Beautiful Liar [Oneshoot]

6

|| Title: Beautiful Liar || Author: Phiyun || Genre: Romance | Friendship | Comedy | Fluff | School Life || Cast: Im Yoona | Choi Siwon || member support : SNSD ||

Poster Credit:  LittleRabbit@Hospital Art Design  (Thank’s ^^)

 

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

 

Cerita kali ini aku fokuskan di Pov Yoona ya ^^

 

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Hati dan tubuhku tak bisa berbohong saat disampingmu.

~~~ooo~~~

 

Setiap hari aku hanya bisa memandanginya dirinya dari sini. Pagi hari inipun dia selalu dikerumuni oleh  para gadis. Bukan setiap pagi bahkan disetiap waktu dia selalu ada disekitar gadis – gadis yang sangat mengila – gilainya. Terkadang dalam hatiku merasa kesal juga saat melihatnya tapi aku tak bisa  marah terhadap dia karena aku bukanlah siapa – siapanya aku hanya seorang sahabat atau bisa dibilang teman sekelasnya saja ya, yang lebih tepatnya hanya mantan teman sekelas tak lebih dan tak kurang.

 

“Siwon oppa  na, neomu – neomu joahae. Maukah kau menjadi kekasihku?” Ucap gadis itu sambil mengulurkan secarik amplop berwana merah muda kepada Siwon.

Mianhae… aku tak bisa menerimamu. Aku harus fokus dengan urusan sekolahku.” Balas Siwon sambil sebelah tangannya menggaruk tengkuk lehernya.

“Tapi oppa, aku sangat menyukaimu. Aku tak keberatan kalau kita jarang bertemu dan kita hanya berhubungan melalui via telefon.”

“Maafkan aku Yuri-ssi aku tetap tak bisa. Aku harus pergi sekolah dulu dan lagi nampaknya pintu kereta api bawah tanah ini sebentar lagi akan tertutup.”

 

Namun saat Siwon hendak berjalan masuk kedalam pintu kereta api tiba – tiba lengan mantel bajunya ditarik oleh Yuri. Sehingga mau tak – mau Siwonpun berhenti dan menoleh kebelakang.

 

“Lepaskan aku.” Pinta Siwon.

“Aku tak akan melepaskannya.”

“Yah… sebenarnya apa maumu?” Tanya Siwon dengan wajah yang menahan kesal.

“Kau pasti sudah tahu apa yang aku mau?” Balasnya sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Tolong jangan paksa aku, sudah aku bilang aku…”

 

Belum sempat Siwon menyelesaikan ucapannya, Yoona langsung menarik tas ransel yang dikenakan Siwon di belakan pundaknya kedalam kereta api. Gengaman tangan Yuripun di lengan baju Siwon terlepas karena Yoona menarik Siwon kedalam cukup keras dan beberapa detik kemudian pintu kereta api itupun tertutup.

 

“Yoona?”

Ye… mian tadi aku menarikmu kedalam cukup kencang. Kalau aku tidak melakukannya sekarang kau pasti akan terlambat kesekolah.”

Gwenchana, adanya aku yang bilang terimakasih sudah membantu ku. Repot juga ya kalau setiap hari aku harus mengalami hal seperti ini.” Sambil menghela nafas yang panjang.

“Sepertinya bukan kali ini saja kau mengalaminya, hampir  2 setengah tahun kau mengalaminya. Lebih baik cepatlah kau mencari kekasih. Siapa tahu kalau kau sudah punya kekasih, yeoja – yeoja itu tidak akan mengejar mu lagi.” Balas Yoona sambil melipat kedua tangannya di hadapan Siwon.

 

Mendengar ucapan Yoona seketika Siwon terdiam kaget sambil kedua matanya menatap Yoona. Kemudian beberapa saat kemudian diapun menundukan wajahnya dan berkata.

 

“Kalau begitu maukah kau menjadi kekasihku?”

“Hah!! Apa katamu barusan?” Teriak ku kaget.

“Tadi aku bilang maukah kau menjadi kekasihku?” Ucapnya lagi namun sekarang wajahnya terlihat serius.

“Baiklah, ayo kita lakukan.”

“Ehh..?? Apakah kau serius!”

Ne… ayo kita pacaran tapi hanya pura  – pura saja.” Balasku dengan santai.

 

“Pura – pura?? Maksudmu kita berdua pura – pura pacaran begitu?” ucapnya sambil jari telunjuknya menunjuk kearahku lalu jari telunjuknya menunjuk kearahnya berkali – kali.

Ye…ye… betul sekali. Kata ku sambil mengangukan kepala.

 

“Aku tahu kau sedang pusing dan putus asa karena banyak yeoja yang mengatakan cinta padamu dan sebagai teman yang baik aku akan menjadi pacar pura – puramu sampai kita lulus sekolah. Tak lama kok kita menjadi pasangan pura – pura, kita jadi sepasang kekasih kurang dari 6 bulan. Bagaimana?”

“Apakah kau yakin, tak apa – apa bila kita melakukan ini semua?” Tanya Siwon dengan wajah yang ragu.

 

“Tenang saja aku akan baik – baik saja, kebetulan aku juga sedang ingin menghindar dari mantan kekasihku yang saat ini yang ingin kembali lagi kepadaku.”

Mwo? Mantan kekasih?!”

Ne… akan lebih baik kalau kita saling menolong bukan? Kamu bisa tenang menghadapi ujian akhir sekolahmu tampa ganguan para yeoja dan akupun akan selamat dari mantan kekasihku yang akhir – akhir ini menelefonku terus.”

 

Untuk beberapa saat Siwon hanya terdiam dan wajahnyapun tanpak datar mendengar ide yang aku tawarkan kepadanya.

 

“Baiklah kalau kau tak mau aku tak memaksa.”

A-ni… ayo kita lakukan. Nampaknya tidak ada yang dirugikan disini.”

 

Tiba – tiba pintu keretapun terbuka dan Siwonpun langsung keluar dari dalam kereta.

 

“Kalau begitu sampai ketemu pulang sekolah ya.” Ucap Siwon sambil tersenyum tipis kepadaku.

“Ne… sampai ketemu pulang sekolah.” Balasku sambil tersenyum manis didepannya.

 

Saat aku sudah tak melihat Siwon lagi tiba – tiba kakiku tak mampu menompang tubuhku dan akupun langsung  terduduk lemas. Aku tak percaya dengan apa yang barusan aku katakan padanya. Mantan kekasih? Mana mungkin aku punya semua yang aku katakan padanya barusan saja, hanyalah kebohongan. Bagaimana mungkin aku punya mantan kekasih, pacaran saja aku belum pernah dan lagi cinta pertamaku saja namja yang akan menjadi pacar pura – pura ku selama akhir semester masa sekolahku di bangku SMA ini.

 

Aku sudah menyukainya senjak awal masuk sekolah. Tapi setiap hari aku selalu melihat dirinya selalu di kelilingi yeoja yang sedang menyatakan cinta pada dirinya dan dia selalu saja berkata

 

“Maaf aku tak bisa menerimamu, karena aku ingin fokus sekolah.”

 

Kalimat itu selalu terngiang – ngiang ditelingaku. Sebenarnya aku juga ingin mengatakan cinta pada tapi aku takut hubungan aku dengannya jadi menjauh jadi lebih baik aku pendam saja perasaan ini dari pada aku harus menghancurkan hubungan persahabatan ini dan yang paling bodohnya kenapa saat dia bilang maukah kau jadi pacarku, aku malah menjawabnya baiklah, ayo kita pacaran pura – pura.”

 

“Yah… Yoona-ah apa yang barusan saja kamu katakan pada Siwon? Pabo-ya…harusnya kamu terima saja langsung tidak usah bilang ayo kita pacaran pura – pura, Pabo-ya!!! Sekarang apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Eotteohke???”

 

