Vampires Love [Chapter 4 – END]

VAMPIRES LOVE 1Prev: 1|2|3

Cast:

Kim Jongin | Park Jiyeon | Bae Suzy

Other Cast:

Byun Baekhyun | Oh Sehun | Jung Krystal

Genre:

Fantasy | Angst | Romance | School life | Supernatural

Length :

Multichapter

Rating: PG – 13

Laykim Storyline & Artposter

Mian typos bertebaran di mana-mana

Happy Reading chingu…

Suzy ingin menancapkan pisau beracunnya ke jantung Kai. Dengan sekuat tenaga, Kai menahan kedua tangan Suzy yang semakin lama semakin kuat mendorong pisau itu hingga menyentuh pakaian yang dikenakan oleh Kai.

“Kau benar-benar ingin membunuhku?” tanya Kai dengan nafas sedikit ditahan karena kondisinya belum pulih 100%.

“Bukan hanya ingin, tetapi aku sangat menginginkannya. Aku sangat ingin membunuhmu. Mereka telah mengatakan kalau kau adalah Kim Kai, bukan Kim Jongin. Aku juga sudah bertemu dengan saudara kembarmu yang baru saja menjadi vampir. Waow daebak! Keluarga dua orang anak vampir, satu orang manusia, dan ibu sang pemburu. Benar-benar keluarga yang lengkap. Apakah kau pikir aku percaya begitu saja saat mereka mengatakan bahwa dirimu adalah Kai? Cih! Aku bukan Suzy yang bodoh seperti dulu.” Suzy terus mendorong tangannya untuk mencapai keinginannya membunuh Kai.

“Kau tetap menjadi Suzy si bodoh seperti yang dulu!”

Kai dan Suzy terkejut mendengar suara seseorang yang menyerupai suara Kai.

“Jongin…” lirih Kai saat melihat saudara kembarnya berdiri di depan pintu dengan lensa mata berwarna merah menyala.

“Siapapun dan apapun bentuknya, pemburu adalah musuh para vampir. Kau lupa hal itu, kan?”

Suzy mengangkat kedua alisnya.

“Bae Suzy, aku tidak peduli kalau ibuku adalah seorang pemburu. Jadi, kapanpun aku bertemu dengannya, aku pastikan bahwa kedua tanganku yang akan membunuhnya. Kau pikir kami tidak tega membunuhmu, eoh? Kau adalah gadis berbisa. Racunmu lebih menyakitkan daripada racun ular paling berbisa di dunia ini.”

“Apa yang kau bicarakan, eoh?” Suzy meremehkan Jongin.

Slap!
Kini tangan Jongin sudah melingkar di leher Suzy. Dia mencengkeram leher Suzy dan ingin membunuhnya.

“Kalian para pemburu harus dibunuh!” seru Jongin yang mencengkeram leher Suzy lebih kuat. “Kalian yang telah membunuh ayahku dan Park Jiyeon!”

Suzy menahan nafas karena leher jenjangnya dicekik oleh Jongin dengan kekuatan vampir yang dimilikinya.

“Mwo? Park Jiyeon?” Kai bingung karena baru tahu kalau Jiyeon dilukai oleh pemburu. “Siapa yang melukainya?” tanya Kai dengan nada putus asa. Dia tidak ingin Jiyeon celaka. Vampir cantik itu adalah gadis baik yang selalu menolong orang lain.

“Ibu kita,” jawab Jongin dengan sangat singkat yang kemudian mendapat respon tak percaya dari saudara kembarnya, Kim Kai.

“Mwo?” Kekuatan tangan Kai yang menahan tangan Suzy melemah. Hal itu mengakibatkan ujung pisau beracun milik Suzy telah menembus pakaian tebal yang ia kenakan.

Srrrt!
Prang!

Dengan secepat kilat, Jongin menampik tangan Suzy dan mengakibatkan pisau yang dipegang terlempar ke udara kemudian jatuh di bawah meja kecil di sisi lain kamar itu.

Suzy marah pada Kai dan Jongin. Dia ganti menyerang Jongin dan meninggalkan Kai. “Kau berani melawanku?”

“Kenapa tidak?” sahut Kai dengan sinis.

“Jangan bertarung di tempat ini!” bentak Baekhyun yang tiba-tiba muncul di depan pintu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Kedua matanya memerah. “Apa yang kalian lakukan di saat Jiyeon berusaha mati-matian bertahan untuk tetap di sini?”

