ONE MILLIONS LOVE ( CHAPTER 3)

ONE MILLIONS LOVE ( CHAPTER 3)

a one million of love new

Author             : Vera Riantiwi
Tittle                : One Millions Love
Length             : Chapter
Cast                : – Im Yoona Girls Generation
– Lee Donghae Super Junior
Other Cast       : Cho Kyuhyun, Seohyun, Jessica Jung, Kim Heechul, Choi Minho, Kwon Yuri,Choi Siwon, Etc

Genree : Romance, Sad, School lifeSinopsis

Annyeong, semua….. aku kembali dengan lanjutaan part 2nya…. sesuai dengan sarannya Seohyung di ganti sama Seohyun.  Maaf kalau ada salah pengucapan dan kata-kata. Happy Reading!!!

 

Sinopsis : Tidak ingin terluka kembali Lee Donghae, namja yg dikenal playboy, memutuskan untuk mnutup hatinya untuk siapa pun. Tapi tanpa disadari namja ini malah jatuh hati pada, Choi Yoona, Yeoja kelas dua SMA, dan dia adik sahabat karibnya. Di lain pihak, choi Yoona ternyata baru saja berkencan dengan Lee Kyuhyun. Tapi gara-gara Lee Seohyun,dongsaeng perempua Lee Kyuhyun yang Brother complex, cinta Kyuhyun tidak bisa berjalan dengan mulus. Celah yang terbuka membuat Donghae memakin berusaha merebut perhatian Yoona. Akankah semua usaha Donghae akan berhasil membuat Yoona berpaling? Jadi siapa yang akan dipilih oleh Yoona, Donghae atau Kyuhyun?

Yoona POV  :

 

Masih terbayang ‘kencannya dengan Kyuhyun, Yoona menonton DVD dengan pandangan kosong dan senyuman yang aneh. Minho yang merasa aneh dengan sikap Yoona, menatapnya dengan penuh seksama.

“Waeyo, Minho-ah?” Tanya appanya.

“Aniyo Appa, hanya saja kenapa Yoona menjadi aneh ya?” Minho yang terus memperhatikan Yoona.

“Dari tadi, sejak dia diantar pulang sama Sunbaenya..” Appa Yoona ikut memperhatikan Yoona. Yoona kembali teringat pada Kyuhyun yang mengajaknya makan. Meskipun itu cuma fastfood, meskipun cuma setengah jam, tapi Yoona cukup senang.

“Kamu tidak apa-apa kalau aku cuma mengajak kamu makan Pizza!” Tanya Kyuhyun ketika itu. Yoona cuma menggelengkan kepala pelan. Kalau sebelumnya dia selalu menimpali Kyuhyun dengan perkataan kasar, sekarang dia malah salah tingkah dengan sikap Kyuhyun yang sopan dan penuh perhatian padanya.

Walaupun hanya paket hemat untuk berdua, tapi semua itu mampu membuat Yoona bahagia, asalkan itu dengan Kyuhyun. Namja yang kebetulan bertemu dengannya di bus, namja yang kebetulan ditabraknya, tapi tidak ada kebetulan menjadi orang yang disukainya.

“Yoong?” Minho menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Yoona.

“Pizza…” Yoona nyengir, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dan pergi menuju ke kamarnya. Meninggalkan semua orang yang termangu menatapnya.

« *** »

KYUHYUN POV :

Di tempat lain, Kyuhyun mendapatkan teror dari Seohyun, sepanjang makan malam, Seohyun menatapnya dengan tajam dan penuh amarah, membuat suasana tidak enak. Apalagi waktu itu ada Donghae, rasanya makin runyam.

Doushitanda yo (ada apa?)? Kenapa semuanya diam dan saling menatap tajam?” Tanya Appa Donghae. Sebelum menikah dengan Eomma Donghae Appanya terkenal sebagai playboy. Tapi demi mendapatkan Eomma Donghae, dia rela belajar semua kebudayaan Korea dan bahasa korea, bahkan sekarang rela tinggal di Korea.

“Aniyo, tidak ada apa-apa kok,” Donghae bangkit, lalu keluar dari ruang makan. Keluar dari rumah yang sebenarnya sangat dirindukannya.

“Mianhae, aku harus melukis sekarang.”

“Hae-ah, kamu akan sering pulang kan?” Tanya Eomma sambil menatap Donghae. Eomma Donghae tidak pernah bisa tidak merasa khawatir pada putra pertamanya itu. Setiap hari dia selalu memikirkannya.

“Entahlah Eomma, aku tidak tahu.” Donghae lalu berpaling, mengambil jaketnya yang tergantung rapi di belakang pintu dan pergi begitu saja.

Ketika tiba waktunya untuk mencuci piring, Seohyun mempersilahkan orang tuanya untuk pergi ke ruang keluarga. “Biar aku sama oppa saja yang beresin piringnya.” Kata Seohyun manis.

Kiotsukete ne, Kyuhyun-ah (hati-hati ya). Biasanya kalau manis begini, Hyunie ada maunya.” Appa mereka memberikan peringatan pada Kyuhyun. Lee Hyukjae, tersenyum melihat Seohyun yang langsung merengut mendengarnya.

“Appa!” Seohyun melirik appanyaa tajam, lalu menyeret Kyuhyun yang tertawaa cekikikan agar segera membereskan piring di meja.

