XOXO Undercover [Session 2]

xoxo-undercover-new

~XOXO Undercover~

Kami adalah 12 si ahli menyamar.

Cast:

Seungri, Jiyeon, Lay, Lime, Baekhyun, Nana,

Xiumin, Suho, Eunji, Kai, Sulli, Sehun

Genre:

Romance, Action & Friendship

Length:

Multichapter

Rating:

PG – 15

Previous Sessions: Characters | ID Cards | Session 1 |

Cover by Kak Ica@ICAQUEART

Storyline in this chapter is not mine, but it’s Kak Ica’s storyline.

I will make storyline for Chapter 3 and after.

Happy reading…

After read this FF, don’t forget to leave your opinion in comment box

~oOo~

“Kau menyukai yeoja yang bernama Park Jiyeon?” Psikiater memandang Seungri penasaran.

Seungri mengangguk lalu terkekeh pelan. Rasanya untuk jujur kepada diri sendiri saja malu.

“Hem…aneh,” desah psikiater berkomentar. “Jika kau menyukai Park Jiyeon, seharusnya kau tidak membiarkan anak buahmu yang bernama Zhang Yixing mendekatinya.”

“Aku percaya Jiyeon tidak akan terpikat oleh Lay, um kami biasa memanggilnya seperti itu,” ucap Seungri seraya memandang layar ponselnya yang tidak kunjung berbunyi.

“Sedang menunggu panggilan?” tanya psikiater. “Kita bisa lanjutkan konsultasi kita minggu depan….”

“Aniyo,” ucap Seungri seraya memasukkan kembali ponselnya. “Jiyeon berjanji akan menghubungiku. Kupikir dia sedang sibuk memata-matai sasaran kami kali ini.”

“Baiklah, kita kembali ke kisah cintamu,” ucap psikiater duduk kembali. “Sejak kapan kau menyukai Park Jiyeon?”

“Um…entahlah,” jawab Seungri. “Pertama kali aku bertemu dengannya di bus.”

“Bus?” tanya psikiater dengan dahi berkerut. “Lalu?”

“Dia berniat mencuri uang di dompetku,” ucap Seungri seraya tersenyum.

Si psikiater yang terkejut dengan ucapan Seungri hanya mampu mengikik geli.

“Dia pencopet, begitu?” tanya psikiater.

Seungri mengangguk.

“Dia tidak punya keluarga. Dan cara dia melanjutkan hidup dengan mencuri,” jawab Seungri. “Lalu aku menyuruh Lime, anak buahku yang lain, untuk mengajak Jiyeon bergabung dengan kami.”

“Pertemuan pertama yang sangat menarik,” ucap si psikiater.

“Lebih dari sekadar menarik,” ralat Seungri. “Entahlah, apa karena aku sudah gila….aku tidak pernah bisa membenci Jiyeon, biarpun dia telah melakukan kesalahan besar.”

“Sepertinya kau sangat mencintai yeoja itu,” ucap psikiater. “Tetapi apa kau tidak khawatir tentang kebersamaan Jiyeon dengan Zhang Yixing saat ini?”

Seungri menggeleng.

“Kuharap semua berjalan tanpa ada masalah,” ucap psikiater.

“Berulang kali kuingatkan diriku sendiri bahwa Jiyeon tidak akan pernah melirik Lay sedikitpun,” gumam Seungri seraya menatap matahari terik di luar jendela.

**

“Yaa!” Jiyeon berusaha mengejar Lay yang memiliki langkah besar. “Tunggu!”

“Jika kau ingin marah padaku, aku tidak punya waktu untuk meladenimu,” ucap Lay yang terus saja jalan menuju asrama pria di Corode High School. Ini adalah hari ketiga mereka menjadi hagsaeng di sekolah besar itu, tetapi Lay maupun Jiyeon belum menemukan tanda-tanda kemunculan si bandar narkoba.

Tchah, sombong sekali kau!” teriak Jiyeon penuh kesal. “Seharusnya aku yang bersikap seperti itu menyadari kau telah merendahkanku di depan hagsaeng lain di kantin tadi!”

Tiba-tiba Lay berhenti mendadak, membuat Jiyeon mau tak mau menubruk punggung Lay.

“Apa kau tidak sadar kau nyaris membongkar identitas kita?” tanya Lay dengan wajah kesal.

