Like Fortune Goddess [Chapter 1]

LIKE AMOORE GODDEST

Poster and Storyline belong to Me

Sebelum membaca chapter perdana ini, tolong baca dulu teasernya supaya tidak bingung ya chingudeul…

Bagi yang belum baca teasernya, klik DI SINI

Main cast:
Im Yoona | Choi Siwon | Lee Donghae
Other cast:
Lee Qri | Ham Eunjung | Leo Jung | Nickhun | Tiffany
Genre:
Romance | Fantasy | AU | Commedy

Length:

Multichapter
Rating:
PG-13

Salju menyelimuti kota Seoul sore ini. Di sebuah pemakaman, terdengar suara tangisan beberapa orang yang merasa sedih atas kehilangan seseorang yang tidak akan kembali lagi karena orang itu telah meninggal dunia.
“Kau tetap di hati kami, Im Yoona,” ucap seorang pria berperawakan tinggi yang dikenal dengan nama Tuan Im. Beliau adalah ayah kandung Im Yoona, gafis yang meninggal karena kecelakaan dua hari yang lalu.

Flashback
Tap tap tap!
Ceklek!
“Oppa, kau tidak istirahat?” tanya Yoona pada Siwan yang masih asyik bergelut dengan layar komputernya.
“Jangan ganggu dulu. Aku masih berkonsentrasi menghitung laporanku,” kata Siwan tanpa menoleh ke arah Yoona.
Bukannya pergi dari ruangan Siwan, Yoona malah masuk ke dalam.
“Laporan apa?” tanyanya lagi saat berdiri di samping Siwan.
“Aissh! Sudah kukatakan jangan ganggu dulu. Sulit bagiku untuk mendapat konsentrasi seperti ini.”
“Baiklah, aku akan pergi. Oh ya, nanti malam ayo kita makan bersama!” ajak Yoona bersemangat karena dia ingin sekali makan malam dengan Siwan.
“Kalau pekerjaanku sudah selesai.”
“Oke. Aku tunggu, oppa. Oh ya, ada lagi. Apa kau tidak ingin mengajak yeojachingu-mu, oppa?”
“Yaak! Im Yoona! Jangan ganggu aku dulu. Aku sedang sibuk!” seru Siwan yang malah membuat Yoona tertawa geli. “Kenapa tertawa?”
“Tidak ada apa-apa. Aku akan mengerjakan laporan juga untuk menunggumu, oppa. Nanti kita pulang bersama. Kau bersedia kan?”
“Eoh. Sekarang pergilah. Jangan tunjukkan batang hidungmu lagi sebelum aku dapat menyelesaikan laporanku.”
Yoona menuruti kata-kata Siwan.
“Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku. Selamat bekerja, Im Siwan.” Yoona melenggang pergi meninggalkan kakaknya. Dia berjalan menuku ruangannya yang tidak jauh dari ruangan Siwan.
Yoona adalah seorang sekretaris yang profesional. Dia menjadi sekretaris kakaknya sendiri selama dua tahun ini. Sebenarnya Siwan tidak ingin bekerja dengan Yoona. Namun karena Yoona ingin sekali menjadi asisten dan sekretaris Siwan, sang CEO yang motabennya adalah appanya sendiri mengijinkan Yoona menjadi sekretais Siwan. Alasan Yoona ingin menjadi sekretaris Siwan simpel saja, yakni karena dia ingin selalu bersama kakaknya karena dari kecil, mereka selalu bersama-sama dan Siwan selalu menjaga Yoona dengan baik.

Jam 5 sore pekerjaan Yoona telah selesai. Dia meregangkan oto-ototnya yang kaku karena dua jam duduk di atas kursi dan menatap layar komputer. Tiba-tiba Yoona beranjak dari kursinya dan berjalan masuk ke dalam ruangan Siwan.

