Vampires Love [Chapter 2]

Vampires LovePrev: [1]

Cast:

Kim Jongin | Park Jiyeon | Bae Suzy

Other Cast:

Byun Baekhyun | Oh Sehun | Jung Krystal

Genre:

Fantasy | Angst | Romance | School life | Supernatural

Length :

Multichapter

Rating: PG – 13

Mian typos bertebaran di mana-mana

Happy Reading chingu……..

Suzy terdiam saat Jongin bertanya apakah dia tidak mengenali Jongin?

“Siapapun kamu, itu tidak penting bagiku,” ketus Suzy. Dia tidak peduli pada apapun dan siapapun. Menurutnya yang terpenting adalah para vampir harus dibunuh secepatnya.

Jiyeon menatap lekat-lekat pada Suzy yang terlihat sedikit gemetar. Dengan berkonsentrasi penuh, Jiyeon berusaha umtuk membaca masa lalu Suzy yang berhubungan dengan Jongin. Dia yakin pasti diantara Jongin dan Suzy ada sesuatu yang disembunyikan.
Mwo? Tidak mungkin seperti itu?’ batin Jiyeon saat sudah dapat membaca masa lalu Suzy meski hanya sekejap. Pandangan Jiyeon beralih dari Suzy ke Jongin. Namja itu masih menatap Suzy dengan penuh harapan. ‘Kim Jongin, siapa kau sebenarnya?‘ tanya Jiyeon dalam hati.

“Park Jiyeon! Kenapankau diam saja, eoh? Kau tidak berani menyelamatkan yeoja yang kau anggap dongsaeng ini?” tanya Suzy sinis.
Jiyeon tersentak kaget naaun dia berhasil menyembunyikan ekspresinya itu dari Suzy. “Kau pasti tahu kalau aku tidak mungkin membiarkan Krystal terluka. Bukan hanya Krystal. Aku tidak akan membiarkan siapapun terluka, baik itu manusia maupun vampir. Bae Suzy, sebenarnya yang harus dibunuh itu kau atau aku?” tanya Jiyeon yang tak kalah sinis dari Suzy. Lensa mata yeoja cantik berwajah pucat itu berubah merah membara seakan ingin menerkam mangsanya.
“Sok pahlawan!” ketus Suzy.

Slaaap!
Jiyeon berdiri di belakang Suzy dalam sekejap mata. “Aku ingin bertanya padamu. Sebenarnya yang harus dibunuh itu pemburu atau vampir? Perbuatanmu lebih buruk dan lebih buas dari para vampir.”
“Kau ingin memancing kemarahanku?” Suzy berbalik menghadap Jiyeon. Tangannya masih memegang leher Krystal yang memerah.
“Eonni…” lirih Krystal merasa kesakitan.
“Marahlah Bae Suzy, hadapi aku jika kau ingin bertarung denganku. Jangan berpikir bahwa aku lebih lemah dari Kris oppa yang telah kau bunuh.”

Sehun dan Jongin terperanjat kaget.
“Mwoya? Jadi kau yang membunuh Kris hyung?!” teriak Sehun yang mencapai puncak emosinya. Kedua tangannya mengepal ingin segera menghajar Suzy namun Jiyeon memberikan isyarat padanya untuk bersabar dulu.

Suzy tersenyum evil. “Memang benar. Akulah yang membunuh Kris. Kenapa? Kau ingin balas dendam atau ingin menyusulnya?”

“Kau yeoja kurang ajar. Perbuatanmu sangat terkutuk. Seharusnya kau bukan manusia. Tak ada manusia seperti dirimu.” Sehun mengeluarkan kata-kata deegan amarah yang siap membludak.

“Lepaskan Krystal. Jika kau ingin membunuh vampir, silahkan bunuh daja aku.” Jiyeon semakin mendekati Suzy yang mundur pelan-pelan dan masih menyandera Krystal.

“Aku bilang bunuh saja aku, jangan sakiti manusia. Bukankah kau juga masih manusia? Atau kau ingin aku mengubahmu menjadi seperti kami?”
“Park Jiyeon, mulutmu memang berbisa. Dengan mudahnya kau menyerahkan dorimu. Apa kau pikir aku tidak curiga.”
“Hmm, kau memang tidak bodoh, Bae Suzy. Kau hanya tidak dapat memilih saat yang tepat untuk membunuh kami.” Kali ini Jiyeon yang tersenyum evil.

“Apa maksudmu?” tanya Suzy yang sudah semakin gemetaran.
Jiyeon menarik nafas santai. Namun dalam hatinya, dia sangat mengutuk perbuatan Suzy. Bagaimanapun caranya, Krystal harus bebar dari ancaman dan kejahatan Suzy.
“Apa aku harus menceritakan semua masa lalumu di sini?”

