Everlasting (Sequel of “Time Slip”)

everlasting_ad-copy| Yang Min Soo | Cast: Do Kyungsoo, Go Jihyun (OC), Park Hyejung (OC), Park Chanyeol, Kim Joonmyeon, Byun Baekhyun | Genre: Romance, Sad, Angst, Friendship | Length: Oneshoot | Rate: PG-13 | Disclaimer: Cast belong god. Don’t be plagiarism, i hope you like it guys  😉

Poster By americadoo@Poster Channel

 

 

Sebuah takdir cinta yang mengakhiri kisah kedua insan yang saling mencintai.

 

 

 

Tangan yang digunakan untuk pengganti bantal, deru napasnya teratur, terdengar dengkuran pelan, dan kedua matanya tertutup. Siapapun yang melihatnya, pasti bisa menebak kalau pria berwajah imut itu tengah menyelami alam mimpi.

Do Kyungsoo, pria berumur 27 tahun, berprofesi sebagai direktur utama, berwajah Babyface seperti murid SMU, memiliki tubuh mungil untuk seorang pria, memiliki mata bulat dan bibir berbentuk hati tengah asyik tertidur di atas meja kerja. Setumpuk dokumen yang tidak terlalu banyak seperti biasanya tertata rapi tepat di sampingnya. Pulpen tergeletak begitu saja di atas kertas dengan tutup yang entah kemana perginya.

 

 

Kyungsoo terbangun setelah merasakan getaran meja yang kini mengganggu kegiatan tidurnya. Dengan malas ia mengambil ponsel  miliknya, menyentuh Screen ponselnya.

“yeobeoseyo? Kyungsoo-ya!”

“kenapa hyung?”

“hari ini kita ada pertemuan dengan Partner bisnis kita yang baru. Kau tidak lupa kan?”

Mendengar itu, Kyungsoo langsung menepuk dahinya. Ia lupa kalau hari ini ada pertemuan dengan Partner bisnis. Ia langsung berlari ke kamar mandi membiarkan Joonmyeon yang terus berbicara.

 ************

 

Dengan roti yang masih utuh, Kyungsoo langsung masuk ke mobil. Ia menggigit roti tersebut sambil menyetir. Dasi yang masih belum ia kenakan, kancing kemeja bagian atas belum ia kancingkan, rambut yang masih berantakan dan setengah basah, dan Coat yang belum sempat ia kenakan membuat Kyungsoo terlihat berantakan secara penampilan. Kyungsoo benar-benar sedang terburu-buru. Pasalnya, pertemuannya dengan Partner bisnis akan dimulai 20 menit lagi dan Kyungsoo tak punya waktu banyak.

 ************

 

Kyungsoo berlari memasuki kantornya. Tak mempedulikan karyawan yang menatap bingung dirinya ataupun roti yang tengah ia kunyah. Kyungsoo memakai dasi di lehernya sambil berlari, merapikan rambutnya saat di Lift, dan mengancing kancing kemeja bagian atas 10 detik sebelum lift terbuka. Setidaknya ia sudah terlihat lebih rapi dan sopan.

 ************

 

Kyungsoo langsung melangkah ke ruang Meeting. Di sana terdapat seorang perempuan cantik yang tengah menunggunya bersama Joonmyeon. Kyungsoo langsung membungkukkan badan, meminta maaf atas keterlambatannya.

“maaf, saya terlambat 20 menit”

“tidak apa-apa, saya juga baru datang 5 menit yang lalu. Tadi saya kira anda sudah datang makanya saya panik, tapi untunglah anda baru datang” ujar perempuan itu sambil tersenyum.

“ini Partner bisnis kita kali ini. Dia memberikan investasi dengan jumlah sangat besar. Kita tak boleh mengecewakannya” bisik Joonmyeon, Kyungsoo hanya mengangguk.

“kita belum memperkenalkan diri, nama saya Park Hyejung”

“Do Kyungsoo” mereka berdua pun berjabat tangan.

“anda bisa meml menanggil saya Hyejung-ssi atau Hyejung-ah. Saya tidak terlalu suka berbicara formal”

“karena aku memanggil Joonmyeon dengan sebutan Oppa, mungkin ini juga berlaku untuk mu. Karena yang kutahu, aku lebih muda 2 tahun darimu. Boleh kan?” Kyungsoo hanya mengangguk, setidaknya itu membuat Partner bisnisnya kali ini nyaman bekerja sama dengannya.

“maaf, seharusnya aku datang bersama halmeoni. Tapi halmeoni sedang sakit jadi ia tak bisa datang saat ini. Dia pemegang saham terbesar JK&HC Crop

“tidak apa-apa. Kau yang sudah datang saja aku bersyukur. Bagaimana kalau kita bertiga pergi ke cafe?” usul Kyungsoo

“aku tidak bisa. Masih ada pekerjaan. Lebih baik kau dan Hyejung saja” tolak Joonmyeon dengan halus.

Ok

 ************

 

Hyejung memerhatikan Kyungsoo yang sibuk mengaduk Lemon Tea miliknya. Ia mengerutkan dahinya, tak mengerti. Pria yang berada di hadapannya berbeda dari yang lain. Ia lebih pendiam, tenang, dan tampil apa adanya. Tak ada sesuatu yang dimewahkan seperti kebanyakan Partner bisnis perusahaannya. Pria bermata bulat itu terlihat cuek dengan penampilannya yang bisa dibilang biasa-biasa saja.

“kenapa?” tanya Kyungsoo, Hyejung hanya menggelengkan kepala.

“nanti kau pulang dengan siapa, Hyejung-ah?”

“kenapa oppa menanyakan itu?”

“aku ingin mengantarkanmu pulang kalau tidak ada yang menjemputmu” perkataan Kyungsoo sukses membuat wajah Hyejung memerah.

“a–aku dijemput oleh oppaku”

“oh”

“Kyungsoo-oppa, sejujurnya aku tak terlalu mengerti tentang kerjasama antara perusahaan kita” mendengar itu, Kyungsoo yang tengah meminum Lemon Tea tersedak.

“oppa, kau tidak apa-apa?”

“lalu mengapa kau yang datang untuk urusan perusahaan?”

“halmeonnie ku yang menyuruh. Dia tengah sakit saat ini ditambah ia terus mendesakku untuk menikah. Setiap Partner bisnis perusahaan kami adalah pria, ia selalu menyuruhku untuk mewakilkannya. Katanya, untuk perkenalan” jelas Hyejung, benar-benar wanita yang polos.

Kyungsoo hanya memijat pelan pelipis. Ia mencium aroma PerjodohanWanita ini cantik dan polos. Aku tak yakin eomma akan melewatkan wanita satu ini, gumam Kyungsoo dalam hati.

 

 

Keesokan harinya

Kyungsoo mengerutkan dahinya saat melihat mobil Sport hitam milik Joonmyeon telah bertengger di depan rumahnya. Ia bingung. Tumben Joonmyeon menjemputnya tanpa ia minta.

“Kyungsoo-ya!”

“tumben hyung menjemputku. Ada apa?”

“eomma mu yang memintaku menjemputmu”

“hah?”

“eommamu yang memintaku menjemputmu! Katanya, aku harus membawamu ke suatu tempat. Kalau kau tetap menolak ikut denganku, aku disuruh menyeretmu bahkan menghajarmu” jelas Joonmyeon, Kyungsoo hanya mendengus kesal.

“kau tahu bagaimana sifat eommamu, Kyungsoo” kata Joonmyeon saat melihat raut wajah Kyungsoo yang berubah drastis.

 ************

 

Kyungsoo mengedarkan pandangan. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang ia kenal.

“hyung, kenapa kita ke Cafe?” tanya Kyungsoo, Joonmyeon hanya diam.

“aku tak lapar. Lagipula aku baru makan”

“kau kira aku tahu untuk apa aku membawamu ke sini?! Aku membawamu karena eomma mu yang memintanya, Kyungsoo! EOMMAMU!” seru Joonmyeon penuh penekanan.

“baiklah, hyung. Jangan marah. Aku hanya bertanya saja” kata Kyungsoo sambil mempoutkan bibirnya dengan lucu.

 ************

 

Kyungsoo mengerutkan dahinya. Matanya menyipit, berusaha meyakinkan objek yang kini tengah ia lihat. Ia bingung. Bagaimana bisa Hyejung mengenal eommanya? Setahunya, ia baru mengenal Hyejung kemarin. Dan bau Perjodohan itu kian terasa.

Tak ada bedanya dari Kyungsoo, Joonmyeon juga sama bingungnya. Ia tak mengerti dengan tingkah ibu dari sahabatnya itu. Selalu membuatnya bingung dan keheranan.

