[Freelance] A Meaningful Day [Oneshot]

poster-a-meaningful-day-copy

  • Title: A Meaningful Day
  • Author: cOCHIlatte
  • Casts:
  • Shim Changmin (TVXQ)
  • Krystal Jung (f(x))
  • Genre: Romance, Angst
  • Length: Oneshot (4.047 words)
  • Rating: PG-13
  • Warning: OOC, typo bertebaran
  • Disclaimer: I, cOCHIlatte just own this storyline and imagination about dandelion park. The casts are owned by God and themselves.
  • Poster by: Funluobell’s art @Poster Channel

A/N: Annyeong, cOCHIlatte is back! Akhirnya bisa menulis ff kembali walaupun sibuk dengan persiapan ujian-ujian yang seabrek ini. Kali ini, author bakal mempersembahkan ff dengan main cast Krystal dan Changmin. Tapi karena setelah lama gak nulis ff, mungkin saja ff ini merasa lebih jelek dari yang sebelumnya. But, baca aja dulu dan jangan lupa meninggalkan jejaknya yaa. Gomawo and happy reading!


Kalau dikasih kesempatan satu hari saja kencan bersamanya, aku bakal melakukan semua yang ingin kulakukan ketika kencan. Mengajaknya makan, pergi ke taman bunga, keliling-keliling toko berharap dia membelikanku sesuatu, karaokean bareng, photobox bareng dengan gaya konyol, menonton film lama tapi romantic di rumahku sambil ngemil, kemudian diakhiri dengan dia tidur di rumahku. Aku harap kencan ini bisa menjadi kenyataan.


-Storyline Started-

Changmin berada di depan pintu apartemen Krystal, entah bagaimana caranya dia bisa mengetahui alamat apartemen Krystal. Apalagi pakaian Changmin bergaya casual, tidak formal dan mengenakan seragam guru seperti kunjungan ke rumah orang tua pada umumnya. Pakaiannya hanya berupa celana bahan berwarna coklat, kaus putih dan di luarnya dia memakai kemeja biru. Dia hanya memakai sepatu Converse yang senada dengan celananya. Krystal yang awalnya bingung mengapa senseinya datang ke rumahnya di waktu sepagi ini, pukul 6.20 pagi, hanya bisa mempersilahkan Changmin duduk. Masalahnya, Changmin adalah guru bahasa Jepangnya di sekolah. Mungkin ingin membahas masalah studiku. Tapi sekarang sekolahku sudah selesai. Ah lebih baik aku tanya saja maksud kedatangannya, batin Krystal gundah.

“Krystal, ayo kita pergi kencan!” ajak Changmin tiba-tiba, membuat Krystal terdiam membatu. Tubuhnya seketika dialiri listrik. “Kenapa diam? Bukankah kau menyukaiku? Seharusnya kan kau menerima tawaranku.” Changmin mencecarnya, membuat Krystal tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, dia sudah memutuskan bahwa dia ingin melupakan Changmin, semua karena gosip itu.

Flashback: on

“Hey, hey, tahu tidak, guru bahasa Jepang kita mau menikah. Nikahnya sama guru di sekolah ini juga, lho.” Tiba-tiba, Yoona mengatakan hal itu kepada Krystal, Sulli, dan Yuri. Maklumlah, di antara persahabatan mereka berempat, Yoona dikenal sebagai tukang rumpi.

“Hah, serius? Sama siapa?” tanya Sulli penasaran.

“Aku tahu, pasti sama Victoria-seonsaengnim! Aku pernah stalk sosmed mereka, seperti ada kesamaan yang mengganjal, lho.” Yuri menebak, dan tebakannya tepat, dibuktikan dengan anggukan Yoona.

“Betul sekali, dan mereka akan menikah saat kita sudah lulus! Di Gimpo, kampung halamannya Changmin-sensei!” Yoona terus membicarakan hal-hal mengenai mereka berdua, diikuti dengan rasa antusias dari Yuri dan Sulli. Namun, mereka bertiga tidak menyadari Krystal selalu diam dan tidak mengikuti pembicaraan mereka. Hati Krystal sakit, ia tidak kuasa menahannya. Maklumlah mereka bertiga belum tahu perasaan Krystal ke Changmin.

Flashback: off

“Krystal Jung!” panggil Changmin sekali lagi, membuat Krystal tersentak dari lamunannya. Begitu kebiasaan Krystal ketika seorang guru memanggilnya, entah karena dia asyik ngobrol sendiri dengan temannya saat pelajaran atau saat dia lagi ketahuan makan di dalam kelas.

“Ne, sensei?” Kemudian, dia teringat pertanyaan yang baru saja dilontarkan Changmin. Dia ragu, haruskah dia ikuti saja atau dia tolak.

