus pakai jaket. Sebentar lagi masuk musim dingin, ujian juga segera datang, kamu jangan sampai sakit, changi. Arra?” Ucap Kyuhyun sambil merapihkan jaket yang ia kenakan ke Yoona.

Yoona teringat dengan kejadian dengan kejadian kemarin. Cara Kyuhyun memakaikan jaket padanya, cara menyentuh dahinya, semua mengingatkan Yoona pada Donghae.

“Yoong Appo?” Kyuhyun memperhatikan Yoona yang terdiam. Yoona menggelengkan kepalanya, tersenyum.

“Nanti acaranya seperti apa, Oppa?”

“Tidak banyak kok yang kita lakukan. Cuma memastikan acaranya berjalan dengan baik. Kamu tidak lupa bawa baju ganti kan, chagi?”

“Aiiissshhh, jinja… Aku lupa.. membawa baju ganti Oppa.” Yooan menepuk dahinya.

Kyuhyun tersenyum menanggapi Yoona, seraya meraih pundak Yoona dan memeluknya. “Gweachana chagi. Acaranya kan dimulai jam tujuh, masih ada waktu kamu buat pulang dan ganti baju.”

Seohyun yang mengikuti Kyuhyun dari belakang merasa kesal. Tapi kalau dia langsung menyerang Yoona, bisa-bisa yeoja itu akan mengatakan pada Kyuhyun apa yang dilakukan Seohyun padanya kemarin. Dia menyesal karena membiarkan Yoona memegang kartu ‘As’-nya.

« **** »

Ketika klub sedang sepi, Seohyun masuk ke dalam klub dan hanya mendapati Yoona di dalam. Dia menghela napas lega. Dengan perlahan, dia meletakkan tasnya di meja, lalu duduk di sebelah Yoona sambil meraih beberapa surat.

“Hai, aku minta maaf soal yang kemarin. Aku ini… Terlalu manja dan bergantung pada kedua Oppaku,” kata Seohyun.

“Eh?!” Yoona kaget dengan kemunculan Taeyon yang tiba-tiba. Tapi dia tetap berusaha tersenyum pada Seohyun karena sudah bertekat untuk menaklukkan hati dongsaeng Kyuhyun itu.

Sebuah ide licik terlintas di otak Seohyun.

“Oh ya! Kyuhyun Oppa tadi minta tolong ke aku supaya bilang ke kamu, tidak usah menunggu oppa. Soalnya, dia bakalan lama.”

“Oh ya?!” Seru Yoona. “Kok Kyu Oppa tidak SMS?”

“Mana aku tahu?” Seohyun mengangkat bahunya, menahan senyum kemenangan. Dia tidak percaya kalau bisa membohongi Yoona dengan begitu mudah.

Seohyun pun kembali berkata,” Oppaku selalu seperti itu. Dia agak-agak pelupa gitu. Daripada kamu menunggu Oppa lama yang belum tentu selesai dengan cepat, lebih baik kamu pulang duluan saja. Dan istirahat sebentar.” Ucap Seohyun

‘Mungkin karena merasa bersalah karena tindakannya yang kasar kemarin,’ duga Yoona sambil tersenyum kecil, sama sekali tidak menyangka kalau Seohyun akan sebaik ini padanya.

“Arra, tolong katakan pada Kyuhyun Oppa, ne? Aku pulang duluan.” Pamit Yoona sambil tersenyum pada Seohyun

“Ahh… iya. Jam segini kan jarang sekali ada bis yang lewat. Aku minta tolong sama Donghae oppa saja,untuk mengantar kamu pulang ne?” Seohyun segera mencari HP-nya yang berada di tas nya, lalu menghubungi Donghae.

“Ehhhh??!!!” Yoona langsung melotot, tapi tidak mungkin menolak terang-terangan. Yoona menatap Seohyun resah, tak tahu harus bagaimna menolak bantuan Seohyun.

“Mm..tidak usah Seohyun-ah. Aku.. Aku bisa naik taxsi kok,” kilah Yoona.

