[Oneshoot] Sixth Sense

sixth-sense_ad-copy

|| Title: Sixth Sense || Author: Phiyun || Genre: Friendship | Horor | Thriller | Sad | Supranatural || Cast: Kim Taeyeon | Byun Baekhyun | Im Yoona || Support mamber : SNSD & EXO ||

 

Poster Credit : americadoo @ ArtZone (Gomawoyo ^^)

Cerita ini real hasil murni pemikiran author sendiri. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

 

Cerita dalam fanfic ini aku memfokuskan Pov Taeyeon ya ^^

 

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Ternyata bukan aku saja yang bisa melihat keberadaan mereka.

~~~ooo~~~

“Taeyeon-ssi…Tunggu aku!” Terdengar ada yang memanggilku dari belakang dan akupun menghentikan langkah kakiku dan lalu menengok kebelakang.

 

“Oh, kamu Yuri.” Balasku

“Taeyeon-ssi, apakah kamu baik – baik saja?” Tanya Yuri kepadaku dengan wajah yang khawatir.

Na gwenchana, Yuri-ssi. Aku hanya sedikit lelah saja hari ini.” Kataku dengan tersenyum.

“Tapi wajahmu terlihat pucat? Apakah mau aku antarkan kamu ke ruang kesehatan?”

 

Yuri lalu langsung menarik lenganku untuk pergi ke ruang kesehatan. Tapi aku langsung menghentikannya.

 

“Tidak perlu, Yuri-ssi. Aku hanya lelah saja kebetulan hari ini aku sedang datang bulan jadi bawaannya lemas. Kalau begitu ayo kita masuk kedalam kelas.”

Lalu sekarang aku yang menarik lengan Yuri untuk masuk kedalam kelas bersamaku. Setibanya disana ternyata sudah ada Jessica dan Yoona yang sedang duduk di bangku kedua dari depan.

 

“Taeyeon , Yuri duduk disini saja.” Panggil Jessica sambil melambaikan tangannya kepada ku dan Yuri. Kamipun lalu bergegas berjalan menghampiri Jessica.

 

Gomawo, Jessica sudah menyiapkan tempat duduk untuk kita.” Kataku sambil menaruh tas diatas meja bangku duduk tersebut.

 

Saat aku hendak duduk tiba – tiba ada sebuah bayangan hitam besar bergerak dengan cepat didepanku menuju kedepan pintu kelas. Kedua matakupun refleks menatapnya. Dan diapun merasa bila dirinya dilihat olehku. Saat sosok itu hendak menengok kearahku tiba – tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang. Otomatis akupun menoleh kebelakang.

 

“Yoona-ah, ada apa?”

“Tidak ada apa – apa kok, aku hanya ingin menepuk mu saja.” Balasnya sambil tersenyum simpul padaku.

Tapi aku bersyukur karena Yoona sudah menepuk pundakku karena apabila dia tidak menepukku pasti aku sudah melihat wajah dari sosok bayangan hitam itu.

 

“Taeyeon-ssi apakah kamu sudah baikan sekarang?” Tanya Yuri lagi kepadaku.

“Kamu tenang saja Yuri-ah aku akan baik – baik saja.”

“Memangnya kau kenapa Taeyeon-ssi?” Tanya Jessica kepadaku dengan wajah tak jauh beda dengan ekspresi Yuri.

“Aku hanya sedang sakit datang bulan saja kok, biasa lagi ‘M’. Bawaannya galau sepanjang hari.” Kataku sambil tertawa kecil. Mendengarkan ucapanku semua temankupun ikut tertawa. Aku sengaja mengatakan lelucuan itu agar bisa mencairkan suasana yang agak mencengkam saat tadi.

Sebenarnya aku mempunyai rahasia yang aku sembunyikan oleh teman kampusku.  Kalau aku sebenarnya mempunyai indra keenam. Aku bisa melihat dan merasakan apa yang tidak bisa dilihat maupun dirasakan oleh orang lain hanya orang tertentu yang bisa merasakannya.

 

Dan sekelebat bayangan hitam yang baru saja melewatiku  pastinya bukanlah halusinasiku melainkan mahluk halus. Kira – kira bagaimana ya kalau aku memberi tahu mereka sebenarnya? Aku sebenarnya ingin bercerita tapi aku takut kalau nanti teman kampusku mengatakan aku ini pembual bahkan paling buruknya aku dikatakan orang aneh.

 

~~~ooo~~~

 

Tak berapa lama kemudian dosenpun datang dan pelajarannyapun dimulai. Hampir dua jam pelajaran berlalu dan akhirnya terdengar bel menandakan kalau matakuliah tersebut selesai. Sebelum selesai dosenpun memberikan tugas dan disuruh dikumpulkan besok lusa pada hari senin.

 

Padahal sekarang ini hari kamis. Banyak murid yang protes tapi dosen itu tak mau ambil pusing. Dia memberi kebebasan bagi anak muridnya untuk mengerjakan maupun tidak tapi apabila dikerjakan kita mendapatkan nilai tambahan untuk memperbaiki hasil quiz kita yang lalu sedangkan yang tidak mau mengerjakannya tidak akan mendapat nilai apapun bahkan bagi yang tidak membuat ternyata mereka remidial maka saat remidial soalnya akan digantinya dengan soal matapelajaran untuk minggu depan. Setelah memberi pengumuman itu dosen tersebut itupun pergi meninggalkan kelas.

 

“Bagaimana ini Yoona, aku males banget kalau harus mengerjakan sendiri apalagi tugasnnya ada 10 soal semuanya tentang linier, matriks dan ada kalkulusnya juga. Aku tak mungkin bisa mengerjakan ini semua.” Kata Jessica dengan wajah frustasi.

“Tenanglah Jessica kita kerjakan sekarang saja. bagaimana dengan kalian berdua?” Tanya Yoona.

“Aku sih ikut saja. semakin banyak yang ikutkan otomatis soal – soal yang diberikan tersebut akan terpecahkan.” Balasku.

“Iya, aku setuju dengan perkataan Taeyeon. Ayo kita kerjakan sekarang bersama – sama.” Tambah Yuri.

 

Lalu kamipun mulai memasukkan alat tulis kami kedalam tas masing – masing. Saat kami berempat hendak beranjak dari tempat duduk tiba – tiba ada teman sekelas kami yang berjalan menghampiri tempat duduk kami.

 

“Apakah kalian mau mengerjakan tugas Matriks bersama – sama?”

“Iya kita mau mengerjakannya memangnya kenapa?” Tanya Jessica.

“Bolehkah kami ikut bergabung?” Kata murid laki – laki itu.