“Ini kan hari-hari terakhir kita bersama. Ayolah, jebbal. Aku bayarkan semua apapun yang kau mau.” Changmin berusaha membujuk Krystal, berharap agar Krystal mau menerima ajakannya.

“Masalahnya bukan tentang uang ataupun kesempatan sensei, aku ragu. Bukankah sensei dalam bulan ini akan menikah dengan Victoria-seonsaengnim?” tanya Krystal, suaranya pun menunjukkan desakan. Pertanyaan itu berhasil membuat Changmin terdiam membatu.

“Ne, Krystal. Itu benar. Tapi tak apa, kan kalau kita berkencan tanpa sepengetahuan dia? Ini akan jadi rahasia kita, Krys.” Changmin menjawab dengan enteng, membuat Krystal semakin tidak percaya dengan sosok pria di hadapannya ini.

Berapa sih umur sensei ini, kenapa malah semakin tidak dewasa ya? Childish sekali. Krystal membatin dengan gondoknya. “Aniyo, Victoria-seonsaengnim sudah kuanggap kakakku sendiri. Sensei lihat sendiri kan kalau kami suka sharing tentang masalah pribadi kami?” Krystal berkeras, dia tidak percaya kalau dia disuruh mengkhianati guru yang dianggapnya kakak sendiri. Walaupun Victoria menusuknya dari belakang, Krystal tetap memaafkannya dan menganggapnya sebagai tempat curhatnya.

“Jebbalyo, Krystal-ah.” Kini, Changmin memohon. Dia memegang tangan Krystal dan meremasnya. Melihat wajah Changmin, Krystal diam-diam luluh dan ingin mengiyakan ajakannya. Tapi, apakah boleh dia mengkhianati Victoria. Pikiran Krystal menerawang. Mungkin ini bisa jadi pembalasan dendam termanis karena dia menusukku dari belakang, batin Krystal dengan senyum licik yang muncul di wajahnya.

“Ne, sensei. Ayo berkencan.” Akhirnya Krystal mengiyakan ajakan Changmin, dia balas menggenggam tangan Changmin.

“Mwo? Jeongmal?” Pertanyaan Changmin itu hanya dibalas dengan anggukan Krystal. Tak lupa Krystal selalu memasang senyum manis yang hanya ditujukan kepada gurunya itu. Senyum yang membuat hati Changmin berdebar ketika melihat Krystal. Namun sayang, perasaan Changmin sudah milik orang lain.

“Kita mau kemana?” tanya Kystal dengan penasaran. Persis seperti Krystal yang di sekolah, selalu penasaran dengan hal yang belum dia ketahui.

“Ganti dulu pakaianmu, Krys, berdandanlah secantik mungkin.” Changmin membalikkan tubuh Krystal dan membawanya menuju kamarnya. Selagi menunggu Krystal, Changmin duduk di sofa. Dia melihat foto keluarga Krystal di dinding.

Yunho-hyung, aku kangen kamu. Tahu tidak, aku berhasil mengencani adik tunggalmu lho. Hehe, jangan marah dong, kan kamu tahu itu impianku seumur hidup sejak kenal Krystal. Ternyata uri Soojungie sudah tumbuh dewasa ya, hyung? Tidakkah dia semakin cantik? Tubuhnya juga semakin seksi, ah mianhae hyung kenapa pikiranku ngeres sih? Changmin membatin, berbicara kepada gambar Yunho yang ada di foto keluarga itu. Dia begitu merindukan sahabat yang paling disayanginya. Mereka semakin jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

Setelah menunggu, Krystal keluar dengan pakaian casual tapi modis yang dikenakannya. Rambutnya dia gerai dan diberi pita kecil. Tak lupa make up tipis menghiasi wajahnya.

Neomu yeppeo, Soojungie!” seru Changmin dengan panggilan yang membuat Krystal merasa risih.

“Sensei, bagaimana sensei tahu nama kecilku?” keluh Krystal karena sejak terakhir dia menanyakannya, Changmin malah menggodanya.

“Nanti kita bicarakan, Krys di sana. Kamu siap untuk kencan?” Tanpa menunggu jawaban Krystal, Changmin sudah menarik tangan Krystal pergi keluar. Tentu saja, Krystal tak lupa mengunci pintu dan memastikan bahwa semuanya aman. Maklumlah, Krystal kesepian, hanya tinggal seorang diri di apartemen regular itu, orang tuanya berada di kampung halamannya di Busan. Sedangkan Yunho, kakak lelakinya sering sekali menginap di kawasan perumahan dekat kantornya, dan Jessica, kakak perempuannya sudah menikah dengan penyanyi tersohor bernama Yesung dan tinggal di Amerika.

