[Oneshoot] Forgotten

phiyun-forgotten

 

|| Title: Forgotten || Author: Phiyun || Genre: Romance | Comedy | Action | Drama || Main Cast: Park Jiyeon | Tao | Kriss | Jessica ||

Poster Credit : Laykim Artposter (Thank’s :))

Cerita di fanfic ini hanyalah fiktif belaka tapi apabila ada kesamaan di dunia kenyataan itu hanya kebetulan semata. Pemain yang ada didalam cerita real milik penulis ya kalau di dunia kenyataan milik Tuhan, keluarganya, sahabat dan agencynya. Heheee… XD

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Bagaimana aku bisa memberitahukanmu tentang isi hatiku Kalau kau dengan mudahnya melupakan hal – hal yang kecil tentang kita semua.

~~~ooo~~~

 

“Tao-aah… tunggu sebentar!!!” teriak yeoja itu dari arah belakang Tao yang sedang berlari menghampirinya.

Untuk sesaat Tao menghentikan langkah kakinya namun belum sempat yeoja itu datang menghampirinya dia pun mulai berjalan lagi tanpa menggubris panggilan yeoja tersebut. Tapi yeoja itu tidak menyerah dia pun mempercepat langkah kakinya dan akhirnya dia berhasil menarik kerah lengan jaket milik namja yang sedari tadi dia panggil

“Tao-ah, Wae geurae?  Kenapa kau bersikap kepadaku seperti ini sedari pagi tadi? Sebenarnya ada apa denganmu?” tanya gadis itu dengan wajah polosnya sambil menatap lekat – lekat kedua mata milik Tao yang tajam.

“Kamu fikirkan saja sendiri apa kesalahan yang sudah kau perbuat kepadaku?” balas Tao dengan dingin.

“Memangnya apa salahku padamu? Sepertinya sepanjang hari ini yang membuat masalah adalah kau kepadaku?”

Mwo? Mweorago? Yak! Park Jiyeon dengarkan baik – baik. Apakah kau sudah tak waras? Yang memulai semuanya itu adalah dirimu, jadi kalau aku memperlakukanmu seperti itu jangan marah!” bentak Tao pada Jiyeon.

Jiyeon pun langsung terdiam dengan wajah yang tak percaya. Gengaman tangannya pun lepas begitu saja dari kerah lengan jaket milik Tao. Setelah itu pria itu pergi begitu saja dari hadapan Jiyeon yang mematung.

Namun tak beberapa lama kemudian Tao kembali berjalan kehadapan Jiyeon dan dia berbisik lembut di daun telinga milik Jiyeon namun bisikan itu terdengar seperti nada yang  mengancam.

“Jiyeon-ah… aku peringatkan kepadamu mulai sekarang kau tak boleh memanggil ku dengan sebutan Tao disini, karena aku ini adalah seniormu jadi mulai detik ini kamu harus memanggil aku dengan sebutan Seonbaenim, ara?!”

“Ta-tapi Tao-aah..?” ucap Jiyeon dengan terbata – bata.

“Apakah kau sudah lupa dengan apa yang barusan saja aku katakan padamu jangan memanggilku seperti itu lagi! Kalau kau masih tetap tak menghiraukan perkataanku, aku akan menghabisimu tampa ampun.”

Setelah mengucapkan itu benar-benar pergi meninggalkan Jiyeon yang masih termenung dengan ucapannya barusan. Jiyeon hanya bisa terdiam sambil kedua matanya menatap punggung Tao yang semakin lama semakin tak terlihat lagi oleh pandangannya.

~~~ooo~~~

 

Setibanya di dalam kantor, Tao langsung duduk di atas bangku kerjanya dengan wajah yang kusut. Teman sekantornya itu pun langsung menghampirinya sambil memberikan beberapa file kerja di atas mejanya.

“Pagi, Tao-ah. Ada apa dengan wajahmu? Pagi – pagi kok sudah di tekuk seperti itu?” tanya temannya sambil tersenyum.

“Yak, pergi sana jangan menambah kekesalanku pagi ini!” bentaknya.

“Aku kan hanya bertanya kepadamu, siapa tahu aku bisa menolongmu?”

“Kris-ah kau bukannya menolongku tapi kau membuatku semakin tidak mood dipagi hari ini. Lebih baik kau pergi.” balas Tao sambil mengacak – acak rambutnya dengan sebelah tangannya.

“Baiklah, aku pergi tapi apakah semua ini ada sangkut – pautnya dengan Jiyeon?” Tanya Kris lagi sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Tao.

Merasa tertangkap basah pemuda itu langsung berteriak. “Yak!!! Itu bukan urusanmu!”

A, geureyo…Berarti benar apa tebakanku, labih baik kau lepaskan saja Jiyeon biar Jiyeon jadi miliku saja, bagaimana?” kata Kris sambil tersenyum mengejek di hadapan Tao.

Michigesseo!! Apa kau mau mati di tanganku sekarang, hah!!!” bentak Tao sambil berdiri dari tempat duduknya dan tanpa basa basi Tao langsung mengangkat vas bunga yang tak jauh dari atas meja kerjanya. Melihat itu Krispun langsung berlari keluar dari ruangan kerja Tao.