Deg!
Suzy menajamkan matanya menatap Jiyeon. Setelah mendengar pengakuan bahwa Jiyeon tahu masa lalunya, dia segera melepaskan Krystal.
Jiyeon berhasil membuat Suzy melepaskan Krystal. Kini dia akan menjalankn rencana selanjutnya.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Suzy ketus. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Jiyeon hanya menggertaknya. Tidak mungkin Jiyeon mengetahui masa lalunya.

Jiyeon menarik nafas panjang. Kedua matanya tampak normal layaknya manusia biasa, begitu juga dengan Sehun dan Jongin.
“Maksudmu masa lalu Suzy yang mana?” tanya Jongin yang juga penasaran dengan apa yang telah diketahui oleh Jiyeon.
“Kenapa malah kau yang bertanya begitu?” tanya Sehun yang merasa aneh pada Jongin.
Jongin terdiam namun Jiyeon dapat mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.
‘Kim Jongin, aku tahu semua masa lalumu dengan yeoja pemburu vampir ini.’ Jiyeon bicara pada hatinya.

Setelah 20 menit berlalu, Suzy masih terdiam. Tak ada siapapun yang mengeluarkan kata-kata.
“Aah nuna, ayo kita pergi saja,” ajak Sehun yang sudah  tak tahan berada di tempat itu dalam waktu yang lama karena menurutnya suasana sudah menjenuhkan.
Jiyeon menatap Sehun. Saat Sehun membalikkan badan, tiba-tiba Suzy melemparkan pisau racunnya ke arah Sehun. Dengan secepat kilat, Jongin berlari ke arah Sehun hingga akhirnya pisau itu tertancap di punggungnya.
Sehun menoleh ke arah belakang, dia terkejut melihat Jongin yang semakin pucat dan lensa matanya semakin memutih.

“Jongin-a…” lirih Jiyeon. Matanya bersinar merah, siap membunuh Suzy dengan segenap kekuatannya. “Apa yang kau lakukan? Aku bilang bunuh saja aku!” Langkah Jiyeon semakin mendekati Suzy yang berdiri dengan sebuah pisau di tangannya.

“Aku tidak takut padamu. Mendekatlah, Park Jiyeon. Aku masih memiliki banyak pisau untuk ku tancapkan di tubuhmu hingga matamu memutih dan tak bernafas lagi.” Suzy menggenggam batang pisau yang siap ia tancapkan di jantung Jiyeon.

Langkah terakhir Jiyeon sebelum menyerang Suzy dengan dioengkapi dengan loncatan ke arah yeoja pemburu vampir itu. Jiyeon menarik tangan Suzy yang tengah memegang pisau. Kekuatan Suzy kalah oleh Jiyeon sehingga dia terjatuh ke belakang dan pisau yang ia pegang terjatuh di samping tubuhnya. Suzy nampak marah dan ketakutan. Ia takut tidak bisa melawan Jiyeon.

“Bangunlah Bae Suzy!” Jiyeon mencekik leher Suzy dan memaksa yeoja itu berdiri. Suzy mengambil pisau dari balik punggungnya. Saat dia hendak menancapkan pisau itu ke jantung Jiyeon, tiba-tiba seseorang merebut tubuh Suzy dari tangan Jiyeon dan membantingnya hingga membentur pintu yang digunakan sebagai akses menuju atap sekolah itu.
Suzy memuntahkan cairan kental berwarna merah kehitaman dari mulutnya.

“Apa kau masih ingin melawan kami?” Suara seseorang yang sangat dikenal Jiyeon terdengar lirih di atap sekolah karena hembusan angin yang cukup kencang.
Suzu menatap Jiyeon. Dia terbatuk-batuk dan masih mengeluarkan darah dari mulutnya. “Kau memang kuat, Byun Baekhyun.”

Baekhyun tersenyum sinis. “Rupanya kau masih mau mengakui kekuatanku.”
“Aku tidak akan melupakan teman lama sepertimu.” Suzy memegang dadanya yang terasa nyeri.
“Rupanya kau sulit dibunuh, sama seperti kami.” Baekhyun mendekati Suzy. Kedua matanya yang tadi berwarna merah terang, kini telah mormal kembali. Baekhyun memang merupakan salah satu vampir yang dapat mengendalikan amarahnya dengan mudah, seperti Jongin dan Jiyeon.

Di atap sekolah itu, hanya ada Baekhyun, Suzy, dan Krystal. Sedangkan Sehun dan Jiyeon telah pergi untuk menyelamatkan nyawa Jongin yang terancam karena perbuatan Suzy.