Di samping Hyejung, ada seorang wanita paruh baya. Wajahnya cantik, sama seperti Hyejung. .

“Kyungsoo-ya! Kau datang!” seru Nari, ia langsung memeluk Kyungsoo.

“eomma, apa yang mau kau lakukan?” bisik Kyungsoo

“Joonmyeon, kau duduklah” pinta Nari, mengabaikan pertanyaan Kyungsoo.

“EOMMA!”

Hyejung, wanita paruh baya yang Kyungsoo yakini adalah ibu dari Hyejung, Joonmyeon, dan Nari tersentak kaget. Kyungsoo menatap marah Nari. Ia yakin, kali ini dugaannya tak salah. Nari akan menjodohkannya dengan Hyejung yang bahkan baru mengenalnya 24 jam yang lalu.

“tidak bisakah untuk menghiraukan ku?! Aku hanya butuh penjelasan!” kesal Kyungsoo

Tanpa Kyungsoo sadari, ibu dari Hyejung menatap tak percaya Kyungsoo. Ia mengenal Kyungsoo, wajahnya terasa familiar baginya. Matanya berkaca-kaca, merindukan sosok yang sempat menjadi ayahnya selama sebulan.

“Kyungsoo-appa” mendengar itu, Kyungsoo mencari sumber suara, Ia mengenal siapa yang memanggilnya dengan sebutan itu. Satu-satunya orang yang menganggapnya pengganti ayah kandungnya.

“Kyungsoo-appa”

Kyungsoo menatap tak percaya wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Wanita paruh baya berparas cantik dan manis yang sangat familiar baginya. Melihat wanita tersebut, Kyungsoo seperti melihat seseorang yang ia sayangi. Seorang gadis kecil yang selalu bermanja dengannya di tahun 1980. Seorang gadis kecil yang ingin sekali dirinya menjadi ayah penggantinya. Seorang gadis manis dan cantik yang kepolosannya membuat Kyungsoo selalu gemas dengannya. Kyungsoo mengingat jelas gadis kecil yang kini telah menjadi wanita paruh baya, wanita yang mungkin saja menjadi ibu mertuanya.

 

Ya, dia adalah Jang Hyunhee

 

Kyungsoo menatap lekat Hyunhee, air matanya mengumpul di pelupuk mata bulatnya. Perasaan rindu, senang, dan bersalah bercampuk menjadi satu. Ia tak menyangka akan bertemu gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri di tahun 2020.

“eomma kenapa?” tanya Hyejung, Hyunhee hanya tersenyum tipis.

“Nari-ya, ini anakmu?” tanya Hyunhee, Nari mengangguk.

“bagaimana dengan anakku?” tanya Nari

“sepertinya kita bisa melakukan perjodohan ini, Nari-ya. Kita bisa menjadi besan”

“apa?!” kaget Hyejung, Kyungsoo, dan Joonmyeon bersamaan.

“EOMMA!” kesal Kyungsoo

“eomma, aku dan Kyungsoo-oppa baru berkenalan kemarin. Bagaimana bisa kami langsung dijodohkan hari ini juga?”

“aku mau ke toilet dulu” pamit Hyunhee

Hyejung hanya bisa mempoutkan bibirnya dengan kesal. Sang ibu mengabaikan pertanyaannya.

Tapi ia tersadar, sejak Hyunhee melihat Kyungsoo, ada yang aneh dengan sikap sang ibu. Hyunhee yang biasanya selalu tersenyum dan cerewet menjadi pendiam. Sebenarnya ada apa?, tanya Hyejung dalam hati.

 

Kyungsoo menyusul Hyunhee. Ia berjalan menuju toilet. Berharap wanita paruh baya itu bisa ia temukan.

  ************

 

Mata Kyungsoo membulat melihat Hyunhee terisak di depan toilet wanita. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya, mencegah isak tangis keluar dari mulutnya. Mata dan wajahnya memerah.

“Hyunhee-ya”

Mendengar suara lembut Kyungsoo, Hyunhee langsung berhambur memeluk Kyungsoo. Memeluk tubuh mungil pria yang sempat mengisi hari-harinya di tahun 1980.

“aku merindukan Kyungsoo-appa. Sangat merindukan Kyungsoo-appa”

“YA! Hyunhee-ya, kau bahkan lebih tua dariku. Sampai kapan kau menganggapku sebagai appamu? Bahkan aku akan menjadi menantumu” canda Kyungsoo berusaha menghibur Hyunhee. Ia melepas pelukannya.

“Hyunhee-ya, aku mau bertanya sesuatu”

“apa?”

“bagaimana kabar Jihyun?”

“eomma baik-baik saja”

“lalu Chanyeol?” pertanyaan Kyungsoo sontak membuat hati Hyunhee terasa perih. Ia kembali menangis.

“kenapa? Apa yang terjadi?! Chanyeol baik-baik saja kan?” panik Kyungsoo, Hyunhee menggeleng.

“Chanyeol-appa…”

“kenapa dengan Chanyeol?!”

“Chanyeol-appa sudah meninggal 23 tahun yang lalu” jawaban Hyunhee sontak membuat mata bulat Kyungsoo kian membulat.

“aku dan Chanyeol-appa mengalami kecelakaan saat liburan 23 tahun yang lalu dimana saat itu Chanyeol-appa mengajakku jalan-jalan setelah kelulusan kuliah”

Kyungsoo menatap Hyunhee dengan pandangan tak percaya. Padahal Kyungsoo sudah berjanji akan menemui Chanyeol di tahun 2020. Tapi takdir berkata lain, Tuhan telah mengambil Chanyeol sebelum Kyungsoo menepati janjinya.

“bagaimana dengan Suho? Baekhyun?” Hyunhee menggelengkan kepala.

“aku kehilangan kontak dengan Suho-samchoon yang pergi ke luar negri 20 tahun yang lalu. Sampai sekarang pun aku tidak tahu dimana dan bagaimana kabarnya. Sedangkan Baekhyun-samchoon, ia sudah menemani Chanyeol-appa di atas sana” penjelas Hyunhee makin membuat Kyungsoo ingin menangis. Baekhyun? Pria yang lebih terlihat seperti bocah itu?

 

Rasa kesepian dan rasa ditinggalkan menyelimuti Kyungsoo. 

 ************

 

Hyejung mengerutkan dahinya melihat sang ibu dan Kyungsoo kembali dari toilet bersama. Terlebih mereka berdua cukup lama untuk izin ke toilet.

“kenapa eomma lama?” tanya Hyejung

“eomma hanya ke toilet, kau terlihat khawatir sekali”

“eomma yakin akan menjodohkanku dengan Kyungsoo-oppa?” tanya Hyejung sambil menatap Kyungsoo yang hanya diam.

“tentu saja. Eomma dan Nari-ahjumma ingin sekali menjadi besan sejak kami kuliah. Benar kan, Nari?”

“iya. Kami sudah berjanji akan menjadi besan suatu saat nanti”

“Kyungsoo-ya, kau mau kan menikah dengan Hyejung?” tanya Nari pada anak semata wayangnya itu.

Kyungsoo menatap lekat Hyejung dan Hyunhee secara bergantian. Hyejung memang terlihat seorang perempuan yang baik. Pancaran matanya yang polos mampu membius siapapun pria yang berada di dekatnya.

Kyungsoo terlihat ragu. Sekalipun ia mendapatkan perempuan cantik dan baik seperti Hyejung, tetapi ia masih mencintai perempuan lain. Ia tak ingin menyakiti Hyejung dengan cintanya. Ia tak mau Hyejung kecewa. Tetapi ia tak bisa mengelak dengan impian sang ibu. Ia ingin membuat sang ibu bahagia, sama seperti Nari yang selalu membuatnya bahagia.

 

Mungkin, ini saatnya ia melupakan cinta pertamanya di tahun 1980. 

 

 

Seminggu kemudian

Kyungsoo terbangun setelah merasakan sinar matahari yang menelusup ke sela-sela ventilasi. Ia merenggangkan seluruh otot di tubuhnya, mengacak rambutnya yang sudah berantakan, dan merapikan tempat tidur King size miliknya. Kakinya melangkah ke arah dapur, bermaksud memasak sarapan untuk dirinya sendiri.

 

 

“huaaah!”

Kyungsoo terlonjak kaget bahkan hampir terjatuh melihat 2 orang wanita yang kini berada di dapurnya.

“eomma! Bisakah untuk izin dulu kalau ke sini?!” protes Kyungsoo, ia paling tak suka ibunya itu ke rumahnya tanpa izin.

