My Heart [Chapter 10 – Final]

MY HEART YOONA VERSMy Heart Yoona Version:

Sebelumnya
Starring:

Choi Siwon | Im Yoona | Lee Taemin | Kwon Yuri

Co. Starring:

Eunhyuk | Ryeowook | Kyuhyun | Krystal | Seohyun

Genre: romance | hurt/comfort | family | angst
Lenght: multichapter

Rating: PG – 13

 

Don’t plagiat!!

Sorry typos somewhere

Leave Comment, vote, like 🙂

Happy Reading

“Sorry, I Love Him”

Big thanks to:

All readers who always spend their times to read this fanfiction until the last chapter.

All commenters who always give their opinions, feelings, and another thinkings to this fanfiction. You’ve been read my fanfiction and given your notes in comment box.

All of you who like this fanfiction.

Jjeng jjeeeng!!

Yehet oholat! *ketularan Sehun

Lalalala! *ketularan Chen

Akhirnya oh akhirnya, aku bisa publish chapter terakhir dari FF ini. Udah baca yang di atas kan ya? Nomu nomu nomu gamsahapnida chingudeul…

Mian for typos

Sorry, I Love Him

Yoona terkejut melihat Taemin ada di sekitar rumah Siwon. Ia curiga kalau Taemin sudah mengetahui tentang statusnya yang sudah menikah.

“Sedang apa kau di sekitar sini?” tanya Yoona datar. Dia tidak ingin menunjukkan ekspresi apapun karena saat ini Yoona sednag bad-mood. “Pergilah, aku sedang tidak ingin bercanda.”

“Bercanda? Siapa yang mengajakmu bercanda?”

Yoona menatap Taemin yang masih nangkring di atas motornya dengan datar. Gurae, apa yang kau inginkan?”

“Bagaimana kalau aku traktir jjajjangmyeon?”

Dahi Yoona berkerut. Bagaimana Taemin bisa tahu kalau dia sedang ingin pergi membeli jjajjangmyeon untuk Siwon? “Gurae. Aku setuju.”

Akhirnya Yoona berjalan kaki menuju kedai jjajjangmyeon diiringi Taemin yang menuntun sepeda motornya. Mereka memilih berjalan kaki karena letak kedai itu tidak jauh.

Jarak beberapa meter dari Taemin dan Yoona, Siwon mengikuti keduanya. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Yoona dan namja itu.

Yoona dan Taemin sampai di kedai. Keduanya memesan dua porsi jjajjangmyeon. Yoona memesan satu porsi lagi tetapi dibungkus.

“Satu porsi lagi? untuk siapa?”

“Kwon Yuri. Tadi aku keluar untuk membelikannya jjajjangmyeon dan kebetulan kau ingin mentraktirku.”

Taemin hanya manggut-manggut. Dia senang sekali bisa makan malam berdua dengan Yoona meskipun hanya menu sederhana. “Yoona-a, bagaiman tentang pertanyaan tempo hari?”

Yoona menghentikan tangannya yang tadi sibuk menyumpit mie di dalam mangkoknya. Pandangannya kosong.

“Yoona-a…” lirih Taemin yang berhasil membuat Yoona kaget.

“Kau kenapa?” tanya Taemin khawatir.

“Gwaenchana. Hmm, tentang pertanyaanmu tempo hari, igeo, mian… aku tidak bisa.” Yoona sudah tak bernafsu makan lagi. “Aku harap kau bisa menerima jawabanku. Mian, jongmal mianhae. Suatu saat aku akan memberikan penjelasan padamu.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Aku yakin alasanmu pasti dapat diterima.”

Yoona terdiam. Semoga jawaban yang ia berikan kepada Taemin adalah jawaban yang tepat.

Suasana hening, hanya ada suara jangkrik yang menghiasi ruang dengar keduanya. Yoona berjalan pelan, sedangkan Taemin berjalan pelan di sampingnya.

Siwon masih membuntuti Yoona dan Taemin. Hatinya terasa sakit seperti ditusuk jarum super tajam. Dia memegang dadanya, sesak. Itulah yang saat ini dirasakan namja tampan itu.

Siwon pov

Aku telah kehilangan eomma. Saat aku menyadari kehadiranmu di hidupku, aku bangkit dari keterpurukanku karena kau selalu menguatkanku. Tapi, apakah aku akan kehilanganmu, Im Yoona?

Aku melihat Yoona dan namja itu sedari tadi asyik mengobrol, entah apa yang telah dan sedang mereka bicarakan. Hatiku sangat sakit melihatnya. Kenapa harus seperti ini?

Yoona dan namja itu berhenti sejenak. Mereka berdiri berhadapan. Aku tidak bisa menebak apa yang akan mereka lakukan kemudian.

Namja itu memegang lengan Yoona dan menatapnya lekat-lekat. Aku bahkan tidak pernah berbuat seperti itu pada Yoona.

“Aku harap kau tidak menungguku. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita. jangan marah padaku, jangan menghindar dariku. Tetaplah ada di saat aku membutuhkan seseorang untuk curhat, untuk menghibur diri, dan apapun yang bisa kau lakukan padaku.” Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Yoona. Aku tak mengerti maksudnya.

Sesaat kemudian namja itu memeluk Yoona. aku tak sanggup melihatnya, tetapi tiba-tiba aku mendengar dia mengatakan,”Biarkan seperti ini untuk beberapa detik, hanya untuk yang terakhir kali.”

Mwo? Terakhir kali? Apa maksudnya? Ada hubungan apa diantara mereka berdua?

Namja itu terlihat sangat menikmati saat-saat berdua dengan Yoona. Apa mereka saling mencintai?

Akhirnya Yoona melepaskan pelukannya dengan namja itu. Tak lama kemudian mereka berjalan lagi sampai di dekat pintu gerbang rumah. Yoona melambaikan tangannya dan mngucapkan “Annyeong” pada namja itu yang semakin lama semakin menjauh dengan motornya.

Yoona berjalan sendirian masuk ke dalam gerbang. Aku mempercepat langkahku untuk bertanya padanya mengenai hal yang tadi.

“Yoona-a!” panggilku. Yeoja itu berhenti lalu menoleh ke arahku.

“Oppa, kau diluar?”

“Kau darimana?” tanyaku untuk mengecek apakah Yoona akan berbohong atau tidak.

“Aku membeli jjajjangmyeon untukmu, Oppa. Waeyo?”

Wajahnya polos. Ya, kau baru saja membeli jjajjangmyeon dan bertemu dengan namja itu.

“Eoh, ya sudah, ayo masuk.” Aku mendahuluinya masuk ke dalam rumah. Suasana malam ini agak canggung setelah kepergian eomma. Aku tidak jadi menanyakan tentang pertemuannya dengan namja asing itu. Entahlah, aku semakin tidak mood malam ini. Kedua kakiku kuayunkan ke kamar, aku ingin istirahat. Mengistirahatkan pikiran dan tubuhku.

“Oppa…” lirih Yoona tetapi aku tidak mengindahkannya.

Kriiet! Pintu kamar kubuka. Aku membiarkan Yoona di luar dengan jjajjangmyeon yang dibawanya. Sebenarnya aku tidak tega memperlakukannya seperti ini. Tapi bagaimana lagi? Aku tidak ada mood berbincang dengannya.

Siwon pov end

Pagi ini, Yoona dan Siwon bersiap berangkat ke cafe. Mereka tak saling menyapa apalagi mengobrol. Hal inilah yang menyiksa keduanya. Yoona tak bisa diam saja jika bertemu dengan Siwon, begitupun sebaliknya. Keduanya ingin menyapa tetapi suasana begitu canggung. Sebenarnya tidak ada alasan bagi keduanya utnuk tidak saling menyapa pagi itu. Toh, tidak ada pertengkaran diantara keduanya.