Sehun dan Jiyeon membawa Jongin ke markas mereka yang terletak di tengah hutan belantara. Sebenarnya hutan itu tidaklah nyata. Ya, hutan tempat tinggal para vampir itu sebenarnya hanya hutan biasa, namun mereka telah mengubahnya menjadi hutan belantara. Manusia hanya bisa melihat hutan itu seperti hutan biasa, tak ada kata ‘lebat’.

“Letakkan tubuhnya di sini, aku akan memanggil eonni.” Jiyeon memberikan perintah kepada Sehun untuk meletakkan tubuh Jongin di atas ranjang miliknya.
Sehun yang membawa tubuh Jongin di atas punggungnya segera menuruti kata-kata nuna kesayangannya itu.
Setelah tubuh Jongin tergeletak di atas ranjang, Sehun memeriksa tubuh vampir yang sudah menghitam itu.
“Jongin-ssi, aku memang tak terlalu mengenalmu. Tapi aku akan menolongmu karena kau mengorbankan dirimu demi aku.”

Tap tap tap!
“Sehun-a, bagaimana keadaan tubuhnya?” Kim Ji Won datang bersama Jiyeon. Eonni yang dimaksud Jiyeon tadi adalah Kim Ji Won. Seorang manusia yang ahli dalam hal ramuan dan kesehatan vampir.
“Tubuhnya semakin menghitam, nuna.”

Ji Won mendekati tubuh Jongin. Tanpa aba-aba, dia duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang tak lepas dari vampir tampan yang hampir lenyap dari muka bumi itu. “Ulurkan tangan kalian berdua!” perintah Ji Won pada Jiyeon dan Sehun yang langsung dituruti oleh mereka berdua.
Dengan suka rela, Jiyeon dan Sehun membantu Ji Won menyalurkan hawa murni mereka pada Jongin yang tergeletak tak berdaya.

“Nuna, tubuhnya sudah tak sehitam tadi. Tapi kenapa perubahannya tak ada perkembangan?” tanya Sehun yang menatap lekat tubuh namja vampir di depannya.
Jiyeon dan Ji Won juga menatap tubuh itu dengan penuh kekhawatiran.
“Hawa murni yang kita berikan untuknya tidak cukup untuk memulihkan organ tubuhnya yang telah rusak karena pengaruh racun itu.”
“Mwo?” Jiyeon mengerutkan keningnya. “Kenapa bisa begitu?”
Ji Won menatap Jiyeon dan Sehun secara bergantian. “Dia membutuhkan darah manudia.”
“Mwoya? Darah manusia? Tapi, bukankah Jongin tak mengonsumsi darah manusia?” Sehun terlihat sangat serius membahas keselamatan Jongin.
“Kau benar, Sehun-a. Bagaimanapun juga, darah manusia merupakan sumber kekuatan bagi setiap vampir, apapun jenis makanan vampir itu.”
“Aku akan membawakannya, nuna.”
“Sehun-a, biar aku saja yang melakukannya. Kau di sini saja untuk mengamati perkembangan tubuhnya.”
Jiyeon membalikkan badan untuk segera mencarikan darah manusia untuk Jongin.
“Tunggi!” seru Ji Won yang sukses menghentikan langkah Jiyeon.
Jiyeon menoleh ke belakang.
“Kau harus membawa seorang manusia ke sini. Hmm, anhi. Jangan hanya satu. Bawa tiga orang manusia ke sini. Yang aku maksud darah itu adalah darah yang dihisap langsung dari tubuh manusia,” jelas Jo Won.
“Mwo? Manusia? Apa harus seperti itu?” Jiyeon mengerutkan keningnya.
Ji Won mengangguk. “Hanya itu caranya.”
Jiyeon berpikir bagaimana dia bisa keluar mencari darah untuk Jongin. Yeoja vampir itu terduduk lemas di atas sofa berwarna merah yang berada tepat di belakangnya.
‘Bagaimana aku bisa mendapatkan 3 orang manusia untuk dihisap darahnya?‘ tanya Jiyeon dalam hati. Jangan kan 3 orang, membawa satu orang pun Jiyeon belum tentu sanggup karena ia sangat melindungi manusia.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tiba-tiba Baekhyun muncul di depan Jiyeon.
“Omo!” Jiyeon hampir saja menyerang Baekhyun karena ia mengira ada musuh yang datang. Dia bisaabernafas lega setelah mengetahui bahwa Baekhyun lah yang datang. Namja itu tidak datang sendirian, tetapi bersama seseorang.