“YA! YA! YA! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu pada eommamu, eoh?!”

Hyejung, wanita yang diajak oleh Nari itu hanya tersenyum kecil. Ia berusaha menahan tawa melihat pertengkaran antara anak dan ibu.

 

 

“Hyejung-ah, eommeoni tinggal dulu ya” pamit Nari, membiarkan anak semata wayangnya itu merengut kesal.

“ne”

 

 

Kyungsoo memandang sang ibu yang berjalan keluar. Ia pun mengikuti dari belakang, bermaksud mengantar Nari ke depan rumah. Sedangkan Hyejung hanya diam di tempatnya. Tangannya mengepal keras, tanda ia tengah gugup.

 ************

 

“aisssh, ada apa dengan wanita tua satu itu?” tanya Kyungsoo bertanya pada diri sendiri.

“maaf, aku ke rumahmu pagi-pagi dan mengganggu aktifitasmu” mendengar ucapan Hyejung, Kyungsoo baru sadar akan kehadiran Hyejung.

“ah iya, tidak apa-apa. Aku yakin, eomma ku yang memaksamu untuk ke sini”

“oppa, apa tidak apa-apa?”

“mmm?”

“apa oppa baik-baik saja dengan perjodohan ini? Kita bahkan baru saling mengenal seminggu yang lalu”

“aku tidak apa-apa dengan itu”

“apa oppa mencintai gadis lain?”

 

DEG!

 

Kyungsoo tersentak kaget mendengar pertanyaan perempuan yang kini bersamanya. Ia hanya bisa membungkam mulutnya, enggan menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Hyejung. Sekalipun ia menjawab pertanyaan Hyejung, tidak ada pengaruhnya bukan?

 

Toh, sampai kapanpun, Kyungsoo tak akan bisa memiliki perempuan itu

 

“oppa? Kau mendengarku?” Kyungsoo tersadar dari lamunannya. Ia kembali menatap Hyejung.

“aku mendengarmu”

“oppa, hari ini halmeonnie ku ingin menemuimu. Katanya, ia membuat Strawberry shortcake untuk kita”

Kyungsoo terbatuk mendengarnya. Neneknya Hyejung? Itu berarti—

 

Kyungsoo akan bertemu Jihyun?

 ************

 

Kyungsoo menelan Saliva dengan kasar. Ia gugup saat berada di sebuah rumah mewah yang tidak jauh dari kantornya. Hyejung yang tak mengetahui apapun langsung menarik Kyungsoo untuk masuk ke rumah neneknya itu.

“halmeonnie! Halmeonnie! Aku membawa seseorang!” seru Hyejung

 

 

Dari dapur, muncul seorang wanita yang umurnya hampir tiga perempat abad. Wanita itu tersenyum, kecantikan masih terpancar dari wajahnya yang dihiasi oleh garis keriput. Hyejung langsung berhambur, memeluk wanita itu yang tak lain adalah neneknya sendiri.

Kyungsoo terdiam, menatap kedua wanita yang kini tengah bergurau. Gelang pemberian Kyungsoo di tahun 1981 masih melingkari manis di pergelangan tangan Jihyun yang terlihat tulang berbalut kulit. Walaupun gelang itu telah usang, tetapi Jihyun tetap memakainya. Dan terlihat berbagai jahitan yang Kyungsoo yakini kalau Jihyun membenarkan gelang itu berkali-kali.

“oppa, ini halmeonnie ku” ujar Hyejung

Senyum Jihyun lenyap melihat wajah Kyungsoo. Ia teringat pemuda yang beberapa bulan lalu tertabrak olehnya. Ia ingat pria bermata bulat yang sangat ia cintai, sama seperti ia mencintai suaminya sendiri. Mata Jihyun melebar, air mata mengumpul di pelupuk matanya, wajahnya memerah. Ia sangat merindukan pria di hadapannya.

 

 

“aku mau ke toilet” pamit Hyejung

Setelah kepergian Hyejung, Kyungsoo tak kuasa menahan air mata. Ia memeluk tubuh ringkih Jihyun. Menangis di pundaknya, menumpahkan segala kerinduan yang ia pendam.

Jihyun hanya bisa diam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia memang masih mencintai pria bermata bulat itu. Ia juga merindukan Kyungsoo. Tapi ia merasa dilema. Di satu sisi, ia ingin kembali memiliki pria itu. Tapi di sisi lain, suatu hal yang mustahil dengan jarak umur mereka yang terbilang sangat jauh.

Kyungsoo menggenggam tangan Jihyun dengan erat. Tak peduli bagaimana sosok Jihyun di hadapannya. Tak peduli seberapa banyak keriput yang menghiasi wajah Jihyun. Tak peduli umur Jihyun yang membuatnya mustahil untuk memilikinya.

Debaran itu masih ada. Jantungnya yang serasa ingin meledak, sentuhan tangan mereka yang membuat Kyungsoo terasa tersengat listrik semakin membuat Kyungsoo yakin. Ia masih mencintai perempuan itu.

 

Walau terdengar gila.

 

“Jihyun-ah”

“kau tidak sopan!” seru Jihyun, menekan hasrat yang terus bergejolak.

“Jihyun-ah”

“YA! Aku ini halmeonnie mu! Kau harus berbicara yang sopan!”

“Jihyun-ah”

“aissssh, apa ibumu tak mengajarkanmu sopan santun?!”

“Jihyun-ah, aku merindukanmu” ucapan Kyungsoo sukses membuat Jihyun terdiam.

“aku ingin memelukmu”

“aku ingin kembali memilikimu”

“aku masih mencintaimu”

Jihyun membeku mendengarnya. Ia tak menyangka, pemuda yang berada di hadapannya itu masih mencintainya. Dengan sosok yang kini telah menjadi wanita lansia, Kyungsoo masih mencintainya.

“aku tak peduli dengan umurmu. Aku tak peduli keriput yang menghiasi wajahmu. Aku masih mencintaimu”

“cintamu itu sebuah kesalahan, Kyungsoo-ya” lirih Jihyun, Kyungsoo membulatkan matanya.

“kau sudah tahu kalau kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kau ditakdirkan bersama cucuku, Hyejung”

“kau tidak boleh memaksakan kehendak. Tuhan tidak menciptakanmu untuk bersamaku, melainkan bersama wanita lain”

“sekalipun kau masih mencintaiku, hapus rasa cinta itu menjadi sebuah rasa hormat. Kau tahu, sebentar lagi kau akan menjadi cucuku, bukan pria yang akan memilikiku”

“pria yang memilikiku hanya Hyunjo dan Chanyeol. Tak ada yang lain”

“Jihyun-ah…”

“kalau kau masih mencintaiku, aku mempunyai sebuah permintaan” Kyungsoo hanya menundukkan kepala. Benar kata Jihyun, ia bukan diciptakan untuk Jihyun.

“tolong jaga Hyejung untukku, sama seperti kau meminta Chanyeol untuk menjagaku dan Hyunhee”  Kyungsoo hanya bisa terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa.

“anggap aku sebuah angin yang menghilang begitu saja. Mengerti?” pinta Jihyun, Kyungsoo kembali meneteskan air mata.

“untukku dan Hyejung, kau mau kan?” tanya Jihyun, ia bisa melihat keraguan di mata bulat Kyungsoo.

Kyungsoo menatap wajah Jihyun yang sudah menua, berbeda saat di tahun 1980 dimana wajah Jihyun masih terlihat muda dan segar.

“halmeonnie! Cake ini mau kupotong?” tanya Hyejung dari dapur.

“potong saja, sayang! Tetapi sisakan untuk kakakmu” jawab Jihyun

“oppa akan datang? Aisssh, kenapa halmeonnie mengajak orang aneh itu” kesal Hyejung lalu menghampiri Jihyun dan Kyungsoo.

“walaupun aneh, dia tetap kakakmu”

“dan aku menyesal mempunyai kakak aneh sepertinya” gerutu Hyejung, wajahnya  benar-benar lucu.

“tapi dia tampan, Hyejung sayang”

Ok, kuakui ketampanannya itu. Tetapi tidak bisakah dia memanfaatkan wajahnya itu untuk mencari wanita? Dia selalu saja bersama sahabatnya yang sama-sama aneh. Aku curiga kalau mereka Gay” kesal Hyejung memeluk tubuh Jihyun.

Kyungsoo memerhatikan Hyejung. Benar-benar Childish dan imut. Rasanya, Kyungsoo melihat diri Hyunhee sewaktu masih kecil. Dia benar-benar Childish, mirip ibunya, gumam Kyungsoo.

