Trust in You [Chapter 1]

TRUST IN YOU

Artposter and Storyline are mine
Main Cast:
Zhang Lay | Yoon Ji Hyun (OC) | Kang Minhyuk | Jung Soo Jung
Other Cast:
Yoon Soo Hee | Kim Dani | Jung Kyung Ho | Lee Sungyeol
Genre:
Hurt/Comfort | Romance | AU | School Life
Length:
Multichapter
Rating:
G/General
Disclamer:
This story is mine. You’re not allowed to copy cut/plagiat/take my idea/reblog
Leave comment if you want, don’t bash and enjoy my FF!

“When will you come back to me?”

“Ahjussi! Tolong berhenti. Aku ketinggalan!” teriak seorang yeoja muda yang memakai seragam SMA terkenal, SMA Jaeguk. Ia berlari mengejar bus yang akan melewati sekolahnya.
Ckiiit!
Bus itu berhenti mendadak. Beberapa penumpang mengeluh karena takut terjadi kecelakaan. Tak lama kemudian siswi SMA Jaeguk itu masuk.
“Mianhamnida, mianhamnida,” ucapnya seraya membungkukkan badannya dan meminta maaf pada semua orang yang ada di dalam bus itu.
“Yaak, Yoon Ji Hyun! Rupanya kau penyebab ahjussi menghentikan bus ini?”
Ji Hyun, siswi yang ketinggalan bus tadi menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat seorang namja yang sangat dikenalnya, Kang Min Hyuk sedang duduk santai di bangku paling belakang.
“Sunbae!” Ji Hyun berjalan ke arah Minhyuk lalu duduk di bangku kosong di samping Minhyuk. Dengan pandangan aneh, Ji Hyun memandang Minhyuk tanpa berkedip.
“Wae?” tanya Minhyuk merasa ada yang aneh dari Ji Hyun.
“Sunbae, apa kau mau ke sekolah?” tanya Ji Hyun polos.
“Yaak! Apa-apaan kau? Tentu saja aku mau ke sekolah. Kau pikir aku mau kemana dengan pakaian seperti ini, eoh?” Minhyuk melotot ke arah Ji Hyun yang duduk di sampingnya.
Ji Hyun membenahi posisi duduknya. Dia duduk menghadap ke depan, menatap jalan raya yang akan dilalui oleh bus yang ditumpanginya.
“Tumben kau telat,” kata Minhyuk secara tiba-tiba.
Tanpa menoleh ke arah sunbaenya, Ji Hyun menjawab,”Bukankah aku selalu telat? Jadi jangan heran kalau aku baru berangkat jam segini.”
Minhyuk heran pada Ji Hyun. Yeoja serajin dan sepandai Ji Hyun selalu telat datang ke sekolah. Ia penasaran apa yang dilakukan Ji Hyun sehingga yeoja itu selalu telat datang ke sekolah dan tidak pernah takut dihukim atau bahkan dikeluarkan dari sekolah.

20 meeit kemudian bus berhenti di sebuah halte yang terletak di depan sebuah sekolah yang tentu saja sekolah yang dituju Ji Hyun dan Minhyuk.
Keduanya turun dari bus dan berjalan santai. Untuk apa mereka berjalan cepat dan tergesa-gesa? Toh, mereka sudah telat 10 menit. Jadi, santai saja. Bakal ada hukuman yang menanti mereka berdua. Ji Jyun dan Minhyuk sudah terlalu sering dihukum karena terlambat masuk sekolah.

Sampai di halaman sekolah, keduanya disambut oleh Jung Kyung Ho seonsaengnim, guru yang selalu memberikan hukuman bagi siswa yang melanggar peraturan sekolah.
“Ckckck, aigoo… kenapa setiap hari aku melihat wajahmu, Ji Hyun-a.. dan kau, Kang Minhyuk, tumben kau datang ke sekolah.” Jung seonsaengnim memegang sebuah buku catatan yang isinya daftar nama siswa yang melanggar peraturan sekolah dan hukuman yang mereka terima. “Ya sudah, lakukan seperti biasanya.”

