My Heart [Chapter 8]

MY HEART YOONA VERS

My Heart Yoona Version:

Chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

Starring:

Choi Siwon | Im Yoona | Lee Taemin | Kwon Yuri

Co. Starring:

Eunhyuk | Ryeowook | Kyuhyun | Krystal | Seohyun

Genre: romance | hurt/comfort | family | angst
Lenght: multichapter

Rating: PG – 13

 

Don’t plagiat!!

Sorry typos

Leave Comment, vote, like 🙂

Happy Reading

“Sorry, I Love Him”

Ceklek!
Kriiiett!!
Siwon membuka pintu rumahnya secara perlahan-lahan agar tidak membangunkan eommanya yang sedang tidur. Yoona berjalan pelan menyusul di belakang Siwon. Mereka berdua langsung menuju kamar Siwon yang terletak di sebelah kamar sang eomma.
Krriieet!
Pintu kamar digeser perlahan-lahan kemudian keduanya masuk dan tak lupa pintu ditutup kembali.
Yoona duduk di sudut kamar, dekat dengan pintu. Sedangkan Siwon duduk di sudut yang lain dengan menyelonjorkan kedua kaki. Mereka berdua masih merasa canggung karena kejadian barusan.
Situasi hening, Yoona memikirkan pekerjaannya. Dia telah kehilangan pekerjaannya sebagai pengantar susu dan surat kabar. Dia ingin sekali menjadi penyanyi di sebuah cafe. Ya, bayarannya memang cukup banyak tetapi apakah Siwon akan mengijinkannya? Sekarang kan dia bukan lagi yeoja single yang bebas melakukan apapun. Meskipun pernikahannya dengan Siwon bisa disebut pernikahan dadakan, tetapi yang namanya menikah tetap saja menikah. Seorang istri harus taat pada suami. Begitulah yang seharusnya terjadi. Yoona mendesah pelan agar suaranyabtidak didengar oleh Siwon. Besok dia akan mencari pekerjaan baru.
“Tidurlah!” pinta Siwon dengan nada lirih. Yoona menoleh ke arahnya, memasang penglihatan yang menampilkan ekspresi datar.
“Oppa…” panggil Yoona yang tak kalah dengan ucapan Siwon tadi.
Siwon tak menjawab. Dia hanya menatap Yoona.
Tanpa aba-aba, Yoona melanjutkan,”Oppa, besok aku ingin mencari pekerjaan.”
Dahi Siwon sedikit berkerut.
Yoona menggigit bibir bawahnya. “Aku tidak ingin menjadi bebanmu. Hasil kerjamu gunakan untuk pengobatan eomma. Biar aku yang bekerja untuk kebutuhan sehari-hari.” Yoona hampir menitikkan airmata saat mengeluarkan kata-kata itu. Ia merasa iba pada Siwon. Dengan adanya Yoona dalam kehidupan Siwon, dia merasa menjadi beban namja berhati lembut itu.
Siwon hampir saja melarang Yoona agar tidak bekerja karena dia juga tak ingin menjadi beban bagi Yoona. Yoona tetap bersikukuh ingin mencari kerja. Akhirnya Siwon mengiyakan saja karena Yoona termasuk yeoja yang keras kepala.
“Baiklah. Terserah kau saja.” Siwon tampak pasrah, tak ingin berdebat dengan  Yoona.

Pagi-pagi sekali, Yoona sudah selesai memasak. Setelah itu, dia membersihkan diri di kamar mandi.
Siwon duduk manis di belakang meja. Dia sudah bersiap untuk sarapan lalu berangkat kerja. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Jika dirinya dan Yoona tak ada di rumah, siapa yang akan menjaga eommanya? Siwon hanya menyimpan pikiran itu dalam otaknya. Dia akan membicarakan dengan Yoona saat yeoja itu sudah selesai mandi.
Kriiet!
Pintu kamar mandi terbuka. Yoona menyembul dari dalamnya. Dia sudah mengenakan kaos yang tadi dipakai sebelum mandi.
Beberapa menit kemudian Yoona menyusul Siwon duduk di belakang meja dan bersiap sarapan. Sebelum memulai sarapan, Siwon ingin membicarakan sesuatu dengan Yoona.
“Yoona-a,” panggil Siwon lembut.
Yoona menatap Siwon penuh tanda tanya. “Waeyo?”
“Kalau kita tidak ada di rumah, siapa yang akan menjaga eomma?”
Yoona menepuk dahinya. Pabbo! batinnya. “Mianhae oppa. Aku tidak berpikir sejauh itu. Hmm siapa yang akan menjaga eomma?” tanya Yoona lirih seakan-akan ia bertanya pada dirinya sendiri. “Ahaa… biar Yuri yang menjaga eomma. Aku akan menghubunginya sekarang.” Yoona sudah bersiap berdiri namun tiba-tiba Siwon memegang tangannya sehingga dia kembali ke posisinya.
“Apa Yuri bersedia menjaga eomma?” tanya Siwon ragu. Ia tak yakin kalau Yuri akan bersedia membantu mereka menjaga sang eomma.
Yoona terdiam. Benar juga apa yang dikatakan oleh Siwon. Tetapi kemudian dia meyakinkan diri kalau Yuri adalah orang baik. Dia pasti mau membantunya. “Aku akan membujuknya, oppa. Semoga saja berhasil.” Yoona berdiri lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Yuri.

Setelah beberapa menit bicara dengan Yuri, akhirnya Yoona kembali duduk berhadapan dengan Siwon.
“Bagaimana?” tanya Siwon.
“Sudah beres. Yuri bersedia menjaga eomma karena hari ini dia tidak punya acara.” Yoona tampak senang karena hari ini dia bisa mencari kerja dengan tenang.
“Syukurlah,” ucap Siwon singkat lalu mengambil makanannya untuk disantap.

