Freelance – My Boyfriend is A Ghost [Chapter 2]

MBIAG

Previous :

Chap 1

Author & Cover by:

Milleny (@MillenyBFVIP07)

Cast :

Kim Jong In/Kai (EXO)

Jung Han Ra (You/OC)

Lee Tae Min (SHINee)

Kim Ki Bum/Key (SHINee)

Support cast :

Song Geum Heun (OC)

Mrs. Song (Geum Heun’s mother)

And other…

Genre :

Fantasy, Angst, Romance, School-life, Hurt, Sad, Tragedy (?)

Rating :

Teen

Length :

Chaptered (Chapter 02)

Disclaimer :

Semua cast punya Tuhan dan orangtua/orang-orang terkasih. Jung Han Ra dan FF punya saya seutuhnya. Plis jangan diplagiat. Ini udah ancur, plis jangan plagiat kacian tauk T_T #plak :v. FF ini terinspirasi dari drama 49 Days (maaf ini kemarin lupa dicantumin) dan film horor Indonesia kuntilanak :v.

Warning! : FF ini sebelumnya pernah di post di Note FB saya, tapi karena saya sudah punya blog pribadi dan ingin share juga di sini, saya akhirnya share kembali. Dan ini saya revisi kembali. Cerita seutuhnya masih sama seperti dulu, namun ada yang saya tambah+kurangi.

FF sudah dipost di akun pribadi : MILLENY 165

Terima kasih selamat membaca~

“Aku ingin mati dan menyusul kedua orangtuaku. Aku tidak tahan, seonbae…”

Tae Min terdiam untuk beberapa saat. Apa yang harus ia lakukan?

Walau ragu, Tae Min akhirnya memeluk Han Ra dan mengelus punggungnya. Semoga dengan begini, beban Han Ra akan sedikit berkurang. Itu memang yang dipikirkan Tae Min. Ia… entahlah… sangat ingin menjaga gadis ini.

Tae Min menelan ludah dalam-dalam. “Jangan mati,” Han Ra hanya dapat terdiam. Tae Min melanjutkan, “Jangan tinggalkan aku. Aku… tidak ingin kau mati, Jung Han Ra.”

***

Setelah sekolah kosong tidak ada yang tersisa (mungkin masih ada beberapa), Tae Min mengajak Han Ra untuk makan di luar. Selama Tae Min membujuk, selama itu pula Han Ra mencoba untuk menolaknya.

Sungkan. Sungkan dan takut. Sekalin sungkan, Han Ra juga takut akan telat pulang lagi. Kalau kali ini ia telat pulang lagi, sudah bisa dipastikan ia terancam. Siapa lagi kalau bukan duo nenek sihir itu?

Namun, Tae Min tidak jera. Ia terus membujuk Han Ra. Walau gadis itu tetap gigih untuk menolak, Tae Min tetap membujuknya. Dengan berbagai cara. Mulai dari sok imut, nasihat, ancaman, dan segala macam sehingga lama kelamaan Han Ra luluh juga.

“Kau mau makan dimana?” tanya Tae Min yang saat itu sedang duduk di belakang kemudi mobil. Han Ra yang duduk disebelahnya dengan wajah pucat hanya bisa pasrah kalau dibawa kemana saja. Baginya yang penting saat ini adalah perutnya terisi. Han Ra memiliki penyakit mag bila telat makan.

“Terserah seonbae saja, aku tidak butuh yang terlalu mahal, kok, yang penting kenyang, seonbae.” Tae Min terkekeh pelan mendapat jawaban yang menurutnya lucu dari gadis cantik berwajah pucat di sebelahnya.

Tae Min menunjuk sebuah restoran di seberang jalan. “Baiklah. Kita ke restoran di sana saja.”

Mereka berdua melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil Tae Min yang diparkir di seberang jalan, jadi terpaksa mereka harus menyeberang dulu. Tae Min mendekati Han Ra kemudian menggandeng tangannya. Han Ra tersentak dan menatap Tae Min yang hanya diam. Tae Min menggandengnya menyeberang di jalanan kota Seoul yang padat dan ramai itu. Han Ra sedari tadi hanya melihati wajah Tae Min dan tidak terlalu fokus menyeberang.

