DREAM HIGH 3 [Chap 3]

DREAM HIGH 3

INTRO+CHAP 1 | CHAP 2

Cast:

Jiyeon, Sehun, Krystal, Taeyong, Joy, Lay

Genre

AU, Drama, Friendship, Romance, School Life

Length:

Multichapter

Rating:

PG-13

Story in this chapter isn’t mine but Kak Ica‘s own.

Cover belong to me.

Sorry for typos, leave your comment after read it!

happy reading

*****

Dream High 3

Perjuangan meraih mimpi menjadi seorang bintang terkenal.

Semua para peserta audisi dikumpulkan di dalam satu aula besar. Ketegangan sangat terasa di dalam aula ini. Itulah yang dirasakan Jiyeon saat ini. Bagaimana tidak? Rata-rata yang mengikuti audisi disini berpenampilan sangat mengesankan. Mereka cantik dan tampan, modis dan high class. Hal ini membuat Jiyeon jadi kehilangan rasa percaya diri.

Tiba-tiba perhatian Jiyeon tersita pada sebuah tayangan yang menyala di sebuah tv plasma besar.

Annyeonghaseyo, saya Yang Jin Man selaku dari Head Master Kirin High School tahun ajaran 2015 ini menyatakan bahwa audisi telah dibuka. Dan seperti yang kalian tahu, audisi kali ini terasa berbeda karena adanya sebuah perubahan kecil. Kirin telah membuka sebuah audisi terbuka, bagi siapa saja dan dari kalangan apa saja.

Sebelum audisi hari ini benar-benar dimulai, saksikan kilas balik kesuksesan Kirin High Art School selama berkiprah di dunia seni beberapa tahun belakangan ini.

Gamsahamnida.

“Siapa dia?” tanya Taeyong seraya menunjuk tv plasma.

“Yang Jin Man, Head Master Kirin. Apa tadi kau tidak mendengarnya?” tanya Sehun.

“Yaa! Aku tahu itu. Maksudku, aku tidak pernah melihat dia sebelumnya. Bukankah Head Master Kirin adalah Kang Chul?” tanya Taeyong berusaha mengingat-ingat.

“Sudah tidak lagi,” jawab Sehun. “Aku heran kenapa Kang Chul-ssi memberikan jabatan berharganya kepada orang ini. Apa orang ini bisa bekerja sebaik Kang Chul-ssi? Aku benar-benar tidak yakin.”

KIRIN ART HIGH SCHOOL

Telah melahirkan beberapa bintang ternama :

GO HYE MI

SONG SAM DONG

JIN GUK

YOON BAEK HEE

KIM PIL SUK

 JASON

SHIN HAE-SUNG

JIN YOO JIN

LIAN

JB

NANA

SI-WOO

AILEE

WHO’S NEXT?!!!!!

“Tentu saja aku,” gumam Krystal yang sedang memoles kukunya seraya duduk di pojok ruangan. Lagaknya tetap pongah dan kelakuannya itu membuat orang-orang di sekitarnya jengah.

“Jung Krystal?” Sebuah suara menyapa Krystal.

Krystal melirik dan mendapati Jiyeon sedang tersenyum padanya.

“Nugu?” tanya Krystal acuh.

“Perkenalkan…” Jiyeon buru-buru mengusap tangannya pada bajunya. “Jiyeon-imnida.”

Lagi-lagi Krystal hanya melihat uluran tangan yang teracung padanya.

“Mianhae, aku sedang manicure,” ucap Krystal tanpa memperdulikan Jiyeon.

“Kau benar-benar berkharisma,” ucap Jiyeon.

Krystal tersenyum bangga seraya menjawab, “Tentu saja. Aku adalah seorang artis, artis yang berkharisma.”

“Tetapi…kalau kau artis, kenapa kau ada disini?” tanya Jiyeon dengan tampang bodoh. “Bukankah seharusnya kau sedang sibuk tampil di televisi?” Jiyeon yang belakangan ini tidak mengikuti acara berita/gosip di televisi, tanpa rasa berdosa melontarkan pertanyaan jenis itu kepada Krystal.

Otomatis wajah Krystal langsung berubah kesal.

“Aku akan ikut audisi Kirin,” jawab Krystal setelah menghembuskan nafas berat.

“K-kau ikut a-audisi?” tanya Jiyeon terbelalak.

“Wae? Apa aku tidak boleh mengikuti audisi ini? Siapa yang berhak melarangku…”

“Aniyo…aniyo…” sela Jiyeon mencoba menenangkan. “Bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa aneh menyadari bahwa di zaman sekarang masih ada artis rendah hati sepertimu. Di saat kariermu sedang melambung tinggi, kau masih mau mengikuti audisi seperti ini. Kau pasti sering berbaur dengan kalangan bawah…”

“Chankamman!” Krystal mengangkat telunjuk jarinya. “Aku mengikuti audisi Kirin ini bukan berniat untuk berbaur dengan kalangan bawah. Tolong digarisbawahi. Aku mengikuti audisi ini karena aku ingin mengikutinya. Tidak ada alasan lain!”

“N-ne,” jawab Jiyeon.

Tiba-tiba terdengar suara pengumuman bahwa peserta audisi nomor satu dipersilahkan masuk ke dalam ruangan lain yang lebih kecil. Ketegangan semakin merajai diri Jiyeon. Terlebih lagi saat peserta audisi nomor lima telah dipanggil, itu artinya sebentar lagi giliran Jiyeon yang mendapat nomor audisi enam.

Seorang yeoja imut masuk ke dalam ruangan khusus audisi.

“Park Sooyoung,” ucap Jea, salah satu guru yang menjadi juri audisi. “Menurut data yang kami terima, sebelumnya kamu pernah tinggal di Perancis. Benarkah?”

“Ne, saya dan kedua orang tua saya meninggalkan Korea sejak umur saya lima tahun. Menetap di Perancis sampai saat ini dan baru beberapa hari ini saya meninggalkan Perancis dan pergi ke sini untuk mengikuti audisi Kirin,” jelas Joy.

