Time Slip

1833a72667ec1cceb95dcce5ae51d1d6

 

| Yang Min Soo | Do Kyungsoo, Kim Joonmyeon , Go Jihyun (OC), Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Jang Hyunhee (OC) | Genre: Romance, Sad, AU! | Length: Oneshoot | Rate: PG-13 |

Cast belong to god. Don’t be plagiarism, don’t bash, and i hope you like it, guys 🙂

Poster By americadoo@Poster Channel 

 

Di sebuah ruangan yang cukup besar, terdengar suara ketikan, tak jarang terdengar goresan pulpen, asap Cappuccino yang melambung tinggi, tak lupa dokumen yang tersusun rapi dan bertingkat membuat siapapun yang melihatnya merasa pusing.

Seorang pria bermata bulat dan tampan tengah serius dengan laptop hitam miliknya. Sesekali ia menyeruput Cappuccino yang tersedia tepat di meja kerjanya. Pria itu terlihat sangat sibuk. Bahkan tak ada waktu untuknya melirik ke arah lain selain laptop dan Cappuccino miliknya.

 

Kreeek

 

Pria itu mengangkat kepalanya. Konsentrasinya terpecah dan mata bulatnya menatap seorang pria berkulit putih pucat dan tak kalah tampan darinya.

“kau mau pulang?”

“tidak, aku masih banyak pekerjaan” tolak pria bermata bulat dengan halus.

“ayolah, kemarin kau tidak pulang dan sekarang kau kembali tidak pulang. Luangkan waktumu sedikit untuk rumahmu” bujuk pria berkulit putih pucat.

“baiklah, baiklah. Tapi biarkan aku pulang sendiri”

“bukannya mobilmu sedang diservice?”

“memang”

“YA! Kalau seperti itu, aku tak akan membiarkanmu pulang sendirian!”

“hyung, aku sudah besar. Umurku bahkan lebih dari seperempat abad”

“ok, ok. Kali ini aku tak bisa membujukmu lagi. Kau benar-benar keras kepala, Do Kyungsoo”

Pria bermata bulat yang tak lain adalah Do Kyungsoo hanya tersenyum. Pria berkulit putih pucat, Kim Joonmyeon memang terlalu Overprofektif. Dan sifat itulah yang paling Kyungsoo tak suka dari Joonmyeon.

 ************

 

Kyungsoo berjalan menelusuri jalan. Sesekali ia menyenandungkan lagu kesukaannya. Ia menikmati perjalannya kali ini. Mata bulatnya melirik ke arah langit. Terlihat langit malam tengah bertabur bintang.

 

 

Langkah Kyungsoo terhenti di sebuah toko tua. Ia memiringkan kepalanya. Seingatnya, toko itu telah berdiri sebelum ia lahir. Dan yang ia tahu, penjaga toko tua itu adalah seorang kakek berumur 80 tahun.

 

Kliing

 

Kyungsoo terkagum melihat berbagai barang antik terpajang rapi di setiap lemari. Mata bulatnya mengedarkan seluruh arah. Benar-benar toko yang menakjubkan.

“sedang mencari apa, anak muda?”

Kyungsoo tersentak kaget mendengar suara seseorang. Seorang kakek yang telah lanjut usia menatap teduh Kyungsoo. Kyungsoo langsung membungkuk 90 derajat pada kakek penjaga toko itu.

“dulu aku sering melihatmu menaiki sepeda setiap berangkat dan pulang sekolah” Kyungsoo hanya tersenyum malu mendengar perkataan kakek tua itu.

“waktu berjalan dengan cepat. Kau sudah dewasa” ucap kakek

“tapi sampai sekarang kau belum mene

mukan cintamu” ucapan sang kakek membuat Kyungsoo membulatkan matanya.

“aku tak pernah melihatmu berjalan dengan seorang gadis hingga sekarang”

“aku belum menemukan seorang gadis yang mampu membuatku jatuh cinta” kata Kyungsoo jujur sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“sebentar, aku memiliki sesuatu untukmu”

 ************

 

Kyungsoo mengangkat satu alisnya, dahinya mengerut, dan matanya membulat karena bingung. Kakek penjaga toko itu memberikan sebuah jam pasir untuknya. Jam pasir tua berwarna cokelat yang jarang sekali didapatkan pada zaman sekarang.

“untukku?”

“tentu saja. Ini untukmu, anak muda”

“boleh aku bertanya sesuatu pada kakek?” tanya Kyungsoo, sang kakek mengangguk.

“kenapa kakek memberikanku sebuah jam pasir?”

Kakek itu terlihat tersenyum, ia senang dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir Kyungsoo. “temukan cintamu dengan jam pasir ini” ujar kakek.

“ne?”

“temukan cintamu. Raih cintamu yang selama ini kau tunggu. Aku tahu, selama ini kau kesepian. Kau membutuhkan seorang gadis yang bisa membuatmu jatuh cinta. Cari lah cintamu”

“mungkin di zaman sekarang, kau tidak akan mudah mendapatkan cintamu. Kau tak akan mudah jatuh dalam pelukan seorang wanita. Gunakanlah jam ini dan carilah cintamu di zaman yang lain”

 ************

 

Kyungsoo menyeruput kopi miliknya. Sesekali ia melirik jam pasir tua, pemberian dari kakek penjaga toko antik. Ia sedikit tak yakin dengan perkataan sang kakek. Pasalnya, ucapan kakek terdengar aneh dan ganjil. Dan Kyungsoo sedikit ragu untuk menggunakan jam pasir. Terlebih ia tak mengerti cara menggunakan jam pasir yang kakek penjaga toko maksud.

Kyungsoo memperhatikan jam pasir tua itu. Ia memutar-mutar jam itu, seolah tengah mengamati sesuatu. Mungkin ada sesuatu yang istimewa dari jam pasir tersebut.

 

 

Tidak ada yang aneh, gumam Kyungsoo dalam hati. Dari sisi manapun, jam pasir tua tersebut terlihat seperti jam pasir pada umumnya. Tak ada keanehan dalam desain atau tambahan aksesoris di sana.

 

“temukan cintamu dengan jam pasir ini”

 

Perkataan sang kakek masih terngiang di telinga Kyungsoo. Ia mengacak rambutnya dengan kesal. Kini ia tak bisa menahan penasaran dengan maksud dari perkataan kakek penjaga toko antik itu. Ia mencoba mengotak-atik jam pasir, mungkin saja sesuatu terjadi.

Kyungsoo menghembuskan napas. Ia masih penasaran cara menggunakan jam pasir tua yang dimaksud oleh kakek tua itu. Tanpa ia sadari, ia membalikkan posisi jam pasir itu. Dan tiba-tiba keanehan terjadi—

 

Kyungsoo lenyap dari kamarnya sendiri.

************

 

Perlahan Kyungsoo membuka mata bulatnya. Pandangannya ia edarkan ke seluruh arah. Tempat yang kini ia pijak terlihat asing.

 

 

Kyungsoo berjalan menelusuri jalan. Benar-benar asing baginya. Bangunan di sekitar terlihat kuno, begitupun orang-orang yang lalu lalang, model rambut pun terlihat sangat kuno. Tak banyak mobil yang lewat bahkan bisa dihitung dengan jari. Kyungsoo sangat bingung.