Mereka menaiki mobil Changmin yang terparkir di basement apartemen tersebut. Tidak Krystal sangka, ternyata Changmin kehidupannya sangatlah makmur. Memiliki mobil Hyundai dan tinggal di kawasan bonafid di kota Seoul. Mobil pun melesat pergi meninggalkan apartemen itu.

“Sensei, ….” Pertanyaan Krystal terputus karena salah satu jari Changmin berada di bibirnya, menyuruhnya diam. Sedang tangan yang lainnya terus menyetir mobil itu.

Don’t call me sensei. Call me Changmin-oppa!” sahut Changmin dengan wajah datarnya.Changmin-oppa? Mengingatkanku pada sesuatu, batin Krystal bergemuruh, tiba-tiba dia teringat akan kenangan masa kecilnya.

Flashback:on

“Hey, Soojung! Namamu Soojung, kan?” tegur Changmin kepada seorang gadis kecil yang memakai seragam TK. Yang ditegur malah makin bersembunyi di balik kaki Yunho, oppanya.

“Soojung-ah, hari ini oppa tidak bisa menjagamu. Kamu main sama teman oppa dulu ya?” sahut Yunho sembari mensejajarkan tingginya dengan tinggi gadis kecil yang disapa Soojung itu. “Tenang saja, Soojungie, dia baik kok. Changmin, sini kemari!”

Setelah Changmin mendekati mereka berdua, ia ikut mensejajarkan tingginya dengan tinggi Soojung. Changmin tersenyum semanis mungkin, membuat Soojung berani mendekatinya.

“Annyeong, naneun Changmin imnida. Mulai sekarang, panggil aku Changmin-oppa, ne?” sahut Changmin. Dan mereka pun mulai bermain dengan akrabnya, membuat Yunho merasa tidak perlu lagi mengkhawatirkan mereka berdua.

Flashback: off

“Changmin-oppa…” gumam Krystal pelan, tapi Changmin bisa mendengarnya. Dia merasa bangga akhirnya Krystal memanggilnya oppa. Kerinduannya dipanggil oppa oleh orang yang bernama Soojung pun terobati.

“Sensei, sahabatnya Jung Yunho-oppa?” tanya Krystal dengan wajah tidak percaya. Sedangkan yang ditanya mengerucutkan bibirnya karena dia dipanggil sensei  – lagi.

“Changmin-oppa,” ralat Changmin, membuat Krystal mengangguk. “Ne, aku teman, bukan, aku sahabatnya Yunho-hyung.”

Pantas saja dia tahu aku adiknya Yunho, pikiran Krystal menerawang. Pantas saja, saat dia menggodaku setelah ulangan susulan, dia tahu nama kecilku. Ah kenapa aku mengingat hal itu sih? Krystal menepis pikirannya, membuang jauh-jauh pikiran buruk itu.

“Kamu tumbuh jadi gadis yang indah, Soojungie!” puji Changmin dengan suara lirihnya, tentunya pujian itu tulus. Sedangkan Krystal hanya tersenyum dalam hati. Eh, tunggu! Dia memanggilku Soojungie, lagi. Sebaiknya harus kupanggil saja dia oppa, batin Krystal.

“Oppa, kita mau kemana, sih?” tanya Krystal. Sepertinya dia sudah nyaman dengan Changmin. Lihat, dia bahkan tidak menggunakan sopan santun yang biasanya dia pakai di sekolah.

“Tunggu sebentar, Krys! Sebentar lagi kita sampai!” Changmin menjamin Krystal, menenangkan Krystal yang sudah mulai tidak sabar dengan tujuannya.

Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka tiba di taman bermain terbesar di kota Seoul. Lotte World, versi Korea dari taman bermain terkenal di seluruh dunia, Disneyland. Karena ini weekend, taman bermain ini menjadi ramai oleh pengunjung yang hendak melepas penat dengan bermain di sini. Krystal takjub, dia pikir Changmin tidak serius ketika dia bilang akan membayar semuanya yang ia mau.

Kruyukkk…! Perut Krystal berbunyi, begitu pula dengan perut Changmin. Mereka berdua sadar kalau mereka belum sarapan sejak mereka berangkat. Lagipula, ini baru pukul 7.30, masih terlalu pagi untuk bermain. Mereka saling memandang, spontan mereka tersenyum bersama karena malu.

”Hihihi, aku lapar.” Krystal menyahut dengan manja. Rasanya dia ingin mengatakannya sambil memeluk lengan Changmin. Tapi sekali lagi dia ingat, dia hanyalah sekedar murid. Hingga dia kaget karena Changmin menarik lengannya dan memeluknya.