~~~ooo~~~

 

Tak terasa waktu jam pelajaran sekolahpun selesai. Terlihat sudah ada seorang namja yang sedang berdiri menunggu seseorang tak jauh dari lapangan basket. Kemudian seorang yeoja datang menghampiri namja yang sedang berdiri disana.

 

Mian, aku baru sampai. Apakah kamu lama menungguku?” Kata ku sambil menepuk pelan pundak Siwon.

“Ah… kau sudah datang? Kebetulan aku juga baru sampai, bagaimana kalau sekarang kita main basket?”

“Hahaha! sepertinya kau saja  yang main basket ya.” Balasku sambil tertawa kecil

“Kenapa?” Tanyanya lagi padaku.

“Bagaimana mungkin aku bilang sama dia kalau aku sebenarnya tidak bisa main basket. Memegang bola basket saja aku tidak pernah apa lagi mainnya.”Kata dalam hatiku.

 

“Yoona… Yoona-ah… Yak! Im Yoona!!” Panggil Siwon membangunkan lamunanku.

Ah… ye… ada apa Siwon-ssi?”

“Ada apa? Adanya aku yang bilang begitu sama kamu? Apakah kau baik – baik saja?”

 

Tiba – tiba Siwon mendekatkan wajahnya didepan wajahku dan makin lama jarak diantara wajah kami berduapun semakin dekat.

 

“A-apa… yang sedang kau la-lakukan?” Kataku sambil tersendat – sendat.

“Diamlah sebentar, ada yang mau aku pastikan denganmu.”

 

Tiba – tiba dia langsung menarik tubuhku kedalam dekapannya. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya dan aroma  tubuhnya. Seketika aku langsung memejamkan kedua mataku saat jarak antara wajah kami tinggal beberapa inci lagi.

“Sepertinya kau agak demam ya? Lihat kedua pipimu sampai merah padam? Apakah kau baik – baik saja?” Sambil kedua tangannya menyentuh kedua pipiku.

 

“A-a-aku baik – baik sa-saja!!!” Lalu aku langsung mendorong tubuh Siwon menjauh dari hadapanku.

“Yoona-ah apa yang sedang terjadi padamu? Kenapa kamu mendorongku?”