Interesting,” sahut seorang namja bernama Jisung. Dia adalah guru Bahasa Inggris di Kirin Art High School. “Lalu apa yang menjadi minatmu? Menyanyi? Menari?”

“Saya bisa bernyanyi sambil menari,” jawab Joy.

“Waw.” Jisung terlihat sumringah. “Bisa dibuktikan sekarang?”

“Ne,” jawab Joy seraya mengambil posisi pada microphone di hadapannya. Tanpa diiringi musik, Joy menyanyikan lagu berjudul I’ll Wait For You yang pernah dipopulerkan oleh Seohyun SNSD (baca : Ost Fashion King Drama Th 2012)

Usai bernyanyi, Joy membungkukkan tubuhnya kepada lima juri di depannya.

“Kau bilang, kau bisa bernyanyi sambil menari. Tetapi menurut yang saya lihat tadi, kau sama sekali tidak menggerakkan satu jari pun. Dan kalau kau perlu tahu, sebetulnya kau salah memilih lagu,” ucap Jung Il Woo, guru saxophone dan piano.

“Daebak!” ucap Jisung tidak memperdulikan ucapan Jung Il Woo. “Suaramu benar-benar merdu. Aku suka. Aku ingin dia masuk…”

“Kau tidak bisa seenaknya memutuskan seperti itu,” ucap Jung Il Woo seraya menoleh pada Jisung yang duduk setelah Yoon.

“Apa aku salah jika aku memutuskan seperti itu? Tidak ada yang salah pada anak ini. Dia memiliki suara yang bagus. Tidak jadi masalah dia bisa menari atau tidak…”

“Dia mengatakan bahwa dia bisa bernyanyi sambil menari! Dan aku tidak suka pada orang yang banyak membual dan tidak bisa membuktikan kebenaran atas ucapannya. Kita perlu bukti!” Jung Il Woo tetap ngotot pada keputusannya.

“Kau benar-benar namja kolot!” ucap Jisung kesal. “Paling tidak dia memiliki satu bakat yang….”

“Araseo,” ucap Joy menyela.

Dan detik berikutnya yang terjadi adalah sebuah alunan musik (instrumen lagu I’ll Wait For You) mengalun indah bersamaan dengan lekukan tubuh indah Joy. Ujung-ujung jari kaki Joy memutar pada satu titik di lantai audisi. Dia menunjukkan bakat baletnya pada seluruh juri di depannya saat ini.

Usai mempertunjukkan bakat keduanya, lagi-lagi Joy membungkuk kepada enam juri. Semua juri terperangah melihat aksi Joy.

Done!” Jung Il Woo bersuara. “Hanya itu yang aku inginkan. Kau sudah menunjukkannya. Bagaimana dengan keputusan Jin Man-ssi?” tanya Jung Il Soo pada Head Master Kirin.

“Aku tidak bisa membuang bakat berharga seperti ini,” ucap Jin Man seraya tersenyum pada Joy. “Kau diterima!”

**

Lay berhasil kabur dari kejaran namja kekar yang berhasil menemukannya. Dia berusaha mengambil nafas banyak-banyak. Di depannya kini terpampang gedung tinggi Kirin Art High School.

“Jadi ini sekolah bergengsi di brosur itu?” desah Lay seraya mengusap keringatnya yang bercucuran.

Tiba-tiba matanya menangkap sosok seorang yeoja yang dikenalnya. Yeoja itu sedang melompat kegirangan sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah kertas gold.

Lay menghampiri yeoja itu lalu mengambil kertas yang melambai-lambai di udara.

“K-kau diterima?” tanya Lay tidak percaya.

“Yaa! Kenapa kau ada disini?” tanya Joy dengan wajah terkejut. “Kembalikan kertasku!” Joy merebut kembali kertas miliknya.

“Kau diterima, heh? Apa yang tunjukkan di depan para juri itu? Mengomel?” tanya Lay meremehkan.

“Yaa!” Joy menggigit bibir bawahnya saking kesalnya pada ucapan Lay. “Aku mempunyai bakat dan bakatku ini mampu mempesona para juri di dalam. Ini buktinya!” Joy menggoyang-goyangkan kertas miliknya di depan wajah Lay. “Lalu kau sendiri ngapain di sini?”

“Aku mau ikut audisi,” jawab Lay singkat.

“M-mwo?” tanya Joy terkejut untuk kedua kalinya. “M-michesseo? Memangnya kau bisa apa namja China?”

“Bukan urusanmu,” jawab Lay acuh. “Kalau begitu, sampai bertemu di kelas Kirin nanti.” Dan dengan percaya dirinya Lay masuk ke dalam.

“Namja menyebalkan!” geram Joy.

**

Jiyeon masuk ke dalam ruang audisi dengan kaki gemetar. Jiyeon sempat melihat pandangan mengejek dari dua juri namja di depannya.

“Lee Jiyeon,” ucap Yoon dengan senyum hangat.

“A-annyeonghaseyo,” ucap Jiyeon.

“Apa kau sedang memakai kostum?” tanya Jisung dengan nada merendahkan.

“N-ne?” tanya Jiyeon.

“Jaga ucapanmu,” ucap Yang Jin Man.

“Aniyo, hanya saja aku ingat bahwa beberapa tahun yang lalu, murid berbakat kita yang bernama Kim Pil Suk memakai kostum saat audisi. Aku pikir, dia adalah generasi penerus Kim Pil Suk. Apa kau berencana untuk mencari Jason-mu disini?”

“J-Jason?” tanya Jiyeon tidak mengerti.

“Jisung-ssi, cukup,” ucap Yoon.

“Kalau kau berencana mencari cinta sejati disini, maaf saja, kami tidak dapat memberimu kesempatan untuk audisi. Tidak ada Jason-Jason lain di sini.” Jisung terus saja bicara tanpa memperdulikan ucapan rekan kerjanya.

“Mianhae,” ucap Jiyeon kehilangan semangat. “Saya datang ke sini bukan untuk mencari jodoh. Saya datang ke sini karena saya ingin menuntut ilmu di sini. Saya ingin mengasah bakat saya. Saya ingin…”

“Memangnya kau bisa apa?” sela Jisung.