Wakaatta (aku mengerti)” Kyuhyun masih terkekeh sambil mengikuti Seohyun.

“Jadi, kenapa pulang telat?” Tanya Seohyun, seperti seorang jaksa yang sedang menginterogasi seorang terpidana.

“Ada urusan klub,” jawab Kyuhyun sembari mencuci piring.

“Kok sampai pulang jam enam?!” Tanya Seohyun lebih lanjut dengan nada bicara yang lebih tajam dan curiga.

“Harus mengantar Yoona pulang,” lanjut Kyuhyun, masih mencuci piring.

PRANG!!!

Piring yang tadinya ada di tangan Seohyun meluncur perlahan dan hancur berkeping ketika jatuh di atas permuakaan lantai dapur.

“Nuguseyo?!!” Seohyun setengah memekik.

“Yeoja yang dulu bertabrakan dengan oppa,” jawab Kyuhyun.

“Nu..gu..?!!!” Seohyun menatap bengis Kyuhyun. Semua emosinya menjadi satu dan terluap dari bahasa tubuhnya, siap untuk mengamuk.

“Yoona, Choi Yoona. Jangan pernah melakukan apa-apa padanya. Aku bahkan tidak menyatakan perasaanku padanya. Belum.” Kyuhyun membersihkan lantai dapur merekaa dan menjelaskan kalau tidak ada apa-apa pada kedua orang tua mereka yang segera menghampiri.

“Hanya tangannya yang licin, eomma appa.” Kyuhyun tersenyum pada kedua orang tuanya, agar mereka tidak curiga. Sementara Seohyun sudah naik ke kamarnya.

« *** »

 

Esok harinya di SMA Inha

“Pagi,” sapa Yoona.

“Annyeonghaseo, Chingu…” Tanpa mempedulikan udara siang yang panas, Yoona terus tersenyum pada semua orang yang dia lihat dan lewati. Bahkan, ketika dia sudah sampai di kelas senyuman itu belum hilang.

“Waeyo, Yoong?” Tanya Yuri yang kebetulan masuk ke kelas setelah Yoona.

“Dari tadi aku perhatikan kamu kayak orang gila menyapa semua orang kayak kenal saja.” Ucap Yuri ketus.

“Aku lagi bahaagiaaa…. sekali Yoong” Yoona menyandarkan kepalanya ke bahu Yuri.

“Apaaan?! Kalau begini aja, langsung curhat. Padahal, selama beberapa hari ini kamu cuek sama aku. Jam pulang, langsung lari ke ruang jurnalistik. “Yuri menatap jengkel sahabatnya itu.

“Ehehe… Mian, ne? Aku tidak sengaja.” Yoona nyengir.

“Tidak sengaja sampai seminggu?! Nyengir kayak kuda, lagi!” Yuri lalu duduk dibangkunya di depan Yoona.

“Kemarin, aku kencan sama Kyuhyun oppa!” Yoona kembali memasang wajah gembiranya.

“Oh… Arrayo?! Arraseo?! Begitu dapat yang baru, kamu lupa sama yang lama?! Padahal dulu, aku pernah dengar kamu ngomel-ngomel soal si namja es itu!!”

“Ehheehe..” Yoona hanya senyum konyol sambil membuka tasnya.

“Jangan tersenyum seperti itu kamu seperti yeoja babo gitu! Sebentar lagi Kim Saem masuk!!” Yuri mencubit pipi Yoona. Merasa kesal dengan sikap sahabatnya itu.

“AOUWW !!! Jangan gitu dong, sakit tau?! Gimana kalau kamu aku kenalin sama oppa ku saja?!” Yoona teringat niatnya, menjodohkan Minho dengan Yuri.

“Hah?! Terus?! Dia se-Babo kamu?! Gomawo!” Yuri duduk di bangkunya, kesal.

‘Masa iya. Aku tidak laku, sampai mesti dijodoh-jodohin sama Yoona?!’ gumam Yuri kesal.

Yoona sendiri langsung meraih HP-nya, meminta Oppanya untuk menjemput di sekolah. Dia tersenyum menatap Yuri yang selalu gampang marah kalau sedang bosan.

Kyuhyun yang kebetulan lewat di depan kelas Yoona, masuk ke kelaas yeoja itu. Kebetulan hari ini hanya ada Yoona dan Yuri. Keduanya sedang asyik menikmati roti isi yang dibawa Yuri dari rumah.

“Yoona?” Kyuhyun menghampiri Yoona yang masih asyik mengobrol dengan Yuri.

Yoona yang mulai hafal dengan suara Kyuhyun, langsung mengubah sikapnya.

“Ya….?”

“Hm… Gimana? Tugasnya sudah selesaai?” Tanya Kyuhyun.

“Oh..iya! Tapi kan sunbae tidak perlu repot-repot sampai datang kesini.. Aku bisa datang nanti kan?” Yoona kembali membongkar isi tasnya dan menyerahkan sebuah flashdisk warna pink pada Kyuhyun.

“Tidak usah se-formal itu, panggil oppa saja. Kamu suka warna pink?” Tanya Kyuhyun yang ingin mengetahui segala sesuatu tentang Yoona.

“Uh…” Yoona melirik Yuri yang sudah cekikikan.

