The Night Castle [Chap 1]: The Vampires Back to School

night-castle1

Title: The Night Castle

Poster and Storyline by myself

Starring:

 Luhan | Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Kim Jiwon | Lee Jong Suk | Kim Woo Bin | Yuri | Irene RV | Sulli | Nickhun

Cameo Part 1:

Lee Ahreum | Tao EXO | Lee Donghae

Genre:

Fantasy | Romance | AU | Thriller

Lenght: Multichapter

Rating:

PG – 13 atau PG-15

Cerita ini hanya fiktif belaka, berasal dari imajinasi author yang terinspirasi dari film The Vampire Diaries [TVD]  dengan alur, cast berbeda dari TVD.

FF ini pernah aku publish di tempat lain tetapi karena kurang ada respon, jadi aku publish lagi di sini.

Sorry for typos, please leave comment or like it…

Happy Reading

Chapter 1

Malam ini suasana terasa mencekam. Beberapa stasiun tv menyiarkan berita tentang kematian beberapa orang yang diduga kuat diserang oleh binatang buas. Namun dugaan itu tidak dapat dibuktikan karena serangan binatang buas tidak mungkin meninggalkan jasad korbannya secara utuh.

Jalan kota seoul tampak lengang. Masyarakat takut keluar rumah karena adanya penyerangan yang dilakukan oleh makhluk yang belum jelas identitasnya.

Sementara itu, di daerah dataran tinggi dekat kota Seoul, sebuah bangunan tua berdiri diantara rimbunan pohon pinus berhawa dingin dan terlihat kosong menyeramkan. Tidak ada aktifitas di dalam bangunan yang nampak seperti peninggalan kerajaan zaman Yunani kuno. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melihat bangunan tua itu karena alam penghuni bangunan itu sudah berbeda dengan manusia. Ya, sebut saja mereka bangsa vampire.

Bangunan tua yang merupakan tempat berkumpulnya para vampire itu disebut sebagai Kerajaan Vampir di dunia. Ada beberapa kerajaan vampire di dunia ini. Kerajaan vampire yang terbesar terletak di Koreai dan Perancis. Banyak vampire terkuat di kalangan semua vampire yang tinggal di sana, termasuk The Originals. The Originals adalah sebutan bagi mereka yang menjadi vampir dari kutukan secara langsung. Bukan vampir yang diubah oleh vampir lainnya.

“Hello sister…” sapa seorang namja berwajah putih pucat yang dengan asyiknya duduk di atas jendela salah satu ruangan di dalam istana vampire di dekat kota Seoul.

Yeoja yang dipanggil hanya tersenyum tipis, ia melirik namja yang memanggilnya dengan sebutan ‘sister’ tadi. “Hello brother,” sapa yeoja itu balik.

“Aigoo, Kim Ji Won, sudah lama aku tidak melihatmu. Ternyata vampir bisa tampak lebih cantik.”

“Hentikan omong kosongmu itu, Tao. Dengan siapa kau datang ke sini?”

“Santai sajalah, sister. Aku datang ke sini membawa berita untuk kalian yang tidak pernah meninggalkan istana sejengkal pun.”

Ji Won emosi mendengar kata-kata Tao. Namja itu sudah keterlaluan, pikir Ji Won. Wajah cantik Ji Won berubah seperti mayat yang semua urat syarafnya nampak jelas menembus kulit putihnya. Lensa matanya berubah dari coklat tua menjadi kuning cerah. Tangan kanan Ji Won mencekik leher Tao. “Katakan sekali lagi atau akan ku putuskan leher jenjangmu ini.”

“Kim Ji Won, kau memang tidak berubah. Emosimu labil.”

“Shut up! Aku bisa membunuhmu dengan mudah, Tao. Aku jauh lebih tua darimu.jangan macam-macam denganku.”

“Oh begitu rupanya… tapi kau tidak bisa sekuat mereka yang rajin minum darah manusia.”

Brakkk!! Prang!!