Sekarang, mereka sudah duduk di salah satu meja restoran yang khusus untuk dua orang saja. Di samping mereka ada pelayan wanita sedang membawa buku yang lumayan tebal yang isinya menu-menu makanan dan minuman. Setelah mereka selesai memesan makanan dan minuman, pelayan itupun pergi.

Gomawo, seonbae sudah menyelamatkanku.” Tiba-tiba Han Ra berucap. Dengan tulus.

Tae Min yang salah tangkap dan mengira kalau Han Ra mengucapkan kata terima kasih karena bantuan menyeberang jalan tadi pun hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa. Aku sudah biasa, kok, menyeberangi jalan yang rami begitu. Jadi, kau aman bersamaku. Oh iya, soal gandengan tangan tadi, aku hanya tidak mau kau pingsan di tengan jalan. Takutnya kau pusing kalau melihat begitu banyaknya motor dan mobil.”

Han Ra mengernyitkan dahi. “Bukan itu maksudku. Ah bukan juga. Maksudku, kau kan sudah menyelamatkanku untuk yang ketiga kalinya, ‘kan?”

Tae Min mengernyit. Berpikir keras. Namun, kemudian tersenyum. “Aku tahu. Yang pertama aku menggendongmu ke UKS, lalu menyadarkanmu, lalu membantumu menyeberang. Aku benar, kan?” Tae Min menghitung menggunakan jari-jarinya.

Bukan itu maksudku. Kedua alis Han Ra kembali bertaut menjadi satu. Heran. Apa Tae Min lupa sesuatu? Sesuatu yang sudah membuat Han Ra duduk di hadapannya sekarang? Mungkin dia lupa. Han Ra tersenyum tipis mejawabnya, “Ne.”

Pelayang datang dan terpaksa mereka harus memotong ucapan mereka karena kalau makan sambil bicara, maka akan tersedak. Itu peraturan nomor satu yang diingat. Lagipula masalah ini kan masih bisa bisa dibicarakan lain kali.

***

“Sudah sampai. Kau benar-benar mau masuk sendiri? Atau perlu aku antar saja?”

Han Ra menggeleng dan tersenyum tipis, “Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Ini kan sudah sore. Seonbae pulang saja.”

Tae Min mengangguk. “Keurae. Jaga diri.”

Han Ra melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.

Han Ra melambai. “Semoga perjalananmu lancar!”

Setelah mobil Tae Min menghilang dari pandangannya, Han Ra membalikkan badan dan menatap rumahnya yang sudah salah diwariskan oleh mendiang ayahnya kepada dua orang nenek sihir yang berasal dari negeri antah berantah. Dengan langkah kaki yang sedikit takut, Han Ra maju pelan-pelan. Han Ra hanya bisa mengguman doa dan menggigit bibir. Tangannya sudah mencengkeram dengan erat ujung-ujung kaosnya. Dan sekarang saatnya…

“Aku pulang.”

Han Ra bersuara kecil agar kedua ibu dan anak itu tidak mendengar. Ia menutup pintu rumah dengan pelan, kemudian melepas sepatu dan menggunakan sandal rumah seperti biasa. Lalu gadis itupun berjalan mengendap-endap masuk ke dalam rumah.

“Han Ra sudah pulang?” tanya Geum Heun langsung menyambar tas milik Han Ra dan menaruhnya di sofa.

Han Ra tersentak.

“Han Ra, kau tidak boleh sampai capek, ya? Nanti kalau kau sampai capek, bagaimana kau mau mengikuti kemping?” Geum Heun bertanya dengan suara yang sangat-sangat berbeda 360 derajat dari biasanya. Ini mencurigakan. Geum Heum melepaskan jaket Han Ra lalu menyimpannya dengan baik.

“Wah, Han Ra sudah pulang rupanya. Ayo makan, sayang. Ini, ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan Han Ra. Kau juga, Geum Heun!” Ibunya berteriak dari dalam dapur.

Geum Heun menarik Han Ra untuk berjalan ke arah dapur. Han Ra semakin curiga. Masa nenek sihir berubah jadi malaikat? Itu mustahil. Pasti ada apa-apa dibalik semua ini. Tapi Han Ra hanya bisa diam dan menurut.