“Tetapi apa perlu kau menyiramku dengan coklat dinginmu, heh?” tanya Jiyeon membalas. “Pwa! Seragamku kotor karenamu!”

“Seragammu tidak ada artinya dibandingkan dengan bahaya yang bisa mengancam seluruh XOXO Agen karena kecerobohanmu yang hampir membongkar identitas kami semua!” ucap Lay tanpa jeda, membuat Jiyeon yang tidak terbiasa melihat kecerewetan Lay tiba-tiba terdiam. “Kau tahu, Jessie? Bahkan kau lebih ceroboh daripada Nara.” Lay pun pergi setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya yang mampu membuat Jiyeon terperangah sekaligus sakit hati.

**

Jiyeon mencoba meredakan amarahnya yang sempat membuncah di dadanya. Setelah dirinya tenang, Jiyeon langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Seungri. Suara Seungri terdengar sangat cemas di ujung telepon.

“Mianhae,” ucap Jiyeon yang mengaku telah terlambat menelpon Seungri.

“Gwaenchana, asal kau baik-baik saja,” ucap Seungri di seberang telepon. “Bagaimana? Apa kau sudah menemukan si pengedar?”

“Belum,” jawab Jiyeon otomatis memelankan suaranya. “Aku belum melihat tanda-tanda yang mencurigakan di sekolah ini.”

“Tetap jeli dan jangan lengah. Aku selalu berpikir hagsaeng jaman sekarang lebih pintar daripada detective seperti kita,” ucap Seungri. “Dan kau jangan lupa istirahat yang cukup. Bagaimana dengan makanan di sana? Apa bibi Chon masih ada? Dia jago membuat samgyetang pedas. Itu makanan favoritku selama bersekolah di sana dulu.”

“Bibi Chon yang gemuk dan beruban? Dia masih ada. Dia baik sekali pada seluruh penghuni kantin,” ucap Jiyeon. “Kau jangan terlalu sibuk memikirkan aku. Urusi saja dirimu sendiri dan anak-anak yang lain. Pasal si Brothel Keeper, apa kau sudah menyelesaikannya?”

“Ne, misi itu sudah clear,” jawab Seungri. “Tiffany akhirnya mau mengaku. Dan kau tahu siapa si Brothel Keeper itu sebenarnya? Dia adalah ayah tiri Lay.”

Spontan Jiyeon terdiam dengan ekspresi terkejut. Si mucikari itu ternyata ayah tiri Lay? Lime memang pernah bilang bahwa ayah kandung Lay sudah meninggal dan sekarang ini Lay di bawah asuhan ayah tirinya. Omona…

“Kuharap kau tidak memberitahu Lay pasal ini,” ucap Seungri. “Yang lain pun sudah sepakat untuk tidak menceritakan hal itu pada Lay.”

Kekesalan pada Lay beberapa menit yang lalu tiba-tiba berubah menjadi rasa kasihan. Tentu saja Jiyeon tidak akan tega memberitahu soal ini pada Lay, walau terkadang sifat Lay seringkali membuat Jiyeon kesal.

“Um Sabtu besok kuharap kau bisa menyelinap keluar dari sekolah.” ucap Seungri. “Aku ingin mengajakmu nonton.”

“Ne, akan kuusahakan,” jawab Jiyeon sebelum akhirnya menyudahi percakapan dengan Seungri di telepon.

**

“Ini untukmu,” ucap Nara seraya menyorongkan sekotak coklat pada Xiumin.

“Coklat?” tanya Xiumin tidak langsung menerimanya. “Kau pikir sekarang hari Valentine?”

“Kau pikir memberi dan menerima coklat hanya terjadi saat hari Valentine?” tanya Lime seraya menyambar coklat yang dipegang Nara. “Untukku saja kalau kau tidak mau.”

“Yaa!” teriak Nara seraya memukul Lime. “Coklat itu bukan untukmu! Kembalikan!”

“Aigooo….sudah jelas Xiumin telah menolakmu berkali-kali, masih saja kau betah mengemis cinta padanya,” ucap Lime seraya memakan coklat Nara.

“Kejam sekali,” ucap Nara seraya memandang sebal ke arah Lime. Nara pun pergi ke lantai dua tempat kamarnya berada.

“Pabbo,” desah Baekhyun pada Lime. “Ucapanmu sering kali menyakiti Nara.”