“I…iya.”

“Hem..ya sudah ya. Sampai nanti.” Kyuhyun berbalik meninggalkan kelas Yoona.

“Sejak kapan kamu suka sama warna pink, Aghasi?” Goda Yuri begitu bayangan Kyuhyun menghilang.

“Sejak aku mengenal yang namanya cinta,” jawab Yoona sambil menatap Yuri.

“Aaaaiiisshh, Jinja.” Yuri terkekeh mendengar jawaban Yoona.

“Nanti kita pulang bareng ne?!” Tukas Yoona.

“Ada apa nih? Tumben baik banget,” Yuri melirik Yoona.

“Nanti aku bawakan Dewa Erros buat kamu,” jawab Yoona.

“Heeeh, Erros?!!”

“Hehheheee”

« ***  »

Ruang jurnalistik sepulang Sekolah.

Kyuhyun pov  :

Sendirian di ruang jurnalistik, Kyuhyun dengan gugup membawa sebuah novel dengan dominasi warna biru dan pink, sambil mondar-mandir menunggu Yoona. Berkali-kali Kyuhyun menatap Novel yang dibawanya. Meskipun novel itu lebih ringan ketimbang kamus bahasa inggrisnya, tapi entah kenapa tangan Kyuhyun gemetaran.

“Annyeong,” Yoona masuk dengan perlahan. Dengan refleks, Kyuhyun menoleh.

“Annyeong…! Senyum Kyuhyun langsung terkembang.

“Ada tugas?” Tanya Yoona, sambil menyembunyikan debaran hatinya.

“Anniyo… Aku cuma ingin memberikan kamu ini.” Kyuhyun menyodorkan novel yang masih terbungkus rapi pada Yoona.

“Wah, novel!!!” Yoona tersenyum.

“Suka?” Tanya Kyuhyun yang langsung disambut dengan senyuman Yoona.

“Aku memilih itu karena sampulnya yang menarik… Hm.. Mencolok kayak kamu…”

“Makasih ya!” Yoona menatap lurus ke mata Kyuhyun, membiarkan debaran di dada namja berkacamata itu makin menghebat.

“Aku pikir, itu pasti bagus buat kamu,” kata Kyuhyun, lalu menyodorkan sebuah kotak makan yang berisi roti isi buatan eommanya pada Yoona.

“Kamu suka sama roti isi?” Tanya Kyuhyun, melihat Yoona yang lahap.

“Tidak ada yang khusus.” Yoona tersenyum, lalu menambahkan.

“Asal bisa dimakan, aku suka.”

“Hahahahhaha…..” Dengan lepas Kyuhyun tertawa.

“Kalau kamu?” Tanya Yoona.

“Yang alami, bukan instan atau buatan pabrik,” jawab Kyuhyun.

“Yeoja juga?” Cetus Yoona, sambil diam-diam melirik Kyuhyun.

“Yeah, itu juga.” Kyuhyun tersenyum hangat pada Yoona.

“Suka yang berambut alami. Kalau memang hitam, tidak usah dicat. Kalau memang berombak, ikal atau keritinga, tidak perlu di-ion. Tapi seandainya aku sudah jatuh cinta, aku tidak akan pilih-pilih.” Dengan sembunyi-sembunyi, Kyuhyun memperhatikan rambut Yoona yang berwarna pirang dan terlihat lembut.

“Gitu ya?” Di pikiran Yoona sudah terbayang sosok Seohyun.

“Uhm…. Tidak ada tugas lagi? Kalau tidak, aku mau pulang,” kata Yoona yang seolah berbisik pada dirinya sendiri.

“Yeah, semua tugas sudah selesai. Nanti kamis datang ya?!” Kyuhyun berharap agar Yoona tidak bolos.

“Iya.” Yoona merasakan getaran HP-nya di saku rok.

“Annyeong.” Yoona menjawab setelah meminta ijin Kyuhyun dengan syarat.

“Tidak ada latihan, aku mau pulang. Masih niat kasih tebengan?” Rupanya dari Yuri yang termangu sendiri di lapangan voli.

“Yeah, aku juga tidak ada tugas lagi, ketemuan di depan lab. kimia.” Yoona tersenyum lega, lalu mematikan HP.

“Anu… Aku permisi ya,” Yooana memasang senyum manis untuk Kyuhyun, menyembunyikan rasa kecewanya.

“Iya, hati-hati ya..” Kyuhyun membungkukkan badannya perlahan.

« *** »

Di depan lab. Kimia, Yuri duduk dengan tas boston dan duffel-nya yang tergeleak di laantai. Yeoja itu tampak lemas dan lesu. Sesekali dia melepas kunciran kudanya, bermain dengan rambut panjangnya dan mengikatnya kembali.

“Tidak ada latihan buat anak yang bukan tim inti.” Yuri menekankan nada bicaranya pada kata ‘anak yang bukan tim inti’ ketika Yoona menghampirinya.

“Bukannya ‘bukan’, tapi ‘belum’. Asal kamu berusaha, pasti bisa.” Yoona berusaha menyemangati sahabatnya.

Sama persis seperti tahun yang lalu, Yuri kembali terpuruk dengan keadaannya yang tidak pernah di masukkan ke tim inti regu voli. Padahal dulu ketika masih SMP, dia adalah salah satu pemain terbaik di sekolahnya.