Han Ra dan Geum Heun duduk di depan meja makan. Han Ra melihat ibu tirinya berjalan sambil mengenakan celemek. Di tangannya tersedia nampan yang di atasnya ada mangkuk yang berisi sup panas. Itu sup kesukaan Han Ra. Kedua mata Han Ra menyipit. Tapi, apa mereka berniat meracuninya?

“Makan yang banyak, Han Ra!” ibu tirinya tersenyum manis. Tapi dimata Han Ra senyumyna terasa dibuat-buat, bahkan menakutkan. Yang pasti, tidak ada nenek sihir yang memiliki wajah cantik dan senyum manis. Mustahil. Han Ra harus memeriksa apakah sup ini beracun atau tidak.

Saat ibu tirinya dan kakak tirinya sedang makan, Han Ra menyendok sup tapi tidak ditelannya dan disimpan dalam mulut. Diam-diam dia mengendap-endap ke belakang rumahnya lalu menghampiri Petsi –nama anjing peliharaannya- yang sedang tertidur. Han Ra mengeluarkan sup itu dari mulutnya ke mangkuk Petsi yang kosong. Han Ra membangunkan Petsi lalu mencoba meyakinkannya bahwa Petsi harus minum itu. Agar Petsi mau meminumnya, Han Ra mengeluarkan plastik makanan yang dibungkus –dibelikan oleh Tae Min di restoran tadi untuk makan malamnya- dari kantongnya dan mengeluarkan daging dari dalamnya lalu meletakkannya di mangkuk Petsi. Petsi mengendus-endus dagingnya lalu memakannya. Berhasil. Daging itu sudah tercampur sup muntahan Han Ra.

Lima menit, Petsi masih menikmati makannannya.

Sepuluh menit, mangkuk itu hampir habis.

Lima belas menit, mangkuk itu sudah habis. Petsi menelan habis semuanya—kecuali mangkuk, tentunya -,-.

Dua puluh menit, Petsi mulai kembali tertidur. Perutnya kembang kempis seperti biasa. Bernapas.

Han Ra sudah menunggu. Tapi, setelah Han Ra duduk di samping Petsi cukup lama, anjing itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa sup itu beracun. Apa rencana kedua nenek sihir itu berbeda dari dugaannya?

Karena Petsi terlihat masih baik-baik saja, Han Ra terpaksa kembali lagi ke meja makan sebelum dicurigai oleh mereka. Kalau begitu, berarti sup itu memang tidak beracun. Jadi, sekarang Han Ra tenang dan bisa menelan sisa-sisa sup yang dimuntahkannya tadi dari mulutnya tanpa ada rasa kuatir dan bimbang.

“Han Ra dari mana? Kok, lama sekali?” tanya Ibu tirinya penuh selidik kepada Han Ra.

Otak dan mata Han Ra berputar mencari alasan. “Baru buang air besar. Maklum, aku sudah terlalu kenyang.”

“Oh… begitu,” gumam Ibu tirinya lalu mulai melanjutkan makan.

“Aku sudah selesai eomma. Aku mau ke kamar dulu,” pamit Geum Heun bangkit berdiri lalu berlalu dari hadapan Ibunya dan Han Ra.

Eomma juga sudah selesai. Kau sudah selesai? Kalau sudah selesai, sini biar eomma yang cuci.”

Ibu tirinya meraih piring Han Ra yang sebenarnya tidak habis. Tapi memang Han Ra tidak berselera makan makanan ibu tirinya, lagipula tadi dia sudah makan diluar bersama Tae Min. Selain itu juga, aneh rasanya makan masakannya orang jahat, itu menurut Han Ra.

Han Ra menghentikannya. “Biar aku saja, omma,”

“Tidak usah. Kau bersiaplah untuk kemping besok.” Ibunya bersikeras.

Mendengar itu, Han Ra diam tak bergeming dari tempatnya. Kepalanya seperti disengat listrik. “Kem..ping? eomma.. mengizinkanku ikut kemping? Apa itu artinya eomma juga memberiku sedikit uang untuk…?”

