My Heart [Chapter 6]

MY HEART YOONA VERSMy Heart Yoona Version:

Chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5

Starring:

Choi Siwon | Im Yoona | Lee Taemin | Kwon Yuri

Co. Starring:

Eunhyuk | Ryeowook | Kyuhyun | Krystal | Seohyun

Genre: romance | hurt/comfort | family | angst
Lenght: multichapter

Rating: PG – 13

 

Don’t plagiat!!

Sorry typos

Leave Comment, vote, like 🙂

Happy Reading

“Sorry, I Love Him”

Yoona terkejut atas kedatangan Eunhyuk. Eunhyuk juga begitu. Dia sempat terpaku di depan pintu karena melihat Yoona ada di samping Hwang ahjumma.
“Si tampan Eunhyuk, kemarilah.” Hwang ahjumma meminta Eunhyuk mendekat ke arahnya. Eunhyuk pun menurut. “Kau semakin tampan saja. Bagaimana kabarmu?”
Yoona tercengang mendengar pujian dari eommonimnya yang ditujukan pada namja bernama Eunhyuk.
“Ahjumma terlalu berlebihan,” balas Eunhyuk yang tersipu malu karena dipuji oleh Hwang ahjumma di depan Yoona.
Yoona hanya terdiam.

Di tempat kerja, Siwon ikut membantu para karyawan untuk melayani customer yang semakin siang semakin membludak.
“Silahkan, ahjussi. Selamat menikmati.” Siwon dengan ramahnya melayani para pelanggan.
Ia tampak senang sekali melihat kafe itu ramai pengunjung. Siwon kembali ke ruangannya. Ia meluruskan kedua kakinya dan menyandarkan punggungnya. Sejenak ia memikirkan kesehatan ibunya. Apakah ibunya akan sembuh total atau bagaimana?

Tok tok…

Siwon terperanjat karena suara ketukan pintu yang terlalu keras. ia membenahi posisi duduknya menjadi tegak dan meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Masuklah!”

Cekleeek…

Seorang pelayang yang masih membawa nampan muncul dari balik pintu. Ia mendekati meja kerja Siwon. “Hyung, ada seseorang yang sedang menunggumu di depan.”

“Nugu?” tanya Siwon.

“Molla… Sebaiknya kau cepat-cepat temui dia. Sepertinya dia ingin sekali bertemu denganmu, Hyung.”

Siwon mengerutkan kening. Siapa yang ingin sekali bertemu dengannya? Dia merasa tidak punya penggemar, lalu siapa orang itu? “Gurae, aku akan ke sana. Gomawopta…”

Pelayan itu pun kembali ke tempatnya untuk melayani para pelanggan kafe yang jumlahnya semakin sedikit karena hari sudah siang.

Siwon keluar dari ruangannya. Penampilannya sangat rapi seperti biasa. Setelan baju yang ia kenakan tadi dipilih oleh Yoona dan terlihat sangat pas dikenakan Siwon hari ini. Sesampainya di depan kasir, seorang yeoja meneriakkan nama Siwon. Sontak semua pengunjung dan karyawan kafe melihat ke arah yeoja itu dan ke arahnya.

“Siwon oppa! Aku di sini!” teriak Krystal dengan suara lantang lagi.

Bukannya menyambut yeoja itu dengan wajah yang berseri, Siwon malah menunjukkan ekspresi kekecewaannya. Dia berharap bukan yeoja itu yang datang untuk mencarinya. “Wae?” tanya Siwon dingin. Dia masih berdiri di dekat bangku yang diduduki Krystal.

“Duduklah dulu, baru aku akan cerita padamu.” Krystal menunjukkan senyum termanisnya untuk meluluhkan hati Siwon namun ternyata hal itu tidak mempan pada Siwon. Namja itu tetap menunjukkan ekspresi datar.

“Gurae, aku sudah duduk.”