“Tak usah khawatir mau bermesraan denganku, Soojungie. Tak ada yang tahu kan?” tanya Changmin menenangkan Krystal. Yang ditanya hanya mengangguk dan kembali memeluk lengan Changmin. Mereka berdua merasa mereka berbahagia di sini. Krystal, yang impiannya terwujud karena akhirnya bisa kencan dengan cinta pertamanya, gurunya sendiri. Begitupun Changmin.

Setelah membayar tiket masuk, Krystal dan Changmin menuju cafe pertama yang mereka lihat. Mereka masuk untuk mengisi perut mereka yang sedari tadi minta diisi. Cafe itu menjual makanan yang lumayan bisa mengisi perut mereka hingga siang.

“Krystal-ah, biar kutebak menu makanan favoritmu.” Changmin berkata dengan entengnya, membuat Krystal hanya menaikkan sebelah alisnya tak percaya. Merasa ditantang, Changmin langsung menebak makanan pertama yang ada di pikirannya.

Bibimbap!” sahut Changmin. Namun sayang, Krystal hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah polos.

Ramyun!” sahutnya lagi. Tapi lagi-lagi ia mendapat jawaban tidak dari Krystal. Changmin hanya memikirkan jawaban ketiga dan terakhirnya. Dia merasa kalau jawabannya harus benar.

Kimbap!” sahutnya. Dan hebatnya, Krystal mengangguk antusias atas jawaban Changmin. Tangannya terangkat, hendak memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya. Namun, tangan Krystal mencegahnya, dia melihat Changmin dengan pout di bibirnya.

“Oppa, aku tidak boleh menebak makanan yang ingin kau pesan?” tanya Krystal manja. Dia merasa tidak adil. Tangannya meremas tangan Changmin agar dia boleh menebak pesanannya.

“Hm, ne, ne, baiklah. Yang tepat ya, Krys.” Changmin mengijinkannya. Kemudian kedua tangannya menopang dagunya. Sementara Krystal memikirkan sebuah makanan yang mungkin disukai Changmin.

Jjajangmyun!” tebak Krystal. Tebakan itu membuat Changmin heran. Bagaimana bisa Krystal menebak dengan cepat dan benar?

“Tepat sekali, Krys. Ayo kita pesan makanan, biar tidak kelaparan lagi, arra?” Ucapan itu disetujui oleh Krystal. Mereka memesan makanan di kasir dan duduk di meja dekat jendela. Selama makan, mereka selalu bercanda dan tertawa, tak lupa saling membagi makanan masing-masing. Suatu hal yang jarang mereka lakukan di sekolah. Sekali lagi, mereka merasa bahwa ini adalah saat paling bahagia buat mereka.

Setelah makan, mereka lanjut mengelilingi taman bermain itu dan mecoba wahana yang ada di sana. Karena masih pagi, mereka memutuskan untuk bermain permainan kecil dahulu. Menembak bola agar mengenai sasaran, mini-basket, dart dan sebagainya.

“Mau boneka apa, Soojungie?” tanya Changmin ketika mereka tiba di atraksi mini-basket. Baru Krystal ketahui bahwa Changmin ternyata juga pemain basket yang handal.

“Ituuu!” Krystal menunjuk sebuah boneka teddy bear berukuran sedang, setelah melihat-lihat dan memikirkan sebuah boneka yang dia inginkan.

“Ah, jeongmal? Dulu kau lebih suka boneka Winnie the Pooh daripada Teddy Bear.” Godaan Changmin membuat Krystal tersentak. Changmin-oppa masih saja mengingat kesukaanku itu,batin Krystal.

“Tapi bonekanya hanya ada yang berukuran besar oppa. Aku takut kita tidak bisa mendapatkannya.” Alasan Krystal itu membuat Changmin merasa diragukan. Dia pun memanggil penjaga stand itu dan mulai bermain di wahana itu. Keinginannya untuk mendapatkan boneka Winnie the Pooh berukuran besar itu semakin membara dibuktikan dengan kerasnya ia berusaha untuk mencetak poin tertinggi.

Chukkae! Anda berhasil mendapatkan poin tertinggi. Silahkan pilih boneka di atas berukuran besar yang anda mau!” ucap penjaga stand itu dengan ramah. Changmin menunjukkan smirk andalannya kepada Krystal, sedangkan Krystal hanya bengong melihat kemampuan Changmin.

“Tolong, boneka Winnie the Pooh yang di atas sana. Terima kasih.” Changmin menunjuk dan akhirnya dia mendapatkan boneka tersebut. Dia lalu memberikannya kepada Krystal.

Oppa, neo jeongmal. Neomu mitchin!” Krystal merasa terharu dan di detik berikutnya ia langsung memeluk Changmin. “Jeongmal gamsahabnida, oppa! Nan neomu haengbokhae!” ucapnya dengan penuh rasa terima kasih. Ini pertama kali dia berkencan dan dia terharu mendapat perlakuan seperti ini, padahal mereka bukanlah sepasang kekasih, tetapi guru dan murid.