“Aku tidak berniat menyakitinya!” bantah Lime. “Aku hanya bicara soal kenyataan. Yaa! Xiumin Oppa, kau memang selalu menolak perasaan Nara padamu, kan?”

“Kalian bicara apa sih? Apa tidak bosan membahas diriku dengan Nara?” tanya Xiumin dengan wajah jengah.

Sementara Lime, Baekhyun dan Xiumin sedang asik berdebat soal Nara, di lantai tiga, Sehun dan Sulli sedang bicara berdua.

“Bagaimana….kalau kita putus saja,” ucap Sehun perlahan kepada Sulli yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk di sebelahnya. Sulli otomatis terkejut dengan permintaan Sehun.

“Aku merasa aku sudah tidak menyukaimu lagi,” ucap Sehun tanpa takut menyakiti hati Sulli yang sudah setahun ini menjadi kekasihnya.

“Apa….kau masih menyukai Nara?” tanya Sulli dengan mata berkaca-kaca.

Sehun terdiam, bingung mau menjawab apa.

“Maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi kekasih yang baik untukmu,” ucap Sulli seraya memalingkan wajahnya yang sudah berlinang air mata.

Sehun agak terkejut mendengar ucapan Sulli. Mengapa dia meminta maaf?

Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Sulli mengangguk seraya berkata, “Baiklah, kita putus saja.”

Kini Sehun semakin terkejut. Dia berpikir bahwa Sulli akan menolak permintaannya, tetapi lihat! Dengan mudah Sulli menyetujui permintaannya untuk putus.

“Terima kasih karena selama ini kau sudah mau menjadi kekasihku,” ucap Sulli sebelum pergi meninggalkan Sehun sendirian.

Sehun mendesah panjang seraya mengurut keningnya.

“Begini memang lebih baik,” desah Sehun. “Aku sudah terlalu sering menyakiti hatinya.”

**

Berita putusnya Sehun-Sulli ternyata sudah sampai ke telinga seluruh penghuni gedung XOXO Agen, kecuali Jiyeon dan Lay.

“Apa dia sudah gila?” tanya Eunji sambil menggeram kesal. “Dia namja bodoh! Sehun bodoh! Sudah jelas sekali bahwa kau satu-satunya yeoja yang cocok dengannya! Bahkan menurutku sekarang, kau terlalu baik untuk manusia sekejam  Sehun!”

“Sudahlah,” ucap Sulli. “Aku sedang mencoba untuk merelakannya. Percuma saja mengikatnya dengan sebuah hubungan, tetapi pikiran dan hatinya tetap bergerilya ke tempat lain.”

“Ke tempat lain?” tanya Eunji. “Maksudmu ke Nara, heh?”

“Pssst! Pelankan suaramu,” ucap Sulli seraya membekap mulut Eunji.

“Biarkan semuanya dengar! Biarkan Sehun dengar!” ucap Eunji seraya menyingkirkan tangan Sulli dari mulutnya. “Masa bodoh bahwa Nara adalah cinta pertama Sehun. Seharusnya Sehun bisa menjaga perasaanmu yang notabenenya adalah kekasihnya.”

“Eunji-ah, ini salahku juga,” ucap Sulli.

“Salah kau?” tanya Eunji dengan dahi berkerut.

“Apa kau lupa? Aku yang menembak Sehun, bukan Sehun yang menembakku,” ucap Sulli.

“Yaa! Jika Sehun menerimamu sebagai kekasihnya, bukankah itu karena landasan cinta?” tanya Eunji mencoba berpikir logis. “Jika dia tidak mencintaimu, mengapa dulu dia menerimamu, heh?”

“Mollayo,” ucap Sulli dengan wajah penuh kesedihan.

“Jelas, kan? Semua itu karena Nara! Sehun masih saja memikirkan Nara!” ucap Eunji yang ternyata terdengar sampai ke telinga Xiumin yang baru saja masuk ke ruang rapat XOXO Agen.

“Nara?” tanya Xiumin seraya menghampiri Sulli dan Eunji. “Kenapa semua manusia disini hobi sekali membicarakan Nara? Semalam Lime dan Baekhyun. Sekarang, kalian berdua!”

“Oppa, lebih baik kau terima cinta Nara secepatnya!” ucap Eunji tiba-tiba, membuat Xiumin terbelalak.

“M-mwoya?” tanya Xiumin tidak mengerti.