“Saya bisa bernyanyi,” jawab Jiyeon.

“Kalau begitu kau bisa melakukannya sekarang,” sela Jea dengan senyum yang tidak kalah hangatnya dengan senyuman Yoon.

“Ne,” jawab Jiyeon.

Jiyeon lalu duduk di sebuah kursi tinggi. Gitar sudah standbye di depan perut buncitnya. Microfon sudah menyala dan Jiyeon mulai bernyanyi…

Haru Haru

(ost Dream High 2)

oredwen nan kkumi issotjyo

onjengganeun mannal su isseulkka

hajiman neuronjena gateun goseso

jasinomneun nunmulmani neboreul joksijyo

haru haru jinagamyon

baramgyore gireurireun

naye kkumdeuri sarajyogal kkabwa

orejon ne ilgisoge

yaksokhessotdon gotchorom

haru haru jichiji ankil bare

oneuldo nan kkumeul boatjyo

geu aneso utgo isseul nal bojyo

onjenggan kkok mannal goran naye somangi

irwojineun geunareul nan gidaril goyeyo

haru haru jinagamyon

baramgyore gireurireun

naye kkumdeuri sarajyogal kkabwa

orejon ne ilgisoge

yaksokhessotdon gotchorom

haru haru jichiji ankil bare

manido heundeullyossotgo

urobogido hessotjiman

haru haru jinagamyon

baramgyore sillyo-oneun

naye kkumdeuri nareul cheugo

orejon ne ilgi soge

yaksokhessotdon gotchorom

haru haru jichiji ankil bare

haru haru jichiji ankil bare

Tiba-tiba air mata Jiyeon menetes dan jatuh dipipinya. Suaranya jadi tidak stabil, membuat penampilannya buruk. Dia menghentikan petikan gitarnya seraya membungkuk.

“Mianhae,” ucap Jiyeon dengan suara serak.

Kelima juri terlihat sangat kecewa dengan penampilan Jiyeon, terutama Yoon. Aura kebingungan lebih mendominasi wajah Yoon.

“Mianhae,” ucap Jiyeon sekali lagi.

**

Taeyong keluar dari ruang audisi dengan berurai air mata.

“W-wae?” tanya Sehun.

Taeyong langsung memeluk Sehun dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Sehun.

“Yaa! Kenapa kau menangis? Bagaimana hasil audisinya?” tanya Sehun seraya menggoyang-goyangkan lengan berotot Taeyong.

“A-aku….” isak Taeyong. “Aku gagal! HUAAAAAAA!” Tangis Taeyong semakin menjadi. Dalam beberapa saat mereka berdua menjadi pusat perhatian.

“Wae? Kenapa bisa gagal?” tanya Sehun bingung.

“Aku tidak tahu. Padahal aku sudah menampilkan bakatku sebaik mungkin,” isak Taeyong.

“Chankamman,” ucap Sehun seraya meninggalkan Taeyong dan masuk ke dalam ruang audisi.

“Nuguseyo? Apa kau peserta nomor selanjutnya?” tanya Jae saat melihat kedatangan Sehun.

“Kau tahu? Kita belum memanggil peserta selanjutnya. Kenapa kau masuk dengan lancang?” tanya Jisung kesal.

“Berhenti bicara!” ucap Sehun dengan tajam. Sontak kelima juri kaget akan sikap Sehun. “Kalian tahu? Kalian baru saja menolak temanku, Lee Taeyong.”

“Ah…jadi karena dia kau jadi bersikap tidak sopan seperti ini kepada kami?” sela Jisung.

“Ne,” jawab Sehun. “Apa kalian tidak bisa melihat bakat yang dimiliki Taeyong, heh? Kenapa kalian seenaknya saja mengdiskualifikasi dia?”

“Tenanglah,” ucap Jea. “Kau dengar dulu penjelasan dari kami. Tentu saja kami punya alasan konkrit yang menjadi dasar atas penolakan kami terhadap Lee Taeyong.”

“Tchah,” hina Sehun. “Apa kalian semua ini sudah cukup berbakat sehingga dengan seenaknya dapat menolak seseorang?!”

“Sikapmu sudah benar-benar keterlaluan!” potong Yang Jin Man. “Kau pasti Oh Sehun, peserta audisi rekomendasikan Kang Chul-ssi.”

“Aku tidak berniat ikut audisi ini. Aku ke sini untuk mengantar teman, Taeyong. Dan kalian tahu? Kalian sudah memusnahkan impiannya untuk menjadi seorang bintang terkenal!” ucap Sehun menggebu.

“Daripada kau mengomel tidak jelas begitu, lebih baik tunjukkan bakatmu sekarang,” ucap Jung Il Woo tiba-tiba.

“Bagaimana bisa kau mengizinkan orang asing yang sudah membentak kita mengikuti audisi?” ucap Jisung tidak terima.

“Keumanhe!” ucap Jung Il Woo sudah kehabisan kesabaran atas tingkah kolega kerjanya satu itu. “Tunjukkan bakatmu sekarang,” tambah Jung Il Soo pada Sehun.

“Mwo? Apa kalian tidak mengerti maksud ucapanku?” tanya Sehun kesal.

“Berhenti mengomel dan beraksilah,” ucap Jung Il Woo.

Karena terus didesak, mau tak mau Sehun menunjukkan bakat miliknya. Sehun me-rap sebuah lagu milik Justin Timberlake plus tarian Hip Hop andalannya.

Usai beraksi, Sehun mendapat tepukan penuh dari Jung Il Woo.

“Lebih berguna daripada mendengar omelanmu. Yang Jin Man-ssi, bisakah kita memasukkan anak ini?” tanya Jung Il Woo pada Jin Man.

“M-mwo?” tanya Jin Man agak lemot. “N-ne, tentu saja. Aku juga suka gaya menari dan rapnya. Sungguh fantastic.”

“Kau dengar? Kau di terima,” ucap Jung Il Woo santai. “PESERTA SELANJUTNYA!”