“Kalian tak bermaksud mencontek tugas kami kan?” Balas Yoona sambil mengankat sebelah alisnya keatas.

 

“Tidaklah… kita tidak selicik itu. Kami akan mencari jawabannya juga bersama – sama.”

“Benarkah? Kalian tidak akan berbohongkan?”

“Tidaklah, mana mungkin kita melakukan itu. Benar tidak guys. Biar lebih enak bagaimana kalau kita berkenalan terlebih dahulu.”

“Ide bagus.” Balas Yuri.

 

“Perkenalkan namaku Baekhyun, disamping kanan ku namanya Sehun.”

“Hai.” Sapa Sehun.

“Kalau disebelah kiriku namanya Kai.”

“Hallo.” Balasnya sambil tersenyum kepada kami.

 

“Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi sekarang? Nampaknya sudah sore lebih baik kita mulai secepatnya.” Kataku sambil meraih tas yang ada di atas meja.

 

Namun tiba – tiba saat aku bangkit dari atas kursi, aku merasakan pusing yang amat sangat dikepalaku. Tubuhku hampir saja terjatuh namun saat itu murid laki – laki yang bernama Baekhyun itu menahan tubuhku yang hampir terjatuh kelantai.

Gwenchanayo?” Ucapnya sambil menatap kedua mataku.

Ye… Gwenchana.” Balasku sambil berusaha melepaskan lenganku dari gengaman Baekhyun dengan lembut.

“Taeyeon-ssi, apakah kita batalkan saja untuk mengerjakan tugas ini. Bagaimana esok harinya saja?” Kata Jessica sambil menghampiriku.

“Tidak usah Jessica, lebih cepat lebih baik. Ayo kita pergi sekarang.” Balasku dengan menyungingkan senyuman menandakan kalau aku baik – baik saja kepada mereka semua.

 

Lalu kami bersama – sama pergi kegedung kampus yang ada lab-nya. Karena disepanjang lorong setiap lantai sudah disediakan bangku dan kursi untuk mempermudah mahasiswa untuk mengerjakan tugas  kelompok dan yang paling penting adalah disana juga sudah disediakan stop kontak untuk kita bisa mencager laptop maupun handphone sambil mengerjakan tugas.

 

Gedung dilab kampusku ada 4 tingkat. Dilantai paling atas adalah ruang untuk sidang skripsi. Sedangkan lantai 1 sampai 3 dijadikan untuk beberapa ruang kelas. Setibanya dilantai satu ternyata sudah penuh dengan mahasiswa yang sedang asik belajar kelompok.

 

Karena tak enak hati kamipun naik lagi kelantai 2 ternyata di lantai 2 juga sudah penuh, sampai – sampai banyak mahasiswa yang mau tak mau duduk dibawah lantai untuk mengerjakan tugas. Akhirnya kita naik lagi kelantai 3 dan untungnya masih ada bangku dan kursi yang kosong disepanjang lorong kelas.

 

Sebenarnya lantai 3 gedung kampus ini sering terdengar cerita yang menakutkan dari bibir ke bibir makanya banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk nongkrong atau ngumpul untuk mengerjakaan tugas kelompak di lantai 1 maupun 2. Tapi kita semua tidak ada pilihan lain. Yah walaupun ada rasa menggidik saat kita tiba disana.

 

Kamipun lalu mencari posisi yang bagus untuk mulai mengerjakan tugas kelompok kami. Kami memilih belajar didepan lorong ruangan perpustakaan pasca sarjana. Kebetulan disana juga pencahayaannya bagus dan saat kita mau refreshing otak kami yang sudah mumet dengan hitungan kita bisa melihat pemandangan hijau taman kampus dari sini dan merasakan angin yang sepoi – sepoi.

 

Kamipun lalu merapatkan dua meja dan kita juga menarik kursi kita masing – masing setelah itu kitapun mulai membuka tugas yang akan kita kerjakan. Akupun duduk tepat menghadap depan pintu ruangan perpustakaan itu. Aku bahkan bisa melihat kalau didalam perpusatakaan  itu sedang ramai – ramainya para mahasiswa yang sedang membuat project penyusun skripsi mereka. Yang anehnya mengapa sedari tadi perasaanku tak enak. Mungkin karena faktor kelelahan pikirku.

 

Aku sebenarnya merasa malas juga untuk mengerjakan tugas itu apalagi keadaanku saat ini kurang enak badan tak mungkin juga aku mengerjakannya sendiri. Sedangkan besok jumat aku tak ada matkul jadi mau tak mau aku harus mengerjakannya sekarang bersama teman – teman.