“kapan oppa datang, halmeonnie?”

Terdengar suara mobil yang memasuki bagasi rumah Jihyun. Jihyun tersenyum, itu pasti suara mobil cucu laki-lakinya yang tak lain adalah kakak dari Hyejung. Hanya cucu yang satu itu berani memasukkan mobil ke dalam bagasi rumahnya yang terbilang kotor.

“halmeonnie sayang! Cucu kesayanganmu ini datang!”

Kyungsoo mengerutkan dahinya. Mendengar perkataan kakak Hyejung, dapat disimpulkan kalau dia pasti orang yang aneh. Tak heran kalau Hyejung terlihat kesal dengan kakaknya yang satu itu.

 

 

Mata Kyungsoo membulat melihat sosok pria tampan dengan pakaian kantornya. Pria bertubuh tiang listrik dengan mata yang lebar untuk orang Korea itu terasa familiar baginya.

“halmeonnie sayang, cucumu yang paling tampan ini datang” ujar pria itu.

Kyungsoo mencubit pipinya, mencoba meyakinkan penglihatannya. Berkali-kali ia menampar pipinya dan mencubit pipi serta lengannya, tetap saja terasa sakit dan nyata.

“Kyungsooo-oppa, kau kenapa?” tanya Hyejung, Kyungsoo tersadar dari lamunannya.

“ti–tidak apa-apa”

“YA! Hyejung-ah, ini calon suamimu itu?” tanya kakak laki-laki Hyejung.

“iya, memangnya kenapa?” tanya Hyejung sedikit acuh pada kakanya itu. Pria itu hanya bisa mengerutkan bibirnya dengan kesal.

“Kyungsoo-oppa, walaupun aku menyesal untuk mengakui ini, ini adalah kakakku. Dia bernama Chanyeol-oppa”

Kyungsoo hampir limbung mendengarnya. Bagaimana bisa dengan fisik yang mirip dan nama yang sama? Takdir apa yang sedang Tuhan rencanakan untuknya?

“aku Park Chanyeol” ujar Chanyeol sambil tersenyum lebar, memperlihatkan sederet gigi putih bersih miliknya.

Sesaat Kyungsoo terdiam. Menatap tangan Chanyeol yang terulur ke arahnya. Bahkan ukuran tangannya pun sama, begitu fisik dan cara bicaranya. Suara yang berat serta tinggi badan yang seperti tiang listrik itu membuat Kyungsoo tercengang melihat sosok Chanyeol yang seperti kembali hidup.

“Do Kyungsoo”

Kyungsoo membalas uluran tangan Chanyeol. Ia tersenyum, menutupi seluruh kekagetannya akan sosok Chanyeol yang kini seorang kakak dari Park Hyejung.

 

Takdir apa ini?

 

 

Keesokan harinya

 

BRAAK!

 

Joonmyeon tersentak kaget saat Kyungsoo tiba-tiba menggebrak meja kerjanya. Bahkan pulpen yang ada di genggamannya terlempar begitu saja entah kemana.

“YA!”

“siapa nama harabeojimu?” tanya Kyungsoo to the point.

“hah?”

“siapa nama harabeojimu?!”

“kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini?”

“aisssh, kau cukup menjawabnya! Tidak sulit kan?!” kesal Kyungsoo, Joonmyeon benar-benar membuat rasa penasarannya naik sampai ke ubun-ubun.

Joonmyeon mengerutkan dahinya. Merasa aneh dengan sikap sahabat bermata bulatnya satu itu. Ia memang sudah mengenal lama Kyungsoo. Tetapi diantara mereka berdua, jarang membicarakan keluarga masing-masing terlebih nama anggota keluarga. Mereka lebih memilih membicarakan pekerjaan atau diri masing-masing.

“nama harabeojiku Kim Suho”

Mata Kyungsoo membulat mendengarnya. Apa-apaan ini? Takdir macam apa ini?

“kau yakin?”

“YA! Kau meragukanku? Aku ini cucunya!” kesal Joonmyeon

“lalu dimana harabeojimu?” tanya Kyungsoo

“memangnya kenapa?”

“sudahlah, jawab saja”

“harabeojiku sudah meninggal 2 tahun yang lalu”

Kini dada Kyungsoo terasa sesak. Suho juga meninggalkannya, sama seperti kedua temannya di tahun 1980.

“begitu ya?”

“memangnya kenapa?” tanya Joonmyeon sambil mengangkat salah satu alisnya.

Kyungsoo tak menjawab. Ia hanya berbalik, bermaksud pergi ke ruang kerjanya. Langkahnya yang terhuyung-huyung dan kakinya yang lemas membuat Joonmyeon khawatir. Ia segera berlari kecil, menghampiri pria bermata bulat itu lalu merangkul kedua pundaknya.

“kau tidak apa-apa, Kyungsoo-ya?” khawatir Joonmyeon melihat wajah pucat Kyungsoo.

Kyungsoo hanya diam. Ia enggan menjawab pertanyaan Joonmyeon. Kalaupun ia jelaskan, Joonmyeon tak akan mengerti. Bahkan ia sendiri juga tak terlalu mengerti.

 

 

Keesokan harinya

Kyungsoo menatap Chanyeol yang kini di hadapannya. Ia ingin kembali memastikan sesuatu. Ingin mengetahui apa rencana Tuhan untuknya.

“Chanyeol-hyung”

“apa? Kau mau bertanya tentang Hyejung sebelum kalian menikah bulan depan?” tanya Chanyeol, Kyungsoo menggeleng.

“aku sudah mengetahui sifatnya”

“lalu?”

“apakah kau mengenal seseorang dengan marga Byun?”

“iya. Aku memiliki sahabat bermarga Byun”

“apakah dia bernama Byun Baekhyun? Ah, atau nama harabeojinya bernama Byun Baekhyun?”

“aku memang memiliki sahabat bernama Byun Baekhyun. Ia memiliki nama yang sama seperti harabeojinya. Tunggu dulu—” Chanyeol menatap lekat Kyungsoo, ia menyadari sesuatu.

“bagaimana kau tahu tentang Baekhyun?”

Kyungsoo hanya diam, enggan menjawab pertanyaan yang terlontar dari pria bertubuh tinggi tersebut. Lagipula, apakah pria di hadapannya akan mengerti saat ia menjelaskan semuanya?

“bisakah suatu saat nanti aku bertemu dengan Baekhyun?”

“kenapa harus suatu saat nanti? Dia akan menjemputku”

“Chanyeol-ah!”

Kyungsoo tersentak kaget mendengar panggilan yang tertuju untuk Chanyeol. Terlihat seorang pria dengan mata sipit yang menggemaskan dan bibir yang tipis. Ia tersenyum lebar ke arah Chanyeol, senyuman yang sama seperti temannya di tahun 1980.

 

Apa-apaan ini?

 

Baekhyun duduk di samping Chanyeol. Ia menatap Kyungsoo dengan mata yang sedikit melebar. Tatapan Baekhyun seperti berkata, inikah calon suami adikmu, Chanyeol?

“ini Do Kyungsoo, dia kekasih adikku” ujar Chanyeol, Baekhyun hanya mengangguk mengerti lalu mengulurkan tangan kanannya.

Sesaat Kyungsoo terdiam, menatap tangan Baekhyun yang terulur ke arahnya. Sama seperti reaksinya pertama kali melihat Chanyeol.

“Do Kyungsoo”

“Byun Baekhyun. Oh ya, kudengar dari si aneh ini, kau akan menikah dengan Hyejung bulan depan. Benarkah?” Kyungsoo hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Baekhyun.

“huaaah, adikmu mendahuluimu, Yeol! Aku bisa mencapmu sebagai pria yang tidak laku” goda Baekhyun sambil menyikut lengan Chanyeol.

“YA! Kau juga belum memiliki kekasih”

Kyungsoo hanya bisa menundukkan kepala. Baekhyun terlihat sama dengan Baekhyun di tahun 1980. Sifatnya yang Childish, humoris, tidak mau mengalah, dan aneh benar-benar mirip.

Rasanya Kyungsoo ingin menangis. Ia meninggalkan sahabat sebaik mereka di tahun 1980. Seharusnya ia tak meninggalkan mereka. Seharusnya ia bisa terus di tahun 1980. Dengan begitu, ia tak akan kehilangan Jihyun ataupun sahabat-sahabatnya.

 

Atau seharusnya Kyungsoo tak bermain-main dengan jam pasir itu?