“Oppa, bagaimana dengan Suzy?” tanya Jiyeon yang tiba-tiba teringat nasib Suzy.
“Kasihan sekali yeoja itu.” Baekhyun menyusul Jiyeon duduk di atas sofa berwarna merah.
“Apa dia melarikan diri?”
“Anhi. Saat aku akan mendekatinya untuk bertanya tentang sesuatu, seseorang berhasil menyerangku dan mengambil Suzy dariku.”
Jiyeon terdiam sesaat. Rupanya dia tidak mendengarkan jawaban dari Baekhyun yang menjelaskan panjang-lebar padanya.
“Jiyeon-a,” panggil Baekhyun deegan menyentuh bahu Jiyeon yang berhasil membuat yeoja itu tersentak kaget.
“Ada apa?”
Jiyeon menatap mata Baekhyun. Ia dapat melihat masa lalu Baekhyun dari sorot matanya. Tak lama kemudian, Jiyeon tersadar.
“Oppa, ada sesuatu yang harus aku lakukan.” Jiyeon beranjak meninggalkan Baekhyun sendirian di ruang tengah. Sementara itu, langkah Jiyeon terayun menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Cekleek!
Suara pintu yang terbuka membuat Ji Won menoleh dengan dahi berkerut.
“Jiyeon-a…” lirih Ji Won.
Jiyeon tak menghiraukan Ji Won yang sedari tadi menatapnya.
“Jiyeon-a, ada apa?” tanya Ji Won yang melihat Jiyeon mendekati Jongin.
Pandangan Jiyeon terpusat pada Jongin yang tengah menutup mata rapat-rapat. Dia memegang tangan Jongin dan berkonsentrasi untuk dapat melihat masa lalu namja itu.
“Jiyeon-a, hentikan. Jangan lakukan hal itu!” seru Ji Won yang melihat kulit tubuh Jiyeon semakin menghitam, sama seperti Jongin. “Jiyeon-a!” bentak Ji Won karena tak mendapat respon dari Jiyeon.
Sementara itu, Jiyeon terus melakukan apa yang membuatnya semakin melemah. Ya, Jiyeon melakukan konrak fisik dan batin dengan Jongin supaya dia dapat melihat masa lalu Jongin yang sulit dilihat olehnya.

“Nuna, ada apa?” Sehun datang dengan nafas yang memburu.
Ji Won menunjuk ke arah Jiyeon yang tak mau melepaskan tangan Jongin sedikitpun.
Sehun mendekati Jiyeon. “Nuna, lepaskan tangannya.” Dia meraih tangan Jiyeon dan ingin melepaskannya dari tangan Jongin. “Hentikan nuna, kau bisa mati jika terus melakukannya.”

Tiba-tiba Jiyeon membuka kedua matanya setelah tadi menutup mata rapat-rapat untuk membaca masa lalu Jongin. Nafasnya terengah-engah, lalu dia menatap Sehun yang duduk di sampingnya.
“Nuna, apa yang terjadi?” Sehun terkejut melihat Jiyeon yang menitikkan airmata dan lensa matanya nampak merah.
“Suzy, di mana Bae Suzy?” lirih Jiyeon dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya. Jiyeon berdiri dan ingin keluar dari ruangan itu.
“Nuna!” Sehun menahan Jiyeon dengan menarik tangannya.

“Ada apa ini?” tanya Baekhyun yang baru saja tiba di ruangan itu.
“Dia baru saja melakukan kontak fisik dan batin dengan Jongin,” jawab Ji Won.
“Sehun-a, lepaskan tanganku!”
“Aku tidak akan melepaskannya. Nuna, lihatlah dirimu. Kau tidak ada bedanya dengan Jongin.” Sehun tetap bersikukuh menahan Jiyeon agar tak beranjak sedikit pun dari ruangan itu.
“Jiyeon-a, apa yang terjadi?” tanya Baekhyun dengan nada lembut.
“Oppa, di mana Bae Suzy? Beri tahu aku di mana yeoja itu sekarang?” Jiyeon malah balik bertanya kepada Baekhyun.
“Aku tidk tahu di mana dia berada. Memangnya ada apa?”
“Aku harus menemukannya.” Jiyeon mengayunkan kakinya satu langkah lalu tiba-tiba berhenti. Dia berbalik menghadap Sehun yang berdiri di samping kanannya agak ke belakang. “Sehun-a, bawa Krystal kemari sekarang juga. Bilang padanya kalau aku yang menyuruhmu.” Tak lama kemudian, Jiyeon menghilang dari pandangan.