“Oppa, ayo pulang!” seru Yoona namun Siwan tak menjawab. Kepala namja itu tergeletak di atas meja. Komputernya masih menyala. Yoona menggelengkan kepalanya melihat kakaknya yang tertidur karena terlalu lelah mengerjakan laporannya. Yoona tidak tega membangunkan kakaknya, tapi bagaimana mereka bisa pulang kalau Siwan tidak segera dibangunkan?
“Oppa, bangunlah. Ayo pulang. Keburu malam.” Yoona menggoncangkan tubuh Siwan.
Namja itu tetap tak bergeming. Yoona membangunkannya lagi. “Yaaak, oppa! Bangunlah.” Kedua kelopak mata Siwan dibuka paksa oleh Yoona dengan ibu jari dan jari telunjuknya masing-masing kanan-kiri.
Caranya tadi berhasil. Siwan membuka kedua matanya. “Jam berapa?”
Yoona melihat arlojinya. “Jam 5. Oppa, ayo pulang. Aku sudah lelah sekali.”
“Eoh.” Siwan mengambil jasnya yang ia letakkan di atas sandaran kursi.

Tap tap tap!
Siwan dan Yoona berjalan menyusuri lorong kantor. Sebagian besar staf sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.

Sesampainya di tempat parkir, Siwan berhenti tepat di depan mobil. Dia memegang kedua matanya.
“Oppa, kau kenapa? Apa kau sakit?” Yoona berdiri di sisi kanan mobil dan mengamati kakaknya dengan seksama. “Kau mengantuk? Kalau begitu biar aku saja yang membawanya,” kata Yoona.
“Apa tidak apa-apa? Kau kan tidak begitu bisa mengendarai mobil.”
“Aku akan hati-hati, oppa.”
Yoona masuk ke sisi kiri mobil yang dibuat oleh vendor asli Korea itu. Keluarga Im sangat mencintai produk dalam negri, bagaimana tidak? Mereka adalah salah satubperusahaan yang menanamkan modal untuk memproduksi barang-barang elektronik dan mobil seperti yang sedang Yoona dan Siwan naiki.

Mobil melesat menjauh dari kantor perusahaan keluarga Im. Yoona sangat berkonsentrasi karena dia baru saja bisa mengendarai mobil, kira-kira sekitar tiga bulan yang lalu.
“Yoong-a, hati-hati. Jalan ramai sekali.” Siwan menengadahkan kepalanya dan menutup kedua mata.
“Oke, oppa. Aku akan berhati-hati. Tenang saja, kecepatanku hanya 50km/jam.”
Setelah mendengar bahwa Yoona mengendarai mobilnya dengan kecepatan seperti itu.

“Tenang saja, oppa. Aku akan berhati-hati. Sudah berapa kali aku bilang kalau aku akan berhati-hati.” Yoona agak kesal pada Siwan yang terlalu mengkhawatirkannya. Bukan mengkhawatirkannya, Yoona berpikir kalau Siwan lebih mengkhawatirkan dirinya sendiri.

Saat Yoona mengurangi konsentrasinya karena mentang-mentang mereka sudah dekat rumah dan situasi jalan yang sepi. Ia tidak melihat kalau di depannya ada seorang anak kecil menyeberang. Secara kebetulan, anak itu tidak tahu kalau dari jarak 200 meter ada sebuah mobil melesat ke arahnya.

“Oppa!” seru Yoona terkejut karena tiba-tiba di depannya ia melihat anak kecil yang inign menyeberang itu. Ia membanting stir ke kanan, di mana terdapat sebuah minimarket yang di depannya ada sebuah truk yang sedang parkir.

Siwan membuka matanya namun sayang, saat dia membuka mata, mobil yang ditumpangi bersama Yoona menghantam truk yang sedang parkir di depan minimarket sekencang-kencangnya. Bagian depan mobil hancur seketika. Mobil mereka mundur dengan sendirinya. Saat itu, Yoona telah tak sadarkan diri namun Siwan masih dapat melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Saat mobil itu mundur hingga kembali ke tengah jalan, tiba-tiba sebuah mobil box meluncur juga dengan kecepatan tinggi karena jalanan lengang.

Kraaasshh!!

Bruuukk!!