“Yaa…yaa! Kenapa dengan kalian ini? Aku sudah bilang bahwa aku tidak ingin ikut audisi!” ucap Sehun tetap ngotot. “Aku…berdiri di sini…saat ini…untuk membela temanku!”

“Waktumu sudah habis, sobat,” ucap Jung Il Woo. “Keluarlah.”

“Kalian pikir kalian dapat mengeluarkanku, heh? Kalian harus tahu! Aku tidak ingin masuk ke sekolah ini! Aku ingin kalian menerima Taeyong sebagai murid di sekolah ini!”

“Yaa! Yaa!” sela Jea jengah. “Araseo…suruh Taeyong kembali besok untuk mengikuti audisi ulang. Tetapi ingat, penilaian kami tidak akan berubah jika dia tidak berusaha menampilkan yang lebih baik dari hari ini.”

“Dan untuk kau!” ucap Jung Il Woo. “Kami akan memperhitungkan masuk atau tidaknya Taeyong, jika kau menerima tawaran kami untuk masuk ke sekolah ini.”

**

MURID RESMI KIRIN ART HIGH SCHOOL TH 2015

[Joy][Jo Kwon][Luna][Seulong][Krystal][G-Dragon][Victoria]

[Taeyang][Soyu][Eunhyuk][Bora][Kim Myeong Soo][Minzy]

[Chansung][Amber][Yoseob] [Lizzy][Taemin][Soyeon]

[Lay][Taeyong][Sehun]

“Kau bisa lihat, dari hasil audisi terbuka yang kau laksanakan, kau hanya mendapat beberapa murid. Dan kau bisa lihat macam murid seperti apa yang aku dapatkan. Semuanya memiliki bakat high class.”

“Kang Chul-ssi, aku telah bekerja keras hari ini. Bisakah sedikit saja kau menghargainya?” desah Jin Man kesal.

“Joy, Luna, Seulong, Krystal, G-Dragon, Victoria, Taeyang, Soyu, Bora, Minzy, Amber, Lizzy, Taemin, Soyeon, Lay, Taeyong dan Sehun adalah murid milikku,” ucap Kang Chul.

“Yaa! Apaa kau tidak salah bicara? Sehun adalah milikku. Aku yang mengaudisinya,” ucap Jin Man tidak terima.

“Kau lupa? Bahwa karena akulah, kau bisa bertemu dengan Sehun,” ucap Kang Chul.

“Araseo…terserah kau saja,” ucap Jin Man menyerah karena sudah terlalu lelah.

“Kau harus ingat bahwa kau mempunyai satu janji padaku. Paling sedikitnya dalam setahun ini kau harus menciptakan enam calon bintang yang nantinya akan diadu dengan bintang2 milikku. Jika bintang-bintangmu menang, aku akan menyerahkan sepenuhnya sekolah ini, beserta jabatanku, kepadamu.”

“J-jinjja?” Jin Man terkejut.

“Tetapi jika kau gagal, kau sudah tahun konsekuensinya?” tanya Kang Chul-ssi.

”A-araseo,” jwab Jin Man dengan nada malas.

“Kalau begitu, tahun ajaran baru akan segera di mulai. Jea-ssi…”

“Ne?” ucap Jea.

“Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan?” tanya Kang Chul.

“Ne,” jawab Jea.

**

“Pabboya!” Jiyeon mengutuk dirinya sendiri. Dia memukuli kepalanya dengan wajah merana. Dia memanggul gitarnya sepanjang dia berjalan pulang. Dia bingung mau pulang kemana. Dia tidak mungkin kembali ke apartemen Yoon. Harapan satu-satunya adalah dia lolos dalam audisi Kirin. Jika dia lolos, banyak sekali keuntungan yang dia dapat, beberapa diantaranya dia akan mendapat tempat tinggal di asrama dan kemampuan bernyanyinya dapat diasah lebih baik lagi.

“Yaa! Kau mau pergi kemana?” Jiyeon mendengar sebuah suara dari arah belakang.

Jiyeon menoleh dan mendapati Yoon sedang terengah-engah karena mencoba mengejarnya.

“Yaa! Kau mau pergi kemana?” tanya Yoon sekali lagi.

“A-aku…” Jiyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “A-ak tidak tahu mau pergi kemana.”

“Kenapa kau tidak menungguku, heh? Paling tidak kita bisa pulang bersama. Aku berencana ingin mengajakmu makan sate tusuk dan minum beberapa gelas soju.”

“Kau baik sekali,” ucap Jiyeon dengan raut wajah sedih. “Tetapi, mianhae…aku tidak bisa menerima kebaikanmu lebih banyak lagi.”

“Mwo?” Yoon terbelalak. “Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Aku sudah mengecewakanmu,” jawab Jiyeon. “Aku gagal…”

“Jiyeon-ah,” desah Yoon. “Kita bicarakan hal itu sambil minum soju, bagaimana?”

**

“Mwo?” Yoon terbelalak mendengar alasan Jiyeon. “Jadi kau membayangkan Eomma-mu saat bernyanyi tadi? Hal itu yang membuat suaramu jadi berantakan?”

“Mianhae,” desah Jiyeon menyesal.

Tiba-tiba Yoon tertawa. “M-mianhae…aku tidak bisa menahan tawaku ini.”

Jiyeon menggelembungkan pipinya.

“Mianhae, Jiyeon-ah,” ucap Yoon sekali lagi. “Kau benar-benar lucu karena susah sekali ditebak.”

Jiyeon mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud ucapan Yoon.

“Araseo,” ucap Yoon setelah meneguk segelas kecil soju. “Kau bisa tinggal di apartemenku selama kau mau. Aku akan berusaha untuk memasukkanmu ke dalam Kirin, apapun caranya. Kau hanya perlu berdoa.”

“J-jinjja?” Wajah Jiyeon langsung berubah sumringah.

“Ne,” jawab Yoon. “Konbae?” Yoon mengacungkan segelas kecil soju ke atas.

“Konbae!!!” ucap Jiyeon seraya bersulang.

 **

 Seorang yeoja paruh baya sedang berbicara pada ponsel di telinga kanannya. Wajahnya terlihat sangat serius.