“Nuna!” seru Sehun yang tidak ingin membiarkan Jiyeon pergi dari tempat itu.
Slap!
Baekhyun pun ikut menghilang. Kini tinggal Ji Won dan Sehundi kamar itu.
“Pergilah, Sehun-a. Aku akan menjaga Jongin di sini,” kata Ji Won.
“Berhati-hatilah, nuna.”

Sebuah mobil buatan Korea Selatan melaju di tengah hutan dengan kecepatan tinggi. Yeoja yang mengendarai mobil itu tak lain adalah Jiyeon. Dia harus mengungkap masa lalu Jongin.

Jiyeon pov.
Aku tidak peduli seberapa parah kondisiku saat ini. Yang harus ku lakukan adalah menemukan Suzy atau namja itu secepat mungkin. Salah satu diantara mereka berdua atau bahkan mereka semua bisa menolong Jongin. Aku tidak bisa membawa manusia lain dalam masalah ini.
Tanpa peduli seberapa kecepatanku saat mengendarai mobil ini, aku tetap konsentrasi menemukan Suzy terlebih dahulu. Lembaran-lembaran masa lalu Jongin terus membayangiku. Ya, aku sudah tahu bagaimana hubungan Jongin dan Suzy. Aku juga harus menemukan saudara kembar Jongin.

Ckiiiitt!
Kuhentikan laju mobil secara mendadak karena tiba-tiba aku melihat sesuatu. Penglihatanku masih sangat peka. Ya Tuhan, aku sedang tidak ingin bertarung atau terlibat perkelahian dengan vampir lain atau dengan manusia.
Bruuuum!
Aku menghiraukan vampir yang mencoba memancing kemarahanku. AKu tidak boleh lupa bahwa tujuanku adalah untuk menemukan Suzy dan namja itu. Namja itu… entah siapa namanya. Yang aku tahu adalah dia saudara kembar Kim Jongin yang harus segera ku temukan. Malam ini aku harus menuju Busan. Di sanalah Jongin lahir. Semoga aku mendapatkan petunjuk di sana.

Pukul 1 dini hari.
Tampaknya aku sudah sampai di Busan. Aku bukanlah vampir kacangan. Di kota ini, aku mencium aroma vampir yang menyengat. Dapat aku pastikan, lebih dari 100 vampir tinggal di kota ini. Sungguh bukan jumlah yang sedikit. Aku melajukan mobilku pelan-pelan menyusuri jalan di kota ini. Aku harus menemukan alamat yang terlintas di pikiranku.

Ckiit!
Aku berhenti di depan sebuah hanok sederhana. Rumah tradisional Korea yang nampak sepi dan gelap itu membuatku curiga. Mungkin inilah rumah kelahiran Jongin karena aku mencium bau darah yang sangat anyir dan hawa dingin yang menyelimuti tubuhku. Mungkin manusia akan takut berada di sini, tetapi hal itu tidak berlaku untukku.

“Siapa kau?”
Suara yeoja? Aku segera menoleh ke belakang. Yeoja itu, sepertinya aku pernah melihatnya. Tidak secara nyata tetapi dalam pikiranku.
“Aku tanya sekali lagi, siapa kau?” tanya yeoja itu.
Aku berjalan mendekatinya. Dia malah berjalan mundur. “Aku Park Jiyeon.”
Yeoja itu mengerutkan keningnya dam aku berusaha menatap matanya untuk membaca pikirannya. Andwae! Sepertinya pikiranku terjebak di dalam masa lalu yeoja tadi.
Jiyeon pov end

Jiyeon yang tengah berdiri tegak kini terduduk di depan seorang yeoja berambut panjang, penampilannya tak jauh beda dengan hantu yang kerap kali menakuti manusia. Masih dengan misi yang harus ia jalankan, Jiyeon mencoba membaca masa lalu yeoja itu hingga akhirnya dia terjebak ke dalam ingatan yeoja paruh baya yang diketahui bernama Kim Taeyeon.

Busan, Korsel tahun 1993
Suasana kota Busan nampak sepi setelah adanya isu penyebaran vampir sampai di wilayah itu. Para vampir yang notabennya memangsa manusia berkeliaran di mana-mana hingga membuat para penduduk takut.

Jiyeon masuk ke dalam ingatan yeoja bernama Kim Taeyeon paada tahun 1993. Dia berjalan melewati beberapa kompleks hanok di kota Busan teptnya bagian selatan. Saat itu suasana sangat mencekam. Lampu-lampu jalan banyak yang mati sehingga jalan nampak sangat gelap. Jiyeon masih menyusuri jalanan tanpa seorang teman.
Tiba-tiba Jiyeon mendengar suara tangisan bayi. Bukan hanya satu bayi, nampaknya ini terdengar seperti tangisan 3 orang bayi dari sebuah hanok yang terletak di ujing jalan. Jiyeon mendekati hanok itu kemudian mengintip dari celah pintu yang terbuka.