 

~~~ooo~~~

 

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 8 langitpun sudah gelap dan pemikiriran kita semua mulai buntu dalam mengerjakan soal – soal.

 

“Taeyeon-ah ayo kita break dulu. Kepalaku sudah mumet nih.” Kata Yuri sambil memegang keningnya.

“Benar itu, ayo kita istirahat dulu. Otakku juga sudah buntu.” Tambahku sambil kedua mataku tetap menatap kearah perpustakaan.

 

Didalam hatiku sedari tadi selalu bertanya kenapa dari sore hari sampai menjelang malam tak ada satu orangpun mahasiswa yang keluar dari dalam perpustakaan itu. Padahal aku melihatnya dengan jelas kalau ada seorang gadis sedang duduk memungungi dari dalam perpustakaan itu.

 

“Taeyeon-ah, kenapa kamu selalu menatap depan ruangan perpustakaan.” Tanya Jessica.

“Aaa… tidak apa – apa kok.” Kilahku.

“Taeyeon-ah apakah kamu tahu kalau kamu hari ini sangat aneh?”

“Aneh kenapa?” Jawabku dengan wajah yang polos.

“Iya, aneh. Dari tadi siang sampai sekarang kamu seperti sedang menatap sesuatu tapi saat aku melihat apa yang kau lihat aku tak menemukan apapun.” Tambah Yuri.

Sentak akupun terkaget saat Yuri mulai merasakan keanehan pada diriku. Yoona yang duduk dihadapankupun mulai menatap diriku dengan tatapan bingung juga. Tak terkecuali Jessica bahkan murid laki – laki yang lainpun mulai juga menatap diriku dengan tatapan aneh.

 

“Ada apa dengan kalian?” Tanyaku sedikit gugup.

“Apakah kamu masih tak enak badan? Lebih baik kau pulanglah, Taeyeon-ssi. Biar sisanya kita yang mengerjakan.” Kata Yuri sambil menepuk pelan atas bahuku.

 

“Tidak apa – apa Yuri-ah. Lagian tinggal 3 soal lagi selesai. Bagaimana kalau kita cari makan dulu.” Balasku dengan wajah yang gembira. Namun saat aku hendak bangkit tanganku langsung ditahan oleh Jessica.

“Kamu disini saja biar kita yang turun mencari makan.”

 

“Tidak usah Jessica biar kita bertiga saja yang kebawah membeli makanan dan minuman untuk kalian jadi kalian disini saja.” Balas Baekhyun sambil berdiri dari tempat duduknya disusul oleh kedua temannya.

“Benar itu, biar kami saja yang pergi kalian beristirahatlah  dulu.” Tambah Kai.

“Kalau begitu Ayo kita pergi sekarang.” Ajak Sehun dan merekapun pergi turun kebawah.

 

Setelah murid laki – laki itu pergi aku mulai bertanya kepada Jessica. Namun saat aku bertanya kepadanya Jessica tampak bingung dari ekspresi wajahnya kepadaku.

“Jessica aku mau bertanya kepadamu. Apakah perpustakaan untuk pasca sarjana buka selain hari sabtu dan minggu?”

“Tidaklah Taeyeon-ssi. Perpustakaan yang sedari tadi kamu lihat itu tak buka di hari senin sampai kamis walaupun buka hari jumatnya hanya dibuka setengah hari. Kan mahasiswa S2 jadwal kuliahnya setiap weekend.

 

Mendengar perkataan Jessica jantungkupun berdetak dengan kencang sambil membelalakan kedua mataku dan tiba – tiba saja lampu didalam perpustakaan itu padam dan tak lama kemudian lampu yang  menempel diatas langit – langit dimana kami sedang dudukpun mulai meredup tampa sebab.

 

“Ada apa ini, kenapa tiba – tiba lampunya jadi tidak terang?” Ucap Yuri sambil menegadahkan kepalanya menatap lampu tersebut.

“Yuri-ssi temani aku kekamar mandi yuk.” Ajak Jessica.

“Kamu pergi saja sendiri kan Cuma selisih satu blok dari sini dasar penakut.” Balas Yuri sambil tesenyum meledek.

“Yak!!! Apa kamu lupa kalau disinikan rada angker tempatnya. Ayolah temani aku, kumohon.”

“Bagaimana kalau aku yang menemanimu?” Tawarku.

“Tapikan kamu sedang tidak enak badan Taeyeon-ssi?”

“Tak masalah, ayo kesana bersama aku. Kebetulan aku juga mau pergi kekamar mandi.”

 

Lalu kami berduapun pergi kekamar mandi bersama – sama. Disepanjang lorong menuju kamar mandi perasaanku mulai tak menentu. Kepalaku mulai pusing  tak jelas. aku merasa sepertinya ada yang sedang menatap diriku disepanjang jalan. Namun saat aku menoleh kebelkang tak ada siapapun yang mengikutiku.

Setibanya disana Jessica langsung masuk kedalam kamar mandi. Akupun menunggunya didepan keran wastafel namun tiba – tiba lampu dikamar mandi meredup secara tiba – tiba. Dan jendela dekat kamar mandipun tiba – tiba terbuka tampa ada tiupan angin sama sekali dari luar.

 

Suasanapun semakin mencekam saat tiba tiba muncul sosok penampakan yang sama saat aku lihat dikelas saat tadi dengan posisi yang sama. Di sedang duduk di jendela sambil memungungiku. Dan tak berapa lama kemudian Jessicapun keluar dari kamar mandi.

 

“Leganya…” Sambil mengelus – elus perutnya

“Ayo kita jalan sekarang.” Ajakku sambil menarik lengan Jessica untuk menjauh dari jendela dekat Jessica berdiri.

“Taeyeon-ssi, apa kamu tidak jadi kekamar mandi? Katanya kamu juga mau buang air kecil?”

“Aaa… aniya. Nanti saja, aku belum kepingin.”

 

Kemudian aku berjalan bersama Jessica sambil menggandeng lengannya dan akupun mulai berjalan sedikit cepat untuk secepatnya menjauh dari sana.

 

~~~ooo~~~

 

Sekembalinya aku dan Jessica dari sana tiba – tiba Yuri juga meminta kepadaku untuk menemaninya kekamar mandi. Sebenarnya aku ingin menolaknya namun aku merasa tak tega kalau dia harus kesana sendiri.

“Baiklah ayo aku antar.”

“Tunggu sebentar, kamu disini saja Taeyeon-ssi biar aku yang mengantarnya. Kamu terlihat sangat pucat lebih baik kamu disini saja dengan Yoona.” Ucap Jessica padaku.

“Baiklah, kalau begitu.”

 

Saat Jessica dan Yuri hendak pergi aku langsung memanggi mereka.

 

“Jessica , Yuri !!! lebih baik kalian kekamar mandi lantai 2 saja.” Teriak ku pada mereka berdua.

Waeyo, Taeyeon?” Balas mereka bersama – sama.

 

Saat mereka bertanya kenapa padaku. Aku bingung harus mengatakan alasan apa kepada mereka. Tidak mungkin aku mengatakan disana ada hantu sedang duduk dijendela kamar mandikan?

 

“Disanakan kamar mandinya kotor lebih baik dilantai 2. Sudah lakukan saja apa yang aku katakan pada kalian.” Balasku sambil tersenyum dan melambaikan tangan untuk meyuruh mereka turun kelantai 2 dan untungnya mereka mau mengikuti perkataanku.

 

