Vampires Love [Chapter – 3]

VAMPIRES LOVE 1Prev: 1|2|

Cast:

Kim Jongin | Park Jiyeon | Bae Suzy

Other Cast:

Byun Baekhyun | Oh Sehun | Jung Krystal

Genre:

Fantasy | Angst | Romance | School life | Supernatural

Length :

Multichapter

Rating: PG – 13

Laykim Storyline & Artposter

Mian typos bertebaran di mana-mana

Happy Reading chingu…

 

Jiyeon mendekati sebuah hanok sederhana yang dilingkupi kegelapan malam. Sementara itu, Nyonya Kim mengamati gerak geriknya dari belakang Jiyeon.
Sesekali Jiyeon menoleh ke arah nyonya Kim. Dia harus memastikan bahwa hanok itu aman untuknya. Saat hendak naik ke atas hanok, Jiyeon menghentikan langkahnya. Dia merasa ada sesuatu yang membawa hawa dingin yang menyerang dirinya. Jiyeon lebih waspada saat kakinya menapaki lantai hanok itu.

Kriiiett!
Pintu hanok itu berhasil dibuka oleh Jiyeon. Dalam kegelapan malam dan hanya sebuah lilin menerangi ruangan yang dimasuki oleh Jiyeon. Ia menapakkan kakinya menuju sebuah ruangan yang diyakininya sebagai pintu masuk ke ruang bawah tanah.
‘Mungkin ini pintu masuknya. Aku harus lebih hati-hati,’ batinnya.

Krieett!
Pengap dan gelap. Itulah dua kata yang mampu menggambarkan keadaan ruangan yang dituju oleh Jiyeon. Ia mulai menuruni tangga yang akan membawanya menuju ruang bawah tanah.
Semakin jauh Jiyeon masuk ke dalam ruangan itu, semakin jelas ia mendengar suara dengkuran seseorang. Ah, bukan. Suara itu bukan dengkuran. Tetapi lebih tepatnya erangan seseorang yang menahan sakit.

“Kim Jongin?” ucap Jiyeon lirih. “Aku kohon, keluarlah Kim Jongin!”
Braakk!
Jiyeon kaget. Dia membalikkan badannya. Dalam ruangan yang gelap itu, dia dapat melihat seseorang berdiri dengan tidak tegak, seperti bertumpu pada sesuatu di sampingnya.
“Kim Jongin? Kaukah itu?” tanya Jiyeon dengan suara halus.

Errgh!
Jiyeon mengaktifkan mata vampirnya yang mampu menangkap penampakan apapun meski dalam gelap pekat.
“Kau… Kim Jongin? Apa yang telah terjadi padamu?” Jiyeon mendekati Jongin yang kini meringkuk di atas lantai ruangan pengap itu.

Dahi Jiyeon berkerut. Ia miris melihat keadaan Jongin. “Siapa yang melakukannya padamu, Jongin?”

Kim Jongin, saudara kembar Kim Kai yang ditemukan oleh Jiyeon melalui perjalanan panjang sampai harus kembali ke masa lalu. Anak laki-laki itu meringkuk di atas lantai dan menggigil kedinginan. Sekujur tubuhnya penuh luka cakar dan berdarah. Kedua matanya… inilah yang membuat Jiyeon terkejut. Kedua mata Jongin tampak seperti milik Jiyeon saat ini.

“Kau baru saja melaluo masa transisi menjadi vampir. Katakan padaku, siapa yang melakukan ini? Kau tidak boleh berada di sini terus. Jika kau tidak minum darah manusia, dalam waktu kurang dari 1×24 jam kau akan meregang nyawa.” Jiyeon berusaha membantu Jongin bangkit dan memapahnya keluar dari ruangan itu.

Brukk!
Tiba-tiba Jongin ambruk dan menggigil hebat.
“Jongin-a…” lirih Jiyeon. Ia tak bingung dengan apa yang akan dilakukannya. “Bagaimana ini? Satu-satunya cara agar Jongin tidak seperti ini adalah minum darah manusia. Tapi… di daerah sini tidak ada rumah sakit atau bank darah. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membunuh manusia. Tidak… tidak bisa,” gumam Jiyeon yang nerjalan mondar mandir di samping Jongin.

Kim Jongin, laki-laki itu menggigil karena kondisinya memburuk pasca gigitan vampir yang bisa merubahnya menjadi salah satu kaum penghisap darah itu.

Cekleekk!
“B, bibi Kim… Anda tidak boleh berada di sini. Jongin membutuhkan darah manusia. Jika bibi ada di sini, bisa-bisa nanti bibi mati…”terang Jiyeon pada Taeyeon yang tak mengindahkan ucapan Jiyeon sama sekali.

