DREAM HIGH 3 [INTRO+CHAP 1]

DREAM HIGH 3

Cast:

Jiyeon, Sehun, Krystal, Taeyong, Joy, Lay

Genre

AU, Drama, Friendship, Romance, School Life

Length:

Multichapter

Rating:

PG-13

Story in this chapter isn’t mine but Kak Ica‘s own.

Cover belong to me.

Sorry for typos, leave your comment after read it!

happy reading

*****

Dream High 3

Perjuangan meraih mimpi menjadi seorang bintang terkenal.

Jiyeon,

berusaha menguruskan tubuhnya yang gempal saat Teacher Yang (JYP) mengatakan bahwa dengan bobot tubuh seberat itu, Jiyeon hanya bisa merusakkan panggung. Jiyeon teringat akan perjuangan Kim Pil Suk (diperankan oleh IU di Dream High 1) saat dia menurunkan berat badannya demi seorang Jason (Wooyoung). Tetapi bedanya kali ini Jiyeon berusaha menurunkan berat badan bukan karena seorang namja yang disukainya, motivasinya untuk menjadi bintang terkenalah yang membuatnya bertekad untuk menghilangkan lemak berlebih di setiap bagian dalam tubuhnya.

Oh Sehun,

berasal dari keluarga kaya raya yang miskin rasa kasih sayang orangtuanya. Dia hanya menginginkan kehangatan keluarga. Semenjak itu dia menjadi seorang namja brutal. Teacher Yang berusaha mengubah perilaku Sehun dengan cara memasukkannya ke Kirin Art High School. Sehun tidak tahu arti ‘mimpi’ sebenarnya, sampai akhirnya dia bertemu dengan Jiyeon.

Krystal Jung,

artis papan atas yang sombong dan pongah. Sampai akhirnya kariernya hancur dan dia jatuh miskin. Krystal memutuskan untuk memulai kariernya dari awal dengan cara masuk ke Kirin Art High School.

Taeyong,

rapper jalanan yang bertahan hidup dan berpegang teguh pada mimpinya. Dia sangat mengidolakan Krystal. Kegemukan, itulah hal yang paling dia takutkan.

Joy,

sahabat dekat Jiyeon. Polos dan rendah hati, terkadang kelemotannya sering membuat gemas orang2 di sekelilingnya. Joy dulunya adalah seorang balerina. Memutuskan untuk keluar dari sekolah balet dan meneruskan kariernya lewat Kirin Art High School.

Lay,

dia adalah namja keturunan kerajaan di China dan merupakan putera Presiden RRC. Kabur dari rumah dan memutuskan untuk tinggal di Korea dan masuk ke Kirin Art High School. Dia selalu menghindari Joy, karena menurutnya Joy hanya seorang pengganggu.

Enam remaja, satu impian!

Dream High 3 menjawab semuanya!

 

Chap 1

Panggung megah ini disoroti banyak cahaya. Teriakan gegap gempita dari para penonton memenuhi tribun dan sekeliling panggung megah itu. Malam itu, T-ARA akan menyelenggarakan concert comeback mereka. Para BlackJack senantiasa berdesak-desakan agar bisa berada barisan paling depan, dekat dengan panggung.

Sampai akhirnya cahaya diredupkan. Dari bawah panggung muncul keempat yeoja personil T-ARA; Boram, Qri, Hyomin, Eunjung, Soyeon, dan Jiyeon.

Ketika keenam personil T-ARA sudah benar-benar keluar dan berdiri di atas panggung, gemuruh suara penonton semakin keras.

“DIADEEEEM !!!!!!!!!!!!” teriak Ham Eunjung memenuhi tribun besar itu.

“T-ARA!!!! T-ARA !!!!!!!!!!!” balas para Diadem dua kali lipat lebih keras.

“I’m addict I’m addict I’m addict…” Jiyeon mulai bernyanyi.

Percikan api langsung keluar dari tepi panggung. Dan musik pun membahana.

Ddeorowayo Number nine….” Seorang yeoja gendut sedang mengigau di atas tempat tidurnya. Air liurnya membasahi bantal tidurnya.

