Dream High 3 [Chapter 4]

DREAM HIGH 3 NEW

INTRO+CHAP 1 | CHAP 2 | CHAP 3

Cast:

Jiyeon, Sehun, Krystal, Taeyong, Joy, Lay

Genre

AU, Drama, Friendship, Romance, School Life

Length:

Multichapter

Rating:

PG-13

Di chap ini campuran antara aku dan Kak Ica

Cover belong to me.

Sorry for typos, leave your comment after read it!

happy reading

*****

Dream High 3

Perjuangan meraih mimpi menjadi seorang bintang terkenal.

Namja itu adalah Oh Sehun, yang berkali-kali bertemu dengannya. Hanya saja kesan dan cara mereka bertemu sangat mengerikan.

“M-mianhae,” ucap Jiyeon seraya menjauh dari Sehun.

Sehun mendengus kesal.

Selanjutnya, Yoon mengajarkan bagaimana caranya melakukan Tap Dance kepada seorang amatiran seperti Jiyeon dan anak-anak yang lain.

“Nah!” ucap Yoon. “Pada pertemuan kita yang selanjutnya, aku ingin kalian membentuk kelompok terdiri dari dua orang. Tunjukkan gaya Tap Dance yang bagus untuk kalian. Itu akan jadi penilaian pertamaku.”

Kelas bubar dan Jiyeon merana! Dia mencoba mengajak mereka, satu persatu, untuk menjadi teman sekelompoknya. Ternyata mereka cukup waras untuk tidak memilih sekelompok dengan Jiyeon yang memiliki tubuh bulat seperti balon helium.

Dengan langkah gontai Jiyeon beranjak pergi ke kelas selanjutnya. Mereka masuk ke dalam suatu ruangan besar. Di sana sudah berdiri Kang Chul dan Jin Man.

“Silahkan tempati kursi-kursi yang kosong,” ucap Kang Chul sebelum memberi pidato singkatnya. “Kalian sepertinya sudah mulai akrab satu sama lain. Aku senang melihatnya. Tetapi mohon maaf, keakraban kalian hanya sebatas teman seasrama dan teman di kelas Yoon Eun Hye-ssi. Selebihnya kalian akan menjadi rival.”

Anak-anak terkejut mendengar ucapan Kang Chul, begitupun dengan Jin Man.

“Kang Chul-ssi…” Jin Man berbisik dari belakang tubuh Kang Chul. “Kau tidak perlu melakukan hal itu.”

Kang Chul tidak mendengar Jin Man, dia justru melanjutkan kata-katanya.

“Luna, Seulong, Krystal, G-Dragon, Victoria, Taeyang, Soyu, Minzy, Amber, Lizzy, Taemin, Soyeon, Myungsoo dan Sehun…kalian keluar dari kelas ini dan ikut aku,” ucap Kang Chul membuat semua murid terkejut.

Kelas menjadi berisik dalam sesaat.

“Bisakan kalian tenang?” tanya Kang Chul tegas. “Nama yang kusebut tadi, mereka semua resmi menjadi murid didikanku. Dan selebihnya, itu tanggung jawab Jin Man-ssi. Kirin saat ini menjadi dua kubu yang berbeda. Kubuku bernama White Class dan kubu Jin Man-ssi bernama Black Class.”

Jin Man sama sekali tidak tahu tentang nama dari perbedaan kubu mereka. Dengan kesal Jin Man berbisik, “Kang Chul-ssi…kau tidak boleh melakukan ini tanpa sepengetahuanku!”

“Keumanhe!” ucap Kang Chul membuat Jin Man diam seketika. “Keempat belas anak yang kusebut tadi mari ikut denganku. Kalian berhak belajar di kelas yang special.”

Anak-anak yang disebut tadi pun pergi mengikuti Kang Chul.

“Sehun-ah,” desah Taeyong, enggan berpisah dengan Sehun.

“Hanya berbeda kelas, gwaenchana,” ucap Sehun sebelum meninggalkan kelas.

Dan delapan yang tersisa yang bengong di tempatnya masing-masing. Mereka merasa menjadi yang terbuang.

Jin Man hanya bisa menunjukkan senyum canggungnya. “Jadi…kita Black Class? Tidak buruk,” ucap Jin Man berusaha membesarkan hati anak-anak.

**

Keluar dari kelas, seluruh anak-anak Black Class mengeluh dengan ketidakadilan yang dilakukan Kang Chul.

Seorang yeoja imut menghampiri Jiyeon yang sedang berjalan ke arah perpustakaan.

“Annyeong…” tegur yeoja itu sambil tersenyum.

“Annyeonghaseyo,” balas Jiyeon sambil tersenyum.

“Jadi kita sekelas? Black Class? Dua yeoja diantara enam namja?” gurau yeoja itu.