Seperti biasa, Siwon sampai di cafe lebih awal dari karyawan yang lain. Tak ada yang bisa mengalahkan Siwon dalam hal kedisiplinan. Semua karyawan sering melontarkan pujian mereka pada Siwon.
Siwon sedang ada di meja kasir karena Sung Yeol yang bertugas menjadi kasir sedang tidak masuk kerja karena sakit. Hari menjelang siang. Para pelanggan semakin banyak. Rupanya diantara pelanggan yang masuk ke dalam kafe, ada seorang yeoja yang tidak asing lagi di mata Siwon. Siapa lagi kalau bukan Krystal.
Krystal memasang wajah cemberut. Siwon sudah tahu maksud dari ekspresi Krystal seperti itu.
“Pulanglah jika kau hanya mau merengek meminta pekerjaan di sini.” Siwon berkata dengan nada datar dan dingin.
“Kenapa kau seperti itu?” tanya Krystal.
“Aku hanya berusaha se-profesional mungkin,” jawab Siwon dengan nada yang sama datarnya dengan yang tadi. Dia duduk bersandar di bangku depan Krystal dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
“Profesional? Tch, kau semakin berlagak, Oppa.”
Siwon berusaha mengendalikan emosinya. Dia harus pandai-pandai mengontrol diri saat berhadapan dengan Krystal karena dulu dia pernah menaruh hati pada yeoja anak orang kaya yang manja itu.

Yoona mondar mandir ke sana kemari untuk mencari pekerjaan baru yang sesuai dengan skill yang dimilikinya. Sudah lebih dari empat jam dia memasuki beberapa restauran, toko, cafe, bar hingga perusahaan namun ia masih belum mendapat satu lowongan pun karena semuanya memang sedang tidak membuka lowongan kerja.
“Eotteohke? Tak ada yang bisa kulakukan.” Yoona masuk ke sebuah mini market untuk membeli cola karena tenggorokannya terasa kering kerontang meskipun saat ini memasuki musim dingin.

Di luar mini market, Yoona langsung membuka kaleng cola-nya kemudian menuangkan cairan bersoda itu ke dalam mulutnya.
Ceess!
“Aah, nikmat sekali.” Yoona bicara sendiri. Dia menoleh kanan-kiri, mungkin saja ada tempat yang bisa dikunjungi untuk melamar pekerjaan. Langkahnya terayun beberapa langkah untuk memastikan apakah ada toko, restauran atau semacamnya di daerah itu. “Opseo..” lirihnya dengan wajah lesu.
Yoona berjalan gontai entah mau kemana, ia sendiri juga tak tahu. Hampir semua tempat ramai telah dikunjunginya. Ternyata tak satupun yang membuka lowongan pekerjaan. Harapannya semakin pupus. Jika tidak ada lowongan, maka Yoona harus memaksa otaknya lebih keras untuk bisa menghasilkan uang.
“Kalau aku tidak mendapat pekerjaan, aku akan membebani Siwon oppa. Kasihan sekali Siwon oppa… andwe! Kalau memang aku tidak bekerja di suatu tempat, aku akan membuat tteokbokki lalu menjualnya. Ya, aku pasti bisa. Tapi, siapa yang akan membantuku membuatnya?” Yoona bicara pada dirinya sendiri. Dia sudah kembali bersemangat namun sesuatu telah membuatnya lesu lagi. Yoona mendesah kasar.
Tanpa Yoona sadari, dirinya telah berdiri di depan sebuah cafe. Tentu saja cafe tempat Siwon bekerja. Karena hanya ada satu cafe yang terletak di sekitar mini market tempat Yoona membeli cola tadi.
Yoona berhenti di depan cafe. Dia melihat ke arah dalam melalui kaca bening di depannya. Tampaknya cafe itu ramai sekalu, batinnya.
Kedua manik matanya mengitari keseluruhan isi cafe. Yoona tersenyum kecil melihat cafe yang masih ramai dikunjungi pelanggan. Senyum yang terkembang di bibirnya memudar setelah ia melihat secara langsung kalau Siwon sedang asyik mengobrol dengan seorang yeoja. Siwon tampak akrab dengan yeoja itu. Tentu saja, yeoja itu adalah yeoja yang ada di foto itu. Foto yang disimpan Siwon di dalam nakas.
Tiba-tiba tatapan mata Yoona dan Siwon bertemu. Siwon tak sengaja mengedarkan pandangannya ke arah luar cafe dan tiba-tiba melihat Yoona yang juga tengah melihatnya.
Setelah saling menatap, Siwon melihat Yoona hendak beranjak dari tempatnya. Ia pun bergegas keluar cafe untuk menghampiri Yoona agar tidak ada salah paham lagi.
Yoona sudah melangkahkan kakinya beberapa langkah dengan maksud ingin segera pergi dari tempat itu. Ia yakin bahwa Siwon pasti akan menghampirinya.
“Yoona-a!” teriak Siwon yang baru saja melangkahkan kakinya di depan pintu cafe. Kini namja itu tepat berada diluar cafe dan siap menghampiri Yoona.
Deg! Benar perkiraan Yoona. Mau tak mau, Yoona berhenti.
“Yoona-a…” panggil Siwon lirih saat jarak diantara mereka berdua sudah dekat.
“Annyeong, Oppa… aku tidak sengaja lewat daerah sini saat sedang mencari pekerjaan. Aku pamit dulu. Mumpung masih kuat, aku akan mencari pekerjaan lagi.” Yoona berkilah. Dia mencari alasan yang masuk akal agar Siwon tidak berpikir yang macam-macam.
“Kau belum dapat pekerjaan?” tanya Siwon serius.
Yoona tak menyangka Siwon akan bertanya tentang hal itu. Dia mengira bahwa suaminya akan menjelaskan tentang apa yang baru saja terjadi. Mungkin memang tidak terjadi apa-apa, makanya Siwon tak tampak khawatir dan tidak ingin menjelaskan sesuatu.
“Ajikdo…” jawab Yoona lirih sambil menggeleng pelan. “Sedari tadi tak ada tempat yang membuka lowongan. Huft… kenapa sekarang ini sangat sulit mendapat pekerjaan…” keluh Yoona yang ternyata langsung mendapat simpati dari Siwon.
“Kau pasti lelah karena berjam-jam keliling mencari pekerjaan,” kata Siwon lembut.
“Anhi… aku sudah beristirahat.” Yoona berusaha memamerkan senyumnya agar Siwon tak khawatir padanya.
“Ttarawa!” Siwon memegang lengan Yoona lalu memintanya mengikuti langkah kakinya.
“Eodiseoyo?” tanya Yoona bingung.
“Ikuti saja.”
Ternyata Siwon membawa Yoona masuk ke dalam cafe.
“Op, oppa… aku hendak mencari pekerjaan. Kenapa kau malah mengajakku ke cafe? Aku sedang tidak ingin bersantai.”
Tak ada respon dari Siwon. Namja itu menatap lurus ke depan. Setelah melewati beberapa deret kursi pengunjung, Siwon berhenti di depan Krystal.
Tak berbeda dengan Yoona, Krystal kaget melihat Siwon datang bersama seorang yeoja.
“Nuguseo, Oppa?” tanya Krystal yang nampak bingung melihat Siwon menggandeng seorang yeoja.
“Kau boleh bekerja di sini dengan syarat yeoja ini juga bekerja di sini.”
“Mwo?” seru Yoona dan Krystal berbarengan. Yoona mengerutkan keningnya sedangkan Krystal membelalakkan matanya.
“Aku tidak mau bekerja di sini, Oppa. Mian,” kata Yoona yang melepas pegangan tangan Siwon dan hendak pergi.
“Kenapa harus dengan yeoja itu?” tanya Krystal seakan dia tidak rela jika ada yeoja lain yang bekerja di cafe itu. Dia ingin hanya dirinya satu-satunya yeoja yang bekerja di sana.
“Jika Yoona menolak, maka tidak akan ada istilah yeoja dalam cafe ini,” kata Siwon tegas.
Yoona terdiam. Dia tidak merasa punya urusan dengan yeoja bernama Krystal dan dia juga tidak berminat bekerja di cafe yang sama dengan Siwon.
“Oppa…”
“Kau tetap menolak, Yoona-a?” tanya Siwon.
“Eoh.”
“Gurae, aku memaksamu kerja di sini.”
“Mwo?” Yoona kaget. Kenapa Siwon memaksanya bekerja di cafe itu? Apa dia ingin pamer kemesraan dengan Krystal? Jika Siwon memaksanya untuk bekerja di sana, itu artinya Siwon menerima Krystal bekerja di cafe itu.
“Kau harus menerimanya, Yoona-a.” Siwon menatap Yoona lekat-lekat. Hal itu membuat Krystal curiga pada mereka berdua. ‘Mianhae, aku hanya mencoba membuatmu tidak kecewa karena kau belum mendapat pekerjaan,’ kata Siwon dalam hati.
Yoona tidak habis pikir. Ini namanya benar-benar pemaksaan.
Siwon meninggalkan mereka berdua lalu menyuruh salah seorang karyawan memberikan celemek seragam pada Yoona dan Krystal. Keduanya menerima celemek itu dengan perasaan yang berbeda. Yoona tak tampak senang, sedangkan Krystal tampak senang sekali meskipun harus ada yeoja lain di sana. Dia tidak peduli. Toh, dia juga tidak kenal dengan Yoona.
Krystal sudah berdandan seperti karyawan yang lain. Dia dengan senang hati menanyai pengunjung tentang pesanan mereka. Dia sengaja melakukannya dengan sikap manis karena Krystal tidak ingin membawa nampan lalu memberikan pesanan pelanggan. Hal itu akan sangat merepotkan dan melelahkan.