“Apa – apaan dia, menyuruhku semudah itu melepaskan Jiyeon untuknya. Apakah dia pikir aku sudah gila. Meskipun aku gila bahkan lupa ingatan aku tidak akan melepaskan gadis itu begitu saja dari gengamanku.” ucap Tao sambil kembali lagi duduk di atas kursinya dengan menghela napas yang panjang.

~~~ooo~~~

 

Tak berapa lama kemudian terdengar suara gaduh di depan pintu ruangan Tao. Tao pun lalu bangun dari tempat duduknya dan dia berjalan mendekati depan jendela ruangannya yang ditutupi oleh tirai horisontal yang bisa dia naik turunkan untuk melihat apa yang terjadi di luar ruangannya.

“Kris oppa, apakah Tao ada di dalam ruangannya?” tanya yeoja itu sambil  berbisik.

“Ada kok di dalam, coba saja kau lihat.”

“Tidak, ah nanti aku pasti dimarahi habis – habisan sama dia lagi.” balas Jiyeon dengan wajah yang takut.

“Yah, memangnya apa yang sudah terjadi pada kalian berdua? Pagi – pagi kok sudah bertengkar. Pasti kau membuat sesuatu yang membuat Tao kesal?”

Jiyeon langsung membantahnya. “Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu?”

“Lalu kenapa Tao sepertinya sangat marah?” tanya Kris kembali.

“Aku juga tidak tahu apa yang membuat dirinya sangat marah pagi hari ini? Lalu apa yang harus aku lakukan, oppa?”

“Aku punya ide, mau dengar tidak ideku?” ujar Kris sambil tersenyum penuh arti.

“Apa itu, oppa?

Lalu Krispun membisikan idenya kepada Jiyeon dan saat itu juga Tao melihatnya.

“Apa – apaan mereka bedua? Berani – beraninya dia melakukan itu di sini. dan lagi kenapa dia memanggil Kris dengan sebutan oppa, sedangkan dia tak pernah memanggilku dengan sebutan itu. Jiyeon-ah kamu memang benar – benar keterlaluan!” melihat itu Tao langsung naik pitam dia pun lalu membuka pinta ruang kerjanya dan membantingnya.

Yak!!! Apa yang kalian berdua lakukan di sini!!!” teriak Tao dengan wajah yang sangat marah.

Melihat Tao keluar dengan wajah yang merah padam karena marah, Kris dan Jiyeon langsung menjauh satu sama lain.

“Tao-ah, kau sudah datang ya?” kata Jiyeon gugup.

“Tenanglah Tao-ah, kita tidak melakukan apa – apa kok kau jangan salah paham ya.”

“Ah!! Untuk apa aku salah paham? Sekarang kau pergilah dari sini Jiyeon-ssi… Urusi pekerjaanmu, bukannya ruang kerjamu bukan di sini? dan kau Kris masuklah sekarang ke dalam ruanganku ada yang ingin aku katakan padamu.”

Jiyeon dan Kris langsung mengikuti perintah Tao tanpa mengatakan apa – apa lagi. Saat di dalam ruangan Kris nampak sedikit takut saat Tao menatap ke arahnya dengan tatapan yang agak sinis.

“Tao-ah percayalah padaku, aku dan Jiyeon tidak melakukan apa – apa. Dia hanya ingin bertanya padaku bagaimana caranya agar kau tidak marah lagi kepadanya.”

“Benarkah? Apakah kau tidak sedang berbohong padaku sekarang?” balas Tao sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Benar.”

“Lalu apa yang kau katakan pada Jiyeon. Katakan padaku?”

“Tadi aku mau bilang kalau mau merayumu, Jiyeon tinggal cium kau saja. Pasti Tao tidak akan marah lagi.” ungkap pemuda itu.

“Itu yang kau katakan padanya? Kau itu fikirannya mesum, ya?” kata Tao sambil tersenyum senang.

“Yah, kau bilang aku mesum? Kamu itu yang fikirannya selalu kotor kalau dekat sama Jiyeon.” balasnya dengan nada yang menyindir.

“Apa maksudmu??”

“Kau kira aku tak tahu apa yang kau lakukan kepada Jiyeon. Kau sering meninggalkan kiss mark kan dileher Jiyeon. Tadi aku tak sengaja melihat tanda itu di lehernyanya.”

Seketika Tao langsung diam seribu bahasa, dia sekarang tidak bisa berkata apa – apa lagi. Dia seperti sudah kalah telak.

“Benarkan, apa yang aku katakan. Aku tahu kau terbawa susana saat itu tapi jangan sampai meninggalkan bekas seperti itu dong, kasihan  Jiyeon-ssi. Lalu apakah Jiyeon tahu kalau kau meninggalkan tanda itu di lehernya?” tanya Kris dengan wajah yang penasaran. Tapi Tao menjawabnya hanya dengan gelengan kepala.

“Wah,,, si Jiyeon tak tahu? Pasti saat dia mengetahuinya pasti dia akan berbalik memarahimu.”

“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Tao.

“Kalau masalah itu aku tak ikut campur, ah, nanti aku malah didamprat lagi sama Jiyeon. sama kau saja sudah menyeramkan apalagi dengan dia, aku tidak mau ikut campur.”

Setelah mengatakan itu Kris lalu pergi meninggalkan Tao yang masih bingung dengan apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengan Jiyeon nantinya.

~~~ooo~~~

 

Tap…tap..tap…

Terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari di sepanjang lorong. Tanpa sengaja Jiyeon dan Tao saling berpapasan saat di tikungan. Lalu mereka berdua pun mulai berbincang.

“Jiyeon-ssi, apakah kau sudah mendengar kabar kalau nanti akan ada transaksi narkoba di belakang gedung Han nanti siang?” tanya Tao.

“Ya , aku sudah dengar.”

“Lalu berapa orang yang akan ikut bersama kita?” tanya Tao lagi tapi sekarang tatapan matanya fokus menuju tekuk leher yang jenjang milik Jiyeon.

“Kira – kira ada 10 orang yang ikut bersama dengan 2 penembak jitu lainnya. Mereka semua sudah menunggu kita di depan.” balas Jiyeon.

Tao masih sibuk memandangi daerah tekukan leher gadis itu meskipun sang empunya sudah selesai berkata. “Untung bekasnya tak terlalu kelihatan.” ucap Tao dengan nada yang bergumam pelan.

“Tao-ah, apakah kau mendengarkanku?”

Karena Tao tidak menjawab perkataannya, Jiyeon pun sekarang memanggil lawan bicaranya lebih keras.

Yak!!! Tao-Ah!!”