“Diam kau!” bentak Taeyeon dengan sorot mata penuh amarah. Kedua bola mata wanita paruh baya itu berbeda dengan beberapa saat yang lalu.

“Nyonya Kim…” lirih Jiyeon. Dia menggeletakkan tubuh Jongin di atas lantai teras dan bersandar pada dinding kayu yang dingin terkena tiupan angin malam.

Jongin menggigil akibat perubahan besar dalam tubuhnya yang hendak menjadi vampir.

Jiyeon berjalan mendekati nyonya Kim. Tampaknya ada yang tidak beres dengan wanita itu. ‘Aku tidak boleh berburuk sangka,’ batin Jiyeon.
Setelah sampai di hadapan Taeyeon, Jiyeon mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu wanita itu.

Tap!
Nyonya Kim malah menangkap tangan Jiyeon dan meremasnya sekuat tenaga. Jiyeon berubah menjadi sosok vampir yang sesungguhnya. Dia memegang tangan nyonya Kim yang satunya lalu memelintir tangan itu hingga nyonya Kim membelalakkan kedua bola matanya.

“Nyonya Kim… kau… hunter?” lirih Jiyeon dengan dahi berkerut. Wajah pucatnya masih dapat terlihat dalam kegelapan malam itu.

Nyonya Kim tersenyum evil. “Ternyata kau mudah ditipu, Park Jiyeon!” Ada penekanan kata saat Nyonya Kim menyebut nama Jiyeon. Tiba-tiba nyonya Kim mengeluarkan sebilah pisau bermata runcing yang berkilat. Ia menusukkan pisau itu ke tangan Jiyeon yang dipegangnya.

“Aargh!!” erang Jiyeon yang merasakan sengatan listrik menjalar di tangan kanannya. Nafasnya terengah-engah karena tiba-tiba tenaganya seperti terkuras habis akibat tusukan pisau itu. “Kau…” Lensa mata Jiyeon memerah. Dia menahan sakit yang mungkin dapat melenyapkan nyawanya. ‘Kim Jongin, bangunlah. Tolong aku!’ rintihnya dalam hati. Harapannya adalah Jongin segera mendapat kekuatan dan meminum darah nyonya Kim yang notabennya adalah ibu kandung Jongin. Tapi… hal itu tidak mungkin terjadi.

Jiyeon berusaha mengumpulkan tenaga dan kekuatannya meski racun dari pisau itu perlahan-lahan menyebar di seluruh tubuhnya. Dia melihat nyonya Kim menyunggingkan senyum kemenangannya. ‘Aku tidak boleh kalah. Ayo bangkit Park Jiyeon! Kau harus kuat untuk menyelamatkan Kai.’

Tanpa diketahui oleh Jiyeon dan Nyonya Kim, rupanya Jongin telah membuka kedua kelopak matanya. Mata merah itu terlihat mengerikan. Warna merah pada lensa mata Jongin berbeda dengan Jiyeon. Jiyeon adalah vampir selama bertahun-tahun sedangkan Jongin masih dalam proses peralihan dari manusia menjadi seorang vampir. Dia masih membutuhkan banyak darah segar.

“Errrr!!” raung Jongin yang sukses mengagetkan Jiyeon dan nyonya Kim yang tengah berkonsentrasi menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.

Jiyeon menengokkan kepalanya ke arah Jongin. Laki-laki setengah vampir itu menapakkan kedua telapak kakinya di atas lantai teras hanok. Indera penciuman Jongin bereaksi saat ia semakin dekat dengan nyonya Kim dan Jiyeon. Indera vampir miliknya mulai aktif.

“Jongin-a, jangan mendekat! Lari! Cepat lari selamatkan dirimu sendiri!” teriak Jiyeon dalam menahan perihnya luka sayatan dan tusukan di tangannya. Entah siapa yang akan menolongnya. Menolong? Akankah vampir lain mau mengulurkan tangan untuk menolongnya?

Lelaki bernama Jongin itu menatap nanar pada Jiyeon dan nyonya Kim. Jiyeon sendiri tak habis pikir, kenapa Jongin sama sekali tidak mendengarkan perkataannya.

“Jongin-a, pergilah dari sini…” rintih Jiyeon tak kuasa lagi menahan sakit.

Sllaapp!!
Brrukk!!
Jiyeon meringis kesakitan. Bagaimana tidak? Luka akibat tusukan pisau milik nyonya Kim yang beracun itu tertindih tubuh Jongin. Suasana di tempat itu hening, lebih gelap dari lingkungan hanok tadi, dan terdengar nyanyian burung gagak yang menyeruak memekakkan telinga.