 

~~~ooo~~~

 

Setelah melihat Yuri dan Jessica sudah turun menuruni tangga kelantai dua akupun lalu duduk dengan perasan lega. Didepanku Yoona sedang asik mengerjakan soal. Namun tiba – tiba Yoona menatap diriku.

 

“Taeyeon-ssi, apakah kamu melihatnya?”

“Eh??! Melihat apa Yoona-ah?”

“Sudah jangan berbohong didepanku. KAu sedari tadi melihat sesuatukan di dalam ruangan perpustakaan itu?”

“Memangnya apa yang aku lihat. Kan disana tidak ada orang disana.” Jawabku sambil merapikan alat tulisku yang ada diatas meja.

 

“Aku sama sepertimu Taeyeon-ssi.”

“Sama apa ya, Yoona? Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan kita?” Sekarang keningku mulai mengeluarkan keringat.

“Aku ini sama sepertimu bisa melihat mahluk halus.”

 

Seketikan buku yang ada didalam gengamanku terjatuh begitu saja. Saat Yoona mengatakan kalimat itu. Kalimat yang tak pernah seorangpun yang berani mengatakan kepadaku. Akupun tak sanggup berkata apa – apa lagi. Bibirku seperti terkunci rapat dan tak bisa dibuka.

 

“Bagaimana kamu bisa tahu?” Tanyaku dengan gugup.

“Aku sudah tahu dari awal kita bertemu di awal semester baru kita. Kalau kau bisa melihat juga. Karena saat disampingmu aku merasakan aura yang berbeda.”

“Berbeda bagaimana?” Tanyaku lagi tapi sekarang dengan wajah yang penasaran.

“Aku melihat kedua matamu. Tatapanmu itu selalu terlihat dingin saat melihat sekitar kita. Aku juga tahu kamu melihat juga kan sosok itu saat dikelas tadi?”

“Ne… berarti bukan aku saja yang bisa melihat?”

“Ya…”

 

Aku sedikit lega saat Yoona tahu kalau aku bisa melihat hantu jadi disini bukan aku saja yang aneh. Aku merasa ada temannya dan berarti yang aku lihat sedari tadi bukanlah halusinasi.

 

Tiba – tiba lampupun padam tampa sebab. Semua terlihat gelap gulita dimataku. Aku mulai panik dan tiba – tiba saja bulu kudukkupun berdiri dan aku mulai mual. Aku mual bukan karena aku masuk angin ataupun sedang sakit tapi aku sering merasakan ini kalau ada mahluk astral berada sangat dekat dengan ku.

“Yoona… Im Yoona… dimana kamu?” Panggil ku sambil kedua tanganku melambai – lambai kedepan.

“Aku masih didepanmu?” Balasnya.

 

Saat Yoona menyalahkan telefon gengamnya untuk menerangi  tiba – tiba aku tak sengaja melihat ada dua lengan yang sedang memelukku dari belakang. jantungku mulai berdegup kencang. Leherku seperti tercekik. Yoona juga menatapku penuh kaget.

 

Nuguseo? Kenapa kau menggangu kami sedari tadi?” Tanya Yoona dengan bibir yang bergetar.

 

Tubuhkupun mulai merasakan linu, seperti tertusuk – tusuk dan tubuhku mulai menggigil hebat. Saat pelukannya itu semakin mengencang. Aku mulai kehabisan udara untuk bernafas.

 

“ Tuhan tolong selamatkan aku. Hanya padamu aku meminta pertolongngan. Tolong usir hantu ini dari tubuhku!” Teriak batinku.

 

~~~ooo~~~

 

“Taeyeon-ah!!!”

 

Aku mendengar suara teriakan dari kejauhan dan akupun mulai memberanikan diri untuk membuka perlahan – lahan kedua mataku. Setelah kedua mataku sudah terbuka, tanpa aku sadari tubuhku sudah terbaring diatas lantai.

“Taeyeon-ssi, apakah kamu baik – baik saja?” Kata Yoona sambil emmbantu aku bangun dan disusul oleh Yuri dan Jessica.

 

“Yoona-ah kenapa Taeyeon-ssi bisa begini? Apa yang sebenarnya terjadi? Jawab pertanyaanku denga jujur.” Kata Jessica sambil menatap tajam kedua mata Yoona setelah itu dia menatap diriku.

 

“Sebenarnya… tadi… aku…”

 

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Yoona langsung memotongnya.

 

“Tadi ada hantu yang sedang menggangu dirinya.”

“Mwo??? Apakah benar Taeyeon-ssi?? Lalu apakah kamu baik – baik saja?”

 

Jessica mulai memeriksa setiap inci tubuhku apakah aku terluka atau tidak.

 

“Kenapa kamu tidak mengatakan pada kami kalau kamu bisa melihat hantu?” Ucap Yuri dan lalu ditambahkan oleh Jessica.

 

“Aku takut kalau aku nanti dikata orang yang aneh bila aku mengatakannya.”

 

“Untuk apa kamu takut? Yoona saja sudah menceritakan pada kami kalau dia juga mempunyai indra keenam. Kami tidak pernah mengangap dirinya aneh kami malah berfikir itu keren.”

 

“Betul itu…”

“Sica, Yuri Gomawo…”

 

Lalu aku memeluk mereka berdua bersama – sama.

 

“Kalau begitu ayo kita pulang sekarang?”

“Iya… ayo kita pulang sekarang.”

 

Kemudian kami semua mulai merapikan alat tulis kita masing – masing dan kami juga tak lupa merapikan buku – buku dan alat tulis murid laki – laki itu kedalam tas mereka masing – masing. Setelah selesai kamipun duduk dikursi depan lift sambil membawa semua tas milik Baekhun, Kai, dan sehun bersama dengan kami.

Tiba – tiba tak berapa lama kemudian aku mencium bau amis yang amat menyengat dari arah lorong tempat dimana saat tadi kami mengerjakan kelompok.

“Taeyeon-ah, apakah kamu mencium bau amis?” bisik Yoona kepadaku.

“Iya… baunya amat menyengat.” Balasku dengan suara yang pelan.

“Sepertinya Jessica dan Yuri tidak menyadarinya.” Lirik Yoona

“Iya, lebih baik seperti itu. Tapi aku penasaran apa yang hantu itu jawab saat kau bertanya padanya?”

Mianhae… Taeyeon-ssi. Sebenarnya aku hanya bisa melihat saja dan aku juga tak bisa berkomunikasi kepadanya.”

“Ya sudah, tak apa – apa kamu tidak usah merasa bersalah padaku.” Balasku sambil menepuk pelan bahu Yoona.

Tiba – tiba lift yang ada didepan kitapun terbuka. Namun tak ada satu orangpun yang ada didalam lift itu. Jessica dan Yuri nampak ketakutan dan mereka berdua lalu berlari menghampiri aku dan Yoona.

“Yah, apakah kalian lihat barusan tadi? Lift didalam sana tak ada orang tapi kenapa lift itu bisa terbuka begitu saja?” Ucap Yuri sambil jarinya menunjuk – nunjuk kearah lift.

 

“Tenanglah, Yuri-ah… mungkin saja itu hanya kebetulan ada orang yang menekan lebih dulu disini tadi.” Kataku untuk bisa menenangkan hati Yuri.

 

“Yak!!! Memangnya aku ini anak kecil yang bisa kamu bohongi! Tak ada seorangpun disini kecuali kita.” Balas Yuri sambil melingkarkan tangannya ke lenganku dengan gemetar.

 

Dan tiba – tiba lift itu terbuka lagi dengan tanpa seseorangpun didalamnya dan tiba – tiba lampu didalam lift itu mulai meredup tak jelas dan jendela didekat kami berdiripun terbuka begitu saja. dan jendela itupun bergoyang seperti tertiup angin.