“Gamsahamnida, Kang Chul-ssi, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi kepada anak itu,” desah yeoja paruh baya yang bernama Direktur Oh. “Ne…aku tahu bahwa kau adalah orang yang dapat menolongku.” Direktur Oh mematikan ponselnya seraya mendesah. “Sehun-ah…Eomma akan jauh lebih tenang jika kau tinggal di bawah pengawasan Kang Chul-ssi.”

**

“Jin Man-ssi, tidak bisakah kau memberikan satu kesempatan lagi kepada Jiyeon?” tanya Yoon pada Yang Jin Man.

“Yoon-ssi, aku akan dengan senang hati memberikan kesempatan kedua pada Jiyeon, tetapi apa kau lupa? Audisi sudah ditutup…” jawab Jin Man.

“Kau memberikan audisi kedua kepada Taeyong, kenapa kau tidak bisa mengusahakan hal itu untuk Jiyeon?” tanya Yoon tetap bersikeukeh.

“Kau tahu? Kang Chul-ssi ingin anak yang bernama Sehun masuk ke sini. Dan sepertinya Sehun tidak mau susah2 menuntut ilmu disini jika dia tidak bersama dengan teman dekatnya, Taeyong,” jawab Jin Man.

“Kau tidak akan menyesal, Jin Man-ssi,” ucap Yoon tetap memaksa. “Jiyeon mempunyai bakat yang luar biasa. Menurutku, sayang sekali jika kita tidak menarik dia kesini. Kau harus ingat, Jin Man-ssi. Murid-murid pilihan Kang Chul memiliki bakat2 luar biasa. Bukankah kau sedang ditantang olehnya? Alangkah baiknya jika mau memilih jenis murid seperti Jiyeon untuk kau didik agar kelak dia dapat menjadi bintang terkenal.”

Jin Man mengurut keningnya. Dia terlihat sedang berpikir keras.

“Araseo, aku akan mengusahakannya,” ucap Jin Man. “Kau siapkan saja rekaman video Jiyeon. Aku akan memberikan video tersebut kepada Kang Chul. Siapa tahu dia berubah pikiran,” ucap Jin Man.

“J-jinjja?” Wajah Yoon berubah sumringah. “Gumawoyo, Jin Man-ssi!!!!” pekik Yoon seraya memeluk Jin Man. Jin Man terkejut sehingga tidak dapat berkata apa-apa. “Aku yakin aku tidak salah pilih orang. Jiyeon adalah salah satu yang terbaik.”

Yoon pun pergi meninggalkan Jin Man yang kini sedang mengelus dadanya.

“Micchigeutta…” desah Jin Man seraya menghembuskan nafas berat.

**

 Seluruh murid-murid Kirin baru berkumpul di aula besar. Jea yang memimpin mereka semua.

“Selamat datang di Kirin Art High School,” ucap Jea sambil tersenyum ramah. “Kalian semua adalah yang paling baik dari yang terbaik. Kalian disaring dari ratusan orang yang mendaftar di sekolah seni ini. Ini adalah kesempatan bagi kalian untuk mengembangkan bakat kalian semaksimal mungkin. Jangan sia2kan kesempatan ini…” Jea terus saja berbicara.

Lay yang mulai bosan, mengeluarkan i-pod dari saku kemeja sekolahnya. Earphone tercantol di kedua telinganya. Jea tidak akan tahu karena Lay berada pada barisan paling belakang. Hanya satu orang yang melihatnya, yaitu Joy. Joy hanya geleng-geleng kepala saat melihat tingkah Lay.

“Kami semua sudah memutuskan bahwa mulai tahun ajaran 2015 ini, semua murid harus tinggal di asrama Kirin,” lanjut Jea.

Joy dan Lay tersenyum diam-diam, tahu bahwa mereka berdua tidak mempunyai tempat tinggal di Korea ini.

Tiba-tiba Jisung datang lalu berdiri di sebelah Jea. “Kajja…murid namja ikut denganku. Asrama kalian berada di sebelah timur,” ucap Jisung seraya memimpin murid namja.

“Dan kalian para murid yeoja, asrama kalian berada di sebelah barat. Ikut aku,” ucap Jea.

**

 “Kang Chul-ssi, jebal…lihat dulu video ini,” ucap Jin Man mengekor di belakang Kang Chul yang sedang berjalan ke ruangan kantornya. Kang Chul duduk di bangku kebesarannya seraya mengurut keningnya.

“Kau ini banyak sekali permintaannya,” desah kang Chul. “Sudah berapa kali kubilang bahwa audisi sudah ditutup. Tidak ada tempat lagi bagi murid tambahan.”

“Araseo…araseo…tetapi tidak ada salahnya kan jika kau melihat video ini,” ucap Jin Man.

“Kau pasti berpikir bahwa aku ini orang yang sayang membuang bakat seseorang. Jika aku sudah melihat satu bakat, aku tidak mampu menolaknya. Kau tahu? Aku tidak dapat dibodohi dengan cara seperti ini. Kau harus mengerti bahwa daya tampung sekolah ini untuk tahun ajaran ini sudah penuh…”

“Tetapi Kang Chul-ssi…”

“Baiklah, aku akan menerima murid itu,” ucap Kang Chul tiba-tiba.

“Jinjja?” tanya Jin Man sumringah.

“Ne,” ucap Kang Chul. “Dan setelah itu, kau harus rela ranjang kesayanganmu di ambil oleh murid baru itu.”

“M-mworago?” Ekspresi wajah Jin Man langsung berubah. “W-wae? Kenapa harus ranjangku?”

“Karena disini sudah tidak ada kamar kosong!” ucap Kang Chul sekali lagi dengan nada tegas, membuat Jin Man bergidik takut.

Tiba-tiba telepon kantor Kang Chul berbunyi.

“Yeobosoyo,” ucap Kang Chul seraya mendekatkan gagang telepon ke telinganya. “Mwo? Kenapa bisa semendadak ini? Apa sudah kau tanyakan kebenarannya? Kau yakin? Araseo…kalau itu sudah menjadi keputusannya, aku tidak dapat memaksakannya….” Kang Chul menutup teleponnya seraya mendesah berat. Dia melirik menatap Jin Man, yang sedang pasang raut bingung.