Setelah menempuh perjalanan 15 menit, mereka berdua sampai di cafe. Semua karyawan cafe sudah mulai melaksanakan tugas masing-masing termasuk Krystal. Saat hendak mengelap meja kasir, Krystal melihat Yoona namun ia membuang muka. Yoona hanya bisa mendesah pelan. Ia tahu Krystal tidak menyukainya. Apalagi setelah ia mengetahui kebersamaan Yoona dengan Siwon.

Hari ini Krystal ingin bertukar tugas dengan Yoona. Dia yang akan menjaga kasir sedangkan Yoona bertugas membawakan pesanan pelanggan. Yoona menerimanya dengan senang hati. Menurutnya apapun tugas yang ia laksanakan akan terasa ringan jika ikhlas melakukannya.

Yoona dengan ramahnya menyambut pengunjung yang datang. Sebagian dari mereka adalah pelanggan cafe, sebagian lagi pengunjung yang memang baru menginjakkan kaki di cafe itu. Yoona tak pilih kasih. Dia segera mengantar pesanan pengunjung yang datang lebih dulu.

“Kau bersemangat sekali, Jiyeo-a,” kata Lee Sungyeol yang merupakan partner Yoona dalam menyiapkan pesanan pengunjung.

“Aku selalu bersemangat. Jadi, kau jangan sampai kalah denganku.” Yoona tersenyum lalu melenggang pergi mengantar pesanan itu.

Di saat Yoona melangkahkan kaki mengantar pesanan pengunHwang, di saat itu pula Siwon keluar dari ruangannya. Kesempatan ini digunakan oleh Krystal untuk cari perhatian. Saat Yoona berjalan sampai di depan meja kasir, kaki Krystal sengaja dijulurkan hingga akhirnya…

Prang!!

Gelas kaca pecah dan berserakan di sekitar tempat Yoona terjatuh. Ya, Krystal berhasil membuat Yoona tersandung kakinya. Yoona tak berani bergerak. Lututnya bertumpu pada lantai yang ada pecahan kaca gelas yang dibawanya. Rasanya perih, sakit. Begitu pula dengan telapak tangan kanannya. Saat terjatuh, Yoona langsung bertumpu pada lantai di bawahnya padahal pecahan kaca itu tepat berada di bawahnya.

Siwon dan beberapa karyawan lain terlonjak kaget akibat bunyi gelas kaca yang terjatuh. Siwon melihat Yoona masih membungkuk dan bertumpu di atas pecahan kaca. Ingin sekali Yoona menangis menahan sakit di telapak tangan dan lututnya.

“Yoona-a…” Siwon segera berhambur mendekati Yoona untuk menolongnya namun secepat kilat Krystal menarik lengan Siwon.

“Biarkan saja, oppa. Itu adalah hukuman untuk orang yang suka memainkan perasaan orang,” kata Krystal ketus.

“Apa maksudmu?” tanya Siwon bingung.

“Yeoja ini adalah yeoja yang suka mempermainkan perasaan namja. Kau dan Lee Taemin adalah korbannya. Sekarang korbannya sudah dua orang, besok siapa lagi yang akan dia permainkan? Kau tahu oppa? Namja bernama Lee Taemin adalah selingkuhannya. Jika benar kau sudah menikah dengan yeoja ini, ceraikan dia sesegera mungkin.”

Jleb!!

Hati Siwon dan Yoona seakan tertusuk benda tajam, bukan pisau, parang atau sejenisnya. Tetapi terasa seperti tertusuk ranting yang runcing.

Yoona berusaha bangkit dengan luka di telapak tangan dan lututnya yang meneteskan darah segar tanpa henti. Pecahan kaca dan serbuk-serbuk kaca kecil-kecil masih menempel di bagian tubuhnya yang terkena pecahan kaca.

“Oppa, tidak seperti itu. Aku bisa menjelaskannya,” lirih Yoona yang tengah menahan tangisnya. Dia merasakan perih luka hati dan luka berdarah.

Siwon menatap Yoona dengan tatapan tak percaya. “Jadi benar dugaanku. Apakah namja itu adalah namja yang menemanimu di bar dan namja itu datang lagi semalam? Apakah namja itu adalah namja yang mentraktirmu jjajjangmyeon tadi malam? Jawab aku!” bentak Siwon.

Kedua mata Yoona memerah. Hatinya sangat terluka mendengar Siwon membentaknya seperti itu. Seumur hidup, Yoona sama sekali belum pernah dibentak oleh seseorang, termasuk orangtuanya sendiri. Siwon lah orang yang pertama kali membentaknya.

Tak terasa cairan bening dan hangat mengalir dari sudut mata indahnya. “O, Oppa. Dia memang Lee Taemin, tetapi apa yang dikatakan oleh Krystal itu tidak benar.”

“Tidak benar? Yaak yeoja tak tahu diri! Taemin sendiri yang cerita sendiri pada Seohyun dan Seohyun cerita padaku.”

“Tidak mungkin. Taemin bukan tipe orang yang suka berbohong. Kau jangan memutar balikkan fakta, Krystal Jung!” seru Yoona tak terima jika Taemin dijelek-jelekkan oleh Krystal karena memang Taemin bukan orang seperti itu. “Dia orang baik-baik, tidak sepertimu!” bentak Yoona pada Krystal.

Plaakk!!

Krsytal menampar Yoona. Siwon terkejut melihat perlakuan Krystal pada Yoona. Sebenarnya ia tak tega melihat Yoona diperlakukan seperti itu. Menurutnya, meskipun Yoona bersalah, tak sepantasnya Krystal menamparnya.

“Krystal, jaga sikapmu!” seru Siwon pada Krystal.

“Oppa, dia pantas menerimanya.”

“Oppa, kau percaya padanya atau percaya padaku?” tanya Yoona pada Siwon yang sedikit emosi. “Gurae, kalau ini yang kalian inginkan, aku akan…” Yoona memutuskan kata-katanya. Dia sesenggukan dalam tangisnya. Rasanya dia tidak sanggup meneruskan kalimatnya. “Aku tahu kalian pernah mencintai satu sama lain dan terhalang oleh restu tuan Hwang. Gurae, jika ini yang kalian inginkan, aku akan… aku.. akan melepas Siwon oppa. Aku.. tidak akan menghalangi cinta kalian berdua. Hina saja aku, jangan pernah menghina orang lain. Jangan menghina Taemin atau siapapun.” Yoona berusaha mengatur nafasnya. Setelah mengatakan itu semua, dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan cafe dengan luka yang masih mengucurkan darah segar.

Siwon ingin menyusul Yoona tetapi hatinya ragu. Dia sudah kecewa berat pada istrinya itu. Hatinya juga terluka. ‘ Apa benar kau melakukannya, Yoona-a? Kenapa kau tega melakukannya padaku? Apa salahku, Yoona-a?’

Yoona berjalan tertatih-tatih dengan perasaan yang hacur sehancur-hancurnya. Hari ini rencananya dia ingin mengutarakan perasaannya pada Siwon kalau dia sangat mencintai Siwon. Tetapi sekarang, dia malah dibuang begitu saja dengan membawa sakit hati yang sangat sangat perih. Siwon pasti tidak percaya padanya. Yoona berjalan dengan berpegangan pada dinding bangunan yang dilaluinya.

‘Abeoji, eommonim, mianhae. Jongmal mianhae. Aku gagal menjadi anak yang baik dan istri yang baik. aku telah mengecewakan kalian. Jika akhirnya akan seperti ini, kenapa kalian tidak mengajakku pergi bersama kalian? Mungkin aku akan ikut memperhatikan Siwon oppa dari atas sana karena aku tidak dapat menjaga dan merawatnya di sini, aku hanya bisa menyusahkannya. Kenapa ini terjadi padaku? Aku mencintai Siwon oppa. Aku sangat mencintainya. Apakah Siwon oppa tidak merasakannya? Kenapa dia juga tega bersikap seperti itu padaku? Aku tidak mengkhianatinya. Aku sama sekali tak pernah mencintai namja lain selain dirinya.’