Bau anyir yang menyengat, memaksa Jiyeon menutup hidungnya dengan salah satu tangannya. Ia tidak dapat menghela nafas panjang sesuai hasrat paru-parunya.
“Jongin-a… di mana ini?” tanya Jiyeon dengan suara yang amat lirih bahkan nyaris tak terdengar.

Tak ada jawaban dari lelaki yang bernama Kim Jongin itu. Sekian detik berlalu, dia tetap tak bersuara. Jiyeon ingin sekali mengangkat tubuh Jongin yang menindih tubuhnya. Namun apa daya, kekuatannya habis bahkan racun pisau itu semakin menyebar ke seluruh tubuhnya. Kedua kakinya telah lumpuh, tangan kirinya terasa nyeri sekali, kepalanya semakin terasa pusing. Jiyeon berusaha mengambil nafas pelan untuk kebutuhan oksigennya.

“J, Jong-in-a…” lirih Jiyeon lagi. Dia menatap wajah tampan yang berada tepat di samping kepalanya. Tidak bisa. Ia tidak dapat melihat wajah vampir baru itu.

“Uhuukk!”
Indera telinga milik Jiyeon menangkap sebuah suara seseorang yang sedang terbatuk. Meskipun belum pernah mendengar suara Jongin, Jiyeon meyakini bahwa suara itu milik Kim Jongin karena warna suaranya sama persis dengan suara Kai.
“Jongin-a, kau sudah sadar?” Jiyeon melirik wajah Jongin di sebelah kanannya.

“K, kau… siapa kau?” tanya Jongin dengan suara parau dan tubuh bergetar seperti yang disaksika oleh Jiyeon saat beberapa saat yang lalu.
“Aku adalah teman Kai. Namaku Park Jiyeon. Jongin-a, siapa yang melakukan hal ini padamu?”
“Melakukan apa?” tanya Jongin balik.
“Siapa yang mengubahmu menjadi vampir?” Jiyeon terus menerus bertanya kepada Jongin bahkan sampai melupakan rasa sakit yang menyerang organ-organ tubuhnya.
Jongin tak berniat menjawab pertanyaan dari gadis yang sama sekali tidak dikenalnya. Dia berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Jiyeon dengan gerakan pelan.
“Argh!”
Jiyeon hanya mampu menyaksikan laki-laki itu bangkit dan berdiri dengan bertumpu pada sebuah dinding lembab dan berlumut.
“Jongin-a, di mana kita?” tanya Jiyeon.
“Entahlah.”
“Apakah kau membunuh wanita itu?”
Jongin menatap Jiyeon dalam kegelapan. Sorot matanya masih sama dengan yang tadi, lensanya berwarna merah membara.
“Aku tidak membunuhnya. Dia adalah ibu kandungku. Aku tidak akan melakukan hal itu.”
Seulas senyum tersungging di wajah cantik berlumur darah milik Jiyeon. “Syukurlah, aku senang kalau kau tidak membunuhnya. Sisi kemanusiaanmu masih melekat dalam dirimu, Jongin-a…”

Jongin cuek dan tak mengindahkan kata-kata Jiyeon. Dia menapaki lantai lembab ruangan itu untuk mencari sesuatu yang dapat menghentikan pusing di kepalanya yang kian menyakitkan.

Braakk!!
Jiyeon tersentak kaget. Kenapa ada suara gebrakan sebuah pintu? Apa yang terjadi? Suasana kembali hening, menyisakan suara hembusan angin yang menggugurkan dedaunan di luar sana. Hampir seluruh anggota tubuhnya lumpuh. Hal ini membuat Jiyeon tak bisa melakukan apapun, termasuk melihat apa yang terjadi dengan daun pintu yang didobrak dari luar.

“J, Jongin-a…” panggil Jiyeon dengan suara lirih. Dia ingin mengeluarkan suara yang lebih keras namun ia kehilangan tenaganya karena racun yang menyebar di seluruh tubuhnya.

Tap tap tap!
Suara hentakan sepatu terdengar nyaring melalui gendang telinga milik Jiyeon. ‘Bagaimana ini? Siapa yang datang kemari? Apakah itu Jongin? Tapi kalau bukan…’

“Annyeong, Park Jiyeon!” sapa seorang gadis berambut panjang berwarna hitam yang terurai menutupi punggungnya.

Gelapnya ruangan itu menghalangi pandangan Jiyeon. Ia menyipitkan kedua netranya untuk menangkap sosok gadis yang menyapanya.
Saat ia berhasil melihat siapa yang mendatanginya, kedua bola mata Jiyeon terbuka lebar-lebar dan frekuensi nafasnya semakin cepat.