“Taeyeon-ah… apakah dia ada disini?”Tanya Yuri kepadaku dengan bibir yang bergetar. Aki tahu kalau dia sangat ketakutan. Tapi aku tak punya kekuatan untuk mengusirnya.

 

“Tenanglah, Yuri-ah… itu hanya angin.” Ucapku.

 

Beberapa detik kemudian jendela yang ada di sampingku tiba – tiba terbuka juga dengan sendirinya. Kami berempat mulai memundurkan langkah kami untuk menjauh dari sisi jendela dan depan lift. dan lift itupun terbuka lagi dengan lampu yang mati hidup dan tiba – tiba ada sesuatu yang keluar dari atas langit lift itu. Sebuah rambut yang panjang yang sedang menjuntai.

“Aahhhhhhhkkkkkk!!!!!!”

 

Teriak kami berbarengan dan tiba – tiba lampupun mati total… kakiku mulai lemas dan mati rasa. Kakiku tak juga tak kuat menompak tubuh Yuri yang mencengkaran tubuhku dengan erat karena ketakutan. Jessicapun juga tak kalah ketakutannya kepada Yoona.

 

Dan akupun terjatuh kelantai karena Yuri sedari tadi mendorong – dorong tubuhku kebelakang.

“Yuri-ssi bisakah kamu tenang.”

“Ta-tapi,,, Taeyeon-ah… a- aku sangat ta-takut…”

 

Sambil tetap kedua tangannya menarik kencang kerah lengan bajuku.

 

“Tenanglah… aku ada disini…”

 

Saat aku sedang mencoba mengambil telefon gengamku dari dalam saku jaketku. Tiba – tiba  aku merasakan ada sesuatu yang dingin yang sedang menyentuh belakang punggungku dan saat itu juga aku  menoleh kebelakang.

“Aaahhhkkkkkk!!!”

 

Terdengar suara teriakan lagi tapi aku tak tahu siapa karena saat tadi sangatlah gelap gulita. Tak berapa lama kemudian lampupun menyala. Aku melihat Jessica sedang menangis dipelukan Yoona dan Yuripun tak jauh beda dengan apa yang Jessica lakukan kepada Yoona terhadap diriku.

 

Gweanchanayo… semuanya sudah selesai Yuri-ah…” Kataku pelan sambil menepuk bahunya agar dia bisa merasa lebih tenang.

Saat itu juga tiba – tiba pintu lift itu terbuka lagi kamipun berempat kemudian langsung berlari pergi menjauh dari depan lift itu dan saat kami berlari melewati tikungan lorong yang gelap, tubuh kamipun terpental karena sudah menabrak sesuatu cukup kencang.

 

“Aauww… aphaa…” Kataku sambil mengelus lenganku yang lecet karena habis terjatuh tadi.

 

Aku langsung berdiri menghampiri ketiga temanku untuk membantu mereka dan saat aku melihat didepan ku ternyata sudah ada Baekhyun, Sehun dan Kai juga yang sedang jatuh terduduk sambil memegangi bungkusan plastik ditangan mereka masing – masing.

 

“Yak, apa yang sedang kalian lakukan disini?” Kataku dengan nada yang sedikit kesal namun lega.

Mianhae.. Taeyeo-ssi.” Ucap Baekhyun  sambil bangun dari jatuhnya.

“Tadi kita bertiga mau naik kesini memakai lift tapi liftnya tidak turun – turun dari lantai atas makanya akhirnya kami bertiga naik tangga kesini.”

“Benar itu, Taeyeon-ssi.” Tambah Kai dengan wajah yang meyakinkan kita kalau semua ucapan mereka tidaklah berbohong.

“Baiklah, kami percaya pada kalain bertiga.” Balas Yoona.

 

“Tapi… kenapa kalian berlari seperti orang yang dikejar – kejar hantu?” Tanya Sehun dengan wajah yang geli.

“Yak!!! Tidak lucu tahu!” Balas Jessica sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.

“Iya benar! Kita hampir saja mati berdiri karena kita berempat dikejar – kejar sama hantu wanita yang sangat menyeramkan!!!” Teriak Yuri.

“Untung kami bersama Yoona tan Taeyeon, kalau mereka berdua tidak ada aku tak tahu bagaimana nasip kita berdua. Kalian juga lama sekali kembalinya! Dasar tak berguna!!! Percuma ada laki – laki bersama kita kalau tidak bisa menolong kita saat tadi!!!” Tambah Jessica dengan wajah yang amat merah karena menahan amarahnya.

“Sudahlah, Sica… jangan memarahi mereka seperti itu. Merekakan tak sengaja berbuat seperti itu. Lebih baik kita mengambil tas kita setelah itu kita pulang.” Kataku sambil menenangkan Jessica.

Lalu kami semuanya berjalan kembali menuju lift untuk mengambil tas yang tak sengaja kami tinggalkan didepan bangku yang berada tepat di depan lift. Kami berempatpun berjalan dibelakang tiga murid laki – laki tersebut. Sebenarnya aku agak sedikit khawatir dengan keadaan Jessica dan Yuri. Wajah mereka terlihat sangat pucat. Mungkin ini adalah hal yang pertama kali mereka berdua alami.

Setibanya kami disana. Yuri dan Jessica langsung berlari untuk mengambil tas mereka dan setelah itu dia menjauh dari depan lift. Tiba – tiba pintu lift itu terbuka lagi.

 

“Aakkkkkkkhhhhhhhh!!!!” Teriak Yuri dan Jessica membuat kami semua kaget.

“Ada apa Sica, Yuri??” Kataku sambil menghampiri mereka yang sedang ketakutan.

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama mereka berdua Yoona-ah?” Tanya Kai.

“Mereka ketakutan gara – gara lift itu.”

“Kok bisa?”

“Karena tadi  didalam lift ada hantu perempuan yang sedang berjalan diatas dinding dengan rambut panjang berjuntai.”

 

“Eh.. Ehh!!! Benarkah???” Ucap Kai dan Sehun berbarengan

“Benar!!! Kenapa rekasi kalian berdua begitu datar?” Balas Jessica dengan kesal.

“Kita sudah biasa melihat itu. Bahkan kita sering melihat enampakan yang tidak ada kepala maupun anggita tubuh yang tidak lengkap. Jadi untuk apa kami takut?” Tambah Kai dengan ekpresi yang sangat percaya diri.

“Yak!!! Jangan kalain berkata begiitu! Bagaimana kalau hantu itu kembali lagi!” Ucap Yuri dengan nada yang sedikit membentak.

“Benar itu. Lebih baik kita pulang sekarang.” Tambahku

“Ayo kita turun pakai lift.” Kata Sehun sambil tertawa kecil terhadap Jessica dan Yuri.