“Apa kau tidak tahu? Sehun dan Sulli putus karena Nara!” ucap Eunji. “Oppa cepat pacari Nara, sehingga Sehun tidak perlu memikirkan Nara lagi.”

“Micheosseo? Tidak semudah itu,” ucap Xiumin seraya beralih memandang Sulli. “Sulli-ah, benarkah kau telah putus dari Sehun?”

Sulli mengangguk pelan.

“Aigoooo….bodoh sekali Sehunie,” ucap Xiumin. “Sulli-ah, aku benar-benar turut bersedih dengan keadaanmu sekarang ini.”

“Jangan naif,” sahut Eunji mencibir ke arah Xiumin. “Kalau Oppa kasihan pada Sulli, lakukan apa yang kukatakan tadi. Pacari Nara dan aku yakin Sehun akan kembali pada Sulli.”

“Aku tidak ingin menaruh harapan sebesar itu, Eunji-ah,” ucap Sulli. “Sehun….perasaan cintanya pada Nara terlalu besar dan sulit dikalahkan oleh apapun.”

Kini gantian Xiumin yang mencibir ke arah Eunji.

“Kau dengar, kan? Percuma saja aku memacari Nara jika akhirnya Sehun tetap tidak bisa kembali pada Sulli,” ucap Xiumin. “Lagipula hal itu akan terasa kejam buat Nara. Aku tidak menyukainya.”

Complicated,” desah Eunji seraya menepuk dahinya.

**

“Lime, tunggu!” ucap Baekhyun seraya menahan tangan Lime.

“Waeyo?” Lime menepis tangan Baekhyun. “Hobi sekali sih mengikutiku?”

“Satu-satunya yeoja yang kuperhatikan memang hanya dirimu. Kau labil dan mudah terbawa arus buruk,” ucap Baekhyun seraya melihat potongan rendah rok yang dipakai Lime saat ini. “Aku tidak suka jika kau mengumbar tubuhmu dengan memakai pakaian seksi seperti ini.”

“Aissh….kau benar-benar cerewet dan menyebalkan,” desah Lime jengah.

“Sekarang kau mau kemana?” tanya Baekhyun.

“Aku ingin pergi ke rumah teman. Tenang saja, temanku kali ini adalah orang baik-baik,” ucap Lime. “Kau pulang saja.”

“Aniyo,” bantah Baekhyun. “Aku ingin pergi denganmu.”

“Haiiish! Terserah kau saja!” geram Lime kesal.

Setengah jam kemudian mereka tiba di depan sebuah rumah teman Lime. Setelah membayar ongkos taksi, Baekhyun dengan cepat menyamai langkah Lime yang sudah lebih dulu jalan menuju halaman rumah besar ini.

“Aku tidak menyangka kau memiliki teman sekaya ini,” ucap Baekhyun. “Rumahnya besar sekali.”

Tanpa memperhatikan ucapan Baekhyun, Lime berkata, “Jika temanku bertanya siapa dirimu, jawab saja kau temanku. Jangan dilebih-lebihkan.”

“Mengapa kau sejahat itu padaku?” tanya Baekhyun. “Bukankah kita memang dekat? Dan seharusnya hubungan kita lebih dari sekadar teman.”

“Jika kau berani bicara macam-macam, kuikat bibirmu!” ancam Lime seraya memencet bel rumah besar ini.

Tidak ada respon. Tidak ada yang keluar. Sepi total. Padahal Lime sudah berkali-kali memencet bel rumah besar ini.

“Kemana Alice?” gumam Lime seraya berjalan ke arah belakang rumah besar ini. Dari kaca belakang rumah, tampak dapur mewah milik Alice. Dan yang anehnya kran kitchen sink dalam kondisi menyala bahkan sampai membasahi seluruh permukaan lantai.

“Apa rumah ini kosong?” tanya Baekhyun seraya mencoba mengecek pintu. “Pintunya rapat.”

“Aku sudah berjanji pada Alice bahwa hari ini aku akan datang ke rumahnya,” ucap Lime seraya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ponsel Alice. “Tidak diangkat.”

“Coba telepon rumah ini, siapa tahu Alice ketiduran,” pinta Baekhyun seraya berjalan menuju pintu depan lagi. Pintu depan pun terkunci rapat. “Aneh sekali,” gumam Baekhyun.