Ji Won membanting tubuh Tao dengan sekali lempar. Tubuh namj aitu menghantam lukisan di dinding dan menjatuhkan guci antik yang terletak di atas meja. Barang-barang itu hancur tertimpa tubuh Tao yang dilempar dengan sangat kuat oleh Ji Won. “Jaga mulutmu. Jangan sampai aku merobeknya di depan semua vampire.” Ji Won meninggalkan Tao yang tersenyum sinis di belakangnya.

Jauh dari tempat berdirinya bangunan tua milik bangsa vampire itu, sebuah peradaban manusia juga sudah lama exist dengan berbagai macam aktifitas manusia dan keragaman penduduknya. Kota Seoul, sebuah kota yang padat dengan penduduk dan kegiatannya dari pagi sampai malam hari. Siapa yang akan menyangka kalau di sekitar kota itu terdapat sebuah kerajaan vampire terbesar di dunia.

“Apa kau sudah puas?” tanya seorang yeoja berparas cantik dan pucat pada seorang namja tinggi di depannya yang baru saja menghisap habis darah manusia yang tak berdosa.

Namja itu menoleh ke arah yeoja bernama Kim JiWon. Keduanya tersenyum evil.

“Apa kau tetap menolak lezatnya darah manusia?” tanya namja itu balik.

“Daebak! Akhirnya kau menanyakan itu padaku, Kim Woo Bin.” Ji Won mendekatkan wajahnya ke wajah vampire bernama Kim Woo Bin itu. “Aku juga tahu kalau darah manusia itu sangat lezat bahkan bisa memberi kekuatan berlipat-lipat ganda pada jenis makhluk seperti kita. Tapi jangan lupa sesuatu, oppa…”

Woo Bin mengerutkan kening.

“Terkadang aku juga minum darah manusia dari kantong darah persediaan di istana. Hanya untuk menambah kekuatanku jika suatu saat mereka datang menyerang kita. Aku bisa menahan rasa laparku untuk minum darah manusia, tidak sepertimu. Karena apa? Aku adalah vampire yang berusia ratusan tahun. Seharusnya kau juga begitu.”Ji Won menghilang. Woo Bin hanya bisa tersenyum tipis atas nasehat yang diberikan dongsaengnya secaratersirat dari kata-kata yeoja itu.

“Dongsaengmu benar, hyung,” kata Luhan yang tiba-tiba muncul di depan Woo Bin.

“Kalian sama saja,” ucap Woo Bin kesal. “Yaak, Luhan-a, apa kau akan kembali ke sekolah?”

“Eoh,” jawab Luhan singkat.

“Kenapa kalian selalu kembali ke sekolah? Apa kau kurang puas dengan banyak ijazah dan gelar yang kau punya?” tanya Woo Bin dengan nada cuek dan mengejek.

“Setidaknya aku dan Ji Won masih punya kegiatan positif. Tidak sepertimu, hyung.” Luhan terlihat menyombongkan diri di depan Woo Bin.

Saat mereka berdua sednag asyik mengobrol, tiba-tiba seorang yeoja muda lewat di jalanan sepi yang hanya ada Luhan dan Woo Bin di sana. Semua indera kedua vampir itu bekerja dengan sangat amat baik. Para vampir mampu mendengar gelombang suara yang berjarak satu kilometer dari tempat mereka dan mampu mencium bau sesuatu dari jarak 300 meter. Woo Bin tersenyum evil. Senyum khas vampir nakal. Ia berpikir akan mendapat makan malam yang lezat seperti yang didapatkannya tadi. Dengan kekuatan vampirnya, Woo Bin berlari secepat kilat menemui calon korbannya. Benar saja, seorang yeoja muda berjalan sendirian di dalam gelap. Ia tampak baru pulang dari bar. Woo Bin mendekati yeoja itu.

“Annyeong…”

Yeoja yang Woo Bin sapa tentu saja kaget. Tanpa banyak kata-kata, Woo Bin meng-compell yeoja itu. Ia menatap mata yeoja itu lekat-lekat lalu berkata,”Kau akan menyerahkan dirimu padaku. Aku akan minum darahmu sampai habis.” Selesai. Yeoja itupun menurut, sesuai apa yang dikatakan oleh Woo Bin. Yeoja yang baru saja di-compel oleh Woo Bin itu menyerahkan dirinya pada namja vampir yang sedang kelaparan. Namun usaha Woo Bin untuk mendapatkan makan malam tambahan ternyata gagal.