Ji Hyun yang sudah hafal hukuman yang diterimanya langsung meletakkan tas dan melepas blazer seragamnya. Tak lama kemudian dia berlari mengitari lapangan sebanyak 3 kali. Sedangkan Minhyuk malah menonton Ji Hyun yang sedang berlari.
Pletaakk!
Sebuah pukulan mendarat di kepala Minhyuk.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa malah bengong? Cepat lari mengitari lapangan 5 kali.”
“Saem, kenapa banyak sekali? Ji Hyun hanya 3 kali.”
“Yeoja dan namja itu berbeda. Kalau kau tidak mau, maka bersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini!” Sepasang mata Jung saem melotot seakan mau lepas.
Dengan malas, Minhyuk mengikuti Ji Hyun berlari mengitari lapangan.

Ji Hyun berlari dengan santai. Satu kali putaran lagi, hukumannya akan selesai.
“Ji Hyun-a, sepertinya akan ada siswa baru.”
Ji Hyun tidak menanggapi ucapan Minhyuk. Ia masih berkonsentrasi berlari untuk menyelesaikan hukumannya.
Minhyuk kesal. Ia menyusul Ji Hyun yang berlari di depannya lalu menyuruhnya berhenti.
“Lihat! Dia pasti angkatanmu!” Minhyuk memegang kepala Ji Hyun dan memaksanya melihat serombongan pejabat sekolah dan satu orang siswa yang nampaknya adalah siswa baru.
“Sunbae, kau tidak perlu melakukan ini. Kalau tulangku patah apa kau akan bertanggungjawab?” Ji Hyun melepaskan tangan Minhyuk dari kepalanya.
“Salah sendiri kau tidak menanggapiku.”
“Aku sudah selesai. Annyeong…” Ji Hyun melenggang pergi mengambil tas dan blazernya.

Ji Hyun pov
Minhyuk sunbae ada-ada saja. Kepalaku diputar-putar seenaknya. Apa dia pikir kepalaku ini mainan?
Aku berjalan menuju toilet untuk membenahi penampilanku karena baru saja berlari mengelilingi lapangan tadi. Pasti penampilanku kacau. Saat memasuki toilet yeoja, beberapa orang siswi berbisik-bisik membicarakan sesuatu. Aku tidak peduli. Toh, aku tidak mengenal mereka. Jadi, kenapa aku harus ambil pusing? Ternyata benar, penampilanku kacau. Aku berdiri di depan cermin dan melihat diriku sendiri melalui pantulan cermin. Rambutku yang terurai panjang, kini aku ikat ekor kuda, baju seragamku yang acak-acakan, dasi dan kerah yang tidak beraturan kini telah aku benahi dan raoikan semua. Rok telah aku bersihkan, bekas keringat aku usap dengan tisu dan terakhir ku pakai blazer seragamku. Nah, sekarang sudah rapi. Aku siap masuk ke kelas.

Setelah berjalan sejauh beberapa meter dari toilet, aku melihat beberapa orang siswi berdiri berjajar di depan ruang guru. Aku sangat tidak menyukai keramaian. Tapi apa boleh buat, aku harus melewati mereka yang sedang berjajar di depan ruang guru seperti antri membeli tiket nonton di bioskop.
Aku berjalan santai dan sempat kulirik deretan para yeoja itu. Mereka sedang menulis sesuatu di atas kertas karton. Tak berapa lama kemudian mereka bersorak. Aku menoleh ke arah mereka dan menghentikan langkahku. Ada apa dengan mereka? Lalu aku ikuti arah pandang para siswi itu ke arah ruang guru.

Seorang siswa didampingi ketua yayasan, kepala sekolah dan… omo! Choi seonsaengnim! Mereka berjalan keluar dari ruang guru. Para siswi itu semakin bersorak layaknya bertemu dengan idol mereka. Aku masih penasaran, sebenarnya siapa yang mereka soraki sampai segitu hebohnya?
“Jeogi, sebenarnya ada apa ini?” tanyaku pada salah seorang dari siswi yang bersorak itu.
“Kau siapa? Jangan ikut-ikutan! Kami yang berhak menyambutnya,” jawab siswi itu dengan sewot.
Iissh! Yeoja itu ingin aku bungkam saja mulutnya. Sombong sekali… mungkin orang yang mereka soraki adalah namja yang memakai seragam itu. Ya, pasti dia. Ah, aku kembali ke tujuan awalku masuk ke kelas.
Ji Hyun pov end

