Like Fortune Goddess [Chapter 3]

LIKE AMOORE GODDEST

Poster and Storyline belong to Me

Teaser | 1 | 2 |

Main cast:
Im Yoona | Choi Siwon | Lee Donghae
Other cast:
Lee Qri | Ham Eunjung | Leo Jung | Nickhun | Tiffany
Genre:
Romance | Fantasy | AU | Commedy

Length:

Multichapter
Rating:
PG-13

Sorry typos

Siwon heran kenapa ada gadis asing yang mengetahui namanya? Baru kali ini dia bertemu dengan gadis itu, tapi nampaknya gadis berambut sebahu itu sudah mengenalnya dan mencoba akrab dengannya. “Siapa kau?” tanya Siwon bingung.

Tiffany merasa senang karena Siwon mau menanggapinya. “Aku Tiffany Hwang, panggil aku Tiffany saja.”

Siwon menjabat tangan gadis yang tersenyum manis semanis gula aren itu. “Senang berkenalan denganmu,” ucap Siwon hanya sebagai formalitas saat berkenalan dengan seseorang.

Sementara itu, Yoona menatap kedua makhluk yang baru saja berkenalan dari jarak yang cukup jauh. Gadis itu belum bergeser sedikit pun dari tempat semula saat berbincang dengan Tiffany tadi. Keningnya berkerut saat mencoba mengingat malam di mana dirinya akan menabur serbuk keberuntungan. Wajah laki-laki itu sedikit buram tapi sepertinya mirip dengan Siwon. “Apakah laki-laki itu memang Siwon-ssi?” gumam Yoona yang telah berusaha memutar memorinya dengan paksa.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Omo!” seru Yoona kaget. Seketika itu dia menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing lagi di indera telinganya. “Donghae-ssi!” Kedua alis Yoona terangkat saat mengucapkan nama Donghae.

“Qri sedang mencarimu. Kau malah melamun di sini. Acara segera dimulai. Karena acara ini spesial untukmu, kau tidak boleh menghilang lagi.”

Tap!

Donghae menarik tangan kiri Yoona dan mengajaknya menemui Qri yang sudah berdiri di dekat meja yang terhidang cake lezat di atasnya.

“Aigoo, dari mana saja kau? Aku telah mencarimu ke mana-mana,” sambut Qri saat Yoona berjalan ke arahnya.

“Maaf, tadi aku hanya menikmati indahnya hiasan dekorasi.” Yoona terpaksa membohongi Qri karena jika dia berterus terang, Qri malah semakin bingung.

“Gurae, kita mulai acaranya.”

Acara penyambutan Yoona sebagai anggota keluarga Lee berjalan dengan mulis, semulus jalan beraspal. Semua hadirin yang datang di acara pesta itu memberi selamat kepada Yoona, termasuk Siwon dan Tiffany.

Yoona berdiri di dekat pintu gerbang di mana banyak tamu undangan yang berpamitan pulang karena acara memang sudah selesai. Saat giliran Tiffany berpamitan, Yoona menatap gadis itu lekat-lekat.

“Waeyo?” tanya Tiffany yang merasa bahwa Yoona sedang mengintimidasi dirinya lewat tatapan mata rusa itu.

“Anhi,” jawab Yoona singkat dilengkapi dengan gelengan kepala pelan. “Tiffany-ssi, aku sedikit ingat memori itu.”

“Memori apa?”

“Memori saat kau merebut serbuk keberuntungan untuk laki-laki bernama Choi Siwon.”

Tiffany kaget mendengar jawaban Yoona. Ia merasa seperti dicekik menggunakan tali tambang. “Cih! Hanya itu yang kau ingat?” Nada bertanya Tiffany terdengar meremehkan Yoona.

Yoona tak bisa menjawab pertanyaan Tiffany. Memori itu memang telah berhasil diputer oleh otaknya secara paksa. Namun hanya itu yang dia ingat.

“Menurutku hal itu tidak penting,” kata Tiffany yang langsung berhambur mendekati Donghae dan Siwon yang tengah asyik berbincang di teras rumah keluarga Lee.