“I-i-tu karena kamu terlalu dekat – dekat dengan ku dan lagi kenapa ka-kamu tiba – tiba menyentuh pipiku!?”

“Yah… aku hanya ingin mengecek suhu tubuhmu,m kamu itu sedang sakit atau tidak. Itu saja.”

A, geureyo, aku kira…”Balas ku sambil menundukan kepala karena menahan malu.

 

“Memangnya apa yang sedang kau fikirkan tadi? Lalu kenapa kamu tadi tiba – tiba menutup kedua matamu? Jangan – jangan kamu tadi sedang berfikir macam – macam ya saat dihadapanku?” Katanya sambil menatap kedua mataku dengan matanya yang tajam.

 

A-aaniya… aku tak pernah berfikiran seperti itu!”

“Lalu kenapa kau tadi menutup kedua matamu?” Tanyanya lagi

“Ta-tadi Aku hanya… mataku kemasukan debu. Jadi mataku aku tutup.”

Mweorago? Kamu kira aku ini anak kecil yang mudah kamu bohongi.”

“Siapa yang membohongimu!”

 

Sesaat suasana disekitarku terasa begitu sepi dan canggung aku bingung harus mengatakan apa lagi didepannya. Apa yang harus aku lakukan lagi.

 

“Hahahhaha!!!” Tiba – tiba Siwon tertawa terbahak – bahak didepanku. Akupun sampai kaget dengan apa yang baru saja aku lihat.

 

“Kenapa kau tertawa?” Tanyaku.

“Apakah kau tahu ekspresi wajahmu saat tadi?? Kau terlihat sangat lucu, hahaha!!!”

Yak! Kau sedang mengerjaiku ya tadi??”

A-ani… aku hanya sedang menggodamu saja barusan.”

“Yak!!! Itu sama saja tahu.” Balasku dengan nada yang marah namun didalam hatiku aku sangat senang diperlakukan seperti itu.

 

~~~ooo~~~

 

Akhirnya akupun duduk di bangku dekat lapangan basket untuk menunggu dia selesai berlatih basket. Aku sampai terpanah saat Siwon berhasil melakuakan slamdunk  bahkan tampa aku sadari aku sampai berdiri dari tempat duduk ku sambil memberikan tepuk tangan kepadanya.

 

“Wah, keren…” Kataku sambil bertepuk tangan.

 

Siwonpun sadar saat aku memberikan dia tepukan tangan dan diapun mendatangiku.

 

“Aku memang keren, Yoona-ah. Apakah kamu baru menyadarinya?”

“Aku tarik kembali perkataan yang barusan aku katakan kepadamu.” Sambil membuang wajahku.

Waeyo?? Apakah wajahku tak cukup tampan bagimu?”

 

Tiba – tiba wajah Siwon mendekati wajahku seperti saat tadi namun kali ini aku berhasil menjauhkan diri darinya.

 

“Yah… Siwon-ssi jangan kamu lakukan hal seperti itu lagi. Aku tidak menyukainya.”

Ye… mianhae. Kalau begitu ayo ikut dengan ku bermain basket.”

“Tidak usah aku tunggu kamu disini saja.”

“Sudahlah ayo temani aku, aku merasa aneh kalau main basketnya Cuma sendirian di lapangan.”

 

Siwonpun lalu menarik lenganku menuju ketengah lapangan basket dan kemudian dia memberikanku bola basket yang ada di tangannya padaku.

 

“Sekarang coba kau masukan bolanya ke ring itu.” Kata Siwon sambil menunjuk ke arah ring yang ada didepanku. Aku bingung harus bagaimana cara melemparkannya.

“Yoona-ah kenapa kau diam saja? sudah lemparkan saja kedepan.”

Ne..ne… Araseumnida. Tinggal lempar saja kan?” Tanyaku.

“Ye… sudah cepat lakukan.” Balasnya lagi dan nampaknya sekarang Siwon terlihat agak kesal.

 

Tampa berfikir panjang akhirnya aku melepaskan bola basket tersebut keatas dengan sekuat tenagaku sambil menutup kedua mata. Setelah berhasil melempar bola  itu akupun membuka kedua mataku namun saat aku membuka mata aku tidak melihat bola yang aku lempar barusan saja.

 

“Awas!!!” Teriak Siwon dari belakang ku sambil jari telunjuknya menunjuk – nunjuk keatas. Otomatis akupun menegadahkan wajahku ke atas langit. Saat aku melihat keatas ternyata bola basket yang aku lembpar sudah jatuh cukup kencang di atas wajahku dan akupun terjatuh.

 

“Yoona-ah… Gwenchanayo???” Sambil membantuku bangun dari jatuhku.

“Ah… Siwon-ssi. Na, gwenchana.” Balasku sambil tersenyum menahan perih di seluruh wajahku.

“Yoona-ah… hidungmu berdarah!” Kata Siwon lagi padaku.

“Tidak mungkin, Siwon-ssi. Masa aku berdarah gara – gara kena bola basket. Hahaha!” Tawaku geli namun aku langsung menyentuh hidungku.

 

“Da-darah… hidungku berdarah!!!” Teriakku dengan histeris sambil menatap telapak tanganku yang terkena noda darah.

“Kan sudah aku bilang hidungmu itu berdarah.”

 

Tiba – tiba kesadarankupun hilang dan aku langsung pingsan di saat itu juga.

 