“Yaa! Jiyeon-ah! Bangun! Bayar uang sewamu sekarang!” pekik Ahjumma pemilik kontrakan yang ditinggali oleh Jiyeon.

Ddeorawayo number nine….” Jiyeon masih terlelap dan terus saja mengigau. Di dalam mimpinya, dia menjadi seorang penyanyi terkenal, tergabung dalam girlband bernama T-ARA. Sesungguhnya, girlband T-ARA tidak ada. T-ARA hanya ada di dalam mimpi Jiyeon saat ini. Boram, Qri, Hyomin, Eunjung, Soyeon? Entahlah siapa mereka. Jiyeon hanya melihat kelima yeoja itu sedang berada satu panggung dengannya.

“Yaa! Jiyeon-ah! Jeongmal! Bangun kauuuu!” pekik Ahjumma sekali lagi.

Kali ini Jiyeon terbangun. Dia mengucek matanya yang masih mengantuk. Dengan susah payah dia berusaha bangun dari tempat tidurnya dan bangkit untuk menjangkau pegangan pintu.

“Ne?” tanya Jiyeon dengan suara serak.

“Ppali, berikan uang sewamu padaku,” pinta Ahjumma seraya mengulurkan tangannya pada Jiyeon.

Jiyeon mendesah seraya menggaruk-garuk kepalanya.

“Ahjumma…kau tahu ini masih pagi sekali,” desah Jiyeon dengan mata setengah terbuka.

“Aniyo…aniyo…Aku butuh uangnya sekarang. Ppali! Berikan padaku uang sewamu yang sudah menunggak 3 bulan,” ucap Ahjumma terus memaksa.

“Ahjumma…Eomma belum pulang, aku harus membayarmu dengan apa?” desah Jiyeon seraya menguap.

Spontan Ahjumma menutup hidungnya.

“Yaa! Kau selalu beralasan begitu, Eomma belum pulang….Eomma belum pulang… Lalu kapan Eomma-mu pulang? Sudah tiga bulan Eomma-mu tidak menunjukkan batang hidungnya. Kemana sih dia?” Si Ahjumma jadi mengomel.

Jiyeon mendesah berat. Ne, Eommanya sudah lama tidak pulang. Terakhir kali dia melihat Eommanya tiga bulan yang lalu. Eommanya berkata bahwa dia akan pergi untuk sementara waktu dan akan kembali dengan membawa uang yang banyak.

“Aku tidak tahu kapan dia pulang. Ahjumma…tunggu beberapa hari lagi…aniyo…beberapa minggu lagi, bagaimana?” tanya Jiyeon.

“ANDWAE!” pekik Ahjumma memekakkan gendang telinga Jiyeon. “Aku sedang membutuhkan uang sekarang. Jika kau tidak bisa membayar uang sewamu hari ini, kau harus angkat kaki dari rumah ini. Aku menyewakan rumah ini padamu agar aku mendapat uang, tahu!” tambah Ahjumma panjang lebar.

Jiyeon mengambil tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Ahjumma langsung mengambilnya tanpa basa-basi.

“Aku ambil ini dulu. Sisanya kau harus bayar nanti malam!” ucap Ahjumma lalu pergi meninggalkan Jiyeon dengan tampang naas.

“Itu uang terakhirku,” desah Jiyeon merana.

**

Seorang namja berambut gondrong sedang berkutat di depan sebuah meja rendah. Sebelah tangan kirinya memegang selembar kertas dan tangan yang lain sibuk memegang sumpit. Dua mangkuk mie instan telah habis dilahapnya. Dia mencoba menyeka sisa-sisa kuah mie yang menggantung pada jenggot tipisnya. Tiba-tiba saja suara langkah kaki orang sedang berlari terdengar. Suara langkah itu semakin terdengar jelas dan tiba-tiba saja pintu rumahnya terbuka. Seorang namja yang lain, dengan nafas memburu, menutup pintu rumah cepat-cepat.

“Mereka mengejarmu lagi?” tanya si namja gondrong pada si namja lain itu.

“Taeyong-ah, bagaimana kalau mereka menemukanku?” tanya si namja lain dengan nafas tersengal-sengal.