 

Ia berada dimana?

 

Kyungsoo seperti orang aneh. Ia melangkah tetapi belum menentukan arah kemana ia pergi. Untuk mengenali tempat yang kini ia pijak saja Kyungsoo tak bisa, apalagi mencari sebuah bangunan untuk istirahat sejenak?

 ************

 

Tiba-tiba seorang gadis menabrak Kyungsoo. Gadis itu terlihat kerepotan dengan belanjaan yang ia bawa.

“maaf, aku tak sengaja” ucap gadis itu.

Kyungsoo hanya diam. Ia sibuk membantu membereskan barang milik gadis itu yang berserakan di jalan.

 

 

“sekali lagi, aku minta maaf” sesal gadis itu sambil membungkukkan badan.

Kyungsoo terpana melihat wajah gadis yang kini berada di hadapannya. Penampilan dan cara berpakaiannya memang terkesan kuno, tapi wajah cantiknya menutupi seluruhnya. Gadis berparas cantik itu berhasil membuat jantung Kyungsoo berdebar hanya dalam waktu beberapa menit.

“kau tidak apa-apa?”

“iya”

“terima kasih karena membantu membereskan belanjaanku”

“kau terlihat repot sekali. Mau kubantu?” tawar Kyungsoo

“benarkah? Apa tidak merepotkan?” tanya gadis itu, Kyungsoo menggeleng dengan cepat.

“terima kasih! Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

“Do Kyungsoo, dan kau?”

“Go Jihyun” jawab gadis itu sambil tersenyum. Benar-benar senyuman terindah yang pernah Kyungsoo lihat.

************

 

Kyungsoo menatap rumah milik Jihyun. Benar-benar kuno. Ia pun melempar pandangannya ke arah gadis cantik yang kini sibuk dengan barang belanjaan. Gadis itu aneh. Wajahnya cantik, tetapi kuno. Sebenarnya ia hidup di tahun berapa? Kenapa dia kuno sekali?, gumam Kyungsoo dalam hati.

“Jihyun-ssi”

“ne?”

“sekarang tahun berapa?” mendengar pertanyaan Kyungsoo, spontan Jihyun tertawa.

“kenapa? Apa pertanyaanku salah?”

“ternyata kau lucu juga. Tentu saja sekarang tahun 1980! Sebentar lagi kita mengadakan tahun baru”

Mata Kyungsoo membulat mendengarnya. Apa katanya? Tahun 1980? Apa dia gila? Bahkan Kyungsoo lahir tahun 1993. Bagaimana bisa ia berada di tahun 1980?

 

Apa dunia sudah gila?

 

“kau tidak bercanda?”

“tentu saja tidak! Perlukah aku menanyakan semua orang di sini kalau sekarang tahun 1980?”

“aku pasti sudah gila” gumam Kyungsoo, ia menggigit ujung bibirnya.

“kenapa?” tanya Jihyun polos. Ia membawakan senampan cemilan serta minuman.

“ti–tidak apa-apa”

“rumah mu dimana, Kyungsoo-ssi?” tanya Jihyun membuat Kyungsoo tersedak.

“rumahku?”

“iya, rumah mu”

“aku tak punya rumah” jawab Kyungsoo jujur.

“Apa?!”

Kyungsoo terlihat gugup. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri. Kini ia berada di tahun 1980, 13 tahun sebelum ia lahir. Itu berarti, Kyungsoo tak mempunyai rumah ataupun uang. Ia juga tak begitu mengerti bagaimana kehidupan zaman lalu karena ia bukan pakar sejarah dan catat, Kyungsoo paling membenci pelajaran sejarah.

“lalu selama ini kau tinggal dimana?” tanya Jihyun, ia menggigit ujung kukunya.

“aku tinggal di berbagai penginapan dengan sisa tabunganku”

 

Oh, jangan lupakan kemampuan akting Kyungsoo yang di atas rata-rata untuk seorang direktur utama.

 

“lalu terakhir kali kau tinggal dimana?”

“di penginapan yang cukup jauh dari sini”

“kenapa kau tidak mempunyai rumah?”

“rumahku terbakar 2 minggu yang lalu. Semua milikku habis tanpa tersisa. Hanya uang tabunganku saja”

“ya ampun. Kau mau tinggal di sini?” tanya Jihyun, ia sangat prihatin dengan cerita Kyungsoo, lebih tepatnya sebuah sandiwara yang Kyungsoo buat.

“aku masih bisa tinggal di beberapa penginapan”

“tidak bisa seperti itu. Kau akan sangat lelah karena terpaksa tinggal di berbagai tempat. Lagipula aku tinggal sendirian, jadi kau bisa tinggal di rumahku sampai kau mendapatkan rumah” bujuk Jihyun

Kyungsoo terlihat ragu. Sebenarnya, ia tak berniat membuat Jihyun prihatin hingga memaksanya untuk tinggal di rumahnya. Kyungsoo hanya ingin Jihyun tak mengetahui kalau ia datang dari tahun 2020. Ia akan dianggap gila oleh perempuan di hadapannya.

“tapi aku harus bayar dengan apa?” tanya Kyungsoo

“tidak perlu membayar apapun”

“aku tidak enak hati”

“kalau begitu, jadilah pegawai di pabrik milik keluargaku”

“tapi, kita baru bertemu. Apa kau tidak takut denganku?” tanya Kyungsoo

“tidak. Membantu sesama manusia kan kewajiban. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang manusia”

Jihyun memiliki sifat yang terlampau baik. Ia memiliki hati  yang lembut dan mudah menangis. Hatinya sangat sensitif dan peka. Itu mengapa, Jihyun berani menampung Kyungsoo di rumahnya walaupun mereka baru pertama kali bertemu. Lagipula, ada satu alasan mengapa Jihyun dengan terang-terangan memperbolehkan Kyungsoo untuk tinggal dengannya.

 

Sebuah alasan yang Jihyun sendiri tidak mengerti.

 

 

Keesokan harinya

Kyungsoo menatap pabrik yang kini berada di hadapannya. Pabrik yang cukup besar, menurutnya. Jihyun langsung menyuruh Kyungsoo masuk karena pekerja yang lain sudah mulai bekerja.

 

 

“kau petik anggur di perkebunan. Nanti kau akan diajarkan oleh Kim Suho” titah Jihyun, Kyungsoo hanya mengangguk.

 ************

 

Mata Kyungsoo membulat melihat sosok Kim Suho. Ia tak bisa berkedip sama sekali. Banyak bermunculan pertanyaan di benaknya.

 

Bagaimana bisa Suho mirip dengan Joonmyeon?

 

“kau Kyungsoo, kan?” tanya Suho lembut. Bahkan cara menatapnya pun sama dengan Joonmyeon

“i–iya”

“kau coba petik, nanti aku akan evaluasi” titah Suho

Kyungsoo terlihat belum bisa berpikir dengan benar. Ia masih terlalu shock saat melihat Suho. Wajah mereka sangat mirip, seperti kembar identik. Bahkan suara dan cara mereka berinteraksi dengan orang lain pun sama. Suho seperti Joonmyeon kedua yang hilang.