“Eh… ye… ada apa?” balas Tao dengan wajah yang kaget.

“Ada apa? Apakah kau sedari tadi tidak mendengarkan perkataanku?” tanya Jiyeon dengan kesal sambil berkacak pinggang.

“Aku dengar kok, kalau begitu ayo kita pergi sekarang. Kasihan nanti mereka menunggu kita terlalu lama.” balasnya dengan wajah yang datar.

“Yah, memangnya siapa yang membuat mereka lama menunggu?” Jiyeon hanya bisa mengeluh dalam hatinya.

Lalu mereka berdua pergi menuju mobil yang sudah siap menunggu mereka berdua di depan.

~~~ooo~~~

 

Tao dan Jiyeon masuk ke dalam mobil yang sama dan mereka berdua duduk berdampingan tak beberapa lama sebelum tiba di TKP. Tao merasa ada sesuatu yang berbeda dari tubuh Jiyeon. Lalu Tao mencengkram kedua bahu Jiyeon untuk menghadap ke arahnya.

“Apakah kau sebelumnya tidak memakai baju anti peluru?”

“Ah.. aku lupa. Soalnya tadi aku langsung berlari keluar untuk menghubungi yang  lainnya jadi tak sempat aku memakainya.”

“Yak!!! Bagaimana mungkin kau bisa melupakan hal yang sangat penting! Di sana nanti akan sangat berbahaya, apakah kau tak tahu kali ini gembong narkoba yang akan kita tangkap sangatlah lihai. Mereka mempunyai anak buah yang banyak dengan senjata yang canggih. Apakah kau mau mati sia – sia di sana, hah!!!” teriak Tao dengan marah.

Seketika Jiyeon terhenyak, ia terkejut saat pria yang ada di hadapannya membentak dirinya. “Mengapa kau sepanjang hari selalu membentakiku? Mengapa semua yang kulakukan sepanjang hari ini selalu terlihat salah di depan matamu?” balas Jiyeon dengan kedua mata yang berkaca – kaca.

Melihat itu Tao lalu menurunkan kedua tangannya dari atas bahu Jiyeon. setelah itu pria itu membuka kemeja yang melekat dari tubuhnya untuk memberikan rompi anti peluru yang saat ini melekat di tubuhnya.

“Pakailah.” kata Tao sambil memberikannya kepada Jiyeon lalu dia mengenakan kembali kemejanya.

Sirheo! Aku tidak mau memakainya. Itu punyamu.”

“Yah, ambillah. Kita akan segera sampai.”

Sirheo!! Lebih baik aku mati dari pada aku harus melihat kau tertembak begitu saja.”

Tak berapa lama kemudian mobil yang di naiki mereka pun berhenti.

“Kita sudah sampai Pak.” Kata supir tersebut.

Lalu Tao menyuruh lagi Jiyeon untuk menerima baju anti peluru tersebut tapi Jiyeon tetap teguh dalam pendirinya. Tao menjadi jadi gusar karena Jiyeon tidak mau mendengar perkataannya.

“Baiklah kalau itu maumu. Kalau seandainya terjadi apa – apa dengan dirimu aku tidak akan bertanggung jawab dan kau jangan salahkan aku nantinya!!!” Bentak Tao sambil keluar dari dalam mobil lalu pintu mobil tersebut dibantingnya dengan kencang dan kemudian berlalu.

“Yah… sebenarnya apa yang terjadi padamu Tao-ah? Kenapa kau sepertinya sangat membenciku. Apakah aku melakukan sesuatu yang salah di depanmu? Kalau iya lalu apa?” gadis itu hanya bisa bertanya dalam hatinya.

~~~ooo~~~

 

~1 jam kemudian~

Datanglah seorang yeoja menghampiri Jiyeon yang sedang duduk di dalam mobil. Yeoja tersebut sedang membawa goddy bag yang cukup besar di dalam gengamannya.

“Jiyeon-ssi ini untukmu, pakailah.” kata yeoja itu sambil memberikan bungkusan itu kepada Jiyeon.

“Apa ini, Jessica?” balas Jiyeon sambil melihat isi dalam bungkusan itu.

“Baju anti peluru? Punya siapa ini?” tanya  Jiyeon lagi.

“Itu punyamu. Tadi Tao-ssi menyuruhku memberikannya padamu.”

“Benarkah? Kalau begitu kembalikan kepadanya. Bilang kapadanya kalau aku tak membutuhkannya.”

“Tapi Jiyeon-ssi. Kau harus mengunakannya.”

“Aku tak mau kalau terjadi apa – apa dengan Tao, jadi cepat kembalikan pada dirinya!!!” seru Jiyeon.

“Ini bukan punya dirinya, tadi aku memang sudah menyiapkan cadangan.” balas Jessica.

Jinjja?? Apakah kau sedang tidak berbohong padaku?” tanyanya.

“Ya… mana mungkin aku bohong padamu, kalau begitu ini ambil dan langsung kau kenakan. Aku mau pergi bersiap – siap dulu.”

Ne… gomawo Jessica.” kata Jiyeon.

Ye…” balasnya.

~~~ooo~~~

Tiba – tiba di tengah perjalanan ada seseorang yang memanggil  Jessica.

“Jessica… tunggu sebentar.”

Jessica lalu menengok ke belakang.

“Ada apa Tao-ssi?”

“Bagaimana? Apakah Jiyeon mau memakainya?”

“Tenang saja Tao-ssi, dia akan memakainya. Tapi bagaimana denganmu? kau sama sekali tidak mengenakan baju pelindung, bagaimana kalau terjadi apa  – apa denganmu?”

Gwenchana, aku akan baik – baik saja. Aku lebih mengkhawatirkan dirinya dibandingkan diriku sendiri. Kalau begitu aku pergi dulu ya, gomawoyo, Jessica karena sudah membantuku.” ucap Tao sambil tersenyum kemudian menepuk pelan bahu Jessica lalu dia pun pergi.

“Betapa beruntungnya dirimu Jiyeon-ah, mendapatkan seorang pasangan yang sangat mengkhawatirkan dirimu bahkan dia rela memberikan nyawa untuk dirimu. Kalau aku jadi dirimu aku tak akan menyia – nyiakannya bahkan melepaskannya.” gumam wanita berambut panjang itu sambil menatap belakang punggung Tao.