Ji Hyun berjalan menuju kelasnya. Saat ia berdiri tepat di depan sebuah ruang kelas, matanya membelalak saat melihat pelat kelas yang terpasang di atas pintu. Kelas 3-2.
“Ige mwoya? Kenapa kelas 3-2 bisa ada di sini? Lalu dimana kelasku? Yaak, siapa yang memindah-mindah kelas sesuka hatinya?” Ji Hyun kesal. Dia harus mencari kelasnya di seluruh penjuru sekolah jika tidak bertanya pada seseorang.
‘Tidak ada seorang pun yang lewat, eotteohkae?‘ batin Ji Hyun.
Ji Hyun memasang earphone di kedua telinganya. Ia terlalu malas mencari kelasnya di seluruh penjuru sekolah. Makanya dia menunggu seseorang lewat di depannya lalu bertanya dimana kelas 2-1. Yeoja itu berdiri bersandar pada dinding kelas 3-2 sembari menikmati alunan musik yang didengarkannya melalui earphone.
Tiba-tiba seorang siswa lewat di depannya. Ia segera menghampiri siswa itu.
“Jeogi,” ucap Ji Hyun pelan.
Siswa itu tak mendengarnya.
“Jeogiyo!” seru Ji Hyun dengan suara keras yang berhasil membuat siswa itu menoleh ke arahnya.
“Omo!” lirih Ji Hyun. Ia terkejut melihat siswa yang dipanggilnya tadi. Baru kali ini dia melihat namja itu.
“Kau tahu dimana letak kelas 2-1?” tanya siswa itu.
Ji Hyun membulatkan kedua bola matanya. “Mwo?” Ia terkejut, ternyata tujuan mereka sama. “Anhiyo, tapi aku juga mau ke sana. Kemarin, kelas 2-1 ada di sini. Tetapi hari ini ruangnya ditempati oleh kelas 3-2. Ji Hyun menunjuk ke arah papan nama kelas yang terpasang di atas pintu. Namja itu mengikuti arah tunjuk Ji Hyun.
“Keurom, kelas 2-1 dimana?” tanya namja itu.
“Mollaseoyo. Aku berdiri di sini karena menunggu seseorang yang bisa ku tanya dimana letak kelas 2-1. Ternyata kau yang pertama lewat.”
“Kalau begitu kita cari sama-sama. Sepertinya jarang ada yang lewat karena sekarang baru saja masuk jam pelajaran.”
Ji Hyun mengiyakan ajakan namja itu.
“Namamu siapa?” tanya Ji Hyun saat mereka berdua sedang berjalan menyusuri koridor sekolah untuk mencari ruang kelas 2-1.
Namja itu menoleh ke arah Ji Hyun. “Panggil saja aku Lay.”
“Lay-ssi, apa kau siswa baru? Baru kali ini aku melihatmu di sekolah.”
“Eoh,” jawab Lay singkat. Namja yang notabennya adalah seorang pendiam dan tidak banyak tingkah itu hanya mengeluarkan kata-kata seperlunya saja.
Ji Hyun manggut-manggut. Dia bingung mau membicarakan apa lagi karena Lay menjawab pertanyaannya dengan singkat.
“Chakkaman!” Tiba-tiba Ji Hyun menghentikan langkahnya.
“Seonsaengnim! Lee seonsaengnim!” Ji Hyun memanggil seorang guru yang bernama Lee Donghae yang secara kebetulan lewat sepintas di depannya. Ia berlari mendekati Donghae yang masih berjalan dengan cepat karena terburu-buru.
Lay menyusul Ji Hyun yang sudah berlari menjauh darinya. Namja ini tetap santai meski dirinya belum tahu dimana letak ruang kelasnya.

“Seonsaengnim!” panggil Ji Hyun setelah dekat dengan Donghae. Dengan nafas terengah-engah, dia ingin mengatakan sesuatu.
“Kau darimana? Sudah waktunya pelajaran dimulai tetapi kau malah keluyuran di luar kelas. Cepat masuk!” perintah Lee Donghae.
Ji Hyun tercengang mendengar perintah Donghae. “Seonsaengnim, bukankah saat ini di kelasku masih jam pelajaran Yoo seonsaengnim?”
Ekspresi wajah Donghae berubah geram. Tiba-tiba tangan kanan Donghae menjewer telinga Ji Hyun sehingga dia mengaduh kesakitan.
“Kau masih belum sadar? Bangunlah sekarang juga!”
“Saem, kenapa aku dijewer? Bukankah memang seharusnya sekarang pelajarannya Yoo seonsaengnim?”
“Yoon Ji Hyun! Jam pelajaran Yoo saem dipindah nanti jam terakhir. Bukankah minggu lalu sudah diumumkan? Kau kemana saja? Selalu lupa! Sekarang masuklah!”
Dengan sedikit bingung, Ji Hyun masuk ke dalam kelas. Kali ini dia benar, kelas itu adalah kelas 2-1.
Saat Ji Hyun sudah duduk manis di bangkunya, tiba-tiba seseorang datang. Siapa lagi kalau bukan Lay.