Di dekat sungai Han, Yoona berhenti. Luka akibat terkena pecahan kaca itu masih utuh, belum tersentuh tangannya. Yoona mendesah pelan, dia tidak tahu lagi harus kemana. Apartemennya telah ia tinggalkan. Ia tidak mungkin meminta bantuan pada Yuri atau Taemin karena tidka mau merepotkan mereka. Yoona merogoh sakunya untuk mencari ponsel atau sesuatu ternyata tidak ada. Dompet dan ponselnya ia taruh di dalam tas dan ia letakkan di loker karyawan di cafe. Pupus sudah harapan Yoona untuk sekedar membeli makanan karena perutnya sudah lapar. Ia belum sarapan seperti biasanya.

Kembali ke cafe hanya untuk mengambil tasnya? Itu adalah hal yang tidak mungkin. Ia tidak ingin mengganggu Siwon atau siapapun dulu. Dia sendiri ingin menenangkan pikiran, tapi tidak dalam keadaan perut kosong.

Tap tap tap!

Eunhyuk mendatangi Siwon di cafe. Seperti biasa, Siwon duduk manis di belakang meja kerjanya. Namun kali ini ada yang beda dengan hari-hari biasa. Wajah tampan namja itu tampak kusut sekali seperti baju yang tidak pernah disetrika bahkan bisa lebih dari itu. Eunhyuk sampai di depan ruangan yang berukuran cukup besar dan style minimalis untuk seorang manajer. Pintu tidak tertutup rapat, Eunhyuk mengintip sedikit di celah-celah pintu. Siwon tampaj sedang memikirkan sesuatu.

“Wajahnya suram sekali,” gumam Eunhyuk.

Tok tok tok!

“Siwon-a, kau ada di dalam?”

Siwon yang mendengar suara Eunhyuk sedikit tersentak kaget karena sedari tadi dia hanya melamun. Di masa-masa galaunya, ia masih sempat-sempatnya menata penampilan. Dia memang namja metropolitan yang sederhana.

Tak ada jawaban. Eunhyuk masuk begitu saja padahal Siwon belum mempersilahkannya masuk.

“Kau kenapa? Wajahmu itu, ekspresimu itu? Ada apa?” tanya Eunhyuk bertubi-tubi.

Siwon hanya diam dan menatap Eunhyuk dengan tatapan sedih.

“Siwon-a…”

“Sejak kapan kau memanggilku seperti itu?” tanya Siwon buka suara.

“Mian, ada yang ingin aku tunjukkan padamu.” Eunhyuk mencari sesuatu di dalam saku jaketnya. Saat ini dia berniat mengatakan kebenaran tentnag hubungan mereka berdua dengan menunjukkan foto keluarga yang Eunhyuk miliki dan pastinya Siwon juga memilikinya. Dia ingin mengatakan pada Siwon bahwa Siwon adalah dongsaengnya. “Ige.” Eunhyuk menyerahkan foto itu pada Siwon dengan jantung berdebar-debar. Ia yakin bahwa Siwon tidak akan mempercayainya. Jika dongsaengnya percaya, mungkin dia tidak akan memaafkan hyung seperti dirinya.

Dahi Siwon tampak sedikit berkerut saat melihat foto keluarga itu. Dia benar-benar mengamati foto itu. “Foto ini… darimana kau dapatkan foto ini?” Ekspresi wajah Siwon berubah drastis, sekarang ia tampak serius setelah melihat foto itu.

Eunhyuk membisu.. dia bingung bagaimana menjelaskannya pada Siwon. “Itu adalah foto keluarga kita. dua orang anak kecil di dalam foto itu adalah kita berdua.”

“Mwo?” Siwon tidak percaya, tepat seperti perkiraan Eunhyuk.

“Jongmal mianhae. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya saat eomma masih hidup.”

“Apa maksudmu? Kenapa kau bawa-bawa eomma?”

Kedua mata Eunhyuk terasa panas. “Siwon-a, nyonya Hwang… dia bukan hanya ibumu, tetapi dia.. dia adalah ibu kandungku.” Eunhyuk menunduk untuk menyembunyikan matanya yang telah memerah dan berair.

“Kau? Jadi maksudmu kau adalah saudaraku?” Siwon masih bingung. Tentu saja, ini adalah masalah serius dan tidak main-main. Jadi untuk memahaminya diperlukan usaha yang maksimal agar tidak salah paham. “Kau hyungku atau dongsaengku?”

Eunhyuk sedikit terkejut dengan pertanyaan Siwon. Dia mengambil sesuatu dari balik jaketnya. “Ige.”

Kali ini Eunhyuk menunjukkan akta kelahirannya yang sukses membuat Siwon semakin syok.

“J, jadi kau… kau b, benar-benar hyungku?” kedua mata Siwon berkaca-kaca.

Eunhyuk hanya diam saja tetapi dia menjawab pertanyaan Siwon dengan anggukan pelan.

Siwon mendesah kasar. “Jinjjayo? Gotjimal!”

“Jongmal mianhae, Siwon-a. Aku sudha lama tahu kalau kau dan nyonya Hwang adalah kelaurgaku yang sebenarnya. Aku hanya…”

“Kenapa kau baru mengaku sekarang? Jika benar kau adalah saudaraku, apa kau tidak memikirkan perasaan eomma? Kenapa kau membiarkan eomma meninggal tanpa mengetahui anak kandungnya? Kenapa kau tega sekali pada eomma, eoh? Dimana hati nuranimu? Apakah kau masih pantas disebut sebagai seorang anak dan hyung?” Siwon meneteskan airmatanya. Ia tak dapat menahan cairan itu lagi karena hari ini adalah hari yang berat baginya. “Kenapa semua orang tega padaku dan eomma? Kenapa kalian mengkhianati kami?”

Eunhyuk tidak tahu siapa lagi yang membuat Siwon kecewa selain dirinya. Kata ‘kalian’ adalah kata ganti jamak. Jadi, bukan dia saja yang mengecewakan Siwon.

“Siwon-a, aku tahu kau sangat marah padaku. Aku pun tidak tahu jika akhirnya aku terlambat memberitahumu. Aku sangat menyesal kenapa tidak kulakukan saat eomma masih hidup. Tapi… setidaknya aku bahagia melihat kalian dalam jarak dekat dan aku berhubungan baik dnegan kalian meski bukan sebagai keluarga. Setelah mengatakan ini semua, hatiku benar-benar merasa lega. Akupun tersiksa dengan apa yang aku lakukan. Menyembunyikan identitas memang tidak mudah karena setiap aku melihatmu dan eomma, hatiku menangis. Aku ingin memeluk kalian sebagai keluarga tetapi aku belum bisa melakukannya. Aku benar-benar menyesal.” Eunhyuk terduduk di lantai, tepatnya di depan meja Siwon.

Matahari semakin condong ke barat. Hari semakin gelap. Burung-burung pun kembali ke dalam sarang mereka untuk mengistirahatkan diri, begitu juga dengan banyak orang yang sudah menyelesaikan pekerjaan mereka sedari pagi tadi.

Siwon memutuskan untuk pulang duluan. Krystal ingin ikut dengannya tapi Siwon menolak. Dia ingin sendirian. Maka dengan berat hati, Krystal membiarkan Siwon pulang sendirian.