“Tidak usah sungkan lagi. Eh! Annyeonghaseo, Oppa? Eodisoyo?? Bisa ke sekolah aku tidak? Aku mau minta bantuan Oppa.” Seohyun tersenyum pada Yoona, lalu berbalik dan berbicara pada Donghae.

‘Sial… Sial… Sial….!!!!’ Pekik Yoona dalam hati sambil menggigit bibir bawah dan meremas-remas kertas yang ada ditangannya.

“Tahu kejadiannya seperti ini mending aku mengantarkan Eomma ke bandara!”

“Yoona-shi…” Seohyun menunjuk kertas yang diremas-remas oleh Yoona.

“Ah!!!” Yoona melemparkan kertas-kertas itu ke meja.

‘Oups!!! Ini kan artikel untuk minggu depan… Ukh!!! Dasar Babo!’

“Aniyo gweachana, aku akan membereskan semuanya. Kamu ke depan saja, nanti Donghae Oppa ada disana.” Seohyun menahan kejengkelannya dengan senyuman palsu.

“Uh….” Yoona dengan pasrah berjalan ke depan. Tidak tahu akan bersikap seperti apa nanti di depan Donghae.

« **** »

Yoona duduk dibangku di pelataran parkir, menunggu Donghae muncul, tanpa sadar kalau Donghae sudah sampai dan sedang menatapnya dari mobil. Donghae bingung harus bersikap seperti apa pada Yoona yang sudah mendengar pengakuan kacaunya kemarin. Seandainya hari itu Donghae bisa menalar semua tindakannya… Seandainya dia menyatakan perasaannya dengan baik dan manis… Seandainya Yoona menerimanya…

Ratusan khayal memenuhi kepala Donghae lagi. Tak ingin sifat impulsifnya kembali menguasainya, Donghae segera keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Yoona sambil merutuki Seohyun. Entah dari mana Seohyun mendapatkan sifat licik yang tidak ketulungan seperti itu.

Ketika dia sudah ada didepan Yoona, Donghae terdiam. Tak tahu harus memulai dari mana. Yoona yang sedang tertunduk menyadari kehadiran Donghae, tapi dia tak tahu harus berbuat apa, kecuali terus menatap sepatu Donghae.

“Heh!” Panggil Donghae, memaksa Yoona mendongakkan kepalanya.

“Kajja!” Tanpa menunggu Yoona, Donghae langsung berbalik dan berjalan menuju mobilnya.

“Kalau keberatan tidak apa-apa kok. Aku bisa pulang sendiri dengan taksi.” Yoona berjalan mendekati Donghae.

Donghae berbalik dan menatap Yoona yang ada dibelakangnya. Gadis pendek yang entah bagaimana bisa begitu terlihat memikat di matanya.

“Oppa tidak keberatan kok,” jawab Donghae datar.

“Tapi, tapi… Nanti malah bikin repot Oppa.”

“Kalau Oppa bilang tidak apa-apa,ya tidak apa-apa!!” Donghae menarik Yoona.

Krucuk….krucuk…krrrr…

Langkah mereka terhenti, Donghae menengadahkan kepalanya.

“Yoong… Apa hari ini akan turun hujan?” Tanya Donghae dengan wajah polosnya.

“Hah?”

“Aniyo, rasanya tadi oppa mendengar suara petir…” Donghae lalu berbalik dan menyeringai.

Reflek Yoona memukul punggung namja yang lebih tinggi darinya itu.

“I…itu suara perutku, oppa!”

Donghae menoleh dan nyengir pada Yoona yang menunduk malu.

“Kayak suara petir saja… Sudah dua kali ini ya, Oppa mendengar petir lokal itu.”

Meskipun sempat takut dengan reaksi Donghae, tapi Yoona merasa lega dan bisa bersikap seperti biasa dengan Donghae. Karena Donghae sendiri terlihat biasa dan tidak terlalu mempermasalahkan kejadian kemarin.

« **** »

“Yoong, Mian… Opp…” Kyuhyun yang bergegas masuk ke ruang jurnalistik terpaku saat melihat Seohyun yang menyortir artikel.

“Yoona eodi?” Tanya Kyuhyun pada Seohyun

“Pulang, aku yang menyuruhnya,”jawab Seohyun enteng.