Tok tok tok!
Donghae menoleh ke arah pintu, begitu juga para siswa yang sedang asyik mengerjakan soal latihan fisika.
Lay berjalan ke depan papan tulis. Para siswi bersorak sorai menyambut kedatangan Lay di kelas itu kecuali Ji Hyun. Ia malah bingung kenapa para siswi seperti siswi yang ia temui diluar tadi? Aneh.
Puluhan pasang mata tertuju pada sosok Lay, namja berdarah China yang terkenal di kalangan para yeoja karena ketampanannya dan multi talenta yang dimilikinya.

“Annyeonghaseo, Zhang Yixing imnida. Kalian bisa panggil aku dengan nama Lay.”
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut seorang Zhang Yixing.

“Jeogi, apa kau masih single?” tanya seorang siswi yang bernama Hayoung.
Suara riuh mulai terdengar lagi. Ji Hyun hanya menggelengkan kepalanya dan memulai aktifitasnya membaca buku pelajaran.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Lay hanya diam saja dengan ekspresi datar.
“Gurae, duduklah di bangku yang kosong di dekat Lee Sungyeol,” perintah Lee seonsaengnim.

Tanpa jawaban, Lay menuruti kata-kata Lee saem untuk duduk di bangku dekat Sungyeol yang masih kosong. Lay duduk di bangku tepat di deretan samping Ji Hyun.

Sungyeol mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lay. Lay menerima dengan senyum terkembang yang menampilkan lesung pipi kanannya.
Pelajaran dimulai.
….

“Ji Hyun-a, kau lihat Soo Jung?” tanya Hwayoung.
“Waeyo?” Ji Hyun balik tanya karena dia tidak tahu apa maksud Hwayoung menyuruhnya melihat Soo Jung.
“Soo Jung tampak terpesona sekali pada Lay. Hal itu terlihat jelas dari sorot matanya. Apa kau tidak tahu?”
“Yaak, Young-a, bukankah semua siswi seperti itu saat melihat Lay. Kau sendiri juga begitu,” kata Ji Hyun dengan santai.
Hwayoung kesal karena Ji Hyun selalu menjawab dan menanggapi segala sesuatu dengan santai.

Ji Hyun adalah tipe yeoja yang cuek tetapi perhatian. Dia akan bersikap cuek jika tak ada minat terhadap sesuatu. Namun sebaliknya, dia akan terus membahas dan membicarakan segala sesuatu yang membuatnya tertarik. Dari segi fisik, Ji Hyun tergolong siswi yang memiliki wajah imut dan cantik. Wajah innocent-nya membuat dia terkesan sombong. Namun sebenarnya dia penuh perhatian dan baik hati.

“Ji Hyun-a, apa kau akan ikut program pelajaran tambahan nanti sore?” Tiba-tiba Hwayoung menanyakan hal serius pada Ji Hyun. Pertanyaan yang serius inilah yang dinanti oleh Ji Hyun.
Yeoja imut itu nampak sedang berpikir. “Aku belum tahu. Nanti sore ada shift di toko buku. Aku masih bingung apakah nanti bisa ijin atau tidak.”
“Ijin tidak masuk kerja atau ijin tidak ikut program tambahan?” tanya Hwayoung lagi.
“Hehe… molla. Mungkin aku ijin tidak masuk program itu.”
Hwayoung mendesah pelan. Selalu begitu, batinnya. “Kenapa kau selalu absen, eoh?”
Ji Hyun mengerutkan dahinya. “Aku sudah dapat pekerjaan. Sekarang ini sulit sekali mendapat pekerjaan paruh waktu. Jafi aku akan mempertahankan pekerjaan itu.” Ji Hyun melanjutkan menulis kumpulan huruf di atas buku catatannya.
“Jinjja? Keurom, kau mementingkan sekolah atau pekerjaan?” tanya Hwayoung yang sudah larut dalam obrolan mereka.
“Keduanya sama-sama penting. Aku tidak bisa menyerah pada cita-citaku. Aku juga tidak bisa menyerah begitu saja pada hidupku. Hidup itu perlu uang. Jadi, aku akan bekerja keras untuk mendapatkannya.”
Hwayoung mendesah pelan untuk yang kedua kalinya sejak dia mengobrol dengan Ji Hyun. “Daebak! aku salut padamu. Kau hebat!” Hwayoung merangkul bahu Ji Hyun dari belakang. Teman semeja Ji Hyun itu selalu bertanya tentang berbagai hal yang ingin dia tahu.