Jiyeon tersenyum mendengarnya. Baru kali ini dia disapa seramah ini semenjak menginjakkan kaki di Kirin.

“Park Sooyoung imnida. Cukup panggil aku Joy, aku sudah senang mendengarnya,” ucap Joy. “Dan kau?”

“Park Jiyeon,” jawab Jiyeon.

“Jadi…kau akan pergi kemana? Bukankah seharusnya kita ke kantin sekarang ini? Kenapa kau pergi ke arah perpustakaan?” tanya Joy.

“Eh?” Jiyeon menggaruk kepalanya. “Itu karena…kamarku di sana.”

Joy terkejut mendengarnya.

“Kamarmu di perpustakaan? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Joy.

“Sebetulnya aku tinggal di asrama Purple Room, hanya saja…teman sekamarku yang bernama Krystal enggan sekamar denganku,” jelas Jiyeon dengan hati mencelos.

“Ah jinjja?” tanya Joy dengan wajah prihatin. “Tetapi kau tidak mungkin selamanya tidur di perpustakaan kan?”

Jiyeon menaikkan kedua bahunya dengan wajah lesu.

“Tinggalah di kamarku,” ucap Joy, membuat Jiyeon terkejut.

“J-jinjja?” tanya Jiyeon. “Apa tidak apa jika aku sekamar denganmu? Bagaimana dengan teman sekamarmu?”

“Luna, maksudmu?” tanya Joy. “Cuek saja. Lagipula aku yakin, setelah Luna pindah ke White Class, tidak lama lagi dia akan menggotong barang-barangnya menuju kamar Krystal. Sesama White Class, tentu mengasikkan jika sekamar bareng. Begitupun denganku. Aku senang bisa sekelas dan seasrama dengan kau,” ucap Joy panjang lebar.

“Ne,” jawab Jiyeon terlalu senang untuk banyak bicara.

**

“Kang Chul-ssi,” panggil Jea yang melihat Kang Chul di koridor.

“Ne, Jea-ssi?” tanya Kang Chul menghentikan langkahnya.

“Kau benar-benar membuat kubu antara kau dengan Jin Man-ssi?” tanya Jea tidak percaya.

“Tentu,” jawab Kang Chul

“Ah jinjja? Lalu bagaimana dengan nasib kubu Jin Man-ssi? Kudengar kau menarik seluruh guru handal di Kirin ini untuk mengajar White Class sepenuhnya. Kau hanya memberikan Yoon-ssi sebagai guru tari mereka,” ucap Jea.

“Apa yang kau dengar benar semua,” jawab Kang Chul. “Aku membebaskan Jin Man untuk mencari guru baru.”

“Waeyo? Kenapa kau melakukan ini?” tanya Jea tidak mengerti jalan pikiran Kang Chul.

“Kau ingat, Jea-ssi?” tanya Kang Chul. “Sewaktu Jin Man memaksaku untuk membuka audisi terbuka. Aku sudah menolaknya, tetapi dia membantah. Baiklah kalau begitu, aku ikuti semua kemauannya. Dengan konsekuensi! Dia harus mengikuti semua permainanku. Ketika dia memutuskan untuk membuat audisi terbuka, itu artinya dia telah siap untuk berdiri sendiri. Aku orang yang baik, Jea-ssi. Kuberikan kesempatan itu pada Jin Man-ssi. Berdiri sendiri itu artinya benar-benar mandiri. Jin Man telah memiliki kelasnya sendiri. Apa salahnya jika dia memiliki guru sendiri untuk mengajar kelasnya? Itu maksudku, Jea-ssi.” Usai berbicara panjang lebar, Kang Chul meninggalkan Jea ke kantornya.

“Kenapa Kang Chul seserius itu menanggapi ucapan Jin Man?” desah Jea, yang cenderung berada di kubu Jin Man.

**

“Jin Man-ssi!” Jea masuk ke dalam kantor Jin Man. Jin Man sedang mengurut keningnya.

“Waeyo?” tanya Jin Man tidak bertenaga.

“Kau sudah dengar? Kang Chul-ssi menarik seluruh guru di Kirin ini untuk mengajar White Class, hanya mengajar anak-anak dikubunya,” ucap Jea dengan wajah serius.

“Mworago? Apa maksudnya?” tanya Jin Man tidak mengerti.

“Kang Chul-ssi membebaskanmu untuk mencari guru baru yang akan mengajar Black Class,” jawab Jea, membuat bola mata Jin Man membesar.

“Saekki!” ucap Jin Man tidak bisa menahan kata-kata kasarnya. “Dia sengaja menghancurkan kubuku pelan-pelan. Bagaimana bisa dia menarik semua guru handal disini?”

“Dia hanya menyisakan Yoon sebagai guru tari semua anak-anak,” sambung Jea.