Cheonmaneyo, Krystal.” Changmin membalas pelukan Krystal dan mengelus rambutnya. Dia pun merasa bahagia karena Krystal memeluknya. Changmin sadar Krystal menyukainya saat dia di sekolah. Berbagai tingkah Krystal yang hyper hanya untuk menarik perhatiannya diam-diam membuat Changmin kagum. Dalam hati ia berjanji akan membuat Krystal bahagia, walaupun hanya hari ini.

Krystal, berbahagialah hari ini. Akan kuberikan waktu luang ini hanya untuk seharian bersamamu. Kuberikan juga hati, jiwa dan tubuhku hari ini hanya untukmu. Hanya hari ini saja, biarkan aku lepas dari Victoria dan hanya memanjakanmu saja, Krys. Karena besok aku akan pulang ke Gimpo dan menikahi Victoria. Terima kasih Krystal, kau memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu lagi, walau hanya sehari. Mungkin esok pagi aku sudah berada di bandara, bersiap meninggalkan Seoul. Begitu kata hati Changmin untuk Krystal. Dia memeluk Krystal lebih erat dan menyalurkan semua perasaan sayangnya.

“Oppa, aku merasa sesak.” Krystal berkata dengan susah payah, karena dia merasa nafasnya sesak akibat dipeluk terlalu erat oleh Changmin. Changmin melepas pelukannya, dan memegang tubuh Krystal.

“Krystal. Hari ini aku akan berikan diriku padamu. Jadi ayo kencan sampai malam. Buatlah tanggal ini menjadi bermakna untuk kita berdua!” pesan Changmin dan diikuti oleh anggukan Krystal.

Mereka pun berjalan lagi mengelilingi taman bermain itu, mencoba mencari wahana yang bisa dimainkan di sana. Lotte World menawarkan banyak wahana menarik tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk pasangan dan orang dewasa. Mereka pun menaiki wahana yang ada di sana, tetapi hanya untuk pasangan dan orang dewasa.

Changmin mengajak Krystal mencoba wahana Gyro Swing, tetapi Krystal malah takut melihatnya. Namun demi membuat hari ini menjadi hari spesial, Krystal rela menghilangkan rasa takutnya, walau setelah menaikinya, tubuhnya lemas akibat tidak kuat.

“Senang, Krys?” tanya Changmin menggoda Krystal. Yang digoda hanya mencubit lengan Changmin keras, hingga Changmin menjerit. “Aaawww!”

“Aku takut, paboya! Tidakkah kau lihat aku hampir menangis saat  wahana itu mencapai puncaknya?” ucap Krystal dengan air mata yang hendak menetes, namun segera dihapusnya.

“Hahaha, mianhae Krystal!” Changmin memelas dengan muka imutnya yang menurut Krystal tidak cocok untuk dirinya.

“Tapi, persetan! Ayo, coba lagi wahana thrill dan juga romance yang lainnya!” seru Krystal antusias dan menarik tangan Changmin. Mereka pun mencoba semua wahana yang cocok untuk mereka di sana. Tak jarang Krystal menjerit karena kaget ataupun takut, namun Changmin diam saja dan mencoba menenangkan Krystal dengan pelukannya. Tak lupa, mereka juga memasuki game arcade yang ada di sana, Game Village sampai dengan Rock Climbing Game. Mereka pun mengabadikan kenangan itu dengan kamera polaroid milik Krystal dan smartphone milik Changmin. Namun, ketika mereka menaiki wahana balon udara yang ada di sana, yang membuat mereka mampu melihat Lotte World secara keseluruhan, Krystal mendapat kejutan.

“Krys!” panggil Changmin sambil memeluk Krystal dari belakang. Hanya dua orang yang berada di balon udara tersebut, ini memberi kesempatan kepada mereka untuk menikmati momen kemesraan mereka.

“Ne, oppa?” Krystal membalikkan badannya, namun tetap menahan pelukan Changmin di tubuhnya. Dia merasa tenang dan bahagia –blissful- ketika dia hanya berdua dengan Changmin. Tidak seperti di sekolah, walau mereka sering berdua di kelas atau di ruang guru untuk membahas masalah studi Krystal, ia merasa tidak senyaman ini. Di sini, dia merasa bebas untuk melakukan apapun bersama gurunya.