 ************

 

“kerja yang bagus! Sepertinya kau terbiasa memetik di kebun” puji Suho, Kyungsoo hanya tersenyum tipis.

“setelah itu, kau cuci kakimu lalu injak anggur-anggur ini”

“a–apa?!”

“kenapa? Kau kaget?” tanya Suho, Kyungsoo hanya menggeleng sambil tersenyum.

Aisssh, sekarang tahun 1980! Ingat itu, Do Kyungsoo, seru Kyungsoo dalam hati.

 

 

Malam hari

Kyungsoo merenggangkan seluruh otot tubuhnya setelah pekerjaan selesai. Ia tak tahu kalau menjadi pekerja di pabrik selelah ini. Ditambah tidak adanya mesin-mesin canggih membuat Kyungsoo harus melakukan pekerjaannya secara manual. Kyungsoo terbiasa duduk di kursi saat bekerja dan kalaupun berpergian, ia bisa memakai kendaraan yang ia miliki. Mungkin ini hal baru untuknya, tetapi menantang.

 ************

 

“Kyungsoo-ssi, kau mau makan apa malam ini?” tanya Jihyun

“apa saja”

“ya sudah, aku pergi keluar dulu” pamit Jihyun, Kyungsoo langsung menahannya.

“kenapa?” tanya Jihyun polos.

“jangan membeli makanan dari luar. Aku akan memasaknya”

 ************

 

Jihyun terkagum melihat betapa lihainya Kyungsoo memasak. Ada perasaan malu yang terselip di hati Jihyun. Ia seorang perempuan tetapi tidak terlalu bisa memasak. Jihyun jarang memasak karena ia sibuk di pabrik ditambah tidak ada yang mengajarkannya untuk memasak.

 ************

 

“wah, enak” puji Jihyun sambil tersenyum lebar. Ia tak sedang berbohong, masakan Kyungsoo benar-benar lezat.

Kyungsoo hanya tersenyum simpul. Ia hanya mendagu, memerhatikan perempuan cantik yang kini lahap memakan masakan buatannya. Entah mengapa, ada kepuasan tersendiri bagi Kyungsoo mendengar Jihyun menyukai masakannya. Dan rasa kepuasannya itu tak pernah ia rasakan kecuali memasak untuk ibunya.

 

 

Keesokan harinya

Kyungsoo asyik memainkan ranting kayu. Sesekali ia menggerakkan ranting itu, seakan tengah menulis sesuatu di langit. Kakek, apakah aku akan menemukan cintaku di zaman ini?, tanya Kyungsoo menatap langit biru. Berharap kakek penjaga toko itu menjawab pertanyaannya.

Kyungsoo teringat sesuatu. Ia merogoh saku celananya. Begitu bodohnya ia sampai tak menyadari kalau ada ponsel di saku. Tapi keanehan terjadi, ponsel miliknya mati. Berkali-kali Kyungsoo mencoba, ponsel miliknya tetap mati. Kyungsoo mendengus kesal. Seingatnya, ia selalu membawa ponsel miliknya dalam keadaan aktif. Apakah ia harus mengganti ponsel untuk yang ketiga kalinya?

 

 

Tiba-tiba Kyungsoo menatap ponsel hitam miliknya yang sebesar tangannya sendiri dengan intens. Matanya membulat. Dan mulutnya sedikit terbuka. Ia menyadari sesuatu—

 

Kyungsoo tak bisa mengubah sejarah.

 

“Kyungsoo-ssi!” panggilan Jihyun sukses membuat lamunannya buyar.

“hari ini aku ingin jalan-jalan bersama teman-temanku. Kau mau ikut?”

 ************

 

Kyungsoo menatap ketiga teman Jihyun. Semua temannya adalah laki-laki dan catat, penampilan mereka kuno.

“perkenalkan, ini Do Kyungsoo” ujar Jihyun pada teman-temannya.

“dia siapamu, Jihyun?” tanya pria bermata sipit.

“dia kekasihku” jawab Jihyun, Kyungsoo membulatkan matanya.

“aku hanya bercanda, Kyungsoo-ssi. Oh ya, mereka teman-temanku. Pria sipit ini namanya Byun Baekhyun, si tiang listrik itu bernama Park Chanyeol, dan yang satu ini kau pasti tahu, Kim Suho”

“senang berkenalan dengamu, mata bulat” canda Chanyeol, Kyungsoo hanya tersenyum tipis.

“kita mau kemana?” tanya Baekhyun

“piknik” jawab Suho singkat.

“YA! Hyung! Kita belum menyiapkan apapun! Lagipula siapa yang memasak bekal untuk kita?!” protes Baekhyun

“lagipula perempuan satu ini tak bisa memasak” sindir Chanyeol sambil melirik ke arah Jihyun.

 

PLEETAAK!

 

“YA! Kenapa kau memukulku?! Itu fakta!” protes Chanyeol sambil memegang kepalanya yang sakit.

“kalau kau protes lagi, aku robek mulutmu” mendengar ucapan Jihyun, Chanyeol hanya bisa mempoutkan bibirnya dengan lucu.

“mendengar kata piknik, aku jadi ingin piknik. Tapi masalahnya, tidak ada diantara kita yang bisa memasak” ujar Baekhyun

“kata siapa tidak ada yang bisa memasak?” tanya Jihyun memberikan Smirk ke arah Kyungsoo.

 ************

 

Kyungsoo sibuk memasak dibantu oleh Chanyeol. Sedangkan Suho, Jihyun, dan Baekhyun sibuk mempersiapkan barang yang akan mereka bawa.

Awalnya mereka hanya berencana untuk piknik. Tapi setelah diskusi panjang yang melibatkan pertengkaran Baekhyun dan Chanyeol, akhirnya mereka memutuskan untuk berkemah. Bukan rencana yang buruk.

 

 

“kau hebat juga, Kyungsoo” puji Chanyeol, Kyungsoo hanya tersenyum tipis.

“beda sekali dengan perempuan itu” sindir Chanyeol

Kyungsoo hanya tertawa kecil mendengarnya. Ia baru menyadari kalau Chanyeol dan Baekhyun memiliki persamaan sifat. Sama-sama aneh, sama-sama humoris, sama-sama Childish. Ia tak bisa membayangkan bagaimana lelahnya Suho dan Jihyun melerai pertengkaran mereka yang terlalu sering terjadi.

 ************

 

Kyungsoo terpana melihat pemandangan yang kini berada tepat di depannya. Banyak sekali ilalang dan tanah kosong. Padahal di tahun 2020, tempat yang kini tengah ia pijak padat akan bangunan.

“huaaah, segar sekali! Ayo, kita bangun tenda” ujar Baekhyun

“YA! Jihyun-ah, kau ikut membangun tenda” titah Chanyeol

“kenapa aku ikut membangun tenda?! Aku perempuan!” protes Jihyun

“apa peduliku kau perempuan atau tidak?” tanya Chanyeol, Jihyun hanya mendengus kesal.

“apa mereka selalu seperti itu?” tanya Kyungsoo pada Suho.