“Lalu bagaimana dengan kau?” tanya Jin Man. “Kau juga ditarik oleh Kang Chul-ssi?”

Jea menggeleng. “Andaikan dia menarikku, aku akan menolaknya. Aku akan membantu kubumu, Jin Man-ssi.”

“J-jinjja?” tanya Jin Man terharu dengan ucapan Jea.

Jea mengangguk.

“Kalau memang Kang Chul-ssi sudah memutuskan seperti itu, sepertinya sudah tidak ada jalan lain,” ucap Jea. “Kita tunjukkan kepada Kang Chul-ssi bahwa pendapat dan keputusanmu memilih audisi terbuka, bukan pilihan yang salah. Kita cari guru-guru handal untuk mengajar kedelapan anak Black Class!”

Jin Man tidak dapat menahan air matanya, menyadari Jea telah memberikan dukungan penuh padanya. Setelah Jea pergi meninggalkannya, Jin Man bergumam, “Saranghaeyo, Jea-ssi.”

**

“Bagaimana kalau kita sekelompok untuk kelas Yoon seonsaeng-nim?” usul Joy di meja kantin.

“Ne,” jawab Jiyeon bersemangat.

“Apa sebelumnya kau pernah mencoba Tap Dance?” tanya Joy.

Jiyeon menggeleng.

“Aku tidak bisa menari,” jawab Jiyeon terus terang.

“Jinjja?” tanya Joy terkejut.

“Ne. Mianhae,” jawab Jiyeon. “B-bagaimana denganmu?”

“Aku?” Joy menunjuk dirinya. Ingin rasanya dia berterus terang pada Jiyeon bahwa sebenarnya dia adalah balerina terkenal di Perancis. Hanya saja, dia tidak mau membawa kehidupan lalunya semenjak dia memutuskan untuk sekolah di Kirin. “Aku pun tidak bisa.”

Jiyeon memandang lesu wajah Joy seraya berkata, “Jadi…kita adalah pasangan yang tidak bisa menari? Lucu sekali.”

Joy tersenyum canggung, merasa tidak enak telah membohongi Jiyeon.

**

Benar apa yang dikatakan Joy, sore harinya setelah kelas selesai, Luna dibantu Krystal, memboyong koper-kopernya menuju Purple Room.

“Mianhae, Joy-ah,” ucap Luna. “Aku tidak bisa sekamar dengan dua orang. Terlalu sempit dan membuatku sesak,” tambahnya seraya melirik ke tubuh gempal Jiyeon. “Krystal menawariku untuk sekamar dengannya. Dan kuharap kau senang dapat sekamar dengan Jiyeon.”

Joy tidak terlalu ambil pusing. Dengan senang hati dia membiarkan Luna angkat kaki dari kamarnya.

“Betulkan kataku?” ucap Joy.

Jiyeon tersenyum menyadari ada sebuah ranjang tunggal untuk dirinya. Malam ini dapat dipastikan dia akan tidur nyenyak.

**

White Class sudah memulai kelas esok paginya. Mereka mendapat pengajaran dari Jisung, si guru Bahasa Inggris. Sedangkan Black Class? Seharian mereka dicekoki pidato panjang dari Jin Man. Berkali-kali Jin Man mengatakan bahwa keberadaan Black Class bukanlah hal yang patut dipermalukan. Black Class akan menjadi ternama nantinya. Jin Man berjanji akan memberikan guru yang hebat untuk mengajar Black Class.

“Seonsaeng-nim…” ucap Yoseob, salah satu penghuni Black Class. “Kenapa ada kubu idiot seperti ini? Temanku, Taemin, berada di kubu seberang. Apa Kang Chul-ssi bermaksud mengadakan permusuhan diantara kubu kita dengan kubu mereka?”

“Yoseob-ssi, tenanglah,” ucap Jea yang tiba-tiba masuk ke kelas. “Tidak akan ada permusuhan. Justru persainganlah yang akan muncul dengan adanya dua kubu ini. Tetapi tenang saja, bersaing dengan White Class adalah hal yang mudah. White Class memang memiliki Jisung-ssi sebagai guru bahasa Inggris & Jung Il Woo-ssi sebagai guru sejarah musik. Tetapi mereka tidak punya guru vocal. Akulah guru vocal di Kirin ini dan jelas sekali aku berpihak pada kubu kalian. Kalian telah mendapatkan aku sebagai guru vocal dan Yoon Eun Hye-ssi sebagai guru tari. Dan jangan sampai lupa, Jin Man-ssi dulunya adalah guru bahasa inggris. Tidak apa kan jika untuk sementara ini kau kembali menjadi guru bahasa inggris?” tanya Jea seraya menoleh ke Jin Man.

“Tentu saja,” jawab Jin Man bersemangat.