“Shireo!!!” Balas Yuri dan Jessica kompak.

 

Melihat tingkah laku mereka berdua kamipun tersenyum geli. Bukannya kami jahat kepada mereka tapi melihat wajah mereka seperti melihat diri kita saat pertama kali dapat melihat mahluk halus. Pasti wajah kita saat itu sangat jelek dibandingkan mereka berdua. Ucap dalam batinku.

~~~ooo~~~

 

Lalu kami beristirahat ditaman kampus kebetulan saat itu ditaman banyak mahasiswa juga yang sedang duduk – duduk santai. Disana juga kami memanfaatkan waktu untuk makan dan meminum yang sudah dibelikan oleh Baekhyun, Sehun dan Kai saat tadi.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 9 malam di jam arlojiku. Akupun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu karena sudah malam.

“Aku pulang duluan ya, sudah malam aku takut orangtuaku mencari ku nanti.”

“Kami ikut bersamamu Taeyeon-ssi. Sekalian aku mau menumpang di motormu untuk pulang. Boleh ya.” Pinta Jessica dengan nada yang merayu.

“Baiklah, ayo.” Balasku. Aku tak mungkin bilang tidak kepada Jessica. Apalagi hari ini sudah ada pengalaman yang buruk yang dialami dirinya.

“YA…yah..yah!!! kok Cuma Jessica yang di antar aku juga mau?” Ucap Yuri.

“Tapi, motor Taeyeon hanya bisa di boncengi satu penumpang saja Yuri-ssi. Kamukan bisa pulang bareng Yoona.”

“Tapi, Yoonakan pulangnya naik bis. Tidak adil!!!” Yuripun mulai mengcutkan bibirnya karena kesal.

 

“Biar adil, bagaimana kalau aku antar kalian semua pulang naik mobilku saja.” Tawar Baekhyun.

“Ide bagus itu. Kalau begitu ayo kita pulang sekarang.”

“Taeyeon-ssi hati – hati dijalan ya… annyeong…”

Ne… annyeong…” balasku kepada mereka semua sambil melambaikan sebelah tanganku lalu aku berjalan menuju halaman parkir.

 

~~~ooo~~~

 

Tibalah aku dihalaman parkir dan saat aku hendak emmbuka setang motorku tiba – tiba aku sudah melihat sosok hantu wanita sedang berdiri didepan mataku. Wajah hantu wanita itu tampak sedih. Hantu itupun menangis didepan hadapanku disaat itu juga. dengan suara yang pelan dan sedikit bergetar akupun mulai memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.

Nuguseo?? Wae geurae? Apakah ada yang ingin kau katakan padaku?”

 

Hantu perempuan itu hanya diam membisu dengan wajah pucatnya. Tak berapa lama kemudian hantu wanita itu mengangukan kepalanya denagn perlahan – lahan dihadapanku dan setelah itu hantu wanita itu masuk kedalam tubuhku begitu saja.

Saat dia masuk kedalam tubuhku aku melihat banyak kenangan diri hantu wanita itu dengan seorang namja. Mereka berdua amat bahagia. Mereka berdua menghabiskan waktu sangatlah banyak. Dan tiba – tiba yeoja tersebut sakit. Semenjak yeoja itu sakit dia jarang bertemu dengan namja tersebut. Hampir berbulan – bulan yeoja itu dirawat dirumah sakit. Dan suatu hari dia pergi keperpustakaan untuk bertemu sang namja. Namun saat dia kesana yeoja itu tak sengaja melihat sang namja sedang berduaan dengan seorang yeoja lain.

Hati yeoja itu sangat sedih dan terpukul. Tapi dia tidak bisa marah kepada namja itu karena mereka hanyalah teman tidak lebih dari teman. Lalu yeoja itu menaruh secarik kertas disebuah buku didalam perpustakaan itu setelah itu dia pergi meninggalkan namja yang dia cintai bersama orang lain.

“Taeyeon-ssi maukah kamu membantu ku?” Pinta Hantu itu padaku.

“Apa itu?”

“Tolong berikan secarik kertas yang ada didalam buku perpustakaan kepada Nickhun oppa. Katakan kepadanya kalau aku sangat berterimakasih kepadanya dan aku juga sangat menyanyaginya.” Dengan wajah yang sedih.

“Baiklah, bila itu maumu. Lalu siapa namamu?” Tanyaku lagi.

“Tiffany… katakan saja pesan disurat itu dari Tiffany dia pasti akan langsung tahu. Gomawo, Taeyeon-ssi.”

Saat itu juga hantu itu keluar dari tubuhku. Tubuhku langsung lemas dan tubuhku hampir jatuh tersungkur di atas aspal namun itu tak terjadi karena ada seseorang yang menompang tubuhku dari belakang.

“Taeyeon-ssi apakah kamu baik – baik saja?”

“Baekhyun-ah bagaimana kamu bisa ada disini?” Tanyaku dengan wajah yang kaget.

“Perasaan ku tidak enak sedari tadi, makanya aku menyusulmu kesini.”

“la-lalu bagaimana dengan mereka? Katanya kamu mau mengantar mereka semua? Aku baik – baik saja kok, jadi kamu tak usah mengkhawatrikan aku.”

“Masalah itu sudah di tangani oleh temanku si Sehun dan Kai. Mereka akan mengantar ketiga temanmu dengan selamat sampai didepan rumah mereka masing – masing. Kebetulan Sehun dan Kai sedang tidak bawa kendaraan. Jadi dia akan menjemputku lagi dikampus.”

 

Lalu baekhyun langsung duduk diatas motorku sambil menghidupkan mesin.

 

“Ta-tapi.. a – aku bisa kok sendiri…”

 

Tapi Baekhyun tidak mengngubris ucapaku dan malam menarik lengan tanganku untuk segera naik keatas motor mau tak mau akupun akhirnya menurut kepadanya.

“Peganganlah. Aku tak mau kamu jatuh nantinya.”

Ye… tapi apakah kamu sudah tahu dimana alamat rumah ku?”

Ara.. aku sudah dikasih tahu oleh temanmu Yoona.”