“Oppa, sekarang aku tinggal di Seoul. Kuliahku juga pindah ke sini,” kata Krystal. “Aku pindah ke sini karena ingin dekat denganmu, oppa. Kalau perlu, aku akan bekerja di sini,” lanjutnya. Ia memegang kedua tangan Siwon yang diletakkan di atas meja.

Siwon menarik tangannya dari genggaman Krystal. Yeoja itu pun langsung mengerutkan keningnya. Ia bingung pada perubahan yang terjadi di diri Siwon. “Mian, Krystal-a, aku rasa kau tidak bisa kerja di sini. Semua yang ada di sini adalah namja. Tidak ada satu yeoja pun yang menjadi karyawan di sini dan tidak diperbolehkan mempekerjakan yeoja di sini.”

Krystal membuang pandangannya. “Siapa manager di sini, oppa? Aku akan menemuinya.”

“Nega.”

Krystal memelototkan bola matanya. “Dangsineun? Tch, Gotjimal. Kau tidak mungkin jadi manager, oppa. Bukankah ada orang lain yang telah menjadi manager di sini?”

Siwon tersenyum tipis. “Sayangnya orang itu sudah dipindahkan ke kafe lain yang lebih ramai dari kafe ini. Maka dari itu, aku diangkat jadi manager di sini.”

“Mwo?” Krystal tambah kaget. “Ini benar-benar gila. Oppa, tolong pekerjakan aku di sini. Jebal…”

“Andwae! Di sini tidak menerima yeoja. Lagipula, kau bukan tipe orang yang mau melayani orang lain,” lanjut Siwon.

“Oppa!” Krystal kesal.

“Silahkan pergi kalau tidak ada urusan yang penting. Aku masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan.” Siwon beranjak kembali ke ruangannya.

Krystal masih duduk terpaku di bangkunya. Dia heran sekali melihat sikap Siwon yang dingin tadi. Sungguh berbeda dengan Siwon yang dulu. “Kita lihat, siapa yang akan menang,” lirihnya lalu pergi meninggalkan kafe itu.

Yoona terdiam melihat ibu mertuanya memuji-muji namja asing bernama Eunhyuk itu. Mereka kelihatan sangat akrab. Karena tidak begitu dibutuhkan, Yoona duduk di atas sofa dan memperhatikan keduanya bersenda gurau.

Tit tit… nada pesan ponsel milik Yoona berbunyi.

From: Yuri

Aku ingin kita bertemu di tempat biasa, sekarang juga.

“Singkat sekali,” gumam Yoona. Yoona mengarahkan pandangannya ke ibu mertuanya yang tengah asyik mengobrol dengan Eunhyuk. “Eommoni, aku pamit keluar sebentar, ne?”

“Kau mau kemana Yoona-a. Kemarilah, kita ngobrol bersama. Eunhyuk adalah namja yang asyik diajak ngobrol.”

Yoona memutar bola matanya malas. Lagi-lagi eommonimnya memuji Eunhyuk. Apakah Siwon tidak cemburu melihat eommanya memuji Eunhyuk terus? pikir Yoona. “Sebenarnya aku ingin sekali ikut ngobrol dengan eommonim, tapi saat ini aku harus pergi sebentar karena ada urusan dengan teman.”

“Oh begitu rupanya. Gurae, kau boleh pergi. Di sini masih ada Eunhyuk yang mau menjagaku.”

Eunhyuk tersenyum. “Ahjumma, siapa dia?” bisik Eunhyuk.

“Dia istrinya Siwon,” jawab eomma Siwon dengan tersenyum geli.

“Mwo?” Eunhyuk terkejut mendengar kalau Siwon sudah beristri.

“Nanti akan kuceritakan,” kata eomma Siwon. “Hati-hati di jalan, Yoona-a…”

“Ne, eommoni. Aku pergi dulu. Annyeong…” Yoona membungkukkan punggungnya lalu menghilang di balik pintu.

“Ahjumma, apa benar dia itu istrinya Siwon?”

Hwang ahjumma mengangguk. “Tentu saja. Wae?”