Kim Ji Won, yeoja vampir cantik, dongsaeng Woo Bin satu-satunya yang selalu berhasil membuat Woo Bin kesal. Ji Won berhasil merebut yeoja yang akan menjadi korban keganasan Woo Bin. Dia meng-compel yeoja itu.

“Pulanglah. Kau akan lupa segala yang terjadi di sini yang baru saja kau alami.” Selesai di-compel oleh Ji Won, yeoja itu pergi.

Dengan wujud asli vampirnya, lensa mata yang berubah warna dan kulit mulusnya dipenuhi syaraf yang nampak jelas di permukaan kulitnya, Ji Won menghajar Woo Bin. Ia tidak peduli bahwa Woo Bin adalah oppanya. Kekuatannya tentu jauh di bawah oppanya.

“Kau ingin menghajarku?” tanya Woo Bin.

“Tidak hanya itu. Aku akan membunuhmu, oppa.” Ji Won menusukkan pasak kayu tepat di jantung Woo Bin. Wajahnya tampak mengering, urat syaraf seakan keluar, Woo Bin mencabut lagi pasak kayu itu.

Luhan hanya menyaksikan pertengkaran kedua vampir sahabatnya itu. Dia menggeleng dan mendesah kasar.

Keesokan harinya, Seoul Senior High School penuh dengan siswa tahun baru. Kerumunan siswa baru itu membuat para guru pusing melihatnya, terlalu banyak dan berjubel di halaman depan gedung sekolah.

“Siswa baru silahkan langsung masuk ke kelas masing-masing. Bagi yang belum mengetahui kelasnya, silahkan lihat di papan pengumuman.” Seorang guru berdiri di atas sebuah balok kayu dan berbicara memakai pengeras suara megaphone agar para siswa dapat mendengar suaranya dengan jelas.

Sesuai dengan instruksi guru tadi, semua siswa yang berkerumun di halaman kini semakin berkurang. Para siswa berbondong-bondong menuju kelasnya masing-masing.

“Jiyeon-a…” teriak seorang yeoja bernama Irene, teman lama Jiyeon saat ia tinggal di Daegu.

“Omo! Irene-a… kau juga tinggal di sini?” Jiyeon dan Irene berpelukan. Mereka merindukan satu sama lain karena hampir satu tahun tidak bertemu.

Irene pindah ke Seoul dan kini menuntut ilmu di sekolah yang sama dengan Jiyeon. jiyeon merasa sangat senang. Teman lama yang ia rindukan kini berada di dekatnya.

“Hari pertama terasa menegangkan,” kata Irene.

“Mungkin. Tapi aku tidak merasa begitu. Kita harus senang karena sekarang kita sudah SMA. Ah, itu kelas 1A. Kajja!” ajak Jiyeon pada Irene yang menggandeng erat lengan tangan kanannya.

Di ruang itu sudah ada beberapa siswa yang duduk rapi di bangkunya masing-masing. Jiyeon memilih duduk di bangku deretan kedua, di belakangnya, Irene menikmati posisi itu dengan santai. Tak lama setelah mereka berdua duduk, seorang namja tampan yang memiliki mata indah dan rambut coklat tua, duduk di sebelah kanan Jiyeon. irene yang menyadari ada namja tampan di ruangan itu pun langsung histeris namun ia menyembunyikan ekspresinya di balik buku Geografi yang sudah berada di depan matanya dengan kedua tangan yang memegang erat buku itu.

Jiyeon cukup terpesona melihat namja itu.

Seorang namja berumur sekitar 27 tahun masuk ke dalam ruang kelas 1A membawa setumpuk buku yang akan ia gunakan untuk mengajar di kelas itu.