“Annyeong,” sapa Tiffany pada Donghae dan Siwon.

Kedua namja itu terpaksa menghentikan aktifitas mereka yang sedang seru membahas meeting tadi pagi.

“Tiffany-ssi! Kau belum pulang?” tanya Siwon saat Tiffany berdiri di sampingnya.

Tiffany menggelengkan kepala dan tersenyum. “Belum.” Gadis itu selalu tersenyum di depan Siwon.

“Aku baru bertemu denganmu. Apakah kau tetangga baru kami?” tanya Donghae polos.

Siwon ikut menyimak jawaban apa yang akan diberikan oleh Tiffany pada Donghae. Gadis itu lagi-lagi tersenyum. Senyumnya memang memiliki daya pikat tersendiri.

“Eoh, ya, aku tetangga baru. Kenalkan, namaku Tiffany Hwang.” Tiffany mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Donghae.

“Lee Donghae, tuan rumah di sini. Maaf aku belum sempat mengucapkan terimakasih pada Anda karena sudah bersedia datang di acara pesta ini,” ungkap Donghae yang juga mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Tiffany.

“Kenapa kalian mengadakan acara seperti ini?” tanya Tiffany yang langsung mendapat respon aneh dari Siwon dan Donghae.

“Acara ini untuk menyambut Yoona sebagai anggota keluarga kami,” terang Donghae. “Saudariku yang menginginkannya,” tambahnya.

Para tamu sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Kebanyakan tamu yang datang adalah teman-teman Qri, Donghae dan beberapa orang tetangga mereka yang memang memiliki waktu luang untuk menghadiri pesta kecil-kecilan untuk menyambut Yoona.

Semua barang yang digunakan dalam acara pesta tadi sudah diberesi oleh beberapa orang yang disewa untuk membantu memenuhi kebutuhan pesta.

Yoona terduduk di atas bangku kayu panjang-berwarna putih yang diletakkan di teras belakang rumah. Menjadi manusia memang merepotkan. Rasa lelah dan gangguan pada tubuh membuatnya tidak betah menjadi seorang manusia. “Apakah kehidupan manusia memang seperti ini?” gumamnya lirih sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku itu. Kedua matanya terpejam. Betapa nikmatnya bisa memejamkan mata walau hanya sesaat. Semoga tidak ada orang yang memanggilnya karena hal itu bisa mengganggu istirahatnya.

“Kau pasti lelah.” Qri ikut nimbrung duduk di bangku bersama Yoona.

Yoona merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Ia terpaksa menegakkan kepalanya dan membuka matanya untuk melihat Qri. Sepertinya begitu, Eonni. Apakah kau tidak lelah?”

“Aku juga lelah. Tapi aku harus mengerjakan laporanku karena besok ada meeting di kantor.”

“Mwo? Meeting? Pasti penting, ya?”

Qri tersenyum. “Lumayan,” jawabnya.

“Lalu kenapa eonni menyelenggarakan pesta itu? Seharusnya eonni tadi bisa mengerjakan laporan.”

“Aku butuh hiburan. Maka dari itu aku membuat pesta penyambutan dirimu. Oh ya, kalau kau ingin istirahat, pergilah ke kamar yang kau gunakan tadi siang. Aku sudah menyuruh ahjumma untuk menata ulang kamar itu dan mengganti statusnya menjadi kamarmu, bukan kamar tamu seperti sebelumnya.”

“Aigoo…. Aku sungguh merepotkanmu, Eonni.”

“Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting kau merasa senang. Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Punya saudara laki-laki itu membosankan. Tidal seperti memiliki saudari.”

“Aku rasa Donghae oppa tidak membosankan.”

Qri tertawa mendengar kejujuran si polos Yoona. “Kau berpikir begitu? Semoga kau tidak salah menilainya. Dia begitu menikmati hidupnya sebagai seorang kakak untuk Siwon.”

“Apakah mereka selalu bersama-sama, Eon?”