 

 

Keesokan harinya

Hari ini Kyungsoo menemani Hyejung pergi ke butik. Mereka berencana untuk membeli perlengkapan seusai menikah dan membeli gaun pernikahan. Setidaknya ibu mereka masih membebaskan mereka dalam hal ini.

 ************

 

“oppa, bagaimana kalau kita membeli piyama yang ini saja?” tanya Hyejung sambil menunjukkan sepasang piyama.

“Hyejung-ah, kau tega denganku? Aku tak suka motif Teddy Bear

“tapi ini lucu”

“aku tidak mau terlihat imut”

“tapi kau diciptakan untuk berwajah Cute. Kalau pakai piyama ini, kurasa oppa pantas”

“Hyejung-ah…”

“Kyungsoo-oppa…”

Mereka malah saling merajuk hanya karena piyama. Tak menyadari kalau pegawai butik menahan tawa.

“kita pilih yang lain saja ya?” pinta Kyungsoo

“baiklah. Tapi biarkan aku membeli ini untukku sendiri” ujar Hyejung mengalah.

ok, captain!

 

 

“Kyungsoo-oppa”

“apa?”

“bagaimana kita membeli ini?”

Kyungsoo mengerinyit melihat kedua sandal berbentuk Teddy Bear yang imut. Ia menghela napas. Sepertinya calon istrinya itu benar-benar penggemar Teddy Bear.

“boleh, tapi untuk dirimu sendiri saja”

“aku mau oppa juga memilikinya”

“Hyejung-ah…”

“tadi aku sudah mengalah dalam hal piyama, sekarang oppa yang harus mengalah” rengek Hyejung sambil mempoutkan bibirnya dengan lucu. Benar-benar imut.

“aisssh, baiklah”

Hyejung tersenyum lebar mendengarnya. Ia memeluk lengan Kyungsoo lalu menariknya untuk membeli gaun pernikahan. Perempuan ini baik. Apakah rasa cintaku pada Jihyun benar-benar sebuah kesalahan?, tanya Kyungsoo pada dirinya sendiri.

 ************

 

Kyungsoo terduduk diam. Sesekali kakinya menghentak pelan lantai, mengikuti musik yang tengah diputar. Hyejung sedang mencoba gaun pengantin yang telah dipilih oleh Kyungsoo. Dan Hyejung akui, selera Fashion Kyungsoo benar-benar tinggi sekalipun pria bermata bulat itu selalu berpenampilan santai.

 

 

“apakah aku terlihat cantik?” tanya Hyejung pada pegawai butik.

“anda sangat cantik”

“aku khawatir, kekasihku tak menyukainya. Ia malah menyukai gaun ini”

“tentu saja kekasih anda lebih menyukai anda”

“benarkah?”

“saya yakin, kekasih anda akan terpana melihat anda secantik ini”

 

 

Benar saja, Kyungsoo terpana melihat betapa cantiknya Hyejung. Gaun yang Hyejung kenakan benar-benar pas. Dengan paras yang cantik berpadu dengan gaun yang cantik pula membuat Hyejung seperti seorang putri.

“Kyungsoo-oppa, bagaimana?” tanya Hyejung, Kyungsoo hanya tersenyum lebar.

“cantik”

Hyejung ikut tersenyum lebar. Ia pun meminta pegawai toko untuk memotretnya bersama kekasihnya itu. Kebetulan Kyungsoo sudah memakai Tuxedo yang keren.

“1, 2, 3—”

 

JPREET!

 

Keesokan harinya

Kyungsoo terlihat gugup. Tangannya berkeringat dan bergemetar, jantungnya terasa ingin meledak saat menatap wanita lansia yang kini berada di hadapannya.

Ia memiliki jadwal bertemu dengan Jihyun, membicarakan tentang kerjasama mereka. Jihyun juga terlihat gugup. Wajahnya sedikit memerah.

“Jihyun-ah”

“apa?”

“benarkah cintaku padamu sebuah kesalahan?”

“iya”

“lalu apa yang harus kulakukan?”

“cintai Hyejungku” pinta Jihyun

“tapi—”

“sudah kubilang, kau tak boleh memaksakan takdir. Sebentar lagi Hyejung milikmu dan kau miliknya”

“aku tahu”

“kau harus berusaha mencintai Hyejung. Dia tak salah apapun”

“sama seperti aku mencintaimu Hyunjo, Chanyeol, dan kau. Aku mencintai kalian”

“di saat aku mencintaimu, kau meninggalkanku. Dan kau menyuruhku untuk mencintai Chanyeol. Aku melakukannya” Kyungsoo terhenyak mendengar perkataan Jihyun. Ia hanya bisa terdiam.

“sekarang, aku yang akan memintanya sebagai balasan atas permintaanmu. Cintai Hyejung, jaga dia dengan baik. Kau tahu, aku sungguh menyayanginya”

“baiklah” senyuman Jihyun mengembang mendengar jawaban singkat dari pria bermata bulat yang kini berada di hadapannya. Walaupun ada rasa tidak rela yang menyesakkan dadanya.

“aku mau bertanya sesuatu padamu” ujar Kyungsoo, Jihyun hanya memiringkan kepalanya.

“tentang cucumu yang satu itu, mengapa dia bernama Chanyeol?”

Jihyun hanya tersenyum miris. Ia mengingat jelas mengapa cucu laki-laki satu-satunya itu diberi nama yang sama dengan nama suaminya.

“sebenarnya nama dia bukan Park Chanyeol. Tetapi Park Seojo” Kyungsoo mengerutkan dahinya, menaikan salah satu alisnya. Tidak mengerti dengan maksud perkataan Jihyun.

“Hyunhee menikah saat umur 18 tahun. Ia melahirkan Chanyeol diumur yang terbilang muda, 19 tahun. Saat lahir, nama Chanyeol bukanlah Park Chanyeol, melainkan Park Seojo”

“saat kelulusan kuliah, Chanyeol suamiku mengajak Hyunhee jalan-jalan. Katanya sebagai hadiah atas nilai IPK nya yang tinggi”

“tapi mirisnya, Hyunhee dan suamiku mengalami kecelakaan. Bus yang mereka naiki jatuh ke jurang. Hyunhee masih diberi kesempatan untuk hidup. Tapi tidak dengan suamiku. Ia meninggal saat di perjalan ke rumah sakit karena terlalu banyak mengeluarkan darah” lanjut Jihyun tak kuasa menahan tangis.

“sejak saat itu, Hyunhee mengganti nama Seojo menjadi Chanyeol untuk mengenang suamiku yang satu itu. Suami Hyunhee terlihat tak keberatan bahkan sangat menyetujui niat Hyunhee. Kebetulan suami Hyunhee bermarga Park sehingga namanya pun menjadi Park Chanyeol, sama seperti suamiku”

“saat Chanyeol beranjak dewasa, aku baru menyadari sesuatu. Ia seperti reinkarnasi dari suamiku. Tinggi badannya, suara beratnya, matanya yang lebar mengingatkanku akan dirinya. Aku sungguh bersyukur Tuhan memberikan seseorang yang mirip dengan suamiku sekalipun ia adalah cucuku sendiri”

Kyungsoo hanya bisa membeku mendengarnya. Kini jelas semuanya mengapa Chanyeol, kakak dari kekasihnya itu diberi nama yang sama seperti sahabatnya di tahun 1980.

 

Mungkinkah Chanyeol, Baekhyun, dan Joonmyeon diciptakan untuk menggantikan sahabatnya di tahun 1980?

 

 

4 hari kemudian

Kyungsoo kembali sibuk dengan pekerjaannya yang telah terbengkalai. Akhir-akhir ini ia jarang sekali masuk kerja. Ia sibuk mempersiapkan pernikahannya yang akan berlangsung bulan depan, tepatnya 2 minggu lagi.

Semakin dekat dengan hari pernikahan, Kyungsoo merasa semakin gugup. Memikirkan ia akan menjadi seorang suami saja sudah membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Bahkan Kyungsoo merasa ia insomnia karena memikirkan pernikahannya dengan Hyejung.

 

 

Tiba-tiba dering ponsel Kyungsoo memenuhi ruang kerjanya. Ia menghentikan tangannya yang sedaritadi terus menulis dan mengetik. Kyungsoo tersenyum saat tahu kekasihnya yang menelpon dirinya.

“yeobeoseyo?”

“oppa…” Kyungsoo tersentak kaget mendengar isak tangis yang ia yakini dari mulut Hyejung.

“kau kenapa, Hyejung-ah?!”

“halmeonnie… halmeonnie…”

“ada apa dengan halmeonnie?!”