Changmin hanya menatap Krystal dalam, tatapannya lembut ke mata Krystal. Kemudian pandangannya turun ke bibirnya Krystal. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Krystal, dan bibirnya pun mendekati bibirnya Krystal. Kemudian dia menciumnya, sangat lama. Changmin melakukan french kiss dengan Krystal. Sedangkan Krystal, ia hanya menerima dan membalas ciuman Changmin. Pikiran rasionalnya sudah hilang. Dia sudah menetapkan bahwa hubungan mereka cukup sampai pelukan saja, tetapi kali ini, dia benar-benar di luar kendali. Siapa yang salah? Tidak ada, kan? Apakah itu Changmin, yang menyelingkuhi Victoria dengan mencium Krystal? Ataukah Krystal, yang membalasnya padahal Changmin adalah sosok guru yang harus dihormatinya?

“Ini ciuman pertamaku, Soojungie. Aku belum pernah melakukannya dengan Victoria.” ucap Changmin setelah melepaskan ciuman mereka. Krystal terdiam membatu, dia tidak percaya bahwa Changmin menciumnya. Namun tangannya tetap mengelus dada Changmin, kepalanya bersandar di dada Changmin yang kekar.

Nado, ini juga ciuman pertamaku, oppa!” balas Krystal, tangannya melingkar di pinggang Changmin. Kemudian kepalanya terangkat, dan mencium Changmin lagi. Mereka berdua terus berciuman hingga ada tanda bahwa balon udara akan turun karena waktu mereka hampir habis. Mereka saling tersenyum, Krystal memamerkan giginya dan tertawa kecil. Setelah balon itu mendarat, mereka turun dan menjauhi wahana yang meninggalkan kesan mendalam untuk mereka.

“Oppa, ayo istirahat dulu! Aku lelah.” ucap Krystal, dan mereka pun duduk di tempat duduk terdekat dari wahana terakhir yang mereka mainkan. Mereka meminum sebotol air mineral untuk menghilangkan lelah dan untuk menyegarkan tenggorokan mereka akibat teriak-teriak tadi.

“Mau di sini sampai kapan Krys? Ini sudah jam 14.30, sudah siang sejak kita berada di sini dari pagi.” tanya Changmin sambil menunjukkan jam tangannya. Lumayan lama juga mereka berada di sana. “Atau kamu ingin keliling toko di sini sampai sore?”

“Tidak, oppa. Kita pergi saja. Aku sudah bosan di sini.” Krystal menjawab manja, dan Changmin mengiyakan. Mereka pun keluar dari taman bermain Lotte World tersebut dan menuju jalan raya.

“Kamu mau kemana lagi, Krys? Mau belanja?” tanya Changmin sambil menyetir mobilnya yang berpacu di lintasan jaan raya.

“Ne, kita keliling-keliling toko dulu ya oppa! Jebbalyo!” jawab Krystal. Dan mobil mereka melaju ke arah mal terbesar di kota Seoul. Setelah memasuki mal yang ada di sana, mereka mengelilingi sebagian besar toko yang ada di sana. Krystal membeli beberapa aksesori dan pakaian yang ada di sana, begitupun Changmin. Ketika ia hendak membeli hiasan rambut, Changmin membayarnya, tetapi Krystal menolak.

“Please, anggap saja ini hadiah, Soojungie.” Kata-kata itu membuat Krystal tak mampu lagi menolak tawaran Changmin.

“Ne, tapi ijinkan aku membeli hadiah untukmu, oppa!” Krystal merajuk. Ia merasa tak enak kepada Changmin yang rela mengeluarkan banyak uang hanya untuknya.

“Arra, Krys.” Krystal bernafas lega karena akhirnya dia mampu membelikan Changmin sesuatu. Dia membelikan Changmin sehelai syal dan sweater marun yang sangat disukai Changmin. Krystal tahu Changmin menyukai syal, dia pernah melihat Changmin memakai syal ketika mengajar di musim dingin yang ekstrim.

Johae, oppa?” tanya Krystal ragu, ia takut Changmin tidak menyukai pilihannya.

Nan neomu johae, Soojungie!” balas Changmin senang. Dia juga heran mengapa Krystal tahu semua kesukaannya.

Kemudian ketika mereka melihat stand photobooth, mereka mampir ke sana. Kegembiraan dan tawa menyelimuti mereka berdua. Mereka berpose dengan gaya konyol, imut, dan banyak lagi. Namun, lagi-lagi Krystal menawarkan diri untuk membayar semua.

“Hahaha, oppa, kau lucu sekali ketika gayamu sedang memelas.” Krystal tertawa melihat hasil potret mereka berdua. Mereka telah berada di mobil Changmin lagi, bersiap untuk pindah ke lokasi kencan berikutnya.

“Sudah, diam Krys. Aku jadi malu.” Pipi Changmin memerah karena Krystal terus menyengir melihat fotonya. Kemudian, matanya teralih menuju jam yang ada di dashboard mobilnya. Sudah jam 17.30. Sebaiknya aku harus cepat membuat momen spesial untuk Krystal, batin Changmin panik.