“Bagaimana dengan guru sejarah musik untuk kita?” tanya Eunhyuk.

“Guru sejarah musik?” Jin Man mengelus dagunya.

Tiba-tiba saja pintu kelas terbuka, seorang yeoja berpenampilan glamor memasuki ruangan.

“Annyeonghaseyo, Jin Man-ssi…” ucap si yeoja seraya melambaikan tangannya ke arah Jin Man.

Jin Man terkejut melihat kehadiran seseorang yang dikenalnya sebagai…

“Narsha-ssi?”

“Hagsaeng perkenalkan…” Jin Man-ssi berdeham sebelum melanjutkan ucapannya. “Narsha. Dia adalah guru sejarah musik untuk kalian.”

Semua hagsaeng tercengang melihat seorang artis papan atas sedang berdiri di depan mereka saat ini.

“Annyeong,” ucap Narsha merasa bangga dengan respon para hagsaeng kepadanya.

“Daebak,” gumam para hagsaeng.

**

 Kang Chul baru selesai memberikan arahan kepada para murid White Class asuhannya. Tepat ketika dia keluar dari kelas, Narsha menyambutnya dengan wajah riang. Kang Chul nyaris jatuh di tempat saking shyoknya melihat kehadiran Narsha.

“Kau?!” Kang Chul menuding Narsha bagaikan bertemu dengan seorang penjahat. Tiba-tiba saja Kang Chul menarik lengan Narsha menuju ruangan kerjanya. “Kenapa kau ada disini?”

“Yaa! Sikapmu tidak berubah dari dulu,” erang Narsha mencoba melepaskan cengkeraman Kang Chul. “Selalu kasar terhadap yeoja.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan!” ucap Kang Chul dengan nada pelan. Sesekali dia menengok lewat kaca jendela ruangannya, mengecek siapa tahu ada yang menguping pembicaraan mereka. “Kenapa kau ada disini?”

“Mengajar,” jawab Narsha enteng, membuat Kang Chul tersedak oleh liurnya sendiri.

“Micheosseo?” tanya Kang Chul. “Sejak kapan aku menarikmu untuk mengajar di sekolahku ini?”

“Memang bukan kau yang menarikku. Apa kau lupa? Sekolah ini tidak hanya memiliki satu headmaster,” jawab Narsha seraya memainkan rambutnya yang ikal panjang.

Mendengar ucapan Narsha, tiba-tiba Kang Chul teringat akan Yang Jin Man, head master dari Black Class.

“Namja itu!” geram Kang Chul. Tangannya bergetar hebat saking kesalnya. “Tidak bosan-bosannya dia membuat ulah!”

“Yaa!” ucap Nasrha mencoba menyadarkan Kang Chul. “Kedatanganku kesini kau anggap sebuah ulah, heh? Dasar namja tua!” hina Narsha membuat Kang Chul terkejut.

“Mworago? Namja tua?” tanya Kang Chul seraya mendekatkan wajahnya pada Narsha. “Kalau aku namja tua, kenapa kau mau denganku?!”

Pertanyaan Kang Chul membuat Narsha tergagap sesaat.

“Jangan salahkan aku. Rayuanmu dulu benar-benar menggelikan jika aku mengingatnya kembali,” jawab Narsha tidak mau kalah. “Heran juga sih…kenapa aku bisa mau dengan namja tua sepertimu.”

Kang Chul tidak memperdulikan ucapan Narsha. Dan tepat pada saat itu Yang Jin Man masuk ke dalam.

“Yaa!” Kang Chul menarik kerah baju Jin Man seraya berkata, “Kenapa kau mengundang masuk yeoja ini tanpa seizinku?”

“K-kau dengarkan aku dulu, Kang Chul-ssi,” ucap Jin Man dengan wajah takut. “Aku punya alasan mendasar mengapa aku mengajak Narsha bergabung…”

Kang Chul melepaskan tangannya dari kerah baju Jin Man.

“Black Class kekurangan guru, itulah alasan dasar mengapa aku mengundang Narsha-ssi,” ucap Jin Man seraya merapikan kemejanya yang kusut akibat Kang Chul.

“Aku tahu,” ucap Kang Chul. “Tetapi aku tidak habis pikir mengapa kau mengajak yeoja ini?” tanya Kang Chul seraya menuding Narsha.

Narsha yang merasa tidak terima langsung menarik kerah baju Kang Chul. “Kenapa kau tidak sopan sekali, Kang Chul-ssi? Menuding orang seenaknya? Dan lagi, apa masalahmu jika aku berniat bergabung dengan sekolah ini?”

“T-tenanglah, Narsha-ssi,” ucap Jin Man mencoba meleraikan mereka berdua. “Aku berjanji, Kang Chul-ssi…selama Narsha disini, kau tidak akan berhubungan sedikitpun dengan dia.”