Mobil box itu menghantam mobil Yoona dan Siwan dari arah kiri sehingga bagian mobil yang sebelah kiri hancur total. Begitu juga dengan tubuh Yoona yang duduk di sebelah kiri, di belakang kemudi. Ia terhantam mobil box tersebut. Mobil Yoona terjungkal karena mendapat hantaman terlalu keras. Siwan dan Yoona tak sadarkan diri. Bahkan Yoona mengalami luka sangat parah.

 Tak lama kemudian, sirine ambulance terdengar di lokasi dan membawa tubuh Siwan dan Yoona ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Siwan masih bisa diselamatkan karena jantungnya masih berdetak meski lemah. Sedangkan Yoona, dia tewas seketika saat kejadian kecelakaan itu.

 Keluarga Im sangat terpukul atas kejadian itu, terutama nyonya Im. Dia sangat menyayangi Yoona. Namun sayang, nasib Yoona malang sekali karena dia harus meregang nyawa saat menjelang ulang tahunnya yang ke-23. Sedangkan Siwan, namja itu bisa bertahan di rumah sakit selama kurang dari 10 menit. Dia mengehmbuskan nafas terakhir saat keluarganya baru saja tiba di rumah sakit. Nyonya Im menjerit histeris. Dia kehilangan dua orang anak sekaligus. Anak laki-laki yang sangat dibanggakan dan anak perempuan yang sangat disayangi dan dimanjakan.

Jenazah Siwan dan Yoona sengaja tidak diotopsi karena nyonya Im tidak ingin tubuh anak laki-laki dan anak gadisnya disentuh peralatan medis. Dia ingin Siwan dan Yoona dimakamkan sesegera mungkin karena mereka pasti menderita di alam sana jika melihat tubuhnya terbujur kaku dengan wajah yang sangat pucat. Keesokannya, jenazah kedua anak keluarga Im dimakamkan bersamaan dan berdampingan. Nyonya Im tidak kuat menahan kesedihan dan kepedihan yang melanda keluarganya. Mulai hari ini, tuan dan nyonya Im tidak memiliki keturunan sama sekali. Karena tidak kuat melihat proses pemakaman jenazah Siwan dan Yoona, nyonya Im jatuh pingsan.

Di luar sepengetahuan para manusia yang menguburkan jenazah Siwan dan Yoona, seorang namja dengan pakaian serba putih berdiri jauh memandang beberapa orang yang sedang berkumpul di depan makan kedua orang bermarga Im. Namja itu tersenyum tipis. Tak lama kemudian, muncullah seorang yeoja yang juga berpakaian serba putih. Dia berdiri di samping namja tadi.

“Mianhae, eomma,” ucap sang yeoja menatap sendu pada sekumpulan orang itu.

“Semoga kita bertemu di alam lain, appa dan eomma. Annyeong,” ucap sang namja.

Mereka berdua adalah arwah Yoona dan Siwan. Mereka diangkat ke langit oleh para dewa.

Flashback end.

 Di dalam gedung perusahaan Amoore Corporation, banyak karyawan sedang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Sang pemilik perusahaan itu adalah seorang namja paruh baya dengan marga Choi. Tuan Choi merupakan salah satu pengusaha asal Korea Selatan yang sukses mengembangkan usahanya sampai ke luar negeri. Perusahaan miliknya ini adalah anak perusahaan dari sebuah perusahaan teknologi terbesar di Perancis. Anak perusahaan ini kemudian menjadi sebuah perusahaan besar di bawah kepemimpinan Tuan Choi, appa dari Siwon. Lambat laun, tuan Choi membeli semua saham perusahaan itu dengan harga tinggi karena ia sudah terlalu sukses menjadi seorang pengusaha.

Tuan Choi memiliki seorang putera yang rupawan, bernama Choi Siwon. Siwon menjabat sebagai Direktur Produksi di dalam perusahaan besar itu. Sedangkan Lee Donghae, sahabat Siwon sedari kecil, menjabat sebagai Manajer Produksi. Siwon sengaja memberi jabatan itu kepada Donghae karena dia sangat mempercayai Donghae dan sudah terlalu akrab dengannya.