“Selamat, nyonya! Bayi anda lahir dengan selamat.”
“Gamsahamnida,” ucap Nyonya Kim yang baru saja melahirkan anak kembarnya.
Tak lama kemudian seorang gadis kecil berumur 2 tahun menghampiri Nyonya Kim dan tersenyum senang. “Eomma, aku senang akhirnya aku punya adik.”
Nyonya Kim juga tersenyum. “Kau ingin memberi nama kedua adikmu, Ji Won-a?”

Deg!
Jiyeon sepeeti disetrum ribuan volt listrik. Ji Won? Apa dia Ji Won eonni? Jiyeon bertanya-tanya dalam hati.

“Eomma, aku ingin membwri nama adikku yang ini.” Ji Won kecil menunjuk salah satu adik bayinya.
“Baiklah, kau ingin memberi nama apa pada adikmu?”
“Aku memberi nama apa ya? Um.. bagaimana kalau Jongin?” Ji Won kecil meringis, menunjukkan deretan gigi susunya pada ibunya yang masih duduk di atas ranjang.
Nyonya Kim senang sekali karena Ji Won mau mengakui kedua bayinya sebagai adiknya. Memang seharusnya begitu karena mereka bertiga lahir dari rahim yang sama. “Baiklah, kita akan memanggil adikmu yang terkecil dengan nama Jongin. Sedangkan adikmu yang satunya biar eomma yang memberinya nama. Bagaimana kalau Kai. Apa kau setuju, Ji Won-a?”
“Aku setuju, eomma. Jadi adikku yang lebih besar itu namanya Kai dan yang terkecil namanya Jongin.”

Akhirnya Jiyeon tahu kalau sebenarnya Kim Ji Won dan Jongin bersaudara. Itu artinya Ji Won bisa menyelamatkan Jongin. Sekarang misi selanjutnya adalah menemukan Kai, saudara kembar Jongin.

Wuuush!
Jiyeon kembali ke masa sekarang di mana dia berhadapan dengan seorang yeoja paruh baya. Nafasnya terdengar memburu dan dia berusaha berdiri.
“Jeogi, apakah Anda ibu dari Kim Ji Won dan Kim Jongin?” tanya Jiyeon dengan terbata-bata.
Yeoja bernama Kim Taeyeon itu mengerutkan keningnya. “Bagaimana kau tahu?”
“Jadi ternyata benar. Kau adalah ibu dari ketiga anakmu yang bermarga Kim. Nyonya, tolong beritahu aku di mana Kai berada. Aku harus bertemu dengannya.” Jiyeon memegang tangan Taeyeon dan memohon di depannya.
“Apa urusanmu dengan putraku?” Tatapan dingin seorang Taeyeon seakan mengintimidasi Jiyeon yang berdiri di depannya.
“Nyonya, aku memiliki sesuatu yang tak bisa ku katakan sekarang. Tidak bisa, aku harus menemukan Kai terlebih dahulu. Setelah itu aku bisa mengatakan yang sebenarnya padamu, juga pada Kai. Nyonya, apa aku harus berlutut di bawah kakimu?”

Taeyeon membulatkan kedua bola matanya saat Jiyeon bersimpuh di bawah kakinya dan memohon padanya untuk memberitahu di mana keberadaan Kai sekarang.
“Kau tidak pantas melakukannya, nona. Berdirilah!” Taeyeon menuntun Jiyeon untuk menegakkan tubuhnya.
Jiyeon mendongakkan kepalanya dan menatap kedua manik mata Taeyeon.

Slaap!!
Jiyeon masuk lagi ke dalam ingatan Taeyeon. Kali ini ingatannya berbeda dengan yang tadi. Dia melihat kendaraan sudah semakin modern. Langkahnya terayun dengan cepat menyusuri gang kecil di sebuah kota yang disebut dengan Daegu. Kawasan industri yang tak pernah istirahat dari aktifitas-aktifitas warganya.
Dengan langkah yang semakin cepat, Jiyeon akhirnya menemukan suatu tempat yang dijadikan markas para pemburu vampir. Dia menyelinap masuk ke dalam rumah kumuh dan gelap itu. Jiyeon sangat berhati-hati dalam melangkahkan kakinya agar tak ada yang mendengarnya.