Tiba-tiba saja Lime menghampiri Baekhyun seraya berkata, “Tidak diangkat. Kurasa rumah ini memang kosong. Tetapi bagaimana dengan krannya? Airnya bisa membanjiri seisi rumah!”

“Pecahkan jendelanya!” ucap Baekhyun memberikan ide.

“Micheosseo? Kau mau aku berhutang pada keluarga kaya ini?” tanya Lime seraya menjitak kepala Baekhyun.

“Tidak ada cara lain. Pintu depan itu juga terkunci rapat. Kau yakin kau bisa menghancurkan jati setebal pintu ini, heh?” tanya Baekhyun seraya beralih ke belakang lagi.

“Chankamman!” ucap Lime seraya menahan tangan Baekhyun yang sudah siap melempari kaca jendela dengan batu. “Kau bantu aku ganti rugi ya setelah ini.”

“Pikirkan nanti saja,” ucap Baekhyun seraya melempar si batu besar di tangannya ke arah jendela kaca. Kaca pun pecah diikuti bunyi sirine bahaya yang sangat keras. Baekhyun langsung masuk ke dalam rumah dan mencari tombol untuk mematikan sirine bahaya tersenyum. “Gila, mereka memasang sirine. Jelas rumah ini anti maling.”

“Dan anti orang gegabah sepertimu,” timpal Lime. “Apa tidak ada cara yang lebih waras lagi selain memecahkan kaca?”

“Pikir saja dan beritahu aku cara seperti apa yang pantas kita gunakan untuk masuk ke dalam rumah besar ini,” ucap Baekhyun seraya mematikan keran kitchen sink yang menyala.

Lime pun masuk ke setiap ruangan di rumah besar ini untuk mengecek keadaan. Bukan main kagetnya Lime saat melihat seorang namja muda terbujur kaku dengan berlumuran darah. Kaki Lime mendadak lemas dan dia pun terduduk dengan wajah masih menampakkan keterkejutan. Baekhyun yang menyusul Lime dan melihat keadaan serupa langsung menghubungi Seungri. Itulah kebiasaan anggota XOXO Agen, jika mereka menemukan kejadian seperti ini mereka tidak akan menghubungi polisi, mereka tahu bahwa mereka mampu menyelesaikan semua jenis kasus.

Setengah jam kemudian, masih di rumah besar ini….

Seungri, Kai dan Suho sudah datang sementara Baekhyun sedang sibuk menginterogasi Lime yang terlihat aneh sejak melihat mayat seorang namja muda di salah satu ruangan di rumah besar ini.

“Aku memang berbohong padamu,” ucap Lime di sofa di ruang tamu. “Aku tidak ingin bertemu dengan Alice, aku ingin bertemu dengan Kris.”

“Jadi nama mayat itu Kris?” timpal Suho seraya mencatat seluruh data yang dia dapat di atas tabnya.

“Kris adalah kakak Alice,” ucap Lime masih dengan wajah pias.

Tiba-tiba Kai datang untuk menunjukkan sesuatu yang dia dapat.

“Pecahan kaca?” gumam Baekhyun.

“Ne, aku menemukannya di bagian perut  dan lehernya. Kurasa korban ini dihajar habis-habisan oleh botol red wine,” ucap Kai berkomentar seraya menunjukkan botol bening yang sudah hancur bagian atasnya.

“Apa Kris punya musuh?” tanya Seungri yang sedang duduk disebelah Lime.

“Aku tidak tahu,” jawab Lime. “Kami baru kenal sebulan. Dia terlihat menarik buatku, walaupun sebenarnya Kris tidak begitu merespon keberadaanku. Dia sangat pendiam dan karena hal itu aku tidak mampu menebak dirinya seperti apa. Bahkan untuk mengorek dirinya susah sekali. Dia tertutup dan jarang bicara,”

“Kau sudah hubungi Alice?” tanya Seungri lagi.

Lime mengangguk seraya menjawab, “Dia akan datang sebentar lagi.”

Dan benar apa yang dikatakan Lime, beberapa menit kemudian Alice datang dengan wajah habis menangis.

“Dimana Oppa?” tanya Alice dengan wajah kebingungan.

“Alice tenangkan dirimu,” ucap Lime seraya memeluk temannya ini. Alice menangis tersedu-sedu di bahu Lime.

“Aku ingin lihat Oppa!” erang Alice.