Yoona masih terdiam. Krystal menatapnya nanar namun Yoona cuek saja. Yoona beranjak dari tempatnya lalu berjalan meeyusuri koridor menuju ruang kerja Siwon. Krystal melihatnya, dia tidak suka jika Yoona seenaknya masuk ke ruangan Siwon. Dia menyusul Yoona dengan sedikit berlari.
“Chakkaman!” seru Krystal menarik lengan Yoona sehingga yeoja itu terpaksa menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
“Mau kemana kau?” tanya Krystal dingin. Dia curiga pada Yoona. Jangan-jangan yeoja itu menyukai Siwon.
“Bukan urusanmu,” jawab Yoona tak kalah dingin.
Krystal menarik lengan Yoona menjauh dari ruangan Siwon. Padahal tinggal tiga langkah lagi dia sampai di ruangan sang manajer. Yoona menolak namun Krystal tetap menarik lengannya.
“Yaak, aku tidak mengenalmu. Lepaskan tanganmu!” Yoona berusaha melepaskan tangannya dari Krystal. Dia ingin menghajar yeoja itu agar melepaskan tangannya tetapi dia tidak yakin karena Krystal pasti akan terluka fisik daan perasaannya. “Lepaskan tanganku, yeoja aneh!” teriak Yoona.
“Kau yang aneh. Beraninya mendekati Siwon oppa. Apa kau ingin merayunya?”
Yoona geram. Dia mendorong Krystal hingga yeoja itu terjatuh menabrak vas bunga yang tak lama kemudian jatuh dan pecah.

Yoona terkejut dan panik.
“Ada apa ini?” Siwon keluar dari ruangannya dan langsung melihat kejadian yang tak terduga.
Yoona berdiri mematung. Sedangkan Krystal masih dalan posisi terjatuh.
“Ini semua salahnya!” teriak Krystal menunjuk ke arah Yoona. Wajahnya memerah karena kesal pada Yoona
Siwon menatap Yoona.
“Wae? Salahkan saja semuanya padaku. Aku yang akan mengganti kerugiannya.” Yoona melepas celemeknya. “Aku berhenti.” Yoona melenggang pergi. Beberapa pelanggan menatapnya aneh
Siwon mendesah kasar. Dia ingin marah, tapi pada siapa? Dialah yang menyebabkan pertengkaran ini.
‘Maksudku bukan seperti ini. Kenapa kalian tidak mengerti?’ tanyanya dalam hati. Dia hanya bisa melihat kepergian Yoona dengan sedih. ‘Baru saja dimulai, ternyata sudah hancur lagi…’

Yoona melangkah kesal. Dia ingin pergi ke sungai Han. Mungkin saja di sana dia dapat menenangkan pikirannya. Menurutnya, Siwon dan Krystal sudah keterlaluan. Semua orang keterlaluan!
Sungai Han masih jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tiba-tiba Yoona teringat sesuatu. Ya, Lee Taemin. Bukankah hari ini Taemin mengajaknya pergi ke pesta pertunangan Kyuhyun? Dirogohnya ponsel di saku celananya sebelah kanan. Dia menemukan nama Lee Taemin lalu mengiriminya pesan. Tidak jadi. Yoona menghapusnya.
“Aku telepon saja,” kata Yoona pada diri sendiri.