Kai dan Jongin baru sadar kalau Jiyeon sedang membutuhkan pertolongan mereka.

“Kalian berdua! Aku menuntut imbalan atas apa yang dilakukan oleh Jiyeon pada kalian.” Suara Baekhyun terdengar menggelegar penuh kemarahan dan tatapan mata yang tajam.

“Hyung, tenanglah!” Sehun muncul dari arah belakang Baekhyun untuk menenangkan laki-laki vampir yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri.

“Biarkan saja. Kai dapat selamat dan menghirup udara karena pertolongan Jiyeon. Begitu juga dengan Jongin. Lalu apa yang akan kalian lakukan untuk menyelamatkan Jiyeon?” Baekhyun terlihat sangat dingin. Tindakannya meminta imbalan atas kebaikan Jiyeon pada kedua saudara kembar itu dirasa sudah benar, mengingat hanya utubyang dapat ia lakukan. Baekhyun tak pernah tega melihat orang lain terluka apalagi jika Jiyeon atau Sehun yang terluka. Dia rela melakukan apa saja bahkan sampai mengorbankan segala yang dia punya.

Jongin dan Kai berpikir sejenak hingga salah satu diantara mereka berdua angkat bicara.

“Bae Suzy, kau tahu penawar racun itu?” tanya Kai pada Suzy yang tengah menahan emosinya.

“Eoh. Kenapa? Kau pikir aku akan memberitahukan caranya mendapatkan penawar itu pada kalian?” jawab Suzy super dingin.

Kai yang sudah berdiri dari posisinya, kini berjalan mendekati Suzy yang berdiri di dekat Jongin. “Aku akan menyerahkan diri padamu jika kau mau memberitahukan bagaimana cara menyelamatkan Jiyeon. Bukankah kau ingin membunuhku?”

Deg!
Jongin, Sehun, dan Baekhyun terkejut mendengar penawaran gila yang diajukan oleh Kai. Dia ingin mengorbankan kehidupannya sebagai vampir hanya untuk menyelamatkan Park Jiyeon.

“Kau sudah gila. Bagaimana mungkin kau melakukan penawaran itu? Aku tidak setuju,” kata Jongin tegas. Bagaimana mungkin dia bisa merelakan Kai mengorbankan dirinya sendiri setelah selamat dari maut yang hampir saja merenggut kehidupan vampirnya.

“Aku tidak peduli. Siapapun yang tidak setuju, tidak bisa merubah keputusanku. Bae Suzy, aku akan menyerahkan diri padamu jika kau berhasil membuat Jiyeon kembali normal.”

Suzy juga terkejut mendengar pernyataan dari Kai namun dia pandai menyembunyikannya.

“Yaak! Bae Suzy! Kau ingin membunuh mantan kekasihmu, eoh?” Jongin berusaha untuk membuat Suzy menolak tawaran Kai.

Suzy berpikir matang-matang. Sebenarnya dia tahu kalau Kai adalah mantan kekasihnya. Tapi dia tetap harus menjalankan tugas sebagai pemburu vampir, sama seperti yang dilakukan oleh ayahnya. “Baiklah, aku setuju. Dengan begitu, aku bisa melenyapkanmu, Kim Kai.”

“Andwae!” teriak Jongin.

Jongin berusaha menghalangi Kai untuk tidak mengorbankan dirinya demi Jiyeon, namun hal itu justru membuat Kai semakin teguh pada keputusannya.

“Kau benar-benar berhasil membuat semuanya kacau, Park Jiyeon,” kata Jongin yang sedang melihat Jiyeon terbaring di atas ranjang, tepatnya di di depan matanya. Jongin tersenyum kecil. “Apakah aku harus membencimu? Kau yang akan membuat Kai terbunuh. Itu artinya bahwa kau yang telah membunuh saudaraku.”

Tubuh Jiyeon tampak seperti mayat yang tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berbaring.
Jongin masih berdiri di depan ranjang dengan mengamati wajah Jiyeon yang membuatnya bergidik. Tak bisa dibayangkan jika hal serupa terjadi padanya. Apakah ini terjadi karena Jiyeon menolpng dirinya dari kejahatan ibu kandungnya sendiri? Jongin masih tetap menatap Jiyeon dari ujung rambut sampai ujung kaki. Saat kembali mengamati wajah Jiyeon, tiba-tiba Jongin melihat suatu tanda yang nampak seperti goresan benda tajam d bawah dagunya. Jongin semakin mendekati tubuh Jiyeon untuk melihat tanda atau lebih tepatnya luka bekas goresan itu.

