When The Snow Falls [Oneshot]

snowTitle : When The Snow Falls
Author : caseymizuhara
Casts : Xi Luhan, OC
Genre : Romance, Fluff
Rating : G
Length : Oneshot
Disclaimer : FF pernah di publish di WP pribadi (caseymizuhara.wp.com). Sorry for cheesy words :p

Kulit putih pucat milik gadis itu mulai terlihat pecah-pecah, menandakan bahwa ia sedang mengalami kekeringan. Lebih parah lagi, kulit pada bagian telapak tangannya mulai mengelupas sedikit demi sedikit dan membuat bagian itu berdarah.

Dengan keadaannya yang seperti itu, Sarah Tan tidak memiliki alasan untuk tidak membenci musim dingin kali ini meskipun saat ini ia sedang ditemani oleh kekasihnya.

“Kau terlihat tidak senang. Tidak biasanya kau seperti ini, padahal salju kesukaanmu sedang memenuhi jalanan.”

Sarah mendengus mendengar Luhan berbicara seperti itu. Ia memang menyukai salju —sangat, tetapi musim dingin kali ini benar-benar membuatnya membenci salju.

“Bagaimana aku bisa senang kalau aku kedinginan seperti ini? Lihat,” ujar Sarah sambil menunjukkan telapak tangannya yang mulai berdarah kepada Luhan. “Musim dingin kali ini benar-benar menyebalkan. Kulitku jadi kekeringan.”

Luhan memperhatikan tangan yang disodorkan tepat di depan matanya tersebut. “Kau tidak membawa gloves?”

“Mana sempat? Aku terlalu excited begitu kau bilang ingin mengajakku ke Jiuzhaigou Valley1,” kata Sarah sambil memberengut. “Aku pikir ada yang berjualan gloves di sini, jadi aku tidak membawanya.”

“Berarti itu salahmu.”

Sarah memperhatikan punggung laki-laki yang mulai berjalan mendahuluinya itu dengan wajah kesal. Dengan langkah cepat, ia mulai mensejajarkan dirinya agar dapat berada di samping kiri Luhan. “Bukan kah seharusnya kau peduli sedikit pada keadaan nu you2-mu? Oh, aku lupa. I’m dating with the most not-caring boyfriend in the world.”

Luhan berhenti berjalan. Dilepasnya glove yang terpasang di lengan sebelah kirinya. “Pakailah.”

“Hanya sebelah?”

“Pakai saja dulu.”

“Mana ada fungsinya kalau hanya dipakai sebelah?”

“Cerewet, aku bilang pakai saja.”

Masih dengan dahi berkerut, Sarah memasang glove tersebut di tangan sebelah kirinya. Tidak begitu berpengaruh, tetapi lumayan membuat dirinya merasa sedikit lebih hangat.

Luhan memperhatikan gadisnya. Terkadang, Sarah memang bisa menjadi sangat manja. Tetapi justru dengan kemanjaan itu lah, Sarah memikat Luhan. Luhan bahkan masih ingat bagaimana mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Saat itu Sarah masih merupakan seorang murid sekolah menengah. Seperti anak sekolah lainnya yang memiliki kegemaran utama berjajan, ia menyempatkan diri untuk membeli takoyaki sebelum kereta yang akan ditumpakinya tiba. Luhan —yang juga akan menumpaki kereta yang sama— berinisiatif untuk membelikan adiknya seporsi takoyaki untuk dibawa pulang. Sayangnya, takoyaki yang tersisa hanya 1 porsi karena kebetulan, takoyaki di stasiun itu memang terkenal enak.

Seperti yang dapat ditebak, mereka bertengkar demi memperebutkan takoyaki tersebut. Sebelum memutuskan siapa yang akan mendapatkannya, seorang pelanggan lain menghampiri dan membeli takoyaki sehingga tidak seorang pun dari Luhan dan Sarah mendapatkannya. Pertengkaran itu diakhiri dengan Luhan yang mentraktir Sarah takoyaki di tempat lain tak jauh dari stasiun.

Luhan tersenyum kecil ketika mengingat hal tersebut. Ia tak menyangka bahwa dirinya dan Sarah dapat berstatus lebih dari teman, padahal awalnya Sarah sangat tidak acuh dengan segala perlakuan manisnya saat masa pendekatan.