“Artinya adalah kebebasan untukku,” jawab si namja gondrong yang bernama Taeyong.

“Kau harus berjanji padaku bahwa kau akan tetap mengizinkanku untuk tinggal disini.” Sehun, nama namja itu, menunjuk-nunjuk lantai rumah itu, rumah yang sangat kecil dan nyaris tidak layak untuk dihuni.

“Ahhhh….tidak kuizinkan pun, kau tetap tidak mau pergi kan,” desah Taeyong merana. “Seharusnya kau merawatku lebih baik lagi. Tega sekali sih hanya membayar uang sewa dengan puluhan mie instan. Otot-ototku bisa rusak, tahu!”

Sehun hanya tersenyum mendengar rengekkan temannya.

“Kalau aku ada uang, aku akan mengajakmu makan di sebuah restoran.”

“Jangan mudah berjanji kepadaku. Aku ini orang yang mudah mengingat sesuatu, terutama jika sesuatu itu adalah yang hal yang baik untukku.”

“Mianhaeyo…” desah Sehun. “Aku benar-benar berhutang banyak padamu.”

“Kenapa sih kau tidak kembali saja ke rumahmu?” tanya Taeyong dengan alis berkerut. “Kau punya segalanya, rumah mewah, harta melimpah, bahkan jaminan hari tua. Kenapa kau lebih memilih tinggal bersamaku di tempat bobrok seperti ini? Apa kau sedang merencanakan sesuatu?”

Sehun melirik Taeyong dengan mata menggantung.

“Jangan menatapku seperti itu. Jawab saja pertanyaanku, kenapa kau lebih memilih…”

“Aku tidak suka tinggal dengan yeoja tua itu,” sela Sehun seraya mengacak-acak rambutnya yang setengah basah akibat gerimis di luar sana.

“Mworago?” tanya Taeyong. “Yeoja tua? Maksudmu, ibumu?”

Sehun mengangguk santai.

“Jeongmal, baru kali ini aku melihat seorang anak menyebut ibunya sendiri dengan sebutan yeoja tua.”

“Kalau kau suka dengan yeoja tua itu, kau bisa tinggal dengannya. Dan aku akan berterima kasih sekali jika kau memberikan rumah ini untukku.”

“Apa kau baru saja menelan batu?” tanya Taeyong. “Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Apa menurutmu rumahku ini lebih berharga daripada limpahan harta yang kau punya…”

“Itu bukan hartaku, itu harta orangtuaku.”

“Itu sama saja kan?”

“Aku tidak mau memakainya jika artinya aku harus menuruti semua ucapan yeoja tua itu, termasuk…” Sehun menggantungkan ucapannya ketika ponselnya berdering.

“Mwo?” ucap Sehun setelah membuka flip ponsel.

“Kenapa kau berbicara seperti itu kepada ibumu sendiri?”

“Eomma…aku benar-benar sedang sibuk sekarang,” jawab Sehun malas-malasan.

“Jangan berusaha mengindariku. Eomma sudah lelah mengejarmu terus-menerus. Pulanglah.”

“Aniyo…”

“Pulanglah dan aku berjanji akan menuruti semua ucapanmu.”

“Aniyo, Eomma. Aku sudah punya kehidupan sendiri sekarang, jauh lebih baik daripada kehidupanku yang dulu.”

“Nomuhajima (jangan berlebihan), Sehun-ah. Kau punya kehidupan yang baik, disini, bersamaku, bersama ibumu.”

“Mianhae, Eomma.” Sehun menutup flip ponselnya lalu melepas baterainya.

Di depannya, Taeyong sedang menatapnya bingung, sesaat kemudian menggelengkan kepalanya tanda heran.

“Wae?” tanya Sehun.

“Kenapa kau ngotot sekali ingin pergi dari rumahmu?” tanya Taeyong heran.

“Kau tidak perlu tahu karena memang bukan suatu hal yang penting untuk diberitahu. Lebih baik kau masakkan aku mie sekarang. Paegopha (Lapar)!” ucap Sehun dengan aegyo yang menjijikan.