Merasa pernah bertemu dengan Jiyeon di masa lalu, Jongin memberanikan diri melihat bekas luka itu dari dekat. Betapa terkejutnya Jongin saat melihat bekas luka itu dari dekat. Memori masa lalunya berputar.

Ceklek!
Baekhyun datang untuk melihat keadaan Jiyeon. Rupanya kedatangan Baekhyun mengejutkan Jongin yang sempat tak percaya melihat bekas luka yang dimiliki Jiyeon.

“Sedang apa kau di sini?” Baekhyun mencurigai Jongin karena sikap aneh laki-laki itu.

“Apakah dia pernah tinggal di Busan?” tanya Jongin tiba-tiba.

“Untuk apa kau menanyakan hal itu? Apa urusannya denganmu?” tanya Baekhyun balik yang sedikit terkejut dengan pertanyaan Jongin.

“Tolong jawab saja. Aku sangat ingin tahu.”

Baekhyun melihat keseriusan di mata Jongin. Lalu dia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Jongin. “Ya, dia pernah tinggal di Busan selama 2 tahun. Jiyeon tinggal dari satu kota ke kota yang lain. Entah sudah berpindah ke berapa tempat, aku tidak menghafal semuanya.”

Deg!
Jongin bingung dengan apa yang dirasakannya. Sesak, sakit di dada, dan ingin menangis, itulah yang ia rasakan saat melihat Jiyeon. Kenangan masa lalunya teringat lagi. ‘Apakah Jiyeon adalah gadis itu?’ tanya Jongin dalam hati karena teringat gadis yang ia cintai beberapa tahun yang lalu. “Baekhyun-ssi, apakah vampir bisa merasakan sakit hati atau sejenisnya?”

Baekhyun kaget mendengar pertanyaan Jongin. “Benar, vampir yang tidak meninggalkan sisi kemanusiaannya masih bksa merasakan apa yang dirasakan oleh manusia seperti sakit hati, cemburu, jatuh cinta, dan yang lainnya. Tapi terkadang vampir yang tidak bisa mengendalikan perasaan itu berkuasa di dalam diri, bisa menjadi jahat dan membuang sisi kemanusiaannya jauh-jauh.”

Jongin terhenyak sesaat. Jika penjelasan Baekhyun itu benar, berarti dirinya masih memiliki sisi kemanusiaan itu. “Gomawo.” Jongin melangkah pergi meninggalkan kamar itu.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk menyembuhkan Jiyeon?” tanya Kai pada Suzy yang berdiri di belakang jendela, merasakan semilir angin malam yang menerpa wajahnya.

Suzy menoleh ke arah Kai. “Caranya sangat mudah. Karena terlalu mudahnya, tak ada yang akan menyangka kalau caranya hanya seperti itu.”

“Apa maksudmu?”

Suzy menghela nafas panjang sebelum menjelaskan cara menyelamatkan Jiyeon dari pengaruh racun. “Vampir yang terkena racun itu harus berbaring di bawah cahaya bulan, meminum darah manusia atau vampir yang dicintai atau yang terdekat dengannya. Setelah itu, dia harus minum air suci dari pegunungan Alpen.”

“Mwo? Pegunungan Alpen?” Kai terkejut karena Suzy menyebut pegunungan Alpen yang letaknya sangat jauh dari tempat mereka berada, Korea Selatan. “Kenapa harus dari pegunungan itu?”

“Karena memang hanya di sana asalnya. Aku punya sedikit dalam botol ini.” Suzy menunjukkan sebuah botol yang mirip dengan botol obat batuk. Botol itu berisi air suci pegunungan Alpen yang harus diminum Jiyeon. “Aku akan memberikannya padamu karena kau telah berjanji akan menyerahkan diri padaku.”

“Baiklah, tidak masalah.”

Tak lama kemudian, Kai dan Suzy masuk ke dalam kamar di mana Jiyeon tergeletak tak berdaya di dalamnya. Baekhyun masih berdiri di samping ranjang. Kondisi Jiyeon sangat parah. Tubuhnya bahkan sedingin es.