~~~ooo~~~

 

~1 jam kemudian~

 

Yoonapun mulai siuman dari pingsannya diapun mulai membuka kedua matanya secara perlahan – lahan dan saat kedua matanya sudah terbuka semua dia melihat ada Siwon dihadapannya. Ternyata sedari tadi Yoona tertidur diatas pangkuan Siwon. Menyadari hal itu Yoona langsung bangkit dari berbaringnya.

 

“Aaauww…” Kata Yoona sambil menyentuh hidungnya.

Gwenchana? Coba aku lihat lagi hidungmu.”

“Tidak perlu, Siwon-ssi. Lebih baik kita pulang sekarang. nampaknya hari mulai sore.” Kata Yoona sambil berdiri namun Yoona langsung lunglai saat bangkit dari duduknya dan dengan cekatan Siwon langsung menarik lembut lengan Yoona kemudian dia langsung menggendong Yoona di belakang punggungnya.

“Yah… turunkan aku Siwon-ssi. Nanti bagaimana kalau ada yang lihat.” Bisik Yoona.

Sirheo!!! Memangnya kenapa kalau ada yang lihat kitakan sekarang sedang berpacaran.”

“Yah… berhentilah becanda sekarang. cepat turunkan aku.” Balas Yoona sambil menepuk atas bahu Siwon.

“Biar saja kalau ada yang lihat itu lebih bagus jadi kita tidak usah memberitahu mereka semua kalau kita ini sedang pacaran. Lagipula sepertinya aku mulai nyaman dengan dirimu berada disampingku.”

Ah… jeongmal? Ah, sepertinya kau sedang menggodaku lagi ya?”

A-aniyo… jinjja. Untuk apa aku mengodamu lagian tidak aku goda juga ekspresimu sama saja.”

“Memangnya kenapa dengan ekspresiku? Apakah aneh?” Tanya Yoona lagi.

“Tidak, Yoona-ssi. Malah sebaliknya wajahmu terlihat manis.” Balas Siwon sambil menyembunyikan senyumannya dari Yoona.

Aah… jeongmal??? Gomawo.” Balas Yoona sambil tersipu malu.

 

Lalu Siwonpun mengantarkan Yoona pulang dengan selamat sampai didepan rumahnya.

 

~~~ooo~~~

 

Hari demi haripun berjalan begitu cepat dan tak terasa seminggu lagi adalah hari kelulusan mereka berdua. Yoona mulai tak rela bila harus melepaskan Siwon, dia ingin sekali berada disisinya bukan hanya untuk di semester terakhir mereka menjadi seorang siswa SMA tapi dia juga ingin menghabiskan waktunya bersama Siwon disepanjang waktunya bahkan dia ingin sekali selalu disampingnya. Tapi itu semua hanya angan yang tidak mungkin terjadi di kehidupan Yoona.

 

~~~ooo~~~

 

Seperti biasa aku selalu menemani Siwon untuk berlatih basket setelahpulang sekolah. Siwon sangat giat dalam berlatih, dia tidak mau mengecewakan para anggotanya bila tim mereka kalah dalam perlombaan terakhir mereka di bangku sekolah ini. Aku dapat mengerti perasaan Siwon karena dia adalah ketua dalam anggota basket, jelaslah dia merasa terbebani bila tidak bisa memberikan hasil yang terbaik untuk anggotanya.

 

“Yoona-ssi… kenapa kamu melamun? Apakah kamu bosan menungguku?” Ucapan Siwon membuatku terbangun dari lamunanku. Aku sampai tak sadar kalau dia sudah ada didepan mataku.

“Eh..? A-niya.” Balasku sambil melambaikan kedua tanganku kekanan dan kekiri dengan cepat untuk memberi isyarat kalau semua itu tidak benar.

“Oh, iya ini minumlah.” Tambahku sambil memberikan botol mineral kepadanya.

Gomawo.” Balasnya sambil tersenyum simpul dihadapanku.

 

“Siwon-ssi tinggimu badanmu berapa?” Tanyaku.

“Aku kurang tahu? Mungkin 185cm atau lebih?”

“Ah… tinggi juga ya. Pasti karena kamu suka main basket ya.”

“Mungkin ?”

“Pantasan saja tubuhmu sangat tinggi dan juga postur tubuhmu sangat bagus. Seandainya aku suka main basket mungkin tubuhku bisa tinggi sepertimu?” Sambil menegadahkan kepalaku kearah Siwon.

 

Lalu tiba – tiba Siwon menggengam kedua pundakku sambil mengangkat tubuhku di hadapannya.

 

“Kau sudah cukup tinggi, Yoona-ah. Lagipula aku tidak suka yeoja yang terlalu tinggi.”

Waeyo?” Tanyaku lagi.