“Aku tidak mau tahu,” ucap Kang Chul. “Selama yeoja ini disini, satu langkah pun, jangan biarkan dia masuk ke ruanganku ini lagi. Kau, Narsha-ah, jangan pernah berbicara padaku. Anggap kita tidak pernah saling kenal. Dan berusaha jaga jarak denganku. Minimal lima meter menjauh dari tempat aku berdiri!” Usai mengucapkan hal itu Kang Chul pun pergi.

“Sombong sekali namja itu!” geram Narsha seraya meremas syal bulu yang sedang dikenakannya.

“Dia memang seperti itu,” ucap Jin Man berusaha menenangkannya. “Um…tetapi jika aku boleh tahu, apa hubunganmu dengan Kang Chul?”

“Dia mantan pacarku yang idiot!” jawab Narsha.

“MWO?!” Spontan nada suara Jin Man meninggi. Kedua matanya pun terbelalak hebat.

“Sudah kuduga semua orang yang mendengarnya pasti akan kaget. Mereka pasti akan berpikiran, kenapa yeoja semuda dan secantik aku mau-maunya berhubungan dengan namja tua idiot seperti Kang Chul,” ucap Narsha. “Padahal aku sangat suka dengan anaknya. Kenapa ayahnya bisa semenyebalkan itu…”

“Ah Lee Seul maksudmu, Narsha-ssi?” tanya Jin Man ingat akan mantan muridnya dulu.

Narsha mengangguk.

“Tidak penting membahas Kang Chul saat ini,” ucap Narsha seraya mengibaskan sebelah tangannya. “Yang paling penting saat ini adalah aku akan berpihak padamu sepenuhnya. Black Class yang menjadi lebih unggul dibanding dengan White Class asuhan si namja tua itu.”

Jin Man terharu bahagia melihat bagaimana pro-nya Narsha pada Black Class.

**

“Kumpulkan buku lirik kalian sekarang juga,” ucap Jea tepat ketika dia masuk ke dalam ruang Black Class. Spontan seluruh anak estafet mengumpulkan tugas mereka mulai dari belakang ke depan. Setelah semua buku terkumpul, Jea pun menulis sesuatu pada White Board di depan kelas.

“LOVE?” ucap Jaebum membaca tulisan Jea di White Board.

“Tepat sekali,” ucap Jea menyahuti Taeyong. “Mulai saat ini, apa yang kalian kerjakan, apa yang kalian pikirkan, hubungkanlah kegiatan kalian pada satu kata di depan kalian ini, LOVE. Tepat tanggal 14 Febuari nanti, Kirin akan mengadakan sebuah pertunjukan musik. Dan itu bukan hanya sekedar pertunjukkan musik biasa. Beberapa ahli musik, artis dan alumni Kirin terdahulu akan datang menjadi juri…”

“Juri?” tanya Chansung dengan alis bertaut.

“Ne, Chansung-ah,” jawab Jea disertai senyuman. “Beruntunglah kalian jika para juri itu melirik kalian untuk dijadikan maskot produk iklan terbaru mereka. Kalian tahu Fender Broadcaster Prototype? Atau ERIC CLAPTON’S GOLD LEAF STRATOCASTER? Atau mungkin Blackie-Stratocaster hybrid?”

Nonsense!” erang Eunhyuk dari meja paling belakang. “Apa mereka menjual semua gitar-gitar merek ternama itu?” tanya Eunhyuk antusias.

“Ne,” jawab Jea membuat seluruh kelas heboh. “Bayangkan jika kalian menjadi maskot produk gitar mahal tersebut.”

“Aku tidak sanggup membayangkannya,” gumam Jaebum excited.

“Selain itu, kalian akan mendapatkan kesempatan untuk tampil bersama dengan CN BLUE pada acara penghargaan Daejong ke 50 yang diselenggarakan oleh KBS World!” Ucapan Jea mengundang sorak sorai para hagsaeng. “Dan jelas untuk hal ini diperuntukkan bagi hagsaeng yang bisa bermain gitar. Jika pemenangnya nanti tidak dapat bermain gitar, dia tetap akan mendapatkan kesempatan untuk tampil di acara tersebut sebagai vokalis, menemani Seolhyun, Choa, Hyejeong dan Chanmi.”

“Aigo…” Joy memegang belakang kepalanya. Saking terkejutnya dengan hadiah-hadiah yang menggiurkan itu, belakang kepala Joy sampai sakit.

“Jadi…” Mata Jea berkeliling memandang para hagsaeng Black Class yang penuh semangat. “Berusaha menampilkan yang terbaik.”

“Pasti, Seonsaengnim!” ucap para hagsaeng serempak.