“selain dengan Baekhyun, Chanyeol memang sering bertengkar dengan Jihyun. Dia anak pencari masalah”

“lebih baik kau memasak, Kyungsoo. Aku dan Baekhyun akan membangun tenda. Biarkan mereka bertengkar” ujar Suho, Kyungsoo mengangguk.

 

 

Malam hari

Mereka berlima menikmati acara api unggun. Hawa api unggun membuat tubuh mereka merasakan kehangatan, begitu juga kebersamaan mereka.

Terdengar petikan gitar yang membentuk melodi indah, suara halus yang merdu membuat hati terasa tenang bila mendengarnya. Kyungsoo, Suho, dan Jihyun terlihat menikmati pertunjuk Baekhyun dan Chanyeol. Sekalipun mereka sering bertengkar, tapi mereka kompak.  Chanyeol terlihat handal memetik senar gitar, begitu juga Baekhyun yang menghayati lagu yang tengah ia nyanyikan.

 

 

“berapa umurmu, Kyungsoo-ssi?” pertanyaan Suho terlontar begitu saja dari mulutnya.

“aku?”

“umurku 28 tahun begitu juga Baekhyun, Suho-hyung 29 tahun. Sedangkan perempuan ini yang paling tua” ujar Chanyeol sambil melirik ke arah Jihyun.

“YA! Jangan cari masalah lagi!” kesal Jihyun

Kyungsoo menatap lekat Jihyun. Mata bulatnya terus memerhatikan perempuan cantik tersebut. Benarkah ia paling tua? Dari wajahnya, perempuan itu terlihat seumur dengan Chanyeol.

“umurku 33 tahun, aku juga sudah mempunyai seorang anak” jawaban Jihyun sontak membuat Kyungsoo yang asyik menikmati teh langsung tersedak.

“kau pasti bingung ya?” tanya Chanyeol, ia mengetahui kalau Kyungsoo tinggal di rumah Jihyun.

“Jihyun memiliki suami dan seorang anak. Tetapi suami Jihyun meninggal 2 tahun yang lalu. Jihyun diperintahkan untuk mengurus perusahaan suaminya maka dari itu, orang tua Jihyun mengambil alih anaknya”  jelas Suho

Kyungsoo hanya terdiam mendengarnya. Ia merasa tak enak hati pada keluarga Jihyun. Ia baru mengenal Jihyun tetapi sudah tinggal di rumahnya.

“umurmu berapa, Kyungsoo-ya?” tanya Baekhyun

“27 tahun”

“wah, dia paling muda di antara kita!” seru Chanyeol

“panggil aku hyung” pinta Baekhyun, Jihyun langsung melempar Death Glare ke arahnya.

“pantas kah kau disebut hyung?” sindir Jihyun

Baekhyun hanya mempoutkan bibirnya dengan lucu. Ia paling kesal kalau Jihyun sudah berkata seperti itu. Ia tak seperti Chanyeol yang berani melawan Jihyun.

 ************

 

Baekhyun, Chanyeol, dan Suho sudah terbang ke dunia mimpi mereka. Hanya Kyungsoo yang terlihat masih membuka matanya. Ia menatap langit malam bertabur bintang. Sesekali ia tersenyum menyadari betapa indahnya alam di zaman sebelum ia lahir. Kyungsoo mulai menginginkan zaman dimana ia hidup seperti zaman tempat ia terdampar. Indah, udara bersih, banyak orang-orang yang ramah, dan hal kuno yang sudah Kyungsoo lihat selama 2 hari ini. Termaksud Suho, Baekhyun, Chanyeol, dan Jihyun.

 

Tunggu—

Jihyun?

 

Wajah Kyungsoo bersemu merah menyadari pikirannya yang kini mulai di luar kendali. Ayolah, ia dan Jihyun baru mengenal selama 2 hari walaupun ia sudah tinggal bersama Jihyun selama 2 hari pula. Semudah itukah ia jatuh hati pada Single Parent cantik itu?

 

 

“YA! Do Kyungsoo!” panggilan tersebut sontak membuat Kyungsoo terkaget. Pikiran liarnya terpecah entah kemana.

“Jihyun-ssi?”

“kau belum tidur?” tanya Jihyun, ia pun duduk di samping kanan Kyungsoo.

“belum”

“kau pasti memikirkan sesuatu” terka Jihyun, wajah Kyungsoo langsung bersemu merah.

“YA! Kau benar-benar tengah memikirkan sesuatu! Seorang wanita? Kekasihmu? Atau hal-hal liar?”

Kyungsoo hanya menutup wajahnya yang memerah tak terkendali. Jihyun hanya tertawa melihat betapa malunya Kyungsoo. Menurutnya, Kyungsoo benar-benar Cute.

 

Apa katanya? Cute?

 

Kini giliran Jihyun yang pipinya bersemu merah. Ia menyembunyikan wajah cantiknya di balik rambut hitam miliknya. Cukup membuat Kyungsoo tak dapat melihat wajahnya yang menurutnya memalukan untuk dilihat.

“haruskah aku memanggilmu dengan sebutan Noona?” tanya Kyungsoo

Jihyun mengerutkan bibirnya lalu mengenyentil pelan dahi Kyungsoo. “aku tak suka seseorang memanggilku seperti itu. Aku tak suka merasa tua”.

“kalau rencana untuk mencari pendamping hidup?” pertanyaan kali ini sukses membuat Jihyun gugup.

“kau sudah memiliki seorang anak. Dan anakmu berhak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Aku yakin, anakmu masih terlalu kecil untuk mengetahui fakta tentang ayah kandungnya sendiri. Maka dari itu, biar ia tahu kalau ia memiliki seorang ayah sampai kau menjelaskan semuanya”

“terkadang ada lingkungan yang tidak menerima ia tak memiliki orang tua yang lengkap. Dan aku berharap, anakmu tidak menerima cemooh dari teman sekolahnya”

“kenapa kau seakan tahu akan hal itu?” tanya Jihyun

Kyungsoo hanya tersenyum tipis. Ia menatap kembali langit malam. “karena aku pernah merasakan bagaimana kerasnya lingkunganku yang tidak menerima aku tidak memiliki orang tua yang lengkap”

Jihyun tercengang mendengarnya. Ia sama sekali tidak tahu kalau Kyungsoo sudah tidak memiliki orang tua yang lengkap.

“sejak kapan kau tidak memiliki orang tua yang lengkap?” tanya Jihyun hati-hati, ia takut memancing kesedihan Kyungsoo.

“ayahku meninggal sejak aku berumur 2 tahun ”

Jihyun hampir menangis mendengarnya. Matanya berkaca-kaca mengetahui bahwa Kyungsoo bernasib sama seperti anaknya. Bahkan ia telah kehilangan ayahnya lebih belia dari Hyunhee, lirih Jihyun.

“kenapa dengan matamu, Jihyun?”

“ti–tidak! Hanya sedih saja mendengar ceritamu. Anakku kehilangan ayahnya saat ia berumur 7 tahun. Setidaknya ia bisa melihat ayahnya sendiri walau singkat. Tapi kau—”

“kau ini. Aku yang seharusnya sedih, bukan kau! Hapus air matamu, aku yakin suami dan anakmu akan sedih melihatmu meneteskan air mata” pinta Kyungsoo sambil menyodorkan sapu tangan miliknya.