Kriiiing…
Taemin mendengar ponselnya berdering. Dia malas sekali mengangkat telepon.
“Siapa yang meneleponku di saat aku sedang rajin belajar? Aisshh menyebalkan sekali.”
Klik.
“Yoboseo…” ucap Taemin dengan nada kesal.
“Kenapa kau juga ikut-ikutan menyebalkan?” bentak Yoona dari ujung telepon.
Telinga Taemin seakan berdenging mendengar ocehan Yoona. Saat mengangkatnya tadi, dia sama sekali tidak melihat layar ponselnya kalau yang meneleponnya adalah Yoona.
Kedua matanya membelalak saat melihat nama IYN tertera di layar ponselnya.
Ehemm! Taemin berdehem menjernihkan suaranya. “Waeyo?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan ajakanmu itu serius atau tidak?”
Taemin menepuk dahinya dengan penggaris. Dia hampir lupa kalau dirinya telah mengajak Yoona menghadiri pesta pertunangan Kyuhyun. “Eoh. Pasti jadi. Saatu jam lagi aku jemput. Posisimu dimana? Ah, maksudku satu jam lagi kau ada dimana?”
“Kenapa terburu-buru? Bukankah acaranya malam hari?”
“Yaak, aku ini panitia pelaksana. Jadi aku akan sibuk mengurusi pesta itu sebelum acaranya dimulai. Jadi kita harus bersiap dari siang hari. Araseoyo?”
“Eoh. Araseo,” jawab Yoona tegas dan jelas.
Klik.
Taemin memutuskan sambungan teleponnya. Dia tidak mengira bahwa Yoona akan menanyakan ajakannya. “Ternyata dia juga memikirkannya sehingga mau menanyakan hal itu,” lirih Taemin dengan senyum tersimpul di wajah manisnya.
Namja itu kini tengah belajar untuk menghadapi ujian akhir kuliahnya. Dia harus lulus dengan nilai bagus. Dia ingin sekali mendapat pujian dari neneknya karena sudah lama dia tidak mendapatkannya dari sang nenek.

Neneknya pernah berkata,”Buatlah aku bangga sebelum waktuku habis.”
Oleh karena itu Taemin mati-matian belajar dengan tekun dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Sikap dan sifatnya berubah drastis. Meskipun kakinya sudah sembuh total, dia tidak ingin lagi balapan motor, ugal-ugalan, bebuat jahil, berbohong, dan lain-lain.
Tidak semua perbuatan buruk dia lakukan. Taemin melakukan hal-hal yang merugikan sebagai pelampiasan kekesalannya.

Beralih ke Yoona lagi. Dia tengah mendapat telepon dari Yuri.
“Eodiseo?” tanya Yuri polos.
“Sungai Han,” jawab Yoona singkat. Malah terlalu singkat.
“Aku ke sana. Jangan kemana-mana dulu. Awas kau.”
Klik!
Yoona heran dengan kelakuan Yuri. Kadang sahabatnya itu aneh, kadang menyebalkan, kadang membuatnya rindu berat, pokoknya bermacam-macamlah.
Selang beberapa menit kemudian Yuri datang. Awalnya dia ingin mengageti Yoona, tetapi malah Yoona yang melihatnya duluan.
“Ada apa dengan ekspresimu itu?” tanya Yoona pada Yuri yang baru sampai dan duduk di sampingnya.
“Yaak, seharusnya aku yang bertanya seperti itu!” Suara Yuri terdengar melengking di telinga.
Yoona menutup kedua telinganya. “Apa kau tidak sadar kalau suaramu itu bisa membuat gendang telingaku pecah, eoh?” ujar Yoona kesal tetapi malah senang karena Yuri sedikit berhasil membuatnya tenang.
“Aku kira kau berniat bunuh diri,” kata Yuri yang langsung mendapat tatapan serius dari Yoona.
Pletaakk!
Tangan Yoona berhasil mendarat mulus di kepala Yuri.
“Aku tidak senekad itu. Kau tahu? Aku harus bertahan hidup dengan cara yang baik agar appaku tenang di sana. Dulu aku tidak bisa memenuhi permintaan terakhir appaku. Jadi aku akan berusaha menikmati hidupku ini meski aku harus hidup susah.”
“Waaah, daebak!” Yuri mengacungkan dua jempolnya pada Yoona. Mereka tertawa bersama. “Ngomong-ngomong sedang apa kau di sini? Apa kau sedang punya masalah?”
“Eoh. Kusarankan padamu, jangan menikah jika kau belum siap.”
“Apa ini masalah orang yang sudah menikah?”
Yoona mengangguk.
“Yaak, pertanyaanku yang satunya belum kau jawab. Sedang apa kau di sini? Tidak biasanya kau pergi ke sini.”
Yoona melirik Yuri. “Sedang menunggu seseorang.”
“Seseorang itu namja?” tanya Yuri dengan polosnya.
“Tentu saja. Apa kau pikir aku mau menemui yeoja? Aku ini masih normal.”
“Menunggu? Nuguya?”
“Simpan saja pertanyaanmu itu. Nanti juga kau mengetahuinya.”
Yuri mengerucutkan bibirnya dan melirik Yoona dengan kesal.
Tiba-tiba Yoona ingat sesuatu lagi.
“Bukakah aku memintamu menjaga ibu mertuaku?” tanya Yoona.
“Tenang saja. Sudah ada Ahn ahjumma yanh menemani ibu mertuamu.”
Yoona dapat bernafas lega.
“Ngomong-ngomong, ibu mertuamu mengidap kanker stadium berapa?”
“Stadium akhir.”
Yuri terkejut mendengar jawaban dari Yoona. “Stadium akhir? Aigoo… kasihan sekali beliau.”
“Maka dari itu aku bersedia menikah dengan putranya.”
“Apa kau sudah melakukan sesuatu dengan Siwon-ssi?”
“Yaak, apa yang kau bicarakan?” Yoona kesal pada Yuri yang terlalu banyak tanya.
“Aku kan cuma bertanya.”
Yoona dan Yuri asyik mengobrol dan bercanda hingga tanpa mereka sadari, Taemin sudah berdiri di belakang mereka berdua dengan ekspresi datar.
“Apa kalian masih ingin berlama-lama mengobrol seperti itu?”
“Omo!” seru Yoona dan Yuri kaget akan keberadaan Taemin yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.
Taemin berpindah tempat. Sekarang dia berdiri di depan dua yeoja ‘double Y’ itu.
“Tinggalkan Yuri di sini. Ayo kita pergi!” ucap Taemin datar.
“Aigoo, sejak kapan kau boleh memerintah Yoona seperti itu?”
Yoona hanya terkikik mendengar perseteruan Tom and Jerry dimulai.
“Yaak, Kwon Yuri, aku tidak ingin berdebat denganmu. Waktuku terlalu berharga untuk meladeni yeoja sepertimu.”
“Mwoya? Kau menyebalkan sekali. Apa kau pikir aku ingin berdebat denganmu? Kau datang belakangan, seharusnya kau tidak mengatakan hal-hal seperti itu. Aiissh kenapa ada namja sepertimu? Kau…”
“Wae? Mwo? Apa yang ingin kau katakan, eoh?”
“Yaak, Yoona-a, sudah pergi sana! Aku tidak mau mendengar ocehan namja aneh itu.” Yuri menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Taemin kesal pada Yuri yang selalu membuatnya emosi. Yoona mengingatkan Taemin untuk tidak terpancing pada kata-kata yang dilontarkan oleh Yuri.