“Welcome… perkenalkan aku Lee Donghae. Guru geografi baru di sekolah ini. Baru kali ini kita bertemu, kan? Senang bertemu dengan kalian.”

“Nado…” jawab para siswa serempak.

Tok tok tok!!

Semua mata tertuju pada pintu yang baru saja diketuk.

“Masuklah!” perintah Donghae.

Seorang yeoja berparas cute dengan rambut panjang yang dikuncir ekor kuda, masuk ke ruang kelas dengan senyum menghias wajah cantiknya.

“Kau terlambat? Apa kau siswa di kelas ini juga?” tanya Donghae.

“Nde, songsaenim,” jawab yeoja itu semangat.

“Baiklah, silahkan duduk di bangku yang tersisa.”

Yeoja itupun menurut. Ia duduk di samping kiri Jiyeon.

“Jeogi, bolehkah aku pinjam pulpenmu?”

“Eoh, nde. Igeo.” Jiyeon memberikan pulpennya yang lain pada yeoja yang terlambat tadi.

“Kenalkan, Kim Ji Won imnida.” Ji Won mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jiyeon. Jiyeon menerimanya.

Luhan dapat mendengar percakapan antara Jiyeon dengan Ji Won dengan jelas. Tentu saja, indera pendengarannya sangat sangat tajam.

Bel pulang berbunyi. Jiyeon merasa sangat lelah setengah hari duduk di atas bangku, memutar otak, berpikir, mencerna kata-kata gurunya. Pekerjaan yang membosankan. Sepulang sekolah, para siswa baru berkumpul di depan mading lagi. Kali ini mereka ingin melihat nomor kamar asrama yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah. Jiyeon dan Irene kesulitan mencari nama mereka. Banyak sekali siswa baru tahun ini.

“Jiyeon-a, aku sudah menemukan namaku. Kamar nomor 075.” Irene keluar dari kerumunan yeoja yang belum menemukan nomor kamar mereka.

“Aaah, aku juga sudah menemukan namaku, aku di kamar 075…”

“Omo! Kita sekamar. Huwaaah menyenangkan sekali!” teriak Irene histeris karena terlalu senang. Dia sekamar dengan Jiyeon yang notabennya adalah sahabat dan teman sekelasnya.

“Yaak, Jiyeon-a, Irene-a…” panggil Myungsoo dari jarak 10 meter.

“Kim Myungsoo!” seru Jiyeon senang melihat namja bernama Kim Myungsoo. Sebenarnya Myungsoo adalah sunbae Jiyeon dan Irene. Dulu ia pernah kecelakaan sampai harus menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa bulan. Akhirnya ia tinggal kelas dan kini sekelas dengan Jiyeon dan Irene.

“Oppa, kenapa tadi kau tidak masuk sekolah? Tapi sekarang kau malah muncul saat sekolah sebentar lagi sepi…” Irene terkadang memanggil Myungsoo dengan panggilan ‘oppa’, kadnag juga hanya namanya ‘Kim Myungsoo’. Begitu juga Jiyeon. myungsoo tetap terima dipanggil apapun oleh mereka berdua.

“Aku tidak tahu kalau ternyata sekelas dengan kalian. Tadi pagi saat melihat papan pengumuman, tidak ada apapun di sana. Kertas pengumumannya sudah dibuang,” terang Myungsoo dengan tampang memelas.

“Aigoo oppa, kau tidak perlu memasang tampang sedihmu itu. Kami tidak terpengaruh,” goda Jiyeon.

“Malam ini, kita harus menyambut teman asrama kita, Irene-a.”

“Eoh. Aku sudah menyiapkan balon dan kue. Oh iya, mana cola yang kau pesan tadi?” tanya Irene yang sibuk menyiapkan makanan untuk pesta penyambutan itu.

“Sudah aku masukkan ke dalam kulkas. Kita keluarkan dari kulkas nanti saja. Ngomong-ngomong, siapa teman sekamar kita?” tanya Jiyeon.

Irene mengangkat kedua bahunya tanda bahwa ia juga tidak tahu siapa yang akan menjadi teman sekamar mereka.