“Kau belum boleh mendekati korban,” ucap Seungri. “Kami sedang memeriksanya. Dan sebentar lagi kami akan membawanya untuk melakukan otopsi.”

Butuh beberapa menit untuk menenangkan Alice yang jiwanya terguncang karena kematian sang kakak yang sangat disayanginya.

“Sepertinya aku tahu siapa yang berani membunuh Oppa,” ucap Alice setelah dirinya mulai tenang.

“Ceritamu tentu akan sangat membantu kami untuk menyelidiki kasus ini,” ucap Suho yang sudah siap dengan alat perekam suara di tangannya.

“Dong Woo,” ucap Alice. “Setahuku, satu-satunya musuh yang Oppa miliki adalah Dong Woo.”

“Siapa dia?” tanya Suho.

“Dia adalah hoobaeku dulu,” jawab Alice. “Dua tingkat di bawahku. Oppa tidak pernah setuju melihat diriku berkencan dengan Dong Woo. Bahkan mereka berdua sempat adu mulut. Oppa pernah menghina Dong Woo dengan kata-kata kasar. Oppa bilang Dong Woo hanyalah hagsaeng miskin yang beruntung karena bisa bersekolah di tempat semahal Corode…”

“M-mworago?” tanya Seungri menyela. “Corode? Corode High School?”

Alice mengangguk.

“Omona,” desah Baekhyun. “Sepertinya sekolah itu menyimpan puluhan kriminal.”

“Yaa! Aku salah satu lulusan di sana!” ucap Seungri seraya menjitak Baekhyun.

“Kau lulusan Corode?” tanya Alice pada Seungri.

Seungri mengangguk seraya menjawab, “Kurang lebih delapan tahun yang lalu.”

“Kau Sunbaeku berarti,” ucap Alice. “Aku baru lulus dua tahun yang lalu. Dan saat ini Dong Woo sedang sibuk menghadapi kelulusannya.”

“Berarti dia tingkat tiga sekarang,” gumam Seungri. “Si pengedar narkoba juga diduga berada pada tingkat tiga.”

“Pengedar narkoba?” tanya Alice dengan wajah terkejut.

“Kami sedang melakukan misi lain di Corode High School. Kami sedang mencari pengedar narkoba yang kemungkinan besar sedang berada di tingkat tiga saat ini,” ucap Suho menjelaskan.

“‘Jangan-jangan….” gumam Alice sangat pelan. Wajahnya pun diliputi kebimbangan.

“Jangan-jangan apa?” tanya Seungri. “Kau tahu soal pengedar narkoba itu?”

“Aku benar-benar tidak ingin menjerumuskannya ke penjara,” ucap Alice kalut. “Tetapi aku tidak bisa melihat Dong Woo terus memakai benda haram itu.”

“Dong Woo memakai narkoba?” tanya Kai terkejut.

“Ada dua kemungkinan disini, Dong Woo hanya pengkonsumsi biasa yang menjadi korban si pengedar atau Dong Woo-lah si pengedar itu,” ucap Seungri mencoba menganalisis keadaan.

“Aku benar-benar tidak ingin melihat Dong Woo di penjara,” ucap Alice terisak pilu.

“Baiklah, Alice,” ucap Seungri. “Kami akan menyelidiki kasusmu. Kematian Kris akan cepat terungkap. Ceritamu sangat membantu kami dan jika tidak keberatan, kami ingin kau ikut serta dalam penyelidikan ini. Kau tahu banyak bukan soal Dong Woo yang diduga telah membunuh kakakmu?”

Alice mengangguk seraya berkata, “Tentu aku akan membantu kalian.”

**

“Apa kau sudah dengar berita terbaru?” tanya Jiyeon pada Lay di perpustakaan Corode High School.

Lay tidak menjawab. Dia terlalu fokus dengan buku yang sedang dibacanya saat ini.

“Jangan berlagak seperti hagsaeng di saat kita sedang melakukan sebuah misi,” ucap Jiyeon seraya menutup yang sedang dibaca oleh Lay.

“Jangan menggangguku di saat senggang seperti ini,” balas Lay seraya kembali membuka bukunya.

Jiyeon berusaha menahan dongkol di hatinya dan berniat melanjutkan pembicaraan mereka soal misi dengan pikiran dingin.

“Seungri bilang bahwa ada hagsaeng yang telah melakukan pembunuhan di sekolah ini,” ucap Jiyeon. “Namanya Dong Woo. Tingkat tiga. Mungkin sekelas denganmu?”