 

 

Jihyun dan Kyungsoo terdiam. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Baik Jihyun yang sibuk menyeka air mata yang terus menetes ataupun Kyungsoo yang memikirkan sesuatu. Tepatnya memikirkan ayahnya. Ia tak terlalu ingat bagaimana sosok sang ayah. Yang ia ingat, ayahnya adalah seorang yang baik dan bertanggung jawab. Ayahnya adalah seorang yang tegas dan menyayanginya. Ayahnya memiliki mata bulat sepertinya. Dan semua hal yang Kyungsoo tahu tentang sang ayah berasal dari mulut sang ibu. Karena sang ibu tahu, Kyungsoo tak akan ingat bagaimana rasanya di pangkuan sang ayah, bagaimana timangan sang ayah.

 

 

“Kyungsoo-ya, boleh kah aku memanggilmu seperti itu?” tanya Jihyun, Kyungsoo mengangguk.

“aku mau bertanya satu hal padamu, Kyungsoo-ya”

“apa?”

“kalau aku jatuh cinta pada seorang pria yang jauh lebih muda dariku dan aku ingin sekali memilikinya, apakah suamiku akan marah?” Kyungsoo hanya bisa membungkam mulutnya.

“aku ingin membuat anakku kembali merasakan kasih sayang seorang ayah. Tapi aku takut, suamiku yang kini telah bersama-NYA akan marah. Aku takut suamiku menyangka aku tidak lagi mencintainya”

“apakah aku salah bila aku kembali mencintai seorang pria sama seperti aku mencintai suamiku?”

Kyungsoo hanya diam. Mata bulatnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia bingung, apa yang harus ia jawab. Pertanyaan Jihyun cukup sulit baginya. Dan Kyungsoo pun tidak tahu apapun karena sekalipun ia tak pernah terlibat dengan namanya Cinta.

 

 

Keesokan harinya

Kyungsoo tidur sambil terduduk. Ia tak bisa berbaring karena 90 persen tenda dikuasai oleh Baekhyun dan Chanyeol. Bahkan Suho terlihat harus tidur di dekat pintu keluar tenda karena ia tak bisa tidur di tengah tenda.

 

 

Dengan hati-hati Kyungsoo melangkahi tubuh Chanyeol dan Baekhyun dan sesekali bergumam kata maaf. Begitu juga Suho. Ia terpaksa melangkahi pria yang mungkin beberapa puluh tahun lebih tua darinya karena Suho menghalangi pintu keluar.

 ************

 

Kyungsoo terpana melihat pemandangan yang kini memanjakannya. Ia menatap Jihyun yang tengah mengeringkan rambut hitamnya yang basah.

“oh? Kau sudah bangun, Kyungsoo-ya!”

Kyungsoo hanya bisa menelan Saliva dengan gugup. Ia tak pernah merasa segugup ini bila di dekat perempuan.

“mau bantu aku memasak?” tanya Jihyun, Kyungsoo hanya mengangguk pelan.

 ************

 

Jihyun memerhatikan tangan Kyungsoo yang gesit memotong. Benar-benar seperti Chef handal. Sesekali Kyungsoo memberi intruksi untuk Jihyun. Ia mengajarkan bagaimana caranya untuk memasak.

“sulit sekali memotong wortel” keluh Jihyun

Kyungsoo yang mengetahui kesulitan Jihyun langsung melepas bawang bombay yang kini tengah ia cincang.  Tanpa disadari, Kyungsoo menggenggam punggung tangan Jihyun. Ia tak bermaksud apapun, hanya ingin mengajarkan pada Jihyun cara yang benar tanpa mengetahui kalau wajah Jihyun sudah memerah seperti kepiting rebus.

“kau sudah mengerti?” tanya Kyungsoo, Jihyun hanya mengangguk lalu menutupi wajahnya yang memerah dengan rambut hitamnya.

Kyungsoo tersenyum tipis lalu melanjutkan kegiatannya. Sedangkan Jihyun menunduk malu. Ia tak pernah merasakan jantungnya seperti ingin meledak bila bersama pria lain kecuali suaminya.

 

 

Seminggu kemudian

Kyungsoo sibuk bekerja menjadi pegawai pabrik. Ia harus memetik anggur, lalu menginjak anggur-anggur yang sudah ia petik, dan menyerahkannya kepada pegawai yang bekerja di dalam ruangan. Ia melakukannya dengan riang.

Jihyun mengawasi pegawai pabrik milik keluarganya tepatnya milik mendiang suaminya itu. Sesekali Jihyun membantu pegawai yang terlihat kerepotan.

************

 

Saat di kebun, Jihyun menangkap seorang pria yang beberapa hari ini memenuhi pikirannya. Do Kyungsoo, pegawai baru yang kini tinggal di rumah bersamanya. Kenapa mataku merasa kalau ia pria yang manis?, tanya Jihyun dalam hati.

Jihyun tak mengerti, mengapa setiap berada di dekat Kyungsoo, jantungnya seperti akan lepas dari tubuhnya, wajahnya akan dihiasi oleh warna merah muda, ia tak bisa menatap langsung kedua mata bulat pria itu, ia selalu kehilangan kata-kata setiap berada di depan pria bertubuh mungil yang tingginya hampir menyamai dirinya. Jihyun benar-benar tak mengerti.

 

 

“Kyungsoo-ya!”

Kyungsoo yang mendengar namanya langsung menaruh keranjang berisi anggur-anggur. Ia mencari seseorang yang menjadi sumber suara.

“ada apa?” tanya Kyungsoo, ia menghampiri Jihyun.

Saat jarak mereka hanya tinggal 1 langkah, Jihyun mendekatkan bibirnya ke telinga Kyungsoo dan otomatis Kyungsoo sedikit menunduk, menghormati atasannya itu. Mata Kyungsoo membulat mendengar perkataan Jihyun.

“nanti siang aku akan mengajak anakku jalan-jalan. Kebetulan hari ini dia libur dari sekolah. Maukah kau menemaniku?”

 

 

Siang hari

Kyungsoo menatap seorang anak perempuan yang kini tengah bergenggaman dengan Jihyun. Wajah anak perempuan itu cantik, sama seperti ibunya.

“ini anakku, Jang Hyunhee. Hyunhee, ini Kyungsoo-samchoon. Dia teman eomma” ujar Jihyun pada sang anak.

“annyeong hasseyo, Kyungsoo-samchooon” sapa Hyunhee sambil membungkukkan badannya, benar-benar anak sopan.

“Hyunhee cantik sekali” puji Kyungsoo. Jujur, Hyunhee memang berparas cantik. Kyungsoo rasa, banyak teman sekelas Hyunhee yang menyukai anak perempuan cantik itu.

“Hyunhee cantik sama seperti eomma” ujar Hyunhee polos membuat Jihyun tersipu malu.

“benar. Hyunhee cantik sama seperti eomma”

Pujian Kyungsoo sontak membuat wajah Jihyun memerah. Ia menutui wajahnya dengan rambut hitam miliknya, kebiasaan yang tak pernah hilang sejak dibangku SD.