Taemin dan Yoona sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Hanya Taemin yang mengetahuinya.
Ckiiiit!!
Taemin menghentikan laju mobilnya di depan sebuah restauran Jepang. Dia ingin makan siang dengan Yoona. Namja itu sibuk menoleh kanan-kiri untuk mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman.
“Nah, itu dia. Kajja!”
Yoona hanya mengekor di belakang Taemin saat namja itu sudah menemukan tempat yang cocok dan nyaman. Mereka berdua duduk berhadapan lalu pelayan menyodorkan buku menu kepada keduanya.
“Yoona-a, kau pilih menu apa?”
“Sushi dan Takoyaki. Aku ingin makan semua itu.”
Taemin mendongak. “Heol…”
“Wae?” tanya Yoona.
Bagi Yoona, jika berada di restauran Jepang, dia tidak akan berlama-lama memilih menu karena dua menu itu adalah favoritnya. Jadi, dia tidak menginginkan menu lain

Pesanan tiba.
Taemin kelihatan senang sekali melihat makanan sudah tersaji di depannya. Yoona sampai heran melihatnya.
“Apa kau tidak makan selama berhari-hari?” tanya Yoona ceplas ceplos.
Taemin menatap Yoona. “Butuh waktu lama untuk mengajak seseorang makan di sini. Jadi aku kelewat senang.”
Yoona bingung dengan jawaban Taemin. Apa maksud ucapan namja itu tadi?
“Cepat habiskan. Setelah ini aku harus menunjukkan sesuatu padamu,” kata Taemin sambil menikmati Sashimi-nya.
Yoona menurut. Dia hanya tidak ingin berdebat dengan siapapun terutama namja yang duduk di depannya itu.

Yoona makan dengan santai. Anehnya, dia mampu menghabiskan makanannya lebih dulu dibanding Taemin yang terlihat sangat lahap. Taemin kagum melihat Yoona sangat cepat menghabiskan makanannya.
“Kau tahu? Jika aku menjadi ibumu, aku bangga sekali memiliki putri sepertimu. Kau itu yeoja tetapi banyak makan.” Taemin mengacungkan dua jempol tangannya pada Yoona. Yoona hanya bengong melihat acungan jempol Taemin.
“Jika kau jadi ibuku, aku tidak ingin jadi anakmu. Siapa yang mau mempunyai ibu sepertimu?”
Uhukk!
Taemin tersedak makanan. Dia segera menuangkan air putih ke tenggorokannya.
Yoona memutar bola matanya malas. “Jangan terburu-buru. Santai saja.” Dengan santainya Yoona bicara seperti itu padahal tadi Taemin menyuruhnya cepat-cepat menghabiskan makanannya. Eh, malah Taemin sendiri yang belum menghabiskannya.
Taemin ingin meninggalkan makanannya begitu saja namun Yoona melarangnya.
Yoona mengancam Taemin, jika namja itu tidak menghabiskan makanannya, dia tidak akan bergeser sedikitpun dari kursinya.
Mendengar ancaman dari Yoona, Taemin hanya bisa mendengus kesal. Dia terpaksa menghabiskannya meskipun perutnya sudah terasa sedikit kenyang. “Sudah.”
“Habiskan. Kau mau membuang uang dengan cuma-cuma?” Yoona menatap Taemin dengan tatapan membunuh.
Taemin takut melihat tatapan Yoona. Dia langsung memasukkan makanannya yang terakhir ke dalam mulut, mengunyahnya lembut lalu minum air putih.
“Aah… akhirnya…” lirih Taemin saat telah melahap suapan terakhir dari makanannya. “Perutku terisi sangat penuh.”
Yoona menahan tawa saat mendengar kalimat terakhir dari mulut namja yang duduk di depannya itu. “Setelah ini mau kemana?”
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Biar aku ke kasir dulu.” Taemin beranjak dari tempat duduknya. Yoona hanya memandangnya sampai ke tempat kasir.

Yoona pov.
Aneh, aku merasa nyaman jika berada di dekat Taemin. Apa aku mulai menyukai namja itu? Atau aku menyukai Siwon oppa? Kenapa di saat ada ketegangan antara aku dan Siwon oppa, Taemin selalu datang memberikan ketenangan dan menghiburku?
Kata orang-orang, cinta bisa membuatmu nyaman, marah, senang, semua bercampur jadi satu. Kadang aku merasa marah pada Siwon oppa, kadang juga merasa nyaman. Tapi aku selalu senang dan tenang saat di dekat Taemin. Yang benar yang mana?

“Yaak, apa kau ingin menginap di sini? Kenapa kau belum beranjak dari tempat dudukmu?” Taemin mengagetkanku, membuyarkan lamunanku tentangnya dan tentang Siwon oppa.
Aku mengikuti langkah Taemin menuju tempat parkir. Entah apa yang ada di dalam pikiran namja itu. Dia sudah berubah. Taemin yang dulu sudah tak ada. Taemin yang sekarang lebih menyenangkan.