Siwon berjalan gontai dengan pakaian yang tidak serapi tadi pagi. Pikirannya terbang melayang kemana-mana. Kenyataan yang ia ketahui tentang Yoona membuatnya stres apalagi ditambah Eunhyuk yang ternyata adalah hyungnya. Kepalanya serasa ingin meledak. Berat dan pusing, itulah yang dirasakan kepalanya hingga dia tak sanggup meneruskan langkahnya. Siwon berhenti di depan sebuah mini market. Tiba-tiba dia teringat Yoona. Saat keluar dari cafe, kondisi Yoona memprihatinkan. Siwon berniat mencari Yoona petang ini. Tanpa pikir panjang, Siwon mengunHwangi tempat-tempat yang biasa dikunHwangi Yoona. Sungai Han, bekas apartemen Yoona, jalan depan rumah Taemin yang berada di dekat rumahnya sendiri. Jalan itu merupakan jalan favorit Yoona. tempat terakhir adalah bar Eunhyuk. Ia enggan berkunHwang ke sana. Dadanya masih sesak mengingat fakta kalau Eunhyuk adalah hyungnya. Akhirnya Siwon meminta Ryeowook untuk mencari Yoona di bar milik Eunhyuk. Ryeowook mengatakan kalau saat ini tidak ada seorang yeoja pun yang datang ke bar Eunhyuk. Siwon menyerah mencari Yoona. Hal ini dikarenakan kepalanya yang terasa sangat berat hingga ia ingin jatuh pingsan dan perutnya kosong.

Siwon memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia akan menunggu Yoona di rumah. Siapa tahu Yoona akan pulang ke rumah.

Di suatu tempat, Yoona sedang berusaha melangkahkan kakinya sekuat tenaga. Dia benar-benar lemas. Penampilannya kacau. Luka bekas pecahan kaca yang tadinya berdarah, kini darah itu terlihat mengering dengan sendirinya. Hari sudah petang. Yoona merasakan dingin mulai menyerang.

Dengan susah payah dia berjalan menuju rumah Siwon. Bagaimanapun juga, rumah itu adalah rumahnya karena Siwon belum mengusirnya. Jarak menuju rumah Siwon masih sekitar 3 kilometer lagi namun Yoona tidak menyerah. Dia tetap berjalan pelan meski harus menahan sakit dan lelah. Kedua matanya ingin sekali terpejam dan tubuhnya ingin sekali berbaring di atas kasur yang empuk. Yoona tidak ingin mengingat kejadian di cafe itu lagi. jika mengingat hal itu, dadanya akan terasa sesak dan hatinya akan sangat terluka. Dia akan melepas Siwon secepatnya jika Siwon sendiri yang memintanya. Mereka berdua menikah atas permintaan ibunya Siwon, maka jika mereka ingin berpisah, Siwon sendirilah yang harus memintanya pada Yoona karena sebenarnya Yoona tidak ingin meninggalkan Siwon. Dia baru sadar kalau hatinya telah diserahkan penuh pada namja yang berstatus sebagai suaminya.

Pukul 11 malam, jalan-jalan terlihat sepi. Yang lewat di sana hanyalah orang-orang yang baru saja mebuk-mabukan di kedai soju atau di tempat seperti bar. Ada juga yeoja-yeoja yang bekerja pada malam hari, dan beberapa orang yang memang sengaja pulang malam.

Beberapa meter lagi, Yoona sampai di depan rumah Siwon. Dia semakin semangat mengayunkan langkahnya meski nafasnya berat. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing, dia ingin segera sampai di rumah Siwon. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan seterusnya. Akhirnya ia sudah berdiri di depan pintu gerbang rumah Siwon yang sederhana itu. Saat hendak membuka pintu gerbang itu, Yoona menghentikan tangannya. Dia berpikir sejenak sebelum membuka pintu gerbang itu. Tangannya terlepas dari pintu gerbang yang terbuat dari kayu lalu ia membalikkan badan. Yoona merasa tak pantas menginjakkan kaki lagi di rumah Siwon. Sesaat kemudian Yoona menoleh ke arah rumah Siwon. Lampunya masih menyala. Yoona tahu kalau Siwon belum tidur karena namja itu akan mematikan lampunya jika sudah mau tidur.

‘Oppa, mianha. Jongmal mianhae. Oppa, semoga kau baik-baik saja. Lupakan semua tentangku, maka kau akan hidup selamanya. Aku rela jika kau melupakanku untuk selamanya. Dan aku tidak akan mengganggumu lagi, oppa. Kau harus hidup dengan baik. Aku tidak ingin kau kelaparan, sulit tidur, kelelahan, sakit, dan sebagainya. Kau adalah bintang dalam hidupku, oppa. Jadi, tetaplah bersinar meskipun kita tak bersama lagi. Aku bisa meninggalkanmu dengan tenang jika kau hidup dengan baik.’ Yoona mengatakan itu semua di dalam hatinya. Ia tidak meungkin mengatakannya di depan Siwon.

Perlahan-lahan Yoona mendudukkan dirinya di depan pintu gerbang. Kedua matanya sembab dan tak kelihatan indah seperti biasa. Sayu, sedih, memerah, itulah keadaan mata Yoona. di bawah matanya terdapat lingkaran hitam yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan make-up remover.

Yoona memejamkan kedua matanya yang terasa berat untuk dibuka lagi. Nyaman rasanya menutup mata seperti itu. Lama-kelamaan Yoona tertidur di depan pintu gerbang rumah Siwon. Angin berhembus menembus pakaian Yoona. ia masih mengenakan baju seragam cafe yang berlengan pendek. Yoona menggigil kedinginan namun ia tetap bertahan hingga akhirnya ia tertidur sangat pulas dan tak dapat merasakan dingin lagi.

Di saat yang bersamaan, Siwon terbaring di atas kasur lantai miliknya. Lampu kamarnya sengaja dihidupkan dengan harapan Yoona akan pulang. Jika lampunya ia matikan, Yoona tak akan pulang karena istrinya itu pasti tahu kalau lampu sudah dumatikan itu artinya Siwon sudah tidur. Siwon memikirkan Yoona. Dia bertanya-tanya dalam hati, dimanakah Yoona berada? Bagaimana kondisi Yoona? siapa yang menolongnya?

Siwon mencoba menghubungi ponsel Yoona untuk pertama kalinya setelah kejadian tadi pagi.

Tuut tutt…

Tidak diangkat. Siwon mencoba beberapa kali namun tetap tak diangkat. Tentu saja tidak diangkat karena ponsel Yoona masih di dalam loker karyawan di cafe.

Malam ini, Eunhyuk sengaja tidka menutup barnya. Jika malam-malam biasanya bar itu tutup tepat jam 12, untuk malam ini dia masih membuka barnya. Beberapa orang karyawan meninggalkan dirinya di bar karena mereka pastilah. Beberapa pelanggan masih ada di dalam bar itu. Eunhyuk tak mempedulikannya hingga tiga orang karyawan yang pengertian padanya menutup bar itu. Mereka menata kursi, membersihkan ruangan, dan mencuci gelas dan peralatan yang lain. Eunhyuk masih duduk manis di atas sofa hitam yang berkelas itu. Namja yang tidak terbiasa mabuk-mabukan itu telah menghabiskan empat botol bir kelas berat. Kepalanya pening, rasanya dia seperti berada di dalam gulungan ombak atau angin tornado. Berputar-putar tanpa henti. Eunhyuk sangat frustasi. Dia memang sudah menebak bagaimana reaksi Siwon saat mengetahui kebenaran bahwa mereka adalah saudara kandung.

“Siwon-a, jika kau memang tidak ingin dan tidak akan mengakuiku sebagai saudaramu, aku akan menerimanya dnegan lapang dada.”