 ************

 

Hyunhee terlihat senang dengan kehadiran Kyungsoo. Kyungsoo yang memiliki sifat dewasa melebihi Jihyun mampu membuat Hyunhee tidak merasa risih. Jihyun hanya bisa tersenyum melihat keakraban anaknya dengan pria yang memenuhi pikirannya itu.

“samchoon, belikan Hyunhee permen” pinta Hyunhee sambil merajuk.

“Hyunhee-ya, tidak boleh seperti itu pada—”

“baiklah, samchoon belikan! Hyunhee mau beli permen dimana?” tanya Kyungsoo pada gadis kecil yang kini berada di dekapannya.

“di sana! Tadi Hyunhee melihat toko permen di sana!”

ok captain!

Jihyun hanya tersenyum melihat Kyungsoo yang sepertinya asyik dengan anaknya. Terlintas dibenaknya—

 

Apakah Kyungsoo orang yang tepat untuknya?

Apakah Kyungsoo orang yang tepat untuk menjadi ayah bagi Hyunhee?

Apakah Kyungsoo orang yang tepat mengisi hati Jihyun selain suaminya, Jang Hyunjo?

Apakah Kyungsoo orang yang tepat  menjadi partner bersama dirinya untuk membesarkan Hyunhee?

 

Jihyun menggelengkan kepalanya, mengenyahkan seluruh pikiran yang kini memenuhi benaknya.

“kau kenapa, Jihyun-ah?” tanya Kyungsoo berbalik menatap perempuan yang kini hanya terdiam di tempatnya.

“tidak apa-apa. Ayo, kita lanjutkan perjalanan”

 ************

 

Mata Hyunhee terlihat berbinar menatap toko permen yang kini berada di depannya. Kyungsoo hanya diam menatap toko permen itu. Arsitektur yang kuno membuat Kyungsoo mengerutkan dahinya.

“ahjussi, ada permen strawberry?” tanya Hyunhee pada penjaga toko tersebut.

“ada, gadis kecil yang manis ini mau permen strawberry yang berbentuk apa?” tanya penjaga toko permen itu.

“bunga! Hyunhee suka bunga!”

“ok!”

Sembari menunggu penjaga toko permen membawakan permen, Hyunhee menghampiri Kyungsoo lalu memeluk kaki pria mungil itu. Ia merasa nyaman bersama Kyungsoo, sama seperti ia bersama ayah kandungnya.

 ************

 

“wah, pantas saja gadis kecil ini sangat cantik. Ayah dan ibunya memiliki wajah yang menawan” puji penjaga toko saat menyerahkan permen pada Hyunhee.

“ne?!”

“aisssh, anak ini manis seperti ayahnya dan cantik seperti ibunya! Rasanya ingin membawa ia pulang” puji penjaga toko permen tersebut, ia memang terlihat menyukai Hyunhee. Gadis kecil itu hanya asyik menikmati permen miliknya. Ia tak mengerti apapun.

 ************

 

Setelah perkataan sang penjaga toko permen, suasananya menjadi canggung. Baik Jihyun dan Kyungsoo tak berani memulai pembicaraan. Mereka merasa malu dengan perkataan tersebut.

“eomma, samchoon. Kenapa kalian diam?” tanya Hyunhee polos.

“memangnya kenapa kalau eomma diam?”

“tidak seru!”

“baiklah, baiklah. Hyunhee mau samchoon melakukan apa?” tanya Kyungsoo

Hyunhee terlihat berpikir. Terlintas di benak gadis itu perkataan sang penjaga toko. Gadis kecil itu menyunggingkan senyuman lebar membuat Kyungsoo dan Jihyun kebingungan.

“kau kenapa, sayang? Terlihat senang sekali” kata Jihyun mencubit pelan pipi sang anak.

“eomma, Hyunhee punya permintaan”

“apa, sayang?”

“tapi eomma janji untuk mengabulkan permintaan Hyunhee. Eomma janji?” pinta Hyunhee sambil menunjukkan jari kelingkingnya yang kecil.

“eomma janji” Jihyun mengaitkan kelingking miliknya yang jauh lebih besar dengan kelingking Hyunhee.

“aku ingin memiliki seorang appa”

Permintaan Hyunhee sontak membuat Jihyun dan Kyungsoo terkaget. Mereka tak menyangka gadis kecil itu meminta permintaan yang tak pernah mereka pikirkan.

“teman-teman Hyunhee memiliki appa. Setiap pengambilan rapot, appa teman Hyunhee pasti datang. Tapi yang mengambil rapot Hyunhee hanya eomma atau halmeoni”

“dan Hyunhee mau yang menjadi appa Hyunhee adalah—”

Jantung Jihyun terasa ingin meledak. Mendengar sang ank memintanya untuk mencari pendamping baru saja sudah membuat jantungnya berdenyut kencang.

“Kyungsoo-samchoon mau jadi appa Hyunhee?”

 

DEG!

 

Kedua orang dewasa itu seketika membeku. Mereka Shock atas permintaan seorang gadis kecil cantik itu.

Hyunhee pun menautkan tangan Kyungsoo dan tangan ibunya sendiri. Lalu ia membuat kedua tangan orang dewasa itu bergenggaman tangan.

“mulai sekarang, Kyungsoo-samchoon adalah appa Hyunhee! Kyungsoo-appa!”

Kyungsoo seperti merasakan sengatan listrik dari genggaman itu. Ia merasa malu tetapi tak mau melepaskan tangan lentik milik Jihyun.

“eomma, boleh ya?”

Jihyun menatap anak semata wayangnya itu lalu menatap Kyungsoo. Tatapan Jihyun seperti mengisyaratkan, apa yang harus kulakukan?. Kyungsoo hanya tersenyum lalu makin menggenggam erat tangan Jihyun yang membuat Single Parent itu terbelalak kaget.

“ayo kita coba. Demi Hyunhee”

 

 

Seminggu kemudian

Kyungsoo dan Jihyun terlihat jalan bersama. Tangan mereka menaut satu sama lain. Senyuman terus tersungging di bibir mereka.

Ternyata hubungan mereka tak seburuk yang mereka kira. Orang tua Jihyun bahkan orang tua Hyunjo menyetujui hubungan mereka. Kedua keluarga itu seperti menantikan pengganti ayah Hyunhee.

“hari ini aku mengajakmu untuk mengunjungi Hyunjo-oppa” ujar Jihyun

“baguslah. Aku akan meminta izin pada Hyunjo-hyung”

 ************

 

Kyungsoo membungkukkan badan pada sebuah nisan bertulis Jang Hyunjo. Ia memberikan penghormatan begitu pula Jihyun.

“hyung, namaku Do Kyungsoo. Aku kekasih istrimu”

“aku meminta izin padamu untuk  memilikinya, tidak masalah bukan?”

Jihyun hanya tersenyum tipis menatap Kyungsoo dan nisan suami tercintanya secara bergantian. Ia senang, Kyungsoo sopan pada mendiang suaminya.

 

 

Malam hari

Kyungsoo terlihat asyik memasak bersama Go Hyura, ibu dari Jihyun. Hyura memuji kemampuan memasak Kyungsoo yang lebih baik dari Jihyun.