“Karena kalau gadis itu tingginya sama dengan ku, aku akan sulit untuk bisa melakukan ini.” Sambil memelukku.

 

Deg..deg..deg…

 

Jantungku langsung berdetak dengan kencang saat aku berada didalam pelukannya. Aku bahkan bisa merasakan tubuhnya yang bidang saat kepalaku bersandar dia atas dadanya. Bahkan aku bisa mendengar suara detak jantungnnya yang berdegup dengan kencang seperti diriku, tapi tunggu dulu ini suara jantungku atau suara jantungnya akupun tak tahu yang jelas saat ini mungkin saja wajahku sedang merah padam karena merasakan sangat senang berada dipelukannya.

 

~~~ooo~~~

 

Beberapa saat kemudian Siwonpun melepaskan pelukannya dari tubuhku. Padahala kau ingin lebih lama didalam pelukannya.

 

“Sepertinya mereka sudah pergi?” Kata Siwon pelan di telingaku.

“Mereka? Siapa mereka?” Sambil menengok kebelakang.

 

Saat aku menengok kebelakangku aku melihat ada beberapa siswi yang sedang berjalan pergi dari dekat lapangan basket dengan wajah yang kesal.

“Ah… Iya mereka sudah pergi.” Balasku dengan nada yang agak sedih.

 

“Jadi tadi kau memelukku bukan karena aku ya? Tapi karena ada orang – orang itu yang dari tadi menatap kita. Kenapa aku jadi sedih bukannya ini memang rencana ku dari awal, pura – pura pacaran. Siwon tidak salah bila melakukan semua ini padaku. Yoona-ah kamu terlalu banyak berharap kepada Siwon, araseo! Mana mungkin dia menyukaimu.” Ucap batinku sambil menghela nafas yang panjang.

 

~~~ooo~~~

 

Setelah selesai berlatih Siwon dan akupun pulang bersama. Di tengah perjalanan tiba – tiba Siwon menggengam sebelah tanganku. Aku sempat kaget tapi saat itu juga aku menyadari kalau ada seorang siswi sedang berdiri sambil membawa sebuah amplop berwarna merah muda dan sekotak coklat tak jauh dari halte bis dimana kita akan kesana.

 

Namun saat gadis itu melihat kami sedang bergandengan tangan. Aku melihat wajahnya sangat sedih, diapun langsung berlari dari tempat dia tadi berdiri dengan kedua mata yang berkaca – kaca. Sebenarnya aku tak tega melakukan ini semua kepada semua yeoja yang menyukai Siwon tapi aku harus bagaimana lagi, ini hanya satu – satunya cara agar aku bisa berada disisinya. Walaupun semua ini hanyalah sebuah kebohongan.

 

“Nampaknya, yeoja itu sudah pergi.” Sambil melepaskan tanganku dari gengaman tangan Siwon. Namun belum sempat aku melepaskan seluruh tanganku dari gengamannya tanganku sudah digenggam kembali olehnya.

“Siwon-ssi?”

“Lebih baik kita begini dulu untuk sesaat.”

“Tapi diakan sudah pergi?”

“Iya aku tahu, tapi bagaimana kalau ada lagi yeoja yang mengikuti kita?”

Ne, Araseumnida.” Balasku dengan suara yang pelan.

 

Tak berapa lama kemudian bis yang kami tunggupun tiba kamipun langsung menaikinya. Setibanya didalam bis Siwon masih mengengam jari jemariku dan setelah itu kamipun duduk bersebelahan.

 

“Siwon-ssi seperti sudah aman sekarang.” Kataku sambil melepaskan tanganku dari jari jemarinya.

“Ah… ye… sepertinya iya.” Balasnya.

“Oh iya Siwon-ssi mau melanjutkan sekolah dimana?”

“Mungkin aku akan melanjutkan di sekolahku di universitas Seoul.”

“Wah, deabak! Universitas itukan universitas favorite kan?”

“Sepertinya begitu. Kalau kamu dimana?”

 

Untuk beberapa saat aku terdiam didepannya. Aku bingung apa yang akan aku katakan padanya.

 

“Entahlah aku masih bingung mau melanjutkan kuliah dimana. Tapi aku yakin kamu pasti akan diterima di universitas itu. Kalau tak salah di sana banyak mahasiswi yang cantik – cantik mungkin disana kamu bisa menemukan kekasihmu yang sebenarnya.” Kata ku sambil tersenyum namun didalam hatiku teras sangat perih saat aku mengucapkan itu.

 

“Sepertinya aku tak akan tertarik berpacaran disana. Kalau nanti pacaran pasti pasangan kita sangat cerewet, mau ini lah mau itu lah. Trus setiap saat pasti menelefon bahkan mengirim pesan menayakan hal – hal yang aneh tentang diriku. Membayangkannya saja membuatku pusing. Yeoja itu semuanya merepotkan.”