“Empat foto ini, oppa simpan, ne. Empat sisanya buat aku. Arraseo?” Tanpa persetujuan Changmin, Krystal memasukkan empat fotonya ke tas Changmin dan sisanya ke tas miliknya sendiri.

“Arra, arra, Soojungie. Berikutnya kamu mau kemana? Boleh kok yang jauh dari sini. Tapi bisakah kita ke tempat yang tenang?” omel Changmin, dan Krystal berpikir sebentar. Kemudian terlintas sesuatu di benaknya, tempat favoritnya ketika dia pergi bersama eonni kesayangannya.

“Taman bunga dandelion!” seru Krystal dan Changmin menyetir mobilnya ke arah yang disebut Krystal. Lumayan jauh, karena terletak di pinggir kota. Setelah tiba di sana, Krystal langsung berlari menuju taman di sana. Ia sangat menyukai bunga dandelion, bunga simbol kepercayaan induk kepada anaknya. Changmin yang berada di belakang Krystal hanya tersenyum melihat Krystal.

Krystal, kamu sudah bahagia ya? Aku senang melihatmu bahagia, bahkan kau membalas ciumanku tadi. Kau bilang itu adalah yang pertama untukmu, tapi dengan perasaanmu yang membara kau menciptakannya dengan indah, Krys. Mianhae jika selama ini aku menjadi gurumu terlalu bawel, itu karena aku perhatian padamu. Sejak kamu masih kelas 10, aku sudah menaruh perhatian kepadamu, tapi sayang kau sudah memberikan hatimu kepada Kai, namja yang menyakitimu dan meninggalkanmu untuk adik kelas yang bernama Joy.

“Oppa, ke sinilah.” Panggilan Krystal itu membuat Changmin tersadar dari lamunannya tentang Krystal. Changmin baru menyadari bahwa air matanya menetes tadi, segera dihapusnya air mata itu dan mendekati Krystal. “Ayo, cobalah berbaring di sini. Tenang sekali.”

Changmin hanya menurut tanpa berkata, dan mereka berdua pun berbaring di rumput taman dandelion tersebut.  Changmin dan Krystal menutup matanya, menikmati atmosfer yang ada di antara mereka. Walau hubungan mereka itu hanya sebatas guru-murid, tetapi perasaan mereka sudah membubung tinggi, mereka mencintai satu sama lain.

I feel blissfull today!” gumam Krystal dengan suara lirihnya.

Me too.” Changmin membalasnya. Mata mereka berdua semakin terpejam.

I hope we can be like this together.” ucap Krystal lagi dengan penuh harapan. Yang di sampingnya hanya bisa mengangguk sedih. Air matanya sekali lagi hendak menetes, namun ia tahan. “But, it is okay to have you just a day, Shim Changmin-oppa!”

“Me too. Eventhough I can’t have you anymore, I am glad to be here with you.” Akhirnya, Changmin mampu membalasnya. Tanpa mereka ketahui, mereka berdua menangis dalam hati. Krystal ingin berharap lebih, dia ingin menjadi kekasih Shim Changmin, guru bahasa Jepangnya. Dia telah menyukai gurunya sejak dia kelas 10, dan rasa itu berhasil berkembang menjadi cinta sejak September saat dia kelas 12.  Tapi, Changmin telah bertunangan dengan Victoria Song, guru pelajaran bahasa China. Ingin sekali Krystal datang ke pernikahan Changmin dan menentangnya, tapi apa daya Krystal hanyalah seorang murid.

Changmin juga merasakan hal yang sama. Dia sekarang menyesal kenapa dia malah bertunangan dengan Victoria. Bila Changmin telah memiliki rasa kepada Krystal sejak Krystal kelas 10, mengapa Changmin membohongi perasaannya dan kemudian melamar Victoria sejak Desember ketika Krystal kelas 11. Dan keluarga di kampungnya telah menyetujui hubungan Changmin dan Victoria, hanya menunggu tanggal pernikahannya. Ingin sekali Changmin membatalkan pernikahannya, atau ketika esok pada hari pernikahannya, dia menyampaikan keberatan untuk menikahi Victoria, tetapi bagaimana dengan keluarganya yang ada di sana?

Yang jelas, bagi mereka, penyesalan itu selalu datang terlambat. Kalau akhirnya mereka tahu tidak bisa bersatu, mereka hanya bisa merelakan perasaan mereka masing-masing.

Waktu menunjukkan sudah pukul 20.00, Krystal dan Changmin berkendara menuju apartemen Krystal, setelah mereka menikmati dinner mereka di sebuah restoran. Mereka tetap mengobrol, walaupun suasana sedikit awkward karena hati mereka dipenuhi kesedihan. Sesampainya di apartemen Krystal, mereka memutuskan untuk menonton film lama di kamar Krystal.

