XOXO Undercover [Session 1]

xoxo-undercover-new

~XOXO Undercover~

Kami adalah 12 si ahli menyamar.

Cast:

Seungri, Jiyeon, Lay, Lime, Baekhyun, Nana,

Xiumin, Suho, Eunji, Kai, Sulli, Sehun

Genre:

Romance, Angst, Action & Friendship

Length:

Multichapter

Rating:

PG – 15

Previous Sessions: Characters | ID Cards

Cover by Kak Ica@ICAQUEART

Storyline in this chapter is not mine, but it’s Kak Ica’s storyline.

I will make storyline for Chapter 3 and after.

Also published on My Beloved Home

Happy reading…

After read this FF, don’t forget to leave your opinion in comment box

~oOo~

“Aku membangun Agen ini dari nol. Aku berjuang bersama dengan yang lainnya. XOXO Agen, kau bisa menyebutnya seperti itu….”

“XOXO?” Si psikiater berkerut bingung. Tangannya berhenti menulis sementara matanya mulai berani menatap kedua mata tampan Lee Seungri.

“Xavier Ordinary….Xavier Ordinary….” jawab Seungri seraya mengeluarkan puntung rokoknya yang hendak dibakar dari dalam kotaknya.

“Maaf…” interup si psikiater. “Aku tidak menerima siapapun diruangan ini merokok.”

Seungri kembali menyimpan rokoknya.

“Xavier Ordinary?” tanya si psikiater yang belum mengerti arti dari XOXO yang Seungri maksud.

“Xavier adalah ayahku. Dan ordinary….” Seungri menggantungkan ucapannya sementara kaki kanannya kini bergoyang. “Ayahku tidak pernah ingin terlihat spesial atau luar biasa di mata orang lain. Padahal dia seorang professor, sedikit bisa merakit senjata api…tetapi dia terlalu rendah hati. Maka dari itu ayahku dikenal sebagai Xavier Ordinary.”

Si psikiater mengangguk mengerti.

“Tetapi XOXO juga bisa diartikan sebagai eXtra Ordinary,” tambah Seungri.

Si psikiater mengangguk lagi.

“XOXO Agen….kalian sejenis Detective?”

“Aku tidak menolak jika kau beranggapan seperti itu,” jawab Seungri. “Spesialis kami adalah melakukan penyamaran. Tetapi aku tetap merekrut seseorang yang jago menembak dan berkelahi. Pekerjaan kami tergolong pekerjaan kasar dan sangat beresiko karena berurusan dengan nyawa. Anak buahku….mereka luar biasa. Mereka berani bergabung bersamaku, tanpa memikirkan resiko baik dan buruknya….”

“Ada berapa anak buah yang kau punya?”

“Sebelas,” jawab Seungri.

“Dimana mereka sekarang?”

“Kau tidak akan pernah tahu dimana anak buahku berada,” jawab Seungri. “Karena mereka berada di luar sana bukan sebagai diri mereka, tetapi sebagai orang lain. Ingat pekerjaan kami? Undercover!”

-oOo-

Erijavu Club malam ini ramai dijajahi para penghuni malam yang diglamori kekayaan. Sekumpulan yeoja dan namja di beberapa sudut club terlihat sangat memikat karena rupa dan penampilan mereka yang sengaja dipersiapkan sematang mungkin hanya untuk datang ke tempat hiburan malam seperti ini.

Si rambut biru baru saja masuk ke dalam club ini dan langsung mengambil tempat di lantai dansa terdepan. Dia menari dengan busana super minim dan gerakan yang sangat mengundang gairah sementara lagu Ladies’s Code – Hate You diputar oleh sang DJ. Di sudut lain club, seorang namja sedang menatap sebal ke arah lantai dansa, tepatnya ke arah si rambut biru itu.

“Lime, kau benar-benar sudah gila,” gumam si namja pelan. Perawakan imut layaknya seorang bayi yang dimiliki si namja ternyata mampu memikat beberapa pasang yeoja penghibur di club ini.