“Rupanya kau memilih mati, ya? Baiklah, aku bisa mengabulkan permintaanmu itu. Aah, bukan permintaan. Tetapi lebih tepatnya keinginan. Kau ingin mati di tanganku?” Seorang yeoja muda berumur sekitar 15 tahun sedang membawa sebilah pisau yang ditodongkan ke arah seorang namja tampan di depannya.
“Sabar dulu, Suzy-a. Kau harus ingat tujuan awal kita.”
“Appa, bukankah kita harus membunuhnya karena dia berteman baik dengan bangsa vampir?”
“Ya, memang benar. Tetapi jangan gegabah. Kim Kai harus mendapatkan siksaan dulu sebelum mwnjemput ajalnya.”

Jiyeon membelalakkan kedua matanya saat ia mendengar nama Kim Kai. Itukah orang yang dia cari? Kim Kai, saudara kembar Kim Jongin.

“Lakukan apapun keinginan kalian. Aku tidak takut sekalipun aku harus mati. Kalian lebih kejam dibanding para vampir itu. Aku tidak menyesal sama sekali berteman dengan mereka.”
“Diamlah, Kai! Kau tidak pantas bicara seperti itu kepada appaku. Meski kau adalah namjachingu-ku, tetapi kau telah membuat bangsa manusia semakin menderita karena kelakuan para vampir yang menjadi temanmu itu!” seru Suzy yang siap menusukkan pisau sepanjang 25 sentimeter itu ke ulu hati Kai.

Jiyeon miris melihat kelakuan Suzy dan appanya. ‘Mereka kejam sekali,’ batin Jiyeon.

“Kalian bukanlah manusia. Perbuatan kalian lebih rendah dari binatang!”
“Tutup mulutmu!” teriak appanya Suzy seraya menusukkan pisau yang dibawa oleh Suzy ke ulu hati Kai.

Jiyeon kaget melihat adegan itu. Bagaimana mungkin mereka membunuh manusia? Bukan vampir. Jiyeon mengepalkan tangannya, dia mengayunkan satu langkah untuk menyelamatkan Kai namun tiba-tiba seseorang berlari seperti angin dan membawa tubuh Kai pergi. Jiyeon mengikuti orang yang membawa Kai. Dengan kekuatan vampir, dia mampu mengimbangi kecepatan lari orang itu. Dia yakin bahwa yang membawa tubuh Kai adalah seorang vampir.

Orang yang membawa tubuh Kai tadi berhenti di depan sebuah pondok tua yang nampak angker. Dia membawanya masuk ke pondok yang terbuat dari bambu itu. Jiyeon mengikutinya dari belakang. Malam itu meruakan malam yang panjang untuk Jiyeon.

Tubuh Kai digeletakkan di atas ranjang kayu tanpa kasur. Darah merah segar mengucur deras dari ulu hati namja yang tengah sekarat karena baru saja mendapat luka tusukan. Darah itu mengotori pakaian Kai dan orang yang menyelamatkannya.
“Tenanglah putraku, aku akan menyelamatkanmu. Aku tidak bisa membiarkanmu sekarat seperti ini hingga ajal menjemputmu. Akan ku lakukan semua yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkanmu. Apapun itu. Bertahanlah.”

Jiyeon mendengar suara namja yang menyelamatkan Kai. Rupanya dia adalah appa Kai, Jongin dan Ji Won. Appa mereka adalah seorang vampir. Berarti mereka berdarah campuran. Jiyeon memasang telinganya agar dia dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

“Kim Kai, meskipun kau putra appa yang merupakan manusia, kau harus bertahan. Minumlah darah appa. Kau akan selamat selamanya hingga tak ada pisau apapun yang dapat melukaimu seperti saat ini.” Tuan Kim memberikan segelas darah segar miliknya kepada puteranya bernama Kai agar luka itu bisa segera sembuh dan dia menjadi seorang vampir.

Di luar pondok sederhana itu, Jiyeon menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tidak percaya bahwa namja itu bukanlah Jongin, tetapi Kai. Jadi, namja yang sekarang sedang sekarat dan dirawat oleh Ji Won adalah Kim Kai, namjachingu Suzy yang telah dibunuh oleh appa Suzy dan diselamatkan oleh Tuan Kim. Kim Kai lah yang akhirnya menjadi vampir seperti dirinya.
“Jadi, semua cerita tentang krluarga Kim adalah bohong. Cerita yang sebenarnya adalah yang telah aku saksikan langsung. Lalu di mana Kim Jongin?” lirih Jiyeon.
Wuuush!!