Eunhyuk teringat kejadian saat Yoona mabuk di bar dan dia mengantarnya ke apartemen. Sama sekali tidak dapat dipercaya kalau Siwon bisa menikahi yeoja seperti itu. “Ah, anhiya. Aku hanya terkejut mendengar kabar ini. kenapa aku tidak diundang, ahjumma?”

“Bagaimana bisa mengundangmu? Kau kan orang yang selalu sibuk. Lagipula mereka menikah di sini.”

“Mwo? Di sini? Bagaimana bisa?”

“Tentu saja bisa. Aku yang meminta mereka segera menikah. Lalu aku meminta Siwon memanggil seorang pastur ke sini dan akhirnya mereka pun menikah. Simpel kan?”

Eunhyuk menggelengkan kepalanya. Rupanya eomma Siwon memiliki ide gila seperti itu.

Yoona hampir sampai di tempat ia biasa bertemu dengan Yuri. Dari jarak beberapa meter, kafe tempat tujuannya terlihat sedikit ramai. Tapi tidak seramai waktu dia membuat Yuri kesal. “Aish, kenapa aku malah memikirkan hal itu?” Yoona mempercepat langkahnya dan ia pun sampai di kafe.

Di dalam kafe, Yoona bingung memilih tempat duduk karena bangku yang biasa ia gunakan sudah ditempati orang lain. Ia pun mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Yuri. Belum ada. Mungkin Yuri masih dalam perjalanan, pikirnya.

“Agassi, silahkan duduk di sini,” kata seorang pelayan yang menunjukkan bangku yang masih kosong yang terletak di dekat kasir.

“Ah, ne. Gomawo…” Yoona pun duduk di bangku itu dan menunggu kedatangan Yuri. Karena bosan menunggu Yuri yang lama sekali, Yoona menundukkan kepala dan menyangganya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya digunakan untuk mengutak-utik ponselnya yang terletak di atas meja. “Lama sekali? Apa Yuri menipuku?” gumam Yoona lirih. Kali ini ponselnya tidak dapat menghiburnya yang sednag bosan. Yoona menumpuk kedua tangannya di atas meja lalu menggeletakkan kepalanya di atas tumpukan kedua tangannya.

Kriiit!!

“Kau sedang apa di sini?”

Yoona kaget. Dia langsung mendongakkan kepalanya. “Oppa!”

“Hmm, kau sedang apa di sini? Kenapa belum pesan apapun?” tanya Siwon yang sudah duduk di depan Yoona dan menumpuk tangannya di atas meja.

“Aku sedang menunggu Yuri. Tadi dia bilang padaku kalau dirinya mau bertemu denganku sekarang. Aku sudah menunggu hampir 30 menit tapi dia belum datang. Apakah dia menipuku?”

“Jangan berburuk sangka dulu. Siapa tahu Yuri masih dalam perjalanan.”

Yoona mengangguk pelan. Ia menyangga kepalanya lagi. Kali ini rasa kantuk menyerangnya saat tengah bosan menunggu Yuri.

“Kau kenapa?” tanya Siwon yang melihat Yoona menundukkan kepala dan menyangganya dengan tangan kiri.

“A, anhiyo. Aku hanya mengantuk.” Yoona melihat ke arah jendela. Kedua matanya langsung membulat. “Omo! Itu Yuri!” Siwon juga mengalihkan pandnagannya ke sosok Yuri yang sedang berjalan di depan kafe. “Oppa, kembalilah ke dalam. Jangan sampai dia melihatmu di sini. Dia bisa semakin marah padaku.”

Siwon menuruti permintaan Yoona. Ia pun berdiri lalu melangkahkan kakinya ke anak tangga yang tidak jauh darinya.

“Siwon-ssi!” teriak Yuri.

Yoona dan Siwon menoleh ke arah Yuri. Yuri menghampiri Siwon dan berkata,“Siwon-ssi, aku minta kau duduk bersama kami,” pinta Yuri.