Qri mengangguk mantab satu kali. “Benar. Mereka seperti amplop dan perangko. Ke mana pun Siwon pergi, dia selalu mengajak Donghae. Tapi tidak dengan Donghae. Donghae memang sayang pada Siwon. Tapi terkadang dia meninggalkan Siwon tanpa mengajaknya pergi ke tempat tujuannya. Setelah itu, Siwon pasti merajuk pada Donghae. Mereka seperti anak kecil.”

Yoona tersenyum kecil mendengar cerita dari Qri tentang saudara dan sahabatnya itu. “Bukankah itu bagus, Eonni? Manusia harus hidup dalam kedamaian dan kasih sayang.”

Kembali pada perbincangan antara Siwon, Donghae, dan Tiffany. Donghae meminta Tiffany untuk menginap di rumah itu. Awalnya Tiffany bersedia namun akhirnya dia menolak dengan alasan ingin menjaga adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit.

“Sayang sekali, Tiffany-ssi. Kalau kau menginap di sini, ada Qri noona dan Yoona yang akan menemanimu bermain.”

“Yaak! Kau pikir mereka masih kecil?” teriak Donghae.

Choi Siwon memang terkadang suka bicara seenaknya. “Okay, Hyung. Aku juga pamit.”

“Kau tidak menginap, eoh?” tanya Donghae serius.

Siwon mengangkat kedua alisnya dan menggeleng pelan. “Anhi. Seharian ini aku bersamamu, Hyung. Biarkan malam ini aku menghabiskan waktu bersama bantalku di rumah. Mataku berkunang-kunang jika melihatmu selama 24 jam.”

Pletaakk!
“Sembarangan!” seru Donghae.

Akhirnya Siwon dan Tiffany berpamitan. Inilah yang diinginkan oleh seorang Tiffany Hwang, yaitu pergi semobil dengan laki-laki tampan dan kaya yang bernama Choi Siwon. Sebagai laki-laki yang baik, Siwon tentunya tidak akan membiarkan Tiffany pulang sendirian. Dia mengajak Tiffany untuk masuk ke dalam mobil dan pulang bersama. Jarak rumah palsu Tiffany tidak jauh dari rumah keluarga Lee, tapi untuk bisa berlama-lama dengan namja yang disukainya, Tiffany mengatakan kalau dirinya ingin tidur di rumah pamannya yang memiliki sebuah rumah dekat dengan rumah Siwon.

“Malam-malam begini kau ingin bertamu?” tanya Siwon.

“Bukan bertamu. Aku bukan tamu tapi keponakan pamanku. Jadi, akubbisa datang ke sana kapan pun aku mau.”

Siwon manggut-manggut. Ada benarnya juga ucapan Tiffany.

Ckiiitt!!
Mobil yang dikendarai Siwon berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar terbuat dari batu bata (pagar tembok). Sesaat kemudian Tiffany turun dari mobil dengan wajah sumringah. “Gomawo atas tumpangannya.” Dia melambaikan tangan pada Siwon yang bersiap tancap gas dan pergi dari hadapannya.

“Cheonma. Aku pamit.” Siwon melajukan mobilnya menjauhi Tiffany yang berdiri di depan sebuah rumah.

Mobil Siwon sudah semakin jauh dan tidak tampak lagi dilihat oleh Tiffany. Gadis berambut panjang itu menoleh ke belakang, menatap rumah sederhana yang entah dihuni oleh siapa, Tiffany sendiri juga tidak mengenal mereka. Hidupnya sebatang kara dan tak ada tempat berteduh. “Seharusnya aku menerima tawaran Donghae tadi. Tapi jika tadi aku menerima tawarannya, kesempatan untuk dekat dengan Siwon akan terbuang sia-sia,” gumamnya lirih.

Malam semakin larut hingga tak terasa sang fajar sudah menampakkan sinar hangatnya pada manusia yang tersebar di seluruh permukaan bumi yang setara dengan Korea Selatan. Pagi ini Yoona bangun lebih awal dibanding anggota keluarga Lee yang lain. Tak ada yang dapat dia lakukan pagi itu. Ingin rasanya Yoona memasakkan sesuatu untuk keluarga Lee namun ia sama sekali tak mengenal benda-benda yang digunakan untuk memasak. Dirinya benar-benar seperti bayi yang baru lahir.

