You are JEALOUS!

wpid-picsart_1423591931414.jpg

dyzhetta

Jonghyun and a girl | oneshot | Romance | PG-13

YOU ARE JEALOUS!!

Aku memperhatikan sepasang sepatu asing yang bertengger di rak sepatuku.

Sepatu Kim Jonghyun.

Mau apa dia kesini?

“Oppa.” Panggilku.

Terdengar sahutan dari dapur. Segera aku pergi ke sumber suara itu.

Jonghyun sedang sibuk mencari sesuatu di dalam kulkasku.

“Sedang apa kau?” Tanyaku ketus.

“Mencari soft drink? Persediaan mu habis ya?”

“Bukan itu maksudku.” Aku segera menggesernya dari depan kulkas dan mengambil soft drink dari freezer.

“Lalu apa?”

“Mau apa kau kesini?” Aku memberikan soft drink itu padanya.

“Hei, tadi aku tidak menemukannya. Dimana kau menyembunyikannya?” Mukanya terlihat berseri.

“Ya! Aku bertanya!” Aku meninggikan suaraku.

“Hei, santai saja.” Dia menepuk kepalaku pelan. “Memangnya tidak boleh aku mengunjungiku kekasihku?” Dia memasang wajah konyol tepat di depan wajahku.

“Boleh…” Kataku ketus.

“Ya sudah kalau begi-”

“Setelah kau memberi tahuku.” Aku memotong kata-katanya ketus. “Sepertinya aku harus mengubah password kamarku.”

“Lho, ada apa denganmu?” Dia menatapku bingung.

Aku melenggang meninggalkannya. “Memangnya aku kenapa?”

Dia mengekoriku. “Tidak biasanya kau ketus seperti itu ketika aku datang. Biasanya kau selalu-”

“Aku lelah, oppa. Dosen hari ini menyebalkan.” Aku berbalik menghadapnya. “Jadi kalau kau ingin berada di sini jangan berisik. Aku ingin tidur.” Segera kulangkahkan kakiku meninggalkannya.

“Bohong.” Suaranya membuat langkahku terhenti. “Jangan berbohong padaku. Bukankah sudah Berkali-kali kukatakan?”

Aku menarik nafas panjang. “Siapa yang berbohong?”

“Kau. Memangnya ada siapa lagi di sini?” Katanya dingin.

“Aku tidak berbohong.” Kataku tegas.

“Tapi ini bukan seperti kau yang biasanya.”

“Memangnya aku yang biasa seperti apa?”

“Kau… kau selalu ceria menyambutku. Apalagi ini belum terlalu malam. Tidak biasanya kau seperti ini. Ada apa denganmu?” Suaranya melembut.

“Sudah kubilang aku lelah.”

“Jangan berbohong.” Desah nafasnya menggelitik telingaku. “Ada masalah, hm? Ceritakan padaku.” Kedua tangannya melingkari perutku.

“Pikirlah sendiri, oppa.”

“Oh, jadi masalahnya ada padaku?”

“Pikir saja.”

“Sebentar. Pasti ini karena postingan twitter ku, ‘kan?”

Aku menggeleng pelan.

“Penampilanku?”

Aku menggeleng sekali lagi.

“Lalu apa? Tsk, kau ini. Jangan main tebak-tebakkan.” Rajuknya. “Aku sudah lelah karena harus tampil seharian sekarang kau tambah membuatku pusing. Apa kau tidak kasihan pada kekasihmu?”

“Untuk apa kasihan? Kau saja tidak kasihan padaku.”

“Memangnya ada apa? Ayolah, jangan begitu.” Dia merajuk lagi.

“Kau mau tahu?” Aku meliriknya. Wajah frustasinya membuatku sangat ingin tertawa. Tapi sekarang bukan saat yang tepat.

“Tentu saja. Kalau tidak, untuk apa aku bertanya dari tadi?”

“Coba ingat baik-baik berita apa yang keluar hari ini tentangmu.”

“Berita apa? Kemenanganku?”

“Tsk, bukan itu. Masa karena itu aku seperti ini?!”

“Jadi benar kau begini karena aku?” Mata besarnya membulat.

“Jadi dari tadi kau tidak sadar?!” Seruku kesal.

“Aku kira kau bercanda.” Dia terkekeh.

“Kalau saja kau tidak tampan, aku pastikan tanganku sudah mendarat di pipimu, oppa!”

“Santai saja, sayang.”

“Ya! Singkirkan suara mesummu dari telingaku. Bikin sakit telinga tahu!” Jeritku.

Tawa Jonghyun meledak.

“Oppa, kau tidak membuat suasana hatiku lebih baik. Pulang saja kau!” Aku meronta dari pelukannya.

“Baik, baik. Aku akan serius sekarang. Jadi aku salah apa?” Dia menghentikan tawanya.

“Ish, sudah kubilang, pikir saja sendiri!”