“Wae?” tanya Siwon yang menyembunyikan rasa kagetnya.

Yoona mengalihkan pandangannya, tidak mau melihat mereka berdua karena Yuri pasti curiga lagi nantinya.

Tak berapa lama kemudian, Siwon duduk di samping Yoona dna Yuri duduk di depan Yoona. Yoona kaget. Kenapa Siwon juga duduk bersama mereka? Yoona melihat Siwon yang dengan santainya bersikap ramah pada Yuri.

Tit tit… ponsel Yoona berbunyi. Ia pun segera membaca pesan yang masuk.

From: Siwon Oppa

Jangan khawatir. Aku tahu permasalahan kalian berdua dan aku juga tahu apa yang kau rasakan sekarang.

Yoona bisa sedikit lega karena ia yakin kalau Siwon tidak akan menyebabkan dirinya berselisih lagi dengan Yuri.

“Mian Yoona-a, kau pasti menunggu lama.”

Yoona tersenyum. “Tidak juga.”

“Gurae, aku minta maaf padamu. Aku juga memiliki banyak salah padamu dan maafmu sudah aku terima.”

Aah akhirnya Yoona dapat bernafas lega. “Gomawo Yuri-a. Aku juga memaafkanmu.”

“Apa kalian tidak mau pesan dulu?” sela Siwon untuk memecah ketegangan diantara kedua yeoja itu.

“Boleh,” jawab Yoona singkat karena dia memang sudah sangat haus sedari tadi menunggu Yuri dan belum pesan apa-apa.

Seorang pelayang dipanggil Siwon untuk melayani pesanan Yoona dan Yuri. Keduanya memesan minuman yang biasa mereka pesan.

“Sebenarnya aku memintamu datang ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu, Yoona-a.”

“Mwo?”

Yuri menatap ke arah Siwon. Namja itu sedikit canggung karena Yuri menatapnya di depan istrinya sendiri.

“Yuri-a, apa yang ingin kau tunjukkan padaku?” tanya Yoona karena Yuri hanya menatap Siwon dan belum bicara apapun untuk menjelaskan maksudnya meminta Yoona datang ke kafe itu.

Yuri mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kasar. “Gurae, yang ingin aku tunjukkan padamu adalah…” Yuri memegang tangan Siwon. Siwon tersentak kaget, begitu juga dengan Yoona. “Siwon-ssi, maukah kau berkencan denganku? Aku sangat menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu.”

Yoona membulatkan kedua bola matanya. Sedangkan Siwon merasa seperti disambar petir di siang bolong.

“Mm, igeo…” Siwon tidak bisa berkata apa-apa. Dia melirik ke arah Yoona yang ternyata juga sedang meliriknya. “Yuri-ssi, kenapa kau melakukan hal ini?”

“Wae? Apa kau tidak senang? Apa kau tidak mau berkencan denganku?”

Yoona menunduk. Ia benar-benar bingung. Apa yang harus ia katakan? Apa yang harus ia lakukan?

“Hm, Yuri-ssi. Jongmal mianhaeyo. Aku rasa ini tidak benar. Aku sama sekali tidak berpikir kau mau melakukan hal ini. Aku…”

Chu…

Yuri mengecup bibir Siwon singkat. Dengan gerakan cepat, ia berdiri dan membungkuk di atas meja lalu mencium Siwon. Siwon tersentak kaget.

Deg! Yoona merasakan ada yang sedang meremas-remas hatinya dan jantungnya berdegub kencang. Ia ingin pergi dari tempat itu. Saat ingin berdiri, salah satu tangan Siwon meraih tangannya untuk mencegahnya pergi dari sana. Yuri tidak tahu kalau salah satu tangan Siwon memegang tangan Yoona erat-erat karena ia melakukannya di bawah meja. Posisi Siwon adalah duduk di samping Yoona sedangkan Yuri duduk di depan Yoona. Yoona kembali duduk. Ia masih terdiam.