Tok tok tok!
Donghae menunggu sang pemilik ruangan yang pintunya telah ia ketuk agar segera dipersilahkan masuk.
“Eoh, masuklah hyung.” Terdengar suara seorang namja. Suara yang agak berat itu menyuruhnya masuk. Namun Donghae tak kunjung masuk malah memainkan ponselnya di depan pintu.
Siwon yang berada di dalam ruangan penasaran dengan apa yang dilakukan Donghae di depan pintu ruangannya. Dia telah meminta Siwon untuk segera masuk tetapi malah tak ada jawaban. Ia beranjak dari duduknya, meninggalkan kegiatannya yang tadi sedang menyusun proposal untuk proyeknya.

Tap tap tap!
Siwon berjalan ke arah pintu masuk ruangannya. Dia membenahi pakaian necisnya agar tidak kalah saing dengan Donghae yang sangat terkenal karena suka menjaga kebersihan dan kerapian.

Cekleeek!
Pintu dibuka dari Siwon dari dalam ruangan. Tiba-tiba Donghae jatuh terjerembab ke belakang. Maklum saja, Donghae memainkan ponselnya sambil berdiri bersandar pada pintu ruangan Siwon lalu tiba-tiba Siwon membukanya tanpa tahu kalau Donghae bersandar pada pintu.
“Hyung, apa yang kau lakukan?” tanya Siwon heran. Dia masih berdiri menatap Donghae yang tersungkur di lantai dengan meringis-meringus menahan sakit di pinggangnya.
“Aigoo, aku bisa terkena encok kalau seperti ini. Kau tega sekali,” gerutu Donghae.
Siwon menggelengkan kepala. “Siapa yang tahu kalau kau bersandar pada pintu, hyung?”

Donghae bangkit perlahan-lahan dengan memegang pinggangnya yang masih cenut-cenut. Sementara itu, Siwon memerintahkan stafnya untuk membuatkan kopi spesial untuk Donghae yang terjatuh tadi.
“Aku datang ke sini dengan niat baik. Tapi kau malah menyambutku dengan tidak baik,” kata Donghae yang baru saja menjejalkan bokongnya di sebuah kursi di depan meja kerja Siwon.
“Sudah ku bilang, aku tidak tahu kalau kau ada di sana, hyung.” Siwon duduk berhadapan dengan Donghae.

Tak berapa lama kemudian kopi spesial untuk Donghae diantar oleh seorang staf. Donghae tersenyum puas. “Ya, beginilah seharusnya sikapmu terhadap orang yang lebih tua.”
“Bangga sekali menjadi orang yang lebih tua. Seharusnya kau tidak seperti ini hyung. Orang yang lebih tua akan lebih cepat keriput.”
“Yaak, yaaak, apa-apaan kau, eoh?” Donghae meletakkan kopinya di atas meja. “Kau mendoakan aku cepat keriput?”
“Anhi,” jawab Siwon singkat.
“Siwon-a, kau ada hari libur? Kapan?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau ingin mengajakku kencan?”
Donghae tertawa terbahak-bahak. Mana mungkin dia mengajak Siwon berkencan. “Yaaak, meskipun aku lebih tua darimu dan juga belum memiliki pasangan, sedetik pun tidak pernah terlintas di benakku untuk berganti haluan.”
“Aah, hyung. Kemarin Direktur Park menawariku main ski di resortnya.”
“Resort? Direktur Park punya resort? Sejak kapan?” tanya Donghae bertubi-tubi.
Sebenarnya Siwon kesal pada Donghae yang terlalu cerewet. “Tentu saja beliau punya. Memangnya orang kaya mana yang tidak memiliki usaha seperti direktur Park?”
Donghae mendelik kesal. Siwon telah menyindirnya karena ia belum memiliki usaha personal yang menjanjikan.
“Jangan marah dulu, hyung. Hmmm, bagaimana kalau kita ke sana?”
Ekspresi wajah Donghae berubah drastis. Dengan sumringah, dia bertanya,”Kapan?”
Siwon tampak berpikir. “Kapan ya?”
Pletaaakk!
Donghae memukul kepala Siwon karena berani mengerjainya. “Kau, jangan macam-macam pada orang yang lebih tua.”
“Hyung, kau hanya lebih tua beberapa bulan dariku.”
Donghae tersenyum evil. “Bagaimana kalau hari minggu depan?”
Siwon berpikir lagi. “Hari Minggu aku ada jadwal jalan-jalan dengan anjingku.”