Aigoo, calon menantuku pintar sekali memasak. Beda dengan anakku sendiri” puji Hyura sekaligus menyindir anak semata wayangnya yang kini tengah berada di sampingnya.

“eomma! Berhentilah membicarakan kemampuan memasakku!”

Kyungsoo hanya tertawa ringan. Ia tetap serius dengan masakan yang kini tengah ia kerjakan. Sedangkan Go Sangchul, ayah dari Jihyun sibuk bermain dengan cucu kesayangannya, Hyunhee.

 ************

 

“kapan kalian menikah?” pertanyaan tersebuk terlontak begitu saja dari mulut Hyura. Ia sudah tak sabar ingin melihat anaknya menikah.

“eomma! Aku baru menjalin hubungan selama seminggu, bisakah eomma menunggu sebentar lagi?” tanya Jihyun, ia sangat risih mendengar pertanyaan ibunya itu.

“apa salahnya eommamu bertanya seperti ini, eoh?!”

Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Sangchul yang sepertinya sudah biasa asyik menikmati makan malam. Sesekali ia menggoda sang cucu.

 

 

2 hari kemudian

Hari ini tepat tahun baru, 1981. Jihyun dan Kyungsoo memutuskan untuk kencan bersama di malam tahun baru. Mumpung tidak ada yang bisa mereka kerjakan.

 ************

 

Kyungsoo terkagum melihat sebuah festival. Jihyun yang mengajaknya ke festival tersebut karena memang festival itu diadakan setahun sekali tepat saat tahun baru.

 

 

Jihyun dan Kyungsoo asyik menikmati perjalan mereka. Sering kali mereka bermain di stand permainan yang tersedia. Mereka juga membeli beberapa makanan dan saling menyuapi satu sama lain. Benar-benar pasangan yang romantis.

 

 

“Kyungsoo-ya! Lihat! Ada kembang api!” seru Jihyun menunjuk langit malam.

“wah, indah sekali” kagum Kyungsoo

“aku tahu dimana tempat yang bagus untuk melihatnya!” kata Jihyun lalu menarik tangan kekasihnya itu.

 ************

 

Mulut Kyungsoo terbuka melihat pemandangan kembang api yang kini memanjakannya. Benar kata Jihyun, melihat dari pinggir sungai membuat kembang api makin terlihat. Mata bulatnya berbinar-binar, mengagumi indahnya kembang api tersebut.

“Kyungsoo-ya, aku mempunyai sebuah impian” ujar Jihyun, mata indahnya masih memandang kembang api.

“apa?”

“menikahimu lalu hidup bahagia bersamamu dan Hyunhee”

“impian yang indah sekali”

“benarkah? Aku selalu berharap seperti itu. Jangan tinggalkan aku ya?” pinta Jihyun, Kyungsoo mengangguk.

“kau bisa tatap aku?” pinta Jihyun lagi, Kyungsoo pun menengok ke arahnya. Mengacuhkan kembang api yang sedaritadi memanjakan matanya.

 

Cup!

 

Mata Kyungsoo membulat. Ia tak bisa berpikir dengan jernih. Otaknya seperti mati fungsi. Badannya terasa kaku. Ia terdiam membeku.

 

Itu adalah ciuman pertamanya

 

“YA! Kyungsoo-ya! Sebegitu manisnya kah kecupanku?” tanya Jihyun dari jauh.

Kyungsoo tersadar kalau Jihyun berlari meninggalkannya. Ia menyentuh bibirnya lalu tersenyum. Walaupun singkat, tetapi terasa manis.

“YA! Sini kau! Beraninya merebut First Kiss ku!” seru Kyungsoo berlari mengejar Jihyun.

 

HAP!

 

Kyungsoo berhasil menangkap perempuan itu. Ia memeluk perempuan itu dari belakang. Memeluk pinggang S Line milik kekasihnya itu.

“YA! Noona”

“aisssh, jangan panggil aku seperti itu”

“Noona…”

“sudah kubilang! Berhentilah memanggilku seperti itu. Apakah masih kurang?”

 

Kyungsoo terbelalak kaget. Ia menyadari sesuatu. Lalu menyentuh kedua tangannya.

 

Tubuh Kyungsoo terlihat transparan.

 

“kau kenapa melepas pelukanya?” tanya Jihyun

Kyungsoo terkaget mendengar perkataan Jihyun. Sedaritadi Kyungsoo tak melepaskan pelukannya. Tetapi mengapa Jihyun merasa bahwa ia melepaskan pelukannya? Mengapa tubuhnya tiba-tiba terlihat transparan?

“kau kenapa?”

“tidak apa-apa”

 

Tanpa Kyungsoo sadari, waktunya mulai menipis seiring butiran pasir yang terus terjatuh.

 

 

Seminggu kemudian

Kyungsoo merasakan hal aneh. Tubuhnya sering sekali terlihat transparan. Ia tak bisa memegang benda apapun, seperti hanya sebuah angin. Kyungsoo juga sering melamun, memikirkan kemungkinan mengapa tubuhnya terasa aneh.

 

 

“Kyungsoo-ya, aku sakit?” tanya Baekhyun saat mereka tengah beristirahat.

“tidak”

“kau terlihat aneh” ujar Suho

“benarkah?”

“kau terlihat lebih sering melamun lalu menghilang tiba-tiba” kini giliran Chanyeol yang mengeluarkan pendapatnya.

“kau butuh tempat untuk bersandar?” tanya Suho, ia tahu kalau temannya itu resah.

“kau memiliki masalah dengan Jihyun?” tanya Chanyeol, Kyungsoo menggeleng.

“apa yang harus kulakukan?” gumam Kyungsoo, ia terlihat bingung.

 

 

Malam hari

Jihyun menatap kekasihnya yang kini menjadi pendiam. Sebenarnya Kyungsoo memang tipikal pendiam. Namun kini Kyungsoo jauh lebih pendiam lagi. Bahkan Kyungsoo terlihat tak berkonsentrasi saat bekerja. Dan itu membuat Jihyun kebingungan serta khawatir.

“kau kenapa, Kyungsoo-ya?” tanya Jihyun, Kyungsoo meletakkan sendok miliknya.

“ne?”

“kau aneh. Akhir-akhir ini kau lebih pendiam. Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?”

“tidak ada”

“bohong”

Kyungsoo tak bisa membalas perkataan sang kekasih. Ia lebih memilih kembali memakan makan malamnya, membiarkan sang kekasih mengerut bibirnya dengan kesal.

 

 

4 hari kemudian

Hari ini tepat ulang tahun Kyungsoo. Dan Kyungsoo makin sering merasakan kalau tubuhnya menghilang. Kini ia mengerti sesuatu, waktunya tidak lama lagi.

 

Jihyun dan Kyungsoo memutuskan untuk kembali kencan, membawa Hyunhee bersama mereka. Kyungsoo berharap ini bukan kencan terakhirnya bersama Jihyun. Walaupun ia tak bisa berharap banyak.