Yuri merasa puas melakukan hal itu. Dia telah membalas perbuatan Yoona yang telah mencium pipi Siwon secara tiba-tiba beberapa waktu lalu. Kini dirinya malah mencium bibir tipis namja itu. “Aku hanya ingin berkencan denganku, Siwon-ssi.”

“Mian, aku tidak bisa. Aku masih belum memikirkan hal-hal seperti itu,” balas Siwon yang semakin erat memegang tangan Yoona.

Pesanan Yoona dan Yuri datang. Yoona enggan meminumnya. Tapi berkat bujukan dari Siwon, Yoona pun hanya menyeruput cairan berwarna coklat kental itu lalu meletakkannya lagi di atas meja. “Mian, aku ke toilet dulu.” Yoona melepaskan genggaman tangan Siwon lalu beranjak ke toilet.

“Yuri-ssi, aku benar-benar tidak menduga kau akan melakukan hal ini. Aku hanya menganggapmu sebagai teman baik. Jadi, mari kita berteman saja.”

Yuri sangat kecewa. Ia meneguk habis minumannya lalu berdiri meninggalkan bangku yang didudukinya tadi. Sesaat kemudian yeoja itu pergi dari kafe tanpa berkata apa-apa.

Siwon dapat bernapas lega. Hari ini sungguh merupakan hari yang berat baginya. Pagi tadi ada Krystal, sekarang Yuri. Siwon memutuskan untuk kembali ke ruangannya.

Saat hendak masuk ke dalam ruangannya, Siwon melihat Yoona yang baru saja keluar dari toilet. Yeoja itu sedang merapikan bajunya di depan pintu toilet.

“Gwaenchanayo?” tanya Siwon.

“Omo!” Yoona kaget karena Siwon muncul secara tiba-tiba. “Gwaenchanayo. Oppa, aku pamit pulang.” Yoona mulai mengayunkan kakinya namun tiba-tiba Siwon memegang tangannya seperti tadi. “Oppa…”

“Tinggallah di sini sebentar.” Siwon membawa Yoona masuk ke ruangannya.

Setelah sampai di ruangannya, Siwon meminta Yoona duduk di kursi kerjanya dan dia sendiri duduk di depan meja.

“Mianhae…” ucap Siwon lirih.

“Wae? Kau tidak salah apa-apa, oppa.”

“Aku tahu diantara kita tidak ada perasaan apapun. Tapi kita sudah menikah. Jadi aku tidak ingin menyakitimu karena kau tidak berhak untuk disakiti. Jika aku menerima Yuri menjadi kekasihku, itu artinya aku menganggapmu tidak ada apa-apanya dan kesannya aku adalah namja yang jahat.”

“Oppa, aku tidak menyalahkanmu atas kejadian tadi. Aku juga tidka menyalahkan perasaan Yuri. Hati manusia tidak ada yang bisa menebaknya.”

Siwon berdiri lalu mendekati Yoona yang sedang duduk di kursi empuknya. “Aku tidak ingin kau semakin membenciku.” Siwon memeluk Yoona dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di bahu kanan Yoona.

Deg! Deg! Deg! Jantung keduanya berdetak tak beraturan.

Ini tidak benar, batin Yoona.

Eunhyuk dan eomma Siwon sedang menunggu kedatangan Yoona bahkan namja itu bolak balik melihat arlojinya untuk mengetahui berapa lama Yoona pergi dan sampai sekarang belum kembali.

“Ahjumma, kenapa dia lama sekali?”

“Entahlah. Mungkin dia punya urusan yang sangat penting. Kita tunggu sebentar lagi. Apa kau sedang terburu-buru?”

“Anhiyo, ahjumma. Tapi jika Yoona segera kembali akan lebih baik.”

CekHwangek…

Pintu dibuka dari luar. Nampaklah sepasang suami istri dengan wajah kusut mereka masing-masing memasuki kamar perawatan bersama-sama.

“Syukurlah kalian sudah datang,” kata Eunhyuk dengan senang sekali.