“Butuh teman?” Salah satu dari mereka mencoba menggoda si namja yang masih berdiri kaku di sudut club.

Si namja melempar senyum ke arah mereka semua sebelum menjawab, “Tentu.”

“Kau harus pilih salah satu dari kami,” pinta si rambut merah pekat.

“Harus?” tanya si namja. “Aku ini tipe berbagi….”

“Aniyo,” sela si rambut merah pekat seraya menempelkan telunjuknya ke arah bibir si namja. “Pilih satu atau…”

“Atau?” Sebelas alis si namja spontan naik.

“Jangan menggodaku,” ucap si rambut merah pekat dengan manja. “Kau tahu maksudku. Kau harus pilih aku.”

Si namja tersenyum sementara sebelah tangannya mulai menggerayangi pinggang si rambut merah pekat.

“Aku tidak suka tempat ramai,” ucap si namja setelah mengedipkan sebelah matanya.

Si rambut merah pekat langsung menggeliat manja tanda kesenangan.

“Ada beberapa ruang VIP disini,” ucap si rambut merah pekat. “Pilih satu dan kita akan bersenang-senang.”

“Ide bagus.” ucap si namja langsung menarik si rambut merah pekat menuju ruang VIP di club ini.

Sepeninggalnya si namja, muncul seorang namja baru yang langsung mengambil tempat di lantai dansa tempat si rambut biru sedang asik menari. Si namja langsung memeluk pinggang si rambut biru seraya mendekatkan bibirnya ke arah telinga si rambut biru.

“Lime, jangan bertingkah bodoh,” ucap si namja. “Kau bisa membongkar…”

“Keumanhe,” sela si rambut biru seraya meletakkan kedua tangannya di atas bahu kiri dan kanan si namja. “Jangan kaku, Lay. Sudah lama aku berpisah dengan dunia malamku. Izinkan aku sebentar sementara….”

“Baekhyun sedang digarap oleh korban mucikari sasaran kita, Lime!” Kini Lay yang menyela ucapan si rambut biru – Lime dengan desisan kecil.

“Lalu apa hubungannya denganku?” tanya Lime acuh.

“Masa bodoh dengan pertengkaran kalian. Ingat rencana kita!” desis Lay mulai kehabisan kesabaran.

“Ah jeongmal,” desah Lime yang kini turun dari lantai dansa untuk mengikuti Baekhyun yang sudah hilang entah kemana.

-oOo-

Sebuah mobil besar yang terlihat seperti mobil biasa dari luar ternyata berisi dua orang yang sedang memata-matai isi Erijavu Club malam ini.

“Berhenti bermain-main, hyong!” ucap Suho seraya mematikan musik yang sedang Xiumin dengarkan.

“Bukan tugasku untuk memperhatikan mereka semua!” protes Xiumin seraya menunjuk layar monitor hasil rekaman kamere pengintai milik Kai dan Sehun. “Aku tidak sedang ikut misi kalian yang satu ini. Dan seharusnya aku tidak sedang berada disini malam ini. Seharusnya aku sedang berada di dalam kamarku yang hangat.”

“Hyooong, kamarmu adalah kamarku juga,” ucap Suho mencibir.

Tiba-tiba pintu mobil mereka terbuka dan muncullah yeoja cantik bergaun hitam dengan potongan dada yang rendah. Park Jiyeon mendengus berkali-kali sambil menggigit bibir bawahnya.

“Jelas bukan hobimu memakai pakaian minim seperti itu,” ucap Xiumin berkomentar.

Jiyeon tidak meladeni ledekan Xiumin. Dahinya terlihat agak berkerut dengan mulut sedikit manyun.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Xiumin yang merasa aneh dengan ekspresi Jiyeon.

“Apa Lay dan Lime memiliki hubungan serius?” Pertanyaan Jiyeon membuat Xiumin dan Suho spontan tertawa,

“Kenapa kau bisa bertanya seperti itu?” tanya Xiumin. “Lime milik Baekhyun, begitulah kata Baekhyun.”