~~~ooo~~~

 

~15 menit kemudian~

Gembong narkobah yang sedang mereka tunggu – tunggu pun tiba. Mereka semuanya mulai berlari menyusup untuk segera menangkap semua penjahat tersebut. Lalu terlihatlah dua orang yang sedang mengendap – ngendap masuk ke dalam gedung tersebut sambil memegang sebuah pistol di tangan mereka masing – masing.

“Yak!!! Apa yang sedang kau lakukan, di depanku?” kata namja itu dengan nada yang ketus.

“Aku sedang bersembunyi lah!” balasnya dengan nada yang kesal.

“Miinggir… kau menganggu jalanku dan penglihatanku.” sambil mendorong tubuh yeoja itu kebelakang tubuhnya.

“Yak!!! Tao-aah kau ini benar – benar menyebalkan! Masih sempat – sempatnya kau bertengkar denganku disaat seperti ini. Kita ini satu tim, kau harus ingat itu. Kata Yeoja itu sambil membulatkan kedua matanya saat memandang ke arah Tao.

Pria itu lalu membalasnya dengan menghela napas yang panjang sambil menatap balik lawan bicaranya. Namun kelakuan Tao barusan tadi membuat yeoja itu semakin kesal.

“Yah! Kan sudah aku bilang kalau di sini kau jangan sekali – kali memanggil aku dengan sebutan itu, apakah kau berani membangkang di depan seniormu!!! Lebih baik kau pergi, dan duduk yang manis di dalam mobil jangan ikuti aku.” kata Tao kepada Jiyeon dengan suara yang berbisik namun seperti mengejek bagi Jiyeon.

“Tao-aah, kau benar – benar sudah kelewatan sekarang. Kau fikir aku ini wanita yang lemah dan tak bisa apa – apa?!” teriak Jiyeon kesal dan tak sengaja dia menjatuhkan suatu barang di dekatnya.

“Siapa di sana!!!” teriak seorang namja sambil membawa sebuah senjata menghampiri asal mula suara tersebut.

Dengan cepat Tao langsung membungkam mulut Jiyeon lalu tubuh Jiyeon di dekapnya dari belakang. Pria itu kemudian memberi isyarat pasukannya melalui via telepon yang sudah dirancang sedemikian peraktis dan  mutahir untuk segera mengepung gedung yang sedang mereka berdua datangi.

“Jiyeon-ah cepat pergi dari sini, keadaan di sini sudah tak aman. Pergilah meminta bantuan, sekarang. Aku akan berusaha mengalihkan perhatian mereka.” bisik Tao di telinga Jiyeon.

“Tapi, Tao-ah, ba–bagaimana dengan dirimu? Aku tak mungkin meninggalkanmu begitu saja di sini? Semua ini gara – gara aku!” kata Jiyeon dengan nada yang bergetar.

“Kalau kau merasa bersalah padaku. Kau harus mendengarkan perintahku saat ini juga. Ini demi kebaikanmu. Aku tak mau kau terluka, Jiyeon-ah.”

Lalu puncak kepala Jiyeon pun dikecup lembut oleh Tao setelah itu tubuh gadis itu didorongnya menuju pintu keluar. Namun sayang saat Jiyeon hendak membuka pintu tersebut persembunyian mereka pun ditemukan oleh penjahat tersebut.

Tampa basa – basi anak buah gembong narkobah itu langsung menembakkan isi peluru dalam pistolnya dengan membabi buta. Mau tak mau Tao dan Jiyeon harus meladeni para penjahat tersebut.

Dengan lihainya Jiyeon menembaki satu persatu penjahat – penjahat itu dan Tao pun tak mau kalah dengan pasangannya dia juga  memukul dan menembak semua penjahat yang mencoba mendekati Jiyeon.

Tak berapa lama datanglah semua pasukan elit yang sudah mengepung gedung tersebut. Ketua gembong narkoba itu mulai panik. Karena hampir setengah anak buahnya sudah terkapar tak berdaya di atas lantai.

Saat anak buah Tao hendak menangkap semua anak buah gembong narkoba itu tiba – tiba ada seorang anak buah gembong narkoba itu yang akan menembakkan pistolnya ke arah Jiyeon. Melihat itu Tao langsung memasang tubuhnya untuk menghalagi peluru yang hendak menyasar tepat di kepala Jiyeon.

“Doorrrr!!!!!!” terdengar suara letupan senjata yang sangat nyaring. Bukan hanya sekali tapi hampir 3 kali suara tembakan tersebut terdengar. Semua pasukan pun langsung meringkus bandit – bandit tersebut dan langsung menembak kaki penjahat yang sudah berani – beraninya menembaki ketuanya setelah itu penjahat tersebut diborgol oleh mereka.

“Apakah kau baik – baik saja Jiyeon-ah.” kata Tao sambil kedua tangannya memegangi kedua pipi Jiyeon.

Na, Gwenchana…” balas Jiyeon dengan kedua mata yang berkaca – kaca.

Tiba- tiba tubuh Tao pun jatuh ke dalam pelukan Jiyeon dan Tao tak lama kemudian pria itu tidak sadarkan diri. Melihat itu, Jiyeon langsung berteriak kaget sambil mengerak – gerak tubuh Tao. Saat kedua tangan Jiyeon sedang sibuk membangunkan Tao. Tanpa sengaja Jiyeon menyentuh suatu yang basah dari balik punggung Tao.