“dia masuk rumah sakit pagi tadi. Ia ditemukan pingsan di ruang tamu oleh Chanyeol-oppa”

“apa?!”

 ************

 

Kyungsoo langsung berlari menelusuri lorong rumah sakit. Tak mempedulikan kebisingan yang ia buat karena langkah kakinya. Ia mengedarkan seluruh pandangannya, mencoba mencari kekasihnya.

“Hyejung-ah…” Kyungsoo terhenyak melihat wajah Hyejung basah oleh air mata.

“oppa”  Hyejung langsung berhambur memeluk pria yang notabene adalah kekasihnya. Ia menangis di pelukan sang kekasih.

“ada apa?” tanya Kyungsoo, nada bicaranya terdengar bergetar.

“sebenarnya halmeonnie mengidap penyakit. Ia sudah dipaksa oleh eomma dan appa untuk dirawat di rumah sakit tetapi ia menolak”

 

DEG!

 

Mendengar itu, Kyungsoo merasa sulit bernapas. Paru-parunya terasa sesak, jantungnya terasa berhenti memompa darah.

“dari 3 hari yang lalu, halmeonnie sudah terlihat pucat bahkan sudah tak sanggup untuk pergi ke kantor. Maka dari itu, Chanyeol-oppa yang menggantikan posisi halmeonnie untuk beberapa hari”

“tadi pagi, Chanyeol-oppa yang bermaksud memberikan sebuah laporan pun ke rumah halmeonnie. Ia malah menemukan halmeonnie tak sadarkan diri di ruang tamu” lanjut Hyejung, tangisannya makin pecah. Kyungsoo bisa merasakan pundaknya basah oleh air mata Hyejung.

“oppa, aku sangat menyayangi halmeonnie. Aku ingin ia melihat pernikahanku nanti. Aku tak mau kehilangan halmeonnie”

Kyungsoo hanya diam. Ia terus mengelus punggung  Hyejung, berusaha memberikan ketenangan pada wanita itu.

 

“cintamu itu sebuah kesalahan, Kyungsoo-ya”

 

 

Kyungsoo menahan tangis. Ia makin memeluk erat tubuh Hyejung, berusaha menahan tangis yang bisa pecah kapanpun. Ia tahu, sekalipun ia mencintai Jihyun, ia tak bisa memilikinya. Tetapi bisakah Tuhan tak mengambil orang yang ia cintai secepat ini? Tidak bisakah orang yang ia cintai tahu kalau ia menepati janjinya untuk menjaga Hyejung?

 

Tidak bisakah Jihyun berada di sisinya lebih lama lagi walau ia hanya sebatas seorang cucu?

 

 

2 hari kemudian

Kyungsoo menatap Jihyun yang kini terbaring lemah tak berdaya. Di samping Jihyun, Hyejung terus saja menggenggam tangan sang nenek, berusaha menguatkan nenek kesayangannya itu. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus merelakannya?, tanya Kyungsoo dalam hati.

Kyungsoo teringat akan perkataan dokter 2 hari yang lalu. Jihyun sebaiknya dibiarkan pergi dengan tenang. Seharusnya Jihyun dibiarkan melepas semua rasa sakitnya, terlebih tubuhnya yang lemah dimakan usia. Mengingat itu sanggup membuat dada Kyungsoo sesak. Ditambah Hyunhee dan Nari memutuskan untuk menunda pernikahan dirinya dan Hyejung yang sukses membuat Kyungsoo frustasi setengah mati.

 

 

“HALMEONNIE! HALMEONNIE!” panik Hyejung saat melihat tubuh sang nenek kejang-kejang.

Kyungsoo langsung berhambur keluar, menarik salah satu dokter yang kebetulan lewat di depannya. Dokter itu awalnya bingung, tetapi langsung mengerti saat melihat kondisi Jihyun.

“maaf, bisa menepi sebentar?” pinta dokter

Kyungsoo langsung memeluk Hyejung lalu membawanya ke dekat pintu. Terlihat para medis sibuk menstabilkan kondisi Jihyun. Sedangkan Hyejung membenamkan kepalanya di dada Kyungsoo. Air matanya tak pernah berhenti mengalir dari kedua mata Hazzel nya.

 

 

Setelah beberapa menit, Jihyun terlihat kembali tenang. Dokter yang menangani pun hanya bisa menggelengkan kepala. Ia pun menghampiri kedua pasangan yang sedaritadi tak meninggalkan ruang rawat satu inci pun.

“maaf, saya harus mengatakan hal ini lagi. Sebenarnya tubuh nyonya Go sudah tidak kuat lagi untuk bertahan” Hyejung hanya bisa menangis, tak tahu harus berkata apa.

“tapi sepertinya ada sesuatu yang menahan nyonya Go untuk tenang. Sesuatu yang membuat nyonya Go memaksakan dirinya untuk bertahan”

Perkataan dokter sontak membuat Mata bulat Kyungsoo makin membulat. Setetes air mata turun begitu saja dari mata bulatnya.

 

Apakah Jihyun bertahan untuk dirinya?

 

Kyungsoo melepaskan pelukan Hyejung dengan sangat halus. Perlahan ia berjalan ke arah ranjang Jihyun. Ia pun sedikit merunduk, menyamakan posisi bibirnya dengan telinga Jihyun. Dokter dan Hyejung tak mengerti untuk apa Kyungsoo melakukan itu. Tetapi mereka hanya bisa diam.

 

“cintamu itu sebuah kesalahan, Kyungsoo-ya”

 

“Jihyun-ah, kau bisa mendengarku kan?” tanya Kyungsoo, suaranya sangat pelan, nyaris tak terdengar bahkan Hyejung tak bisa mendengarnya.

“Jihyun-ah, aku mengakui cintaku ini salah. Maka dari itu, aku ingin membuat cintaku ini menjadi sebuah cinta yang benar”

“aku ingin mencintai Hyejung,  seperti permintaanmu. Aku ingin mencintai Hyejung, seperti kau mencintai Chanyeol. Aku ingin menumbuhkan rasa cintaku untuk Hyejung dan menjaganya seumur hidupku. Aku benar-benar ingin tulus mencintainya” bisik Kyungsoo, setetes air matu turun dari kedua mata Jihyun yang terpejam.

“aku merelakanmu pergi. Temuilah Chanyeol, Suho, Baekhyun, dan Hyunjo. Sampaikan pada mereka bertiga bahwa aku merindukan mereka. Sampaikan pula permintaan maafku pada Hyunjo”

“Jihyun-ah, aku sangat mencintaimu walau cinta kita ini mustahil untuk saling memiliki”

“tetapi aku bukan pria egois. Aku tahu kau bukan diciptakan untukku, kau diciptakan untuk Chanyeol dan Hyunjo”

“maka dari itu, pergilah. Lepas semua rasa sakit yang menyiksamu. Lepaskan segala penderitaan yang telah kau alami”

“aku mencintaimu dan maafkan aku, Go Jihyun”

“aku berjanji akan menjaga semua keluargamu. Aku akan menjaga Hyunhee, Chanyeol cucumu itu, dan Hyejung. Aku akan menjaga mereka semua dengan seluruh tenagaku”

“sekarang kau tak perlu khawatir, ada aku yang akan menjaga mereka. Kau percaya pada ku kan?”

Sesaat setelah itu, terlihat garis elektrogram perlahan mulai lurus. Kyungsoo tersenyum, itu tandanya Jihyun masih percaya padanya. Jihyun masih mencintainya. Senyuman Kyungsoo menghantarkan kepergian Jihyun. Ia tak mau ada tangis lagi. Ia tahu, Jihyun paling benci dengan tangisan.

“aku akan menepati janjiku, Jihyun-ah”

 

 

Keesokan harinya

Kyungsoo terduduk di sebuah bukit yang tak jauh dari tempat pemakaman Jihyun. Ia membenamkan kepala di kedua kakinya, merasakan semilir angin yang menerpa wajah tampannya. Ia menatap langit, berusaha merelakan kepergian Jihyun.

 

Pada akhirnya, semua orang yang ia sayangi di tahun 1980 meninggalkannya.

 

Kyungsoo tersentak kaget saat merasakan sebuah sentuhan di pundaknya. Ia berbalik dan menatap Chanyeol yang kini menatapnya dengan senyuman kecil walaupun matanya masih saja sembab. Tak bisa dibohongi kalau pria tinggi tersebut sempat menangis saat di pemakaman Jihyun.

“Chanyeol-hyung…”

“apa yang kau lakukan di sini?” tanya Chanyeol, ia pun duduk di sebelah Kyungsoo.