**

“Lee Kang Chul-ssi (Ex-President of Kirin Art High School & OZ-Ent in DH2) memang berbakat menerbitkan seseorang yang awalnya biasa berubah menjadi seseorang yang luar biasa…yang mempunyai nilai dan mutu…”

“Berbeda dengan Yang Jin Man-ssi (Park Jin Young), yang sekarang menggantikan dan menjabat sebagai Headmaster Kirin Art High School. Orang itu juga membuat sebuah manajemen bernama JYP-E (Jin Yang Press Entertainment – yang ini karangan author ya, hahaha). Siapa yang mau masuk ke dalam manajemennya? Yang Jin Man-ssi tidak benar-benar melakukan pekerjaannya dengan baik.”

“Bagaimana mungkin Lee Kang Chul-ssi bisa memberikan jabatannya kepada orang seperti Yang Jin Man-ssi? Yang Jin Man-ssi dulunya adalah guru Inggris di Kirin. Tidak becus mengajar dan sekarang dia mau memimpin Kirin? Omona! Apa jadinya Kirin nanti? Orang pendek itu hanya bisa menyusahkan Lee Kang Chul-ssi.”

Seorang namja berumur empat puluh satu tahun sedang duduk di sebuah sofa empuk yang terletak di tengah ruangan besar itu. Tangan namja itu sedang menggengam sesuatu seperti sebuah koran. Dengan geraman pelan, Yang Jin Man, Headmaster Kirin Art High School sekaligus founder dari JYP Entertainment, mencoba meremas koran yang dipegangnya.

“Michigeutta!” (“Mau gila rasanya!) geram Yang Jin Man sambil melempar koran yang sudah tidak berbentuk koran itu ke pojok ruangan. “Mereka tidak berhak menghinaku dengan sebutan hina seperti itu.”

“Memang apa yang mereka katakan?” tanya asisten pribadinya, Jea, sekaligus merangkap sebagai guru vocal di Kirin Art High School.

“Kaedong!” (“Kotoran Anjing!)

“Mwo?” Jea berusaha menahan tawa. “Kaedong? Kenapa mereka bisa sesadis itu?”

“Mereka hanya belum melihat bakatku yang bisa menerbitkan bintang papan atas!” gerutu Yang Jin Man sambil menggebrak meja.

Jea menghampiri Yang Jin Man seraya berkata, “Sudahlah, biarkan para netter di luar sana berkomentar sesuka hati. Kau hanya perlu membuktikan kepada mereka kalau kau bisa seperti Kang Chul-ssi.”

“Aku harus membuat sebuah perubahan struktur kerjaku. Aku tidak mau terus menerus jadi nomor dua. Mereka harus mengakui bahwa aku mampu memegang jabatanku saat ini sebagai Headmaster Kirin!”

Dengan wajah bingung, Jea bertanya, “Memangnya kau mau membuat perubahan seperti apa?”

Yang Jin Man memiringkan sebelah sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman licik. “Sebentar lagi akan ada audisi untuk tahun ajaran 2015, kan?”

Jea mengangguk.

“Aku akan membuka sebuah audisi terbuka untuk tahun ajaran tahun ini.”

“Mwo?” Jea nyaris tersedak karena mendengar ucapan Yang Jin Man.

“Audisi terbuka, Jea-ssi,” ulang Yang Jin Man bersemangat.

“Jangan hanya karena kau membaca komentar jahat dari para netter di luar sana, kau jadi berubah konyol seperti ini, Jin Man-ssi. Mana mungkin kita akan membuka sebuah audisi terbuka?”

“Mungkin saja. Aku akan melakukannya.”

“Tetapi kau harus meminta persetujuan dari Kang Chul-ssi dulu. Kang Chul-ssi tetap memegang kendali sekolah ini, biarpun jabatannya telah kau ambil alih. Aku yakin Kang Chul-ssi tidak akan menyetujui ide gilamu,” ucap Jea sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Aku yakin Kang Chul-ssi akan menyetujui ideku,” ucap Yang Jin Man yakin.

Jea hanya bisa bersabar setiap menghadapi Yang Jin Man.