Ne, eomma mengizinkanmu ikut kemping. Untuk saku, jangan khawatir. Eomma pikir eomma akan adil jika kau juga ikut. Besok eomma antarkan sekalian bersama Geum Heun. Sudahlah, bersiap-siap dan tidur.”

Han Ra perlahan berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya dia tidak fokus berjalan, dia masih memikirkan kata-kata ibu tirinya. Memang benar jika ia ingin ikut. Sebenarnya ini mencurigakan. Tapi, kalau soal kemping dan keinginan Han Ra, mendadak ia jadi lupa kecurigaannya pada ibunya sebelumnya.

***

“Baik. Semua barang bawaan sudah siap. Sudah tidak ada yang ketinggalan lagi?” tanya ibu tiri Han Ra padanya dan Geum Heun yang sudah berdiri tegap di samping mobil.

“Baiklah, ayo.”

Semua masuk ke dalam mobil. Ibu tirinya berjalan ke arah belakang kemudi. Geum Heun duduk di samping ibunya, dan Han Ra duduk di kursi belakang sambil menenteng tas kecil yang berisi ponsel, buku, tempat pensil, dompet, dan makanan ringan.

Setelah sampai di sekolah, Geum Heun dan Han Ra turun dan menarik koper masing-masing. Han Ra berjalan lebih dulu ke arah Tae Min yang sudah melambai kepadanya dengan senyum yang cerah seperti hari-hari biasanya. Geum Heun masih tetap berdiri di samping ibunya dan mendengarkan setiap kata-kata ibunya dengan seksama. Ujung bibirnya menarik seulah senyum menakutkan.

“Kau tahu kan apa yang sudah kita rencanakan kemarin?” Geum Heun tersenyum menakutkan. Ia menatap sadis Han Ra yang sedang tertawa bersama Tae Min. “Aku mengerti, ma. Serahkan semuanya padaku. Aku juga tidak rela dia merebut Tae Min dariku!”

“Baiklah, cepat pergi kesana sebelum Han Ra melihat kita!” Ibunya mendorong Geum Heun agar menjauh darinya.

Tanpa basa-basi, ibunya langsung masuk ke mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan sekolah yang sedang sangat ramai. Ia bisa memercayakan semuanya pada Geum Heun. Ia yakin Geum Heun mampu melaksakan semua rencana busuknya.

Sementara di sekolah, semua orang sedang bersiap-siap. Beberapa orang amsih belum hadir, namun ada beberapa yang sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam bis.

Bahkan sekolah menyewa 6 bus. Di dalam bus tidak ditentukan untuk kelas berapa, jadi bebas siswa ingin duduk bersama adik kelas atau kakak kelas. Tentu saja Han Ra duduk bersama Tae Min. Siapa lagi kalau bukan Tae Min? Laki-laki itu sepertinya bahagia saja kalau yang duduk bersama dengannya adalah Jung Han Ra.

Tae Min dan Han Ra duduk di kursi yang dikhususkan untuk dua orang. Mereka ikut bis nomor satu. Diam-diam tanpa sepengetahuan mereka, Geum Heun juga sedang duduk di belakang mereka dengan tujuan menguping pembicaraan mereka.

“Bagaimana kemarin? Apa ibu tiri dan saudara tirimu memarahimu?” tanya Tae Min setelah pantatnya mendarat di kursi bus.

Han Ra menggeleng. “Tidak. Tapi aneh sekali, seonbae. Tiba-tiba sifat mereka yang awalnya seperti nenek sihir berubah menjadi malaikat. Sangat palsu. Tapi, bagaimanapun juga, eomma sudah memberiku izin dan memberiku uang untuk kemping.”

“Nenek sihir itu memberimu uang? Lagipula, panggilan nenek sihir tidak jelek juga. Hahaha.”

Tae Min dan Han Ra tertawa bersama di dalam bus. Tanpa sepengetahuan mereka, Geum Heun yang duduk di belakang mereka hanya mengepalkan tangan dan giginya menggertak. Wajahnya sangat berapi-api. Kedua matanya menajam. Dari iris matanya seolah ada api yang berkobar-kobar.