“Semoga saja orangnya baik dan ramah.”

“Eoh, semoga saja,” sahut Jiyeon.

Tok tok tok!!

“Apa mungkin itu orangnya? Tapi kenapa cepat sekali? Bahkan sekarang masih sore. Katanya dia akan datang malam hari.” Jiyeon saling pandang dengan Irene. Irene mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa ia juga tidak tahu.

Cekleeekk…

Pintu dibuka oleh Irene. Betapa terkejutnya yeoja itu saat melihat siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya.

“Annyeong…” sapa Myungsoo yang tiba-tiba muncul di depan pintu asrama Jiyeon dan Irene.

“Yaak, Kim Myungsoo! Apa yang kau lakukan di asrama yeoja, eoh?” Irene mendekati Myungsoo dan siap menerkam namja itu.

“Aku datang untuk mentraktir kalian.”

“Kau datang di saat yang tidak tepat,” sahut Irene yang berjaga-jaga di depan pintu. Takut kalau nanti Myungsoo bakal masuk ke dalam kamarnya dan jika ketua asrama tahu, mereka akan diskors entah berapa lamanya.

“Wae?” tanya Myungsoo polos.

“Oppa, aku dan Irene sedang menyiapkan acara untuk menyambut teman sekamar kami,” jelas Jiyeon yang mendekati Myungsoo dan Irene di depan pintu.

“Mwo? Sejak kapan di sini ada acara seperti itu?” Myungsoo mengingat-ingat sesuatu.

“Pergilah, oppa. Kita bertemu di sekolah besok pagi, nde?” bujuk Jiyeon.

Kim Myungsoo tidak bisa menolak permintaan yeoja yang satu ini. Entah kenapa setiap keinginan Jiyeon selalu ia turuti padahal Myungsoo bukanlah namjachingu Jiyeon.

“Araseo… Aku akan pergi sekarang. Oh ya, apa di kelas kita ada yeoja cantik?” tanya Myungsoo sebelum ia pergi dari asrama yeoja.

“Ada,” jawab Irene.

“Nugu?”

“Nan.”

Myungsoo tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Irene kesal padanya hingga yeoja itu menarik Myungsoo menjauhi pintu kamarnya.

Myungsoo telah pergi. Irene masuk lagi ke kamarnya. Saat hendak menutup pintu, tiba-tiba asrama yeoja gempar.

Aaaaarrgh!!

Terdengar jeritan seseorang yang sedang ketakutan. Irene membuka daun pintu yang dipegangnya lebar-lebar. Jiyeon berdiri di samping Irene, di depan pintu.

“Suara yeoja tadi, apa kau juga mendengarnya?” tanya Jiyeon,. Ia sedikit merinding.

“Eoh, aku juga mendengarnya. Tapi siapa yang emnjerit seperti itu?”

Pertanyaan Irene tidak ada yang bisa menjawab karena Jiyeon juga tidak tahu apa yang terjadi pada yeoja yang menjerit tadi. Tak berapa lama kemudian, beberapa orang yeoja berhambur keluar dari kamarnya dengan ekspresi ketakutan. Jiyeon dan Irene tambah bingung. Sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Tap Tap Tap!!

Ji Won berjalan melewati beberapa yeoja yang berhambur ketakutan di dalam asrama. Ia pun bingung, apa yang terjadi?

Akhirnya Ji Won sampai di depan kamarnar asramanya. Kamar nomor 075. Ya, kamar yang dihuni oleh Jiyeon dan Irene. Kebetulan mereka berdua masih berdiri di depan pintu.

“Annyeonghaseo…” sapa Ji Won ramah.

“Annyeong…” balas Jiyeon dan Irene kompak.

“Apa kau juga akan tinggal di kamar ini?” tanya Jiyeon ragu.

“Nde,” jawab Ji Won singkat dengan seulas senyum di bibir tipisnya. “Joneun Kim Ji Won imnida.”

“Irene imnida.”

“Park Jiyeon imnida. Bukankah kita sekelas?”