Lay tidak merespon ucapan Jiyeon.

“Kau benar-benar menyebalkan,” desah Jiyeon yang sudah menyerah menghadapi sikap dingin Lay. “Bagaimana bisa aku join bersamamu untuk melakukan misi seperti ini. Kau benar-benar batu es yang tidak berguna.”

“Kau tahu?” tanya Lay tiba-tiba. “Membicarakan misi di tempat umum seperti ini sungguh tindakan yang bodoh.”

“M-mwo?” Jiyeon terbelalak mendengar ucapan Lay. “Kau menghinaku dengan sebutan bodoh?”

“Apa ada kata-kata yang lebih pantas selain kata itu?” tanya Lay seraya menaikkan sebelah alisnya.

Jiyeon mencoba menahan emosinya yang hampir meledak.

“Jadi apa maumu sekarang Tuan Sok Pintar?” tanya Jiyeon.

“Tuan Sok Pintar?” sela sebuah suara. Chen, salah satu teman sekelas Jiyeon menghampiri meja mereka. “Kenapa obrolan kalian terdengar sedikit aneh? Bukankah kalian bersaudara? Jessie, bukankah Looray ini kakakmu? Kenapa bicaramu kasar begitu?”

“Chen, tolong jangan ikut campur urusan kami,” ucap Jiyeon meminta. Chen memang terkenal cerewet dan suka ikut campur urusan orang lain.

“Apa kalian berencana untuk ribut besar di perpustakaan ini?” tanya Chen yang sepertinya tidak perduli dengan ucapan Jiyeon. “Berhati-hatilah, Jess. Penjaga perpustakaan disini galak sekali.”

“Chen,” panggil Lay tiba-tiba seraya beranjak dari bangkunya. “Kuharap kau bisa temani adikku yang cerewet ini sementara aku kembali ke asrama.”

“Tentu saja,” ucap Chen sambil tersenyum senang. “Tetapi…sebenarnya tujuanku kesini untuk memberitahu kalian bahwa kalian berdua dipanggil oleh Mr. Jang. Kurasa dia berencana untuk menyuruh kalian menerjemahkan pekerjaannya.”

Tanpa banyak bicara, Lay langsung pergi meninggalkan perpustakaan menuju ruang Mr. Jang, guru biologi di Corode. Jiyeon pun langsung mengekor di belakangnya.

Sesampainya di ruang Mr. Jang, Lay dan Jiyeon disambut penuh kehangatan.

“Kalian tahu tujuanku memanggil kalian kesini?” tanya Mr. Jang penuh senyum. “Jessie, Looray…karena kalian lama tinggal di US, kuharap kalian dapat membantuku menerjemahkan buku ini.”

Lay maupun Jiyeon terbelalak melihat dua tumpukkan buku tebal di atas meja Mr. Jang.

“Aku tahu kalian berdua lemah di pelajaranku,” ucap Mr. Jang. “Tetapi tenang saja, aku akan berikan kalian nilai tinggi asalkan kalian mau membantuku menerjemahkan kedua buku mengerikan.”

Ingin rasanya Lay dan Jiyeon menolak permintaan Mr. Jang. Tetapi apa daya. Mereka pun akhirnya melakukannya. Padahal di hari Sabtu secerah ini, ingin rasanya Jiyeon mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Dan lagi, omona! Jiyeon punya janji kencan dengan Seungri sore ini!

“Kurasa aku tidak bisa datang menemui Seungri sore ini,” desah Jiyeon yang dapat didengar oleh Lay dengan jelas.

Lay hanya melirik sekilas ke arah Jiyeon yang duduk disebelahnya.

“Kencanku resmi batal,” desah Jiyeon seraya mengetik pesan untuk Seungri di ponselnya.

Tanpa sepengetahuan Jiyeon, saat ini Lay sedang sibuk menyembunyikan senyumnya.

TO BE CONTINUE

Advertisements

3 thoughts on “XOXO Undercover [Session 2]

  1. Hihihi lay tertarik kah sama jiyeon? Ngeselin juga sih emang sikapnya lay ke jiyeon
    Semoga ga ada yg tersakiti baik lay atau seungri, emang sih aku seneng cinta segitiga gini dimana jiyeon d rrbutin tp kasian juga sih sama cowok yg ga d pilih

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s