“Hah?!” Kyuhyun termangu mendengar penjelasan Seohyun. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Oppa tidak perlu khawatir seperti itu, aku sudah meminta Donghae Oppa untuk mengantarnya.” Dengan tenang, Seohyun merapihkan artikel-artikel.

Kyuhyun terdiam, menatap kesal Seohyun, lalu berbalik dan keluar dari ruangan dengan kesal.

“Oppa mau kemana?”Tanya Seohyun yang mengikuti Kyuhyun dari belakang.

“Pulang, Oppa lelah. Kamu disini saja ne, bereskan semuanya!”Jawab Kyuhyun datar.

“Mwoo… Aaiiiissshhhh menyebalkan…” Pekik Seohyun kesal.

« **** »

Malam Reuni akbar SMA Inha.

Diantara hiruk-pikuk para alumni dan senior mereka, Kyuhyun dan Yoona berdiri di tepi untuk mengawasi pesta reuni itu. Sementara Seohyun berdiri di dekat pintu masuk, mengawasi kalau-kalau Donghae atau Jessica sudah datang. Tepat dugaan Seohyun, Jessica datang. Tapi bukan dengan Heecul,dia datang dengan Choi Sulli.

“Aiisshh…. Jinjja, kita seperti pasangan lesbi kalau begini,” bisik Sulli pada Jessica.

“Gweachana, yang penting lesbinya yeopeuda ne?” Sambut Jessica yang langsung dibalas dengan pelototan Sulli, tapi Jessica tidak mempedulikannya. Dia sedang mencari sosok Donghae di antara puluhan orang.

Ketika Jessica masuk, dia langsung disambut Seohyun dengan muka masam.

“Nih!” Seohyun mengulurkan selembar kertas yang berisi ajakan untuk mengadakan beasiswa untuk siswa SMA Inha yang kurang mampu atau yang memiliki prestasi.

Jessica melempar senyum.”Thanks”.

Seohyun menimpalinya dengan dengusan.

“Dia itu punya brother-complex lho, Sul. Ke Oppa-Oppanya.” Bisik Jessica pada Sulli.

“Kalau aku punya Oppa seperti Donghae Oppa, mungkin aku juga kena brother-complex juga,” balas Sulli, sambil mengamati wajah-wajah yang ada di sana. Dia punya maksud datang di reuni akabar ini. Dia ingin bertemu dengan Minho sekali lagi, mantan namjachingu-nya yang sampai sekarang tak bisa dilupakannya.

“Sul, Choi Sulli..” Jessica menarik-narik ujung baju Sulli sambil memberi isyarat pada Sulli untuk melihat ke arah pintu masuk. Sulli pun berbalik. Tertangkap olehnya, sosok Minho dan Yuri yang baru masuk.

“Oppa, aku merasa tidak enak nih, tidak pede juga,” bisik Yuri pada Minho sambil menatap pump-shoes-nya berkali-kali.

“Aku tidak pernah cocok memakai baju feminim seperti ini.”

Minho menatap Yuri.

“Anniyo, kamu neomu yeopo ne. Lagi pula, kan ada Oppa disini. “Lalu Minho menggenggam tangan Yuri dengan lembut.

Sulli menatap lekat Minho, sedangkan Jessica hanya menyeringai sambil berkata, “Ternyata Donghae Oppa dan Minho Oppa sama saja, suka sama yeoja ingusan. Huhhh….” Jessica berjalan meninggalkan Sulli yang masih terpaku menatap Minho.

Sulli ingin berjalan meninggalkan tempat itu, tapi dia sama sekali tidak bisa bergerak. Seolah dia sedang menunggu Minho untuk menghampirinya. Ketika Minho mendekatinya, Sulli berbalik berharap namja itu tidak melihatnya.

“Sulli-ah?” Terlambat, Minho sudah memanggil Sulli, mengajak Yuri yang masih agak malu mendekati Sulli.

Sulli berbalik dan memaksakan diri untuk tersenyum. “Annyeonghaseo?? Apa kabar?”

“Nae Yeojachingu?” Tanya Sulli.