 

“Kamu salah Siwon-ssi. Terkadang memang seorang yeoja melakukan itu semua semata – mata karena dia ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh pasangannya. Bukan karena dirinya cerewet dan manja tapi yeoja itu hanya terlalu mengkhawatirkan diri namja yang dia cintai saat jauh dari dirinya, makanya itu rata – rata yeoja melakukan hal yang kekanak – kanakan seperti itu pada pasangannya.”

 

Tiba – tiba Siwon menyentuh lembut sebelah tanganku sambil menatap kedua mataku dengan kedua matanya yang tajam.

“Kalau, Yoona bagaimana mengekspresikan rasa sayangnya pada pasangan? Apakah melakukan hal yang seperti itu juga?”

“deg…deg… deg…”

Aku langsung tersentak kaget. Kedua matakupun membulat lebar menatap wajahnya. Seketika aku terdiam seribu bahasa. Aku bingung, apa yang akan aku katakan padanya? Bagaimana cara aku mengekspresikan rasa sayangku kepadanya? Bibirku terkunci rapat dan wajahkupun mulai memanas. Detak jantungkupun berdegup tidak menentu sampai – sampai aku sulit bernafas saat didekatnya.

Tak berapa lama bis pintu itupun terbuka saat hendak menaikan penumpang di pemberhentian bis. Akupun mengambiil kesempatan untuk pergi dari Siwon.

“Aku turun dulu!” Kataku.

“Tapi rumahmu kan masih jauh?”

“Ada yang harus aku beli , kalau begitu aku pergi dulu. Annyeong.”

 

Akupun langsung bangun dari duduk ku dan berlari keluar pintu kemudian aku berlari menjauh dari halte bis tersebut.

 

“Yoona-ah… apa yang kamu lakukan? Pabo-yah!!!” Teriak ku kesal karena kebodohanku sendiri.

 

Akupun berlari dan terus berlari dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang aku punya. Setelah cukup jauh berlari kakikupun tak sanggup lagi melangkah dan saat itu juga akupun berhenti dengan nafas yang terengah – engah.

“Sekarang aku tahu bagaimana cara aku mengekspresikan rasa cintaku padanya. Meskipun tanpa kata – kata yang keluar dari bibir ku, aku sudah menyampaikan rasa cintaku melalui mataku, bibirku bahkan seluruh tubuhku tak menentu saat berada didekatnya sampai – sampai isi kepalaku hanya memikirkan dirinya. Lalu bagaimana sekarang? apa yang harus aku lakukan bila bertemu dengan dirinya esoknya? Perasaanku semakin hari semakin tumbuh, aku sudah tidak bisa lagi  membohongi diriku sendiri kalau aku sebenarnya sangat mencintainya.” Rintihku sambil meneteskan air mata.

~~~ooo~~~

 

~Pov Siwon~

 

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada dirinya? Kenapa sikap dia sekarang seperti ingin menjauh dari diriku? Apakah aku melakukan hal yang membuat dia tak nyaman? Mungkin aku terlalu memaksakan keinginanku kepadanya.”

“Apakah aku harus menyudahi semua ini? Bagaimana aku bisa menyudahinya memulainya saja aku belum? Bahkan hubungan kita saja tak jelas? Lalu bagaimana sikapku nanti saat bertemu dirinya besok disekolah?” Kataku dalam hati sambil menggaruk – garuk kepalaku dengan frustasi.

Ternyata di dalam bis tersebut ada beberapa orang yang sedang melihat Yoona dan Siwon sedari tadi didalam bis tersebut tanpa mereka berdua sadari.

~~~ooo~~~

 

~Esok harinya~

 

Annyeonghaseo Siwon-ssii.” Sapa ku saat melihat Siwon sedang berjalan masuk kedalam pintu gerbang sekolah.

A.. annyeong. Oh iya Yoona-ah nanti siang kau langsung pulang saja ya. Kau tak usah menemaniku latihan basket lagi.”

Waeyo Siwon-ssi? Apakah kamu marah padaku karena kejadian kemarin?”

A-ani, aku hanya tak enak bila selalu merepotkanmu terus. Kalau begitu aku masuk kekelas duluan ya.” Lalu Siwonpun berlalu dari hadapanku.

“Sepertinya benar, dia pasti masih marah karena sikapku kemarin terhadap dirinya.” Gumamku.