“Dan ada yang aneh dalam pertanyaanmu, Jiyeonie,” ucap Suho menimpali. “Kenapa aku merasakan ada unsur cemburu di dalam pertanyaamu barusan?”

“Oppa!” rengek Jiyeon seraya memukul bahu Suho. “Jangan berkata yang macam-macam. Sejak kapan aku mencemburui Batu Es itu, heh? Aku hanya merasa si Batu Es selalu menunjukkan perbedaan ketika sedang berhadapan dengan Lime.”

“Itu artinya….” Suho menggantungkan ucapannya sementara matanya melirik ke arah Xiumin.

“….kau cemburu pada Laaaaaay!” sambung Xiumin menyelesaikan ucapan Suho.

“Kaedong-ppa!” teriak Jiyeon kesal.

“Yaa! Berhenti memanggil kami semua dengan Kaedong!” ucap Xiumin kesal seraya menjitak kepala Jiyeon. “Wajah tampan kami tidak bisa disamaratakan dengan kotoran anjing.”

“Chankamman….tetapi menurutku, wajahmu beda tipis dengan k-kaedoong….” ucap Suho diakhiri tawa panjang.

“Saekki!” geram Xiumin seraya memiting leher Suho tepat saat sebuah teriakan terdengar lewat speaker komputer mereka.

“Sudah dimulai!” ucap Jiyeon seraya menyisipkan pistol kecil nya pada stiletto bertalinya. “Mana pisau lipatku?” tanya Jiyeon menadah kearah Xiumin.

“Aku tidak sedang bertugas sekarang, jadi mana kutahu….”

Suara teriakan kedua terdengar kembali.

“Ah sudah tidak ada waktu,” ucap Jiyeon seraya keluar dari mobil untuk masuk kembali ke dalam club yang kini heboh diramaikan oleh para pengunjung yang kalang kabut keluar dari club.

Di dalam club sudah hampir setengahnya kosong dan Jiyeon pun langsung mencegat salah satu yeoja penghibur di club itu.

“Kumpul bersama dengan teman-temanmu disana!” ucap Jiyeon seraya mengacungkan pistolnya ke arah si yeoja penghibur. Beberapa sudah berhasil dikumpulkan oleh Lay dan Kai―yang ternyata menyamar sebagai DJ pada malam ini. “Kemana yang lainnya? Kupikir mereka lebih banyak daripada ini.”

“Tentu saja sudah kabur,” jawab Kai seraya mengusap peluh di dahinya. “Bantu Baekhyun, Lime noona gila karena tidak sengaja melukai dada yeoja yang bersama dengan Baekhyun.”

Jiyeon pun langsung menghampiri kamar VIP tempat Baekhyun dan Lime berada.

“Jiyeon-ah, tolong geret Lime keluar. Siapa sih yang memberinya minum sebelum bertugas?” desah Baekhyun yang kikuk mengurusi si rambut merah pekat yang berlumuran darah dibagian dadanya.

Lime sudah tersungkur di lantai dengan mata tertutup setengah.

“Yeoja gila,” desah Jiyeon seraya berusaha membawa Lime keluar club dan tiba-tiba muncul Lay.

“Biar aku,” ucap Lay seraya mengambil alih Lime yang langsung digendong diatas dipunggungnya.

Baekhyun dan si rambut merah pekat, serta Lay dan Lime sudah keluar dari ruangan. Tinggal Jiyeon sendirian dikamar, menyisakan wajah pahit sepeninggal mereka semua.

-oOo-

Esok harinya….

Markas XOXO Agen….

Sel Tahanan Sementara…

“Jadi kau tidak mau memberitahu informasi tentang namja yang telah menjualmu?” tanya Suho yang sudah gemas meladeni para yeoja penghibur didepannya saat ini. Si rambut merah pekat adalah yeoja terakhir yang Suho interogasi. Dan mereka semua tidak ada yang mau mengaku.