 

~~~ooo~~~

 

Akhirnya akupun tiba didepan pintu gerbang rumahku. Baekhyunpun lalu turun dari atas motorku bersama dengan diriku.

 

Gomawo, sudah mengantarkan aku pulang.”

 

“ya, sama – sama. Sebenarnya aku sudah dari dulu kalau kamu itu bisa melihat hantu. Aku sama sepertimu. Tapi aku tak sehebat dirimu yang bisa berkomunikasi dengan hantu, aku hanya bisa melihat dan tak tahu apa yang harus akan dilakukan saat hantu itu ada tepat di hadapanku. Aku juga tak sengaja melihat dirimu sedang bercakap – cakap dengan hantu wanita itu. Sebenarnya apa yang diinginkan hantu wanita itu padamu?”

 

“Dia hanya ingin aku memberikan pesan terakhirnya kepada namja yang sangat dia cintai.”

“Kalau begitu, bolehkan aku membantumu? Kebetulan aku tahu siapa hantu wanita itu.”

“Benarkah?”

“Iya… jadi kapan kita akan memulainya?” Tanya Baekhyun padaku.

“Bagaimana kalau besok? semakin cepat semakin bagus?” Jawabku.

“Setahu aku hantu wanita itukan mahasiswa yang sedang melakukan pasca sarjananya, pasti orang yang dia sayangi pasti mahasiswa yang tak jauh beda dengan dirinya. Bagaimana kalau hari sabtu, Bagaimana?”

“Baikalah, sampai ketemu esok harinya.”

 

Kemudian tak berapa lama kemudian Baekhyun berpamitan kepadaku untuk kembali lagi kekampus. Sebenarnya aku merasa tak enak hati saat Baekhyun harus bolak – balik sehabis menantarku. Tapi aku sangat berterimakasih karena ada baekhyun yang mau menemaniku untuk menolong hantu wanita itu.

 

~~~ooo~~~

 

~2 Hari kemudian~

 

Aku sudah bersiap – siap sedari tadi pagi untuk misi ini. dan tepat jam 9 pagi Baekhyun sudah menghubungiku kalau dia sebentar lagi akan datang menjemputku jadi sebelum dia datang aku sudah menunggunya duduk didepan halaman rumahku.

“Tin…tinnt…”

 

Terdengar suara klakson mobil dari depan pintu gerbang rumahku. Akupun langsung berlari kedepan untuk melihat siapa yang datang ternyata orang yang aku tunggu – tunggu sudah tiba didepan pintu gerbang rumahku.

 

“Kamu sudah datang?”

“Maaf ya kalau aku datangnya agak telat.” Sambil keluar dari dalam mobilnya.

“Tidak apa – apa, kalau begitu ayo kita pergi sekarang.”

“Ayo…” Lalu Baekhyun membukakan pintu mobilnya untuk ku masuki setelah itu Baekhyun menyusulku masuk kedalam.

 

~~~ooo~~~

 

Setibanya dikampus kami berdua langsung memarkirkan mobil dan langsung berlari ke ruang perpustakaan. Disana kami berdua sibuk membuka satu persatu buku untuk mencari kertas yang dimakasud dengan hantu wanita itu. Sudah hampir berjam – jam tapi kami belum dapat mencarinya. Dan tak terasa sudah 4 jam kita berdua mencarinya.

 

Ini akan memakan waktu yang sangat panjang karena didalam perpustakaan ini bukan 100 maupun 200 buku tapi hampir beribu – ribu bahkan puluhan ribu buku berada disini. dan sayangnya hanya kami berdua yang mencarinya. Itu seperti mencari jarum diatas tumpukan jerami.

 

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 4 sore dan perpustakaanpun sudah mau tutup. Tapi aku belum menyerah, aku dan Baekhyun terus mencarinya. Saking lelahnya akhirnya buku yang aku pegang akhirnya jatuh begitu saja dari tanganku.

“Taeyeon-ssi, Gwenchanayo?”

Ye, na gwenchana.”

 

Tak sengaja aku melihat ada secarik kertas yang keluar dari selipan buku yang terjatuh di bawah kakiku dan akupun langsung mengambilnya.

 

“Baekhyun-ssi lihat akhirnya kita menemukannya!!!” Teriakku senang dan saking senangnya aku langsung memeluk Baekhyun. Namun saat aku menyadarinya aku langsung melepaskan pelukanku terhadap dirinya.

 

“Akhirnya kita dapat menemukannya.” Balas Baekhyun tersipu malu.

“Ne… akhirnya kita menemukannya.”

“Lalu kita kemana lagi sekarang?” Tanya Baekhyun lagi padaku.

“Sekarang kita harus mencari dimana namja itu. Namja yang akan kita berikan pesan ini.”

“Siapa namja itu?” Tanya Baekhyun lagi.

“Nickhun… nama namja itu adalah Nickhun.”

“Nickhun???”

“Iya, memangnya kamu mengenalnya?”

“Iya, aku sangat mengenalnya, dia itu senior ku dan satu kelas juga padaku semester ini.”

“Jadi kamu tahu dimana dia sekarang?”

Camkkanman. Aku akan coba menghubunginya terlebih dahulu.”

 

Baekhyun berusaha menghubunginya dan akhirnya telefon yang di tujupun diangkat.

 

“Hyung…. kau ada dimana sekarang. ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Oke… aku kesana sekarang ya hyung… tunggu aku sebentar.” Lalu tefrlefon itu dimatikan.

 

“Bagaimana ? dimana dia sekarang?” Tanyaku dengan harap – harap cemas.

“Tenanglah Taeyeon-ssi dia ada di kantin belakang kampus tak jauh dari sini. Ayo kita kesana sekarang.”

“Tapi disanakan sangat ramai aku tak enak hati bila mengasih pesan dari Tifanny disana bagaimana kamu yang kesana untuk memanggilnya dan aku menunggu di belakang taman kampus yang tak jauh dari kantin dimana dia ada.”

“Oke, ayo kita pergi sekarang.”

“Ne…” Balas ku.

 

Kamipun lalu berpencar, Baekhyun pergi ke kantin belakang untuk memanggil Nickhun sedangkan aku menunggunya di belakang taman kampus. Tak berapa lama kemudian datanglah Baekhyun bersama dengan Nickhun.

“Ada apa kalian membawaku kesini?” Tanya Nickhun kepada kami berdua.

“Maafkan aku hyung… sebenarnya yang ingin bertemu denganmu bukan aku tapi yeoja ini. ada yang ingin dia katakan padamu.”

“Maafkan aku Nickhun oppa. Sebenarnya aku tak bermaksud menggangu tapi aku tetap harus memberikannya kepadamu.”

 

Lalu aku memberikan secarik kertas itu kepada Nickhun. Nickhunpun lalu membacanya dengan perlahan – lahan dan tanpa dia sadari diapun mulai menitikan airmata.

 

“Apakah ini dati Tiffany?” Sambil kedua matanya menatap diriku.

“Ya, oppa. Maaf baru sekarang aku bisa memberikannya padamu.”

 

“Kau tak perlu merasa bersalah padaku. Aku malah yang harus mengucapkan terimakasih. Seandainya kamu tak memberika aku pesan ini mungkin selamanya aku tak tahu kalau Tiffany juga sangat mencintaiku. Seandainya dia ada disini aku akan menjawab isi dalam pesan ini.”

 

“Dia ada disini bersama kita, oppa.” ucapku.

“Benarkah? Apakah dia hanya ingin menghiburku?” Tanya Nickhun kepada Baekhyun.

Aniya… hyung. Sebenarnya dia bisa melihat hantu seperti diriku.”

“Nickhun oppa tak usah sungkan katakan saja apa yang oppa ingin katakan.”

 

“Tiffany-ah terimakasih kamu sudah membuat hari – hariku lebih berwarna. Aku sangat menyayangimu juga, Fany-ah. Semoga kamu tenang disana perasaanmu sudah aku terima dan aku juga sudah mengikhlaskan mu untuk pergi. Jadi pergilah dengan tenang.”

 

Lalu Tiffany memeluk tubuh Nickhun dengan tubuhnya yang transparan. Wajahnya nampak sedih saat akan pergi meninggalkannya tapi diapun mulai menyunggingkan senyumannya saat dia mencium lembut pipi laki – laki yang dia cintai itu.

“Apakah dia ada disini sekarang ? aku bisa merasakannya kalau dia tadi menyentuh pipiku.” Kata Nickhun dengan membulatkan kedua matanya kepada kami berdua.

“Heemmm..” Balasku sambil tersenyum kepada Nickhun.

 

Gomawoyo Taeyeon-ssi Baekhyun-ah karena kalian berdua aku sudah tidak merasa terbebani. Aku sudah tahu isi hati Tiffany kepadaku. Kalau begitu ayo aku teraktir kalian makan.” Ajak Nickhun sambil menarik lengan Baekhyun bersama dirinya.

“Taeyeon-ssi ayo ikut bersama kami.” Panggil Baekhyun dan akupun berlari menyusul mereka.

 

 