“Senang bertemu denganmu lagi, Park Jiyeon.”
“Bae Suzy? Bagaimana bisa?” Jiyeon terkejut melihat sosok Suzy, sang pemburu vampir yang tak kenal kata ‘menyerah’.
“Apanya? Kau terkejut, bukan? Ya, aku masih hidup, Park Jiyeon. Tentu saja berkat pertolongan ayahku. Hmmm… rupanyaakau terkena tusukan pisau beracun dari seorang pemburu vampir.” Suzy mendekati tubuh Jiyeon yang terkapar tak berdaya di atas lantai lembab, di ruangan gelap dan dingin itu. Suzy memamerkan senyum evilnya.

“Aku turut prihatin atas apa yang menimpa temanmu Kim Jongin dan dirimu sendiri, Park Jiyeon,” kata Suzy dengan nada merendahkan.

“Seharusnya kau bersyukur karena bisa selamat dan tersenyum senang seperti ini,” sindir Jiyeon.

“Omona! Kau sama sepertiku, Park Jiyeon. Kau selalu angkuh dan sok pintar!”

“Cih! Kau pikir kita berdua sama? Tidak ada kesamaan diantara kita berdua. Aku juga tak ingin memiliki kesamaan denganmu. Lebih baik aku mati.”

“Kau sudah sekarat tapi masih saja bersikap angkuh. Apakah kau berpikir aku akan menyelamatkanmu?” tanya Suzy sinis.

“Apakah kau berpikir kalau aku ini bodoh? Aku tahu racun ini tidak memiliki penawar.”

“Baguslah, ternyata kau lumayan pintar di kalangan vampir. Daripada kau menahan sakit terus menerus dan menatap atap bangunan ini, lebih baik aku penggal kepalamu agar kau tak merasakan sakit lagi.” Suzy melangkahkan kakinya maju untuk mendekati tubuh Jiyeon yang tak bergerak sedikit pun.

“Hentikan! Jangan sentuh gadis itu!”
Sebuah suara menggema di seluruh sudut ruangan itu. Jiyeon dan Suzy tersentak kaget mendengar suara seorang laki-laki di dalam ruangan.

Suzy tercengang saat manik matanya menangkap sosok tampan yang berdiri di depannya. Ia menggeleng perlahan, menandakan bahwa ada sesuatu yang membuatnya bingung dan tidak percaya.
“Tidak mungkin! Bukankah aku telah menusukmu? Bagaimana kau bisa bertahan dari racun itu?”

Kata-kata yang keluar dari mulut manis Suzy mampu membuat Jongin bertanya-tanya dalam hati,‘Siapa yang telah ditusuk oleh Suzy?’
Tatapan vampir milik Jongin mengintimidasi Suzy yang takut diserang olehnya.

“Siapa yang telah kau tusuk?” tanya Jongin marah.
Kim Jongin baru saja mendapatkan darah manusia untuk menyempurnakan proses peralihan dari manusia menjadi seorang vampir. Saat ini dia dapat berdiri dengan sempurna dan terlihat tak terjadi apa-apa pada dirinya. Ia kuga mengganti baju yang berlumur darah dengan pakaian yang bersih dan rapi.

“Kim Jongin… tidak mungkin. Tidak mungkin kalau kau masih hidup. Kau tidak akan bertahan dari serangan racun yang menyebar di seluruh tubuhmu.”
Tap! Suzy mundur satu langkah hingga punggungnya menabrak sebuah tong yang terletak tepat di belakangnya.

“Apa maksudmu?” tanya Jongin bingung. Ia tak tahu menahu tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Suzy.

“Suzy, tolong dengarkan aku sebentar,” lirih Jiyeon.

Suzy diam seribu bahasa. Ia melirik Jiyeon dari kedua sudut mata sipitnya. “Apa yang ingin kau jelaskan, eoh?”

Jiyeon menghela nafas panjang, lalu membuangnya perlahan. Ia terpaksa menghirup bau anyir yang ternyata berasal dari darah seseorang yang baru saja dibunuh di tempat itu.
“Dia bukan orang yang kau tusuk.”

Suzy mengernyitkan dahinya.

“Orang yang kau tusuk adalah Kim Kai,” lanjut Jiyeon. Dia dapat bernafas lega karena akhirnya penjelasan itu dapat ia sampaikan pada Suzy dan Jongin.

“Kai? Cih! Kau mau menipuku? Aku kenal betul siapa Kai. Jangan pernah menipuku seperti ini!” Suzy menatap jijik pada Jiyeon.