Kali ini Donghae yang kesal pada Siwon. “Jalan-jalan dengan anjing? Bawa saja anjingmu!” Donghae menyandarkan punggungnya di kursi dan melipat tangannya ke depan dadanya.
“Aha! Bagaimana kalau kau ajak Qri nuna, hyung? Maksudku biar ada yang menjaga anjingku.”
Donghae masih diam tetapi dia melirik ke arah Siwon. Beraninya Siwon bicara begitu. Apa Qri itu penjaga anjing?

“Andwae! Hanya kita berdua. Tidak ada Qri dan tidak ada anjing.” Donghae memukul meja sebanyak tiga kali lalu mengatakan,”Keputusan tidak bisa diganggu gugat!”

Bukannya protes, Siwon malah tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, okey hyung. Tidak ada Qri nuna, tidak ada anjing. Hanya kita berdua. Apakah ini bisa disebut berkencan?”
Errrrr!! Donghae menahan rasa kesalnya.

Malam harinya, Siwon dan Donghae pulang bersama karena mobil Siwon mogok. Daripada pulang naik taksi atau menyusahkan sopirnya untuk menjemputnya, Siwon lebih memilih pulang bersama Donghae.
Donghae membawa Siwon pulang. Alasannya adalah dia terlalu malas mengantarkan Siwon pulang ke apartemennya. Jadi, dia pulang lebih dulu dan Siwon bjsa pulang membawa mobilnya.
Sampai di depan rumah Donghae, mobil yang mereka naiki diputar arahnya oleh sang pemilik, siapa lagi kalau bukan Donghae sendiri.
“Aku tidak ingin mengantarmu pulang. Pulanglah sendiri!”
“Apakah besok aku harus menjemputmu?” tanya Siwon polos.
“Tentu saja. Kau membawa mobilku. Jadi kau harus menjemputku.”
Siwon menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kasar. “Selalu begini…” gumam Siwon. “Okee, sekarang keluarlah dari mobil, hyung. Aku ingin segera pulang.”
“Kau mengusirku dari mobilku sendiri, eoh?” Donghae melotot tajam ke arah Siwon.
Siwon serba salah. Donghae memang orang yang menyebalkan, pikirnya.

“Haaai annyeong Wonwon!” seru seseorang dari kejauhan.
Siwon dan Donghae menoleh kanan-kiri mencari sosok yeoja yang memanggil nama Siwon.
“Apa mungkin ada hantu, hyung?”
“Yaaak, yang memanggilmu dengan nama itu kan cuma Qri.

Siwon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia enggan bertemu dengan Qri. “Lekaslah keluar dari mobil, hyung!” Siwon mendorong Donghae agar segera keluar dari mobil sehingga Donghae melompat dari mobil secepat mungkin agar dia tidak jatuh.

“Yaaak, apa-apaan ini? ini mobil siapa, eoh?”

”Aku langsung pamit saja, hyung. Sampaikan saja salamku pada saudara kembarmu itu. Annyeong…”

Siwon tidak peduli. Saat Donghae sudah keluar dari mobil, Siwon segera menutup pintu mobilnya itu dan melesat jauh.

“Yaak, dia mau ke mana? Bukankah itu mobilmu?” tanya Qri pada Donghae.

“Eoh. Namja itu menyebalkan.”

“Dari dulu,” timpal Qri.