“Yang masuk malah si Anak Sombong! Kalau tidak salah… Namanya Seohyun. Mainku tidak kalah bagus kok kalau dibandingkan sama dia… Tahu yang lebih buruk?!” Yuri menarik tangan Yoona agar dia lebih dekat dengan Yuri.

“Hampir semua namja suka sama dia. Tapi dasar si Sombong dia malah menolak semua namja yang menyukainya… AKH!! Seandainya aku punya namjachingu yang mau mendengar setiap keluhanku! Kayak kamu..! Enak ya, sudah punya gebetan..” Yuri meraung, tanpa sadar kalau Minho sudah melangkah mendekati mereka berdua.

“Apa sih?! Dia sudah punya yeojachingu, lagi” Yoona membayangkan sosok yeoja yang dia jumpai di Klub Junrnalistik, yang mendengus dengan kesal padanya sampai berkata,

‘Jauhi, Kyuhyun Oppa!!’ Benar-benar sosok yang menakutkan.

“Kalian… Butuh namja ganteng?” Minho merangkul pundak Yoona.

“Oppa bersedia.”

Yuri langsung terperangah melihat sosok yang ada di belakangnya itu. Dia terkejut dengan sikap Minho yang sok dekat tapi lebih kaget lagi ketika dia tahu kalau namja itu adalah Oppa Yoona.

“Nah! Kenalin Yul, ini oppaku!!” Yoona menatap Yuri dan Minho bergantian.

“Oppa, ini Yuri sahabatku.”

“Hai.” Minho mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Annyeong..” Yuri menundukkan wajahnya, malu karena Minho sudah mendengar perkataannya yang konyol.

Sementara itu, dari jendela ruang jurnalistik, Kyuhyun mengamati sosok namja yang ada di samping Yoona, mengira kalau itu adalah namjachingu Yoona.

“Hyunie, kamu tahu tidak kalau Yoona sudah punya namjachingu?” Seohyun yang sedang menginstal program mendengus kesal, lalu menjawab, ” tidak, aku tidak mau tahu.”

“Kamu ini kenapa?” Kyuhyun menatap punggung Seohyun.

“Dengar ya, Oppa. Aku tidak mau Oppa dekat-dekat dengan Yoona,” kata Seohyun yang di sambut Kyuhyun dengan kerutan dahi.

“Pokoknya jangan!!”

“Heh?”

‘Karena aku yakin, Yoona lebih cocok dengan Donghae oppa daripada dengan kamu. Dalam waktu yang singkat, dia bisa membuat namja seperti Donghae tersenyum dan kembali konsen lagi sama lukisannya.’ Bisik Seohyun dalam hati.

‘Aku akan membuat Yoona dan Donghae bersatu!’

«***»

Yoona pov :

Perlahan Yoona membuka halaman demi halaman novel yang diperlakukannya dengan istimewah itu, di atas tempat tidurnya. Sampai akhirnya selembar kertas muncul dari halaman terakhir novel. Penasaran, Yoona membuka. Membaaca dengan seksama huruf per huruf dan kalimat per kalimat..

Apa yang sedang kamu lakukan hari ini ? apakah kau sibuk ?

Jika tidak, maukah kau pergi keluar bersamaku ?

Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, tidak ada yang special

Tapi ku rasa aku menyukaimu

Aku tak pernah mengatakan hal itu sebelumnya

Kaulah gadisku, kau lah sayangku

Tapi sungguh, aku tidak bercanda

Mulai hari ini, dari sekarang

Maukah kau menjadi milikku sayang ?

Dari semua laki2 jelek

Aku lah yang paling tampan

Apa yang harus aku lakukan agar kau tau bagaimana perasaanku ?

Memikirkanmu membuatku hampir gila

Aku tidak tampan

Tapi kurasa aku terlihat imut saat aku tersenyum

Aku akan melakukan yang terbaik dibandingkan semua pria yang ada diluar sana, cintaku

Aku mencintaimu

Tutup matamu dan berhitunglah sampai tiga

Sekarang buka dan katakan padaku apa yang kamu lihat

Tidak ada ? kau tak lihat priamu ?

Mulai hari ini hari yang pertama

Jangan berpikir lagi, datanglah padaku

Mendekatlah, jangan bimbang

Aku tahu aku tidak apa2nya

Tapi dibanding siapapun di dunia ini

Aku mencintaimu sayang

Dari semua pria tampan

Tak ada yang satupun yang baik

Tapi kau tahu akulah yang pria terbaik

Memikirkanmu membuatku hamper gila

Setiap orang terus berkata

Kamu dan aku terlihat cocok bersama

Aku akan melakukan yang terbaik dibanding semua pria yang ada diluar sana , cintaku

Aku mencintaimu

(Lirik lagu terjemahan K.will – Day 1)

Mata Yoona melotot, tangannya gemetaran. Perlahan air matanya turun membasahi pipi yang dihiasi sebuah jerawat kecil, yang menyapanya tiap sebulan sekali.

‘Apa ini?! Surat… Cinta?! Untukku da.. Dari Kyuhyun oppa?! Ya Tuhan!!!’

Ingin rasanya Yoona membisikkan rasa syukur, tapi bayangan Seohyun muncul di lamunannya tentang Kyuhyun.