 

~~~ooo~~~

 

“Krrinng!!! Kring!!! Krring!!!”

 

Terdengar suara bel tanda pulang sekolah. Yoonapun langsung merapikan peralatan tulisnya kedalam tas. Saat Yoona hendak bangun dari tempat duduknya tiba – tiba datanglah beberapa siswi dihadapannya.

 

“Bisakah kita bicara sebentar.” Kata salah satu yeoja tersebut.

“Baiklah. Kita mau bicara dimana, Sica-ssi?”

“Ikutlah dengan kami.” Balas yeoja yang satunya.

 

Lalu Yoonapun pergi bersama teman sekelasnya kegedung belakang sekolah.

 

“Apa yang kalian ingin bicarakan padaku.”Tanya Yoona

“Sudahlah jangan kau berlaga suci didepan kami! Kami sudah tahu betapa piciknya dirimu.”

“Apa maksudmu, Sunny-ssi?” Kata Yoona lagi.

“Iya, aku sudah muak melihat tingkahmu yang genit didekat Siwon. Kamu itukan hanya pacar pura – puranya Siwon kan? Tapi tingkahmu seperti pacar benerannya saja.” Tambah Sooyoung sambil mendorong tubuh Yoona kebelakang.

 

Yoonapun merasa terpojok dia tidak bisa mengelak lagi sekarang. Melihat Yoona sangat terpojok akhirnya ada salah satu sahabatnya yang maju untuk membela Yoona.

 

“Sudahlah, kalian hentikan semua ini, kasihan Yoona. Lagipula bukan sepenuhnya kesalahan Yoona.” Kata Taeyeon sambil badannya menghalagi tubuh Yoona.

“Yah… yak…!!! Taeyeon-ssi lebih baik menyingkir sekarang dari hadapan kami.” Kata Tiffany.

“Betul itu, lebih baik kau pergi dari hadapan kami daripada kami  melukaimu, Taeyeon-ssi!!” Balas Hyoyeon sambil menarik lengan Taeyeon untuk menjauh dari Yoona.

 

“Apa yang kalian lakukan disini!!” Kata seorang namja dari belakang mereka.

“Siwon-ssi?!” Ucap mereka berbarengan.

“Yoona-ah, kenapa kau juga ada disini?” Sambil berjalan kearahnya.

 

“Siwon-ssi, bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?”

“Tadi aku tak sengaja melihat kau bersama dengan teman – teman mu berjalan kebelakang sekolah. Apakah kamu baik – baik saja.”

“A-aku…” Belum sempat Yoona menyelesaikan ucapannya tiba – tiba ada yang memotongnya.

 

“Sudahlah jangan kau bersikap lugu didepan Siwon-ssi. Kami sudah tahu kalau kalian berdua hanya pura – pura pacaran.”

“Iya, betul itu.”Tambah yang lain.

 

“Lalu memangnya kenapa kalau aku dan Yoona itu hanya pura – pura pacaran? Memang apa urusannya dengan kalian semua? Mau kita pacaran ataupun tidak itu adalah urusan kami berdua.” Balas Siwon dengan wajah yang dingin.

“Tapi Siwon-ssi, kamu itu hanya diamanfaatkan sama Yoona.” Kata Jessica.

A-ani… yang memanfaatkan Yoona adalah aku. Aku yang memaksanya menjadi kekasihku, Yoona tak salah sama sekali disini.”

“Kenapa sih kamu masih saja membela Yoona? Apa bagusnya dia?”

 

Untuk beberapa saat Siwon terdiam lalu sebelah tangannya merangkul pundak Yoona untuk mendekat disampingnya.

 

“Karena aku menyukainya. Kita berdua saling menyukai.  Apakah perkataanku cukup  jelas.”

“Ah… andwae!!! Kamu tak mungkin mencintainya, kamu pasti sedang berbohong didepan kami.”

“Kata siapa aku berbohong didepan kalian?” Balas Siwon sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Baiklah kalau begitu buktikan pada kami kalau kalian saling mencintai.” Tantang Sunny.

“Oke, bila itu mau kalian.”

 

Tampa basa – basi Siwon langsung menarik tubuhku kedalam dekapannya dan kemudian dia mengecup bibirku dengan lembut didepan mereka. Saat itu juga airmatakupun menetes. Aku bingung apa yang aku rasakan sekarang.

Apakah aku harus senang apa aku harus sedih. Aku tak mau bila semua ini dia lakukan hanya semata – mata hanya ingin menolngku aku tak perlu itu. Aku tak perlu kecupan yang lembut ini dari bibirnya bila semua ini hanyalah kebohongan semata. Yang aku inginkan sebenarnya adalah hatinya bukan kepalsuan.

~~~ooo~~~

 

“Apakah kalian ingin melihat lebih dari ini?” Kata Siwon sambil melepaskan kecupannya dari bibir Yoona yang berwarna peach tersebut.

 

Tampa banyak berkata – kata lagi Mereka semuapun pergi meninggalkan Yoona dan Siwon. Siwonpun kaget saat melihat Yoona sedang meneteskan airmata.

 

“Yoona-ah, mianhae. Aku tak bermaksud tak sopan didepanmu. Sebenarnya i-itu a-aku la-kukan…”

Ara… aku tahu kamu melakukan itu semua karena kamu ingin menolongku tapi lain kali tolong jangan lakukan hal seperti itu kepadaku. Aku tahu kita ini hanya pacaran pura – pura. Aku juga tahu kalau kau tak pernah menyukaiku jadi jangan pernah berbohong didepan orang banyak kalau kau menyukaiku.” Ucapku sambil menghapus airmata yang menetes di pipi.

 

“Kata siapa aku tidak menyukaimu?”

“Eh??? Apa maksudmu?” Balas ku kaget.

“Aku sebenarnya suka dengan kau, tapi kamunya saja yang tidak peka dari awal.”