Huek.. Eunhyuk hampir memuntahkan isi perutnya. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya,”Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku berani sumpah bahwa aku memang inign mengatakannya sejak dulu tetapi waktu belum memberikan kesempatan yang tepat padaku. Tapi sekarang malah terlambat. Yaak, uri dongsaengi, jika kau membenciku, aku minta berikan senyummu sekali saja padaku. Aku akan mengingatnya seumur hidupku. Aku akan meninggalkan Korea. Aku akan meninggalkan semuanya dan pergi ke Amerika. Jika kau.. tidka mau hidup denganku, maka aku… akan pergi dari kehidupanmu. Tetapi aku tetap menyambutmu di kehidupanku. Jika kita tidak dapat hidup bersama di dunia ini, aku ingin kita bisa hidup bersama di kehidupan yang selanjutnya. Cukup katakan ‘Hyung, aku memaafkanmu’, maka hidupku akan tenang.

Eunhyuk mabuk-mabukan seorang diri di dalam bar. Sungguh namja yang malang. Dia tertidur di dalam bar hingga mentari pagi bersinar terang dan menghangatkan tiap insan yang bertebaran di muka bumi khususnya di Korea Selatan.

Pagi ini Siwon bangun kesiangan karena tak ada Yoona yang biasanya membangunkan dirinya. Namja itu masih mengharapkan Yoona pulang. Namun ternyata harapannya itu hanyalah sebuah harapan kosong karena sampai pagi ini Yoona belum menampakkan diri. Apakah Yoona memang setega itu padanya? Siwon tak ingin memikirkan hal itu untuk saat ini meski hal itu terus menerus mengganggu pikirannya. Siapa yang tak galau dan tak khawatir bila memiliki masalah seperti dirinya. Siwon memang marah dan kecewa pada Yoona. Tetapi rasa sayangnya terhadap yeoja itu mengalahkan kemarahan dan emosinya hingga ia sendiri yang merasakan kepedihan. Siwon tidak bisa marah pada Yoona, oleh karena itu saat kejadian di cafe, dia hanya sedikit melontarkan kalimat dan tak berani membentak Yoona.
Masalah ini harus segera diselesaikan, pikirnya.

Selesai membersihkan diri dan berpakaian nan rapi, Luham siap berangkat kerja. Hari ini dia tahu akan datang terlambat karena itu sengaja dilakukannya. Suasana hatinya belum membaik. Pagi ini pun ia tidak menyuapkan sesuatu ke dalam mulutnya untuk sarapan. Tanpa Yoona ataupun ibunya maka tak ada sarapan karena ia sendiri tidak berminat untuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
Siwon menutup pintu rumahnya lalu menguncinya. Saat mengunci pintu, ia teringat saat berangkat bekerja bersama Yoona. Hal itu membuat ekspresi wajahnya kembali muram.
“Bagaimana aku bisa merindukanmu padahal hanya sehari aku tidak melihatmu. Im Yoona, dimanakah dirimu berada?” gumamnya lirih lalu memasukkan kunci rumahnya ke dalam tas.

Siwon berjalan menuju pintu gerbang. Saat ia melangkah di depan pintu gerbang, ia hampir terjatuh tersandung sesuatu. Siwon nyaris tak melihat kalau ada sesuatu di depan gerbangnya. Tetapi setelah ia berada diluar gerbang, matanya membelalak melihat sesuatu yang menghalangi jalannya tadi. Ya, tubuh lemah Im Yoona yang terbaring tak berdaya di depan gerbang. Yoona yang sejak tadi malam tertidur di depan gerbang dalam posisi duduk, sekarang terbaring di tempatnya.

“Yoona?” Siwon mendekati Yoona yang menutup matanya rapat-rapat. Menyadari bahwa ia tidak sedang bermimpi, Siwon segera mengangkat bagian kepala Yoona ke pangkuannya. Badannya panas sekali namun di ujung-ujung jari lentik yeoja itu terasa dingin sekali seperti es. Ya, Yoona mengalami Step atau demam sangat tinggi. Luka bekas terkena pecahan kaca juga masih utuh, di lutut dan telapak tangan kanannya. Siwon miris melihat itu semua hingga tanpa sadar airmatanya meleleh dan jatuh tepat di pipi Yoona.

“Yoona-a, ireona. Ireona chagiya…” Siwon menggoyang-goyangkan tubuh Yoona yang tak berdaya itu. Dia berharap Yoona akan membuka matanya. Namun ternyata yeoja itu tetap menutup matanya rapat-rapat. Tak ada cara lain, Siwon segera membawa Yoona ke rumah sakit.

Hari ini Ryeowook sengaja menemui Krystal di cafe-nya. Cafe itu sudah sah menjadi milik Ryeowook. Tidak hanya cafe, tetapi ada beberapa aset lain milik appanya yang diwariskan kepadanya. Untung saja appanya lebih percaya pada Ryeowook. Jika namja paruh baya itu percaya pada istri barunya alias ibu kandung Krystal, maka seluruh aset kekayaannya akan lenyap seperti ditelan bumi.

Seperti hari-hari biasa, para karyawan sibuk melayani tamu-tamu yang datang ke cafe. Ryeowook senang melihat mereka bekerja dengan semangat.
Ada satu karyawan yang sama sekali tidak menunjukkan semangat kerjanya. Tentu saja orang itu adalah Krystal. Rupanya tidak hanya Siwon, Yoona dan Eunhyuk yang merasa galau, Krystal pun mengalami kegelisahan dalam hatinya. Ia sedih karena Siwon sudah menunjukkan tanda-tanda kalau namja itu sudah tak mencintai dirinya lagi.
‘Aku sama sekali tidak mengkhianatimu, oppa. Appaku lah yang memisahkan kita. Tapi kenapa semuanya jadi begini. Kemarin kau menolak pulang bersamaku, waktu itu kau menolakku bekerja di sini, tetapi saat yeoja itu datang, kau menerimaku asalkan yeoja itu juga bekerja di sini. Apakah kau benar-benar tidak mencintaiku? Aku tidak akan menyerah. Ini bukan takdir yang harus dijalani. Kau bukan untuk yeoja itu oppa.’ Krystal bicara dalam hatinya.

“Krys!” Suara khas seorang Ryeowook mampu membuyarkan lamunannya.
Krystal menoleh. Ia agak terkejut melihat Ryeowook sudah berdiri di depannya.
Krystal berdiri mengimbangi Ryeowook. “Waeyo?” tanyanya pada Ryeowook dengan nada lirih dan seperti orang yang kelaparan.
“Ada yang ingin aku bicarakan. Kita bicara di atap.” Ryeowook mengambil langkah menuju atap cafe.

Sesampainya di sana, dia baru tahu kalau atap cafe sudah lebih indah dan lebih menyenangkan dari yang dulu. Siwon lah yang mengubah atap itu menjadi taman mini. Banyak jenis tanaman bunga yang ditanam dalam pot, banyak bonsai dan bambu kuning. Di sana juga terdapat dua buah bangku panjang dan satu meja besi kecil dengan desain Eropa. Taman indah itu membuat Ryeowook menarik simpul bibirnya untuk sesaat sebelum dia mendudukkan diri di atas salah satu bangku kayu panjang.
Krystal mengikutinya dari belakang. Ekspresi wajahnya datar. Setelah sampai di atap, Krystal duduk di samping Ryeowook dalam keadaan diam.