‘Apa Aku masih boleh menerima cinta Kyuhyun oppa? Meskipun aku benci setengah mati dengan yeoja itu, aku tidak boleh menerima cinta Kyuhyun oppa dengan begitu saja?’ Yoona lalu menutup bukunya dan keluar dari kamarnya.

“Changi, makan dulu, yuk. Kamu kan belum makan siang?” Eomma Yoona menatap anaknya khawatir. Akhir-akhir ini, Yoona yang biasanya langsung makan begitu pulang kuliah, berubah drastis. Dia tidak pernah makan siang bareng eommanya. Kalau pulang langsung ganti baju dan mendekaam di ruang kerja Appanya. Sama sekali bukan ciri Yoona.

“Shireo, eomma. Nanti saja. Oh iya, Oppa eodi?” Tanya Yoona sambil memperhatikan sekitarnya, mencari sosok Oppa nya yang biasanya sudah ‘melantai’ di depan TV jam seperti ini.

“Oh, oppa mu keluar dengan chingunya. Kamu jangan diet lho, nanti sakit,” jawab Eomma Yoona sambil memperhatikan Yoona yang sedikit kurusan.

“Ya ampun, eomma! Aku tidak diet kok. Lagi pula nasi masih enak juga, kenapa mesti Yoongie diet segala?” Yoona lalu turun.

“Arra….arra…arra!!! Yoongi makan deh.” Jawaban Yoona itu disambut dengan senyuman Eommanya.

« *** »

Donghae pov :

“Jadi, bagimana kabar kamu dan yeoja mu yang seksi itu?” Tanya Minho sambil meminum capuccino pesanannya. Donghae yang jengah dengan pertanyaan itu akhirnya menggeser tempat duduknya lalu membuang pandangan keluar. Suasana Cafe masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang datang dan duduk. Donghae menyukai suasana Cafe yang seperti ini, membuatnya tenang dan santai.

“Akhirnya kamu berhasil kan, mendapatkan yeoja itu? Yeoja yang kamu incar selama dua tahun semasa kuliah, tanpa memberi tahu siapa pun. Termasuk … Siapa yeoja itu?” Minho kembali menggoda Donghae karenaa sejak mereka SMA-nya itu selalu murung dan jarang sekali tertawa.

“Semuaanya masa lalu. Tidak ada lagi yang harus dibahas soal aku dan dia.” Donghae berusaha menghentikan topik yang mengganggu pikirannya itu.

“Kamu bukan tidak ingin menceritakan sesuatu pada hyung?” Minho menatap Donghae.

“Kesalahan bodoh, yeoja brengsek, dan cinta omong kosong,” jawab Donghae singkat.

“Separah itu?” Minho melengos mendengar jawaban Donghae. Semua masa lalu Donghae seolah terkuak kembali begitu Minho bertanya tentang hubungannya dengan Jessica. Donghae bisa menggelengkan kepala dan menutup matanya sejenak, berusaha untuk menghilangkan sosok Jessica yang tak mau pergi dari ingatannya.

“Kau tahu, dalam hidup ini ada beberapa yang diciptakan Tuhan untuk diingat. Beberapa yang lain untuk disimpan dalam hati. Sisanya untuk dilupakan.” Minho kembali menyesap capuccinonya sambil menatap Donghae dengan penuh arti.

“Maksud hyung?” Donghae nyengir mendengar nasihat Minho yang terkesan konyol.

“Kamu harus mengingat semuaa yang sudah terjadi antara kamu dan Jessica, baik yang buruk atau indah. Tuhan tidak mungkin hanya menciptakan Jessica untuk kamu. Pasti akan ada cinta lain yang akan datang untukmu. Terus, lupakan Jessica dari otak da hatimu.” Minho yang sudah bisa menebak kalau Donghae sudah putus dengan Jessica berusaha untuk membangkitkan semangat sahabatnya itu.

“Yeah, tapi itu sangat sulit. Nakanaka muzukashii (sangat sulit),” bisik Donghae.

“Kamu belum mencobanya kan? Jangan pernah mengatakan sesuatu itu sulit sebelum kamu lakukan itu. Dan… Jangan pernah menggunakan bahasa planetmu kalau berbicara denganku! Aku tidak mengerti, dasar babo!” Minho menatap kesal Donghae, yang tiap kali merasa down, selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak dia mengerti.

“Wah, masih ada juga pilot yang tidak bisa bahasa Jepang?” Donghae nyengir. Diam-diam dia bersyukur karena dalam keadaannya yang limbung, Minho ada disisinya.

“YAA, pilot juga manusia tau?” Balas Minho.

Ketika Donghae sudah merasa lebih baik, muncul Jessica yang datang ke Cafe itu bersama temannya untuk makan siang. Di bibirnya yang merah terkembang senyuman saat dia melihat Donghae duduk membelakanginya. Baginya ini adalah keajaiban, setelah berhari-hari dia berusaha untuk melacak keberadaan Donghae.

“Sica-ah, wae? Masuk,duduk, terus pesan minum kek!” Teman Jessica mendorongnya masuk. Membuat yeoja itu, dengan seluruh kenekatannya mendekati meja Donghae, menghentikan tawa Minho. Membuat Donghae menoleh ke belakang.