“Oppa, setidaknya gantilah dahulu bajumu, dan cuci mukamu. Jaga kebersihan dirimu, oppa!” seru Krystal setelah ia keluar dari kamar mandi, dengan pakaian yang dikenakannya untuk tidur. “Baju Yunho-oppa bisa dipinjam, tapi ada di kamar sebelah.”

Changmin yang hanya mematung melihat keindahan tubuh Krystal pun tersadar. “Arra, arra,Soojungie!” balas Changmin dan ia berganti baju di kamar sebelah kamar Krystal. Krystal memutar DVD film lama itu, dan menunggu Changmin untuk menontonnya di kasur, bersamanya.

Setelah selesai, mereka menonton film tersebut. Krystal terdiam, kepalanya bersandar di lengan Changmin. Dan Changmin balas memeluk tubuh Krystal. Krystal merasa nyaman, dia merasa terlindungi oleh tangan kekarnya Changmin. Ingin sekali Changmin menciumnya, namun dia tahan godaan yang berbisik di hatinya. Lagipula, Yunho bisa marah kalau tiba-tiba melihat mereka berciuman, di kasur pula. Setelah filmnya selesai, baru Changmin sadari bahwa Krystal sudah tertidur, entah sejak kapan. Dilihatnya wajah mungil dan polos Krystal.

Aigoo, kamu cantik sekali saat tidur, Soojungie, puji Changmin dalam hatinya. Kemudian dikecupnya kening Krystal, kemudian ciumannya beralih ke pipi Krystal dan akhirnya di bibir Krystal. Mengkalimnya hanya menjadi miliknya. Dalam hati, dia telah menetapkan suatu hal yang penting yang akan dilakukannya esok hari. Dia sangat bahagia bisa memiliki Krystal, walaupun hanya sehari. Tidak, Changmin baru sadar kalau sebetulnya, ia telah lama memiliki Krystal. Sejak Krystal masih seumur jagung, dan juga sejak Krystal kelas 10. Yang perlu dia lakukan adalah bersyukur memiliki Krystal yang menjadi murid, dongsaeng sahabatnya, dan terakhir, teman kencannya. Kemudian Changmin pun terlelap, dengan tangannya masih memeluk tubuh Krystal.

Keesokan paginya, Krystal terbangun, jam di wekernya telah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Dia melakukan stretching, meregangkan ototnya yang lemas akibat tertidur terlalu lama. Dia melihat ke sebelahnya, Changmin sudah tidak ada di sisinya. Dengan tenang dia mencarinya ke seluruh sudut apartemennya, tapi nihil, ia tidak menemukannya. Kemudian dia berjalan ke luar balkon di kamarnya. Tangannya memegang bibirnya, dia kira itu hanya mimpi bahwa Changmin menciumnya.

Changmin-sensei, atau mungkin Changmin-oppa! Selamat berbahagia dengan Victoria-seonsaengnim. Aku berbahagia untuk kalian berdua. Terima kasih atas kencan kemarin, ya! Aku sangat bahagia! Kau membuat kemarin menjadi hari bersejarah bagiku. Mungkin aku akan memulai lembaran cintaku yang baru, bersama orang yang baru pula. Akan aku cari seorang namja yang sifatnya sepertimu, tetapi dia harus lebih muda, agar dia lebih pas untukku. Chukkae, oppa. Selamat berbahagia. Gamsahabnida.

Krystal melihat ke langit biru sambil mengucapkan kalimat itu dalam hatinya. Air matanya menetes, dia belum rela. Tetapi dihapusnya segera air mata itu. Karena baginya, level tertinggi mencintai seseorang adalah merelakannya bahagia bersama orang lain. Dan Krystal harus melakukannya, dia tidak ingin termakan omongannya sendiri. Dia tersenyum ke arah langit itu. Sekarang dia telah siap untuk menjalani hidup barunya.

-END-

A/N: Annyeong, bagaimana ceritanya? Memuaskan atau tidak? Atau ada yang pusing bacanya garagara kepanjangan? Hehehe. Apapun pemikiran kalian, komentar ya di kolom komentar, jangan dipendam saja atau jadi silent reader. Tenang saja, saya gak bakal gigit kok, kritik, saran, dan komentar saya terima dengan lapang dada. Karena itu untuk kemajuan menulis saya. Oh ya, ff ini direncanakan ada sekuelnya, lho. Tapi belum tahu mau dibikin atau tidak, terserah keputusan kalian. Sudah ya, terima kasih sudah mau membaca dan mengomentari ff ini. Terima kasih!

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s