“Krys, aku mengajakmu bicara bukan untuk memaki dirimu atau mengambil harta yang telah diambil oleh ibumu. Aku datang ke sini ingin membicarakan tentangmu.”
Krystal mengangkat alisnya. Ia sedikot tak percaya kalau Ryeowook ingin membicarakan tentang diri Krystal. “Waeyo? Bukankah kau membenciku?”
“Aku sama sekali tidak membencimu. Aku benci atas sikap dan tindakanmu. Itulah yang akan aku bicarakan saat ini.” Ryeowook mengambil nafas dalam-dalam. “Aku sudah mengikhlaskan uang jutaan won yang dicuri oleh ibumu. Aku juga sudah memikirkan satu hal tentangmu. Kau adalah adik tiriku, Krys. Jangan mengira kalau aku membencimu. Aku membenci tindakanmu yang egois dan merusak kebahagiaan orang lain.”
Krystal mengerutkan dahi. “Apa kau ingin mencaciku lagi?”
“Biarkan aku menyelesaikan kata-kataku.”
Krystal diam.
“Aku telah memutuskan untuk memberimu 3% saham yang aku miliki. Tapi dengan syarat.”
“Apa kau serius? Syarat apa?” Krystal mulai tertarik dengan perbincangan itu.
“Aku akan memberimu saham itu dengan syarat kau keluar dari cafe ini dan bekerja di perusahaan. Dan lagi, kau harus meninggalkan dan melupakan Siwon.”
“Oppa…”
“Kau tidak mau? Aku hanya menerima satu jawaban dan itu akan berlaku selamanya. Jika kau menolak, maka aku akan mengusirmu dari rumahku dan mengurus perceraian appa dan eomma-mu. Aku akan meminta appa menceraikan eomma-mu. Aku pastikan hal itu terjadi karena appa juga tidak begitu senang dengan kehadiran eomma-mu. Tapi jika kau menerimanya, semua yang kutawarkan padamu akan menjadi kenyataan. Pilihlah satu jawaban.”
Krystal tampak bingung. Dia ingin sekali memiliki saham itu dengan cuma-cuma. Sedangkan di satu sisi, dia tidak ingin meninggalkan Siwon.
“Kau sudah tahu sendiri kan kalau Siwon tidak mencintaimu lagi? Untuk apa kau datang ke dalam kehidupannya? Kau hanya akan menjadi masalah baginya. Kenapa kau tidak mencari namja lain? Eunhyuk masih menunggumu.”
Krystal menatap Ryeowook setelah mendengar pernyataannya kalau Eunhyuk masih menunggunya. “Eunhyuk?”
“Sebenarnya Eunhyuk masih mencintaimu. Cintanya begitu tulus hingga sulit dilupakan. Aku harap kau mau mempertimbangkannya.”
Krystal terdiam. Matanya memerah. Dia baru sadar kalau ternyata masih ada yang mengharapkan dirinya.
“Kau bisa menjawabnya dalam beberapa hari. Pikirkanlah.”
“Anhi, oppa. Aku tidak akan berpikir panjang lagi. Apa yang aku pikirkan sampai memakan waktu lama hanya membuatku terpuruk seperti ini. Aku tidak ingin menyia-nyiakan semua yang kau berikan. Aku menerimanya. Aku akan meninggalkan Siwon, bekerja di perusahaan, dan aku… akan menerima Eunhyuk. Ya, aku akan berusaha menerimanya. Apa yang aku rasakan terhadap Siwon, mungkin itulah yang dirasakan Eunhyuk terhadapku. Rasanya pasti sakit.” Krystal meneteskan airmata .
Ryeowook memegang tangan Krystal. Ia berusaha menguatkan dan menenangkan afik tirinya itu. “Kau masih sangat muda Krys. Kau harus punya masa depan yang cerah. Appamu sudah tidak ada, eomma-mu tak peduli lagi padamu tetapi aku dan Eunhyuk masih peduli padamu. Maka jangan kau sia-siakan kepedulian kami.”
Krystal menangis semakin dalam. Ryeowook menariknya ke dalam dekapannya. Adik tirinya itu terisak di dalam dekapannya. Inilah yang sangat diinginkan oleh Ryeowook. Dia sangat menginginkan kehadiran seorang dongsaeng dan dia ingin membuat dongsaengnya bahagia meskipun Krystal hanya adik tirinya.

Seorang namja dengan langkah sempoyongan keluar dari sebuah bar. Namja yang tidak lain adalah Eunhyuk, sedang menormalkan pandangannya agar tidak menabrak sesuatu saat berjalan.
“Hyung, kau mau kemana? Biar aku yang mengantarmu,” tawar seorang karyawan bar.
Eunhyuk melambaikan tangannya yang menandakan dia tidak ingin diantar pulang. “Aku bisa sendiri.”

Setelah masuk ke dalam mobilnya, Eunhyuk teringat Siwon. Tentu saja hal itu membuatnya frustasi lagi. Ia tahu kalau Siwon pasti tidak bisa menerimanya sebagai saudara. Mustahil.
Eunhyuk meraih ponselnya di saku jaket yang sedang dipakai. Kemudian dia menekan nomor yang tak lama kemudian telepon tersambung.
“Saya pesan satu tiket pesawat ke Washington yang paling dekat dengan hari ini. Ne, hanya satu. Keberangkatan terdekat nanti malam? Gurae, gamsahapnida.”
Klik!
Senyum kepedihan tersungging di bibir Eunhyuk. Dia berniat meninggalkan semua yang ada di Korea dan tinggal bersama appa angkatnya di Amerika karena appanya baru saja memutuskan untuk menetap di sana. Apa boleh buat. Ia berharap semiga keputusannya kali ini adalah keputusan yang tepat. Meski dia menyayangi Siwon, namun Siwon tak ingin bersamanya, dongsaengnya itu tak mau memaafkan dan mengakuinya sebagai seorang hyung. Mulai hari ini, dia akan menyerahkan keseluruhan manajemen kepada ahlinya. Eunhyuk tak ingin lagi berurusan dengan Korea meski kenyataannya, dongsaeng kandungnya masih berada di Korea.

Siwon menunggu Yoona yang sedang terbaring lemah, bahkan sangat lemah di atas ranjang milik rumah sakit. Kemarin Yoona tidak makan seharian dan luka akibat terkena pecahan kaca malah menambah parah kondisinya saat ini. Lukanya sudah terinfeksi. Dokter masih belum selesai memeriksa dan memberi pengobatan pada Yoona. Di ruang tunggu, Siwon berjalan mondar mandir. Ia sangat khawatir. Hatinya tak tenang.
Kriiing!
Suara ponselnya mampu mengejutkan dirinya sendiri. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Siwon mengangkatnya.
“Yobose…” ucap Siwon dengan suara lirih dan lesu.
“Siwon-ssi. Aku sudah berada di depan rumahmu. Kenapa sepi sekali? Apa kalian sudah berangkat?”
“Kami tidak berangkat kerja,” jawab Siwon dengan nada yang sama dengan tadi.
“Eoh. Keurom, dimana Yoona? Hari ini dia harus tandatangan tugas akhirnya.”
Siwon terdiam sehingga tak ada jawaban darinya padahal Yuri menanti kata-kata dari Siwon.
“Siwon-ssi, kau masih di sana? Dimana kalian?” tanya Yuri lagi. “Aku harus menemui Yoona untuk menjelaskan tentang tugas akhirnya.”
Siwon menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan. “Yoona… jika kau ingin bertemu dengannya, datanglah ke rumah sakit tempat eommaku dulu dirawat.”
“Mwo? Sedang apa kalian di sana?”
Tak ada jawaban.
Tut. Telepon malah terputus. Yuri berusaha menghubungi Siwon lagi tetapi tidak bisa. Mungkin ponsel Siwon dimatikan, pikir Yuri.

Dokter sudah selesai melakukan tugas profesinya. Sekarang Siwon sudah dapat menunggu Yoona di dalam kamar. Menurut dokter, Yoona membutuhkan banyak waktu untuk istirahat. Luka fisik yang dialami hanya terdapat pada telapak tangan dan lututnya. Sedangkan luka dalam organ tidak ada. Tetapi yang perlu dikhawatirkan adalah kondisi psikisnya. Yoona mengalami depresi hebat hingga menyebabkan kondisi tubuhnya sangat lemah. Dia terlalu banyak pikiran dan tak mempedulikan seberapa kuat fisiknya.