“Annyeong, Aku senang kita bisa bertemu lagi.” Kata Jessica begitu Donghae menoleh.

“Aiisshh, Bagerou (br*ngs*k),” bisik Donghae seraya memberi isyarat pada Minho agar pergi dari tempat itu.

“Hae-oppa.. Aku ingin bicara!” Jessica menahan tangan Donghae.

“Ahjuma, aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakana.” Donghae menghempas pelan tangan Jessica.

“Jeball oppa, jangan panggil aku seperti itu…” Jessica menundukkan wajahnya. Membuat Donghae menghentikan langkahnya.

Kalau dulu, Donghae pasti akan langsung memeluk Jessica tiap kali dia merasa sedih atau ketakutan. Tapi sekarang, Donghae hanya menghela napas.

“Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Kim Heecul, jadi AHJUMA KU. Berhenti bersikap manja denganku. Pergi temui ahjusiku kalau kamu ada masalah.”

“Hae- Oppa…” Saat Jessica terulur untuk meraih kemeja Donghae, Minho menarik Donghae keluar dari Cafe sambil melirik teman Jessica, Choi Sulli, yang juga sedang menatapnya.

“Kita harus cepat ke studiomu kan? Palli? Jangan membuat Jungsoo Hyung menunggu lama, bisa gawat! Lagian urusanmu disani sudaha selasaikan!” Minho menyeret Donghae keluar cafe, sesekali donghae menoleh ke arah Jessica yang sedang dipeluk oleh temannya.

“Ada sesuatu yang diciptakan untuk dilupakan, hae-ah. Jadi lupakan.” Kata Minho, melihat Donghae yang sepertinya masih sangat mencintai Jessica.

‘Tuhan, apa tidak ada kesempatan untukku dan Jessica lagi? Kalau memang dia bukan untukku, kenapa aku masih tidak bisa melupakannya? Kenapa Tuhan?’ Bisik Donghae seraya memantapkan langkahnya.

Jessica yang sedang menangis dalam pelukan Sulli, menceritakan semuanya. “Kamu tidak boleh egois gitu donk. Lagian kamu sudah dapat Heecul kan?” Sulli menuntun Jessica duduk ke meja yang dekat mereka.

“Tapi apa ini masih harus diteruskan? Apa aku masih harus menikah dengan Heecul oppa, kalau yang aku cintai adalah Donghae?!” Tanya Jessica, yang lebih terdengar seperti pernyataan.

“Kalau begitu, kenapa kamu menerima lamaran Heecul? Kalau kamu yakin dengan Donghae, kenapa kamu tidak ada disisinya?” Sulli mengangsurkan selembar tisu lagi.

“Berhentilah bersikap manja seperti ini.”

Tak ada lagi yang bisa dikatakan Jessica, begitu Sulli mengeluarkan kalimat yang membuatnya sadar. Kalau dia yakin pada Donghae, dia akan memilih Donghae dan mau menderita dengan Donghae. Kalau dia seperti ini, apa masih boleh disebut cinta? Tapi kenapa sosok Donghae tidak bisa keluar dari pikiran Jessica?! Apa dia sudah terobsesi pada namja itu?

« *** »

Yoona pov :

Sementara itu, Yoona sedang kebingungan. Tak tahu harus melakukan apa, kecuali menghubungi Yuri dan menceritakan apa yang sedang terjadi padanya.

“HAAaAAAaaHa?!!” Pekik Yuri histeris di seberang.

“Jongmalyo?!”

“Aaiissshh, tidak usah sehisteris itu dong.” Yoona makin merasa malu dengan reaksi Yuri.

“Yaaa, tapi sudah punya yeojachingu….” Yoona tertunduk lemah.

“Heh?! Siapa?!!”

“Siapa ya? Aku tidak terlalu kenal… Seo? Yeon… Aku tidak tahu. Pokoknya tuh yeoja paling dimusuhi di sekolah karena mulutnya yang cablak banget.”

“Chakaman,…Seoyeon, jangan-jangan Seohyun?! Anak voli yang kemarin aku ceritakan ke kamu, Yoong! Yaa ampun, tuh yeoja emang benar-benar ya! Masa dia seberuntung itu?! Tapi… Bukannya dia punya pacar anak luar?” Yuri terdengar begitu emosi.

“Eh?!” Yoona jadi teringat dengan Donghae dan perjumpaan mereka yang pertama.

“Namja yang tinggi itu?! Itu namjachingu si Seohyun?!”

“Gosipnya. Gila ya? Dapat namja cakep terus…” Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku rasa tidak masalah kok, kalau kamu terima Kyuhyun Oppa.”

“Terus jadi pelariannya?! Aiissshh shireo.”

“Ah, sok suci deh. Yaa sudah, silahkan mupeng. Yang jelas, aku dukung kamu kok kalau sama dia!”

“Eh?! Dasar…. Yaa sudah ya. Bye!”

“Bye. Eh! Ingat, kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya!”

Klik.

Yoona terpekur di depan telepon, menerawangkan pandangannya, lalu memeluk bantalan sofa. “Apa yang mesti aku lakukan besok?”

« **** »

Keeasokkan harinya.

Minho pov

Minho yang selalu terkenang dengan Yuri, menghampiri Yoona. Dia menawarkan tumpangan pada adiknya yang sedang mengenakan sepatu, supaya bisa kembali bertemu dengan Yuri.