**

“Kang Chul-ssi, aku serius dengan ucapanku!” Yang Jin Man mencoba mengejar Lee Kang Chul yang jalannya dua kali lebih cepat daripada dirinya.

“Aku tidak punya waktu untuk mendengar bualanmu,” jawab Kang Chul, yang terus berjalan menuju pelataran parkir Kirin

“Dengarkan aku dulu…”

Tiba-tiba saja Kang Chul menghentikan langkahnya, membuat Yang Jin Man, yang terus mengikuti dari belakang, menubruk tubuhnya.

“Audisi akan dibuka tiga hari lagi. Dan kau menyuruhku untuk mengubah semua prosedur yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Kirin dalam waktu semendadak ini?” tanya Kang Chul. Kepulan hawa dingin berhembus keluar dari mulutnya.

“Kupikir, ini tidak terlalu mendadak. Kita bisa mengabarkan kepada mereka semua tentang perubahan ini.”

“Apa kau sudah memikirkan semuanya? Kau sudah memikirkan baik dan buruknya jika kita membuka audisi terbuka?” (Audisi Terbuka disini maksudnya, seluruh negara, tidak hanya Korea yang berhak mengikuti audisi Kirin)

Yang Jin Man mengangguk dengan ekspresi tidak pasti.

“Aku tetap tidak akan mengizinkannya.”

“Kang Chul-ssi…,” panggil Yang Jin Man berusaha menyusul Kang Chul yang mulai jalan lagi. “Aku ini adalah Headmaster Kirin. Jadi aku berhak berpendapat.”

“Ne, kau berhak berpendapat. Berpendapat…hanya berpendapat. Itu tidak memastikan bahwa semua pendapatmu akan terjadi,” ucap Kang Chul tegas seraya masuk ke dalam mobil.

“Kang Chul-ssi…kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Ketika kau sudah menyerahkan jabatanmu padaku, itu artinya segala keputusan harus berasal dari mulutku!” teriak Yang Jin Man.

Mobil Kang Chul pun melesat pergi, meninggalkan Yang Jin Man dengan wajah memelas.

“Kenapa aku selalu begini? Kenapa aku selalu memohon?” gumam Yang Jin Man merana.

Tiba-tiba saja ponsel Yang Jin Man bergetar. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.

“Muot?” geram Yang Jin Man setelah membaca isi pesan dari Kang Chul yang berbunyi, ‘Jangan melakukan hal yang hanya akan berakhir buruk. Pikirkan matang-matang.’

Yang Jin Man menutup flip ponselnya keras-keras.

“Dia pikir aku akan menurut saja padanya? Dia pikir aku akan mengambil sebuah tindakan tanpa berpikir lebih dulu? Dia pikir aku sebodoh itu? Kita lihat saja nanti. Aku akan benar-benar melakukannya, bahkan dengan tanganku sendiri. Aku harus menunjukkan kepada netter yang telah menghinaku, bahwa aku juga bisa mengorbitkan seseorang menjadi bintang terkenal!”

**

Jiyeon duduk di salah satu bangku di taman bunga itu. Gitar usangnya bersender pada punggung tebalnya. Dari tadi, dia terus menggerutu dan tangannya sibuk menghitung lembaran uang buluk yang didapatnya dari hasil mengamen.

“Wae?” desah Jiyeon. “Kenapa hari ini begitu sedikit?” Jiyeon memasukkan uangnya ke dalam tas kecilnya. “Kenapa semakin hari semakin sedikit saja penghasilanku?” desahnya dengan wajah memelas.

Jiyeon lalu memandang berkeliling. Taman itu adalah taman biasa tempat dimana Jiyeon mencari uang. Entah mengapa, semakin hari pendapatannya semakin berkurang. Apa ini dikarenakan banyaknya bintang/artis baru yang lahir, sehingga para penikmat musik lebih memilih mendengarkan suara emas para bintang baru itu ketimbang dengan suara cempreng pengamen seperti Jiyeon?