Sesampainya di rumah, Siwon tidak langsung membersihkan tubuhnya dan beristirahat. Dia memandang foto masa kecilnya bersama dengan Donghae dan seorang anak perempuan yang usianya lebih muda darinya. “Bogosipo…” lirih Siwon saat memandang foto anak perempuan itu. Tak lama kemudian dia memasukkan foto itu ke dalam kantong di dalam dompetnya. Siwon beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kekarnya agar dia bisa segera beristirahat.

Saat Siwon sedang mandi di dalam kamar mandi, tiba-tiba seorang yeoja datang ke kamar Siwon. Dia melihat-lihat setiap benda yang ada di kamar Siwon.

“Hmm, apa ini?” yeoja itu mengambil sebuah hair-dryer, alat untuk mengeringkan rambut. Dia terkejut saat tangannya tak dapat mengambil benda itu. “Tembus? Apa seorang dewi tidak bisa menyentuh barang-barang manusia?” gumamnya sendiri. “Omo! aku hampir lupa.” Yaoja cantik berambut panjang itu mengeluarkan sebuah kartu berwarna putih dan berisi nama seseorang. “Choi Siwon. Dia akan dijodohkan oleh kedua orangtuanya.” Yeoja yang ternyata salah satu anak buah Dewi Fortuna itu membaca keberuntungan yang akan didapatkan oleh Siwon. “Dijodohkan? Apa maksudnya?” dahinya berkerut saat memikirkan kata ‘dijodohkan’. Yoona, yeoja pembawa keberuntungan untuk manusia itu mengambil serbuk kecil-kecil yang melekat di kartu itu. “Entah apa itu yang dimaksud ‘dijodohkan’, aku tetap akan memberikan keberuntungan ini pada namja bernama Choi Siwon. Yoona menunggu Siwon keluar dari kamar mandi. Meskipun dia seorang Dewi Keberuntungan, Yoona masih memiliki perasaan dan akal pikiran seperti manusia namun tingkatannya tidak setinggi manusia. “Lama sekali…” gerutu Yoona.

Cekleek!!

Siwon keluar dari kamar mandi. Yoona berjalan melayang ke arah Siwon. Dia memperhatikan wajah Siwon. “Hmm, tidak jelek.” Setelah itu, Yoona melihat serbuk di tangannya dan tersenyum. “Choi Siwon, aku berikan keberuntungan ini kepadamu. Semoga kau bahagia, ne…” Yoona menaburkan serbuk keberuntungan itu di atas kepala Siwon.

Yoona sudah bersiap menebarkan serbuk keberuntungan di atas kepala Siwon namun tiba-tiba Siwon berpindah tempat. Namja itu duduk di atas ranjangnya. Yoona mendekatinya lagi. Baru kali ini ada seorang dewi yang kesulitan memberikan keberuntungan kepada  manusia.
Yoona belum jadi menebar serbuk itu. Dia membuka telapak tangannya. Tiba-tiba serbuk itu menghilang.
“Eoh? Ke mana serbuk itu?”

“Kau mencari ini?”
Yoona menoleh ke arah suara yeoja yang datang secara tiba-tiba.
“Siapa kau?” tanya Yoona melihat seorang yeoja berdiri di dekat pintu sembari menunjukkan serbuk keberuntungan yang akan diberikan oleh Yoona kepada Siwon.
Yeoja itu mendekat. “Tiffany,” jawabnya singkat.
“Kenapa kau mengambil serbuk itu? Berikan padaku.” Yoona berjalan mendekat ke arah Tiffany namun yeoja itu malah menghindar. “Apa maumu?” tanya Yoona kesal.
“Biar aku saja yang menabur serbuk ini. Kau jalankan saja tugasmu yang lain.”
Yoona mengerutkan dahi. ‘Apa dia bisa dipercaya?’ batinnya.
“Tentu saja bisa!” sahut Tiffany secara tiba-tiba. “Percuma saja kau bicara dalam hatimu karena kita bisa membaca kata hati orang lain, entah itu manusia atau bukan.”
Yoona baru tahu kalau para dewi bisa membaca kata hati seseorang termasuk sesama dewi.
“Pergilah. Aku yang akan mengambil alih tugasmu.”
Yoona terperangah. “Baiklah. Aku akan melaksanakan tugasku yang lain. Aku serahkan keberuntungan namja itu padamu.”
Tak lama kemudian, Yoona menghilang.
Siwon tidak bisa melihat kedatangan para yeoja itu yang notabennya adalah dewi yang datang untuk memberikan keberuntungan kepadanya.
Setelah kepergian Yoona, Tiffany segera mendekat ke arah Siwon yang sudah berpakaian santai karena dia ingin beristirahat menenangkan pikiran dan mengembalikan stamina tubuhnya yang hilang karena seharian bekerja. Dengan senyum tipisnya, Tiffany memandangi wajah tampan namja yang ada di depannya seraya bergumam,”Aku tidak akan menebarkan serbuk ini di atas kepalamu. Kau tidak boleh dijodohkan. Aku punya rencana lain untukmu, Choi Siwon.”
Dalam sekejap, Tiffany juga menghilang dari kamar Siwon.