“Mau Oppa antar tidak, Yoong?”

“Tumben, memangnya oppa tidak keluar?” Yoona terus menali sepatunya tanpa mengamati perubahan wajah Minho.

“Yaaah, boleh kan sesekali Oppa mengantarkan Dongsaeng kesayang Oppa ini?” Jawab Minho.

Yoona melirik Minho, membuat namja dengan lesung pipi itu terkesiap malu.

“Mau… Ketemu sama Yuri kan? Jujur saja deh, Oppa!” Yoona terkekeh sambil menatap Minho yang sedang tersenyum malu.

“Yah…. Begitulah….” Minho mengacak-acak rambut Yoona.

“Dia sudah punya namjachingu belum, Yoong?”

“Kalau sudah, kenapa aku kenalin ke Oppa?” Cengir Yoona.

“Oh,gitu ya?” Minho ikut nyengir. Dia dan Yoona nyengir tidak jelas.

« **** »

Donghae pov:

Sayang kebahagiaan yang saat ini sedang melanda Minho, tak terjadi pada Donghae. Ketika namja dengan rambut panjang itu terbangun karena seseorang memencet bel apartemennya, semua kesialan dan mimpi buruk kembali datang padanya.

Donghae membuka pintu dengan mata yang masih setengah terpejam dan rambut acak-acakan.

“Pagi,oppa!” Jessica berdiri di depan Donghae sambil mengacungkan tas plastik yang berisi roti. “Sarapan, dulu yuk Oppa!” Tanpa menunggu persetujuan Donghae, Jessica mendorongnya masuk. Sama seperti dulu, sebelum Jessica bertunangan dengan Heecul.

“Mau apa kamu?”Tanya Donghae sambil menatap Jessica.

“Sa-ra-pan.” Jessica memasang senyuman yang dulu sangat dirindukan Donghae setiap kali mereka tidak bisa bertemu. Dia berjalan masuk ke apartemen Donghae dan mengedarkan pandangannya ke apartemen yang sangat minim perabotan itu.

“Aku bisa sarapan sendiri. Gomawo. Kamu bisa keluar sekarang.” Donghae membuka pintu apartemennya lagi, agar Jessica keluar dari sana.

“Oppa… Bahkan tidak ingin tahu, bagaimana aku tahu apartement Oppa?” Jessica menatap Donghae dengan pandangan mata yang nanar, hafal kalau Donghae selalu lemah dengan pandangan matanya itu.

“Yaah…. Aku tidak ingin tahu. Aku cuma ingin kamu segera keluar dari sini…” Donghae menahan diri, berusaha membohongi pikiran dan hatinya. Menyangkal keinginannya untuk memeluk Jessica yang ada dihadapannya.

“Sebegitu bencinya oppa ke aku?” Jessica mulai menangis.

“Aku…hhhh…. Aku…mianhae, Hae-Oppa… Jebbal….”

“Aku tidak benci kamu. Aku benci pada diriku sendiri. Kalau saja malam itu aku nekat menahanmu. Kalau saja hari ini… Aku bisa menghilangkan pikiranku…. Menahanmu. Kalau saja hari ini… Aku bisa menghilangkan pikiranku… Menahan semua keinginanku untuk memelukmu …. DEMI TUHAN !! Kamu calon ahjuma ku!!!!” Donghae memalingkan wajahnya dan memukul tembok.

“Kalau….” Jessica mulai berjalan mendekati Donghae memalingkan wajahnya dan memukul tembok.

“Kalau….” Jessica mulai berjalan mendekati Donghae.

“… Oppa sayang sama aku, kalau di hati Oppa masih tersisa cinta untukku, kenapa Oppa menahan diri?” Begitu dia ada tepat di belakang Donghae, tangannya terulur untuk memeluk Donghae dari belakang.

“Sica… Aku mohon, sebelum aku lepas kendali…lepaskan aku…”

“Asalkan itu oppa… Aku tidak masalah….” Jessica makin mempererat pelukannya.

Donghae melepaskan pelukan Jessica, lalu berbalik, memandang dalam mata Jessica yang bening dan hangat. Dia memberikan pandangan mata yang membius pada Jessica, membuat yeoja berambut lurus-panjang itu tanpa sadar menutup kedua matanya perlahan.

Untuk sesaat, Donghae hampir saja terpengaruh dengan situasi itu. Dia hampir mencium Jessica. Tapi segala emosi dan kejengahannya membuat dia menahan diri. Diraihnya jaket yang ada di belakang pintu, lalu meninggalkan Jessica yang masih terdiam dengan mata yang terpejam begitu saja.

“Hae-oppa?” Setelah Donghae membiarkannya menutup mata selama lima menit, Jessica membuka mata. Mencari-cari sosok Donghae.

“Sial, Donghae oppa! Kenapa oppa malah meninggalkan aku?!”  Sambil terus merutuk, Jessica mencari Donghae. Tapi terlambat, namja itu sudah ada di areal parkir bawah tanah apartementnya dan mengeluarkan mobil. Donghae meraih HP-nya yang dia letakkan di dashboard. Ada lima pesan dari Jessica dan tiga kali missed call.