“Kenapa artis-artis baru itu terus saja berdatangan?” desah Jiyeon seraya menatap sebuah layar televisi disalah satu etalase toko. “Mereka benar-benar sangat beruntung. Mereka cantik dan berbakat. Mustahil rasanya jika aku membayangkan menjadi mereka. Ne…aku memang berbakat, tetapi apa tubuh gempalku ini bisa menolerir segalanya? Bahkan para produser itu lebih tertarik mempromosikan orang cantik daripada orang berbakat sepertiku.”

Jiyeon lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak ada waktu untuk meratapi nasib seperti ini Jiyeon. Kau harus bekerja keras hari ini dan untuk hari-hari ke depannya. Kau harus mendapatkan uang sebelum malam tiba. Kalau tidak, Ahjumma bawel itu akan mengusirku keluar,” ucap Jiyeon pada dirinya sendiri. Kemudian dia menatap langit biru. “Eomma…dimana sih dirimu sekarang? Kenapa kau tega meninggalkanku seperti ini? Eomma! Kau benar-benar yeoja yang tidak bertanggungjawab! EOMMA! CEPATLAH PULANG! AKU LAPAR! AKU BELUM MAKAN DARI TADI PAGI!”

Jiyeon tidak sadar bahwa orang-orang disekelilingnya memandangnya dengan tatapan aneh. Ne, siapapun yang melihat yeoja gendut berteriak di tengah jalan saat siang bolong seperti saat ini pasti akan memandang aneh.

“Eomma…buatkan aku kimchi…samgyupsal dengan potongan yang tebal…samgyetang dengan kuah pedas…” Jiyeon mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gusar. “Paegopha!!!!!!!”

**

Perancis…

Seorang balerina sedang beraksi di atas panggung indah itu. Lampu sorot berwarna biru menyala memperindah pertunjukkan balerina tersebut. Para penonton bertepuk tangan saat pertunjukkan balerina itu selesai.

Balerina itu masuk ke belakang panggung seraya mengusap hidungnya yang basah.

Seorang yeoja paruh baya menghampirinya dengan tersenyum puas. Yeoja itu adalah guru baletnya.

“Daebak…nomu nomu daebak!” ucap yeoja paruh baya itu.

Balerina itu tersenyum, hanya saja senyumnya seperti dipaksakan.

“Wae?” tanya yeoja paruh baya itu.

“Aniyo…” jawab balerina itu.

“Joy-ah…kau telah bekerja keras hari ini dan juga hari-hari sebelumnya. Pertunjukkanmu tadi telah menunjukkan hasilnya. Kau berhasil membuat para penonton terkesima dengan pertunjukkanmu. Dan sekarang, yang membuatku bertanya-tanya, kenapa ekspresimu seperti ini? Kau seperti tidak puas,” ucap yeoja paruh baya itu.

“Aniyo…jinjiha…aniyo…” Lagi-lagi balerina yang bernama Joy itu menjawab ‘tidak’.

Yeoja paruh baya itu menghela nafas. “Baiklah…kalau begitu aku pergi dulu. Kau, bersiap-siaplah untuk bertemu dengan salah satu produser iklan. Produser itu sepertinya bisa melihat bakatmu yang luar biasa. Aku harap, ini langkah awal bagimu untuk menjadi seorang balerina berbakat sekaligus bintang iklan terkenal.” Si yeoja paruh baya itu pun pergi meninggal Joy dengan wajah letih.

Dua teman Joy, sesama balerina, tiba-tiba sibuk membicarakan sesuatu. Suara mereka yang terlalu keras terdengar sampa ke telinga Joy.

“Yaa! Kau tahu Kirin Art High School sebentar lagi akan membuat audisi?” ucap si yeoja 1.

“Ne…ne…” jawab si yeoja 2 antusias. “Aku ingin sekali masuk ke sekolah bergengsi tersebut. Tapi apa daya…aku sudah menjadi seorang balerina. Konyol sekali jika aku kabur dari Perancis lalu terbang ke Seoul karena untuk mengikuti audisi Kirin. Hahahaha…”

“Ne, andai aku punya keberanian lebih, aku akan melakukan hal yang kaukatakan tadi,” sahut si yeoja 1.