“Apa?! Kamu menyukaiku, sejak kapan kamu menyukaiku? Kau pasti sedang mencoba menggodaku ya?”

 

A-ani! Aku benar – benar menyukaimu. Aku sudah menyukaimu sejak awal kita menjadi teman sekelas saat kelas 1 SMA. Aku selalu menatapmu tapi kamu selalu tidak memberikan respon padaku. Sampai saat aku mengajakmu menjadi kekasihku saja responmu masih datar. malahan kamu mengatakan kita lebih baik pacaran pura – pura. Itukan tak masuk diakal? Bagaimana mungkin aku bisa pacaran pura – pura dengan wanita yang aku sukai dari kelas 1 samapi dengan sekarang?”

 

Seketika pikiranku langsung kosong saat mendengar pengakuan dari Siwon. Aku tak percaya dengan apa yang barusan saja aku dengar. Apakah semua ini kenyataan atau hanya mimpi. Kalau aku masih didunia mimpi aku tak ingin bangun dari mimpi indah ini.

 

~~~ooo~~~

 

“Yoona-ah… Im  Yoona?? Apakah kamu mendengarkan perkataanku barusan?” Tanya Siwon padaku yang sedang diam terpaku.

Ye... aku mendengarkannya. Apakah kamu sungguh – sungguh menyukaiku?”

Ne… kalau kamu?”

 

“Tak bisakah aku menjawabnya nanti?” Tanyaku.

Andwae!! Kamu harus mengatakannya sekarang.”

“Bagaimana kalau saat hari kelulusan kita?” Tanyaku lagi.

Sirheo!!!” Balas Siwon dengan nada yang merajuk.

 

Melihat tingkah lakunya seperti itu akupun langsung menarik kerah bajunya kemudian aku mengecup lembut sebelah pipinya.

“Yoona-ah, apa yang barusan saja kau lakukan?”

“Apa yang aku lakukan? Itu adalah jawaban dari ku.”

“Jadi kau juga menyukaiku?”

“Hemm.” Balasku sambil menganguk – anggukan kepala.

 

Mendengar itu Siwon langsung memelukku dan kemudian dia berkata.

 

Saranghae… Yoona-ah. Na, neomu – neomu saranghae.”

Nado… saranghaeyo Siwon-ah.” Balasku sambil tersenyum.

 

“Yoona-ah aku ingin bertanya lagi kepadamu, bolehkah?”

“Iya, silakan.”

“Apakah tadi adalah ciuman pertama mu?”

“Eh…? ke-kenapa kamu berkata begitu?”

“Aku sudah tahu kalau kamu belum pernah punya kekasihkan?”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Karena saat kita bersama kamu selalu gugup dan kamu selalu mengambil jarak denganku. Sikapmu seperti baru pertama kali dekat dengan seorang namja, apakah kamu menyadarinya? Lebih baik kamu jujur padaku sekarang.”

“Iya, semua ucapanmu benar. Aku berbohong padamu. Aku tak pernah pacaran sebelumnya, maafkan aku sudah membohongimu. Apakah kamu marah padaku?”

“Untuk apa aku marah padamu? Aku malahan merasa sebaliknya.”

“Sebaliknya?” Tanyaku dengan wajah yang bingung.

“Iya sebaliknya, aku malah merasa sangat senang karena aku sudah menjadi kekasihmu bahkan aku adalah orang pertama yang menciummu.” Balas Siwon sambil tersenyum penuh arti dihadapanku.

 

“Yak!!! Kau suka sekali menggodaku Siwon-ssi?”

Ne… aku sangat suka. Karena saat kau tersipu malu kamu terlihat tambah manis. Bahkan aku ingin segera menciummu kembali.”

 

“Chu…”

 

Siwonpun lalu mencium bibirku kembali untuk kedua kalinya. Bibirkupun dilumatnya dengan lembut. Akupun mulai membalas ciumannya tak kalah mesranya. Kedua lengan kupun, aku lingkarkan di lehernya dengan lembut. Anehnya kali ini ciuman yang aku rasakan sangatlah berbeda. Rasanya begitu manis sampai – sampai tak bisa aku lukiskan dengan kata – kata.

 

~The end~

 

~~~ooo~~~

 

Annyeonghaseo Yeorobun, ketemu lagi dengan Phiyun disini hehehe (^o^)/

Bagaimana menurut kalian ceritanya? Maaf ya kalau ceritanya rada panjang …. Maklum aku biasanya buat fanfic yang bersambung  jadi rada bingung kalau buat ff yang lepas. Semoga kalian menyukai ceritaku kali ini ya ^^

Maaf juga kalau ada kalimat typon bertebaran dimana – mana.

Jangan lupa RCL ya, karena komentar dari para Readers  semua adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam pembuatan fanfic selanjutnya.

See you next fanficku selanjutnya

Gomawo ^^

Advertisements

81 thoughts on “Beautiful Liar [Oneshoot]

  1. So sweet bgt…kisah cinta mereka b2…ciuman pertama yoona mang buat siwon ya….dr temen jd demen hehehheheh….

    fighting n gomawo ya..

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s