 

 

Jihyun, Kyungsoo, dan Hyunhee bersenang-senang. Bermain gelembung bersama, piknik bersama, saling menyuapi satu sama lain, bermain bersama, dan tidur di hamparan rumput menatap langit yang kini mulai tenggelam. Mereka menikmati hari dengan senyuman, seakan itu bukan hari terakhir Kyungsoo. Hyunhee terlihat sangat senang.

 ***************

 

“Hyunhee sayang Kyungsoo-appa!” seru gadis kecil itu lalu mengecup manis pipi kanan Kyungsoo.

“aigoo, anak appa ini imut sekali” puji Kyungsoo lalu mencium bibir kecil milik Hyunhee.

“Jihyun-ah”

“mmm?”

“bisakah kau lebih dekat denganku?” pinta Kyungsoo, matanya terlihat berkaca-kaca.

Jihyun berjalan maju, seirama dengan butiran pasir yang makin menipis. Jihyun merasakan sebuah kesedihan. Hatinya sesak, matanya ikut berkaca-kaca. Tetapi ia tak tahu apa yang membuatnya ingin menangis.

 

 

Saat jarak Jihyun dan Kyungsoo hanya tinggal sejengkal, Kyungsoo merengkuh wajah cantik Jihyun. Ia menutup kedua mata bulatnya, bersamaan dengan Jihyun yang menutup matanya pula. Ia kecup lembut bibir merah Cherry milik Jihyun. Berharap ini bukan yang terakhir kalinya.

Setelah ia melepaskan bibirnya dengan bibir Jihyun, Kyungsoo memakaikan sebuah gelang ke lengan Jihyun. Jihyun tak mengerti dengan sikap kekasihnya itu.

 

 

“eomma! Eomma! Kyungsoo-appa menghilang! Kyungsoo-appa menghilang!” seru Hyunhee melihat tubuh Kyungsoo yang mulai transparan.

 

Tuhan, inikah yang terakhir kalinya?

 

Jihyun menutup mulutnya, bulir-bulir air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya. Ia tak mengerti semua ini.

“Jihyun, aku akan menceritakan semuanya”

“aku manusia yang seharusnya berada di tahun 2020, aku bukan manusia di tahun 1980 atau 1981. Bahkan aku lahir di tahun 1993″

“aku mengarungi waktu, mencoba mencari cinta yang selama ini kutunggu. Mencari perempuan yang sanggup membuatku jatuh hati”

“dan ternyata perjalananku tidak sia-sia. Aku menemukan cintaku di sini. Aku menemukan cinta pertamaku dan First Kiss ku. Aku benar-benar senang” air mata kian deras mengalir dari pelupuk mata Jihyun maupun Hyunhee. Sekalipun ia seorang gadis kecil, ia bisa merasakan kesedihan yang sangat dalam.

“maafkan aku, aku tak bisa mewujudkan impianmu. Menikah lalu kita hidup bahagia. Kita ditakdirkan di zaman yang berbeda, tapi kita ditakdirkan untuk saling mencintai”

“maafkan aku karena aku meninggalkanmu, mengingkari janjiku sendiri di tahun baru. Aku minta maaf”

“Kyungsoo-ya”

Jihyun mencoba menyentuh tubuh Kyungsoo. Sekeras apapun mencoba, ia tak bisa menyentuhnya. Kyungsoo hanya seperti angin yang tak bisa disentuh.

“Kyungsoo-ya, kumohon”

“maafkan aku”

“Kyungsoo-ya”

“aku mencintaimu, Go Jihyun” perlahan tubuh Kyungsoo kian menghilang.

“aku juga mencintamu, Kyungsoo. Sangat mencintaimu” ucap Jihyun bersamaan dengan senyuman manis yang tersungging di bibir Kyungsoo.

“eomma! Kyungsoo-appa kemana? Kenapa Kyungsoo-appa menghilang?!” tangis Hyunhee pecah.

“sayang, Kyungsoo-appa sudah kembali ke rumahnya”

“aku mau Kyungsoo-appa!” tangis Hyunhee makin keras.

“Hyunhee, Kyungsoo-appa sudah pergi ke tempat yang layak. Ia sudah berada di tempat yang seharusnya ia tinggali—”

 

Dan zaman yang seharusnya ia tempati.

************

 

Chanyeol merogoh kotak surat merah miliknya. Ia mengangkat salah satu alisnya mengetahui siapa yang mengirim surat untuknya.

 

 

Matanya melebar membaca surat yang ditujukan untuknya. Air matanya menetes satu persatu. Tak mempedulikan kalau ia seorang pria.

 

 

To: Park Chanyeol

Annyeong orang aneh! Bagaimana kabarmu? Aisssh, aku baru saja bertemu 2 hari yang lalu.

 

Oh ya, aku ingin meminta tolong padamu. Tugas terberat yang seharusnya kau lakukan. Kau temanku kan? kekeke~

Sebelumnya, aku akan menceritakan sesuatu.

Aku manusia dari tahun 2020, dimana kau sudah menjadi kakek-kakek tua. Eitsss, jangan marah dulu!

Aku mengirim surat ini karena aku menyadari sesuatu, aku akan kembali ke tahun aku tinggal, tahun 2020. Mungkin setelah kau membaca surat ini, kau tidak bisa melihatku, bertemu denganku, bahkan meledekku seperti biasanya.

Aku ingin meminta tolong padamu sebagai sesama pria, maukah kau menjaga Jihyun untukku? Aku tahu kau sangat mencintainya dan aku sangat mempercayaimu. Tolong jaga Jihyun dan Hyunhee untukku, kau mau kan?

Aku mohon, sebagai sahabat yang baik, kau mau menolongku bukan? Kalau kau ditakdirkan hidup sampai tahun 2020, aku akan berusaha untuk menemukanmu. Sekalipun kau sudah banyak keriput, aku yakin aku bisa mengenalimu dari tubuh tiang listrikmu. Tolong jaga Jihyun dan Hyunhee ya? Untukku dan untuk cintamu pada Jihyun.

Annyeong!

Do Kyungsoo

 ************

 

 

Seorang pria tengah berjalan santai. Sesekali ia menyeruput kopi miliknya. Gayanya yang santai bisa ditebak bahwa pria itu tengah menikmati masa cutinya.

 

BRUK!

 

Pria itu terjatuh, bersamaan dengan seorang wanita lanjut usia yang sibuk membawa belanjaan miliknya. Pria tak lain adalah Do Kyungsoo langsung membantu wanita itu untuk membereskan belanjaan yang berserakan.

“maafkan aku, aku minta maaf” sesal Kyungsoo

Wanita itu hanya tersenyum yang membuat Kyungsoo terpana. Ia seperti pernah merasakan senyuman itu. Senyuman yang mampu membuatnya seperti tersengat aliran listrik.

 

Saat wanita lanjut usia itu berjalan, Kyungsoo memerhatikan lengan keriputnya yang terlihat tulang berbalut kulit. Matanya membulat melihat sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan nenek itu.

“Jihyun-ah…”

Kyungsoo membiarkan nenek itu berjalan meninggalkannya, seperti ia meninggalkan perempuan itu di tahun 1981.

 

 

Walaupun waktu cepat berlalu, ia tak akan pernah melupakan cinta pertamanya. Cinta pertamanya di tahun 1980.

END

Advertisements

One thought on “Time Slip

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s