“Kau tahu? Kau bisa mati digorok oleh sesangnim (guru) kalau kau berani kabur. Lagipula, apa kau yakin Kirin akan menerimamu? Kalau kau gagal audisi di Kirin lalu berniat untuk kembali kesini, aku yakin sesangnim akan menendangmu tanpa perduli bahwa dulunya kau adalah muridnya,” ucap si yeoja 2 sambil tertawa.

Joy mendengar semua ucapan dua yeoja itu. Kirin Art High School, dia tahu sekolah seni itu, sekolah bergengsi yang sudah melahirkan banyak bintang berbakat. Joy hanya bisa mendesah berat, menahan angan-angannya menjadi seorang penyanyi terkenal. Balerina, itulah takdir dan profesinya saat ini. Dengan menjadi balerina, dia sudah membahagiakan kedua orangtuanya. Apa jadinya kalau dulu dia memaksa menjadi seorang penyanyi, apa Eomma dan Appanya akan sebahagia sekarang? Entahlah, mengapa sampai saat ini kedua orangtuanya belum juga merestuinya menjadi seorang penyanyi. Padahal menyanyi adalah jati dirinya yang sebenarnya.

**

China…

“Zhang Yixing, putera dari seorang Presiden China dikabarkan hilang setelah menghadiri jamuan teh kemarin malam. Seluruh keluarga kerajaan saat ini sedang heboh dan sibuk mencari dimana Tuan Yixing berada sekarang,” ucap pembawa berita asal China.

Lay mematikan tabnya dan memasukkan ke dalam ranselnya. Malam ini dia berhasil kabur dari rumahnya di China dan pergi menuju Seoul, Korea. Dia telah memikirkan hal ini lama sekali dan dia juga sudah memilih dimanakah dia harus menyembunyikan dirinya. Korea, tempat pertama yang terlintas di benaknya. Karena dia menyukai kebudayaan Korea, negara itu juga lumayan jauh dari tempat tinggal di China, dan lagi…dia cukup fasih berbahasa Korea, jadi hal itu tidak menyulitkannya selama dia kabur ke Korea.

Lay (panggilan Yixing) sedang berada di dalam pesawat yang akan membawanya ke Korea. Dia melihat selebaran yang dibawa oleh seorang namja nyentrik.

Excuse me, what is the brochure you hold?” tanya Lay pada namja nyentrik itu.

“Mworago?” tanya si namja balik yang rupanya tidak bisa bahasa Inggris.

“Um…mianhae…saya bertanya, brosur apa yang sedang anda pegang?” tanya Lay dengan bahasa Korea (ceritanya gitu, hehe)

“Ah, ne…ini brosur Kirin Art High School,” jawab si namja nyentrik.

“Kirin?” Dahi Lay berkerut.

“Kau tidak tahu Kirin? Kirin adalah salah satu sekolah bergengsi di Korea. Tahun ini Kirin akan membuka audisi lagi untuk tahun ajaran 2015 ini,” jelas si namja.

“Ah, ne…” Lay mengangguk mengerti. “Um…boleh saya lihat?”

“Tentu…” Si namja nyentrik itu memberikan brosur yang dipegangnya kepada Lay.

“Kamsahamnida…” ucap Lay sebelum membaca brosur itu. “Kirin Art High School?” Lay terlihat sedang berpikir. “Interesting,” gumamnya sambil tersenyum.

**

Bandara Incheon, Korea Selatan.

Seorang yeoja sedang menunggu asistennya untuk menjemputnya pulang. Keberadaannya ditengah-tengah orang banyak membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Krystal Jung, penyanyi terkenal yang sedang terlibat kasus dengan managementnya saat ini membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang di bandara Incheon itu.

“Wae?” tanya Krystal ketus pada orang-orang yang memperhatikannya. “Kenapa kalian semua melihatku seperti itu? Apa yang telah terjadi padaku saat ini benar-benar bukan urusan kalian semua!” ucap Krystal dengan tatapan tajam.