“W-wae?” tanya Jin Man tidak mengerti.

**

Jiyeon memandang langit biru cerah di atas kepalanya. Sambil duduk di salah satu tenda ice cream pinggir jalan, Jiyeon mencoba mencari inspirasi untuk lagunya. Ketika ide di dalam otaknya habis, dia akan mendesah panjang seperti sekarang ini.

“Jeongmalyo,” desah Jiyeon. “Tidak ada gunanya aku melakukan hal ini. Sepertinya takdir hidupku bukan untuk menjadi seorang penyanyi. Haruskah aku mencari pekerjaan lain?”

Tiba-tiba mata Jiyeon melihat seorang Halmoni sedang menjual permen gula. Dia pun menghampiri Halmoni itu.

“Annyeonghaseyo…” ucap Jiyeon.

“Annyeonghaseyo,” jawab si Halmoni ramah. “Kau ingin membeli permen gulaku?”

“Ne? Ummm…” Jiyeon melirik kantungnya yang berisi uang recehan. “Ne, satu saja.”

Halmoni itu tersenyum seraya membuatkan satu permen gula berbentuk bunga kepada Jiyeon. Ketika Jiyeon hendak memberikan uang kepada Halmoni, Halmoni menolaknya.

“W-wae?” tanya Jiyeon bingung.

“Permen ini gratis untukmu,” ucap si Halmoni.

“A-aigooo…aku tidak berharap Halmoni memberiku secara gratisan seperti ini,” ucap Jiyeon tidak enak hati.

“Gwaenchana,” ucap Halmoni. “Habiskanlah.”

Jiyeon mengangguk seraya berkata, “Ne, gumawoyo Halmoni.”

“Kau sedang menulis apa?” tanya Halmoni saat melihat Jiyeon mengeluarkan kertas lagu dari dalam tasnya.

“Lagu,” jawab Jiyeon sambil tersenyum.

“Lagu?” tanya Halmoni dengan tatapan terkejut. “Apa kau ini penyanyi?”

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan Halmoni.

“Ani,” jawab Jiyeon. “Aku hanya seorang pengamen.”

Halmoni itu mengambil kertas milik Jiyeon lalu dilihatnya barisan not balok yang dibuat Jiyeon.

“Bisakah kau menyanyikannya?” tanya Halmoni.

“Tentu, Halmoni mau dengar?” Jiyeon langsung mengambil gitarnya. “Judul lagu ini Never Ever…”

Jiyeon pun menyanyikan lagu buatannya diiringi oleh petikan gitarnya.

“Daebak,” ucap Halmoni senang. “Kau benar-benar berbakat. Seharusnya, yeoja berbakat sepertimu masuk ke dalam Sekolah Kirin.”

Mendengar kata “Kirin” membuat Jiyeon lesu mendadak.

“W-wae?” tanya Halmoni. “Apa aku salah bicara?”

“Aniyo,” jawab Jiyeon berusaha merubah wajahnya menjadi sedikit lebih ceria.

“Sepertinya aku memang salah bicara,” ucap Halmoni lagi.

“Halmoni…kau tahu? Aku sering sekali mengalami kegagalan selama hidupku, tetapi entah mengapa…kegagalan yang terakhir kali aku alami ini benar-benar membuat kesan tersendiri buatku. Dengan kata lain, aku seperti tidak mengharapkan kegagalan itu terjadi padaku…”

Halmoni tidak mengerti maksud ucapan Jiyeon.

“Aku telah mencobanya dan aku gagal,” ucap Jiyeon.

Halmoni masih terlihat tidak mengerti.

“Kirin menolakku,” jelas Jiyeon to the point.

Halmoni terkejut mendengarnya.

“Aigooo…mianhae, aku tidak tahu…”

“Aniyo,” sela Jiyeon. Kini air matanya keluar, tak bisa ditahan lagi. “Di audisi itu banyak yang mengalami kegagalan. Seharusnya aku tidak boleh bersikap seperti ini. Kegagalan bukan untuk ditangisi. Ne, seharusnya aku sadar akan hal itu, tetapi entah mengapa air mata ini tidak mau berhenti keluar. Aiiish…aku benar-benar yeoja cengeng…”

Halmoni hanya dapat memandang iba pada Jiyeon.

Jiyeon mengusap air matanya serampangan seraya berkata, “Mengobrol denganmu benar-benar membuatku tenang, Halmoni.” Jiyeon tersenyum. “Gumawoyo…”

“Berdoa dan tetap berusaha. Jangan pernah putus asa,” ucap Halmoni memberikan saran.

“Ne,” jawab Jiyeon sambil terisak.

Tiba-tiba seorang yeoja menghampiri Jiyeon. Yoon penuh keringat dan rambutnya berantakan.

“Y-Yoon-ssi?” Jiyeon terkejut melihat guru Kirin itu menghampirinya dengan penampilan seperti itu. “Ada apa denganmu?”

“Mencarimu benar-benar susah sekali. Apa ponselmu tidak aktif? Jebal…jangan jual ponselmu hanya karena kau tidak punya uang,” ucap Yoon dengan nafas tersengal-sengal. Baru beberapa hari yang lalu Yoon membelikan Jiyeon ponsel dan sekarang dia khawatir Jiyeon akan menjual kembali ponselnya demi melunasi uang sewa rumahnya kepada si pemilik rumah.

“A-aku tidak menjualnya,” ucap Jiyeon seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.

“Baguslah,” ucap Yoon. “Ponselmu akan sangat berguna mulai saat ini. Karena kau tahu apa?”

Jiyeon menggeleng dengan raut wajah bingung.

“Mulai sekarang kau akan lebih sering berhubungan dengan orang-orang penting yang akan mewujudkan mimpimu,” ucap Yoon dengan mata berbinar-binar.

“M-mwo?” Jiyeon benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Yoon.

“Jiyeon-ah!” Yoon memegang kedua lengan gemuk Jiyeon dengan erat. “Mulai detik ini, kau resmi menjadi murid Kirin!”