“Hyung, kita bawa Jiyeon keluar. Dia harus berbaring di bawah cahaya bulan,” kata Kai yang sudah berdiri di samping Baekhyun.

“Lalu siapa manusia atau vampir yang dicintainya?” tanya Suzy.

Kai menepuk dahinya. Ia belum memikirkan hal itu. Bagaimana mereka bisa tahu siapa yang dicintai oleh Jiyeon?

“Coba saja dengan darahku.” Suara Jongin terdengar memenuhi ruangan hingga berhasil membuat Baekhyun, Suzy, dan Kai menoleh ke arahnya.

“Kau?” tanya mereka bertiga serempak.

“Eoh, coba saja. Kalau tidak berhasil juga tidak apa-apa.”

“Yaak! Ini bukan main-main. Apakah Jiyeon mencintaimu?” tanya Kai.

“Aku tidak tahu. Tapi aku dan Jiyeon pernah bertemu di Busan beberapa tahun yang lalu. Dia sudah menjadi vampir dan aku masih seorang manusia. Kami melalui waktu 2 tahun dengan hubungan yang sangat dekat. Entah dia menyukaiku atau tidak. Kami pernah berciuman.”

“Mwoya?” Baekhyun sangat terkejut.

“Itulah alasanku menanyakan apakah Jiyeon pernah tinggal di Busan, Baekhyun-ssi. Aku tahu kalau gadis itu Jiyeon karena akh melihat bekas luka di bawah dagunya. Dia bilang bahwa bekas luka itu berasal dari goresan sebuah pedang saat dia masih kecil. Ternyata benar bahwa gadis itu adalah Jiyeon.”

Ketiga orang yang berada di dalam kamar itu merasa tersentuh karena cerita Jongin.

“Maka dari itu, coba saja menggunakan darahku. Jiyeon sudah menyelamatkanku dari tangan ibuku sendiri dan juga saat transisiku menjadi vampir. Aku harus membalas kebaikannya. Jangan buang waktu, ayo kita bawa dia keluar.”

“Tunggu!” seru Suzy secara tiba-tiba.

“Ada apa?” tanya Baekhyun.

Suzy mengingat sesuatu. “Sebenarnya aku tidak tega mengatakan hal ini. Tapi… caranya kurang satu.”

“Apa?” tanya Kai.

“Harus ada seorang manusia yang dikorbankan untuk dihisap darahnya sampai habis,” jawab Suzy dengan agak ragu.

Semua mata terbelalak.

“Kenapa baru bilang sekarang? Lalu siapa yang harus kita korbankan?” Baekhyun serasa putus asa karena mereka tidak mungkin mengorbankan seorang manusia demi menyembuhkan seorang vampir.

“Kita tidak mungkin melakukannya,” lirih Kai yang merasa putus asa juga.

Tap tap tap!
Sehun, Ji Won, dan Krystal datang mendekat. Mereka bertiga baru saja mendengar bahwa ada cara untuk menyelamatkan Jiyeon.

“Aku dengar ada cara untuk menyelamatkan Jiyeon. Apakah itu benar?” tanya Ji Won yang berdiri di belakang Jongin.

“Eoh, benar,” sahut Suzy.

“Lalu kenapa kita hanya berdiri di sini?” Kali ini Sehun yang bertanya.

Kai angkat bicara. “Salah satu cara yang tidak mungkin kita lakukan adalah mengorbankan manusia untuk dihisap darahnya sampai habis. Maka dari itu, kami hanya berdiri di sini karena…”

“Aku saja.” Krystal menawarkan diri untuk mengorbankan dirinya.

“Mwoya? Andwae! Kita tidak bisa mengorbankan manusia,” kata Sehun. “Kami memang bangsa vampir tapi bukan berarti kami tidak menghargai manusia. Kami ingin melindungi manusia, bukan untuk membunuh manusia. Tidak bisa!.

“Aku rela mengorbankan nyawaku untuk Jiyeon eonni. Dia telah menolongku. Jika dia bisa diselamatkan, aku yakin Jiyeon eonni bisa menyelamatkan dan melindungi manusia. Kalian bisa melakukannya bersama. Tapi jika dia tidak selamat, mana mungkin bisa menyelamatkan manusia? Jadi, aku tidak akan menyesal karena telah mengorbankan diriku untuk keselamatannya. Tolonglah. Aku melakukannya karena Jiyeon eonni dan bangsa manusia. Aku yakin kalian pasti akan melindungi manusia.”