Yoona duduk termenung di atas ranjang King Size di dalam kamarnya. Dia mencoba mengingat lagi apa yang tertulis pada kartu keberuntungan milik Siwon yang direbut oleh Tiffany. Dia juga bertanya-tanya apakah laki-laki itu sebenarnya adalah Siwon? Dirinya yakin bahwa laki-laki itu adalah Siwon. Tapi ingatannya belum menunjukkan kebenaran. Yoona mendesah kasar. Satu hal yang menjadi pertanyaan dalam benaknya adalah ‘apa yang telah ia perbuat sehingga dihukum Dewi Fortuna seperti itu?’

“Aku telah menjalankan semua tugasku dengan baik.” Saat bergumam tentang kalimat itu, tiba-tiba Yoona menyadari sesuatu.

Yoona pov
Aku tersadar dari ucapanku sendiri. Kata itu, ya, kata ‘semua tugasku’ telah mengingatkanku akan sesuatu yang terlupakan. Semua tugas? Anhi, ada satu tugas yang tidak aku lakukan. Tugas itu…. ya, tugas itu adalah menaburkan keberuntungan untuk seorang laki-laki yang diambil alih oleh Tiffany. Saat itu aku tidak menyelesaikan tugasku sebagaimana mestinya karena Tiffany yang telah merebutnya. Tapi dia bilang hal itu tidak aasalah jika terjadi pada kami. Sejak saat itu, aku dihukum menjadi manusia.

Apakah gara-gara kejadian itu? Apakah penyebab hukumanku adalah kejadian itu? Berarti Tiffany telah menipuku. Ya Tuhan, eotteohke?
Yoona pov end.

Cekleekk!

Pintu terbuka. Seorang laki-laki memasukkan kepalanya ke sela-sela pintu yang terbuka.
“Kau tidak ikut sarapan? Keluarlah, ayo kita sarapan!” Donghae datang ke kamar Yoona hanya untuk mengajaknya sarapan.

“Memangnya ini jam berapa?” tanya Yoona.

“Jam 7 pagi,” jawab Donghae singkat.

“Jinjja? Wah, sudah jam 7?” Yoona melirik jam beker yang duduk manis di atas nakas di samping kanannya. “Kenapa waktu berjalan begitu cepat?” Yoona beranjak dari tempatnya. “Tentu saja aku ingin sarapan.”

Yoona dan Donghae berjalan menuruni tangga dan menuju ke arah meja makan di mana Qri sudah menunggu mereka sedari tadi.

“Lama sekali?” tanya Qri yang sudah tak sabar ingin melahap sarapan pagi itu.

“Mian,  Eonni. Aku yang menyebabkan lama.” Yoona duduk di samping Donghae, di depan Qri.

“Kau suka makanan ini?” tanya Qri dengan senyum manisnya.

“Ini apa?” Yoona malah balik tanya karena dia melihat seporsi nasi berwarna kuning dibungkus lapisan telur goreng dan di atasnya diberi cairan kental berwarna merah.

Dahi Qri dan Donghae berkerut. “Kau tidak tahu makanan ini?” tanya Qri lagi.

“Ini namanya Omurice versi Qri. Hanya dia yang bisa membuat Omurice seperti ini,” timpal Donghae. “Cobalah! Rasanya tidak terlalu buruk.”

“Yaak! Apa maksudmu, eoh?” Qri memelototi Donghae yang berpura-pura cuek.

Setelah sarapan, Qri dan Donghae bersiap berangkat ke kantor mereka masing-masing. Namun kegiatan seperti itu tidak berlaku bagi Yoona. Hari ini tidak ada yang menemaninya. Semua orang sibuk bekerja. Dirinya hanya bisa diam dan duduk menanti Qri atau Donghae pulang. Lalu apa gunanya manusia hidup kalau cuma berdiam diri saja?

“Aku sudah jadi manusia. Seharusnya ada sesuatu yang bisa kulakukan. Bukan berdiam diri seperti ini.” Sesaat kemudianYoona mendapatkan sebuah ide. Ya, ide untuk melakukan sesuatu yang bisa membuatnya betah menjadi manusia. Dia segera menyusul Qri yang siap tancap gas meninggalkan garasi mobil.