“aku hanya menunggu Hyejung dan eommeonie di sini” jawab Kyungsoo. Bohong bila ia hanya menunggu kedua wanita itu. Ia hanya tak mau ada yang mengetahui kalau ia juga menangis seperti Chanyeol, Hyejung, dan Hyunhee.

“aku hanya ingin memberikan ini” ujar Chanyeol sambil memberikan sebuah kotak cokelat yang sudah kuno.

“ini apa, hyung?”

“entahlah. Sebelum halmeonnie meninggal, ia memintaku untuk memberikan ini padamu”

 

Kyungsoo hanya mengerutkan dahinya, membuka tutup kotak tersebut. Terlihat sebuah kertas dan gelang yang telah usang. Chanyeol yang tahu itu privasi hanya sibuk mengalihkan pandangannya dengan bermain ranting pohon.

 

To: Do Kyungsoo

Kyungsoo-ya, aku menulis surat ini untuk menumpahkan segala yang kurasakan. Perasaan yang selama ini kubur diam-diam. Kurasa bila kau telah membaca ini, Chanyeol sudah memberikan kotak itu padamu kan? 

Kyungsoo-ya, aku masih mencintaimu. Sekalipun cinta kita salah, tetapi aku senang karena pernah mencintaimu, mencintai Chanyeol, dan mencintai Hyunjo.

Aku sungguh rakus bukan? Mencintai ketiga pria sekaligus? Kalian yang salah, membuatku dalam keadaan dilema. Membuatku harus membagi 3 hati dan itu tidak mudah. Kau tahu itu, kan?

Sejujurnya, ada perasaan tak rela melepasmu bersama wanita lain walaupun itu cucuku sendiri. Aku masih mencintaimu dan rasa cemburu itu wajar kan?

Aku selalu menekan hasratku untuk memilikimu, memelukmu, dan bersamamu kembali. Itu sulit bagiku. Diusiaku yang bahkan tidak diizinkan untuk memiliki banyak beban pikiran, tetapi aku malah memikirkan segala hal. Segala hal yang menyangkut tentang dirimu. 

Aku akui, aku perempuan pengecut yang hanya bisa mengungkapkan perasaanku di sebuah kertas, tetapi itu tak masalah bukan? Selama kau mengetahuinya, aku akan merasa lega. 

Terima kasih, karena kau mencintaiku sama seperti aku mencintaiku. Terima kasih karena sempat menjadi milikku walaupun hanya satu bulan di tahun 1980. Ku rasa, tahun tersebut adalah tahun terindah bagiku. Dan terima kasih karena kau telah memilihkan pria penggantimu untukku. Kau tahu? Pria pilihanmu tepat. Chanyeol selalu membahagiakanku, kami hidup sebagai keluarga yang harmonis. Aku sungguh bahagia dengan hidupku. Terima kasih atas semuanya

Go Jihyun

 

Kyungsoo hanya tersenyum membaca surat yang kini sukses membuat air mata deras mengalir dari mata bulatnya. Ia pun mengambil gelang milik Jihyun, pemberiannya di tahun 1981. Kyungsoo menggenggam erat gelang usang tersebut.

 

Cinta pertamaku, selamat jalan. Berbahagialah di sana, kata Kyungsoo dalam hati.

 

 

Sebulan kemudian

Hari ini adalah hari sakral bagi Kyungsoo dan Hyejung. Mereka melangsungkan pernikahan hari ini. Walaupun sempat tertunda, tetapi tidak mengurungkan niat Kyungsoo dan Hyejung untuk menikah.

 

 

Saat di ruang ganti, Kyungsoo hanya bisa terdiam. Wajahnya kaku, tangannya bergemetar serta ia gugup. Sesekali ia menghentakkan pelan kakinya. Baru kali ini ia setegang ini.

“ya ampun, pengantin prianya pemalu sekali” ejek seseorang membuat Kyungsoo tersadar akan lamunannya.

“Baekhyun-hyung…”

“annyeong, mau kutemani?” tawar Baekhyun, Kyungsoo hanya tersenyum mengiyakan.

 

 

Kyungsoo dan Baekhyun terdiam. Tak ada topik apapun yang bisa mereka bicarakan. Membuat ketegangan kian terasa.

“Kyungsoo-ya”

“ne?”

“beberapa hari yang lalu, eommaku bercerita sesuatu padaku”

“tentang mengapa namaku sama dengan nama harabeojiku” Kyungsoo terlonjak kaget mendengarnya.

“eommaku bilang, dulu harabeoji memiliki seorang sahabat yang sangat ia sayangi. Selama sebulan penuh, ia, harabeoji dari Chanyeol, dan harabeoji dari Joonmyeon-hyung, serta halmeonnie dari Hyejung melewati hari bersama sahabat baru harabeojiku yang satu itu”

“tetapi di tahun baru, sahabat dari harabeojiku menghilang. Ia Lost Contact dengannya, sahabat barunya yang satu itu seperti lenyap ditelan bumi” lanjut Baekhyun, Kyungsoo hanya bisa menelan Saliva dengan kasar.

“saat aku lahir, harabeoji meminta eomma untuk menamaiku dengan nama Baekhyun, nama yang sama dengan nama dirinya. Ia ingin, suatu saat nanti sahabatnya itu kembali padanya”

“tetapi sampai sekarang, eomma ataupun aku tak mengetahui siapa nama sahabat harabeoji ku yang satu itu. Yang kutahu, ia bermata bulat dan berbadan mungil”

Kyungsoo menatap intens Baekhyun. Ia mendesah, menahan air matanya. Sahabat yang harabeojimu maksud ada di sini, Baekhyun-hyung, lirih Kyungsoo dalam hati.

“Kyungsoo-ya! Kau jangan gugup!” seru Baekhyun mampu mengalihkan pembicaraan.

“dia memang wanita gila dan manja, sama seperti kakaknya. Tetapi dia wanita yang baik” ujar Baekhyun sambil tersenyum lebar.

“siapa yang gila, eoh?!” Baekhyun tersentak kaget mendengar suara yang ia kenal. Perlahan ia membalikkan badannya.

“kau mengatai aku gila, eoh?! Kau sendiri seperti gay dengan Chanyeol-oppa!” seru Hyejung

“YA! Apa kau bilang?! Gay?!”

Kyungsoo hanya  bisa menggelengkan kepalanya. Menonton perang mulut antara Hyejung dan Baekhyun mampu membuat rasa gugupnya sedikit mereda.

 ************

 

“I, 2 3,–KYAAAA!”

Kyungsoo dan Hyejung langsung menengok ke arah belakang. Penasaran siapa yang mendapatkan bunga dari lemparannya dan Hyejung.

Kini Kyungsoo dan Hyejung resmi menjadi suami istri. Mereka terlihat sangat bahagia, tanpa ada kebohongan sedikitpun.

 

Ternyata Chanyeol yang mendapatkan bunga tersebut. Tetapi ia tak sendiri, seorang perempuan cantik juga mendapatkannya. Kebetulan mereka berdiri tepat bersebelahan dan jarak mereka begitu dekat.

“huaaah! Park Chanyeol yang mendapatkannya!” seru Baekhyun, ia merangkul kekasihnya. Pantas Baekhyun tak terima saat ia disebut Gay. Toh, ternyata ia sudah memiliki kekasih.

“aissh, padahal aku ingin sekali mendapatkan bunga itu. Aku berharap kita segera menikah” gerutu Joonmyeon yang juga tengah merangkul kekasihnya, Bae Joohyun.

“makanya, oppa cepat-cepatlah melamarku! Kau dilangkahi oleh Kyungsoo” ujar Joohyun

“baiklah, hari ini juga aku akan melamarmu” Joohyun yang mendengar itu tersenyum lebar. Ia merasa seperti terbang ke langit paling atas.

Chanyeol dengan malu-malu menatap perempuan cantik itu. Tak bisa dipungkiri, ukiran wajah perempuan itu nyaris sempurna.

“namaku Park Chanyeol, siapa namamu?” tanya Chanyeol malu.

“Kim Yura”

“boleh minta nomor ponselmu?”

 

 

4 tahun kemudian

“yeobo-ya” panggil Kyungsoo,

“ne?”

“kau masih sibuk dengan laporanmu?” tanya Kyungsoo

Kini Hyejung dan Kyungsoo telah menjadi keluarga kecil  yang harmonis. Memiliki seorang anak perempuan cantik yang mereka beri nama Do Jihyun. Hyejung yang memintanya karena ia ingin terus mengenang sang nenek yang terlampau baiknya itu.

“oppa perlu sesuatu?” tanya Hyejung, ia langsung menutup laptop putih miliknya.