“Jangan pernah kalian membiarkan para hagsaeng White Class mengambil hadiah itu. Aku ataupun Jin Man-ssi berharap kalian dapat memenangkan hadiah besar itu. Tampil di layar televisi adalah tahap awal bagi kalian yang ingin menjadi bintang terkenal. Kau Jaebum dan Eunhyuk mendapat bagian double dancer. Pelajari semua jenis dance. Jo Kwon dan Joy, kalian berdua akan bernyanyi lagu ballad. Pilih lagu yang berunsurkan cinta. Chansung dan Eunhyuk, pelajari Hip Hop, lagu dan tariannya. Dan kau Jiyeon…”

Jiyeon menunggu bagian apa yang akan diberikan padanya…

“Buat sebuah lagu bertemakan cinta. Dan nyanyikan secara solo di depan panggung nanti. Bawa gitar kesayanganmu,” ucap Jea.

“S-solo?” tanya Jiyeon agak ragu.

“Waeyo? Kamu takut tampil solo?” tanya Jea.

“A-aniyo…”

“Kalau begitu lakukan apa yang kubilang tadi. Aku tidak menerima bantahan untuk saat ini,” ucap Jea seraya menyunggikan senyum.

Jiyeon pun membalas senyum Jea dengan senyum masam. Ne, dia takut tampil solo!

**

Jam istirahat tiba. Joy dengan tergesa-gesa keluar dari kelas dan tiba-tiba saja dia bertubrukan dengan seorang hagsaeng dari White Class yang tidak lain adalah Lay.

“Dimana matamu?” tanya Lay seraya membersihkan kemejanya yang tersentuh kepala Joy.

“Aish sombong sekali namja China ini,” gumam Joy mencibir.

Tiba-tiba saja Jo Kwon menghampiri Joy seraya berkata, “Joy-ah, aku serahkan pilihan lagu balladnya padamu.”

“Ne, aku akan pilih lagu yang enak didengar dan dinyanyikan,” jawab Joy.

“Jadi kalian akan berpartisipasi pada petunjukkan musik nanti?” tanya Lay. “Kau bisa apa yeoja Korea?” tanya Lay pada Joy.

“Bukan urusanmu, namja China pongah!” jawab Joy ketus seraya meninggalkan Lay bersama dengan Jo Kwon.

“Apa kau asli orang China?” tanya Jo Kwon seraya memandang penuh minat ke arah Lay.

“Jangan bicara padaku!” ucap Lay bergidik ngeri melihat tatapan Jo Kwon yang terkesan mesum.

Setelah melarikan diri dari Jo Kwon dan Lay, Joy bertemu dengan Jiyeon di kantin. Jiyeon sedang mencoba menghabiskan setumpuk roti daging plus milkshake dua kotak yang berada di depannya.

“Aigo…enak sekali kelihatannya,” cengir Joy seraya duduk di depan Jiyeon.

Jiyeon mengangguk disertai senyuman.

“Kau mau?” tanya Jiyeon seraya mendong piring makanannya ke arah Joy.

“Aniyo,” tolak Joy cepat. “Aku sedang diet. Sebelum pertunjukkan di gelar nanti, aku musti menurunkan tiga kilo dari berat badanku sekarang ini. Aku agak risih dengan perutku yang sedikit gembul ini.”

Mendengar ucapan Joy, Jiyeon langsung teringat akan tubuhnya sendiri yang memiliki lebih banyak gumpalan daging daripada tubuh ramping Joy.

“M-mianhae,” ucap Joy cepat-cepat. “Aku tidak bermaksud menyinggungmu.”

“Aniyo,” ucap Jiyeon seraya tersenyum. “Aku tidak merasa tersinggung. Hanya saja, aku jadi berpikir…di saat yeoja lain bekerja keras mempercantik diri, kenapa aku hanya bisa menghabiskan setiap piring yang dipenuhi tumpukan makanan?”

Joy jadi semakin tidak enak hati.

“Sebetulnya mengecilkan tubuh tidak sulit kok,” ucap Joy mencoba memberikan saran. “Apa kau sudah pernah coba sebelumnya?”

Jiyeon mengangguk dengan wajah putus asa. “Tetapi tidak pernah berhasil.”

“Kalau suatu saat kau berencana untuk mengecilkan tubuhmu, aku bersedia bantu,” ucap Joy tulus.

“Gomawoyo,” ucap Jiyeon senang.

Dan tiba-tiba saja Sehun muncul. Dia terkejut melihat tumpukan makanan di atas piring Jiyeon.

“Micheosseo?” tanya Sehun dengan pandangan tidak percaya. “Caramu makan seperti orang kalap saja.”

Jiyeon berusaha tidak mendengar ocehan pedas Sehun.