“Darah?? YaK!! Tao-aah. Sadarlah!!!” teriak Jiyeon sambil merangkul tubuh Tao ke dalam dekapannya.

~~~ooo~~~

 

~Seminggu kemudian~

Belakangan ini Jiyeon terlihat murung, sesekali dia berjalan ke ruang kerja Tao namun yang dia lihat hanyalah sebuah bangku kosong di dalamnya. Jiyeon lalu berjalan menghampiri kursi tersebut lalu dia duduk di atasnya sambil termenung. Di sana juga ada sebuah mantel hitam yang sedang tergantung rapi di rak baju yang tak jauh dari meja kerjanya Tao.

Lalu gadis itu berdiri dan mengambil mantel tersebut. Mantel hitam itu pun diciuminya dengan kedua tangan yang bergetar karena menahan air matanya. Namun semua itu percuma saja karena Jiyeon tak mampu menahan air matanya yang menetes begitu saja dari kedua pipinya.

Wae… waeyo… kenapa kau melakukan itu semua Tao-ah? Kenapa kau melakukan itu semua kepada dirimu? Seharusnya kau biarkan saja aku tertembak saat itu juga. Kenapa kau masih saja melindungiku? Padahal kau sama sekali tidak memakai sehelai pelindung pun di tubuhmu.”

“Aku tahu, ucapanmu memang terkadang kasar bila dihadapanku tapi yang membuat aku sedih adalah bukan perkataan kasarmu tapi kebodohanku yang tak mengerti dirimu kalau sebenarnya kau itu sangat mengkhawatirkan diriku. Apakah kau tahu, kenapa aku memilihmu? Karena kau selalu ada disaat yang tepat seperti saat itu di dalam gedung kemarin. Kau dengan tegapnya berdiri menghalangi peluru yang akan mengenai tubuhku.”

“Dan sekarang aku tak tahu apa yang akan aku lakukan. Kapan dirimu bisa kembali lagi ke dalam pelukanku. Kalau aku bisa menukarkan nyawaku aku ingin aku saja yang terkena peluru itu bukannya dirimu.” rintih Jiyeon sambil menggengam erat mantel milik Tao dengan deraian air mata.

~~~ooo~~~

 

“Tok..tok..tok…”

Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan tak berapa lama kemudian masuklah seorang namja ke dalam ruangan tersebut.

“Jiyeon-ssi, Wae geurae? Kenapa kau duduk di bawah.” kata namja tersebut sambil membantu Jiyeon bangun dari duduknya.

Na Gwenchana, Aku hanya sedikit sedih saja dengan keadaan yang sedang terjadi kepadaku saat ini.” balas Jiyeon sambil menghapus air matanya.

“Oh, iya Jiyeon-ah aku mendapatkan kabar gembira untuk dirimu.” kata Kris sambil tersenyum di hadapan Jiyeon.

“Kabar apa itu?” tanya Jiyeon.

“Katanya Tao sudah siuman dari komanya, apakah kau…”

Belum sempat Kris menyelesaikan ucapannya Jiyeon sudah berlari meninggalkan dirinya begitu saja.

“Dasar, anak itu sepertinya sangat senang sekali kalau suaminya sudah sadar. Semoga tak terjadi apa – apa dengan Tao saat dia sudah siuman.”

~~~ooo~~~

 

Jiyeon berlari dengan cepat menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Tao. Setibanya di sana Jiyeon tak sengaja melihat ada seorang yeoja sedang menggengam tangan Tao dengan erat.

“Apa yang dilakukan Jessica di sana?” tanya batin Jiyeon.

“Tao-ssi apakah kau sudah baikan sekarang.” kata Jessica sambil membantu Tao bangun dari tempat tidurnya untuk duduk di atas ranjangnya.

“Terimakasih, Jessica atas perhatianmu. Aku sudah lebih baik sekarang.” balas Tao sambil tersenyum.

Melihat itu Jiyeon merasa sedikit kesal karena sedari kemarin sebelum kejadian ini Tao tak pernah memberikan senyuman seperti itu terhadap dirinya.

“Tao-ssi sebenarnya ada yang mau aku katakan padamu.” kata Jessica dengan wajah yang ragu.

“Apa itu, Jessica? Katakan saja, kau tak usah takut.”

“Se-sebenarnya aku menyukaimu, Tao-ssi.”

Mendengar itu wajah Tao yang tadinya tersenyum berubah drastis karena kaget. Begitu pun Jiyeon. Gadis itu tak kalah kagetnya dan tak bisa berkata apa – apa.

Mianhaeyo, Jessica-ssi… aku tak bisa menerima cintamu. Kau kan tahu kalau aku…” belum sempat Tao menyelesaikan ucapannya Jessica langsung memotong pembicaraannya.

Ara… aku tahu kalau kau sudah menjadi milik Jiyeon-ssi. Aku juga tahu kau sudah menjadi suami orang, tapi aku tak bisa menyembunyikan perasaanku terhadapmu. Aku sudah mencintaimu sebelum kau mengenal istrimu, Jiyeon.”

Mianhae…” kata Tao dengan nada yang menyesal.

“Kau tak usah meminta maaf padaku Tao-ssi. Kau tak salah yang salah adalah aku, aku yang tak berani mengungkapkan perasaanku padamu dan sekarang aku harus rela menelan pil pahit ini. Seandainya aku mengatakan lebih awal dan seandainya saja kau belum bertemu dengan Jiyeon, apakah kau akan menerima pengakuanku?” tanya Jessica sambil menggengam kembali tangan Tao dengan kedua tangannya. Jiyeon ingin sekali langsung menghentikannya tapi dia merasa penasaran juga perkataan apa yang akan di keluarkan dari bibir Tao. Meskipun di dalam hatinya  merasa tak karuan dibuatnya.

Perlahan – perlahan Tao melepaskan tangannya dari gengaman Jessica. Lalu pria itu mulai berkata dengan pelan namun jelas.

“Bukan maksudku untuk membuat hatimu terluka Jessica, tapi kau harus tahu kalau dihatiku Cuma ada Jiyeon seorang dan tak ada tempat lagi di dalam ruang hatiku untuk wanita lain. Seandainya pun kau mengungkapkan perasaanmu saat dulu mau pun sekarang aku akan tetap menjawab “tidak”. Karena aku sudah mengangap dirimu seperti adik perempuanku sendiri. Aku bahkan berfikir untuk menjodohkanmu dengan teman baikku, Kris. Yah, walaupun dia terkadang suka tebar pesona tapi dia sebenarnya laki  – laki yang baik. Sekali lagi maafkan aku, Jessica.” kata Tao sambl tersenyum simpul dan kemudian menepuk pelan pundak Jessica.

Gomawoyo, Tao-ssi… aku tahu kalau kau memang laki – laki yang baik. Betapa beruntungnya Jiyeon mendapatkanmu. Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya, masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor.”

Lalu pergilah Jessica meninggalkan ruangan Tao. Namun sebelum Jessica keluar Jiyeon sudah duluan pergi untuk bersembunyi.