Dengan setia, Siwon menunggu Yoona. Ia menggenggam tangan kiri Yoona dan tak melepasnya. Wajah pucat pasi itu tak menunjukkan kecantikan seperti biasanya, tak ada senyum ceria khas Yoona, tak ada ocehan yeoja yang tergolong cerewet itu. Siwon menatap wajah Yoona lekat-lekat. Dalam hati, dia bersyukur telah memiliki seorang istri yang begitu sempurna. Entah siapa yang Yoona cintai, dia tidak peduli. Yang dia tahu, kini hatinya sudah menentukan perasaannya bahwa Yoona lah satu-satunya yeoja yang ia cintai.

Yuri sedang berlari menuju halte terdekat. Pikirannya tertuju pada Yoona. Kata-kata Siwon mengisyaratkan kalau saat ini Yoona ada di rumah sakit. Ada apa dengannya? Yuri bertanya-tanya dalam hati. Setelah menempuh jarak 500 meter dari rumah Siwon, akhirnya dia sampai di halte namun sayang, bus yang bisa membawanya ke rumah sakit baru saja meninggalkan halte. Yuri yang menyadari kebodohannya sampai-sampai ketinggalan bus, menggerutu dalam hatinya. Dengan lesu dan kecewa, Yuri duduk di bangku tunggu di halte itu.

Ttiiin!
“Omo!” Yuri terlalu kaget. Jantungnya hampir saja keluar dari tempatnya. Dahinya berkerut saat menatap sebuah mobil mewah di depan halte. Saat diamati dengan seksama, ternyata si empunya mobil adalah Taemin. “Im Taemin?”
Taemin tersenyum lalu melambaikan tangannya dan menyuruh Yuri mendekat.
Yuri menurut.
“Ada apa dengan ekspresimu? Kau baru saja ditolak?” tanya Taemin asal. “Hehe… bercanda. Kau mau kemana?”
“Rumah sakit Seoul,” jawab Yuri singkat.
“Wow, jutek sekali.”
Yuri menatap Eunhyuk setajam pedang.
“Wae? Ah, aku bisa mengantarmu ke sana. Ngomong-ngomong, siapa yang dirawat di sana?”
“Im Yoona,” jawab Yuri dengan singkat lagi.
“Mwo? Mwoya? Ah, gotjimal. Kau dan Yoona sulit dipercaya.”
“Antarkan aku ke sana lalu buktikan kebenaran dari ucapanku tadi.”
Eunhyuk menyuruh Yuri segera masuk ke dalam mobilnya. Dalam waktu beberapa menit, mobil mewah itu sudah menginjakkan rodanya di tenpat Imir RS. Kedunya langsung berlari menuju ruang dimana Yoona dirawat.

Cekleeek!
Yuri membuka pintu kamar perawatan milik Yoona. Siwon langsung menoleh ke belakang, ke arah pintu yang telah dibuka oleh seseorang itu. Dia terkejut melihat Yuri dan seorang namja yang ia duga bernama Lee Taemin.
“Siapa dia?” tanya Siwon pada Yuri.
Yuri bingung. Apa yang dimaksud Siwon adalah Taemin? “Dia…”
“Im Taemin?” tebak Siwon.
Yuri hanya membatin, bagaimana Siwon bisa tahu kalau itu Taemin?
Siwon bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Yuri dan Taemin. “Kau yang menyebabkan Yoona seperti ini?” Pertanyaan Siwon terdengar seperti tuduhan.
“Apa maksudmu?” Taemin sama sekali tidak mengerti maksud pertanyaan Siwon.
“Kau yang membuatnya seperti ini. Kau kan namja yang mencintai Yoona dan semuanya dibeberkan oleh Jung Krystal.
“Siapa Jung Krystal?” Tentu saja Taemin bingung karena dia memang tak mengenal Krystal.
“Ada masalah apa ini? Bicarakan saja di luar. Kasihan Yoona. Dia harus istirahat.” Yuri menyeret Siwon dan Taemin keluar ruangan untuk menyelesaikan masalah mereka.
Setelah sampai di luar ruangan, Yuri melanjutkan,”Baiklah, sekarang aku yang akan menjadi penengah. Gurae, kau Siwon-ssi, apa maksud ucapanmu tadi”

“Siwon-a!” Panggil seseorang dari jarak yang agak jauh secara tiba-tiba. Sontak ketiga orang yang ingin menyelesaikan masalah itu menoleh.

Ryeowook datang bersama Krystal.
“Hwang Krystal, kau yang tadi menghakimi Yoona. Katakan semua yang kau katakan di depan Yoona kemarin.” Siwon menatap tajam pada Krystal yang bersembunyi di balik tubuh Ryeowook.
“Ada masalah apa?” tanya Ryeowook penasaran.
“Tanyakan saja pada adik tirimu itu, Hyung. Dia yang telah membeberkan semua entah kebenaran atau hanya kebohongan. Sekarang di sini ada banyak saksi dan juga Im Taemin, namja yang kau sebut-sebut kemarin. Kau tidak mau? Gurae, aku yang akan mengulangnya untuk kalian semua.”

“Anhi, oppa. Biar aku saja yang mengatakannya.” Krystal memberanikan diri untuk bicara sejujurnya. “Seohyun mengatakan padaku kalau Yoona terlibat cinta dengan namja bernama Im Taemin. Dia juga bilang kalau Yoona memperdaya Taemin. Aku marah karena Yoona sudah memiliki Siwon oppa tapi dia masih mencari pria lain. Semua yang aku dengar dari Seohyun telah aku katakan kemarin pada Yoona.”

“Apa-apaan ini?” Taemin mulai emosi. “Yoona tidak pernah merayuku atau memperdaya diriku. Kami sering bertemu namun hanya secara kebetulan. Kami juga tidak pernah berkencan karena aku hanya berusaha menghiburnya. Ya, memang ku akui kalau aku mencintainya. Tetapi malam itu, Yoona bilang kalau dia tidak mencintaiku sebagai namja, tetapi hanya sebagai teman dan suatu saat dia akan menjelaskan alasannya. Apa benar Seohyun berkata seperti itu? Pasti dia iri pada Yoona karena Yoona dekat denganku sedangkan dia memiliki cinta bertepuk sebelah tangan denganku.”
Kini masalahnya semakin jelas bahwa Yoona sama sekali tidak menduakan Siwon dan tidak pernah merayu Taemin. Semua orang yang terlibat dalam masalah itu hanya bisa terdiam menerima kebenaran itu.
“Jadi begitu?” gumam Yuri lirih.
Krystal terduduk lemas. Airmatanya menetes. “Aku telah menyesal mengatakan semua kebohongan dan tuduhan pada Yoona. Aku sangat menyesal. Biarkan aku minta maaf pada Yoona.”

“Siwon-a, ada yang ingin aku beritahukan padamu,” kata Ryeowook setelah situasi kembali tenang. “Malam ini Eunhyuk akan berangkat ke Amerika. Dia akan menetap di sana karena… tidak ada alasan baginya untuk bertahan di Korea.”
Deg!
Siwon merasakan sesak di dada.
“Aku tahu semuanya. Akulah yang bersalah, Siwon-a. Aku telah mengetahuinya sejak awal tetapi sama sekali tidak memberitahumu. Bagaimanapun juga, Eunhyuk adalah hyung kandungmu. Kalian lahir dari rahim yang sama. Di dalam tubuh kalian, ada darah dan daging yang sama. Apakah kau tidak akan mengakui Eunhyuk sebagai hyungmu?”
Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar kalau Eunhyuk adalah hyung kandung Siwon. Siwon menangis. Dia teringat eommanya.
“Aku… tidak bermaksud begitu hyung. Aku sangat merindukannya tapi aku juga kecewa padanya. Kenapa dia datang terlambat?”
“Kata terlambat hanya ada jika kau membiarkan Eunhyuk pergi begitu saja. Kalian adalah saudara kandung yang harus saling menyayangi. Bahkan aku dan Krystal iri pada kalian karena kami hanyalah saudara tiri.”
Ryeowook melirik arlojinya. Sudah jam 6 petang. “Ada waktu kurang dari satu jam untuk mencegahnya pergi. Pergilah bersama Krystal karena dia juga ingin mencegah kepergian Eunhyuk. Aku dan yang lainnya akan menjaga Yoona di sini.”