Kata-kata Krystal begitu menyentuh hingga Ji Won meneteskan airmata.

Suasana hening sesaat hingga akhirnya Baekhyun mengijinkan Krystal mengorbankan dirinya. “Jung Krystal, kau adalah sahabat terbaik kami semua. Selaku vampir, aku sangat berterimakasih padamu. Aku pastikan bangsa manusia akan selamat dari ancaman vampir-vampir jahat.”

Krystal tersenyum dan meneteskan airmata. Sesaat kemudian, Ji Won memeluknya sebagai tanda terimakasih dan permintaan maaf. “Kau adalah gadis yang baik. Kau pantas disebut sebagai pahlawan bangsa vampir dan manusia.”

Gadis bermarga Jung itu mengangguk pelan dalam pelukan Ji Won.

Sesuai dengan prosedur untuk menyelamatkan Jiyeon, Suzy melakukan ritual yang entah bagaimana cara dia melakukan, tak ada yang mengetahuinya. Mungkin hal itu hanya bisa dilakukan oleh pemburu vampir karena yang membuat racun itu adalah kaum pemburu vampir sendiri.

Tubuh Jiyeon diletakkan di tengah sebuah lingkaran api yang telah dibuat oleh Suzy. Kebetulan malam ini adalah malam bulan purnama sehingga mereka bisa langsung mengadakan ritual. Suzy membaca mantra kemudian mengambil darah Jongin yang dipercaya sebagai laki-laki yang dicintai oleh Jiyeon.

Setelah darah terkumpul, Suzy mengeluarkan air suci yang dimilikinya. Tak berapa lama kemudian, dia meminumkan air suci itu pada Jiyeon secara pelan-pelan. Baekhyun, Kai, Jongin, Ji Won, dan Sehun menyaksikan ritual itu dari luar lingkaran api. Nyala api di lingkaran itu semakin membesar saat Jiyeon menelan air suci yang diberikan oleh Suzy.

Satu menit kemudian, Suzy meminumkan darah Jongin pada Jiyeon seraya membaca sebuah mantra. Api di lingkaran itu pun kembali membesar.

Suzy menunggu reaksi dari air suci dan darah Jongin. Jika reaksinya negatif, maka Jiyeon tak dapat diselamatkan. Reaksi yang ditunggu Suzy ternyata muncul. Reaksi itu ditandai deegan bergantinya warna api di lingkaran yangvberwarna merah menjadi biru. Suzy tersenyum tipis. Dia merasa sedikit lega karena usahanya tidak sia-sia. Halnitu juga dapat menyimpulkan bahwa Jongin adalah satu-satunya laki-laki yang dicintai oleh Jiyeon.

“Hyung, apakah dia berhasil menyelamatkan Jiyeon nuna?” bisik Sehun pada Baekhyun yang tak berkedip sekali pun.

“Aku rasa dia berhasil. Lihat warna apinya berubah menjadi biru,” kata Baekhyun.

Tahapan ritual tinggal selangkah lagi, yaitu memberikan darah Krystal pada Jiyeon. Suzy membaca mantra untuk kesekian kalinya. Dia membangunkan Jiyeon yang masih menutup mata. Setelah Suzy selesai membaca mantra, Jiyeon pun langsung membuka matanya yang beesinar merah.

Suzy ragu untuk menyerahkan Krystal pada Jiyeon.

“Aku yakin jika Jiyeon dalam keadaan sadar, dia tidak akan melakukannya,” kata Baekhyun lirih.

“Aku sependapat denganmu, Hyung,” sahut Sehun yang tak mengalihkan pandangannya dari Jiyeon meski hanya satu detik.

Suzy menyerahkan Krystal pada Jiyeon dengan terpaksa. Krystal telah dibuat tidak sadar oleh Suzy agar dia tidak merasa kesakitan saat Jiyeon menghisap darahnya. Jiyeon menghisap darah Krystal sesuai instruksi dari Suzy dengan sedikit brutal.

Tak memakan waktu lama, Jiyeon telah menghisap habis darah Krystal. Hal itu membuat Ji Won terduduk lemas dan menangis dalam diam. Gadia itu tak tega melihat Jiyeon dan Krystal terluka. Kini Krystal telah tiada.