“Aku tidak bicara sembarangan, Bae Suzy. Jika kau tidak percaya, pergilah ke tempat kami. Kai sedang dalam perawatan Kim Ji Won.” Jiyeon memejamkan kedua matanya. Rasa kantuk yang teramat berat menyerang pelupuk mata indah Jiyeon. Keadaannya semakin parah namun Jongin sama sekali tidak peduli padanya. Laki-laki tampan dingin itu tak ingin berbuat baik pada siapapun, termasuk pada Jiyeon.

Dua orang vampir dan dua orang manusia sedang berkumpul di sebuah ruangan dengan perasaan bercampur aduk antara cemas, takut, dan sedih. Bagaimana tidak? Kondisi laki-laki yang tergeletak lemah di atas ranjang itu semakin lama semakin kritis.
Mungkin ia sudah tak dapat membuka mata atau menggerakkan salah satu jarinya.
Baekhyun, seorang vampir yang dikenal bijaksana dan baik hati, lebih memilih untuk meninggalkan ruangan itu. Sungguh, ia tak dapat melihat keadaan Kai yang tak berdaya, hatinya miris melihat sesama vampir berjuang mati-matian untuk tetap hidup. Selain itu, dirinya merasa bersalah karena tidak seharusnya Kai terkena tusukan pisau milik Suzy.

“Noona, apakah dia bisa sembuh?” tanya Sehun pada Ji Won karena dia telah bosan menunggu kedatangan Jiyeon.

“Jangan berkata seperti itu. Aku yakin dia pasti sembuh. Tapi… kenapa Jiyeon belum datang?” tanya Ji Won balik.

Sehun mengangkat kedua alis dan bahunya. “Aku juga tak tahu, noona.” Sehun berpikir sejenak. “Aku akan menyusulnya.”

“Jangan dulu! Apa kau tahu di mana dia berada?” tanya Ji Won pada Sehun yang telah melangkahkan kaki untuk menyusul Jiyeon yang entah berada di mana saat ini.

Sehun menoleh ke arah Ji Won yang berdiri tepat di samping ranjang Kai. “Waeyo?”

“Maaf, bolehkah aku bicara?” sela Krystal yang ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia agak takut membuka suara di kalangan para vampir.

Seakan dapat membaca pikiran Krystal, Sehun berkata,”Bicaralah, kami tidak akan menyakitimu.”

Seketika itu, Krystal merasa lega sekali seakan semua ketakutan yang dipendamnya mendadak hilang dibawa pergi oleh hembusan angin malam. “Aku tahu kalian adalah vampir yang baik. Aku… sangat khawatir dan kasihan pada laki-laki itu.” Pandangan Krystal tertuju pada Kai yang terbujur di atas ranjang. “Menurutku  kenapa kalian tidak mencari satu orang manusia lagi untuk diambil darahnya?”

Baekhyun angkat bicara. “Jung Krystal! Masalahnya tidak sesepele itu. Kami sudah tidak memiliki kenalan manusia selain kau dan Ji Won. Jadi, kami tidak bisa meminta bantuan kepada sembarang orang. Kau pasti tahu apa maksud dari perkataanku.”

Wajah Krystal Dia ingin sekali membantu para vampir tertunduk. itu karena mereka telah menyelamatkan nyawanya berulang-ulang. Namun dia harus kecewa karena tak bidmsa berbuat apa-apa untuk membantu mereka.

“Hyung, apa kau tahu alasan Suzy ingin sekali membunuh Jongin?” (Di sini, semuanya belum tahu kalo sebenarnya Jongin dan Kai bertukar peran)

“Sepertinya mereka pernah bertemu di masa lalu. Aku juga kurang tahu. Yaak! Sehun-a, kenapa kau selalu bertanya yang aneh-aneh?” kesal Baekhyun pada sang maknae vampir itu.

“Iyakah? Aku tidak menyadarinya,” jawab Sehun santai. “Perasaanku tidak enk, hyung.”

Baekhyun menepuk dahinya. Saat menepuk dahi itulah tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki yang semakin terdengar jelas. “Ada yang datang.” Baekhyun bersembunyi di balik pintu utama.

“Mwo?” Sehun tak percaya. “Siapa lagi yang telah mengetahui tempat ini? Pasti kau yang membocorkannya!” Sehun menatap Krystal nanar. Tanpa menunggu jawaban dari Krystal, Sehun segera menyusul Baekhyun ke ruang depan.

“Tunggu!” seru Krystal sembari memegang lengan Sehun dan menahannya pergi. “Aku bukan seperti itu. Kau salah, Sehun-ssi. Aku sama sekali tidak mmemberitahukan tempat ini kepada siapapun.” Raut wajah  Krystal tampak meyakinkan.

“Terserahlah.” Sehun melepaskan lengannya dari cengekeraman tangan Krystal.