“Dalam masa pendekatan. Kamu sendiri?” Minho melirik Yuri yang terkejut mendengar perkataan Minho.

“Lebih sering bersama kain dan mesin jahit, ketimbang dengan Namja.” Sulli dengan tulus tersenyum pada Yuri.

“Dia ini Ceroboh, lho!”

“Ya…ya…,jangan bicara seperti itu dong. Oh ya, kalian mau minum?” Tanya Minho.

“Coke, please.” Sulli menatap Yuri.

“Sama,” jawab Yuri, menatap Minho yang dengan terang-terangan menyatakan perasaannya tadi.

“Minho Oppa itu namja yang baik. Jadi, jangan sia-siakan dia seperti aku, ne?” Kata Sulli sambil tersenyum pada Yuri. Matanya melirik Minho yang sedang mengambilkan minum untuk mereka.

Yuri terdiam mendengar perkataan Sulli. Meskipun Sulli terdengar begitu tulus, tapi dari matanya, Yuri bisa melihat, dia masih mencintai Minho. Yuri tersenyum kecil.

“Hai, girls.” Minho menghampiri Yuri dan Sulli.

“Berasa seperti Don Juan deh, dikelilingi dua yeoja-yeoja yeopo.”

“Tuh kan, dia ini ceroboh! Mending jangan diterima!” Kata Sulli sambil menerima coke dari Minho.

“Yak.!!!!” Minho kontan memberikan pelototan pada Sulli yang terkekeh.

« **** »

Sementara itu, Jessica yang masih mencari sosok Donghae, malah menemukan Yoona dengan Kyuhyun yang sedang duduk mesra di tepi lapangan voli. Tempat diadakannya reuni akbar.

“Sial… Kok bisa sih, Donghae Oppa suka sama yeoja seperti itu?!” Jessica menghampiri Yoona dan Kyuhyun dengan penuh emosi.

“Heh!!! Yeoja centil! Bisa ya? Mesra-mesraan sama namja lain.”

Kyuhyun dan Yoona langsung tersentak.

“Ah, dengan dongsaeng Donghae Oppa pula! Centil banget sih?! Dasar yeoja murahan serakah!!!” Jessica makin bersemangat.

Yoona yang ketakutan memeluk lengan Kyuhyun.

“Mianhae, Noona… Atau seharusnya aku sebut Ahjuma? Yoona adalah yeojachingu ku, jangan bicara yang macam-macam soal yeoja ku. Donghae Hyung juga tidak ada hubungannya dengan semua ini. Jadi, jangan libatkan kami dalam hubungan AHJUMA dan Donghae Hyung yang membingungkan.” Kyuhyun mengintimidasi Jessica dengan nada bicaranya yang tenang.

“Ka…kamu…” Jessica tergagap menghadapi Kyuhyun yang selalu bisa mengatur emosinya.

“Jangan permalukan diri Ahjuma. Ini daerah kami. Ahjuma tidak ada hak untuk mengintimidasi kami,” tekan Kyuhyun.

“Sial!! Berhenti memanggil aku ‘Ahjuma’!” Seru Jessica sambil melemparkan coke-nya pada Kyuhyun. Membuat wajah dan kemeja Kyuhyun basah.

Seohyun yang kebetulan melihat ini langsung menghampiri Jessica dan membalas menyiramkan coke-nya pada Jessica. Dia memang ahli dalam hal ini.

“Breng….”

“Apa?! Sudah, diam dan jangan banyak bicara! Mau aku umumkan lewat microphone?!” Seohyun lalu berjalan mendekati Kyuhyun dan Yoona.

Tak ada yang menyadari keributan kecil yang terjadi di tepi lapangan. Teriakan Jessica tidak terdengar karena tertutup riuh suara musik yang bergema.

Yoona lalu membersihkan wajah Kyuhyun dengan perlahan.

“Mianhae Oppa, gara-gara aku, Oppa jadi seperti ini….” Tanya Yoona

“Oppa gweachana?” Seohyun menghampiri Kyuhyun.

“Ne, nan gweachana. Tolong Yoong, antar Oppa ke belakang ne?” ucap Kyuhyun.