“MWO?!” pekik Jiyeon.

“Ne, Jin Man-ssi baru saja mengabarkan berita baik ini kepadaku. Katanya, salah satu murid baru Kirin yang bernama Bora telah mengundurkan diri,” ucap Yoon. “Kau benar-benar yeoja yang beruntung, Jiyeon-ah!”

Jiyeon tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya, alhasil air matanya makin mengalir deras.

“Halmoni, sepertinya kaulah keberuntunganku. Setelah aku mengeluarkan seluruh isi hatiku padamu, tidak lama kemudian berita baik ini muncul,” ucap Jiyeon seraya memeluk Halmoni.

“Aigooo….chukkae…” ucap Halmoni ikut senang.

**

Acara penyambutan dan peresmian murid baru tahun 2015 akan segera di mulai. Panggung megah sudah siap. Para tamu penting, guru2 pengajar, murid-murid senior dan beberapa Direktur penting telah datang dan sudah siap di tempat duduk masing-masing.

Dibelakang panggung, kedua puluh tiga murid baru telah siap untuk memasuki panggung, kecuali Park Jiyeon. Kemanakah dia?

**

“Mianhae…nomu nomu mianhae…” ucap Jiyeon kepada seorang yeoja paruh baya kaya.

Pagi ini Jiyeon datang ke Kirin dengan membawa koper dan tas barangnya yang lain. Lalu kesialan apa yang menimpanya sehingga membuatnya telat datang ke acara penyambutan dan peresmian murid baru Kirin? Dia terjungkal karena tersandung batu, membuat kopernya terbuka. Dan pada saat itu sebuah mobil mewah lewat dan nyaris menabraknya. Seorang yeoja paruh baya keluar dengan tampilan elegan.

“Apa kau ingin membuang nyawamu dengan cara seperti ini?” tanya yeoja itu kesal.

“M-mianhae…” ucap Jiyeon seraya membungkuk berkali-kali.

“Kang-ssi, cepat bantu yeoja ini menyingkir dari jalanku,” ucap yeoja paruh baya itu dengan pongahnya. “Kau benar-benar telah membuang waktuku.”

Yeoja itu pun masuk ke dalam mobilnya kembali.

**

“Jiyeon…kenapa kau belum datang juga?” desah Yoon khawatir. Kedua puluh dua murid baru telah mengisi panggung, kecuali Jiyeon. Kini Kang Chul dan Jin Man yang hendak mengalungkan bunga selamat datang kepada para murid baru telah menaiki ke panggung.

Yoon mencoba menghubungi ponsel Jiyeon, tetapi tidak ada jawaban. Keadaan seperti ini membuat Yoon semakin resah.

Kang Chul dan Jin Man sudah mengalungkan bunga kepada murid kedua puluh. Tinggal dua orang dan tiba giliran Jiyeon.

“Jebal…Jiyeon, cepatlah datang,” gumam Yoon resah.

Kini Kang Chul bersiap-siap mengalungkan bunga kepada Sehun, murid ke dua puluh dua.

“Chukkae,” ucap Kang Chul kepada Sehun.

“Kau tahu? Aku benar-benar tidak berminat masuk ke sekolahmu,” ucap Sehun pelan.

Kang Chul hanya tersenyum.

“Di sini lebih baik daripada berkeliaran di tengah jalan,” ucap Kang Chul hendak menghampiri murid ke dua puluh tiga yang belum datang.

“Chankamman…” Sehun menahan tangan Kang Chul. “Kau tahu? Aku begitu menghormatimu karena kupikir kau tidak semenyebalkan Eomma. Jangan merubah pendapatku kepadamu, hanya karena kau membantu Eomma untuk menarikku ke dalam pelukannya lagi. Aku bukan namja kecil lagi, kau harus ingat itu.”

Dan pada saat itu Jiyeon datang mengisi barisan ke dua puluh tiga.

“Kita akan bicarakan hal ini setelah acara ini selesai,” ucap Kang Chul seraya berdiri di depan Jiyeon. Kang Chul melihat penampilan Jiyeon yang berantakan. Bajunya yang besar dan berantakan. Kaus kakinya yang panjang sebelah. Dan rambutnya yang kusut. “Jadi kau yang bernama Park Jiyeon?”

“N-ne,” ucap Jiyeon gugup.

Tiba-tiba Kang Chul mendesah seperti tidak puas.

“Sepertinya kau telah mengambil sebuah keputusan yang salah,” ucap Kang Chul kepada Jin Man yang berdiri di sebelahnya.

“N-ne?” tanya Jin Man.

Kang Chul dengan cepat mengalungkan bunga kepada Jiyeon lalu pergi ke bawah panggung. Jiyeon merasa bahwa Kang Chul sepertinya tidak menyukai dirinya sebagai murid baru disekolahnya. Jiyeon hanya mampu menunduk, menutupi rasa malu dan kecewanya.

“Daebak,” ucap Taeyong yang berdiri di sebelah kanan Sehun. “Akhirnya kita berdua dapat belajar di sekolah bergengsi ini.”

“Diam kau, karena kau…aku harus masuk ke dalam lubang neraka ini,” desah Sehun seraya menoleh ke kiri, tepat dimana Jiyeon berada. Sehun terkejut melihat Jiyeon sedang menatap sedih ke arahnya. Dia ingat betul bahwa Jiyeonlah, yeoja gendut yang telah menyundul perutnya sampai sakit. “K-kau? Kau juga masuk ke sekolah ini?”

Krystal melepas earphone yang sedang menyantol pada kedua telinganya. Yoon baru saja memanggilnya, menyuruhnya untuk mencontohkan gerakan Tap Dance. Buat Krystal, Tap Dance adalah tarian yang mudah. Langsung saja, dengan wajah pongahnya, dia berjalan menuju tengah aula. Musik dimainkan dan Krystal mulai menari.

“Daebak,” gumam Taeyong, tidak melepaskan pandangannya matanya dari Krystal.

Yoon mengangguk dan tersenyum melihat cara Krystal melakukan Tap Dance.