“Eonni!” teriak Yoona yang berlari cukup cepat agar Qri mau menunda keberangkatannya. “Eonni!” panggilnya pada Qri.

Qri mendengar suara Yoona lirih. Dia yakin kalau itu suara Yoona.

Tap tap tap!!

Yoona menghentikan langkah kakinya dengan paksa sehingga dia hampir menabrak dinding garasi. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan, Yoona ingin mengatakan sesuatu namun rupanya Qri tahu apa yang akan dikatakan oleh Yoona.

“Jangan terburu-buru. Bernafaslah dulu. Aku belum berangkat.”

Yoona berusaha mengatur nafasnya. “Eonni, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Yoona dengan sedikit takut. Ya, takut jika Qri marah padanya karena ingin ikut ke kantor.

“Tapi….”

“Kau ikut denganku saja.”
Qri belum menyelesaikan kalimatnya, eh, Donghae muncul dan mengatakan kalau Yoona bisa ikut dengannya.

“Ada apa dengan ekspresi kalian?” tanya Donghae pada Yoona dan Qri dengan polosnya. Dia melihat kedua gadis itu melongo melihatnya atau mendengar kalimatnya tadi.

“Kau yakin?” tanya Qri untuk memastikan kalau Yoona bisa ikut dengan saudaranya itu.

“Eoh. Pelaksanaan meeting sudah dilaksanakan kemarin. Jadi, untuk hari ini aku agak free. Lagipula, di kantor kan ada Siwon. Dia bisa ngobrol dengan Direktur sok sibuk itu.”

Akhirnya Yoona ikut dengan Donghae. Mereka berdua diam seribu bahasa saat di dalam mobil. Tak ada yang ingin memulai bicara. Apalagi Yoona yang notabennya adalah manusia dadakan. Sebenarnya Yoona ingin memulai perbincangan dengan Donghae karena ia merasa aneh jika berada di dalam mobil tapi tidak saling menyapa.

“Donghae-ssi!”

Donghae menoleh sedetik ke arah Yoona lalu pandangannya kembali ke depan agar tetap bisa berkonsentrasi menyetir.
“Ada apa?”

“Apakah masih jauh?”

Gloddaakk!!
Ternyata yang ingin ditanyakan oleh Yoona adalah lama perjalanan ke perusahaan tempat Donghae bekerja.

“Tidak. 5 km lagi sampai kok. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya.” Yoona menurunkan kaca jendela mobil di sampingnya. “Waaah ternyata Seoul begitu indah. Banyak gedung bertingkat tapi masih ada taman-taman asri.”

Donghae tak berselera menanggapi Yoona yang mengagumi keindahan kota Seoul. Kota Seoul memang indah dan bersih. Selain itu, Seoul adalah ibukota Korsel. Jadi, wajar saja bila pemerintah membuatnya tampak lebih sempurna daripada kota-kota yang lain.

Jarak 5 km bukanlah jarak yang jauh bagi seorang Donghae. Laki-laki yang senang mengendarai mobil dalam kecepatan cukup tinggi itu telah membelokkan kemudinya ke sebuah perusahaan ternama di Korsel. Ya, perusahaan milik siapa lagi kalau bukan milik keluarga Choi.

Donghae memarkir mobilnya dengan rapi di area parkir yang sudah dipenuhi mobil-mobil mewah seperti showroom mobil.

“Sudah sampai, ya?” tanya Yoona yang binging melihat banyaknya mobil di sekelilingnya.

“Eoh. Turunlah. Apakah kau mau di sini terus?” Donghae melepas seatbelt yang terpasang pada dirinya dan pada Yoona.

“Apakah aku boleh ikut ke dalam?”

“Boleh saja. Tapi jangan berbuat macam-macam.”

Yoona mengangkat sebelah alisnya. “Macam-macam bagaimana maksudmu?”

“Jangan berbuat sesuatu semaumu. Ara?” Donghae menatap Yoona lekat-lekat. Karena mendapat tatapan seperti itu, Yoona langsung menganggukan kepalanya.
“Araseo,” ucapnya singkat sambil mengangguk.