“Dia akan membunuhku jika aku memberitahu keberadannya,” ucap si rambut merah pekat dengan dada yang sudah dibebat dengan perban.

“Dia akan segera tertangkap jika kau mau memberitahuku,” ucap Suho. “Itulah tujuan kami.”

“Kau tidak kenal Bos kami,” ucap si rambut merah pekat. “Dia lebih gila dari dugaan kalian. Dan dia memiliki puluhan anak buah yang siap…”

“Kau meremehkan kemampuan kami menangkap penjahat kelas teri seperti Bos-mu itu, heh?” sela Lay yang sedaritadi bersender di pintu.

Si rambut merah pekat pun terdiam.

“Interogasi ditunda,” seru Kai yang tiba-tiba datang dengan setelan kaos putih dan celana jeans. “Dipanggil Bos untuk rapat.”

“Borgol dia dan kunci pintu,” ucap Lay pada Suho sebelum pergi ke ruang rapat bersama dengan Kai.

Ruang rapat XOXO Agen….

“Mereka masih belum mau mengaku?” tanya Seungri pada Lay yang baru datang dan langsung mengambil tempat di sebelah Lime.

“Belum,” jawab Lay. “Dia takut si mucikari akan membunuhnya jika dia memberitahukan keberadaan….”

“Nappeun-yeoja!” sela Lime diakhiri geraman. “Seharusnya aku lukai lebih dalam dadanya biar dia mengaku.”

“Lime, kau mengerikan sekali,” ucap Xiumin dengan wajah ngeri.

“Kita tunda pembahasan misi kita tentang si Brothel Keeper misterius itu,” ucap Seungri seraya berdiri dan berjalan menuju white boardnya di belakangnya. “Misi baru. Corode High School diduga menyimpan satu hagsaeng pengedar narkotika. Dan hebatnya, aktivitas di hagsaeng disaat mengedarkan benda itu tidak pernah ketahuan dan sulit dilacak. Tahun ajaran baru akan segera dimulai dan aku menunjuk Nara dan Sehun untuk menjadi hagsaeng baru Corode High School.”

“Interupsi…” Sulli terlihat mengacungkan tangan kanannya ke atas.

“Ada apa, Sulli-ah?” tanya Seungri.

“Bisakah aku ikut misi kali ini?” tanya Sulli dengan suara pelan, tetapi Sehun yang duduk di depannya mampu mendengarnya.

“Waeyo?” tanya Seungri. “Corode High School adalah sekolah berasrama,  jika kau ikut misi kali ini kau harus menginap di asrama sekolah itu. Dan bagaimana dengan nenekmu yang tinggal sendirian?”

Sulli terdiam, bingung harus berkata apa. Jiyeon yang mengerti bagaimana perasaan Sulli pun langsung melontarkan idenya.

“Bagaimana jika aku saja yang mengambil misi itu?” usul Jiyeon. “Dan aku lebih butuh Kai untuk menemaniku.”

“Kai?” timpal Lay dengan wajah dinginnya. “Si maknae yang baru bergabung setahun yang lalu?”

“Waeyo? Ada masalah?” tanya Jiyeon balik, tidak kalah ketusnya dengan Lay. “Kai baru saja ikut serta misi penggrebekan club kemarin malam. Dan kurasa dia cukup pintar berkelahi. Lawan kita kali ini hanya anak ingusan yang mencoba mengedarkan kejahatan di sekolahnya sendiri.”

“Akan jauh lebih baik jika Sehun yang….”

“Sehun tidak akan meninggalkan Sulli untuk tinggal satu asrama dengan salah satu diantara kita,” sela Jiyeon dengan nada agak tinggi.

Sulli spontan menundukkan wajahnya. Sehun pun terlihat kesal.

“Jujur saja, aku tidak suka mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan,” ucap Sehun seraya melirik sebal ke arah Sulli, sang kekasih. “Sudah kubilang, sifat pencemburumu semakin hari semakin parah.”