Tapi ketika Seohyun mengikuti mereka, Kyuhyun menambahkan. “Berdua saja”.

Seohyun akhirnya berdiri sambil memasang muka jengkel menatap punggung Kyuhyun yang menggandeng Yoona keluar dari lapangan volly. Jessica,sambil bersumpah serapah, berjalan menuju parkiran mobil, menulis SMS untuk Sulli yang masih bersama Minho dan Yuri. Ketika dia hampir sampai di pelataran parkir, dia bertemu dengan Donghae. Segera dibersihkannya bekas coke yang masih menempel di wajah. Dia tidak ingi Donghae melihatnya dalam keadaan yang sama sekali tidak sempurna.

“Jessica?” Donghae menyipitkan matanya, untuk mempertegas pandangan. Penampilan Jessica yang kacau Donghae hampir tidak mengenalinya. Seandainya Jessica tidak mengeluarkan sumpah-serapah khasnya, Donghae tidak akan mengenalinya.

“Annyeong.. Annyeong Oppa,” jawab Jessica tersenyum manis sambil membenahi penampilan.

“Waeyo?” Tanya Donghae dingin.

“Biasa Oppa pesta lempar coke?” Jawab Jessica sambil nyengir.

Donghae melemparkan sapu tangan padanya.

“Lebih baik kamu cuci wajahmu lebih dahulu.” Lalu berjalan meninggalkan Jessica. Jessica melirik sapu tangan yang ada di tangannya. Matanya berkaca-kaca menatap sapu tangan yang pernah diberikan Donghae ada di genggamannya. Rasa bahagia yang baru saja menghinggapinya, karena bertemu lagi dengan Donghae, meluap begitu saja. Dia hanya bisa menatap punggung Donghae yang semakin kabur karena air mata yang sudah memenuhi matanya.

« **** »

Dengan perlahan, Yoona membersihkan coke yang melekat di wajah Kyuhyun.

“Kenapa kamu bisa terlibat dengan Jessica Noona, Yoong?” Tanya Kyuhyun.

Mau tak mau, kali ini Yoona mesti jujur pada Kyuhyun.

“Sebenarnya…kemarin..aku..aku keluar dengan Donghae Oppa..” Yoona menundukkan kepalanya sambil berdoa di dalam hati agar Kyuhyun tidak marah.

“Pas..aku dan Donghae Oppa sarapan..aku…sakit…terus… Aku…aku bertemu sama Ahjuma yang tadi di restoran.”

“Kamu pernah makan bersama Donghae Hyung? Di restoran?!” Kyuhyun mengerutkan alisnya. Dadanya serasa sesak.

Yoona mengangguk ragu.

“Hm..sebenarnya aku mau berangkat sekolah…tapi karena ada kecelakaan kecil, aku tidak bisa pergi ke sekolah..” Yoona menatap Kyuhyun yang sedang termangu di hadapannya.

“Mianhae Oppa, aku cuma tidak ingin membuat Kyuhyun Oppa khawatir.”

“Yoong, kamu kenal baik dengan Donghae hyung?”Kyuhyun terkejut mendengar penjelasan Yoona.

“Ne, Donghae Oppa dia kan teman Minho Oppa Kakakku…,” jawab Yoona, lalu berusaha untuk mengalihkan perhatian Kyuhyun.

“Coke-nya benar-benar lengket ya, Oppa?”

“Hmm…” Kyuhyun menatap intens Yoona.

“Oppa.” Yoona merasa gugup ketika Kyuhyun mendekatinya.

“Hmm? Kenapa?” Kyuhyun menatap Yoona dengan kedua matanya.

“Coke-nya belum aku bersihkan semuanya…”

“Anniyo, gweachana….” Tangan Kyuhyun meraih dagu Yoona dan menderatkan sebuah ciuman ke bibir Yoona yang belum pernah dicium sebelumnya. Bibir kecil yang lembut.

“Saranghaeyo….,” bisik Kyuhyun di telinga Yoona saat gadis itu masih tercengang dengan ciuman Kyuhyun.

Sebuah ciuman pertama yang terjadi di bawah naungan sebuah lagu mellow yang menggaung sampai di kelas di mana Kyuhyun dan Yoona berada. Menambah suasana romantis antara keduanya.