Donghae dan Yoona memasuki gedung perusahaan milik keluarga Choi. Hari ini Donghae memang tidak sedang sibuk karena tidak ada meeting dan semua laporannya sudah dibuat kemarin. Hari ini dia bisa bersantai.

Saat hendak memasuki ruangannya bersama Yoona, Donghae diminta menemani Direktur Produksi untuk melakukan pertemuan dengan klien dari Jerman. Dia terpaksa meninggalkan Yoona sendirian. “Kau tunggu saja di dalam ruanganku. Aku tidak tahu berapa lama pertemuan itu akan berlangsung.”

Yoona menggaguk pelan. Apa boleh buat? Donghae memang tergolong orang sibuk yang jarang punya waktu luang. Akhir-akhir ini dia memang sedikit senggang. Namun jika dibandingkan dengan minggu lalu, hari ini dia benar-benar merasa nyantai karena minggu lalu dia lembur selama beberapa hari.

Salah satu staf Donghae memberi salam pada Yoona yang masih berdiri di depan pintu ruangan Donghae. Yoona terseeyum membalas salam staf tersebut. Tak berapa lama kemudian, dia masuk ke dalam ruangan yang dihiasi dengan benda-benda style Eropa. Yoona mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Dia merasa senang melihat desain interior ruangan Donghae yang elegant. Meskipun ruangan itu tak begitu luas, Yoona betah berada di dalam sana.

Cekleeek!!
Tiba-tiba pintu terbuka. Ada seseorang yang membukanya dari luar. Hal itu membuat Yoona terkejut. Siapa yang membuka pintu itu?

“Hyung! Ayo i….” Siwon nyelonong masuk ke dalam ruangan Donghae. Namun ia harus menghentikan langkahnya saat matanya terpaku pada sosok yang duduk di atas kursi kerja milik Donghae. Siwon menormalkan sikapnya. Dia berdiri tegak lalu menutup pintu itu. “Kau…. Kenapa ada di sini? Mana Donghae hyung?”

Yoona bingung. Dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Siwon. Ya, itu karena dirinya juga tak tahu ke mana Donghae pergi. “Mm, yang aku tahu, tadi ada seseorang yang mengajaknya untuk bertemu dengan klien dari Jerman.” Yoona berusaha menjawab dengan jawaban seadanya.

“Klien siapa?”

“Aku tidak tahu,” jawab Yoona dengan menggeleng.

“Yaak! Aku sering melihatmu menggeleng. Apakah kepalamu tidak terasa sakit karena terlalu sering menggeleng?”

Yoona bengong. Bagaimana bisa Siwon menanyakan hal itu padanya? Bahkan dirinya sendiri tak menyadari kalau dia terlalu sering menggeleng. Yoona berdiam diri dengan duduk manis di atas kursi yang biasa digunakan oleh Donghae.

“Yoona-ssi, aku tahu alasanmu ikut Donghae ke sini.”

“Mworago?”

“Kau pasti kesepian kalau sendirian di rumahnya.”

Yoona mengerutkan keningnya. Bagaimana Siwon bisa tahu apa yang dialaminya?

“Aku juga tahu bagaimana cara mengatasinya. Kau tidak mungkin ikut Donghae hyung setiap hari.”

Kali ini Yoona bingung setengah mati. “Lalu apa yang harus ku lakukan?”

Siwon tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Yoona. “Hmm, menurutku kau juga harus bekerja.”

Kedua manik mata Yoona berbinar saat Siwon mengatakan kata ‘bekerja’ karena merasa senang. Mungkin ada pekerjaan yang cocok dengannya. Namun saat dia menyadari bahwa tak ada yang bisa dilakukan, kesenangan itu surut dan ekspresi wajahnya kembali seperti semula.

“Kau bisa bekerja di sini.”

Kata-kata Siwon barusan membuat rasa senang dirasakan kembali oleh Yoona. “Jinjja? Apa yang bisa ku lakukan?”

Kali ini Siwon yang bertanya-tanya. “Seharusnya aku bertanya seperti itu. Apa yang bisa kau lakukan? Ah, maksudku, keahlian apa yang kau miliki?”