Di tengah jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan bermotor, mobil, truk, dan bus, Yoona berjalan-jalan mencari seseorang yang akan dia beri serbuk keberuntungan. Yeoja itu berjalan menembus kendaraan yang melintas di depannya.
“Seharusnya Dewi Fortuna memberiku petunjuk ke mana aku harus perginuntuk menemukan orang-orang yang akan aku beri keberuntungan.”
Yoona celingukan kanan-kiri untuk menemukan namja bernama Nickhun. Memang sulit menemukan seorang manusia di bumi itu. Dari petunjuk umum yang dia peroleh, namja itu sedang berada di sekitar tempat Yoona yang sedang berkeliling.
Saat melihatbke arah kiri, Yoona melihat seseorang yang di dahinya tertulis nama Nickhun Horvejkul. Yoona segera menghampiri namja itu. “Hmm tidak jelek…” ucapnya. Selalu kata itu yang diucapkan oleh Yoona saat melihat namja tampan yang akan ia beri keberuntungan.
Yoona melihat ekspresi sedih di wajah Nickhun lalu dia berkata,”Nickhun-ssi, kenapa wajahmu seperti itu? Kau memang tidak jelek, tetapi jika ekspresimu seperti itu, aku akan mengatakan bahwa kau jelek.” Yoona menaburkan serbuk keberuntungan di atas kepala Nickhun yang ternyata sedang duduk di kursi halte bus. “Semoga bahagia…” Yoona pergi dengan senyuman terlukis di wajah cantiknya.

Tugas Yoona hari ini sudah selesai. Kini dia bisa kembali ke khayangan umtuk beristirahat dan menunggu tugas selanjutnya.

Matahari terbit dengan malu-malu di musim dingin ini. Di sebuah rumah mewah yang nampak elegan jika dilihat dari luar, seorang namja yang merupakan putera kembar keluarga Lee sedang sibuk membaca surat kabar di pagi buta. Saudara kembarnya heran melihat namja itu yang rajin membaca berita, artikel atau semacamnya.
Lee Qri, nama saudara kembar Lee Donghae sedang membawa nampan berisi dua cangkir kopi untuk dirinya sendiri dan Donghae.
“Kopi.” Qri memberikan secangkir kopi kepada Donghae yang tengah sibuk membolak-balikkan surat kabarnya.
Donghae langsung menerima cangkir itu dan menyeruputnya.
“Omo!” seru Donghae yang mengagetkan Qri.
“Yaak, jangan mengagetkanku seperti itu.”
“Aku ada janji dengan seseorang di pinggir sungai Han.”
“Donghae-a, apa kau berniat kencan buta sepagi ini?” tanya Qri polos.
“Michyeoseo? Jangan berburuk sangka. Hari ini aku ada janji dengan seseorang yang ingin menjual anak anjingnya.”
“Kenapa sepagi ini?”
“Karena anak anjing itu dibawa jalan-jalan pagi sekalian, pabbo! Aku pergi dulu.”