Dari lapangan volly, tanpa sengaja Donghae melihat bayangan Kyuhyun dan Yoona yang berciuman. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk mencegah apa yang baru dilihatnya. Dia hanya diam, menatap sendu adegan yang sama sekali tak ingin dilihatnya. Dia berbalik dan menjauh dari keramaian, tanpa mempedulikan Minho dan teman-temannya semasa SMA yang memanggilnya.

“Oppa! Kenapa Oppa pergi?! Bukannya Oppa suka sama Yoona-shi?! Kenapa Oppa tidak menggunakan kesempatan ini untuk merebut Yoona dari Kyu-Pa?!” Seohyun berusaha menahan pintu mobil Donghae. “Ini kan kesempatanmua!!”

“Merebutnya dari Kyuhyun? Jangan membuat Oppa berbuat sesuatu yang benar-benar menyedihkan, Hyunie.” Donghae tersenyum lemah.

“Oppa tidak ingin seperti Jessica.”

“Waeyo Oppa?!” Seohyun menuntut penjelasan Donghae.

“Kalau Oppa berbuat seperti itu, apa bedanya Oppa dengan Jessica yang mengemis cinta? Oppa tidak ingin terlihat begitu menyedihkan, arra?!”

“Lebih baik terlihat menyedihkan, daripada terpekur diam menatap semua yang Oppa harapkan lewat begitu saja, tanpa sempat diraih! Iya kan?! Aku tidak percaya yang ada di hadapanku ini adalah Donghae Oppa yang aku kenal selama ini!!” Seohyun lalu berbalik meninggalkan Donghae, yang masih terpaku didepan pintu mobilnya dengan sebatang rokok yang terselip di mulutnya, tapi tidak dia nyalakan.

‘Apa aku semenyedihkan itu?’ Donghae lalu memacu mobilnya. Melewati jalanan Seoul yang mulai lengang, Donghae terus menyetir dengan segala kekalutan yang menggelayuti pikiran dan hatinya. Hatinya begitu lelah dan jengah. Ingin di bersandar ke sebuah bahu yang mampu mengusir semua resah dan gundahnya, tapi pada siapa dia akan menyandarkan kepalanya? Tak ada siapa pun yang mau dan mampu menemaninya saat ini. Tak ada yang bisa mengusir lelahnya.

Akhirnya, setelah melewati lusinan lampu jalanan yang bersinar temaram, Donghae tiba di sebuah cafe dengan desain minimalis-bohemian. Dia duduk di depan bartender.

“Tolong, satu gelas whisky,”kata Donghae sembari meraih HP dan mematikannya. Ketika segelas whisky sudah ada di depan Donghae, sebuah musik mengalun dengan perlahan, yang makin membuat Donghae merasakan dilema. Memang lagu itu cukup mengena di hati Donghae.

Ni saeng-gag-i nal ttaemada yog-eul haess-eoss-eo

Geuleomyeon jogeum naajyeoss-eo

Geogjeong-i doel manhan geon da jiwobeolyeoss-eo

Geulaedo gieog-eun neomu manh-a

eottehoke naege jeonhwa hal suga

Mundeug tteoolla jeonhwa hal suga

Gikkeos kkeonaendaneun mal-i gyeou “mwohae”

Reff

Neol ijgo issneun jung gaseum-i apeun jung

Miwodo haneun jung yongseodo haneun jung

Mwolado gwaenchanh-a sarang-eun kkeutnass-eo

Neol moleudeon nallo doedol-a ganeun jung

Amuleon maldo haji anh-eul geoya

Bangaun naesaegdo haji anh-eulge

Gwikkaji deullineun simjangsolil meomchulyeo

Sumjocha swiji anhgo iss-eun naege

Gikkeos kkeonaendaneun mal-i gyeou “mwohae”

Reff

Neol ijgo issneun jung gaseum-i apeun jung

Miwodo haneun jung yongseodo haneun jung

Mwolado gwaenchanh-a sarang-eun kkeutnass-eo

Neol moleudeon nallo doedol-a ganeun jung

Imi nan chungbunhi apeun geol

Hwag-inhaji anh-ado apeun geol

Nega geuliwoseo apeun ge anya

Geunyang heojeonhaeseo nunmul-i nangeoya

Reff :