Oh.. jadi begitu kau dibelakangku dan eomma? Okkay, aku terima. Tapi, sebentar lagi tamat riwayatmu, Jung Han Ra! Geum Heun tertawa penuh kemenangan dalam hati.

Setibanya di hutan, tempat yang telah ditentukan oleh panitia dan para guru. Siswa berhamburan keluar dari dalam bus masing-masing. Geum Heun harus menunggu Tae Min dan Han Ra menjauh dulu kalau ingin keluar, biar tidak ketahuan kalau ia sudah menguping selama itu. Tae Min dan Han Ra pun keluar. Setelah cukup aman, dia baru keluar dan menghampiri teman-temannya.

Seonbae? Ada apa?” Han Ra kuatir saat melihat wajah Tae Min yang berubah setelah memasukki hutan itu. Wajahnya berubah pucat dan memang tadi baru turun dari bus, sikapnya agak aneh.

Tae Min menatapnya dengan senyum yang dipaksakan. “Tidak. Aku baik-baik saja. Kau pergilah bersama teammu anak kelas 2, aku kan juga harus bersama anak kelas 3. Annyeong.” Tae Min berlalu begitu saja tanpa berkata dengan manis.

Han Ra terbengong menatap Tae Min. Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba…?

Gadis itu mendesah. Ya sudahlah. Akhirnya, gadis itu pun menghampiri kawan-kawannya. Mereka sedang sibuk membagi kelompok. Dengan adanya Han Ra yang baru tiba, mereka harus berpikir lagi untuk membagi kelompok. Dan akhirnya…

Kelompok Han Ra yang terdiri dari: Dong Shi Na, Kim Ha Woo, Song Jo Jo, dan Choi An Na. Mereka berlima membuat dua tenda. Satu untuk tenda perempuan yang terdiri dari: Jung Han Ra, Dong Shi Na, dan Choi An Na. Lalu yang laki-laki hanya Kim Ha Woo dan Song Jo Jo. Mereka memang berbeda tenda, tapi mereka tetap satu kelompok.

“Bagi para siswa yang ingin mengikuti kegiatan. Silahkan salah satu dari kelompok mewakilkan untuk mendaftar!” ujar panitia berkata menggunakan mikrofone.

Semua peserta berhamburan untuk mendaftar. Kelompok Han Ra diwakili oleh Ha Woo yang sudah mengantre diantara banyak peserta itu. Saat matanya jelalatan melihat kawan-kawannya, tanpa sengaja, Han Ramelihat Tae Min sedang duduk di depan tenda, dan pandangannya aneh sekali.

Ia tersenyum dan bangkit berdiri. Ia menghampiri Tae Min dan duduk di sebelahnya. Kelihatannya Tae Min tidak menyadari kehadiran Han Ra kerana pria itu tidak merasa terusik ataupun menoleh. Tae Min tetap duduk melipat kaki dan tetap lurus menatap ke arah depan. Melamun.

Seonbae!”

Han Ra membuat Tae Min menatapnya dengan kaget, “Ada apa?” tanyanya begitu sangat… sangat singkat.

“Apa yang sedang kaupikirkan?” tanya Han Ra penasaran.

“Bukan apa-apa,” jawab Tae Min datar. Tiba-tiba ia bangkit berdiri. “Hm.. aku mau buang air kecil dulu.”

Tae Min berlalu dari hadapan Han Ra. Han Ra hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya. Sebenarnya, Tae Min kenapa? Han Ra menjadi tidak enak. Apa ada sesuatu yang membuatnya begitu? Atau… Han Ra sendiri yang membuat Tae Min seperti itu?

Tae Min seonbae, sikapmu berubah semenjak kita sampai di hutan ini. Apa kau mengingat sebuah kenangan pahit? Atau masa lalumu yang menyedihkan disini? Aku mohon jangan bersikap seperti kau menjauhiku. Aku… setidaknya bisa membantu.

To Be Continue…

Maaf yah Kai sama Key belum muncul 😀

See you in next part guys^^

Jangan lupa RCL 😀

-Milleny-

Advertisements

One thought on “Freelance – My Boyfriend is A Ghost [Chapter 2]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s