Lamunannya terhenti ketika ia mendapati wajah Sarah berada tepat di depan wajahnya. “Tidak bosan diam terus? Kau tidak mau berjalan lagi?”

“…..”

“Xi Luhan?”

Ah, hao. Ayo kita jalan lagi,” ujar Luhan sambil tertawa canggung.

Sarah terdiam dan kembali ke posisinya di sebelah kiri Luhan. Sambil berjalan, ia meremas-remas tangan kanannya yang tidak tertutup gloves. “Hen leng3…”

Leng?” tanya Luhan sambil menghadapkan wajahnya ke arah Sarah. Ia kemudian meraih tangan kanan Sarah dan memasukannya ke dalam kantung coatnya bersama dengan tangannya yang menggenggam tangan mungil itu erat. “Sekarang bagaimana? Sudah lumayan hangat?”

Sarah dapat merasakan kedua pipinya memanas. Ia yakin betul warnanya pasti sudah memerah sekarang. Kehangatan dari genggaman Luhan pada jari-jemarinya mengalir begitu cepat dan bahkan membuat ia lupa bahwa ini musim dingin. “Shi4, sudah hangat kok.”

“Hm, baguslah. Nanti begitu pulang, aku akan mengobati..”

Belum selesai Luhan berbicara, Sarah sudah memotongnya dengan sebuah kecupan di pipi, membuat Luhan terdiam untuk beberapa detik.

“Ke-kenapa? Ada apa?”

Xie xie5,” ujar Sarah sambil tersenyum. “Sudah membuatku merasa hangat. Aku janji lain kali aku akan membawa gloves ketika pergi-pergi denganmu saat musim dingin. Maafkan aku sudah merepotkanmu sampai kau harus menggenggam tanganku yang kasar ini.”

Luhan tertawa kecil. “Bodoh, untuk apa kau meminta maaf? Bukankah aku sendiri yang berinisiatif untuk menggenggam tanganmu?”

“Mhm?”

“Ya, memang agak kasar, sih. Rasanya seperti menggenggam tangan laki-laki. …. Aduh!”

Sarah memukul pelan bahu Luhan berkali-kali dengan tangan kirinya yang tidak berada di dalam kantung coat Luhan sambil memajukan bibirnya. “Kau jahat!”

“Aku, kan, berbicara jujur. Lagipula salahmu sendiri tidak mau memakai gloves.”

“Kau tidak mengingatkanku! Aku tidak peduli kau bilang tanganku kasar, tapi jangan membandingkannya dengan tangan laki-laki, dong.”

“Memang kenyataannya seperti itu, kok!” balas Luhan membela diri.

“Ya sudah. Lepaskan genggamanmu.”

“Tidak mau.”

“Aku bilas lepas-”

Luhan membungkam ocehan Sarah dengan sebuah lip lock. Sambil tersenyum puas, ia melepaskannya. “Jangan sekali-kali menyuruhku melepaskan genggamanku pada tanganmu lagi atau aku akan menciummu lebih lama dari yang tadi.”

“Dasar diktator,” gerutu Sarah.

“Terima kasih untuk pujiannya.”

“Itu bukan pujian, bodoh.”

“Terdengar seperti pujian di telingaku.”

“Bukan!” seru Sarah.

Dengan memasang wajah tak acuh, Luhan menutup kedua telinganya dengan tangan. “Kau ini berisik sekali, sih.”

“Xi Luhan, wo ai ni!!” seru Sarah makin kencang.

Luhan melepas tangan yang menutupi telinganya. “Apa? Bisa kau katakan sekali lagi? Aku tidak mendengarnya barusan.”

“Aku bilang, aku benci sekali padamu.”

Luhan tertawa pelan sambil mengacak rambut Sarah.

“Apa?”

Wo ye ai ni, wo de nu ren6.”

1Jiuzhaigou Valley = sebuah tempat wisata di China.

2Nu you = kekasih perempuan/girlfriend.

3Hen leng = sangat dingin ; leng = dingin.

4Shi = ya.

5Xie xie = terima kasih.

6Wo ye ai ni, wo de nu ren = aku juga mencintaimu, gadisku.

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s