~~~ooo~~~

 

Tak berapa lama kemudian Jiyeon datang ke ruangan Tao. Disana terlihat Tao sedang berbaring sambil memandanggi langit – langit ruangannya dan sesekali ia memejamkan kedua matanya karena dia masih merasakan perih di bagian pundak sebelah kanannya. Tiba – tiba datanglah seseorang menghampiri dirinya dan berkata.

“Tao-ah, apakah kau sudah baikkan?” kata Jiyeon sambil mengelus kening suaminya.

“Jiyeon-ah… sejak kapan kau datang?” tanya Tao dengan wajah yang kanget bercampur senang.

“Baru saja, aku tak ingin membangunkanmu.” balasnya sambil tersenyum.

“Tapi kau harus tetap membangunkan aku, bagaimana kalau aku tak bangun lagi seperti seminggu yang lalu?”

Dengan mantap Jiyeon menjawab pertanyaan, suaminya. “Aku akan tetap menunggumu sampai kau membuka matamu kembali.”

“Jiyeon-ah, ada apa denganmu kenapa kau terlihat sangat sedih? Maafkan aku kalau aku membuatmu sedih.”

Tiba – tiba Jiyeon langsung memeluk Tao dengan erat kemudian ia membisikan kata yang terdengar manis di telinga Tao.

Saranghae.. Tao-ah dan gomawo kau sudah hadir di dalam hidupku. Betapa beruntungnya aku mempunyai suami seperti dirimu.” kata Jiyeon sambil meneteskan air mata. Namun kali ini bukan air mata kesedihan namun air mata kebahagiaan.

Nado… na , neomu – neomu saranghae, Jiyeon-ah. Harusnya aku yang berterimakasih kepadamu karena kau sudah mau menerima diriku apa adanya yang mempunyai tabiat yang buruk terhadap dirimu.”

Jiyeon langsung membantahnya. “A-ni… kau sangat baik kepadaku. Aku tahu setiap perkataan yang kau keluarkan dari mulutmu pasti itu semata – mata karena kau mengkhawatirkan diriku. Jeogmal gomawoyo, Tao-ah” Lalu tiba – tiba gadis itu mengecup lembut bibir suaminya dengan penuh perasaan.

Tao pun membalas ciuman Jiyeon tidak kalah mesranya. Tao mulai memperdalam ciumannya di bibir mungil milik Jiyeon yang berwarna merah merekah tersebut lalu menjalar ke tengkuk leher Jiyeon yang jenjang. Jiyeon pun terbawa susana dan tak sengaja dirinya menggengam erat pundak Tao yang terluka.

“Aauww!!! Apha!” teriak Tao sambil menghentikan ciumannya.

Mianhae Tao-ah… aku tak sengaja melakukannya.” kata Jiyeon sambil melihat bahu suaminya dan mengusapnya.

Melihat itu Tao hanya bisa menahan tawanya saat melihat Jiyeon terlihat sangat bersalah kepadanya.

Gwenchanayo, Jiyeon-ah.” kata Tao sambil menyunggingkan senyumannya.

Lalu pergelangan tangan sang istri ditarik dari atas bahunya dan kemudian ia mulai mengecup kembali bibir Jiyeon. Sang istrinya awalnya ingin menghentikannya namun di dalam hatinya yang terdalam dia pun tak mau melepaskan ciuman yang sangat dia nanti – nantikan selama ini.

~~~ooo~~~

 

Disore harinya Tao diijinkan untuk pulang ke rumah jadi selama beberapa minggu ke depan dia harus selalu datang untuk cek up ke rumah sakit . Dokter pun menyuruh Tao agar beristirahat total dan dia juga tidak diperbolehkan mengangkat beban yang berat agar luka di pundaknya bisa cepat sembuh. Mendengar kabar gembira dari dokter tersebut itu Jiyeon sangat senang. Dia lalu merapikan semua perlengkapan Tao untuk bisa kembali lagi ke rumah.

Diperjalanan pulang Jiyeon bertanya kepada Tao kenapa waktu pagi kemarin saat sebelum kejadian penembakan dia sangat sinis padanya.

“Tao-ah aku mau tanya ke kamu? Kenapa kemarin pagi sebelum kejadian penembakan kau sangat sinis padaku.” kata Jiyeon sambil memapah lengan Tao.

Mwo??? Apakah kau belum sadar juga, dengan kesalahanmu?” kata Tao dengan wajah yang kesal.

“Memangnya apa kesalahanku padamu? Katakan padaku?”

“Sudahlah, aku tak mau berdebat lagi denganmu. minggir sana!” kata Tao sambil mendorong tubuh Jiyeon jauh dari dirinya. Lalu Tao pergi meninggalkan Jiyeon yang sekarang terlihat bingung dengan sikap suaminya kali ini.

“Tao-ah, tunggu sebentar!!!” teriak Jiyeon tapi Tao tak mengubrisnya dia malah mempercepat langkah kakinya.

Disepanjang perjalanan pulang Tao hanya diam membisu di dalam taksi. Jiyeon mulai memikirkan apa maksud perkataan Tao terhadap dirinya saat di rumah sakit. Tapi Jiyeon sama sekali tidak bisa mengingat apa pun.

“Sebenarnya apa salahku padamu Tao-ah sampai kau begitu marahnya kepadaku?” kata batin Jiyeon sambil menatap sendu ke arah Tao.