Yoona terdiam? Dia bingung. Keahlian? Dia bahkan tak bisa melakukan pekerjaan yang lebih sulit dari mencuci piring.

“Kenapa lama sekali? Kau tidak perlu berpikir lama-lama. Apa saja yang bisa kau lakukan sekarang?” tanya Siwon lagi.

Yoona menatap Siwon. Dia punya satu kata yang bisa menjawab pertanyaan itu. “Aku bisa senyum.”

Gloddaakk!
Siwon menepuk dahinya. “Hanya itu?”
Yoona mengangguk. “Aku…. mengalami amnesia. Jadi sebagian besar pengalaman dan pengetahuanku hilang, Siwon-ssi.” Yoona terpaksa berbohong.

“Amnesia? Oh iya, aku lupa. Aah, ada satu pekerjaan yang bisa kau lakukan.”

“Mwoya?”

“Kau bisa menjadi resepsionist. Tugasnya tidak berat. Kau hanya perlu duduk manis di depan sana dan melayani orang-orang yang bertanya padamu. Ada tugas-tugas khusus, aku rasa tugas itu bisa kau lakukan.”

Senyum manis terkembang di wajah cantik Yoona. “Gurae, aku mau. Tapi…. Apakah aku harus ijin pada Donghae-ssi atau Qri eonni dulu?” tanya Yoona polos.

“Ijin Qri noona saja. Kalau kau ijin Donghae hyung, dia pasti tidak akan mengijinkanmu. Aku bisa jamin hal itu.”

“Jinjja? Gurae, aku ijin Qri eonni dulu. Kalau dia mengijinkanku bekerja di sini, kapan aku bisa mulai menjadi resepsionist?”

Siwon berpikir lagi. “Mungkin secepatnya karena kami masih punya satu orang resepsionist tetap.

“Gomawo, Siwon-sii.”

“Yaak! Jangan panggil aku seformal itu. Kalau kau memanggilku seperti itu, aku bisa cepat tua.”

Yoona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa hubungannya panggilan formal dengan cepat tua?

“Kalau kau lebih muda dariku, panggil aku Oppa saja. Tapi kalau kalu lebih tua dariku, panggil namaku saja tanpa embel-embel apapun. Seperti Qri noona memanggilku. Bagaimana?”

Yoona tersenyum. “Aku rasa, kau lebih tua dariku. Jadi, aku akan memanggilmu dengan sebutan ‘Oppa’.”

“Siapa yang kau panggil dengan sebutan ‘Oppa’?” Tiba-tiba Donghae muncul dari balik pintu. Siwon dan Yoona terperanjat kaget.

“Hyung! Kapan kau membuka pintu? Aku tidak mendnegar suara pintu terbuka.”

Donghae berjalan mendekati meja kerjanya lalu duduk diatasnya. “Pintuku kan memang kualitasnya bagus. Jadi, tidak bersuara saat dibuka.”

Siwon dan Yoona terdiam.

“Kenapa kalian diam? Apakah kau meminta Yoona memanggilmu dengan sebutan menggelikan itu?”

Siwon tergagap. Dia ingin menjawab ‘iya’ tapi takut akan di-smack down oleh Donghae. “Bukan begitu. Aku hanya mengatakan kalau Yoona lebih muda dariku, sebaiknya dia memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’. Tapi jika dia lebih tua dariku, aku memintanya untuk memanggil namaku saja tanap embe-embel apapun. Hanya itu.”

Donghae menatap tajam pada Siwon. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh namja tampan yang duduk di depannya. “Hanya itu yang ingin kau sampaikan?”

Bukannya Siwon yang terkejut atas pertanyaan Donghae itu, malah Yoona yang membelalakkan kedua bola matanya. Untung saja Donghae tidak melihat reaksi Yoona tadi. “Donghae-ssi!”

Donghae sontak menoleh ke arah Yoona. “Kau memanggilnya ‘Oppa’ tapi kenapa memanggilku seperti itu? Yaak! Yoona, aku kan lebih baik dari Siwon. Kita juga serumah. Rasanya kaku jika kau memanggilku seperti itu.”