Jam istirahat telah tiba. Semua suswa berhambur keluar, namun tidak untuk Lay. Dia masih terdiam duduk di atas bangkunya.
Ji Hyun keluar kelas dan melangkahkan kakinya menuju tempat yang biasa ia kunjungi saat jam istirahat. Ya, Ji Hyun selalu pergi ke atap sekolah pada jam pelajaran. Dia membawa bekal makanannya ke sana dan selalu menikmatinya sendiri.
Lay melihat Ji Hyun yang melangkah keluar kelas dengan membawa kotak nasi dan ponsel. Dia mengerutkan dahi. Zaman sekarang masih ada siswa yang membawa bekal ke sekolah apalagi sudah jenjang SMA, pikirnya.

Ji Hyun sampai di atap sekolah. Dia mencari posisi yang nyaman untuk menikmati bekal yang dibawa dari rumah. Masakan ibunya memang tiada duanya. Meskipun hanya makanan sederhana dan ala kadarnya, Ji Hyun tetap senang menikmati makanannya. Setelah mencari tempat yang diinginkan, Ji Hyun duduk bersila dan memasang earphone di telinganya. Ia senang mendengar musik di saat-saat sunyi seperti itu.
“Waah, eomma selalu mengerti apa yang ku mau. Meskipun tidak ada daging, aku suka masakan eomma. Selamat makan…” ucap Ji Hyun pada dirinya sendiri lalu membuka mulutnya untuk mendapat suapan dari tangannya. “Hmmm, mashita…” Menu sederhana itu adalah kimchi yang telah diberi saus kacang pedas yang sangat nikmat menurut Ji Hyun.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Ni Hyun untuk menghabiskan makanannya. Dalam waktu kurang dari 10 menit, makanan yang ada di dalan kotak bekal milik Ji Hyun ludes masuk ke dalam perutnya. Ji Hyun memegang perutnya yang terasa sangat kenyang. Dia tersenyum puas. Tak lama kemudian dia tusun dari atap sekolah.
….

Beberapa orang siswi berdiri di delan kelas Ji Hyun untuk melihat sosok Lay. Padahal Lay sama sekali tidak melirik pada mereka. Dia terlalu malas menanggapi para yeoja yang selalu mencarinya.
Ji Hyun berjalan mendekati kelasnya. Dia pun melihat sekelompok siswi yang berdiri di depan kelasnya.
“Lagi?” lirih Ji Hyun yang merasa heran melihat kelakuan para yeoja itu. Dengan santainya, Ji Hyun melewati beberapa orang yeoja di depannya.
Saat berada di depan pintu dan hendak melangkah masuk ke dalam kelasnya, tiba-tiba sebuah tangan memegang tangannya. Ji Hyun menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memegang tangannya.
“Wae?” tanyanya polos.
“Kau, mau apa kau?” tanya yeoja yang memegang tangan Ji Hyun.
“Mau masuk ke kelas. Waeyo?” jawab Ji Hyun dengan ekspresi datar.
“Kau siswa di kelas ini?”
“Ne, aku siswa kelas 2-1. Waeyo? Ada masalah apa?”
Tiba-tiba yeoja itu menarik tangan Ji Hyjn untuk menjauh dari pintu masuk ke kelas 2-1.
“Yaak, apa yang kau lakukan? Aku mau masuk ke kelasku. Memangnya kenapa?” tanya Ji Hyun yang sedikit emosi karena kesal ditarik begitu saja oleh yeoja berambut panjang itu. Ji Hyun baru ingat ternyata yeoja itu adalah siswi yang ia tanyai saat lewat di depan ruang guru tadi. Yeoja yang menjaawab pertanyaannya dengan jutek dan angkuh.