“Yaa!” tambah Sehun. “Seharusnya kau malu masuk ke sekolah ini. Kirin di penuhi dengan hagsaeng yeoja yang memiliki tubuh seramping sumpit. Kenapa ada satu bantal gempal nyasar ke sekolah ini?”

“Keumanhe,” ucap Joy yang ikut terbawa emosi.

“Nugu?” tanya Sehun beralih ke Joy.

“Tidak penting siapa aku. Ucapanmu itu merusak telingaku, tahu!” ucap Joy. “Bagaimana pun jeleknya penampilan seseorang, seharusnya kau tidak perlu berkata kasar seperti itu.”

“Jangan mencoba menceramahiku seperti seorang Ahjumma!” ucap Sehun.

“Kenapa kau selalu menggangguku?” tanya Jiyeon.

“Mengganggumu? Bukankah kau yang menggangguku?” tanya Sehun balik. “Akibat tubuh gendutmu, perut jadi sakit.”

“Kau masih mempermasalahkan soal itu?” tanya Jiyeon tidak habis pikir.

“Kau pikir hanya dengan maaf, urusanmu denganku bisa selesai begitu saja?” tanya Sehun tidak mau kalah.

“Apapun jenis masalah yang telah terjadi diantara kalian, bisakah kau menunjukkan sopan santun sedikit saja pada Jiyeon?” tanya Joy semakin sebal dengan sikap pongah Sehun. “Kau dan namja China itu ternyata memiliki sikap yang sama. Sama-sama menyebalkan!”

“Sudahlah, Joy-ah,” ucap Jiyeon seraya bangkit dari kursinya. “Mau temani aku ke asrama sebentar?” tanya Jiyeon pada Joy.

Joy mengangguk.

Dan tepat ketika Jiyeon melewati Sehun, Jiyeon sengaja mendorong nampan makanannya ke arah perut Sehun.

“Yaa! Yeoja gendut!” geram Sehun sambil meringis kesakitan.

Dan pada saat itu Jaebum datang menghampiri Sehun.

“W-wae irae?” tanya Jaebum.

“Diam kau, pabbo!” erang Sehun.

**

Tepat jam sekolah berakhir, semua hagsaeng kembali ke asramanya masing-masing. Hanya saja berbeda dengan Jiyeon. Dia memutuskan untuk keluar sekolah untuk mengamen. Kebiasaannya ini ternyata sudah mendarah daging. Dia merasa ada yang kurang jika tidak mengamen. Gitar sudah tersampir di belakang pungguhnya yang tebal. Dan kaki membawanya ke taman tempat biasa dia mengamen.

Lagi-lagi penghasilannya hari ini tidak sebanyak yang lalu-lalu. Hanya saja kali ini Jiyeon tidak mengeluh dengan penghasilannya yang sedikit. Untuk urusan tempat tinggal dan makan dia tidak perlu khawatir. Jadi sedikitnya uang ngamen yang dia hasilkan tidak berpengaruh banyak.

Usai mengamen Jiyeon mendesah lalu bergumam, “Eomma…sekarang aku sudah tinggal di tempat lain. Kau tahu Kirin Art High School? Ne, aku bersekolah disana. Akan makan, minum dan tinggal secara gratis di sana. Bagaimana dengan kabarmu, Eomma? Apakah keadaanmu sebaik aku saat ini? Kuharap begitu. Bagaimana pun menyebalkannya dirimu, aku selalu menantikan kedatanganmu di hadapanku, Eomma.”

Usai berbicara sendirian, Jiyeon pun melangkahkan kakinya menuju Kirin. Hanya saja, tepat ketika dia beranjak berdiri, seorang namja lewat di depannya. Gantungan kunci pada tas punggung namja itu tersangkut pada senar gitar Jiyeon. Namja itu berlari sangat cepat, otomatis membuat Jiyeon ikut berlari.

“Y-yaa!” teriak Jiyeon. “Berhenti…berhenti…”

Si namja terus saja berlari, membuat Jiyeon kelelahan mengikutinya.

“Diam kau!” ucap si namja yang tidak lain adalah Oh Sehun.

“K-kau?!” tuding Jiyeon dengan wajah terkejut.

“Wae?” tanya Sehun sinis.

“I, igeo. S, senar gitarku.” Jiyeon menunjukkan senar gitarnya yang tersangkut gantungan kunci tas milik Sehun.

Sehun melirik ke belakang, melihat ke arah yang ditunjuk oleh Jiyeon. “Ish! Dasar pengganggu!” Dia merubah posisi tasnya di depan dada lalu melepas senar gitar Jiyeon. Sedangkan Jiyeon? Dia hanya menatap polos ke arah senar itu.

“Hidupku menjadi kacau jika kau selalu ada di sekitarku. Tak bisakah kau menjauh dariku sebentar saja? Di mana-mana kau selalu muncul di depanku.” Sehun menenteng lagi tasnya itu di atas bahunya lalu beranjak pergi.