“Kau di sini?” tanya Siwon yang langsung duduk di atas sofa.

“Eoh, siapa yang akan menjaga eommamu kalau bukan aku? Gurae, sekarang aku bisa pulang. Aku ingin mandi dan jalan-jalan. Pasti menyenangkan.”

“Gomawo sudah berkunjung dan menjaga eommaku dengan baik.”

“Cheonma.” Eunhyuk keluar dan menutup pintu dari luar.

Yoona menghampiri ibu mertuanya. “Eommoni baik-baik saja?”

“Aku mengantuk. Badanku terasa pegal-pegal. Aku akan tidur saja supaya nanti merasa lebih baik.”

“Ne, eommoni…” Yoona membantu ibu mertuanya menata bantal dan selimut agar yeoja paruh baya itu bisa tidur dengan nyaman.

Siwon masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri terutama membersihkan bibirnya yang tadi dicium oleh Yuri. Mengingatnya saja sudah membuat Siwon merinding. Sedangkan Yoona membaringkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan matanya yang sudah tidak dapat lagi menahan kantuk di pelupuk mata.

Siwon pov

Hari ini sungguh melelahkan. Tapi masih ada yang dapat aku syukuri. Syukurlah jumlah pelanggan bertambah. Dengan begitu, omzet kafe akan meningkat terus dan kesejahteraan karyawan bisa bertambah. Syukur juga karena Yoona tidak sakit hati atas kejadian tadi. Tapi bagaimana hubungannya dengan Yuri sekarang? Yeoja itu sulit ditebak. Aku tetap tidak ingin membuat Yoona sakit hati meskipun kami tidak saling mencintai. Yoona sudah membantuku memenuhi permintaan terakhir eomma. Seharusnya aku berterimakasih padanya, bukan menyakitinya. Jadi, mulai sekarang aku tidak akan tinggal diam jika ada orang yang menyakitinya di depanku atau di belakangku.

Ritualku membersihkan badan sudah selesai. Dengan mengusap-usap handuk yang dibawa Yoona tadi pagi, aku mengeringkan rambutku yang masih basah karena aku mencucinya sewaktu mandi tadi.

Aku melihat Yoona sudah tertidur pulas di atas sofa. Wajahnya begitu tenang. Aku berharap hatinya juga setenang itu. Semoga Tuhan memberi kebahagiaan padanya.

Aaah, badanku pegal-pegal. Aku putuskan untuk join dengan Yoona di sofa. Aku duduk di bagian yang masih kosong lalu aku meletakkan kepala Yoona di atas pangkuanku sebagai bantalnya. Sesaat kemudian aku berusaha memejamkan kedua mataku.

“Oppa, oppa! Ireona! Palliwa!” Aku mendengar suara yeoja yang sednag membangunkanku. Benar saja. Yoona sudah duduk di sampingku dengan wajah berseri-serinya.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku yang masih beusaha membuka kedua mataku yang silau dengan cahaya dari jendela.

“Jam setengah tujuh,” jawab Yoona.

Omo! Jam setengah tujuh? Aku langsung bergegas ke kamar mandi. Yoona malah terkikik melihat kelakuanku. Ah, aku tidak peduli. Hari ini aku bisa telat lagi kalau tidak buru-buru mandi.

Aku tidak membutuhkan waktu lama utnuk mebersihkan diri di kamar mandi. Tentu saja, kalau aku berlama-lama di kamar mandi, pasti sudah telat ke kafe.

Keluar dari kamar mandi, aku disambut oleh beberapa jenis makanan yang sudah terhidang di atas meja di depanku. Aku lihat eomma juga tengah menikmati sarapan disuapi oleh Yoona.

“Oppa, cepatlah sarapan! Kau sudah telat,” kata Yoona dengan senyum simpulnya.

“Eoh, gomawo.”

Siwon pov end.