Sekembalinya ke masa sekarang, Jiyeon terduduk sedih menatap tanah yang dipijaknya. “Dia bukan Jongin…”

“Benar. Yang kau katakan memang benar. Putraku yang telah menjadi vampir seperti ayahnya adalah Kai, bukan Jongin. Kai memakai nama Jongin agar ia tak bisa diketahui oleh para pemburu vampir.”
“Apakah Anda mengetahui semuanya sejak awal? Lalu di mana Jongin sekarang?” Jiyeon menitikkan airmatanya. Dia harus bisa menyelamatkan Kai yang tengah sekarat.
Nyonya Kim masih diam seribu bahasa. Matanya berkaca-kaca mengingat segala hal yang terjadi pada anak-anaknya.
“Nyonya Kim, aku mohon. Beritahukan padaku di mana Jongin berada? Aku harus menyelamatkan Kai. Baiklah, aku berjanji padamu. Jika kau memberitahuku do mana Jongin, aku akan membawa Kim Ji Won padamu. Dia masih menjadi manusia, bukan vampir. Aku bisa membawanya padamu kapan pun kau mau.” Jiyeon masih berlutut di atas tanah deegan airmata yang mengalir membasahi wajah cantiknya.

Nyonya Kim tersentuh mendeegar nama putri sulungnya. Dia memang sangat merindukan Ji Won. Ji Won menghilang tepat saat Kai menjadi vampir sehingga nyonya Kim mengira putrinya itu telah menjadi vampir, seperti ayahnya dan Kai.

“Apa tawaranku belum cukup? Nyonya Kim, jika aku berbohong padamu, kau boleh membunuhku. Carilah pisau beracun dari para pemburu lalu tancapkan di tubuhku. Lakukan apa yang telah mereka lakukan pada Kai hari ini.”

Nyonya Kim terkejut mendengar apa yangbtelah terjadi pada Kai. “Kai… apa dia…”
“Benar, nyonya. Aku datang ke sini hanya untuk menolong Kai. Dia terkena tusukan pisau beracun milik Bae Suzy, mantan kekasihnya. Dia membutuhkan darah manusia langsung. Aku tidak bisa membawa manusia lain untuknya. Aku tidak bisa membuat manusia lain terluka demi vampir. Maka dari itu, aku mencari manusia yang masih memiliki hubungan dengan Kai agar aku tak merasa bersalah pada manusia. Kim Ji Won, putri sulungmu sedang bersamanya di tempatku.”

Dengan terseyok-seyok, Nyonya Kim berjalan mendekati Jiyeon yang tertunduk lesu.
“Tolong mengertilah, Nyonya Kim. Jika kau tidak ingin menyelamatkan putramu, setidaknya bantu aku untuk menyelamatkan satu vampir. Aku tidak bisa melihatnya tewas. Tidak untuk yang kesekian kali karena aku telah banyak menyaksikan vampir-vampir yang aku sayangi tewas di tangan pemburu hingga keluargaku sendiri yang telah menjadi vampir telah tiada karena perbuatan para pemburu.”
“Jongin…” Nyonya Kim menghela nafas panjang. “Dia ada di… carilah dia di dalam rumah itu. Lebih tepatnya di bawah tanah.” Nyonya Kim menunjuk ke arah rumah hanok sederhana yang nampak sepi. Hanya dua lampu remang-remang yang menerangi bagian depan rumah itu.

Jiyeon mengikuti arah yang ditunjuk oleh Nyonya Kim. “Apakah dia ada di tempat itu?”
Nyonya Kim tak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan anggukan kepala.

Tanpa aba-aba, Jiyeon segera berdiri dan melangkahkan kakinya yang masih kaku ke arah hanok yang berada di hadapannya. Dia merasa sedikit lega karena akhirnya bisa menemukan dua orang yang bisa menyelamatkan Kai.
“Siapapun kau, Jongin ataupun Kai, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari dunia ini. Tidak akan,” lirih Jiyeon.

Tbc

Advertisements

19 thoughts on “Vampires Love [Chapter 2]

  1. kasian jongin eh kai yg ketusuk sama pisau, jadi dia itu mantannya suzy tapi kasian banget dia jd dianiaya sama suzy padahal itu mantan pacarnya sendiri tega banget sih si suzy sampe kayak gitu ckckckck
    ayooo jiyi berusahalah mencari jongin buat nyelamatin kai, apa nanti jiwon bakal di jadiin vampir?
    aku lanjut baca ya 🙂

    Like

  2. Woah michi yeoja.. bs2x dy dan appax mau bnh namchinx sndiri.. omo ottkhae? Jd nti yg sm jiyi kai apa jonginx ya? Aigo miris bener.. jiyi baik banget y ampun.. trs kai mdh2an ga knp2 ya.. hikz..

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s