“Ayolah, langsung beri tahu aku saja.” Rengeknya.

“Lepaskan aku dulu.”

“Baik.” Diapun melepaskan pelukannya.  “Sekarang beri tahu aku.”

“Kau.” Aku menunjuk muka pria yang lebih tinggi delapan centimeter dariku itu.

“Aku apa?” Tanyanya bingung.

“Aku belum selesai bicara, oppa.” Decakku kesal.

“Ah, maaf. Kalau begitu teruskan.” Dia memamerkan gigi serinya.

“Kau dan team dancermu itu menyebalkan.” Desisku kesal.

“Siapa? SHINee? Memangnya ada apa dengan SHINee?”

“Aku tidak bilang SHINee.” Aku melipat tanganku.

“Lalu siapa? Team dancer… oh! Team dancer Deja-Boo?”

Aku mendecak sebal.

“Oh bukan. Team dancer Hallelujah?”

Aku mengangguk sekilas.

“Ada apa dengan mereka?” Dia terlihat berfikir.

“Oh!” Seperti ada lampu pijar di atas kepalanya, dia menjentikkan jari.

“Apa karena aku berfoto dengan dancer perempuan Hallelujah?” Dia memajukan wajahnya.

Aku berbalik. “Pikir saja sendiri.”

“Benar kan?”

“Iya.” Sahutku kesal.

“Memangnya kenapa? Itu hanya karena pekerjaan. Biasanya kau juga tidak marah jika aku berfoto dengan perempuan lain.”

“Pekerjaan? Pekerjaan apa yang menyuruhmu berfoto dengan pipi yang menempel seperti itu?” Aku menghempaskan tubuhku ke sofa. Keras.

Dia terkekeh lalu duduk di sampingku. “Kau cemburu rupanya.”

“Tidak.” Elakku cepat.

“Lalu apa namanya ketika seorang perempuan marah-marah karena melihat foto kekasihnya dengan perempuan lain?”

“Pokoknya tidak.” Aku melipat tanganku.

“Kau cemburu. Pokoknya cemburu.”

“Tidak.”

Dia langsung memelukku. “Lalu apa namanya?”

“Aku hanya kesal.”

“Kesal karena cemburu.” Dia menyeringai.

“Tidak!”

“Bagaimana aku menebusnya ya? Oh, kita selca bersama saja ya. Dengan pipi menempel seperti itu juga? Atau mau dengan bibir yang menempel, hm? Silahkan pilih.” Cerocosnya sambil mengeluarkan ponsel.

“Oppa.” Aku meronta.

“Shuut… hadap kamera.” Dia mengarahkan kamera depan ponselnya ke arah kami.

“Oppa, apa-apaan sih? Aku sedang tidak ingin difoto.” Aku terus meronta namun sayangnya tidak berhasil karena tangannya mengunciku sangat kuat.

“Mau begini?” Dia menempelkan pipinya.

“Oppa.” Kutarik pipiku  menjauh.

“Oh, tidak mau? Ya sudah begini.” Diapun mencium pipiku.

“Oppa.” Aku merengut.

Ckrek…

“Nah, sudah. Mau lihat?” Dia membuka hasil jepretannya tadi. “Tidak buruk.”

“Oppa, lepaskan aku.” Pintaku kesal.

“Tidak mau.”

“Oppa. Jonghyun oppa!” Jeritku.

“Baik, baik. Jangan marah ya?” Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. “Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud sedekat itu.”

Aku menatapnya kesal.

“Ya? Kau mau kan memaafkan aku?” Dia menatapku memelas.

“Baiklah.” Kataku pada akhirnya. “Kau harus janji tidak mengulanginya lagi.”

Dia mengangguk cepat.

“Pokoknya tidak boleh diulang! Sekali kau mengulanginya….”

“Apa? Kalau aku mengulanginya kau akan apa?” Dia menopang dagunya.

“Aku akan… ah, lihat saja nanti. Intinya kau tidak boleh seperti itu lagi.” Aku mengacungkan jari telunjukku.

Dia langsung memelukku. “Ah, kekasihku ini ternyata lucu sekali ketika cemburu. Aku harus sering-sering membuatmu cemburu sepertinya.”

“Ya! Jangan. Aku tidak suka!” Rajukku.

“Tapi aku suka.”

“Oppa.” Aku merengut.

“Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku janji.” Dia terkekeh.

“Kau harus menepati janjimu, oppa!”

Dia hanya tertawa.

Ah, aku yakin pada akhirnya dia akan membuatku cemburu lagi. Menyebalkan.

Dan benar saja. Pada acara M!Countdown tak lama setelah itu, dia sempat berpegangan tangan cukup lama dengan member Davichi. Rupanya dia pandai sekali membuatku cemburu.

Awas saja nanti jika dia berkunjung lagi!

 

kkeut~

 

sekedar curhatan fangirl haha

pernah dipublish di wp pribadi

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s