Krystal menatap punggung Sehun dengan sedih. “Apakah aku tidak bisa dipercaya? Setidaknya aku bukan seorang pembohong,” desah Krystal lirih.

Tap!
Ji Won menepuk bahu kiri Krystal dari arah belakang. Krystal pun menoleh ke arah gadis manis berponi itu.
“Apakah kau menyukai Sehun?” tanya Ji Won polos.
Wajah Krystal memerah, dia pun tersenyum tipis. Gadis berambut panjang itu tampak malu-malu untuk menjawab pertanyaan Ji Won.

“Eonni, jangan bertanya sembarangan. Bukan seperti itu, aku hanya ingin akrab dengan para vampir itu. Aku… sama sekali tidak terkenal di sekolah, eonni. Tidak ada yang mau berteman denganku kecuali Jiyeon eonni.” Krystal tertunduk lesu.

Ji Won tersenyum dan merangkul bahu Krystal. “Jangan khawatir. Aku hanya bercanda, Krystal-a. Kau gadis yang baik. Tapi… sebaiknya jangan pernah menyimpan perasaan untuk bangsa vampir. Mereka tidak sama seperti kita. Percintaan dua makhluk yang berbeda bisa mengganggu keseimbangan alam.

“Ne, eonni.”

Tap tap tap!
Derap langkah dua orang sudah diketahui oleh Baekhyun dan Sehun. Mereka berjaga-jaga di salah satu kamar.

Sehun dan Baekhyun berjalan menuju ruang depan bersamaan dengan raut wajah serius. Indera pendengaran mereka menangkap suara langkah dua orang yang berjalan mendekati kediaman mereka. Tiba-tiba baekhyun menghentikan langkahnya.

“Hyung, ada apa?” tanya Sehun yang juga menghentikan langkahnya, mengikuti apa yang dilakukan oleh Baekhyun.

Baekhyun berkonsentrasi menajamkan indera penciumannya. Kedua lensa matanya berubah merah saat indera penciumannya menangkap sesuatu yang membuatnya marah. “Hunter.”

“Mwo? Hunter?” Sehun melanjutkan langkahnya namun Baekhyun masih berdiri mematung di tempatnya.

Suasana malam yang mencekam di sekitar kediaman vampir tidak menyurutkan semangat Sehun untuk menyelidiki apa yang dikatakan oleh Baekhyun bahwa ada hunter yang berkeliaran di sekitar tempat itu. “Berani sekali dia datang ke sini,” gumam Sehun kesal. Saat suara langkah yang didengarnya tadi semakin dekat, Sehun segera beranjak mencari sumber suara.

Sehun melihat sekelebat bayangan melewatinya. Senyum tipis menghiasi wajahnya karena dirinya yakin bahwa bayangan tadi adalah Baekhyun yang tidak mau kalah cepat darinya.

Tap tap tap!

Suara langkah dua orang yang didengar Sehun dan Baekhyun ternyata berasal dari seorang hunter dan seorang vampir yang tidak lain adalah Suzy dan Jongin. Mereka berdua tidak menyadari kalau sedari tadi Sehun dan Baekhyun mengawasi setiap gerak gerik yang mereka lakukan. Jongin, seorang vampir yang sedang menggendong tubuh lemah Jiyeon seharusnya lebih peka kalau di sekitar mereka mungkin ada bahaya yang akan menghadang perjalanan mereka menuju kediaman para vampir.

“Apa yang kalian lakukan padanya?” Baekhyun muncul secara tiba-tiba namun hal itu sama sekali tidak mengejutkan Jongin dan Suzy yang memiliki kewaspadaan cukup tinggi.

“Kau tidak lihat? Temanmu Park Jiyeon sedang sekarat,” jawab Suzy dengan nada dingin yang tak kalah dingin dengan para vampir.

“Cih! Bae Suzy! Berani sekali kau menginjakkan kakimu di wilayah ini!” seru Sehun yang kehilangan kontrol terhadap emosinya.

“Sehun-a, kontrol emosimu. Jangan gegabah untuk marah pada dua orang ini,” kata Baekhyun yang berusaha mengingatkan Sehun agar bisa menahan emosinya yang labil.

Sehun terdiam.

“Biarkan aku jelaskan duduk perkaranya.” Jongin buka suara.

“Kau? Saudara kembar Kim Jongin?” tanya Baekhyun lirih. Dia melihat wajah dan bentuk fisik Kai yang mirip sekali dengan Jongin yang masih terbaring lemah di dalam rumah. (perhatian! Ini si Baeki belum tahu kalau yang sedang sekarat adalah Kai, bukan Jongin)

Kai mengerutkan dahinya. “Kim Jongin?” tanyanya bingung.