Saat sudah berada di tempat parkir, Taemin menoleh padaku lalu tersenyum tipis. Ada apa dengannya?
“Ada apa dengan ekspresimu yang seperti itu?” tanyaku sewot.
“Opseo. Kau sewot sekali. Yeoja itu harus lemah lembut. Jangan galak seperti itu.” Dia membukakan pintu mobil untukku. Tanpa aba-aba, aku masuk ke dalam mobilnya.
“Kau tidak sedang berbuat jahat padaku, kan?” tanyaku lagi. Kali ini Taemin berdecak heran mendengar beberapa pertanyaanku yang penuh kecurigaan.
Aku curiga padanya. Bagaimana tidak? Tadi dia tersenyum tipis padaku. Itu artinya dia punya sesuatu yang disembunyikan dariku. Awas kalau berani macam-macam padaku. Akan aku habisi namja itu.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Tenang saja. Aku kan orang baik. Mana mungkin aku berbuat jahat padamu?”
“Baguslah.”
Tak lama kemudian Taemin melajukan mobilnya yamg tergolong mewah ini. Meskipun mobil ini mewah dan nyaman, aku sama sekali tidak tergiur untuk memilikinya. Hahaha, jelas saja. Uang dari mana?

15 menit berlalu. Aku dan Taemin sampai di sebuah butik. Taemin nampak akrab dengan si empunya butik. Butik ini sangat mewah dan waaow bagus sekali. Baju-baju ditata rapi berdasarkan warna dan jenisnya. Abu-abu, putih, ungu, dan yang lainnya. Selain itu, beberapa koleksi aksesoris, sepatu, dan lainnya juga tampak indah menghiasi etalase dan rak-rak yang menutupi setiap senti dinding yang dicat dengan warna pink. Sungguh indah. Butik ini feminim sekali. Mungkin pemiliknya sangatlah feminin. Makanya butiknya seperti ini.
Aku berdiri di samping Taemin. Dia sedang berbincang dengan seorang yeoja yang dapat aku pastikan dialah yeoja pemilik butik ini karena sedari tadi, Taemin dan yeoja itu ngobrol dengan akrabnya.
“Aku ingin kau melakukan yang terbaik. Bahannya sudah bagus, jangan sampai hasil karyamu malah membuatnya tampak jelek.” Taemin bicara dengan diselingi canda.
Yeoja yang aku tahu namanya Tiffany Hwang itu hanya tersenyum. Dia cantik dan, yah, sempurna.
“Kau bisa ikut denganku, Yoona-ssi,” ucao Tiffany dengan ramahnya.
Dia tahu namaku? Sudah dapat diduga, pasti Taemin yang memberi tahunya.
“Ah, ne.” Aku mengikuti Tiffany menuju sebuah ruang koleksi baju. Waah baju-bajunya bagus dan cantik.
“Kau suka baju warna apa?” tanya Tiffany.
“Aku tidak memiliki spesifik warna baju yang aku sukai. Aku suka semuanya.”
“Baguslah. Kalau begitu, coba yang ini.” Tiffany menyodorkan dress panjang tanpa lengan berwarna baby pink padaku.
Sesaat kemudian aku selesai mencobanya. Katanya tak kelihatan cocok denganku. Dia memberikan baju yang lain. Terus saja seperti itu hingga akhirnya ada sebuah gaun yanh cocok denganku. Gaun warna coklat tua dengan hiasan permata kecil-kecil di berbagai bagian. Panjang gaun itu hanya mampu menutupi separuh pahaku. Gaun tanpa lengan itu nampak cocok sekali dengan tubuhku sampai-sampai Tiffany terus saja memujiku cantik.
Aku senanh ada yang memujiku seperti itu.
Setelah memilih baju, Tiffany mengantarku ke ruang koleksi sepatu. Ada banyak sekali jenis sepatu. Sepatu ini mahal-mahal. Tentu untuk orang-orang dari kalangan atas.
Tiffany memilihkan satu high heel yang tingginya 15 cm. Aku terperangah melihat high heel itu. Tinggi sekali…
Aku tidak yakin bisa mengenakan high heel itu dengan santai. Pasti akan sangat sulit berjalan dengan high heel itu.
Tiffany memintaku mengenakan semua yang ia pilih untukku. Aku hanya menurut. Yang ada dalam pikiranku adalah, jika aku harus membeli itu semua, mungkin seluruh hasil kerja kerasku seumur hidup belum dapat membayar biayanya. Pasti sangay mahal.
Terakhir, Tiffany membawaku ke salonnya. Aku dibuatnya kagum lagi. Salon mewah ini pasti mahal sekali. Alat-alatnya super canggih dan pelanggannya berasal dari keluarga kaya.
Yoona pov end

Yoona telah selesai di make over. Yeoja itu tampak sangat cantik dengan balutan busana yang harganya selangit. Yoona nampak kurang nyaman dengan high heel setinggi itu. Bayangkan saja, dia sama sekali belum pernah memakai high heel apalagi setinggi 15 cm.
“Waah daebak! Kau tampak seperti malaikat, Yoona-a…” puji Taemin yang tak melepaskan pandangannya dari Yoona sedetik pun.
“Aku merasa tak nyaman,” kata Yoona lirih.
“Tapi kau kelihatan sangat cantik,” timpal Taemin.
“Aku tidak nyaman karena sedari tadi kau menatapku seperti itu. Bersikaplah biasa saja. Kau membuatku ingin muntah.”
“Kalau tampil seperti ini, tinggalkan dulu kegalakanmu itu.”
Yoona mendelik kesal. Tak lama kemudian, Taemin mengajaknya berangkat ke tempat pesta. Mereka tidak boleh terlambat.