~~~ooo~~~

 

Tak terasa haripun mulai malam dan aku berpamitan kepada Nickhun dan Baekhyun untuk pulang.

 

“Sepertinya sudah mau malam aku pulang dulu ya.”

“Tunggu sebentar Taeyeon-ssi.” Panggil Baekhyun saat aku hendak beranjak dari tempat duduk ku.

Hyung aku pamit pulang juga ya. Aku harus mengantar Taeyeon-ssi pulang.”

A-niya… kamu tidak usah mengantarku pulang, aku bisa pulang sendiri kok.”

Andwe… aku yang membawamu kesini maka aku juga yang akan mengantarkanmu kembali dengan selamat sampai kedepan pintu rumahmu.”

“Sudah… sudah kalian janganlah bertengkar. Aku tak apa – apa ditinggal oleh kalian kebetulan aku juga mau pulang. Kalau begitu aku yang pamit duluan ya. Annyeong…

Kami berdua diam terpaku saat Nickhun pergi begitu saja dihadapan kita berdua.

 

“Jadi, mari kuantarkan kau pulang.”

Ne… kamsahamnida.”

 

Diperjalan menuju tempat parkir. Kita hanya diam membisu disepanjang perjalanan namun Baekhyun berinisitif untuk memulai pembicaran.

 

“Taeyeon-ssi, apakah hari ini kamu senggang?”

“Memangnya ada apa Baekhyun-ssi?”

“Aku mau mengajakmu jalan malam ini.”

 

Mendengar itu langkah kakikupun berhenti.

 

“Ada apa? Apakah kamu marah padaku? Kalau kamu tak bisa aku tak memaksa.” Ucap Baekhyun dengan wajah yang bersalah.

“Aku tidak marah kok padamu tapi sepertinya kita tak bisa jalan malam ini?”

“Kalau begitu kalau hari lain bagaimana?”

“Aku tak bisa menjanjikan apapun padamu. Karena aku tak tahu apakah kita bisa jalan atau tidak.”

“Jadi kamu tidak mau pergi denganku ya. Maaf kalau aku tadi terlalu memaksakan kehendakku kepada mu.”

A-niya… Baekhyun-ssi aku sangat senang saat kau mengajak diriku untuk pergi keluar bersama. Tapi sepertinya itu akan sulit untuk kita?”

“Memangnya kenapa?”

 

Lalu jariku menunjuk kearah belakang Baekhyun. Baekhyunpun lalu menolehkan kepalanya.

 

Omo… Ja-di ini alasanmu.”

“Yap… lalu bagaimana?”

“Yah, mau bagaimana lagi, sepertinya tidak buruk juga.”

“Maksudnya?” Tanyaku lagi dengan wajah yang bingung.

“Berarti kita akan selalu bersama sepanjang waktu.”

Mwo??!”

“Sudahlah ayo kita kesan sekarang.”

“Ta-tapi Baekhyun-ssi aku masih belum mengerti maksud pembicaraanmu barusan.”

 

Tapi Baekhyun tidak menggubris ucapanku dia malah mengengam lembut jari jemariku dan menariknya berjalan dengan dirinya untuk Menghampiri hantu yang tidak mempunyai sebelah lengan dan kaki yang sedang berdiri tepat didepan mobil milik Baekhyun. Entahlah apa yang diinginkan hantu itu. Apakah dia juga mempunyai pesan yang belum tersampaikan seperti Tiffany? Atau ada permasalahan yang lainnya? Aku tak tahu itu. Tapi yang jelas aku tak takut lagi untuk menghadapinya karena aku sudah mempunyai seorang partner yag sangat hebat yang ada di sisiku.

 

~The end~

~~~ooo~~~

Annyeonghaseo chingu aku kembali lagi nih dengan Phiyun disini ^^

 

Maaf ya kalau ceritanya agak panjang padahal oneshoot, hampir 6000 word lebih hehehe 😀

 

Awalnya aku mau buat cerita yang berbau Horor tapi kayanya kurang dapet feelnya ya, jadi gaje deh alur ceritanya. maklum aku baru pertama kali buat ff kaya begini, mohon dimaklumi ya. Maaf juga kalau banyak typon yang bertebaran disana – sini

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, karena komentar dari pada readers semua adalah sebagai penyemangat author untuk membuat cerita ff selanjutnya lebih baik lagi.

 

Gomawoyo (^-^)/

Advertisements

11 thoughts on “[Oneshoot] Sixth Sense

  1. Bagusss eon~! Aku sampe merinding sendiri >_< Habis aku nekat baca fanfic horror padahal phobia begituan. Belum lagi bacanya malem-malem *kok curhat? Jadi adegan horror-nya aku lewatin, hehe XD

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s