Baekhyun sadar kalau Kai tidak mengenal Jongin. Jika laki-laki itu mengenal Jongin, pastinya dia tidak akan mengulangi nama Jongin dnegan nada tanya.

“Kim Jongin adalah aku. Apa maksud pertanyaanmu itu?”

“Yaak! Letakkan tubuh Jiyeon noona!” perintah Sehun pada Jongin.

Jongin menuruti perintah Sehun. Dia menjadi lebih waspada setelah berhadapan dengan kedua vampir yang lebih kuat darinya.

Baekhyun bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jongin.

“Biarkan kami bertemu dengan Kai,” kata Suzy yang tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Baekhyun dan Sehun.

“Siapa Kai? Oh, mungkin itu panggilan sayangmu pada Jongin. Wow! Percaya diri sekali kau, Bae Suzy. Siapa yang mengizinkanmu menemui vampir yang sedang sekarat?” Sehun berkilah. Dia tidak akan mengizinkan siapapun menemui Jongin (Kai) yang tengah berjuang melawan rasa sakitnya.

Suzy mendesah kasar. “Biarkan kami masuk. Park Jiyeon juga butuh pertolongan. Apakah kalian ingin dia tewas saat ini juga?”

Baekhyun memicingkan mata. “Apa yang terjadi padanya?”

“Cih! Akhirnya kau tanyakan itu padaku, Byun Baekhyun. Dia terkena pisau hunter yang beracun, sangat berbahaya. Lebih bahaya daripada pisauku yang menancap di tubuh temanmu yang sedang sekarat di rumah itu.”

“Yaak! Bae Suzy! Jangan bicara sembarangan!” bentak Sehun tidak tahan mendengar nada bicara Suzy yang tidak mengenakkan.

“Aku tidak mengada-ada. Jika tidak segera ditolong, Jiyeon pasti akan tewas malam ini juga,” ujar Suzy.

“Baiklah. Sehun-a, bawa tubuh Jiyeon ke dalam!”

Kim Ji Won dan Krystal tengah dilanda kecemasan tingkat tinggi saat melihat kondisi Jongin (Kai) yang semakin memburuk.

Cekleek!!

Pintu terbuka dari luar. Kedua yeoja itu menoleh ke arah pintu yang tak lama kemudian muncul empat orang yaitu Baekhyun, Sehun, Jongin asli, dan Suzy. Saat semua sudah berada di dalam ruangan, Baekhyun meminta Jongin asli untuk melihat namja yang terbaring di atas ranjang dengan kulit mengering dan menghitam.

“Itu Kim Jongin.” Baekhyun menunjuk ke arah Kai.

“Itu bukan Kim Jongin!” sahut Suzy.

Semua yang ada di dalam ruangan itu terkejut mendengar pernyataan Suzy.

“Apa maksudmu?” tanya Ji Won.

Suzy sedikit menitikkan airmata. “Ternyata Jiyeon tidak berbohong padaku. Itu Kim Kai, saudara kembar Jongin. Sedangkan Jongin yang asli ada di sampingku.”

Sontak semua mata tertuju pada Jongin yang memang tengah berdiri di samping Suzy.

“Kalian baru percaya kalau aku Kim Jongin?”

“Bagaimana bisa seperti ini?” tanya Ji Won lirih.

“Tidak penting. Sekarang yang penting adalah menyembuhkan Jongin, eh, maksudku Kai dan Jiyeon noona,” tegas Sehun.

“Jiyeon eonni? Apa yang terjadi padanya?” tanya Krystal khawatir.

“Nanti saja, Krystal. Kita smebuhkan Kai dulu.”

“Kai membutuhkan darah segar dari tiga orang tanpa perantara,” kata Ji Won.

“Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya?” tanya Krystal.

“Aku akan merangsang daya penciumannya dan memberikan sedikit cairan ini padanya untuk memberikan kekuatan agar dia bisa menghisap darah secara langsung.” Ji Won mengeluarkan cairan berwarna hijau dalam sebuah botol kecil. Dia segera memberikan pada Kai dengan meneteskan cairan itu sedikit demi sedikit ke dalam mulut Kai. Berhasil. “Sekarang saatnya. Aku akan memberikan darahku terlebih dahulu kemudian Krystal. Yang terakhir….” Ji Won bingung menyebut siapa lagi yang bisa memebrikan darah untuk Kai karena Jongin sudah berubah menjadi seorang vampir.

“Aku saja.”

“Kau? Bae Suzy, apakah darahmu bisa dihisap oleh vampir?” tanya Sehun dengan kedua mata terbelalak.

“Bisa,” jawab Suzy singkat.