“Nde, kebetulan kita juga sekelas. Waah senang bertemu dengan kalian,” kata Ji Won. Tiba-tiba ia terdiam. Indera pendengarannya menangkap suara beberapa orang yeoja yang ketakutan sedang mengobrol.

“Lee Ahreum tewas diterkam binatang buas? Bagaimana mungkin di sini ada binatang buas? Aku sama sekali tidak melihatnya.”

“Eoh, nado. Apa mungkin dia dibunuh oleh vampir? Di lehernya da bekas gigitan taring kecil dan noda darah, apa masuk akal jika yang menyerang adalah binatang buas?”

“Aku tidak yakin. Tapi apakah mungkin ini ulah vampir? Apa vampir itu memang ada?”

Ji Won bergegas pergi.

“Kim Ji Won, eodikka?” tanya Jiyeon dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya Ji Won dapat mendengar suaranya. Ternyata yeooja yang ditanya tidak menjawab, bahkan tidak menoleh sedikit pun. Karena khawatir, Jiyeon menyusul Ji Won menuju lokasi pembunuhan.

Di sepanjang koridor menuju kamar yang menjadi pusat perhatian, Jiyeon mengikuti langkah Ji Won. Mereka melangkah semakin kalau Jiyeon mengikuti langkahnya di belakang. Tetapi ia tetap diam, karena mungkin Jiyeon penasaran kemana ia pergi.

Jiyeon dan Ji Won melihat sekelabat bayangan di sekitar mereka. Ji Won tahu siapa yang melakukannya namun ia tidak mungkin memburu makhluk itu di depan Jiyeon.

Sampai di lokasi kejadian, beberapa orang yeoja yang berani, berkerumun di depan sebuah kamar, tepatnya kamar nomor 097. Ji Won masuk ke dalam kamar tersebut. Jiyeon ingin menyusul Ji Won ke dalam kamar namun ia ragu. Apakah ia akan kuat melihat jenazah yeoja yang menjadi korban pembunuhan? Karena rasa penasarannya sangat tinggi, Jiyeon memberanikan diri masuk ke dalam kamar itu. Di sana ada seorang polisi, guru, ketua asrama dan Ji Won.

“Lee Ahreum?” lirih Jiyeon. Ji Won yang dapat mendengar suara Jiyeon pun menoleh.

“Apa kalian kenal dengan yeoja ini?” tanya seorang polisi yang stand by di sana.

“Dia Lee Ahreum. Siswa baru. Aku baru mengenalnya saat berjalan menuju asrama sore tadi,” terang Jiyeon dengan tegas.

“Jenazahnya akan dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi,” kata polisi itu.

“Apa ada luka lain selain bekas gigitan di lehernya?” tanya Ji Won curiga.

“Ada. Punggung korban digores dengan menggunakan benda tajam. Kami curiga benda yang digunakan adalah gunting atau…”

“Atau apa?” tanya Ji Won lagi.

“Cakar. Jika yang melakukannya adalah hewan buas, tentu hewan itu sekarang masih ada di sini. Tapi jika yang melakukan manusia, rasanya tidak mungkin karena korban kehabisan darah,” jelas polisi itu dengan kening berkerut dan kedua bola mata yang menatap tajam jenazah yang tergeletak di depannya.

Setelah mendengar penjelasan dari polisi itu, Ji Won segera pergi keluar dnegna langkah tergesa-gesa. Sepertinya dia tahu siapa pelaku pembunuhan ini.

Jiyeon hanya bisa bengong. Ia tidak menyangka Ahreum akan meninggal dengan cara yang mengenaskan. Jiyeon ingat bahwa Ahreum tadi mengatakan kalau dirinya adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan di wilayah Jeju. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa pelaku pembunuhan Ahreum. Anhi, lebih tepatnya apa yang membunuh Ahreum. Akal pikiran Jiyeon tidak sanggup memikirkannya, akhirnya ia memutuskan kembali ke kamarnya.

Tap tap tap!!

