Miss…

Starring by Tao, Luhan, Lay from EXO

a Ficlet by Rharaam

Brothership, Friendship | General

Luhan menggeser tubuhnya saat Yixing menepuk bahunya ketika ia hendak masuk ke dalam kamar hotel mereka. Luhan tersenyum hangat padanya.

“lelah?” tanya Luhan sembari berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan Yixing.

“tidak akan selelah dirimu, tuan aktor” Yixing terkekeh kecil begitu menerima sebuah tinju halus dari Luhan di lengannya.

Jalan Luhan terhenti ketika merasa Yixing menyikutnya. Ia lalu memandang pria itu dengan sebelah alis yang terangkat. Yixing menunjukan sesuatu dengan lirikan matanya yang membuat Luhan harus mendapati rekan setimnya sedang duduk diam dan menatap layar ponselnya. Anggota termuda di unit mereka, Tao. Sulit mendapati anak itu duduk terdiam manis seperti itu. Sungguh pemandangan langka. Tapi mereka sudah memakan terlalu banyak waktu untuk kebersamaan mereka hanya untuk tidak menyadari ada yang salah dengan salah satu dari mereka. Kalau Luhan tidak salah mengingat, terakhir ia mendapati Tao seperti itu saat kejadian terbesar yang tidak pernah mereka sangka akan terjadi menimpa mereka. Kehilangan satu rekan, kehilangan satu saudara seperjuangan mereka.

“hey dude, what’s going on?” Luhan membuka suaranya membuat Tao tersadar akan kehadiran orang lain selain dirinya di ruangan itu. Pria bermata seperti mata rusa itu kini menghempaskan dirinya disamping Tao, yang kemudian disusul Yixing yang ikut menghempaskan dirinya disisi lain Tao.

“kau tidak cocok memakai bahasa itu, ge. Kau membuatku geli” kata Tao yang langsung disambut tawa Yixing yang seakan mengamini perkataannya.

“jangan memancingku untuk melempari kalian dengan bantal” keluh Luhan. Sedetik kemudian ia mendapati Tao dan Yixing tengah tersenyum meminta kedamaian padanya.

“apa yang sedang kau lakukan, Tao? aku pikir kau sedang mencari makan bersama Sehun dan Chanyeol” tanya Yixing kali ini.

“aku sedang menunggu mereka. Membawakan makanan untukku” jawab Tao lengkap dengan senyum gelinya.

“itu… Yifan?” tanya Luhan terbata. Matanya tertuju pada layar ponsel dalam genggaman Tao yang menampilkan punggung seorang pria yang tengah melompat ingin memasukan bola basket dalam ringnya. Dan punggung itu terlalu dikenalnya. Punggung seseorang yang dulu selalu mengkhawatirkan mereka. Punggung seseorang yang dulu selalu memarahi kecerobohan mereka. Punggung yang dulu terlihat hangat. Luhan menatap Tao. Kini ia tahu apa yang membuat Tao seperti itu, dan ternyata alasannya juga sama sekali tidak ada bedanya dengan waktu itu.

Tao menundukan wajahnya. Ia merasa sesuatu seperti akan tumpah dari pelupuk matanya, tapi ia tidak ingin itu terjadi dihadapan Luhan dan Yixing. Tidak didepan gege-gege—nya. Ia sudah terlalu banyak merepotkan mereka dengan segala tingkah manja dan cengengnya dan kali ini ia juga tidak mau merepotkan mereka lagi untuk menenangkannya hanya karena air-air asin sialan itu jatuh tanpa henti dari pelupuk matanya. Dan lagipula ia sudah berjanji dalam hatinya saat itu. Berjanji pada dirinya sendiri. Berjanji untuk tidak akan menangis lagi karena bahu penenangnya memutuskan untuk meninggalkannya. Memutuskan untuk mengakhiri perjuangan yang mereka lakukan bersama.

“aku juga merindukannya” sahut Yixing tiba-tiba saat keheningan berhasil mendominasi mereka.

“dan aku yakin yang lainnya juga” Luhan mengamini perkataan Yixing. “tidak apa jika kau merindukannya. Tak ada yang bisa melarang rindu untuk menghampiri siapa saja.” Luhan menggenggam tangan Tao yang terkepal dan bergetar. Luhan tau Tao sedang berjuang menahan tangis.

Yixing menepuk lembut kepala Tao. Cara lain untuk menghiburnya, karena ia tahu pelukannya pun tidak akan mempan karena Tao merindukan pelukan hangat orang itu. Yixing memilih bangkit ketika tiba-tiba ia merasa sesuatu seperti ingin mendesak keluar dari matanya, tapi tangan Tao menahan gerakannya.

ge, aku bisa memeluk kalian kan?” pinta Tao yang masih menundukan wajahnya. Luhan tersenyum lembut dan melebarkan lengannya untuk memeluk Tao sehangat yang ia bisa walaupun ia tahu pelukannya tidak mungkin sehangat pelukan orang itu.

Sesuatu yang mendesak keluar dari pelupuk mata Yixing lolos begitu saja tanpa ijinnya. Tapi Yixing tidak peduli. Terserah jika penyakit cengeng Tao sudah menjangkitinya. Ia hanya ingin memberikan pelukan terhangatnya untuk Tao walaupun ia tahu itu tidak mungkin sama hangatnya dengan pelukan orang itu.

“aku tidak sedih saat merindukannya. Karena itu membuat aku sadar, aku masih memiliki 10 bahu yang bisa kusandarkan kepalaku. Aku masih memiliki 10 pasang tangan yang dilebarkan untuk memelukku. Dan aku masih memiliki 10 orang yang bisa ku peluk setiap saat”

~kkeut

Hai~ Pertama kali post FF disini haha. Maaf ya justru FF sad yang aku post.
FF ini sebenarnya udah lama waktu masih hangat2nya Kris Out dan pastinya waktu Luhan masih sma EXO. Aku inget ini ceritanya aku buat waktu KrisEXO masuk TTWW gara2 ada salah satu artis yang foto bareng Kris dan ngira Kris masih anggota EXO. Dan tentu saja itu bikin sebuah harapan buat para fans kalo Kris emang bakalan balik ke EXO tapi ternyata itu hanya PHP haha. Ahsyudahlah tidak usah diperpanjang lagi.
Semoga kalian suka FF nya 😀 jangan lupa komentar 😉

XOXO

Rharaam

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s