Suzy meneteskan airmatanya melihat Jiyeon menghisap darah Krystal hingga tak bersisa. “Kembalilah ke posisimu semula, Park Jiyeon.”

Jiyeon yang berada dalam pengaruh mantra langsung kembali ke posisinya, berbaring di tengah lingkaran api dan menutup kedua matanya.

Suzy menarik nafas dalam-dalam beberapa kali lalu membaca mantra lagi. Seketika itu, api di lingkaran padam dan tidak meninggalkan bekas di tanah.

Api yang telah padam membangunkan Jiyeon dari tidurnya. Kondisi gadis vampir itu sama seperti semula sebelum terkena racun. Wajahnya tetap cantik, kondisi tubuhnya baik-baik saja dan tak ada luka lecet. Suzy dan yang lainnya tersenyum senang melihat Jiyeon sudah sadar.

“Nuna!” panggil Sehun senang.

Jiyeon tampak bingung. “Ada apa ini?” tanya Jiyeon pada Suzy. Dia menganggap bahwa Suzy sudah berubah dan tak akan memburu vampir lagi. “Jung Krystal?” seru Jiyeon saat dirinya melihat tubuh Krystal tergeletak di sisi kirinya. “Krystal-a, bangunlah!” Jiyeon berusaha menyadarkan Krystal.

Tak ada seorang pun yang sanggup memberitahu Jiyeon bahwa Krystal sudah tiada. Namun dengan segenap keberanian dan tekad yang bulat, Sehun memberanikan diri memberitahukan pada Jiyeon. “Dia sudah meninggal, Nuna.”

“Mwo? Meninggal? Siapa yang membunuhnya?” tanya Jiyeon panik. Dia khawatir pada keadaan Krystal.

“Dia meninggal karena mengorbankan darahnya untuk menyelamatkanmu, Jiyeon-a,” kata Baekhyun.

“Jinjjayo? Kenapa kalian membiarkannya mengorbankan diri demi aku?” Jiyeon meneteskan cairan hangat dari kedua manik matanya. “Maafkan aku, Krystal-a. Jongmal mianhae….” Jiyeon terduduk di samping jenazah Krystal yang terlihat pucat pasi. Perasaan bersalah menjalar ke dalam hatinya.a

Jiyeon telah selamat dari maut. Semua merasa lega dan senang atas kembalinya Jiyeon di tengah-tengah mereka namun kesedihan melanda saat mengingat pengorbanan Krystal yang sangat mulia demi menyelamatkan seorang vampir.

“Aku tahu hatimu tak bisa menerima kenyataan ini.” Suara Jongin menyeruak masuk ke dalam indera pendengaran milik Jiyeon.

Jiyeon menoleh dengan ekspresi wajah sendu. “Aku tak menyangka akan seperti ini. Bukankah aku tidak berbeda dengan seorang pembunuh? Aku telah menyebabkan dia meninggal.”

“Tenanglah, Jiyeon-a. Ada alasan tertentu kenapa dia mau mengorbankan dirinya. Krystal meminta kita sebagai bamgsa vampir, untuk melindungi manusia dan menyelamatkan mereka yang nuawanya terancam akibat ulah vampir-vampir jahat. Itulah yang diinginkan Krystal.” Jongin menepuk bahu Jiyeon. Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang aneh menjalar dalam tubuhnya. Jongin pun terdiam.

“Benarkah? Kalau itu yang dia inginkan, aku akan melakukannya sampai jantungku lepas dari tubuhku,” kata Jiyeon dengan sangat serius. “Jongin-a…” panggil Jiyeon karena Jongin tak merespon kata-katanya barusan. “Neo gwaenchana?”

“Ah, iya. Gwaenchanayo.” Jongin sadar dari lamunannya.

“Ada masalah?” tanya Jiyeon lebih lanjut.

“Aku rasa tidak ada.

Suzy menagih janji Kai. Dia ingin membunub Kai malam ini juga.

“Bae Suzy!” panggil Jongin.

Suzy tidak menyahut.

“Aku ingin menepati janji karena kau telah menyelamatkan Jiyeon.” Jongin berpura-pura menjadi Kai dengan pakaian dan gaya yang sama.

Suzy mengerutkan kening. “Apakah kau benar-benar Kai?”

“Eoh. Cepat lakukan sebelum ada yang datang!” suruh Jongin.