Terdengar suara sepatu boot milik Ji Won. Ia sedang tergesa-gesa mencari seorang vampir yang ia yakini adalah pelaku pembunuhan di asramanya. Raut wajah Ji Won tampak serius, ia geram pada pelaku pembunuhan itu. Ji Won melewati petugas yang membawa kantong-kantong darah yang disimpan di dalam kotak berisi es. Ia mencegat mereka kemudian mengambil satu kantong darah dan meminumnya sambil berjalan.

“Ji Won-a!” panggil Luhan.

Ji Won menghentikan langkahnya karena dalam hitungan detik, Luhan sudah berdiri di depannya.

“Waegurae? Tidak biasanya kau minum darah…” Luhan heran melihat Ji Won yang dengan cepat menghabiskan darah di kantong yang ia pegang.

Lensa mata Jiyeon sudah berubah warna. Luhan semakin curiga.

“Yaak, Ji Won-a, jawab aku. Ada apa?” Luhan memegang lengan Ji Won.

“Tao, eodiseo? Dimana dia, oppa?” tanya Ji Won dengan suara parau.

“Dia ada di kamarku.”

Tanpa babibu, Ji Won melesat ke kamar Luhan.

Blaamm!!

Ji Won mendobrak pintu yang terbuat dari kayu pilihan. Kemarahannya sudah memuncak. Tao yang sedang bersantai di atas ranjang milik Luhan, dibuat kaget oleh suara pintu yang berdebam jatuh ke lantai. Luhan sudah ada di belakang Ji Won.

Secepat kilat, Ji Won mencekik leher Tao.

“Yaak, ige mwoya?” tanya Tao.

“Aku tahu kau yang melakukannya!” bentak Ji Won.

“Ji Won-a, ada apa ini? Lepaskan Tao!” seru Luhan pada Ji Won namun yeoja itu tidak mengindahkan kata-kata Luhan.

Ji Won membanting tubuh Tao dengan sangat kuat. Seperti biasa, saat dalam keadaan marah, sebagai seorang vampir, kulit putih Ji Won yang mulus diwarnai banyak garis-garis seperti urat syaraf berwarna hitam, taringnya keluar, kedua lensa matanya juga sudah berubah warna dari tadi. Yeoja itu mengambil tongkat pemukul bisbol milik Luhan lalu mematahkannya. Kemudian dia menghampiri Tao yang sudah berdiri tegak di samping ranjang Luhan.

“Ji Won-a, keumanhae!” teriak Luhan.

“Oppa, kau tahu apa yang dilakukan vampir tak tahu diri itu?” tanya Ji Won dengan suara penuh amarah pada Luhan. Jari telunjuknya diarahkan pada Tao.

“Mwoya?” tanya Luhan.

“Namja kurang ajar itu telah membunuh salah satu siswa di asramaku.”

Luhan kaget. Tiba-tiba muncul Woo Bin yang langsung memegang lengan Ji Won.

“Sudahlah, sister. Pergilah!” kata Woo Bin.

Ji Won menghempaskan tangan Woo Bin yang memegang lengannya. Woo Bin tampak kesal.

“Wae? Kau tidak perlu ikut campur, oppa!” ketus Ji Won. “Ini urusanku dengan namja itu.”

“Kim Ji Won!” bentak Woo Bin. “Kalau kau membunuh vampir asing itu di sini, kau akan dihukum oleh raja.”

Ji Won tersadar. Benar apa yang dikatakan oleh oppanya. Ia bisa dihukum mati jika membunuh vampir asing di istana vampir itu. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Ji Won bergegas keluar dari kamar Luhan. Kamar itu sangat berantakan akibat ulah Ji Won.

Woo Bin menyusul dongsaengnya. Sedangkan Luhan, ia menghampiri Tao.

“Apakah yang dikatakan Ji Won benar?” tanya Luhan pada Tao yang terlihat takut. Ia takut kalau Ji Won akan membunuhnya atau melaporkan perbuatannya pada raja vampir di Korea.

“Aku harus pulang,” kata Tao.

Luhan menarik bahu Tao. “Kau tidak perlu tergesa-gesa seperti itu.”