Neol ijgo issneun jung gaseum-i apeun jung

Miwodo haneun jung yongseodo haneun jung

Mwolado gwaenchanh-a sarang-eun kkeutnass-eo

Neol moleudeon nallo doedol-a ganeun jung

Dasineun ni mogsoli deudji anhgileul balae

( Super Junior KRY – ….ing )

Perlahan, mulut Donghae mengeluarkan sumpah-serapah.

“Apa duniaku seperti dalam lagu itu?” Tanya Donghae pada bartender yang hanya tersenyum renyah padanya sambil menerima uang Donghae. Seolah-olah berkata, ‘Asalkan kau punya uang, kurasa, kau tak semenyedihkan itu.’

Pandangan mata itu benar-benar membuat Donghae jengkel.

“Oh, sudahlah, jangan tersenyum seperti itu padaku!” Donghae meraih gelas whisky-nya lalu meminumnya dalam sekali teguk.

“Urgh…baka…,” umpat Donghae ketika tenggorokannya terasa panas oleh minuman yang baru saja ditenggak. Tanpa peduli dengan keadaannya yang sudah terkontaminasi oleh alkohol, Donghae yang merasa bosan berjalan menuju pelataran parkir.

Kepalanya terasa berat dan pandangan matanya sedikit kabur, tapi dia tetap berusaha untuk berkonsentrasi penuh, menajamkan pandangannya dengan menyipitkan mata. Mencari mobilnya, dengan tertatih dan sempoyongan berjalan. Ketika sudah menemukan mobilnya, dia mencoba untuk memasukkan kunci mobilnya dengan penuh konsentrasi.

Kcc…kcckreck…crek…

Begitu berhasil, Donghae langsung masuk dan meringkuk memeluk setir, sebelum akhirnya bangkit dan menyalakan mesin.

‘Siall!!! Aku tidak menyangka whisky akan seberat ini… Urg!!!’ Sambil menahan rasa panas di perut, Donghae menyetir. Sudah lumayan lama dia tidak minum lagi.

Dengan sisa kesadarannya, Donghae berusaha terus untuk meneruskan perjalanan. Keadaan makin ricuh saat sebuah truk pasir melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.

Donghae yang ketika itu kehilangan fokus dan kurang menguasai medan, langsung oleng dan berhadapan langsung dengan truk pasir itu. Donghae dengan spontan membanting stir.

“ARRGGHHHHHhh ! ”

BRAK!!!!!

Mobilnya selip, menabrak pohon beringin. Donghae yang kepalanya terbentur, kontan tak sadarkan diri. Selang beberapa menit kemudian, beberapa penduduk yang kebetulan melintasi jalan itu segera menelepon rumah sakit dan polisi, melihat mobil Donghae yang terlihat begitu parah. Mereka tak bisa melakukan apa pun pada Donghae yang terjepit di dalam mobil, mereka hanya diam dan berharap polisi dan ambilan segera datang ke sana.

« **** »

SMA Inha, beberapa saat seusai reuni akbar.

Seohyun POV :

Tulilililililitt…tulilililittt…

Ketika Seohyun sedang membereskan bangku-bangku yang ada di tepi lapangan, HP-nya berdering. “Annyeonghaseo?”Jawab Seohyun.

“Hyunie!Eomma Naya, Donghae… Dia masuk rumah sakit….,” bisik Eommanya yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, bersama Appanya, yang berkali-kali menyebut nama Tuhan, meminta-NYA untuk menyelamatkan anak sulungnya.

“Jeongmal?!Eomma pasti bohongkan? Ini salah satu lelucon Eomma dan Appa saja kan?” Seohyun bertanya sambil mengharapkan Eommanya untuk mengiyakan pertanyaannya.

“Mianhae, Chagi. Eomma juga berharap ini cuma salah paham atau apa, tapi tidak. Donghae , Oppamu sedang berada di UGD,”jawab Eomma Seohyun sembari menggenggam tangan suaminya.