**

Jreeeng!

Jreeeeng!! Suara gitar yang dimainkan Jiyeon tanpa melodi membuat Joy terbangun dari tidurnya.

“Jiyeon-a, bisakah kau bermain gitar di tempat lain? Aku ingin tidur. Berjam-jam yang lalu aku latihan Tap Dance. Jadi, aku sangat lelah sekarang ini. Tolong mengertilah…” keluh Joy yang menutup kedua telinganya menggunakan bantal berwarna hijau.

Mendengar ucapan Joy malah membuat Jiyeon sedikit bersemangat. “Joy-a, aku akan keluar dari kamar dna bermain gitar di depan kamar. Tapi, kau harus jawab pertanyaanku dulu.” Jiyeon menatap punggung Joy yang sedang tidur dengan posisi memiringkan badannya.

“Mwoya?” tanya Joy lirih dengan lesu.

“Joy-a, kenapa kau baik dan mau berteman denganku?” tanya Jiyeon polos sambil memeluk gitarnya erat.

Joy membuka bantal yang menutupi kedua telinganya. “Hmmm… mungkin karena aku merasa nasib kita sama.”

Ekspresi wajah Jiyeon lesu. “Oh, jadi begitu ya?”

“Anhi. Bukan hanya itu.”

Jiyeon memasang puppy eyes-nya pada Joy. “Apa lagi?”

“Karena kau unik,” jawab Joy singkat.

‘A, apa maksudmu? Apa…” Jiyeon melihat tubuh bulatnya dengan ekspresi sedih.

“Yaak, kau jangan berpikiran seperti itu. Bukan karena kau gendut. Tetapi karena kau punya bakat tersembunyi.” Joy tersenyum pada Jiyeon. “Oh ya, apa kau tidak ingin menurunkan berat badanmu? Aku punya beberapa cara untuk menurunkan berat badan. Kau mau?”

Jiyeon mengerutkan dahinya.

“Kau mau atau tidak?” tanya Joy lagi. “Kali ini kau pasti berhasil. Aku yakin. Ya, asalkan kau menuruti saranku. Eotte?”

Jiyeon tersenyum senang. Dia bangkit berdiri lalu menghampiri ranjang Joy. “Ne, aku mau,” jawab Jiyeon dengan anggukan mantabnya.

Joy juga tersenyum. “Baiklah, aku akan menulis resep untukmu, Park Jiyeon-ssi.” Dia mengambil sebuah pena dan selembar kertas dari atas nakas di samping ranjangnya lalu menuliskan beberapa kalimat di atas kertas itu.

**

Keesokan harinya, hagsaeng Black Class duduk manis di atas bangku mereka masing-masing. Sudah lebih dari satu jam mereka hanya duduk-duduk tanpa kegiatan apapun. Padahal hagsaeng di White Class sedang diajarkan menentukan nada dasar sebuah lagu. Mereka diajar oleh Xiah Junsu yang terkenal sebagai pencipta lagu terpopuler.

“Apa yang kalian lakukan?” Tiba-tiba saja Jin Man datang dengan membawa sebuah buku besar.

Tak ada seorang hagsaeng pun yang menjawab pertanyaannya.

“Saem, menurutmu apa yang dapat kami lakukan tanpa seorang guru?” Jaebum malah balik tanya.

Jin Man tampak sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan Jaebum itu.

“Saem, White Class sedang diajarkan tentang notasi. Lalu bagaimana dengan kami?” tambah Taeyong.

Pertanyaan yang lainnya pun terlontar begitu saja dari 8 orang hagsaeng yang berekspresi melas.

Jin Man menarik nafas panjang. Ia memegang keningnya dan duduk di kursi guru. “Untuk hal itu, ah, mianhae. Aku belum menemukan guru yang tepat untuk kalian.” Wajah Jin Man menunjukkan kekecewaan dan beban berat yang dipikulnya.

“Saem!” seru Taeyong yang tiba-tiba bangkit dari duduknya. Tentu saja suaranya yang keras itu mengagetkan Jin Man dan hagsaeng lainnya.

“Yaak, Lee Taeyong, kau ingin membunuh kami, eoh?” ketus Joy yang kaget setengah mati akibat ulah Taeyong.

Taeyong melirik ke arah Joy lalu nyengir. “Ah, mianhae. Aku tidak bermaksud untuk mengagetkan kalian. Hanya saja…”

“Mwo?” tanya Lay dengan cuek.

“Aku ada ide untuk mengatasi hal ini.” Taeyong tampak sumringah.

“MWO?” seru semua hagsaeng Black Class. Sedangkan Taeyong tersenyum semanis mungkin.

To Be Continue

Advertisements

29 thoughts on “Dream High 3 [Chapter 4]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s