~~~ooo~~~

Tak terasa mobil taksi yang mereka naiki berhenti di depan halaman rumah mereka. Setelah itu Tao langsung membayar uang taksi dan lalu dia juga keluar dari dalam taksi tersebut dan berjalan menuju bagasi untuk mengambil kopernya dari dalam bagasi taksi tersebut.

“Tao-ah, biar aku saja yang membawanya.” kata Jiyeon namun tidak hiraukan oleh Tao.

Pria itu tetap diam sambil berjalan meninggalkannya. Setelah tiba di depan pintu Tao langsung membuka pintu rumahnya tersebut tanpa meminta kunci rumah kepada Jiyeon karena kebetulan mereka berdua mempunyai kunci cadangan rumah masing – masing.

Sesampainya  di kamar pun Tao hanya diam membisu dan itu membuat Jiyeon semakin merandang. Jiyeon mulai mendekati Tao yang sedang sibuk memperbaiki perban yang ada di atas pundaknya.

“Mau aku bantu membetulkannya Tao-ah?” kata Jiyeon dengan suara yang halus.

“Tidak perlu, aku bisa sendiri!!!” tolaknya tanpa basa – basi.

“Baiklah kalau itu mau, aku tidak akan peduli lagi !!!” teriak Jiyeon kesal sambil masuk ke dalam kamar mandi dan pintu kamar mandi itu pun dibantingnya dengan keras.

Dasar, menyebalkan!!!” teriak batin Jiyeon sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Dasar, bodoh. Masa kau tak sadar juga sih?” kata hati Tao sambil menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat oleh Jiyeon.

~~~ooo~~~

 

~Pov Jiyeon~

Apa – apaan sih ini orang, kenapa dia selalu membuat aku kesal sepanjang hari ini? Memangnya apa yang sudah aku lakukan, hah?? Bagaimana aku bisa tahu kalau dia tidak mau memberi tahuku? Memangnya dia kira aku ini cenayang? Yang bisa tahu pikiran dan perasaan orang lain tampa orang tersebut tak mengatakannya?

Tidak di kantor tidak di rumah dia selalu bersikap seperti itu sepanjang hari. Padahalkan aku ingin bermesraan dengan dirinya. Dan ingin bermanja – manja seperti biasanya tapi kenapa dia membuat moodku hilang. Huh!!!.

Memangnya apa yang aku lakukan terakhir kalinya kepada dirinya sampai dia semarah itu. Apakah ada sesuatu yang aku lupakan?

Jiyeon mulai memikirkan kejadian seminggu yang lalu, hampir seperapat menit dia duduk termenung di atas toilet duduk tersebut dan akhirnya dia pun ingat apa yang membuat Tao sangat kesal kepadanya. Jiyeon pun lalu merencanakan sesuatu yang akan membuat Tao tidak marah kepada dirinya lagi.

~end~

~~~ooo~~~

 

~Pov Tao~

Apakah aku terlalu kasar berkata kepada Jiyeon barusan saja? Tapi dia sangat keterlaluan masa dia sama sekali tidak sadar akan kesalahannya? Bahkan dia melupakan hal kecil tentang kebiasaan kita sehari – hari. Yang membuat aku semakin meradang adalah dia sangat dekat sekali dengan Kris. Bahkan dia memanggil dirinya dengan sebutan “oppa!!! “ tidak bisa dipercaya. Aku tahu mereka sudah dekat dengannya sebelum aku bertemu dengannya tapikan aku ini sekarang suaminya bukan kekasihnya maupun temannya.

Kadang kala aku juga merasa cemburu saat dia tersenyum manis di depan laki – laki selain diriku. Aku memang bersikap acuh tak acuh di kantor tapikan sebisa mungkin dia membuat hatiku sedikit tenang saat di sana. Memang pekerjaan kita menuntut untuk dekat dengan lawan jenis tapi kan tak usah terlalu dekat juga, biasa saja. Kenapa sih dia tak bisa mengerti diriku?

Kalau dia masih saja tak ingat juga, aku akan benar – benar mengacuhkannya sepanjang hari.