Krystal menggeram kesal karena asistennya tidak kunjung datang. Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya. Dia baru pulang dari Jepang setelah selesai mengurus kasusnya dengan managementnya. Sekarang dia resmi keluar dari managementnya dan hal itu membuat pamornya sebagai seorang artis turun drastis. Hutang membelitnya dan job yang biasanya berdatangan padanya, sekarang menjadi sepo total. Krystal Jung benar-benar telah jatuh miskin.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari asistennya.

‘Mianhae, Krystal-ah…aku bukan asistenmu lagi sekarang. Aku bekerja denganmu karena aku butuh uang. Sekarang, uang saja kau tidak punya, bagaimana caranya kau membayarku, heh?’

“Jeongmal!” erang Krystal seraya membanting ponselnya ke lantai dan tepat saat itu Lay yang baru keluar dari bandara menginjak ponsel Krystal lalu jatuh terpeleset.

“Omo!” pekik Krystal seraya menutup mulutnya.

“Argh…” Lay memegang pinggangnya yang sakit karena jatuh terlentang di lantai. “Micheosseo?” pekik Lay seraya berusaha bangun. “Apa kau sudah cukup kaya sehingga kau bebas membuang ponselmu seperti ini?”

“Yaa! Siapa kau? Berani-beraninya kau membentakku! Apa kau tidak mengenal siapa aku, heh?” ucap Krystal galak.

“Memangnya siapa kau? Apa wajahmu pernah muncul di televisi, heh? Apa kau seorang artis? Kalau memang kau artis sepertinya kau tidak begitu terkenal karena aku tidak pernah melihatmu di layar televisi!” balas Lay, masih memegang pantatnya yang sakit.

“Aish…jinjja!” pekik Krystal kesal. “Kenapa hari ini aku begitu sial? Bertemu dengan orang sinting sepertimu hanya bisa menambah kesialanku!” ucap Krystal seraya meninggalkan Lay.

“Apa semua wanita Korea seperti dia?” desah Lay. “Kalau memang benar, sepertinya aku tidak boleh jatuh cinta di negara ini.”

**

Jiyeon berlutut di depan Ahjumma pemilik rumah.

“Jebal…biarkan aku tinggal semalam saja disini. Aku janji, besok aku akan melunaskan uang sewanya!” pinta Jiyeon memohon.

“Muot?” ucap Ahjumma geram. “Kau pikir aku ini yayasan penampung orang tunawisma sepertimu, heh?”

“Jebal…hanya malam ini, Ahjumma…”

“Pergi kau!” Ahjumma menepis tangan Jiyeon yang sedaritadi memegangi kakinya. “Pergi dan bawa barang-barang rongsokkanmu ini keluar dari rumahku!”

Barang-barang Jiyeon sudah diangkut keluar semua oleh si Ahjumma. Kini Jiyeon tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak punya tempat tinggal sekarang. Dan hal itu membuat dirinya ketakutan. Dimana dirinya tidur malam ini?

Jiyeon membawa barang-barang yang tidak seberapa banyaknya. Dia pergi, entah kemana kakinya membawanya. Tampang sudah sangat kusut. Dia kelaparan dan kedinginan. Dan dia juga letih karena harus membawa tubuhnya yang berat sekaligus barang-barangnya. Tiba-tiba dia terjatuh karena kepalanya berputar. Sebuah mobil hitam nyaris menabraknya. Pandangan Jiyeon tidak begitu jelas sehingga tidak bisa melihat siapa yeoja yang baru saja keluar dari mobil hitam yang nyaris menabraknya.

“Gwaenchanayo?” tanya yeoja itu seraya memapahnya bangun. “Mianhae…sopirku nyaris menabrakmu.”

“A-aniyo…” desah Jiyeon dengan kepala berputar-putar. “Gwaenchanayo…”

“K-kau kenapa?” tanya yeoja itu panik karena melihat wajah Jiyeon yang sangat pucat.

Tiba-tiba Jiyeon ambruk dan pingsan di tengah jalan itu. Yeoja itu kebingungan dan langsung memanggil sopirnya untuk membantunya mengangkat tubuh berat Jiyeon.

To Be Continue

Advertisements

39 thoughts on “DREAM HIGH 3 [INTRO+CHAP 1]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s