Yoona pov

Hari ini ada kuliah. Aku malas sekali datang ke kampus. Entah kenapa aku tidak begitu suka pada Yuri. aku juga malas bertemu dengan yeoja itu lagi. Hiiisssh mengesalkan. Omo, apa ini? apa aku mulai menyukai Siwon oppa? Aaah, ini tidak benar.

Aku terpaksa berjalan kaki ke kampus karena tadi ketinggalan bus. Kalau menunggu bus yang datang berikutnya, bisa-bisa aku tidak kuliah hari ini.

Slurrrph… aaah, segarnya pagi-pagi aku sudah menghabiskan satu kaleng cola. Karena aku sedang kesal, maka aku mencoba menendang kaleng cola yang isinya baru saja aku habiskan. Setelah itu aku akan membuangnya ke tempat sampah. Na.. dul.. set..

Tuukk!!

Omo! Aku sudah menendnag kaleng itu hingga mengenai kepala seseorang. Orang itu menoleh. Aku langsung menoleh dan menutup wajahku dengan keduan telapak tangan. Aku berpura-pura tidak tahu.

“Yaak! Im Yoona!”

Omo! dia kenal aku?

“Yaak! Kemarilah atau aku akan membalas perbuatanmu ini, eoh…” teriak orang itu lagi.

Dengan terpaksa, aku menurunkan kedua tanganku yang tadi menutupi wajahku. Saat aku lirik siapan namja itu, betapa terkejutnya diriku. Ternyata namja itu adalah Lee Taemin yang sedang nangkring di atas motor yang aku yakini adalah milik Kyuhyun-ssi.

Baru aku sadari kalau berurusan dengan namja ini selalu merepotkan dan ribet. Aku berjalan mendekatinya. “Mian. Aku tidak sengaja.”

“Mian? Kepalaku benjol karena ulahmu. Kau harus tanggungjawab!”

Pletakk!

Aku memukul kepala Taemin dengan buku kecil yang baru saja aku keluarkan dari tas. “Eotte? Sakitkah?”

“Yaak! Kau berani padaku?” Taemin marah. Aku tidak peduli. Kekesalanku aku luapkan pada namja itu. Biarkan saja, dia sendiri juga dengan gampangnya melakukan segala sesuatu yang diinginkannya.

“Omo! aku bisa telat sampai di kampus.” Seruku yang berhasil mengagetkan namja itu. Aku mengambil kaleng cola itu untuk ku buang ke tempat sampah.

“Yaak, neo eodikka?” tanya Taemin.

“Aku ingin pergi ke kampus, pabbo!” Aku meninggalkan Taemin sendirian di atas motor Kyuhyun. Pasti dia sedang bersama sepupunya itu. Dia kan belum bisa berjalan, jadi dia tidak mungkin bisa naik motor sendiri.

“Yaaak, Im Yoona!” teriak Taemin yang masih dapat aku dengar dari kejauhan. Dasar namja aneh.

Sampai di halaman kampus, aku langsung ambil langkah seribu menuju lantai tiga gedung yang berdiri kokoh di depanku. Masih tersisa waktu lima menit. Aku harus sampai di sana tepat waktu. Kalau terlambat lagi, pasti akan dapat hukuman mengerjakan soal yang sama sekali tidak aku mengerti.

Dengan secepat kilat, akhirnya aku sudah berhasil sampai di ruang kuliahku tepat waktu. Aku masuk lalu mencari tempat duduk. Kenapa tidak ada satu kursipun yang kosong? Akhirnya aku menemukan satu bangku kosong. Aku terkejut saat mengetahui kalau ternyata Yuri yang sednag duduk di kursi kosong itu. Itu artinya aku duduk berdampingan dengan Yuri. Kami pun hanya diam, tak ada kata sapaan.

Tbc.

Comment juseyo… 🙂

Advertisements

33 thoughts on “My Heart [Chapter 6]

  1. Omo ,,,, yulleon nekat banget nyium bibir wonppa
    cepetan gih yoonwon punya perasaan yang sama biar nggak ada lalat pengganggu, hehee maksa

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s