“Ada yang mau bergabung?” tanya Yoon. “Kau namja bertatoo!” Jari telunjuk Yoon mengarah ke Taeyong.

“A-aku?” tanya Taeyong dengan wajah terkejut.

“Ne,” jawab Yoon. “Sepertinya kau mengagumi Krystal.”

Mendadak wajah Taeyong memerah, sedangkan Krystal hanya pasang wajah cuek.

Mungkin disaat keadaan seperti ini, dia mampu menunjukkan bakatnya, terutama di depan yeoja pujaannya. Dengan berani, Taeyong bergabung bersama Krystal. Taeyong tidak begitu tahu tentang Tap Dance. Tetapi dia cukup banyak belajar sewaktu Krystal memeragakannya tadi.

Krystal memulainya, memberi waktu kepada Taeyong untuk belajar bagaimana cara menghentakkan kaki yang benar ala Tap Dance. Dan detik berikutnya, bagai melihat pertunjukkan dance, kedua murid Kirin ini berhasil memesona satu ruangan.

Yoon mematikan musik seraya berkata, “Kerja yang bagus.”

Taeyong kembali ke tempatnya dengan wajah bangga. Krystal sudah bisa mendapat tepuk tangan seperti ini.

“Daebak,” ucap Sehun yang berdiri di sebelah Taeyong.

“Jadi…tema pelajaran pertama kita adalah Tap Dance.” Yoon berdeham sebelum melanjutkan ucapannya. “Tap dance muncul pada pertengahan 1800-an di Irlandia, awalnya tap dance adalah tarian budak kulit hitam seperti Juba. Pada upacara keagamaan di Afrika, para kulit hitam menggunakan drum untuk instrumennya. Tapi pada masa perbudakan, drum di larang di gunakan oleh para kulit hitam di Amerika , sehingga para budak kulit hitam menggunakan kaki untuk instrumennya… Itu sekilas info tentang Sejarah Tap Dance. Dia kelasku tidak terlalu banyak teori. Menari dan menari, itu yang akan kalian lakukan untuk hari hari ke depan selama berada di kelasku.”

Tiba-tiba Jiyeon membuka pintu kelas Yoon. Dengan tergesa-gesa dia masuk ke barisan.

“Jiyeon-ah…kenapa kau terlambat?” tanya Yoon dengan wajah heran.

“Um…aniyo…a-aku lupa menyetel alarmku,” jawab Jiyeon berbohong.

Ne, dia berbohong. Alasan sebenarnya yang membuatnya bisa terlambat masuk kelas adalah…

#Flashback#

Kemarin malam…

Jiyeon mendorong kopernya, masuk ke dalam kamar asramanya. Seorang yeoja bernama Krystal Jung menghampiri Jiyeon dengan tawa mengejek.

“Annyeonghaseyo,” ucap Jiyeon seraya menjulurkan tangannya.

Krystal hanya menatap tangan Jiyeon, tanpa menyambutnya sedikit pun.

“Naneun…Park Jiyeon imnida,” sambung Jiyeon sambil mengembangkan sebuah senyum.

“Kenapa yeoja jelek sepertimu bisa masuk ke sekolah ini?” Ucapan Krystal membuat Jiyeon terkejut. Bagaimana bisa dia mendapat hinaan sedalam itu dari orang yang belum dikenalnya?

“W-wae?” tanya Jiyeon berusaha sabar.

“Apa Kirin sudah menurunkan standarnya? Sehingga yeoja jelek gendut sepertimu bisa masuk ke sini,” sambung Krystal. “Dan jangan bilang bahwa kau adalah teman sekamarmu!”

“Ne?” Jiyeon terkejut. “Ne, akulah teman sekamarmu. Purple Room. Tidak salah lagi,” ucap Jiyeon seraya menunjukkan kertas asramanya.

Krystal berdecak sebal menyadari bahwa Jiyeon adalah teman sekamarnya.

Ketika Jiyeon hendak masuk ke dalam, Krystal merentangkan kedua tangannya.

“W-waeyo?” tanya Jiyeon bingung.

“Kau tidak boleh masuk ke kamar ini,” ucap Krystal.

“Mwo? Bagaimana bisa begitu? Jelas sekali bahwa kamar asramaku di sini,” ucap Jiyeon dengan tampang melas.

“Ani,” jawab Krystal. “Teman sekamarku bernama Bora.”

“Bora?” Jiyeon terlihat sedang berpikir. “Ah…yeoja eksotis itu? Apa kau belum tahu? Bora mengundurkan diri secara sepihak, membuat jalur khusus untukku agar dapat masuk ke sekolah ini…”

“Jalur khusus?” sela Krystal. “Jadi…maksudmu, sebenarnya Kirin tidak benar-benar memilihmu untuk masuk ke sekolah ini? Hanya karena ada anak yang mengundurkan diri, kau jadi bisa masuk menggantikannya. Parah sekali. Kau murid cadangan gendut!”

“Kenapa ucapanmu sekasar itu? Apa salahnya jika aku murid cadangan?” tanya Jiyeon berusaha membela diri.

“Itu menunjukkan bahwa kau tidak memiliki bakat,” jawab Krystal dengan wajah menyebalkan. “Aku tidak mau sekamar dengan bodoh yang gendut dan jelek. Sebaiknya kau pergi, cari kamar lain saja!” tambah Krystal seraya menendang keluar koper Jiyeon, sebelum akhirnya menutup pintu kamar rapat-rapat.

Hati Jiyeon mencelos mendapat perlakuan seperti ini. Sebelumnya dia mendapat perlakuan seperti ini dari Ahjumma pemilik kontrakannya dulu.

Dan karena hal inilah yang membuat Jiyeon terlambat. Semalaman Jiyeon tidur di perpustakaan Kirin.

#Flashback End#

“Yaa!” Jiyeon tersadar dari lamunannya. Seorang namja mendelik ke arahnya. “Kau menginjak kakiku, gendut!”

 TO BE CONTINUE

Advertisements

38 thoughts on “DREAM HIGH 3 [Chap 3]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s