“Baguslah!” Ji Won mengubah posisi Kai menjadi setengah duduk dan bersandar pada dinding di samping ranjang kemudian dia mengulurkan lengannya ke arah Kai. Kai yang sudah terangsang sifat ke-vampiran-nya, segera menghisap darah Ji Won. Dia terus menghisap darah gadis imut itu hingga lupa diri.

“Yaak! Lepaskan!” Sehun mendorong kepala Kai untuk melepaskan gigitannya. “Kau tidak boleh terlalu banyak menghisap darahnya. Dia bisa meninggal.”

Ji Won berpindah tempat. Setelah dirinya, Krystal dan Suzy memberikan darahnya pada Kai secara bergantian.

Kai tertidur di atas ranjang setelah mendapat pengobatan. Sebentar lagi, namja vampir itu akan pulih seperti sedia kala. Sekarang saatnya memikirkan nasib Jiyeon.

Ji Won membelai rambut Jiyeon pelan-pelan dan meneteskan airmata yang jatuh membasahi wajah Jiyeon. “Jiyeon-a, apa yang harus aku lakukan untuk menolongmu?”

Krystal juga berada di ruang di mana Jiyeon terbaring kaku di atas sebuah ranjang kecil. Tubuhnya lumpuh total dan tidak sadarkan diri. Sekarang ini, seluruh anggota tubuhnya tak dapat digerakkan. Jiyeon terbaring seperti patung dengan kulit pucat.

“Noona, kau pasti bisa menyembuhkannya.” Sehun muncul dengan mata sembab.

“Aku sama sekali belum berpengalaman menangani kasus seperti ini, Sehun-a,” jawab Ji Won lirih.

Sehun mendesah pelan. Ia harus mencari cara lain untuk menyelamatkan Jiyeon.

Sementara itu, Suzy dan Baekhyun sedang menunggu Kai sadarkan diri.

“Kenapa kau mau menolongnya?” tanya Baekhyun yang ingin mengetahui alasan Suzy bersedia memebrikan darahnya untuk Kai.

Suzy tak mengalihkan pandangannya dari Jongin. “Dia adalah cinta pertamaku.”

“Mwoya?”

“Kenapa? Kau pasti kaget. Jika saja aku tahu dari awal, aku pasti tidak akan berbuat seperti ini.”

“Lalu siapa yang memberi tahumu kalau dia adalah Jongin?”

“Jiyeon. Dia lah yang memberitahuku. Saat kondisinya tidak seburuk saat ini, Jiyeon berusaha memberitahuku bahwa Kai bukanlah Jongin dan Jongin bukanlah Kai yang asli. Mereka tertukar, ah, anhi. Mungkin ada alasan tertentu mengapa mereka berdua menukar diri.”

“Apakah mulai sekarang kau akan berhenti membunuh vampir?” tanya Baekhyun.

“Mungkin saja.”

“Baiklah, aku mencoba untuk percaya padamu, Bae Suzy. Kalau begitu, aku tinggal ke ruangan sebelah utnuk melihat kondisi Jiyeon.” Baekhyun melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

“Baekhyun-ssi! Nyawa Jiyeon terancam. Dia harus segera ditangani. Kalau tidak….”

“Aku tahu.” Baekhyun melenggang pergi dan menutup pintu ruangan itu dari luar.

Suzy mendekati ranjang Kai. Dia mengeluarkan sebilah pisau beracun, yaitu pisau yang memiliki kandungan racun seperti yang telah membuat Jiyeon sekarat. Senyum evil menghiasi wajah cantiknya. “Aku memang percaya kalau kau adalah Kim Kai. Tapi aku tidak percaya kalau kau masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Aku tidak akan pernah percaya pada vampir, Kim Kai.” Suzy menggenggam pisaunya dan mengarahkan pisau itu pada jantung Kai. Dengan sekali gerakan, dia dapat menusuk jantung Kai yang masih berdetak itu. Saat ujung pisau itu hampir menyentuh pakaian Kai, namja vampir itu membuka kedua matanya.

Kai memegang tangan Suzy dan menahannya agar pisau itu tak dapat menembus kulitnya. Kekuatannya masih lemah pasca kritis. Kai berusaha sekuat mungkin untuk menahan tangan Suzy yang ingin menancapkan pisau beracun itu ke jantung Kai.

“Kau…. bukan manusia lagi, Bae Suzy!”

TBC ^^

 

 

Advertisements

17 thoughts on “Vampires Love [Chapter – 3]

  1. mulai klimaks nih ceritanya tapi jongin kenapa tadi bisa nindih badan jiyi? aku masih kurang paham disitu.
    suzy bener2 deh ya masih aja niat ngebunuh padahal dia sendiri udah jd vampir juga aigooo

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s