Siwon terkikik. ‘Ah, Hyung, kau juga ingin dipanggil seperti itu oleh Yoona, kan?’ batinnya.

Tok tok tok!!

Ketiga orang yang berada di dalam ruangan Donghae terperanjat kahet karena mendengar suara ketukan pintu secara tiba-tiba.
“Ada apa?” tanya Donghae dnegan suara lantang agar si pengetuk pintu dapat mendengar suaranya.

“Maaf, ada tamu yang ingin bertemu dengan CEO Choi .”

Donghae langsung menatap Siwon. “Sejak kapan kau dipanggil dengan sebutan CEO Choi?”

Siwon meringis. “Barusan.”

“Aku tidak sudi memanggilmu seperti itu.”

“Aku juga tidak peduli,” sahut Siwon.

“Yaak! Bukankah kemarin Qri sudah memberimu tantangan?” Donghae mengingatkan tantangan untuk Siwon yang diberikan oleh Qri saat Yoona tak sadarkan diri kemarin.

“Tantangan apa?” tanya Yoona penasaran. Rupanya kata itu dapat mengundang perhatian Yoona.

Siwon menepuk dahinya. “Aku lupa. Semoga saja hari ini aku tidak bertemu dengan Qri noona.”

Dongahe tersenyum kecil. Dia merasa menang karena sudah berhasil menjatuhkan Siwon. Mereka memang selalu bertengkar di mana pun dan kapan pun. “Aku beritahu kau, Yoona. Kemarin saat kau tak sadarkan diri, Qri meminta Siwon untuk menjadi orang yang bijaksana dan dewasa karena dia adalah….”

Donghae tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena mulutnya dibungkam oleh tangan Siwon.

“Hanya itu. Qri noona memintaku untuk menjadi orang yang lebih berwibawa.” Siwon masih membungkam mulut Donghae agar laki-laki itu tidak mengatakan kalau dirinya pemimpin di perusahaan itu.

“Yaak! Kenapa kau membungkam mulutku?” Donghae kesal karena perbuatan Siwon.

“Aku rasa itu sudah cukup, Hyung. Jangan bicara berlebihan, araseo?”

Bola mata Yoona beralih dari kanan ke kiri dan begitu seterusnya. Dia bingung melihat dan mendengar pertengkaran dua laki-laki tampan itu.

“Bagaimana kalau nanti siang kita makan di luar?” usul Siwon yang tiba-tiba mendapat ide makan siang di retoran favoritnya.

“Shireo! Dompetku mengenaskan!” seru Donghae.

Yoona menambahkan,”Aku juga tidak punya uang. Aku akan pulang pada waktu makan siang.”

Siwon mendeasah kasar. Yoona dan Donghae tidak mendukung idenya untuk makan siang di luar. “Kalau begitu, aku saja yang traktir.”

“Jongmalyo?” Yoona senang sekali.

“Ne. Oh ya, aku tinggal dulu. Kasihan tamuku bila aku berlamalama di tempat yang membosankan ini.” Siwon beranjak dari duduknya. Dia mulai melangkahkan kaki menuju pintu. Tak lama kemudian dia menghilang di balik pintu.

Sepeninggal Siwon, Donghae bergumam,”Enak saja dia bilang kalau ruanganku membosankan.”

“Tidak membosankan, Oppa.”

Mendengar ada yang memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’, Donghae serasa terbang melayang.

“Aku betah di sini. Ruangannya bagus dan nyaman.”

“Gomawo atas pujiannya.”

Beralih ke Siwon yang berjalan cukup cepat untuk menemui tamunya. Entah siapa yang ingin bertemu dengannya, dia sendiri juga belum mengetahuinya.

Saat memasuki ruangannya. Siwon dikejutkan oleh kedatangan dua orang yeoja. Satu orang yeoja paruh baya dan satu lagi masih muda. Siwon sempat bengong karena kaget melihat dua orang yeoja itu di ruangannya.

Tbc

Advertisements

31 thoughts on “Like Fortune Goddess [Chapter 3]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s