Beberapa detik telah berlalu namun Suzy masih terdiam mematung dan hanya menatap Jongin dengan tatapan kosong.

“Kenapa? Ada apa denganmu? Bukankah kau ingin membunuhku?”

Suzy lemas, kedua kakinya tak sanggup menopang tubuhnya lebih lama lagi. Gadis itu meneteskan air mata yang semakin lama semakin deras. Dia mengangkat kedua tangan dan menatap sedih pada kedua telapak tangannya. Hatinya hancur, terlalu banyak kejahatan yang dia lakukan. Meski dirinya hanya membunuh vampir, tapi ternyata tidak hanya vampir jahat yang ia bunuh. Vampir yang berpihak pada manusia pun tak luput dari serangannya. “Mianhae…” ucap Suzy lirih.

Jongin tak menyangka Suzy akan seperti itu. “Ada apa denganmu, Bae Suzy?”

“Kenapa kau menggantikan Kai dan menyerahkan dirimu padaku?” tanya Suzy yang berhasil mengejutkan Jongin.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku bukan Kai?”

“Kai adalah mantan kekasihku. Aku hafal betul fisiknya, semua tentangnya. Kau bukan Kai. Maaf, aku tidak mau melakukan itu. Aku tidak bisa membunuhmu.”

“Kenapa? Kai telah berjanji untuk menyerahkan diri kepadamu agar bisa menyelamatkan Jiyeon. Sekarang aku yang akan menggantikan Kai tanpa sepengetahuannya.”

“Aku mohon, pergilah! Tinggalkan aku di sini sendiri.” Suzy menahan airmata yang akan jatuh membasahi wajah mulusnya.

Jongin menuruti permintaan Suzy. Ia pun segera beranjak dari tempatnya berdiri.

Suzy berada di teras belakang sendirian. Dia merenungi segala kesalahan yang pernah dilakukan terutama perbuatannya yang tidak termaafkan karena telah banyak membunuh vampir baik.

“Bae Suzy…” panggil Jiyeon yang secara tak sengaja melihat Suzy duduk bersimpuh dengan berlinang airmata.

Suzy mengusap airmata yang membasahi wajahnya. “Park Jiyeon?”

Jiyeon mendekat ke arah Suzy. “Ada apa denganmu?”

Bukannya menjawab pertanyaan Jiyeon, Suzy malah menangis dan menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.

“Suzy-a…” lirih Jiyeon seraya menyentuh bahu Suzy. Dia sama sekali tidak takut dan tidak khawatir jika Suzy menyerangnya secara tiba-tiba.

“Mianhae, jongmal mianhae. Aku telah membunuh ayahmu, Kris, ayah Kai dan Jongin, dan masih banyak vampir yang tidak jahat telah tiada karena ulahku. Aku benar-benar merasa bersalah. Kau bisa membunuhku untuk menebus semua kesalahanku.”

Jiyeon menggeleng pelan. “Aku tidak akan membunuh siapapun kecuali vampir jahat. Awalnya aku sangat emosi dan marah saat mendengar Kris oppa dibunuh olehmu. Ada rasa ingin balas dendam di hatiku. Tapi setelah aku pikir-pikir, balas dendam tidak ada gunanya. Balas dendam hanya dilakukan oleh para vampir yang merasa dirinya hebat, tak terkalahkan dan brutal. Itulah vampir yang berbahaya. Sekarang kai bisa membedakan mana vampir yang berpihak pada manusia dan mana yang selalu mengganggu hidup manusia. Vampir seperti manusia. Mereka bisa berubah sewaktu-waktu.”

“Apakah kau juga minum darah manusia jika lapar?” tanya Suzy polos.

“Anhi. Diantara vampir di dalam rumah ini, hanya Sehun dan Jongin yang meminum darah manusia. Sehun harus minum darah manusia karena dia mendapat kutukan dari seorang penyihir yang sangat membenci keluarganya. Sedangkan Jongin…. Dia harus minum darah karena itulah yang dia butuhkan setelah menjadi vampir. Dia masih berada dalam masa transisi. Kalau dia tidak meminum darah manusia, kematian abadi yang akan terjadi padanya.”

“Aku mengerti. Mulai sekarang, aku tidak akan menjadi hunter lagi. Aku akan menjadi manusia biasa yang hidup normal.”