Ji Hyun melihat nametag di seragam yeoja itu. Jung Eunji. Ya, namanya Jung Eunji. Siswi satu angkatan dengannya karena nametag-nya berwarna merah. Nametag  berwarna hijau adalah siswa kelas 1 sedangkan kelas 3 berwarna hitam.
“Lepaskan tanganmu!” Ji Hyun berusaha mengibaskan tangan Eunji yang memegang tangannya kuat-kuat.
Namun Eunji sama sekali tidak melepaskan tangan Ji Hyun yang telah memerah di bagian yang dipegangnya.
“Jung Eunji! Apa maksudmu?”
“Kau pasti hanya berpura-pura menjadi siswa jelas 2-1. Mana mungkin kau siswa di kelas itu? Itu kelasnya para siswa elit dan pintar.”
“Mwo? Apa kau pikir orang yang tidak kaya tidak bisa masuk di kelas itu? Setidaknya otakku bekerja dengan sangat baik sehingga aku bisa duduk berjajar dengan mereka yang memiliki banyak uang.” Ji Hyun merasa tersinggung karena kata-kata Eunji. Secara tidak langsung, Eunji telah menyinggung perasaannya. Memangnya hanya orang kaya yang bisa masuk di kelas itu.

Eunji naik darah. Dia mendorong bahu Ji Hyun dengan kasar sehingga Ji Hyun jatuh tersungkur ke lantai.

Dengan menahan sakit di kakinya yang keseleo akibat didorong oleh Eunji, Ji Hyun bangkit dan berdiri. Kemudian dia membersihkan roknya yang kotor terkena lantai dan membenahi baju seragamnya yang nampak tak karuan.

“Ji Hyun-a!” seru Hwayoung yang datang dengan membawa snack di tangan kanannya. Ia hendak masuk ke dalam kelas namun tiba-tiba dia meihat Ji Hyun yang sedang membersihkan pakaiannya.
Hwayoung membantu membersihkan pakaian Ji Hyun.

“Cih! Lihatlah mereka berdua. Persahabatan si miskin dan si kaya. Sungguh ironis,” sindir Eunji yang melipat tangannya ke depan dada.

Hwayoung kesal. Dia menarik kerah baju Eunji. “Yaak! Apa yang kau bilang tadi, eoh? Tarik ucapanmu sekarang juga!” bentak Hwayoung.

Di dalam kelas, Lay dapat mendengar semua percakapan para siswi yang beradu mulut gara-gara dirinya. Meski telah mendengar semuanya, dia masih diam saja, tak bergeming dan tak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya.

“Sedang apa kau di sini? Cepat pergi sana! Ini bukan kelas kalian!” bentak Hwayoung lagi.
Sontak, Eunji dan beberapa siswi yang tadi berkumpul di depan kelas 2-1 membubarkan diri. Mereka dengan malu menjauh dari kelas itu karena bentakan dari Hwayoung tadi.

“Hwayoung-a, kau tidak perlu melakukan itu. Aku baik-baik saja.”
“Kau memang orang baik, Ji Hyun-a. Tapi kenapa mereka jahat padamu?”
“Mungkin mereka tidak bermaksud seperti itu. Mereka hanya terobsesi pada siswa baru itu. Jadi, siapapun yang berada dekat dengan namja itu akan diamuk oleh mereka. Terutama yeoja bernama Jung Eunji tadi.”
“Waah, daebak! Kau memang pandai menyimpulkan sesuatu,” puji Hwayoung yang kemudian menggaet lengan kiri Ji Hyun dan mengajaknya masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi bel berbunyi.

Pelajaran hari ini termasuk pelajaran yang menyenangkan karena para guru merupakan tenaga pengajar yang masih muda dan fresh. Beberapa diantara mereka adalah namja yang berparas tampan. Tentu saja para siswi sangat tertarik mengikuti pelajaran mereka.

Pulang sekolah sore ini, Ji Hyun berencana untuk mengikuti kelas tambahan. Tetapi pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan. Ia mendesah kasar. Hidupnya memang sulit. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Meski tidak dapat mengikuti kelas tambahan, Ji Hyun tetap harus rajin belajar untuk mengejar ketertinggalannya agar tidak tertinggal jauh dari teman-temannya yang bisa mengikuti kelas tambahan. Program yang diadakan oleh sekolah ini memang diadakan setiap tahun sekali dalam satu semester. Kesempatan langka seperti itu sebenarnya sangat sayang ditinggal oleh Ji Hyun yang notabennya adalah siswi paling rajin di sekolah.