“Nomuhajima,” ucap Jiyeon mencoba membela Sulli yang kini sedang dirangkulnya. “Kau sebagai kekasihnya memang kurang memperhatikannya.”

“Perdebatan selesai!” sela Seungri seraya mengurut keningnya yang pening. “Baiklah, akan kuubah rencanaku. Jiyeon dan Lay, kalian berdua yang akan menjadi hagsaeng baru.”

“Mwo?!” Kedua mata Jiyeon terbelalak. “K-kenapa harus…..”

“Lay sudah pernah menangani kasus serupa dan aku yakin dia bisa melakukannya sebaik dulu,” jawab Seungri. “Tidak ada bantahan lagi. Suho, aku minta laporan semalam dan tolong urus pendaftaran sekolah Jiyeon dan Lay. Eunji dan Baekhyun tolong bantu kemasi barang-barang yang akan di bawa oleh Jiyeon dan Lay. Kasus pemburuan mucikari akan aku tangani bersama dengan Xiumin….”

“Ahhhh, Hyong!” desah Xiumin kelewat keras. “Kau yang kemarin bilang kalau aku tidak ikut campur misi menyebalkan itu,” elak Xiumin.

“Jangan bantah aku,” ucap Seungri seraya menarik tangan Xiumin untuk menemui tawanan yeoja penghibur di sel. “Mereka cantik-cantik. Kau bisa cuci mata.”

“Ah jeongmal…” desah Xiumin seraya berjalan beriringan dengan Seungri dengan malas-malasan.

-oOo-

“Bukan gayamu sekali,” ucap Xiumin pada Seungri yang sedang membuka pintu sel.

“Apa maksudmu?” tanya Seungri tidak mengerti.

“Kau memindahtangankan misi seperti tadi,” jawab Xiumin. “Aku tahu caramu bekerja. Jika kau sudah menunjuk si A untuk melakukan suatu misi, si A harus menyelesaikannya sampai akhir.”

Seungri hanya tersenyum tanpa berkomentar apa-apa. Tepat ketika Seungri hendak masuk ke dalam, Xiumin menjulurkan tangannya yang panjang untuk menahannya.

“Dan kenapa kau memilih Jiyeon dan Lay untuk melakukan misi tersebut?” tanya Xiumin tidak habis rasa penasarannya. “Bukankah kau menyukai Jiyeon? Lalu kenapa kau membiarkan Lay bersama dengan Jiyeon? Mereka akan tinggal satu asrama!”

“Kau tahu? Semua pertanyaanmu itu tidak penting untuk dijawab,” jawab Seungri seraya menepis tangan Xiumin yang menghalangi jalannya.

“Yaa, Hyong….berhenti bersikap seperti itu pada sepupumu sendiri,” keluh Xiumin seraya mengekor di belakang Seungri yang sudah masuk. Para wanita penghibur masih berada di dalam sel. Si rambut merah pekat sedang menundukkan wajahnya di antara kakinya yang ditekuk.

“Corode High School adalah sekolahku dulu,” ucap Seungri pelan. “Aku tidak mungkin mengambil misi itu sementara para musuhku dulu masih berkeliaran di sekitar sekolah itu.”

“C-Corode? Bukankah kau mengambil beasiswa di London?” tanya Xiumin dengan wajah terkejut bercampur bingung.

“Selama ini aku berbohong,” jawab Seungri mau tidak mau mengaku. “Aku memang mendapatkan beasiswa di London, tetapi aku tidak mengambilnya. Aku lebih memilih Corode High School.”

“Kau memilih bersekolah di tempat bermasalah itu ketimbang….” Xiumin tidak mampu menyelesaikan ucapannya karena terlalu terkejut dengan berita baru ini. Seluruh keluarga Seungri dan Xiumin tahu bahwa selama ini Seungri tinggal di London untuk bersekolah. “Omona…aku benar-benar tidak menyangka. Kau membohongi kami semua, Hyong!”