Qri menatap kesal padap Donghae yang berjalan keluar gerbang rumah mereka. Donghae selalu mengatakan kalau Qri pabbo. Itulah yang selalu membuat Qri kesal pada Donghae. “Aku doakan orang itu tidak datang,” cetus Qri kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Dengan semangat yang tinggi karena sebentar lagi memiliki anak anjing yang lucu dan menggemaskan, Donghae berjalan menuju Sungai Han yang tidak jauh dari rumahnya. “Puppy, tunggu aku. Aku akan segera datang untuk memamerkanmu pada Qri dan Siwon. Mereka pasti iri melihatku puanya anjing sepertimu.” Donghae senyum-senyum sendiri membayangkan dia memiliki anak anjing yang lucu seperti boneka.

Jalan raya belum begitu ramai sehingga Donghae bisa berlari agar lekas sampai di Sungai Han. Setelah menempuh jarak sejauh 2km dalam waktu 30 menit, Donghae sampai di tepi sungai Han. Dia mencari orang yang ingin menjual anak anjing kepadanya. Donghae berjalan ke arah tempat janjian, namun sayangnya orang itu tidak ada. “Dia belum datang atau memang tidak datang?” gumam Donghae. Dia tidak ingin berprasangka buruk. Akhirnya namja itupun menunggu orang yang ingin menjual anjingnya hingga 45 menit.

“Aish jinjja. Ternyata orang itu menipuku. Beraninya dia menipu seorang Lee Donghae.” Donghae kesal dan menendang sebuah kaleng kosong ke sembarang arah tanpa peduli kaleng itu terlempar ke mana.

Plukk!!

“Aauw, appo!”

Seorang yeoja yang sedang menunggu tugas dari Dewi Fortuna, berseru kesakitan karena sebuah kaleng mendarat mulus di kepalanya. “Kenapa aku bisa merasakan sakit?” lirih Yoona dan melihat sebuah kaleng soda yang telah kosong tergeletak di bawah kakinya. Yoone mengambil kaleng itu.

“Gwaenchanayo?” tanya Donghae yang ngos-ngosan karena berlari ke arah Yoona setelah mendengar seruan dari seseorang. Donghae berpikir bahwa orang itu terkena lemparan kaleng yang ia tendang.

Yoona menoleh ke arah Donghae. Dia mengerutkan kening. “Namja itu bertanya kepadaku?” gumam Yoona bingung.

“Aku bertanya padamu. Memangnya siapa lagi yang ada di sini selain dirimu?” tanya Donghae.

“Kau bisa melihatku?” tanya Yoona yang masih bingung kenapa seorang manusia bisa melihat dirinya. Seharusnya ini tidak terjadi.

“Tentu saja aku bisa melihatmu. Apa kau pikir aku ini buta? Ya sudahlah, sepertinya kau baik-baik saja. Maafkan aku. Akulah yang menendang kaleng kosong itu.” Donghae membalikkan badan dan saat ia hendak melangkahkan kaki, Yoona memanggilnya.

“Chakkaman!” Yoona mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Ini aneh. Seharusnya saat melihat manusia, Yoona langsung bisa melihat nama manusia itu yang tertulis jelas di dahi manusia yang ia lihat. Tetapi kali ini tak ada tulisan apapun di dahi namja yang berdiri di depannya itu. “Ada apa ini?” lirihnya.

Donghae membalikkan badannya lagi, menghadap ke arah Yoona.

Tiba-tiba Yoona meraih tangan Donghae. Saat ia menyadari sesuatu, Yoona langsung melepaskan tangan Donghae. “Andwae! Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa?” lirih Yoona sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau kenapa? Apa kau amnesia? Apa itu karena kaleng yang aku tendang tadi?” tanya Donghae khawatir.

TBC

Annyeong chingu…

Mulai chapter 1, aku tambahin Tiffany sebagai support cast. Jangan lupa berikan respon kalian setelah membaca FF ini ya…

Aku tunggu pendapat kalian

Gomawo ^^

Advertisements

59 thoughts on “Like Fortune Goddess [Chapter 1]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s