“Eomma, tunggu Hyuni dan Kyu di sana, ne!” Seohyun mematikan teleponnya lalu menghampiri Kyuhyun yang sedang membereskan hiasan-hiasan.

“Kyuhyun Oppa, Donghae Oppa masuk rumah sakit…” Kata Seohyun sambil menarik lengan Kyuhyun untuk meminta perhatiannya.

“Hah?!” Kyuhyun terperanjat mendengar perkataan Seohyun.

“Palli,Oppa!!” Seohyun menarik tangan Kyuhyun, mengajak Oppanya itu untuk segera ke rumah sakit, melihat keadaan Donghae.

« ***** »

Lutut Seohyun melemas melihat Eommanya yang menangis. Di pikirannya sudah terbayang sesuatu yang buruk telah terjadi pada Oppanya, sampai akhirnya Donghae keluar dengan kruk di tangannya dan berjalan terseok-seok.

“Dasar, babo! Sudah berapa umurmu,Hah?! Sampai tidak tahi aturan minum Hah?!” Omel Eomma Donghae yang langsung bangkit dari duduknya, sambil memukul kepala Donghae.

“Yyaa,,, Yaa,,,Appo… Eomma.” Appanya yang melihat Donghae mengerang, menahan tangan Eommanya yang sudah siap untuk memberikan pukulan berikutnya ke kepala Donghae yang dibalut perban.

“Sudahlah.”

“Hyung,gwechana?” Kyuhyun menghampiri Donghae, diikuti Seohyun yang akhirnya bisa bernapas lega melihat Donghae tidak terlalu parah.

“Diam” lenguh Donghae sambil menarik tajam ke arah Kyuhyun.

“Eomma, aku mau pulang ke apartemen saja.”

“Jangan manja begitu, Hae-ah!”Hardik Eomma Donghae yang melihat gelagat lama anaknya kembali lagi. Setiap kali Donghae ingin diperhatikan atau dimanja, dia akan melakukan hal yang sebaliknya. Meminta untuk ditinggal. Padahal dia ingin mereka semua menemaninya.

“Hyung, Aku bantu ne.” Kyuhyun mendekati Donghae untuk membantunya berjalan.

“Jangan sentuh!!” Bentak Donghae lagi sambil berjalan meninggalkan mereka semua. Hanya Seohyun yang masih mengikutinya. Hanya dia yang berani menantang Donghae.

Ketika mereka ada di depan rumah sakit, Donghae berdiri termangu di depan sebuah taksi yang berharap Donghae mau menaikinya.

“Oppa memang menyedihkan, Hyuni? Bahkan ketika Oppa sudah tahu, yeoja yang membuatku tidak mengerti perasaan Oppa sendiri menyukai dongsaeng ku sendiri, tapi Oppa tetap menyukainya. Oppa tidak tahu apa yang terjadi, Hyuni… Tapi emosi Oppa sama sekali tidak tersalurkan dengan baik….” Lalu Donghae menaiki taksinya.

“Sampai nanti Hyunie, Oppa pergi dulu ne.”

Seohyun memang tidak tahu apa yang sudah terjadi antara Yoona dan Oppa pertamanya itu. Tapi melihat reaksi Donghae, Seohyun bisa menebak apa yang terjadi pada Donghae. Oppnya benar-benar mencintai Yoona dan gadis itu sudah menjatuhkan Oppanya sedemikian dalamnya ke dalam lubang penyiksaan cinta.

“Apa itu yang namanya Cinta?” Gumam Seohyun lirih.

« ***** »

_TBC_

Akhirnya selesai juga Chapter 4 ini… mian kalau postnya sedikit lama… soalnya asal mau ngelanjutin ceritanya banyak banget rintangannya. Bagaimana kelanjutan hubungan Yoona dan Kyuhyun? Apakah Yoona akan bersama dengan Kyuhyun. Apakah Donghae dapat menyadari perasaanya dengan cepat atau akan kehilangan lagi.??”

Mau tau kelanjutannya.. ditunggu yaaa….

Gomawo…. Please Coment !!! Happy Reading!!!! Chingu…… ^-^

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s