“Jangan berisik,” ucap Seungri seraya membuka dokumen yang baru diambilnya dari lemari arsip.

“L-lalu…ketika kami semua tahu bahwa kau tinggal London dan ternyata dugaan kami salah…kemana kau sebenarnya, Hyong?” tanya Xiumin.

“Aku tinggal di rumah Lay,” jawab Seungri santai.

“M-mwo? Lay? Kalian sudah kenal lama?” tanya Xiumin semakin penasaran.

“Lay adalah Hoobae-ku di Corode, bersama dengan Sehun,” jawab Seungri.

“Sekarang jelas bagiku mengapa kau mempercayai misi itu kepada Sehun yang akhirnya digantikan oleh Lay. Lalu untuk apa kau mengikutsertakan Nara yang digantikan oleh Jiyeon pada misi itu?”

“Kau cerewet sekali,” desah Seungri.

“Salahmu sendiri mengapa merekrutku untuk masuk ke Agenmu. Kau tahu aku mantan penyiar,” jawab Xiumin membela diri.

“Sekarang simpan semua pertanyaanmu karena aku ingin segera menginterogasi para wanita cantik ini,” ucap Seungri seraya mengalihkan perhatiannya kepada si rambut merah pekat. “Tiffany Hwang,” ucap Seungri memanggil nama si rambut merah pekat. “Kau masih tidak mau memberitahu kami dimana keberadaan Bos-mu?”

“Mengapa kalian semua bertanya padaku?” tanya Tiffany. “Kenapa kau tidak bertanya pada yang lain?

“Aku lebih tertarik padamu,” jawab Seungri. “….karena kau satu-satunya yang berhasil masuk ke dalam perangkap kami. Kau menggoda Agen Baekhyun.”

“Jika aku tahu dia adalah mata-mata, aku tidak akan menggodanya dari awal!” jawab Tiffany kesal.

“Jangan mengumbar kemarahanmu ketika sedang diinterogasi.” ucap Seungri. “Kau hanya perlu mengaku dan perkara ini akan cepat diselesaikan.”

“Bos-ku akan membunuhku jika aku memberitahu keberadaannya kepada kalian,” ucap Tiffany dengan wajah ketakutan.

“Aku berjanji akan melindungimu,” ucap Seungri. “Kau akan aman jika tetap berada di dalam markas kami ini. Dan Bos-mu, kami akan segera menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara.”

“Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Kau pasti akan menjebloskanku ke penjara bersama dengan Bos-ku. Maka habislah aku,” isak Tiffany yang mulai mengeluarkan air mata.

“Yang sedang kami incar saat ini adalah Brothel Keeper, yaitu Bos-mu. Kau dan teman-temanmu yang lain tidak masuk ke dalam daftar incaranku,” ucap Seungri.

Tiffany terdiam, masih terisak.

“Masih tidak mau mengaku?” tanya Seungri yang masih sabar ditempatnya berdiri. Berbeda dengan Xiumin yang langsung menggebrak sel tahanan.

“Jika kau tidak mau mengaku, aku yang akan menjebloskanmu ke penjara! Bahkan kujamin kau akan berada dalam satu sel dengan Bos-mu yang menakutkan itu!” ancam Xiumin seraya melotot ke arah Tiffany. “Cepat mengaku!”

“Yaa, bukan begitu caranya….” ucap Seungri seraya menjauhkan Xiumin dari sel.

“Aku benci melakukan misi ini, Hyong,” desah Xiumin. “Cukup berikan aku misi yang lain, lalu aku akan diam.” Xiumin pun pergi meninggalkan ruangan.

-oOo-

Esok harinya, Jiyeon dan Lay sudah menerima berkas-berkas yang akan dibawa ke Corode High School. Eunji dan Baekhyun pun sudah melakukan tugas yang diperintahkan oleh Seungri kepada mereka. Koper Jiyeon yang berwarna pink sudah bertengger manis di sebelah Jiyeon, sedangkan koper hitam milik Lay sudah tergeletak manis di dalam mobil yang nantinya akan membawa mereka.