Malam ini adalah malam pertunangan Kyuhyun dengan Seohyun. Taemin nampak senang sekali karena akhirnya Seohyun tak lagi mengejarnya. Dia berhasil membuat halmoni-nya menjodohkan Kyuhyun dengan Seohyun. Alhasil, sekarang mereka bertunangan.
Acara pertunangan tidak begitu meriah karena hanya keluarga, teman, dan kerabat yang diundang. Rencanany saat pertunangan mereka, hanya orang-orang tertentu yang diundang. Namun saat nikah nanti, para pengusaha dan seluruh rekan halmoni-nya akan diundang.
Yoona berjalan sempoyongan gara-gara high heel yang terkutuk itu. Taemin malah tersenyum melihat Yoona berjalan seperti itu.
“Butuh bantuan?” Taemin mengulurkan tangannya.
“Anhi,” jawab Yoona singkat.
“Yang benar?” goda Taemin.
Dengan terpaksa, Yoona menggandeng lengan Taemin agar ia bisa berjalan dengan normal.
“Waah kalian tampak serasi,” goda Kyuhyun yang baru saja bertukar cincin dengan Seohyun.
“Chukae! Akhirnya kau laku juga.” Taemin terkekeh sendiri. Sedangkan Yoona menahan tawanya.
“Yaak, kau pikir tanpa dijodohkan, aku tak akan bisa mendapat pasangan?” Kyuhyun mulai emosi.
“Seharusnya aku mengucapkan terimakasih padamu, Kyu. Hari ini kau sangat tampan.”
“Pujianmu tidak mempan.”
Semuanya tertawa, termasuk Yoona. Kata-kata dari Kyuhyun dan Taemin memang selalu mengandung humor.

Acara pertunangan berjalan dengan lancar. Yoona mengajak Taemin mampir ke bar karena dia ingin sekali menenggak alkohol malam itu.
“Kau yakin ingin mampir ke bar?”
“Tentu saja,” jawab Yoona.
“Yoona-a, ada yang ingin aku sampaikan padamu.”
“Mwonde?”
“Aku tidak yakin kau mau mendengarnya.”
“Waeyo?” tanya Yoona bingung. “Kau belum bicara. Jadi jangan beranggapan seperti itu. Bicaralah.”
Taemin menarik nafas dalam-dalam. “Sejak aku bertemu denganmu, waktu itu, aku tertarik untuk mengenalmu lebih jauh. Terlebih saat kita bertengkar. Aku merasa senang saat kita beradu mulut.”
“Sebenarnya apa yang kau bicarakan?” Yoona bingung mendengar kata-kata Taemin karena namja itu tidak langsung mengatakan intinya tetapi malah bertele-tele.
“Im Yoona, nan johaeyo.”
Glek!!
Yoona menelan saliva-nya tanpa sengaja karena reflek mendengar pengakuan Taemin. Dia yakin bahwa yang tadi itu hanya salah dengar.
“Mwo, mwonde?” tanya Yoona untuk memastikan bahwa dia memang salah dengar.
“Sejak mengenalmu, aku merasa ada yang lain dalam hatiku. Aku selalu merindukanmu saat kau tak ada di dekatku. Aku selalu senang saat kau tertawa bersamaku. Aku merasa sedih saat kutemukan dirimu sedang murung dan sedih. Aku baru menyadari perasaanku padamu, Yoona-a.”
Yoona bingung. Apa Taemin benar-benar menyukainya?
“Hm, a, aku…”
“Apa kau bersedia menjadi yeojachinguku?”
Deg!
Yoona bertambah bingung. Wajahmya sedikit berpeluh. Jantungnya berdetak lebih kencang karena ini adalah kali pertamanya seseorang mengungkapkan perasaan padanya. Dia memang sudah menikah, tetapi pernikahannya berbeda jalur dengan yang biasanya.
“Aa, aku belum bisa menjawabnya.”
“Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Aku beri waktu beberapa hari. Apapun jawabanmu, aku akan berusaha menerimanya dengan ikhlas.” Taemin menghentikan mobilnya karena sudah sampai di tempat parkir bar.

Yoona dan Taemin sudah berada di dalam bar. Mereka memesan 2 botol wine. Yoona segera menuangkan wine itu ke dalam gelasnya, sedangkan Taemin hanya memperhatikan Yoona. Dia masih belum bisa minum alkohol karena kakinya baru saja sembuh.
Hari ini adalah hari yang penuh kepenatan bagi Yoona. Masalah datang dari berbagai arah. Pikirannya kacau namun ia sama sekali tidak menunjukkannya pada orang lain. Yoona adalah tipe yeoja yang pandai berpura-pura alias akting.
Hampir satu botol wine berhasil masuk ke dalam tenggorokannya. Rasanya memang panas di tenggorokan tetapi efek alkoholnya mampu membuatnya sedikit melupakan masalah-masalahnya.

Tak jauh dari tempat minum Yoona dan Taemin, Eunhyuk memperhatikan tingkah Yoona. Ia menatap yeoja itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Kenapa dia selalu mabuk di sini?” gumamnya lirih.

Yoona sudah mabuk. Ya, inilah tujuannya datang ke bar. Dia bahkan tidak sadar kalau sedari tadi Eunhyuk memperhatikan sikapnya. Tentu saja di sana ada Eunhyuk. Eunhyuk adalah pemilik bar tempat Yoona mabuk-mabukan. Dulu dia malah mengantar Yoona ke apartemennya. Sekarang, dia menyaksikan Yoona mabuk lagi.
Tanpa pikir panjang, Eunhyuk menghubungi Siwon untuk segera datang ke bar.
“Kau datanglah ke bar. Cepat. Istrimu sedang ada di sini.”
Klik.
Mendengar kata ‘istrimu’ membuat Siwon sangat khawatir. Dia yang saat itu sedang bersama dengan Ryeowook di cafe, langsung bergegas menuju bar. Ryeowook heran. Untungnya dia langsung mengejar Siwon dan mengantarnya ke bar.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di bar karena letak cafe Siwon dan barnya Eunhyuk tidak jauh. Mungkin hanya lima kilometer.
Siwon masuk ke dalam bar dengan tergesa-gesa. Ryeowook menyusul di belakang.
“Dia ada di sana,” tunjuk Eunhyuk yang tiba-tiba menampakkan batang hidungnya pada Siwon dan Ryeowook yang baru saja tiba di bar.
Dengan setengah berlari, Siwon menghampiri Yoona. Benar, Yoona tengah mabuk. Siwon mengamati kostu yang dikenakan oleh Yoona.
‘Kenapa kau bisa berpakaian seperti itu?’ tanya Siwon dalam hati.
Yoona terus menerus meracau. Saat sepasang matanya menangkap keberadaan Luham di sana, dia tersenyum.
“Oppa!” panggil Yoona.
Taemin masih ada di sana. Dia mengerutkan dahi saat Yoona memanggil namja uang baru datang itu dengan sebutan ‘oppa’.
“Apa yang kau lakukan di sini, oppa?”
“Kajja. Kita pulang.” Siwon memegamg lengan Yoona. Dalam hitungan detik, tubuh yeoja itu sudah berada di atas punggung Siwon.
Eunhyuk dan Ryeowook datang.
“Dengan siapa dia ke sini?” tanya Siwon pada Eunhyuk.
“Dengan namja itu.”
Siwon menatap Taemin yang duduk di dekat tempat duduk Yoona tadi. Taemin hanya diam. Dalam hati dia bertanya siapa gerangan namja yang menjemput Yoona itu.
“Kau mau naik apa? Pakailah mobilku.” Ryeowook menyodorkan kunci mobilnya.
“Tidak usah, Hyung. Aku berjalan kaki saja.” Siwon mulai melangkahkan kakinya. Lama kelamaan dia keluar dari bar.