~end~

 

~~~ooo~~~

 

“Kenapa luka dibahuku harus di belakang? Aku kan jadi susah merapikan perbannya. Sudah perban ini terlepas di dalam bajuku. Apa sekalian aku berganti baju?”

Lalu Tao berjalan ke arah depan lemari pakaiannya dan dia membuka pintu lemari tersebut dan kemudian Tao mulai membuka baju yang melekat ditubuhnya. Memang agak sulit dia lakukan sendiri tapi dia tetap melakukannya sendiri. Akhirnya usaha Tao berhasil juga. Namun tiba – tiba dari belakang ada yang memanggil namanya.

“Mau aku bantu memakaikannya untukmu, Tao-aah?” tanya Jiyeon.

“Tidak! Terimakasih! Aku bisa sendiri.” sambil menutup pintu lemarinya dan tak sengaja dia melihat Jiyeon dari kaca lemari pakaian yang sedang berdiri di belakangnya hanya mengenakan sehelai handuk yang melekat di tubuhnya yang putih mulus itu.

Tao berusaha untuk tenang namun Jiyeon menyadari kalau sekarang ini Tao sedang mengendalikan dirinya di hadapannya. Jiyeon lalu mulai mendekati Tao namun saat dia hampir tiba Tao langsung menyuruhnya berhenti.

“Berhenti!!! Apa yang sedang kau rencanakan sekarang padaku? Aku masih marah padamu, Jiyeon-ah. Kalau kau masih tak tahu apa kesalahanmu dan ke tidak ingatanmu tentang…”

“Aku sudah ingat Tao-ah. Saat pagi kemarin seminggu yang lalu aku lupa membuatkanmu sarapankan lalu aku juga langsung pergi meninggalkanmu begitu saja untuk pergi ke kantor.” sambil mendekati Tao.

“Bukan itu saja, kau juga lupa satu yang sangat penting…” balas Tao sambil membalikan tubuhnya. Dan saat dia berbalik Tao terkejut saat bibir Jiyeon sudah menempel lembut di atas bibirnya.

“Maafkan aku Tao-ah… aku lupa akan morning kiss  kita. Apakah kau tahu, kalau kau itu sangat kekanak – kanakan sekali. Masa karena itu saja kau langsung marah – marah tidak jelas padaku sepanjang hari. Harusnya kau katakan saja padaku.”

“Yah! Aku mana mungkin mengatakannya terang – terangan di depanmu. Aku kan malu.” balas Tao sambil menundukan kepalanya karena tersipu malu.

Aigo…aigoo… Tao yang dikenal menyeramkan dan sangar di kantor saat di rumah sangat imut, ya.” ledek Jiyeon sambil mencubit sebelah pipi Tao.

“Yah! Jangan kau mengolok – olok diriku sekarang. Apakah kau ingin membuatku malu?” sambil menatap Jiyeon dengan matanya yang tajam.

“Iya, aku suka saat melihat dirimu tersipu malu di hadapanku sekarang.” balas Jiyeon sambil membalas tatapan Tao.

“Baiklah kalau itu maumu aku tunjukan sikap asliku sekarang.” sambil menyunggingkan senyuman dan Tao langsung merangkul pinggang Jiyeon ke dalam dekapannya.

“YaK!! Apa yang kau lakukan sekarang?” kata Jiyeon dengan wajah yang kaget.

“Aku hanya mengikuti permainan yang kau mulai.”

“Apa maksudmu?”

“Apa maksudmu?? Adanya aku yang bertanya padamu kenapa kau menghampiriku hanya menggunakan handuk, kamu pasti punya niat untuk merayuku kan?” Tanya Tao kembali sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajahnya Jiyeon.

“I-i-itu…” Jiyeon mulai gugup saat Tao memandangnya dengan ekspresi yang berbeda.

“Itu apa?” balasnya Tao sambil sebelah tangannya mulai menyelusup masuk ke dalam handuk Jiyeon.

Karena paniknya Jiyeon lalu memukul pundak Tao yang luka cukup kencang. Untuk menghentikan tindakan Tao terhadap dirinya.

“AAauuww!!! Yak!!! Apa yang kau lakukan? Hah?” tanya Tao sambil mengelus – ngelus pundak sebelah kanannya yang luka.

“Tao-ah… ka-kamu harus ingat ka-kata dokter kalau kau harus istirahat total. Apakah kau lupa?”

“Jadi itu masalahmu? Tenang saja Jiyeon-ah aku akan mengingat pesan dokter. Aku akan istirahat total sampai diriku pulih bersama dengan dirimu.”

Lalu tubuh Jiyeon pun di gendongnya begitu saja. Jiyeon semakin tak berdaya saat Tao mulai mencium lembut bibirnya. Tapi Jiyeon berusaha menahannya.

“Tao-ah, kau harus ingat kata dokter, kau kan tak boleh mengangkat yang berat, kasihan pudak sebelah kananmu.”

Araseo, Jiyeon-ah. Pundak sebelah kananku memang luka tapi pundak sebelah kiriku tidak, aku masih mampu menompang tubuhmu di pundak kiriku.”

Lalu tubuh Jiyeon di angkatnya begitu saja diatas pundak kirinya, menuju ranjang.

Cam-kkan-man-yo… apakah lebih baik aku mandi dulu.” kata Jiyeon.

“Ide yang bagus, bagaimana kalau kita mandi bersama?” balas Tao dengan senyum yang nakal.

“Yak!!! Turunkan aku sekarang, Tao-ah.” pinta Jiyeon.

“Boleh, jadi kau mau aku turunkan di mana? Di atas ranjang atau di dalam kamar mandi?” balas Tao lagi sambil menahan tawanya.

“Yah, jangan becanda, sekarang turunkan aku, kumohon.” pinta Jiyeon dengan wajah yang panik.

Sirheo!” sambil mengeleng – gelengkan kepalanya menandakan tak setuju.

“Tao-ah, jebal…” pinta Jiyeon lagi sekarang dengan nada yang lebih merajuk.

“Sepertinya malam ini dan seterusnya akan menjadi malam panjang kita berdua Jiyeon-ah, lagian aku mau punya dede Tao dan Jiyi bersamamu. Jadi mulai sekarang kau harus bersiap – siap ya.” kata Tao sambil menyungingkan senyum ciri khasnya di hadapan Jiyeon. Jiyeon pun tak berdaya. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya yang amat dia cintai ini untuk malam ini bahkan seterusnya disepanjang hidupnya.

~The end~

~~~ooo~~~

 

Anyeonghaseo chingu aku kembali lagi nih dengan ff terbaru

Maaf ya kalau ceritanya agak panjang padahal oneshot, hehehe 😀

Awalnya aku mau buat cerita yang berbau action tapi kayanya kurang dapet feelnya ya, jadi gaje deh alur ceritanya. maklum aku baru pertama kali buat ff kaya begini, mohon dimaklumi ya. Maaf juga kalau banyak typo yang bertebaran disana – sini

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, karena komentar dari pada readers semua adalah sebagai penyemangat author untuk membuat cerita ff selanjutnya lebih baik lagi.

Gomawoyo (^-^)/

Advertisements

24 thoughts on “[Oneshoot] Forgotten

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s