“Hyung, apa ini?” protes Tao karena kedua tangannya diborgol oleh Luhan.

“Mian. Apapun jawabanmu, aku lebih percaya pada Ji Won.” Luhan meninggalkan Tao di kamarnya.

Di dalam kamar, Jiyeon dan Irene merasa sedikit takut. Bagaimana jika nanti makhluk itu membunuh mereka? Bukankah di asrama tidak aman…

“Irene-a, aku keluar dulu, nde…”

“Yaak, eodikka?”

“Aku hanya sebentar. Hanya ingin pergi ke toko kue dan melihat-lihat update buku di toko buku dekat sekolah. Aku lupa kalau belum mengerjakan tugas dari Lee songsaenim. Jadi aku akan membeli beberapa buku nantinya.”

“Kau kan bisa melihat punyaku.”

“Yaak, apa-apaan kau itu? Shireo! Punyamu tidak begitu bagus.”

“Enak saja…”

Jiyeon pergi keluar asrama utnuk membeli apa yang ia butuhkan. Waktu yang ia punya tidak banyak karena tugasnya belum ia selesaikan.

Jalanan begitu sepi. Pembunuhan yang merebak membuat masyarakat enggan keluar malam. Sebenarnya Jiyeon juga takut keluar malam-malam apalagi sendirian. Ia harus melawan rasa takutnya, jika ia mati terbunuh, mungkin itu sudah takdirnya, pikir Jiyeon.

Tidak lama lagi Jiyeon sampai di toko buku. Ia mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai di toko buku. Dari kejauhan Jiyeon melihat seorang namja sedang duduk melamun di depan toko buku. Namja itu, sepertinya ia pernah melihatnya. Jiyeon semakin dekat. Benar, dia namja yang sekelas dengannya tapi Jiyeon tidak tahu nama namja itu.

Jiyeon berjalan melewati namja itu. Mungkin namja itu tidak melihat Jiyeon karena ia tengah asyik melamun.

“Kau mau membeli buku untuk tugas besok?” tanya namja itu.

Jiyeon yang sedang menaiki tangga di depan toko buku tersentak kaget. Bagaimana namja itu tahu kalau dia sedang mencari buku untuk menyelesaikan tugas besok?

“Nde. Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Jiyeon penasaran.

“Jika kau mau, pakai saja buku ini. aku baru membelinya.” Luhan memberikan buku yang baru ia beli kepada Jiyeon.

“Ta, tapi bagaimana denganmu?” tanya Jiyeon lagi.

“Tugasku sudah selesai.” Luhan tidak memerlukan buku untuk menyelesaikan tugasnya. Ia sudah puluhan kali bersekolah atau kuliah, bahkan ijazah yang ia miliki sudah setumpuk. Cukup untuk bantal tidur.

“Eoh, gomawoyo…”

“Naneun Luhan. Xi Luhan.” Luhan mengulurkan tangannya kepada Jiyeon untuk berjabat tangan. Sama dengan yang dilakukan Ji Won saat berkenalan dengan Jiyeon.

“Park Jiyeon. kau bisa memanggilku Jiyeon.”

Tbc.

Advertisements

9 thoughts on “The Night Castle [Chap 1]: The Vampires Back to School

  1. Omoooo hanyeon akhirx kenalan jg.. apa luhan lgsg sk sm jiyi ya? Kekeke.. aigo tao bnr2.. ckck.. ottokhae? Mdh2an hanyeon cpt jadianx.. brhtp banget.. trs jiwon bs jgain jiyi jg..

    Like

  2. Huft~ untung jiyi ketemu luhan. Dia kan ga jahat. Coba gmn jadinya kalo ketemu tao atau woobin atau vampir lain. Bisa habis dia.
    Dan untung jiyeon-irene sekamar sm jiwon, kan kalo ada apa2 bisa dilindungi jiwon

    Like

  3. Sekarang luhan ma jiyeon….jiwon gk ketinggalan juga…tao itu siapa???
    Kasian ahreuum baru masuk udah mati aja…..
    Next part ditunggu

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s