“Dia keras kepala,” lirih Eunhyuk.
“Persis sepertimu. Kalian berdua memiliki kesamaan.” Ryeowook duduk di bangku bekas Yoona tadi. Dia memesan satu botol wine terbaik di bar milik Eunhyuk itu. “Sampai kapan kau akan bersembunyi seperti ini?” tanya Ryeowook pada Eunhyuk yang ikutan duduk di sampingnya dan meraih gelas wine yang masih kosong.
Eunhyuk tampak sedang memikirkan sesuatu. “Yang aku takutkan bukan Siwon, tetapi ibunya.” Pandangan Eunhyuk menerawang ke dalam gelas kosong yang dipegangnya.
Ryeowook menepuk bahu Eunhyuk. “Jangan sampai semuanya terlambat. Bagaimanapun juga, mereka berhak tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Justru akulah yang tidak berhak mengetahui tentang dirimu.”
“Hyung, kau pandai sekali membuat orang menyesal.”
Ryeowook tersenyum tipis. “Karena hanya itulah keahlianku.”
“Apa benar appamu menikah dengan eommanya Krystal, Hyung?”
“Eoh,” jawab Ryeowook singkat. “Aku tahu motif yeoja itu. Dia menikahi appaku karena mengincar perusahaan kami.”
“Mwo?”
“Kenapa kau tampak terkejut? Dia mengincar perusahaan appaku, bukan perusahaan appamu.”
Eunhyuk kesal pada Ryeowook. Di saat dia sedang serius, Ryeowook malah bercanda. Ryeowook malah tersenyum seraya menatap lekat-lekat pada Eunhyuk. Eunhyuk merasa tak nyaman dengan tatapan Ryeowook.
“Hyung, kau itu namja. Jangan menatapku seperti itu.” Eunhyuk membuang mukanya ke arah lain agar Ryeowook tidak dapat melihatnya.
Ryeowook semakin terbahak. Menurutnya, Eunhyuk memiliki banyak kesamaan dengan Siwon tetapi Siwon lebih dewasa daripada namja yang duduk di sebelahnya itu.
“Untungnya saham perusahaan appa yang 60% diatasnamakan diriku. Cafe di beberapa kota malah sudah sah menjadi milikku.”
“Heol. Kau kaya sekali, Hyung…”
“Apa kau pikir dirimu tidak kaya, eoh?”
“Aku tidak kaya. Hanya bar yang kumiliki. Itu saja aku belum bisa mengolahnya. Aku malah membiarkan orang lain menjadi atasan di barku sendiri.”
“Meskipun begitu, kau harus mengawasi mereka.”
Eunhyuk manggut-manggut tanda setuju dengan ucapan Ryeowook.

Di tengah malam yang dingin, dengan susah payah Siwon menggendong Yoona di punggungnya. Dia memakaikan jasnya pada Yoona agar istrinya tidak kedinginan. Siwon melingkarkan tali tas Yoona di tubuhnya dan tangannya membawa high heel Yoona.
Yoona membuka matanya. Rupanya tadi dia tidak benar-benar mabuk berat. Dia memang mabuk, tetapi hanya mabuk ringan. Yoona melirik ke arah Siwon. Kepalanya yang berada di atas bahu Siwon, memudahkannya untuk menatap Siwon dari samping lebih dekat. Tanpa sadar, Yoona menitikkan airmata yang jatuh membasahi kemeja Siwon. Dia mengeratkan pegangan tangannya yang melingkar di leher Siwon dan menenggelamkan kepalanya di bahu suaminya itu. Aroma parfum dan tubuh maskulin Siwon bercampur jadi satu, membuat Yoona semakin mengeratkan pegangannya.
‘Oppa, mianhae…’ batin Yoona yang telah memejamkan matanya. Menikmati momen berdua dengan Siwon.

TBC

Advertisements

29 thoughts on “My Heart [Chapter 8]

  1. Duh… Yoona galau mulu ih, knp ga coba bicara dr hati ke hati ma siwon,, *apamahbahasansaiah…hahaha…. Knp c siwon ma yoona salah paham mulu, gra2 krystal lagi…huh,,, sbnr na ada rahasia apa yah? Ky na bnyk teka teki na ne ff?? Apa hubungan eunhyuk n siwon? Knp ryeowook ngmng gitu? Ayo donk chingu bikin siwon ma yoona deket, jgn kaku gitu hubungan na, malah yoona lebih deket, akrab n hubungan na ama taemin malah ngalir gitu aja. Nooooo….jgn sampe yoona nerima taemin, krna sama aja dy ga ngehargain siwon n pernikahan na….. Smga yoona sadar….. Tp kasian juga yah liat yoonwon…dtggu lnjtn na fighting…

    Like

  2. Makin complicated nie cerita konflik jg mulai muncul n bkin saia agak bingung haha
    Msh g ngerti jg perasaan yoona tu kyk apa kok galau mulu antara siwon n taemin, klo ampe yoong nrima taemin berarti dia tega bgt ma siwon g menghargai pernikahan mereka sama sekali!
    Jadi krystal ma wookie saudara tiri to, trus ada rahasia apa antara eunhyuk dg kel siwon???
    Kok aq mikir yoona ma taemin tu jng2 saudaraan tp ortu mereka pisah karna halmonie g setuju gto kh??? Hahah ngarang abaikan thor
    Next part moga2 moment yoonwon lbh banyak 🙂

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s