Tanpa menunggu perintah lagi, Siwon dan Krystal meluncur menuju bandara.

Eunhyuk baru saja tiba di bandara. Dia memandang luasnya bandara Incheon yang tak pernah sepi dari kesibukan manusia. Namja itu berjalan pelan dengan menyeret koper besarnya dan memegang paspor dan berkas lain di tangannya. Ia berjalan menuju pemeriksaan barang, tempat pengecekan paspor dan sebagainya. Setelah serangkaian ritual itu selesai dilakukan, ia menunggu pesawat di ruang tunggu. Kali ini ia benar-benar bertekad untuk meninggalkan Korea.

Siwon dan Krystal yang sudah sampai di bandara segera berpencar untuk mencari Eunhyuk. Waktu semakin menipis. Mereka harus cepat-cepat menemukan Eunhyuk.
Siwon dan Krystal berlari dan menoleh kanan-kiri, hingga beberapa kali salah mengenali orang. Keduanya panik.
Tiba-tiba Krystal melihat sosok Eunhyuk di ruang tunggu. Ia menghampirinya dengan harapan tidak salah mengenali orang lagi.
“Oppa…” panggil Krystal lirih dengan menyentuhkan tangannya di bahu namja yang duduk di depannya. Namja itu menoleh. Ternyata benar, Eunhyuk. “Eunhyuk oppa?” Krystal meneteskan airmatanya. Dia senang sekali bisa menemukan Eunhyuk.
“Oppa, ttonajima! Jangan tinggalkan kami, oppa. Gurae, akan aku katakan semuanya. Mian, mianhae. Aku telah menyia-nyiakan cintamu. Aku telah membuat dirimu sedih, oppa. Tapi kalibini, aku tidak akan membiarkanmu sedih. Kau harus tetap di sini. Aku… akan menerimamu, oppa. Aku berjanji akan mencintaimu seperti kau mencintaiku. Aku akan menjadi yeoja yang baik untukmu karena mulai sekarang, tanpa kau meminta padaku, aku akan menerimamu, Oppa.” Krystal terisak dalam tangisnya. Eunhyuk juga tak dapat menahan airmatanya.

“Hyung, rupanya kau di sini.” Siwon mendekati hyungnya. “Kau tahu? Betapa sulitnya kami menemukanmu. Ternyata kau malah duduk manis di sini. Apa kau taju perasaan kami yang berkecamuk? Panik, takut dan semuanya campur jadi satu. Apa kau… ingin meninggalkan dongsaengmu?”
Eunhyuk semakin deras mengeluarkan airmata. Dia sama sekali tidak mengira kalau Siwon dan Krystal akan datang menemuinya.
“Siwon-a…”
“Beginikah caramu minta maaf padaku? Beginikah caramu kembali padaku? Apa kau ingin menelantarkan dongsaengmu, hyung? Kenapa kau tega sekali?” Wajah Siwon sudah basah terkena airmatanya sendiri.
Eunhyuk memeluk Siwon erat-erat. “Mianhae, jongmal mianhae, Siwon-a.”
Setelah itu, Eunhyuk juga memeluk Krystal dan menerima Krystal sebagai yeojachingu-nya. Akhirnya ketiganya kembali ke rumah sakit dimana Yoona telah sadarkan diri.

Di rumah sakit, Yoona yag sudah sadarkan diri terus saja mencari Siwon. Ryeowook dan Yuri sudah membujuknya untuk istirahat karena Siwon tidak akan lama lagi sampai di rumah sakit. Yoona tidak percaya.
“Aku tidak ingin kehilangan Siwon oppa. Dimana dia?” Yoona memberontak ingin turun dari ranjang meski tubuhnya masih sangat lemah.

Tap tap tap!
Suara langkah kaki tiga orang yang sangat dinanti-nanti terdengar semakin jelas.
“Yoona-a!” seru Siwon yang ternyata sudah beridiri di depan pintu. Di belakangnya ada Krystal yang ingin minta maaf pada Yoona.
“Oppa!” seru Yoona senang.
Krystal berjalan pelan mendekati Yoona. “Yoona-ssi, dengan segenap ketulusan hati, aku meminta maaf padamu atas semua yang kulakukan padamu. Aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal, sangat menyesal.”
“K, Krystal-ssi? Aku juga minta maaf padamu. Mungkin aku juga telah menyakitimu. Kita saling memaafkan.”
“Gomawo, Yoona-ssi.” Krystal menggandeng tangan Ryeowook dan keluar ruangan.
Di luar ruangan, Taemin, Yuri dan Eunhyuk duduk manis menatap lantai di bawah mereka.
“Aku sama sekali tidak menyangka kalau Yoona sudah menikah. Baru kali ini aku jatuh cinta, tetapi orang yang kucintai ternyata sudah menjadi milik orang lain.”
“Yaak, Lee Taemin. Meski kau harus patah hati, bukan berarti hidupmu juga berhenti. Kau harus tetap semangat.” Yuri tersenyum pada Taemin.
“Apa aku harus memintamu untuk jadi yeojachinguku?”
“Yaak, apa kau ingin menjadikanku pelarianmu? Shireo!”
“Siapa juga yang mau denganmu. Aku akan menata hatiku seperti semula agar suatu saat aku bisa mencintai seorang yeoja dengan sangat tulus.” Taemin mengembangkan senyumnya.
“Anak baik.” Yuri mengacak rambut Taemin sambil tertawa.

Di dalam ruang perawatan, Siwon telah kembali ke posisinya di samping Yoona dengan menggenggam erat tangan istrinya itu.
“Yoona-a, mianhae. Aku telah berbuat kasar padamu.”
“Oppa, nado mianhae. Aku telah menyebabkan hidupmu menjadi susah dan menjadi beban pikiranmu.”
“Im Yoona, tak ada yang ingin aku ucapkan lagi selain saranghaeyo.”
Yoona tertegun. Ia sama sekali tak mengira kalau Siwon juga mencintainya.
“Tak peduli apapun yang akan terjadi dan yang telah terjadi, aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Aku tak bisa hidup tanpamu, Yoona-a.”
Yoona menitikkan airmata. “Nado saranghae oppa. Aku ingin mengatakan hal ini sejak lama tetapi aku belum yakin. Kali ini alu benar-bemar yakin dengam perasaanku. Hanya oppa yang ada di dalam hatiku. Hanya oppa yang selalu menjadi suamiku.”
Siwon merunduk, mendekatkan wajahmya ke wajah Yoona. Hembusan nafas keduanya terasa karena jarak antara mereka berdua hanya satu senti.
“Saranghaeyo, chagi…” bisik Siwon lalu mencium mesra bibir Yoona.
Yoona membalas ciuman Siwon. Bibir mereka saling bertautan. Siwon melumat bibir mungil milik Yoona. Begitu pula sebaliknya, Yoona tak henti-hentinya melumat bibir Siwon mesra. Mereka larut dalam Kiss Scene yang mereka ciptakan sendiri.

Setelah mengalami banyak peristiwa yang menguji hati mereka, akhirnya Siwon dan Yoona dapat hidup normal layaknya pasangan suami-istri. Kehidupan yang mereka jalani penuh kebahagiaan karena keduanya dapat saling memahami dan mencintai selamanya.

FINAL

Haaai… annyeong haloha semuanyaa…
Makasiiii bingit untuk yang udah baca FF ini sampe ada kata ‘FINAL’. Aku senang akhirnya aku bikin happy ending.
Say goodbye all…
Thankyou so much. Saranghanda….
Hihihi…

Advertisements

27 thoughts on “My Heart [Chapter 10 – Final]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s