Jiyeon tersenyum, senang mendengar pernyataan dari Suzy yang tak lagi membunuh vampir. “Kau bisa membantu kami melindungi manusia dari gangguan vampir jahat.”

Suzy mengangguk. “Baiklah.”

Kabar tentang berhentinya Bae Suzy dari takdir sebagai seorang hunter telah tersebar luas. Banyak diantara kalangan vampir yang merasa senang atas kabar itu, namun kalangan hunter justru sebaliknya. Mereka sangat menyesali keputusan Suzy. Namun dengan keyakinan penuh, Suzy dapat meneguhkan dirinya untuk tetap pada keputusannya tak membunuh vampir jika tidak ada vampir yang mengganggu manusia.

“Jiyeon-a, jika Suzy telah bertobat, apakah itu artinya dia bisa kembali pada Kai?” tanya Jongin yang sedang bermalas-malasan dengan nangkring di atas pohon seenaknya.

“Aku tidak tahu. Menurutku, Kai mempunyai andil besar dalam perubahan Suzy,” jawab Jiyeon yang tengah melakukan hal yang sama dengan Jongin.

“Bukan hanya itu. Mungkin pengorbanan Krystal padamu juga bisa menjadi alasannya.”

“Kau benar juga. Semoga Kai bisa membuat Suzy menjadi manusia yang berguna. Hubungan antara manusia dan vampir harus berjalan dengan baik. Tak ada yang dirugikan.” Jiyeon merangkul bahu Jongin yang duduk di sampingnya. “Aku bersyukur karena telah menemukanmu. Mungkin jika aku tidak menolong Kai, aku tidak akan bertemu denganmu. Oh ya, aku lupa untuk mengatakan sesuatu.”

“Mwoya?” tanya Jongin menatap mata Jiyeon.

“Selamat datang di dunia vampir, kekasihku. Kau adalah laki-laki pertama dan terakhir yang ku cintai,” ucap Jiyeon diselingi senyumnya.

Jongin mendekatkan wajahnya dan menempelkan ujung hidungnya pada ujung hidung Jiyeon. “Untung saja aku segera datang. Kalau tidak, kau pasti mengira kalau Kai adalah diriku.”

Beberapa detik kemudian Jongin menempelkan bibirnya pada bibir kekasihnya, Park Jiyeon, dan melumatnya lembut. Ciuman kedua setelah mereka bertemu.

“Waah, kau menjadi lebih agresif setelah menjadi vampir,” sela Jiyeon saat bibir mereka terpisah.

“Tentu saja. Ciuman pertama kita berdua sangat berkesan dan selalu ku ingat. Aku akan menciummu lebih sering.” Jongin mencium bibir Jiyeon tanpa izin dari kekasihnya. Kedua tangannya melingkar erat di pinggang ramping Jiyeon. Sedangkan kedua tangan Jiyeon melingkari leher jenjang Jongin. Keduanya melepas kerinduan yang mendalam setelah beberapa tahun tidak bertemu.

Suzy dan Kai menyaksikan kemesraan Jiyeon dan Jongin dari lantai dua. Mereka tersenyum geli melihat aksi ciuman sepasang kekasih yang sedang bermesraan di atas pohon.

“Dasar vampir! Bermesraan di sembarang tempat!” gerutu Suzy.

“Apa kau bilang? Perlukah kita melakukannya juga? Pohon di sebelah mereka kelihatan asyik,” goda Kai pada Suzy.

“Yaak! Beraninya kau mengajakku melakukan apa yang dilakukan Jiyeon dan Jongin! Kau mau tahu seberapa kuat pukulanku, eoh?”

“Suzy-a, bukankah kau sudah bertobat?”

Suzy tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Kai yang takut menatapnya. “Aku tidak mungkin membunuhmu.”

Chu!

Suzy mencium bibir Kai intens. Mereka berdua tak mau kalah dengan Jiyeon dan Jongin yang bermesraan di atas pohon.

End

Advertisements

11 thoughts on “Vampires Love [Chapter 4 – END]

  1. chukaaaeee akhirnya suzy bisa tobat dan jiyi ketolong kalo ga ketolong sad ending nanti huhuhu
    akhirnya jiyi sama jongin bersatu dan kak suzy juga bersatu tapi bukannya suzy jg udah berubah jd vampir ya kan udah digigit .-.
    pokoknya selamaaat udah happy ending ^^

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s