‘Dari mana dia tahu nomorku yang baru? Yang benar saja, kenapa aku malah terjebak dengan yeoja seperti dia?’ Gumam Donghae sambil memencet tombol untuk menelpon Minho dan langsung bertanya.

“Yak, Hyung eodi?”

“Sekolahnya dongsaengku. Wae?” Jawab Minho.

“Aku… Kira-kira boleh tidak menginap dirumah mu, Hyung? Untuk tiga sampai empat hari gitu.” Tanya Donghae sambil terus menyetir mobilnya.

“Yaa, tidak masalah. Tapi hyung tanya sama Eomma dulu ya? Secepatnya Hyung kabari.”

“Oke. Gomawo Hyung,” Donghae menutup telepon, lalu terdiam sejenak. Beruntung, kemarin dia tidak mengeluarkan tasnya dari mobil. Jadi dia bisa langsung masuk kuliah dengan pakaian seadanya. Jaket dan Celana jeans. Di tengah jalan, dia memutuskan untuk mampir ke sebuah mini market untuk membeli air mineral dan cologne.

Ketika Donghae sampai di kampus, suasana kampus masih sepi membuatnya makin kesal. Dengan hampa dia melangkah menuju toilet, lalu mencuci muka. Kemudian dia menatap sosoknya di kaca dengan kesal. Merutuki dirinya yang begitu bodoh, tak bisa melupakan Jessica, tapi dia juga tidak bisa meraih yeoja yang sangat disayangi itu. Di lain pihak, dia juga tidak mampu memandang ke depan. Menatap masa depannya yang bahkan tak bisa dia temukan.

« **** »

SMA Inha

Kyuhyun pov:

Begitu mendapat panggilan dari Kyuhyun, Yoona langsung bergegas menuju klub jurnalistik. Sebenarnya pengumuman itu tidak ditujukan langsung padanya. Tapi karena anggotaa yang lain masih sibuk dengan kegiatan mereka, hanya Yoona dan Seohyun yang datang ke klub.

“Annyeong, Sunbae.” Karena saking gugupnya, Yoona bahkan tanpa sadar mulai berbasa-basi dengan Kyuhyun, sementara Seohyun meliriknya dengan kesal. Membuat Yoona semakin merasa tidak enak.

“Chukahoe, edisi yang memuat tulisan kamu laku. Disorder date.” Kyuhyun tersenyum kecil pada Yoona. Membuat yeoja bertubuh mungil itu semakin tersipu-sipu, sekaligus merasa bersalah.

“Hm… Hyunie, kamu bisa tidak pergi ke perpus? Mengambil materi tentang Flu Burung. Soalnya Sunny tidak bisa datang ke sini.”

“Heh?!” Seohyun memelototi Kyuhyun. Dia tahu kalau Oppanya itu ingin berdua saja dengan Yoona.

“Shireo!!” Jawab Seohyun singkat.

“Yak, Deadline-nya tinggal dua hari lagi, kamu masih bisa bilang tidak mau?!!” Kyuhyun balas menatap Kyuhyun.

“Arra…arra…!!” Seohyun melirik Yoona sebelum keluar dari ruangan.

Begitu Seohyun keluar, dengan perlahan Kyuhyun membuka pembicaraan.

“jadi… Gimana bukunya?” Tadinya dia ingin langsung menanyakan perasaan Yoona padanya, tapi dia tidak ingin langsung main ‘hantam’. Dia ingin semua tercipta manis untuknya dan Yoona.

“Ya… Hehe… Bagus… Lumayan,” jawab Yoona sambil mengedarkan pandangannya, menutupi kegelisahannya.

“Endingnya… Lumayan tidak?” Lanjut Kyuhyun, menyembunyikan rasa tegangnya dengan membaca beberapa tulisan anak-anak yang ingin menyumbang puisi untuk tabloid kampus.

“Oh!” Yoona nyengir, lalu tersenyum kikuk karena teringat puisi buatan Kyuhyun yang terselip di halaman belakang novel. Dia menyilangkan kedua jarinya di belakang punggung.

“Hehehheheh belum… Belum sampai akhir kok bacanya.”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

“Kamu tahu, kalau kamu sampai di halaman terakhir… Kalau suka dengan apa yang ada di halaman terakhir… Kamu tak perlu mengembalikan novelnya….” Kyuhyun melemparkan senyuman pada Yoona. Tak tahu, apa lagi yang harus dilakukannya.

“Uh… Iyaa… Ma…makasih ya, Sunbae. Sampai besok.” Yoona meninggalkan Kyuhyun yang baru saja sadar dengan keanehan Yoona.

“Sebelumnya, dia tidak pernah memanggilku dengan kata sunbae,” gumam Kyuhyun.

« *** »

_TBC_

Akhirnya selesai juga Chapter  3 ini… mian kalau postnya sedikit lama… soalnya asal mau ngelanjutin ceritanya banyak banget rintangannya. Bagaimana kelanjutan hubungan Yoona dan Kyuhyun? Apakah Yoona akan bersama dengan Kyuhyun. Apakah Donghae dapat menyadari perasaanya dengan cepat atau akan kehilangan lagi.??”””

Mau tau kelanjutannya.. ditunggu yaaa….

Gomawo…. Please Coment !!! Happy Reading!!!! Chingu…… ^-^

Advertisements

One thought on “ONE MILLIONS LOVE ( CHAPTER 3)

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s