“Hwayoung-a, selamat belajar!” ucap Ji Hyum yang telah memberesi buku-nuku dan peralatan menulisnya. Dia memberi semangat kepada Hwayoung agar belajar dengan sungguh-sungguh saat mengikuti kelas tambahan nanti.
“Ji Hyun-a, apa kau benar-benar tidak ikut?” tanya Hwayoung lesu. Dia tidak bersemangat jika tidak ada Ji Hyun karena Ji Hyun lah yang membuatnya menjadi siswi yang rajin membaca mulai beberapa hari yang lalu.
“Yaak, jangan kau tunjukkan aegyomu itu. Aku tidak ingin melihatnya. Aku pergi dulu, ne? Annyeong…” Ji Hyun melambaikan tangannya kepada Hwayoung.

Lay baru saja selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Hari ini dia sengaja tidak mengikuti kelas tambahan yang pertama kali baginya.

“Lay-ssi, kau juga tidak ikut kelas tambahan?” tanya Hwayoung. Ia baru saja menjejalkan bokongnya di atas kursi miliknya.
“Aku masih ada urusan di luar. Untuk hari ini, aku belum bisa ikut kelas tambahan,” jawab Lay dengan suara yang lembut.

Begitu mendengar suara Lay yang lembut, Hwayoung langsung terpikat pada suara namja itu. Halus sekali, batinnya. Melihat Ji Hyun dan Laybyangbkeluar kelas tanpa merasa ada beban, membuat Hwayoung ingin mengikuti jejak mereka. Namun sayangnya Yoo seonsaengnim sudh masuk ke dalam kelas dan siap memulai kelas tambahan.

Ji Hyun berlari dari sekolah menuju toko buku yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Karena tidak ada bus yang lewat pada jam itu, Ji Hyun terpaksa harus berlari agar lekas sampai di toko buku. Setelah menempuh jarak hampir satu kilometer, Ji Hyun berhenti untuk mengatur nafasnya. Ia menahan perutnya yang terasa sangat lapar meski tadi siang ia telah melahap habis bekal yang dibawanya.
Untuk menyingkat waktu, Ji Hyun memutuskan mencari jalan pintas. Ia harus menyeberangi jalan agar tidak terlambat tiba di toko buku. Jika tidak, sang pemilik toko pasti akan mengamuk dan memarahinya habis-habisan.
“Aigoo, apakah aku sanggup berlari sejauh itu dalam waktu yang singkat?” lirihnya sambil berjalan pelan. “Oh! Lampu hijau. Yaak, chakkaman! Jangan berubah merah dulu. Aku belum menyeberang!” seru Ji Hyun yang berlari sekuat tenaga mengejar lampu rambu penyeberangan yang tengah menunjukkan warna hijau. Dia harus cepat-cepat menyeberang atau harus menunggu sampai lampu itu menyala hijau lagi.

Ji Hyun mempercepat langkahnya. Ia tidak peduli pada kakinya yang terasa pegal-pegal dan sedikit keseleo saat didorong Eunji tadi. Ji Hyun berhasil menapak jalan beraspal itu saat lampu masih menunjukkan warna hijau. Namun sayang, saat dia berlari ke tengah jalan beraspal itu, lampu berubah menunjuk warna merah. Kendaraan yang tadinya berhenti segera melaju.

Ckiiitt!
Bruukk!
Seorang namja yang duduk di bangku belakang sebuah mobil terkejut saat mobil yang dinaikinya berhenti mendadak.
“Ahjussi, waegurae?” tanya namja itu.
“Mianhamnida, tuan muda. Seorang yeoja tertabrak karena menerobos lampu rambu. Saya harus melihat yeoja itu.” Ahjussi sang sopir segera keluar dari mobil itu dan mendekati Ji Hyun yang terlempar sejauh 2 meter dari mobil saat tertabrak tadi.

Ji Hyun meringis kesakitan.
“Agassi, gwaenchana?” tanya Ahjussi yang sangat mengkhawatirkan keadaan Ji Hyun.

Lay, namja yang duduk di bangku belakang tafi juga keluar dari mobil mewahnya. Dia menghampiri sang sopir yang sedang melihat keadaan korban yang ditabraknya.
“Neo?” lirih Lay namun Ji Hyun masih dapat mendengar suara namja itu.
Ji Hyun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja bicara. Keningnya berkerut. “Lay-ssi,” lirih Ji Hyun. Ia masih terduduk manis di pinggir jalan karena tafi dia memang terlempar ke pinggir jalan. Beruntung keadaannya tidak parah.