“Ingat, kalian berdua akan menjadi dua bersaudara di Corode nanti. Aku ingin kau dekati para Sunbae, yaitu teman sekelas Lay, Jiyeon-ah. Dan kau Lay, tolong jaga Jiyeon dari jauh. Kau tahu kan bagaimana liarnya para senior di Corode?” ucap Seungri sebelum keberangkatan Jiyeon dan Lay.

Lay mengangguk dan Jiyeon mencibir diam-diam ketika Seungri mengatakan dirinya dalam pengawasan si Batu Es.

“Kai dan Baekhyun sudah siap?” tanya Seungri seraya mencari sosok Kai dan Baekhyun yang akan menyamar menjadi petugas listrik. Mereka berdua yang akan memasang kamera pengintai pada kamar Jiyeon dan Lay dan dibeberapa tempat yang nantinya akan sering dikunjungi oleh Jiyeon dan Lay.

“Ready!” ucap Kai yang sudah terbungkus seragam petugas listrik, bersama dengan Baekhyun di sebelahnya.

“Jiyeon-ah, kau sudah simpan peta yang kuberikan semalam?” tanya Seungri. “Corode sekolah besar.”

“Tenang saja, aku tidak akan nyasar,” jawab Jiyeon sambil mengembangkan senyum lebarnya. “Lagipula ada Lay yang akan menjadi peta berjalan untukku,” tambah Jiyeon seraya melirik ke arah Lay yang berdiri disebelahnya. “Benarkan, Lay?”

Lay hanya diam, bahkan dia tidak menoleh ke arah Jiyeon.

“Dan satu lagi, jangan sampai lupa bahwa kau menyamar sebagai Jessie Kim dan Lay sebagai Looray Kim,” ucap Seungri menambahkan kata-kata terakhir.

“Sudah kuingat di dalam kepalaku. Tenang saja,” ucap Jiyeon seraya menyeret kopernya dan tiba-tiba Lay mengambil alih untuk mengangkatnya ke dalam mobil.

“Kita harus terbiasa untuk akrab mulai saat ini demi misi kita,” ucap Lay seraya menatap datar ke arah Jiyeon yang sempat tersanjung dengan perlakuan si Batu Es padanya.

Xiumin yang melihat gelagat keduanya, hanya mendesah panjang seraya bergumam, “Apa mereka bisa menjadi sepasang saudara di Corode nanti?”

“Entahlah,” jawab Suho yang sedang berdiri disebelahnya. “Kuharap Jiyeonie bisa tahan diri untuk tidak menjambak Lay nantinya.”

Dan beberapa detik kemudian melesatlah mobil mereka keluar dari gerbang markas XOXO Agen. Sepeninggalnya Jiyeon dan Lay, Xiumin dengan wajah meledek menyenggol sikut Seungri seraya berkomentar, “Semoga kau tidak salah mengambil keputusan, Hyung.”

“Apa maksudmu?” tanya Seungri seraya menaikkan sebelah  alisnya tanda tidak mengerti.

“Jiyeon dan Lay akan menjadi semakin dekat karena misi itu,” jawab Xiumin.

Seungri terkekeh seraya merangkul bahu Xiumin.

“Aku percaya Jiyeon tidak akan pernah menilai Lay sebagai tipenya,” ucap Seungri penuh keyakinan. “Aku yakin…”

TO BE CONTINUE

Maafkan segala macam typo dan kata asing yang gak aku ketik Italic.

Ketik komentar kalian jika berkenan ^^

Advertisements

3 thoughts on “XOXO Undercover [Session 1]

  1. Aku udh pernah baca d hsf dan aku emang penasaran bgt sma lanjutannya, sempet kecewa juga sih pas icha bilang mau ngelelang ff ini hufftt, semoga kamu bisa ngelanjutin ff ini dengan baik yaa fighting!!

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s