“yeobo-ya” rengek Kyungsoo lalu memeluk pinggang Hyejung.

“aisssh, sifat Childish mu kambuh lagi. Seharusnya aku tak membiarkanmu dekat-dekat dengan Chanyeol-oppa” gerutu Hyejung

“yeobo-ya, kita tidur ya?”

“tetapi aku mau membuat susu untuk Jihyun” ujar Hyejung sambil melepaskan pelukan Kyungsoo.

Kyungsoo hanya mengerutkan bibirnya dengan kesal. Sejak Hyejung kembali bekerja setelah melahirkan, Hyejung tak memiliki waktu yang banyak bersamanya. Hyejung akan bekerja pada pagi hari dan siang hari, ia sibuk mengurusi Jihyun. Dan itu sedikit membuat Kyungsoo cemburu akan anaknya.

 

Kyungsoo tertular sifat Childish dari Baekhyun dan Chanyeol.

 

Kyungsoo memerhatikan Hyejung yang sibuk mengurusi anak perempuannya. Sesekali Hyejung bernyanyi dan menggendong anaknya tersebut.

“tidur ya, sayang. Appamu sudah merengek minta tidur” Kyungsoo tersenyum mendengar perkataan Hyejung.

“harusnya appamu tidak tertular sifat dari samchoonmu. Benar-benar kekanak-kanakan” kali ini Kyungsoo mengerut kesal.

“yeobo-ya, sudah selesai?” tanya Kyungsoo

“ah, iya. Kau mau tidur?”

“iya. Tapi aku mau sesuatu” ujar Kyungsoo sambil menyeringai.

“mmm?”

“aku mau melakukan ‘itu’ lagi” pinta Kyungsoo sambil memberikan ekspresi yang menggemaskan. Wajahnya tidak terlihat seperti seorang ayah.

“aisssh, suamiku sayang, kita baru saja melakukannya kemarin”

“ayolah…”

Hyejung menghembuskan napas dengan kasar. Kyungsoo selalu memakai wajah imutnya sebagai senjata tak terkalahkan untuk membujuk Hyejung.

“baiklah”

Kyungsoo tersenyum girang mendengarnya. Ia langsung memeluk Hyejung lalu menggendongnya ke kamar. Hyejung hanya bisa tertawa dengan tingkah suaminya yang lucu.

“oppa, kau selalu saja seperti ini” seru Hyejung sambil melingkarkan tangannya di leher Kyungsoo.

“tapi kau senang kan melakukannya?” goda Kyungsoo, semburat merah terlihat menghiasi kedua pipi Hyejung. Tak bisa dipungkiri, ia memang senang melakukannya karena ia bisa tahu seberapa besar cinta suaminya itu untuknya. Sama seperti ia mencintai pria bermata bulat yang kini menjadi suaminya.

 

Hyejung tak pernah menyesal memiliki Kyungsoo. Sama seperti Kyungsoo yang tak pernah menyesali memiliki Hyejung dan melepas cinta pertamanya di tahun 1980. Biarlah Jihyun menjadi masa lalu yang akan terus Kyungsoo kenang. Kini yang ia harus pikirkan adalah keluarga kecilnya. Keluarga kecil yang membuat hidupnya semakin berwarna. 

 

 

 

Epilog

Kyungsoo terlihat berlari menelusuri jalan. Dengan pakaiannya yang masih berbusana serba hitam, ia langsung memasuki toko tua antik milik sang kakek yang memberikannya jam pasir.

“ada apa, anak muda?”

“kumohon. Berikan aku lagi jam pasir tersebut” pinta Kyungsoo, ia langsung berlutut di hadpaan kakek itu sambil menangis.

“apa yang membuatmu ingin kembali ke zaman dahulu?”

“aku ingin melihat ia menikah. Aku ingin melihat cinta pertamaku menikah dengan pria pilihanku”

“kau tidak akan merasa sakit hati?”

“aku hanya ingin melihat ia tersenyum. Sekali saja”

Kakek tersebut hanya tersenyum. Ia mengambil sesuat dari lemari tua yang terdapat di toko tersebut. Sebuah jam pasir yang sangat kecil.

“ini hanya bertahan 1 jam. Aku tak menjamin kau bisa melihat wanita itu menikah. Tapi aku berharap kau dapat melihatnya”

Kyungsoo langsung membungkukkan badannya sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ia pun membalikkan jam pasir tersebut. Seperti sebelumnya—

 

Kyungsoo tiba-tiba lenyap dari toko tersebut. 

************

 

Kyungsoo menatap tempat yang kini ia pijaki. Hal-hal kuno seperti bangunan di sekitarnya ataupun penampilan orang-orang yang lalu lalang membuat Kyungsoo terbiasa akan itu. Ia pun langsung berlari, ke tempat dimana Chanyeol dan Jihyun akan melangsungkan pernikahan.

Kyungsoo frustasi, ia tak mengetahui dimana tempat resepsi pernikahan Chanyeol dan Jihyun. Waktu telah berjalan 15 menit dan Kyungsoo tak mempunyai waktu banyak.

Tiba-tiba mata bulatnya menangkap sosok yang sangat ia kenal. Suho, pria itu terlihat terburu-buru dengan kemeja putih bergaris serta celana hitam. Kyungsoo langsung tersenyum. Suho penyelamatnya. Dengan segera Kyungsoo mengikuti Suho dari belakang.

************

 

Kyungsoo terpana melihat seorang perempuan dengan hanbok yang cantik tengah berjalan di altar. Wajah wanita itu menyiratkan sebuah kebahagiaan dan Kyungsoo bersyukur akan hal itu. Ia tahu, Jihyun akan sebahagia ini saat menikah.

Terlihat pula pria bertubuh tinggi serta tampan yang kini menatap Jihyun. Senyuman tak luntur dari bibir pria tersebut. Senyumannya yang manis dan mata lebarnya benar-benar terlihat Good Looking.

Kyungsoo hanya bisa tersenyum kecil melihat Chanyeol mengecup bibir Jihyun di hadapan tamu. Ia tak bisa berbuat apapun selain menonton dari belakang. Memerhatikan kedua pasangan yang kini telah resmi bersuami istri.

************

 

Chanyeol dan Jihyun melempar bunga. Dengan semangat mereka berdua melemparnya dengan kencang. Semua undangan yang notabenenya masih Single berebut untuk mendapatkan bunga tersebut.

 

PLUUK!

 

Mata Kyungsoo terkaget melihat bunga putih yang kini berada di genggamannya. Ia tak berusaha untuk menangkapnya, tetapi bunga itu tepat mendarat di kedua tangannya.

Jihyun dan Chanyeol mencari orang yang mendapatkan bunga tersebut. Karena Kyungsoo berdiri di paling belakang, Jihyun dan Chanyeol kesulitan mencari siapa yang menangkap bunga tersebut.

 

Tiba-tiba tubuh Kyungsoo kembali transparan. Waktunya telah habis. Kini ia harus kembali ke tahun 2020.

“Kyungsoo-ya”

Mata Jihyun melebar melihat sosok Kyungsoo yang kini berada di hadapannya. Sosok yang sempat mengisi hari-harinya di akhir tahun 1980. Sosok yang sempat menjadi miliknya.

“Kyungsoo-ya”

Kyungsoo memberikan senyumannya lalu lenyap begitu saja.  Cara yang sama sepeti ia meninggalkan Jihyun dan Hyunhee sebelumnya. Tanpa disadari, air mata Jihyun mengumpul di pelupuk matanya. Lagi-lagi pria itu meninggalkannya.

“ada apa, Jihyun-ah?” tanya Chanyeol. Ia baru bisa menghampiri Jihyun karena sempat ditahan oleh Baekhyun dan Suho.

Chanyeol menatap bingung Jihyun yang tak bergeming. Ia mengikuti arah mata Jihyun. Terlihat sebuah bunga putih yang tergeletak begitu saja di atas rerumputan hijau.

 

Kyungsoo bukan diciptakan untuk memiliki Jihyun. Ia hanya diciptakan untuk mengisi kekosongan hati Jihyun.

 

Kyungsoo diciptakan untuk Hyejung, seseorang yang tanpa sadar mengarahkan Kyungsoo mendapatkan cinta dengan cara yang benar. Mengarahkan Kyungsoo untuk memiliki seorang wanita yang benar-benar ia cintai.  

 

Tetapi Jihyun diciptakan untuk menjadi cinta pertama Kyungsoo. Cinta pertama yang akan selalu Kyungsoo ingat seumur hidupnya. Cinta pertamanya di tahun 1980. 

END

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s