“Gwaenchanayo?” tanya Lay yang masih berdiri di samping sopirnya.
“Tuan, kita harus membawa yeoja ini ke rumah sakit. Potong saja gaji saya untuk membiayai yeoja ini berobat,” kata ahjussi itu dengan wajah datar dan penuh kekhawatiran.

“A, ahjussi. Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya sedikit lebam dan keseleo. Tidak usah membawaku ke rumah sakit.” Ji Hyun berusaha berdiri namun ternyata kakinya tidak dapat digerakkan, terlalu sakit untuk digerakkan. Entah apa yang terjafi dengan kaki kanannya.

“Agassi, biarkan kami membawamu ke rumah sakit.” Ahjussi itu tetap ingin membawa Ji Hyun ke rumah sakit. Namun Ji Hyun tetap bersikeras tidak ingin ke rumah sakit.
Alasannya adalah, selain karena kasihan pada ahjussi itu, dia juga tidak ingin absen kerja. Hari ini Ji Hyun telah mengorbankan pelajaran tambahan demi bekerja di toko buku itu. Jadi, dia harus tetap bekerja agar pengorbanannya tidak sia-sia.

“Gwaenchanayo, ahjussi.” Ji Hyun memijat kakinya yang sakit.
Lay menatapnya datar. Tiba-tiba dia mengangkat tubuh Ji Hyun dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, ahjussi segera menyusul dan tancap gas.

“I, ige mwoya? Tolonh turunkan aku. Aku masih ada urusan.” Ji Hyun merengek agar diturunkan di tempat itu juga.

“Apa kau pikir aku tidak punya urusan? Aku juga punya urusan. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja. Bagaimanapun juga, mobilku yang menabrakmu. Bukan ahjussi. Jadi, aku yang harus bertanggung jawab.” Lay menjelaskan maksudnya membawa Ji Hyun ke rumah sakit secara paksa.

Ji Hyun terdiam. Sebenarnya kakinya memang sangat sakit tetapi dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan memeriksakan kakinya ke rumah sakit. Dia ingin tetap bekerja. Di dalam hati, Ji Hyun memuji kebaikan hati Lay yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia juga salut pada ahjussi yang rela gajinya dipotong demi membiayai pengobatannya. Namja yang bertanggung jawab, batin Ji Hyun.

Di rumah sakit, Ji Hyun diperiksa oleh dokter spesialis tulang. Dia juga menjalani pemeriksaan rontgent agar dapat melihat cedera pada tulang yang mana.
Ji Hyun, Lay, dan ahjussi menunggu hasil pemeriksaan tulang Ji Hyun di ruang tunggu. Lay memasang earphone-nya dan mengikuti alunan musik yang terdengar nyaring melalui earphone-nya. Sedangkan Ji Hyun dan ahjussi mengobrol santai. Mereka membicarakan keluarga ahjussi yang kehidupannya tidak jauh berbeda dari Ji Hyun.
“Ahjussi, aku kagum padamu. Kau benar-benar ayah yang bertanggungjawab.” Ji Hyun memasang senyum termanisnya. Dan tanoa sengaja, senyum itu dilihat oleh Lay meski secara tidak sengaja.

Tap tap tap!
“Oppa!” panggil seseorang yang mendadak berdiri di depan Lay, Ji Hyun dan ahjussi. Ketiganya mendongak. Tampaklah di depan mereka, seorang yeoja memiliki postur tubuh tinggi, kulit putih bersih dan berambut panjang.

Ji Hyun melirik Lay. Pasti yang dipanggil yeoja itu adalah Lay. Tidak mungkin yeoja itu memanggil dirinya atau ahjussi.

Lay melepas earphone-nya lalu menarik tangan yeoja itu menjauh dari Ji Hyun dan ahjussi.

Setelah Lay dan yeoja itu menjauh, barulah Ji Hyun berani bertanya kepada ahjussi. “Ahjussi, siapa yeoja itu?”
“Dia adalah tunangan tuan muda. Yeoja itu putri dari direktur rumah sakit ini.”

“Heol! Hebat sekali Lay-ssi bisa bertunangan dengan putri direktur rumah sakit…”

Ahjussi hanya tersenyum mendengar kata-kata pujian dari Ji Hyun yang ditujukan pada Lay.

Tbc.

Bersambung ke chap 2 yaa…
Sekian dulu. Gamsayo…
Comment juseyo ^^

Advertisements

One thought on “Trust in You [Chapter 1]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s